15 April 2008

Tesaurus Moko

Oleh Imam Shofwan


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Baris pertama puisi Sapardi Djoko Damono digubah pengarangnya sendiri dalam acara peluncuran buku Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko di Teater Utan Kayu pada Rabu malam 17 Januari lalu, hasilnya menjadi:

Awak hendak menggemarimu seraya elementer

Sapardi adalah penyair pertama yang menggunakan tesaurus karya Moko –sapaan akrab Eko Endarmoko di Utan Kayu. Tak pelak, saat Sapardi membacakan gubahan puisi karyanya, para pengunjung pun terpingkal-pingkal.
Ada kegagapan dalam pemakaian tesaurus tersebut.

Malam itu Sapardi menjadi pembicara bersama Jos Daniel Parera. Pemandunya penyair Sitok Srengenge. Sapardi mewakili para penyair yang dianggap sebagai calon pemakai aktif tesaurus tersebut. Sedangkan Parera sehari-hari bekerja di divisi penerbitan PT Balai Pustaka serta dosen bahasa Indonesia di Universitas Negeri Jakarta dan beberapa Universitas lainnya di Jakarta. Karena Tesaurus Moko adalah tesaurus pertama di Indonesia, pejelasan seorang linguis macam Parera dianggap penting. Analisisnya diharapkan memberikan gambaran fungsi dan manfaat tesaurus.

Saya mendatangi acara tersebut bersama Steph Tupeng Witin, seorang pastur lulusan S2 Theologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katholik Ladelero, Flores. “Ladelero berasal dari bahasa Sikka artinya tempat bersandar matahari,” tutur Pater Steph. Sejak lima hari sebelumnya dia bernafsu mengikuti acara tersebut. Alasannya, dia ingin melihat presentasi Jos Daniel Parera, orang yang dia yakini berasal dari Sikka.

Romo Steph berkonsentrasi penuh serta menikmati kata demi kata tuturan Parera. Tiga kata yang dipakai Parera untuk mengomentari penulis tesaurus tersebut: berani, nekat, dan ulet.

Berani karena seorang diri dia memulung kata yang kemudian membukukannya. Umumnya tesaurus disusun sebuah tim yang kuat dan dibiayai lembaga berwibawa dengan dukungan dana yang kuat pula. Namun Moko berani melakukannya sendirian dengan kemampuan cekak pula. Moko juga nekat karena dia bukanlah seorang linguis, apalagi leksikograf. Dia hanya seorang pemerhati bahasa. Ulet karena pengumpulan kata itu dilakukan selama kurang lebih 13 tahun.

“Dengan Tesaurus ini, ia kelak akan dikenal sebagai leksikograf bahasa Indonesia,” tutur Parera.

Setelah berbasa-basi sedikit tibalah saat penghujatan karya. Penghujatan ini dibagi secara sistematis dalam tiga tingkat seurut dengan susunan bab tesaurus tersebut, yakni Mukadimah, Tentang Tesaurus Ini, dan Isi Tesaurus yang disusun alfabetis.

Penyusunan Mukadimah dan Tentang Tesaurus Ini tumpang tindih antara isi, konsep, dan perjalanan kerja penulis. Parera mengusulkan bagian Mukadimah sebaiknya ditulis ucapan terima kasih penulis dan perjalanan kerja penulis. Sedangkan pada bagian Tentang Tesaurus Ini berisikan landasan teori penyusunan dan isi tesaurus, dan diakhiri dengan Panduan Pemakaian. “Panduan penting karena isi Tesaurus ini kurang mampu mencerminkan konsep penyusunan yang kuat,” tutur Parera.

Biasanya, menurut Parera, tesaurus disusun berdasarkan kategori hubungan ide atau disusun tematis. Ini yang membedakan kamus dengan tesaurus. Kamus biasanya disusun alfabetis sedangkan tesaurus tematis.

Namun Tesaurus Moko disusun alfabetis. Penyusunan semacam ini terinspirasi dari Collins dan Webster. Yang beda dari karya Moko adalah judulnya kamus dan tesaurus sekaligus.

“Hal ini perlu disampaikan biar masyarakat tidak menerima dan berpendapat kalau tesaurus model Eko adalah tesaurus yang baku dan berlaku,” tutur Parera.

Karena tesaurus merupakan buku jenis baru, Parera merasa perlu mendefinisikan apa itu tesaurus.
Tujuannya jelas, apakah karya Moko patut disebut tesaurus?

Definisi pertama diambil Parera dari Hartman dalam buku Teaching and Researching Lexicography.
Yakni, (tesaurus adalah) karya referensi yang menyediakan informasi kosa-kata suatu bahasa atau jenis bahasa, fokusnya pada kata-kata bersinonim atau hubungan-hubungan lain antarkata, dan biasanya disusun tematis.

Dalam makalahnya, Parera juga menyuguhkan definisi dari H. Steinhauer yang lebih ketat: Tesaurus bahasa adalah perbendaharaan kata yang dilengkapi dengan keterangan tambahan kata itu, sedapat mungkin terperinci, keterangan ini menyangkut sumber, konteks pemakaian, keterangan gramatikal, ragam kekerapan, makna, sejarah, varian-varian, pemakai dan pemakaiannya (lengkap dengan contoh).

