7 October 2005

Depan Belakang Oke

Oleh Imam Shofwan

LAIN sekali suasana Masjid al-Muslimun pada malam 6 September itu. Biasanya, jamaah shalat isya di masjid Gang Jeruk, Utan Kayu, Jakarta Timur tersebut hanya warga sekitar. Tapi malam itu, yang jadi imam shalat isya, tak tanggung-tanggung, adalah Komandan Rayon Militer Matraman: Kapten (Inf) Soedar.

Makmumnya pun istimewa, ada camat Matraman Khairil Astrapraja, Kepala Kepolisian Sektor Matraman Soelarno, serta seorang Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) Jakarta Timur, alamsyah. Tampak juga sejumlah orang dari Forum Umat Islam Utan Kayu (FUI-UK).

Kedatangan para pejabat kecamatan Matraman di Masjid al-Muslimun ini tentu bukan tanpa alasan. Mereka hadir di masjid itu menyusul tuntutam dari FUI-UK yang mengatasnamakan warga Utan Kayu yang “terganggu” dan menuntut Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Komunitas Utan Kayu (KUK) –yang terletak di Jalan Raya Utan Kayu 68H, sekira 300 meter dari masjid tersebut—supaya dibubarkan dan hengkang dari wilayah Utan Kayu.

Tepat pukul 19.45 jama’ah itu selesai menunaikan shalat. Maka dimulailah acara dialog antara warga sekitar Utan Kayu, pihak KUK, dan pejabat-pejabat tersebut.

Imam masjid al-Muslimun, yang memperkenalkan diri bernama Imam Pambudi, memandu acara. Setelah basa basi sebentar, Pambudi mempersilahkan perwakilan dari Radio 68H, Camat, Kesbang, Kapolsek dan Danramil untuk memberikan sambutan secara bergantian.

Banyak hal disampaikan. Dari soal pentingnya saling menghormati sampai perlunya kerukunan dan perdamaian antarwarga. Hal ini terkait dengan aksi sekitar 20 orang massa FUI-UK yang menyampaikan keberatan dengan keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang merupakan bagian dari KUK.

Malam itu, FUI-UK, diwakili oleh Syafrudin Tanjung, juga berkesempatan mengajukan pernyataan. Tanjung menuntut supaya JIL hengkang dari Utan Kayu.

“Kita tidak mau diskusi dengan JIL, kita tetap mendesak Muspika untuk mengusir JIL dari Utan Kayu,” tegas Tanjung.

Tanjung merujuk pada fatwa MUI yang dikeluarkan pada Juli lalu. Dalam fatwa itu, MUI mengharamkan paham liberalisme dan pluralisme. Sedangkan JIL, yang mengusung Islam yang ramah dan damai dengan ide kebebasan berfikir dalam beragama, dan pentingnya toleransi antarumat beragama, dinilai menganut paham liberalisme dan pluralisme yang diharamkan itu.

Aksi menuntut hengkagnya JIL oleh FUI-UK yang diwakili Tanjung bukanlah yang pertama. Sebelumnya, ratusan massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sempat hendak meluruk kantor JIL.

Saat itu, 7 Agustus, ratusan massa tersebut berkumpul lebih dahulu di Masjid al-Azhar seusai shalat Jum’at.

Mereka lalu menggelar orasi yang intinya mendukung fatwa MUI, dan mengutuk Ulil Absar-Abdalla, pendiri JIL, sebagai orang yang merusak agama Islam dengan ide-ide liberalisme dan pluralisme.

Mereka juga menyatakan Ulil darahnya halal alias boleh dibunuh. Massa yang telah terbakar emosinya oleh orasi-orasi ini melanjutkan acara menuju Utan Kayu. Mereka hendak menutup paksa JIL.

Sementara itu Ulil, yang sebelumnya sudah mengetahui rencana penutupan JIL tersebut, hari itu juga mengundang teman-temannya untuk berkumpul di Jl. Utan Kayu 68H.

Maka sejak pagi, sejumlah tokoh seperti Indra J Piliang, Dawam Raharjo, Syafii Anwar, Musdah Mulia, Hamid Basyaib sudah berkumpul di kedai Tempo, kantin di Komunitas Utan Kayu.

