22 November 2007

Dalam Gelap, Karya itu Lahir

Oleh: Imam Shofwan

SEBUAH balai dengan kasur busa bertengger di pojok ruangan. Rak-rak buku. Lemari duduk dan di atasnya laptop butut. Kursi plastik.

Di dinding tergantung foto orang Arab Pekalongan: Habib Husain, Habib Lutfi, berukuran besar, berderet dengan poster Sarah Azhari dengan dua bekas staples di bagian tengahnya. Ah, benar-benar pengap kamar itu.

Sambil membetulkan kain sarung yang dipakainya, Sumanto, si empunya kamar, mendekati laptop yang dia sebut ‘laptop jangkrik’. “Dengan laptop ini saya menulis tesis saya,” tuturnya.

Tesis inilah yang kemudian menjadi buku yang banyak diperdebatkan: Arus Cina-Islam-Jawa, Membongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI.

Sumanto melacak asal-usul penyebaran Islam di tanah Jawa. Dia menganggap ada yang hilang dalam sejarah masuknya Islam di Jawa. Dia mengumpulkan bukti-bukti dan mendatangi banyak peninggalan Islam di pelosok Jawa.

Ukiran padas di Masjid Kuno Mantingan, Jepara, Menara Masjid Pecinan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, Arsitektur Keraton Cirebon, Konstruksi Masjid Demak, telah dikunjunginya.

Dari perjalanan ini dia membuat kesimpulan mencengengangkan: pada abad ke 15/16 Islam yang masuk ke tanah Jawan berasal dari Cina.

Hal ini bertentangan dengan pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa Islam datang ke Jawa melalui dua Jalur, yaitu Arab dan Gujarat, India.

Dukungan, kritik, dan juga bantahan terhadap hasil risetnya datang dari mana-mana. Namun dia tidak bergeming. “Penulisan tesis ini adalah untuk melawan kemapanan sejarah,” ujarnya pada saya akhir Oktober lalu.

DALAM rumah kecil berdinding anyaman bambu, berlantai tanah, Sumanto dilahirkan. Menjelang subuh, 10 Juli 1975, dengan penerangan lamu petromak, di atas dipan bambu tanpa kasur, dengan bantuan dukun beranak, Daryuni, sang ibu melahirkan untuk kali keempat.

Manggis nama kampungnya, sebuah dusun terpencil di Batang, Jawa Tengah. Sang ayah, tutur Sumanto, adalah seorang petani miskin. Ketiga kakaknya yang telah berkeluarga juga tak jauh berbeda, miskin. Sumanto menuturkan hal ini pada saya lewat surat elektronik akhir Oktober silam. “Untuk bisa terbebas dari kemiskinan, saya harus pintar, saya harus sekolah.”

Jalan terjal naik turun menuju sekolah dasar membentang lebih dari sepuluh kilometer. Setiap hari Sumanto menyusuri jalan itu tanpa teman. “Kebanyakan mereka memilih mencangkul di sawah atau menggembala ternak di hutan daripada sekolah.”

Jiwa memberontak terhadap sesuatu yang dianggap mapan sudah mulai tumbuh pada diri Sumanto kecil. Dia menolak kerja bakti waktu sekolah dasar. “Saya fikir, sekolah dan pelajaran lebih penting,” keluhnya saat itu.

Kebiasaan ‘buruk’ itu terus berlanjut sampai tingkat MTs Walisongo Batang dan MAN I di Pekalongan. “Hampir tidak ada satu guru pun waktu itu yang tidak pernah memarahi saya. Sebabnya ya apalagi kalau bukan kembelingan saya seperti menolak upacara, ngeyel di kelas,” kisahnya lagi. Karena kebiasaan itu salah seorang kiainya waktu mondok di Pekalongan menyematkan “AL Qurtubi” setelah namanya. Yang merupakan sebutan lain Cordova, sebuah simbol kejayaan Islam masa lalu.

Puncaknya tentu saja saat jadi mahasiswa IAIN Walisongo yang sering mengkritik secara vulgar apa saja dan siapa saja yang dianggap tidak benar. Tradisi mempertanyakan kemapanan itu semakin mendapat landasan saat kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Berawal dari majalah kampus Justisia, di sana dia tiga tahun menjabat pemimpin redaksi. Selain itu dia juga menjabat redaktur agama di Nurani Bangsa, koran milik masyarakat Tionghoa di Semarang. Bergelut di dunia pers inilah kemampuan menulis Sumanto terasah. Pergaulan lintas agamanya pun dimulai.