Satu per satu Parera membenturkan karya Moko dengan definisi tersebut. Dimulai dari asal kata. Dalam Tesaurus Moko hanya kata dari Jawa dan Arab yang diberi keterangan dengan kode (Jw) dan (Ar), sedang yang lain tidak. Selain itu Tesaurus Moko tidak dilengkapi contoh penggunaan.

“Apakah ini patut disebut tesaurus?” tanya Parera.

Parera sadar kalau pengguna kamus dan tesaurus berbeda tujuan. Pengguna kamus mencari informasi dan keterangan tentang makna sebuah kata. Pengguna tesaurus sudah memiliki kata tertentu dan mencari padanan kata yang sesuai dengan ide dan konsepnya. Atau untuk menemukan kata lain guna menghindari pengulangan kata. Bisa juga penulis ingin menemukan kata khusus untuk makna tertentu. Tesaurus melayani penulis dan pemakai bahasa yang kreatif dan produktif.

“Apakah Tesaurus karya Eko ini cukup mampu melayani penulis yang kreatif dan produktif?” tutur Parera.

Lalu Parera memblejeti satu per satu bagian isi kamus ini secara acak. Kesimpulan Parera cukup mengejutkan. Dia menyebut Tesaurus Moko sebagai karya yang menyesatkan.

Ada beberapa contoh yang dikemukakan Parera. Pada abjad A misalnya, dia menemukan kata “abstraksi” yang disinonimkan dengan kata “generalisasi”. Kata “abstrak” disinonimkan dengan “hipotesis”, “ideal”, “konseptual”, “teoritis”, “transendental”. “Saya tidak tahu apakah ini memang variasi kata abstrak atau salah konsep,” tandas Parera.

Ada entri “adibintang” namun tidak ada entri “adibusana”. Mengapa dalam entri “adu" tidak ada bentuk “beradu” atau “peraduan”.

Pada abjad P, Parera menemukan kata “persuasi” yang disinonimkan dengan “agitasi”. “Saya kira ini berlawanan arti dan menyesatkan,” tutur Parera.

Pater Steph terlihat khusuk mendengar penuturan Parera dan bertepuk tangan dengan semangat saat Parera mengakhiri presentasinya.

Senada dengan Parera, Sapardi Djoko Damono cenderung mencari kelemahan Tesaurus Moko. Salah satu kritiknya adalah tidak teraturnya tingkatan kata dari makna paling dekat ke makna yang lebih jauh dan makin jauh. Selain itu ketiadaan contoh penggunaan kata dalam kalimat menyulitkan pemakaian tesaurus tersebut.

Sapardi menutup presentasinya dengan menggubah puisinya berjudul “Aku Ingin” menjadi “Awak Hendak” dengan menggunakan padanan kata pada Tesaurus Moko untuk membuktikan kelemahannya.

Pater Steph tampak puas mengikuti diskusi yang jarang atau bahkan tidak mungkin di daerahnya. Namun pemaparan sisi negatif kedua pembicara menyebabkan Pater Steph mengurungkan niat untuk membeli buku tersebut. “Saya beli nanti saja, setelah direvisi,” tutur Pater.


MOKO memulai kerja penyusunan Tesaurus ini sejak masih kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Adalah Anton M. Moeliono, ketika itu menjadi dosen semantiknya, yang kali pertama memberi tugas pada Moko untuk mengumpulkan kata-kata dasar yang bersinonim. Kegiatan yang berlangsung sekitar satu semester itu adalah tonggak awal pembuatan Tesaurus ini.

Saat itu pencarian kata yang dilakukan Moko belumlah sistematis, bahkan bisa dikatakan serabutan. Pembuatan catatan dilakukan kapan saja. Tidak setiap hari. Tidak ada waktu khusus. Tidak pula mengikuti satu sistem tertentu.

Catatan kata-kata bersinonim dalam kertas HVS ukuran A4 yang dibikin Moko ini kian menggunung pada 1993. Moko mulai menelisik dan menapis kata-kata dari berbagai sumber. Mengurutkannya menurut abjad dengan memperhatikan harmoni, polisemi, label-label kelas kata dan ragam bahasa, dan kemudian menyalinnya ke komputer. Kebiasan buruk kembali terulang, bisa berminggu-minggu catatan itu terhantar saja di kolong meja. Karena pengerjaan yang sambil lalu ini, proses berjalan sangat lamban.

Bisa jadi karena kesibukan Moko sebagai wartawan. Setelah lulus dari UI pada 1980 Moko bekerja sebagai wartawan di majalah pembukuan Optimis selama kurang lebih setahun. Dua tahun berikutnya dia menjadi redaktur pelaksana Berita Buku terbitan Ikatan Penerbit Indonesia Pusat.