Sejumlah organisasi juga hadir memberikan dukungan. Ada perwakilah dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia Universitas Islam Negeri (PPSDM UIN) Jakarta, Forum Mahasiswa Ciputat, Lajnah Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan sejumlah organisasi lainnya.

Di luar kedai, di sepanjang Jalan Raya Utan Kayu, massa semakin banyak. Ratusan polisi dan puluhan Bantuan Serba Guna (Banser) berjaga-jaga. Sejumlah wartawan dalam dan luar negeri pun sudah berada di sana sejak pagi.

Di saat yang sama, massa FPI yang bergerak dari masjid al-Azhar telah sampai di kawasan Matraman, sekitar tiga kilometer dari Jl. Utan Kayu Raya.

Mereka juga mengetahui di JIL telah berkumpul banyak pendukung, apalagi banyak wartawan yang berkumpul di sana. Dan entah atas pertimbangan apa, akhirnya ratusan massa itu memutuskan membatalkan niat mereka semula untuk menutup JIL.

Pembatalan itu diinformasikan langsung oleh Radio 68H yang didengarkan orang-orang yang berkumpul di Kedai Tempo. Pembatalan tersebut membuat mereka lega.

Namun selesaikan teror terhadap JIL? Ternyata tidak. Para aktivis JIL mendapat beragam teror lewat telepon dan pesan pendek, SMS.

DAN di luar pengetahuan JIL, pada 25 Agustus, ada “tamu tak diundang” berjumlah sekitar 25 orang di masjid al-Muslimun –yang letaknya tak jauh dari JIL. Mereka menginap di sana tiga hari. Tamu-tamu itu mengenakan baju koko dan celana congkrang, sebagian mengenakan peci kain.

Pada warga Utan Kayu mereka memperkenalkan diri sebagai jamaah dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka ingin memakmurkan masjid dan mengingatkan warga untuk memakmurkan masjid.

“Kita datang ke sini karena masjid ini sepi dan kita ingin memakmurkannya,” jawab seorang dari mereka ketika ditanya warga Utan Kayu.

Mereka mengadakan shalat berjamaah, diskusi dan mengunjungi warga sekitar masjid. Tak hanya itu, mereka juga membentuk Forum Umat Islam Utan Kayu (FUI-UK).

“Sebagian dari mereka ikut dalam pembentukan FUI Utan Kayu,” tutur Imam Pambudi, imam Masjid al-Muslimun. Forum inilah yang kemudian mengatasnamakan warga Utan Kayu dan menuntut pembubaran JIL.

FUI-UK, menurut Pambudi, dibentuk berdasarkan usulan dari beberapa orang perwakilan dari masjid-masjid di sekitar Utan Kayu. Mereka meminta Masjid al-Muslimun untuk menjadi pusat FUI karena lokasinya berdekatan dengan 68H.

Pambudi juga tahu tentang fatwa MUI dari orang-orang tersebut, “orang yang dari jauh aja pada ke sini, masak kita diem aja.”

Kebanyakan warga sekitar Masjid al-Muslimun sendiri sebenarnya tak banyak tahu soal FUI-UK. Mereka juga tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan FUI-UK. Dari mendemo JIL sampai dialog dengan camat mereka tidak dilibatkan.

“Saya tahu kalau kemarin ada rame-rame sampai masuk teve segala, tapi saya enggak diundang jadi saya tidak hadir,” ujar Siti Halimah, pemimpin sebuah majelis taklim perempuan yang tinggal tak jauh dari al-Muslimun.

Bahkan pemimpin FUI-UK sendiri Syafruddin Tanjung, status kewargaannya di Utan Kayu agak kabur. Beberapa warga yang saya tanyai ada yang menjawab dia tinggal di Gang Mangga, ada yang menjawab tinggal di Gang Sirsak –kedua gang ini terletak di belakang Masjid al-Muslimun.

“Dulu dia pernah buka bengkel di Jalan Sirsak, sekarang kayaknya udah pindah,” tutur seorang warga.