Agustus 2000 dengan segala keterbatasan finansila, selama tujuh tahun akhirnya Sumanto menyelesaikan sarjananya di Fakultas Syari’ah. Dengan modal nekat dan sedikit uang simpanan, Sumanto melanjutkan studi S-2 di UKSW, Salatiga.

Masa-masa sulit karena keterbatasan keuangan yang pernah dan sering menjadi kendala selama dia sekolah sampai kuliah, kembali mendera. Dan kali ini lebih dahsyat. Tugas-tugas paper dan makalah yang menumpuk menyita perhatian dan semua waktunya. “Waktu di IAIN saya punya banyak waktu untuk nulis artikel di koran. Di UKSW nyaris tak bisa melakukan itu lagi,” kenangnya.

Untuk bisa bertahan hidup, dia terpaksa berjualan sepatu, sandal, tas, dan baju. “Saya bekerja sebagai salesman sebuah perusahaan yang berpusat di Bandung,” tutur Sumanto.

Karena beban begitu beratm sempat terpikir olehnya untuk keluar kuliah. “Saya sempat ingin keluar,” ucapnya berat. Proposal tesis yang dia edarkan pun tak kunjung memberi hasil.

Atas saran teman dekatnya, dia menghadap KH Sahal Mahfudh di Kajen Pati, sambil membawa proposal tesis. “Di luar dugaan, Kiai Sahal menanggapi sangat positif tesis saya.”

Kiai Sahal menghubungkan saya dengan Sudhamek (Bos Kacang Garuda) Soewarno M. Seradj (Direktur Research & Development PT Djarum). Oleh Sudhamek, dia dikenalkan dengan Eddie Lembong, ketua umum Perhimpunan Indonesia (Keturunan) Tionghoa (Pehimpunan INTI) yang juga Bos PT Pharos Jakarta.

Pada waktu yang hampir bersamaan, proposalnya juga diterima di Global Ministries The Uniting Churches of Netherlands, Belanda, lewat kerja keras Dr Mesach Krisetya, Presiden Mennonite World Conference (Paris) yang kebetulan menjadi salah satu pembimbing tesis saya. “Dari Global Ministries, saya dapat grant 5000 Uero, sekitar Rp. 40 juta. Dari uang inilah saya melunasi semua SPP,” tuturnya.

Semua dana dimanfaatkan untuk risetnya. Setelah merasa cukup dengan bahan-bahan yang perlu, selama September-Oktober 2002 Sumanto “bertapa” di dalam kamar pengap itu, dia hanya keluar untuk makan. “Gara-gara lembur siang malam menulis tesis ini, notebook (laptop) saya sampai jebol,” ujar Sumanto. Warna layarnya saja sampai berubah dari putih jadi hitam. Jadi, waktu saya menulis laporan dalam kondisi laptop yang antik: layar hitam tulisan putih. “Lucunya, kalau malam terkena lampu, tulisannya tidak kelihatan, karena itu, ngetik harus dalam keadaan gelap. Sungguh indah!” Kenangnya.

Tesis Arus Cina-Islam-Jawa yang telah dibukukan disambut hangat oleh pemerhati sejarah Jawa. Rabu, 19 November 2003, sejumlah tokoh berkumpul di Puri Agung di Hotel Sahid Jaya. Tampak Nurcholish Madjid (Cak Nur), Malik Fajar, Syafi’i Ma’arif, Cecep Syarifuddin, Asvi Warman Adam, Soegeng Sjarjadi, dan Fachry Ali. Bersama 1000 undangan lainnya, mereka menghadiri diskusi dan peluncuran buku karya Sumanto.

Buku Arus Cina-Islam-Jawa, kata Cak Nur, seolah meluruskan sebuah karya sejenis itu yang ada jauh sebelumnya yang ditulis debfab sangat tidak obyektif, parsial dan politis. “Saudara Sumanto Al Qurtuby meluruskan semua itu dan dikaji secara akademis,” kata rektor Universitas Paramadina ini.

Puaskah Sumanto? “Terus terang, saya kurang puas dengan penulisan buku ini,” ungkapnya. Sumanto merasa kurang maksimal menggunakan buku-buku dan sumber yang dia peroleh dari Survey. Dan lebih dari itu, “Saya kurang mempunyai kesempatan mengkritik dan ‘memblejeti’ berbagai buku yang menolak teori Cina dalam islamisasi Jawa.” Semoga tidak bergelap-gelapan lagi.[]

*Naskah ini pernah dimuat pada majalah Syir'ah edisi khusus akhir tahun 2004, tentang; pemuda-pemuda yang berpandangan bersebrangan dengan pandangan umum.