Moko mulai mengerjakan catatan-catatan ini dengan teratur saat dia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam, yang berkantor di Utan Kayu. “Di Utan Kayu saya tidak terikat dengan jam kerja. Dengan demikian memiliki kesempatan yang luas pada bidang kreatif,” tutur Moko. Catatan-catatan ini sudah mulai tampak sebagai draft awal tesaurus.

Di Utan Kayu pula Moko mulai akrab dengan Goenawan Mohamad dan Ayu Utami yang juga redaktur Kalam. Saat melihat kesungguhan Moko menggeluti kata-kata ini, Mas Goen –begitu Goenawan Mohammad biasa disapa– mensponsori Moko untuk tinggal di Leiden pada Mei hingga Agustus 2001. Di sini Moko bergaul dengan Hein Steinhauer, dosen Bahasa Indonesia di Universitas Leiden, dan Susi Moeimam dari KITLV. Kedua orang ini memiliki perhatian yang sama dengan Moko. Mereka sama-sama menekuni kata-kata. Saat itu Steinhauer dan Moeimam sedang menyusun Kamus Indonesia-Belanda. “Saya bertukar pikiran dengan mereka, terutama mengenai penyajian lema,” tutur Moko.

Moko baru tersadar kalau dia sedang menghadapi pekerjaan yang sedemikian luar biasa menantang saat dia pulang dari Leiden.

Muncullah beberapa pikiran baru yang berpengaruh besar pada rancangan Tesaurus ini. Gugusan kata yang menjadi sinonim tiap-tiap lema yang sudah tercatat, demi penyajian yang lebih tertib, dia bongkar dan urutkan kembali menurut abjad.
Moko terinspirasi dengan buku A Dictionary of Synonyms and Antonyms Alan Spooner dan Collins Thesaurus in A-Z Form. Ia ingin membuatnya lain dari kamus-kamus sinonim Indonesia yang pernah diterbikan, seperti karya Harimurti Kridalaksana (1988) dan karya Nur Arifin Chaniago dkk (2000) yang tidak disusun alfabetis.

Penyusunan Tesaurus ini, menurut Moko, menghidangkan sinonim yang dikelompokkan berdasarkan kedekatan makna. Semua lema berikut padanannya disusun menurut abjad, sama sekali tanpa takrif dan penjelasan. Moko mengandaikan pemakainya kelak adalah orang yang tidak sedang mencari penjelasan arti sebuah kata. Sebaliknya, pembaca yang ingin mendapatkan ungkapan yang tepat untuk suatu konsep dan nuansa makna yang paling cocok dalam konteks tertentu, atau sedang mencari bentuk lain sebuah kata.

“Saya membayangkan pengguna TBI adalah mereka yang selesai dengan urusan makna, tetapi terdorong oleh suatu keperluan untuk mencari tahu kata-kata apa sajakah yang bersinonim atau berhubungan dengan kata tertentu,” tutur Moko. TBI adalah akronim Tesaurus Bahasa Indonesia.


SAYA mengetahui diskusi serupa akan digelar di Bentara Budaya Jakarta. Saya dan Pater Steph berencana menghadiri diskusi tersebut. Pater bilang kalau dia ingin mendengar komentar Goenawan Mohamad, yang akan menjadi pembicara bersama Ayu Utami dan Anton M. Moeliono. “Saya kira diskusi itu hendak memuji karya Moko,” tutur Pater beberapa hari sebelum diskusi.

Saya penasaran dengan prediksi Pater Steph dan datang ke Bentara Budaya. Pengunjungnya lebih dari seratus orang. Tampak di sana para karyawan Gramedia dan Kompas serta sejumlah wartawan. Parera juga datang. Namun Pater Steph berhalangan hadir.

Anton M. Moeliono menjadi pembicara pertama. Dia menguraikan sebuah bagan yang cukup rumit soal perkembangan kamus bahasa Indonesia serta kamus-kamus bahasa asing untuk menempatkan posisi Tesaurus Moko. Pada akhir presentasinya dia memuji Moko. “Dia adalah mahasiswa saya yang paling tekun mencatat kata yang bersinonim,” tutur Anton.

Pujian juga datang dari pembicara berikutnya. Goenawan dalam presentasinya menyebutkan bahwa Moko adalah seorang pecinta bahasa dan bukan ahli semantik. Kecintaan terhadap bahasa merupakan dasar semangat kecintaan terhadap bangsa. Dan di sinilah posisi pentingnya Tesaurus Moko. Tapi Goenawan juga mengusulkan agar ada buku petunjuk penggunaan untuk memudahkan pemakaian Tesaurus Moko.

Pada akhir diskusi Ayu Utami –penulis novel Saman dan Larung– menggubah puisi karya Goenawan Mohamad dengan menggunakan Tesaurus Moko. Saya tak ingat persis puisi mana yang dia gubah namun saya mendengar rima yang cukup indah saat Ayu membacakan puisi tersebut.

Usai diskusi saya menemui Eko Endarmoko untuk memintanya menandatangani Tesaurus Bahasa Indonesia milik saya. Di atas parafnya dia menulis: moga-moga bermanfaat!*


Naskah ini pernah dimuat di Situs Pantau dan harian Flores Pos