Semenjak dibentuk, FUI-UK mengadakan pengajian di masjid ini. Sebagian warga mengikuti acara tersebut. “Saya ikut karena ramai dan ingin tahu ada apa di masjid,” ujar Aisyah, seorang pimpinan majelis taklim yang sejak kecil tinggal di Utan Kayu.

Ibu Aisyah mengaku tidak mengenal orang-orang yang datang pada pengajian tersebut. “Hanya sebagian kecil warga sini. Saya bahkan tidak kenal dengan ustad yang memberi ceramah,” tuturnya.

MESKI tak banyak dikenal warga, FUI-UK cukup memiliki pengaruh dalam menyebarkan fatwa MUI dan posisi JIL. Sabtu, 3 September, usai pengajian, Imam Pambudi dan beberapa anggota FUI berkumpul untuk membahas keberadaan JIL.

Malam itu mereka sepakat untuk menyampaikan aspirasi warga kepada Camat Matraman. “Setelah kita kontak, ternyata Pak Camat bisanya hari Selasa,” tutur Pambudi.

Pengajian saja tentu tidak cukup. Minggu 4 September, sehari setelah pengajian itu, pada saat shalat magrib berjamaah, di atas tempat imam terbentang spanduk besar bertuliskan “Mendukung Satwa MUI untuk Membasmi JIL dan Antek-anteknya”. Lalu di papan pengumuman masjid, terpasanglah sejumlah salinan berita yang mengejam JIL dan mendukung fatwa MUI.

Dan malam itu juga, sekitar pukul tujuh, Syafruddin Tanjung bersama Imam Pambudi mendatangi undangan dari Radio 68H untuk bertemu dengan camat Matraman.

Saat itulah mereka menyampaikan tuntutan agar JIL pindah dari Utan Kayu. Syafruddin mengaku membawa aspirasi masjid-masjid di sekitar Utan Kayu yang tidak menghendaki keberadaan JIL.

“Saya hanya menyampaikan aspirasi, dan kami tidak ingin mendengar klarifikasi dari JIL, warga di sini ingin JIL pindah dari sini,” tutur Tanjung seperti dilansir sebuah media.

Sementara itu, pada saat yang sama, sekitar 30 orang dari FUI-UK mendatangi kantor JIL. Mereka membawa spanduk yang sebelumnya terpasang di atas tempat imam Masjid al-Muslimun. Mereka juga membawa spanduk lain bertuliskan, “JIL Haram, Darah Ulil Halal”.

Tuntutan mereka tetap: JIL pindah dari Utan Kayu.

Rupanya pertemuan malam itu tidak membuahkan kesepakatan apa pun. Massa FUI-UK merasa belum puas sebelum JIL hengkang dari Utan Kayu. Akhirnya mereka meminta diadakan pertemuan lanjutan antara warga Utan Kayu dan fihak kecamatan.

Dan begitulah, kemudian berlangsung pertemuan 6 September di Masjid al-Muslimun itu. Imam Pambudi memimpin acara. Setelah Camat, Kapolsek, Danramil serta perwakilan dari Radio 68H menyampaikan kata sambutan, dibukalah sesi tanya jawab. Sesi ini dipimpin oleh Syafruddin Tanjung, pimpinan FUI-UK.

Situasi memanas. Dialog menjadi tegang ketika seorang warga menyatakan interupsi bahwa dia sebagai warga merasa tidak keberatan dengan keberadaan JIL.

“Kita harus menghormati kebebasan berfikir, kita harus menghormati JIL,” tutur pemuda itu dan disambut dengan ancaman dari beberapa orang FUI-UK di luar ruangan masjid. “Seret keluar dia, bawa keluar, kita selesaikan dia.”

Dialog pun dilanjutkan setelah warga tadi diamankan dari massa yang marah. Dan ternyata, dari sepuluh penanya, tiga orang di antaranya tidak keberatan dengan keberadaan JIL.

Jika di dalam masjid itu, FUI-UK berusaha meyakinkan warga bahwa JIL harus diusir. Di luar masjid, warga tenang-tenang saja.

Sekitar seratus meter dari masjid beberapa orang berkumpul di sebuah warung mi instan. Mereka tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di Masjid al-Muslimun. Sebagian mereka serius mempelototi bidak catur dan sebagian lainnya sedang mengobrol santai tentang acara memancing mereka esok hari.

Di sela-sela pembicaraan, mereka juga membahas JIL dengan santai. “Orang JIL kan udah lama, kenapa baru ribut sekarang,” tutur seorang di antara mereka. Kawannya langsung menimpali, “kalau JIL (baca: GIL, sebuah grup musik barat) yang nyanyi You Are The The Girl, gua tau, dari dulu gua tau.”

Begitulah warga. JIL sendiri sebenarnya juga merupakan lembaga hukum yang sah. Pada 15 September, saat konferensi pers di kedai Tempo, Muspika Matraman secara tegas menyatakan hal tersebut. “Tidak ada alasan untuk mengusir JIL dari Utan Kayu.”[end]

Naskah ini pernah dimuat di rubrik peristiwa majalah Syir’ah edisi Oktober 2005. Saat menulis tulisan ini saya kebetulan tinggal tak jauh dari Masjid al-Muslimun.

2 October 2005

Mesra dengan Tuhan Itu Privasi

Oleh Imam Shofwan

Anggur merah, yang sering memabukkan diri
Kuanggap belum seberapa dahsyatnya…



Bait lagu karya Meggy Z ini dinyanyikan salah satu peserta Akademi Fantasi Indonesia (AFI). Trie Utami Sari yang sejak awal acara duduk manis di bangku juri langsung berdiri, bergoyang bersama bersama dua orang juri lainnya.

“Ade…Ade…Ade…,” riuh yel-yel dan tepuk tangan penontong mengiringi berakhirnya lagu. Giliran Iie –sapaan akrab Trie Utami— memberikan komentar, “penampilan kamu malam ini bagus.”

“Boleh diulang refrein lagu tadi,” lanjut ‘si bola bekel’. Sejenak Adi mengambil nafas. Lalu, “teganya teganya teganya teganya teganya… oh pada diriku….”

Iie pun tersenyum.

Sudah sejak setahun lalu Iie menjadi juri AFI. Wajahnya yang selalu terbalut tutup kepala khas dapat disaksikan seminggu sekali di layar Indosiar, sebuah stasiun televisi swasta nasional. Namun malam itu dia tidak mengenakan tutup kepala seperti biasanya. “Saya tidak lagi mengenakan ‘topi’, ujar adik musisi Purwacaraka saat ngobrol dengan saya usai acara pencarian bakat tersebut.

Penyanyi yang juga hobi melukis ini terlihat tanpa tutup kepala di hadapan publik untuk pertama kalinya di saat peluncuran album Kedamaian di Hard Rock CafĂ©, Jakarta, akhir April lalu. Sebuah harian nasional menulis, saat itu Iie mengenakan wig coklat gelap dan mengenakan busana dan aksesori serba biru. “Saya merasa terlahir kembali,” begitu jawaban penyanyi berbadan mungil ini saat ditanya tentang penampilan barunya.

Teman curhat Iie sewaktu ingin melepas Jilbab adalah Nana, sahabat Iie sejak Sekolah Menengah Pertama. Nana sekarang dengan setia selalu menemani Iie sebagai asisten pribadi.

Ketika itu, Maret 2005m Iie meminta tanggapan Nana, “Gua mau buka ‘topi’ nih,” Iie menanti jawaban daro karibnya. Dan Nana, setelah berfikir sejenak, balik bertanya, “Lu nggak takut sama publik?”

Jawaban spontan Nana tersebut ternyata dianggap sebagai gamparan telak bagi Iie. “Jangan-jangan gue make ‘topi’ gara-gara publik,” batin Iie ketika itu.

Ia mencoba flashback ke tahun 1999, ketika dia pertama kali memutuskan mengenakan ‘topi’ itu –yang kemudian oleh pedagang busana muslim di Pasar Tanah Abang dianggap sebagai jilbab gaya Trie Utami, yang merupakan varian dari dua gaya jilbab lain: gaya Marisa Haque dan gaya Ineke Koesherawati. Keduanya adalah pemain sinetron.

“Pake ‘topi’ adalah big deal dalam hidup saya,” kenang putri bungsu pasangan H Soejono Atmotenoyo dan Hj Soejarni Oesoep ini.

Masih segar dalam ingatan Iie saat menunaikan ibadah haji bersama suami tercintanya, Andi Analta Amier. Setahun setelah haji, Iie ingin belajar memanjangkan pakaian, dan diapun menutup kepalanya. “Saya merasa belum memakai jilbab, saya baru belajar memanjangkan pakaian,” tutur perempuan kelahiran Bandung, 8 Januari 1968 ini.

Hal demikian itu berjalan biasa saja, selama tahun-tahun awal dia mengenakan pakaian panjang. Tapi lama kelamaan Iie merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Dia merasakan underestimate, dia merasa lebih baik dan lebih benar dari orang lain. Perasaan itu dianggap wajar pada awalnya tapi semakin hari mengganggu perasaannya.

Sampai suatu ketika, keluhan hatinya diungkapkan pada Nana. Dan dari jawaban Nana Iie menemukan ketidaktulusan niatnya. Ia merasa motivasi memakai pakaian panjang dan ber’topi’ itu karena publik dan untuk menjaga imej. “Itu kan gila. Gua sendiri kan yang nanggung dosanya,” papar Iie. Setelah obrolan dengan Nana Iie lantas lepas “topi”.

Beragam tanggapan tentang penampilan baru Iie ini bermunculan, baik dari keluarga, teman, atau masyarakat. Dan Iie sepenuhnya sadar dengan reaksi pro-kontra dengan penampilan barunya. “Saya tidak peduli apa kata orang, saya memahami alasan mereka,” tutur Iie.

Ada yang melegakan Iie dengan keputusannya ini saat Iie berjumpa dengan Gus Sholah (sapaan akrab Sholahuddin Wahid) di sebuah acara di TVRI, Mei lalu. Usai acara, Iie ngobrol dengan adik mantan presiden RI Abdurrahman Wahid ini.

“Gus, saya telah buka ‘topi’,” Iie membuka percakapan.

“Terserah, kalau kamu merasa nyaman dengan penampilan begitu, ya silahkan,” tanggap Gus Sholah, “Jangankan kamu, istri saya saja kalau mau buka jilbab tidak akan saya larang. Di mata Tuhan, manusia dilihat dari kadar ketaqwaannya bukan jilbabnya.”

Usai obrolan, Iie merenungkan kata-kata Gus Sholah, “Menurut saya, jawaban Gus Sholah menarik, dan membuat orang berfikir,” ujar Iie. “Jadi agama tidak hanya salah dan benar saja.”

Namun tidak semua orang berpendapat seperti Gus Sholah. Banyak orang menganggap Iie tidak konsisten memakai jilbab. Menurut mereka, alasan Iie membuka jilbab karena perceraian dengan Andi Analta Amir. Iie pun tidak sepenuhnya menolak pendapat ini, dengan jujur ia mengatakan kalau motivasinya belajar memanjangkan pakaian adalah untuk suaminya tercinta.

Namun Iie menolak anggapan kalau dia melepaskan ‘topi’ gara-gara perceraiannya. “Kebetulan waktunya hampir beiringan,” tutur mantan vokalis Krakatau ini.

Iie lepas topi pada akhir Maret, sementara perceraiannya berlangsung pada Januari. Di hadapan para wartawan dan pekerja infotainment, di sebuah kafe do kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Trie Utami dan Andi Analta Amier mengumumkan perceraian atas perkawianan yang mereka jalani lebih dari sepuluh tahun.

Sebuah harian di Jakarta menyebutkan penyebab bubarnya perkawinan mereka lantaran poligami. Beberapa bulan sebelumnya Andi telah menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Aisyah, tanpa meminta izin dulu dengan Iie. “Menjelang tahun baru, saya baru dikasih tahu A’la (sebutan Iie untuk mantan suaminya),” kenang Iie.

Iie sepenuhnya memahami perkawinan Andi tersebut terjadi karena dia tidak mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Bahkan, seniman multibakat ini sendiri pernah mengusulkan hal itu pada sang suami. Mengenai izin, Iie menganggap hal itu dilakukan Andi karena tidak ingin menyakiti hatinya.

Ada perbedaan pendapat antara keduanya dalam memandang poligami. Menurut Andi, penerimaan poligami adalah bukti kekuatan iman seseorang, “untuk menerima poligami memang dibutuhkan kekuatan iman yang full dari seseorang, dan ternyata saya belum bisa menguatkan iman istri saya,” kata Andi.

Berbeda dengan Andi, Iie sebagai sebagai muslimah menyadari ada ayat yang membolehkan poligami. Iie mengakui dan meyakininya. Namun menurut Iie, ayat tersebut harus dipahami secara keseluruhan. Bahwa ada persyaratan ketat ketika seorang hendak berpoligami, yaitu adil dalam semua hal. Sikap adil ini menurut Iie sangat berat. Bahkan mustahil untuk bisa dilakukan orang sekarang.

Dalam poligami Iie juga merujuk pada praktik yang pernah dilakukan Rasulullah: Pertama, Rasulullah berpoligami setelah berusia lebih dari 40 tahun, di mana manusia secara emosional sudah mapan. Kedua, motivasinya untuk menyelamatkan, dan yang ketiga, Rasulullah tidak melihat penampilan.

“Rasulullah melakukan poligami karena memang bisa berbuat adil dalam hal apapun. Dan dilakukan pada usia empat puluh tahun dan untuk menyelamatkan para janda tua,” tutur artis yang menyukai kesunyian ini.

Karena tidak ingin membuat suaminya merasa berat dengan syarat tersebut, dengan kebesaran hati Iie meminta cerai pada Andi.

Di mata Iie, kebanyakan praktik poligami sekarang lebih karena nafsu daripada motivasi keagamaan seperti yang dilakukan Rasulullah. “Kebanyakan orang menggunakan alasan agama untuk menyalurkan nafsunya,” tutur pelantun lagu Mungkinkah Terjadi ini.

Keretakan rumah tangga tak membuat Iie larut dengan kesedihan. Justru Iie merasa lebih punya banyak kesempatan untuk terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan. Setidaknya, selama bulan Januari 2005, tiga kegiatan amal untuk korban tsunami Aceh diikutinya.

Bersama Franky Sahilatua, WS Rendra, Jokey S Prayogo dan seniman-seniman ibukota, tanggal 8 Januari Iie menggelar acara “Panggung Kepekaan Seniman,” untuk mengumpulkan dana untuk korban Tsunami. Acara tersebut di gelar di Galeri Nasional Jakarta dan diulang, dengan perubahan tajuk: Satu Duka Satu Bangsa, di Taman Budaya Yogyakarta.

Selain melaui konser Iie juga merilis album untuk menggalang dana buat para korban. Album ini diisi oleh 50 vokalis dari 3 generasi. Judulnya Kita Untuk Mereka yang diambil dari judul lagu karangan Glen Fredly yang dilantunkannya.

“Kegiatan itu adalah sebuah kerja kongkrit. Nggak Cuma ngomong aja,” tutur Iie. Iie tidak menceritakan lebih detil tentang kegiatan sosialnya ini. “Saya tidak akan pernah mau menceritakan kegiatan sosial saya, selama dua puluh tahun saya berkarier tidak pernah saya membuka itu,” tutur Iie.

Baginya, kegiatan-kegiatan tersebut adalah urusan dia dengan Tuhannya. “Privasi itu, bagi saya, bukan hanya urusan rumah tangga, tapi yang lebih privasi lagi yaitu hubungan saya dengan Tuhan saya.”

Begitulah Iie. Dia menganggap hubungan mesra dengan Tuhan tak perlu diketahui orang lain. Dia hanya ingin ikhlas, Iie ingin semuanya dilakukan bukan karena imej ataupun karena publik. “Saya nggak mau fardlu publik ta’ala dan fardlu imej ta’ala.”