7 February 2005

Jalan Mendaki Penyuka Whisky

Oleh Imam Shofwan

Perjalanan seorang seniman pemabuk yang ‘ditobatkan’ oleh Arifin Ilham.

JAMAAH zikir az-Zikra berduyun-duyun memadati masjid al-Amru bit-Taqwa. Awan hitam pertengahan Januari itu mencair menjadi rintik hujan, membasahi pelataran masjid yang terletak di daerah Mampang Indah Dua, Depok. Kaum menempati ruang utama masjid, sedang para wanita di teras luar.

Petang itu, jamaah isya baru selesai, acara dilanjutkan dengan zikir dan tausiyah yang dipimpin oleh Ustad Arifin Ilham, juru dakwah sering mongol di televisi. “Shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jamaah mendengar sang ustad menyitir sepenggal ayat al-Quran. Hening dan Khusuk.

“Seperti Bang Johnny AO,” lanjut Ustad Arifin sambil menunjuk seseorang di tengah jamaah. “AO” kependekan dari anggur orangtua.

Jamaah mengarahkan pandangan pada seorang laki-laki dengan rambut panjang yang terikat rapi dan ditutup kopiah putih. Lelaki paruh baya yang menjadi pusat perhatian tertunduk, kedua tangannya menutupi bagian bawah wajahnya. Suara jamaah sedikit riuh.

Sang Ustad melanjutkan kisah pertama kali bertemu dengan Johnny. “Saya mengucap Assalamualaikum kepada Bang Johnny.”

“Alaikumussalam, Ustad,” Arifin menirukan jawaban Johnny yang waktu itu sedang mabuk. Jamaah tergelak dan lelaki itu kian tertunduk.

Johnny AO adalah seorang pelukis dan pemabuk berat. Tapi itu kisah masa lalu. Kini, dia sudah berhenti minum dan ikut zikir. Majalah Empathy, Hidayah, Amanah, juga novel Suamiku Menangis karya Wahyuniwati al-Wali, istri Arifin Ilham, merekam kisah Johnny secara dramatis.

Diceritakan bagaimana Johnny bertemu dengan Arifin Ilham. Ustadz Arifin memberi lontong Sayur, Johnny tersentuh. Sejak saat itu, Johnny aktif mengikuti zikir pimpinan Sang Ustad. Majalah Amanah merangkum kisah ini dengan judul memikat: Johnny Zikir: Lontong Sayur Membuatnya Insyaf.

SIANG yang cerah awal Januari, Johnny duduk disebuah kursi kayu di ruang tengah rumahnya. Tangan kirinya memegang palet beisi warna-warni cat winston. Tangan kanannya lincah memainkan kuas pada sebuah kanvas. Di dinding tergantung beberapa lukisan. “Semula saya melukis abstrak, sekarang saya melukis kaligrafi,” tutur Johnny saat berbincang dengan saya tentang masa lalunya.

Johnny lahir 14 Januari 1954, di Bandung, dengan nama lengkap Johnny Guntoro. Dia anak kedua dari pasangan R. Guritno Wiryo Diatmodjo dan RA Siti Ana. Ayahnya seorang perwira tinggi Angkatan Darat.

Wiryo pensiun pada 1957, dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Setelah pensiun, sang ayah menjadi direktur utama Perusahaan Negara Tambang Emas Cikotok, Banten. Johnny bersama keluarganya ke sana sampai lulus sekolah dasar. Lima tahun Johnny menamatkan SD, setahun lebih cepat dari biasanya.

Keluarga Johnny lalu pindah ke Jakarta pada tahun 1967. Mereka menempati rumah di jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru. Saat itu Johnny masuk SMP 12. Dia satu sekolah dengan Ari Widjianto, tetangga yang kemudian menjadi teman dekat Johnny. Ari juga putra seorang pejabat militer.

Saat naik kelas dua SMP, Johnny tidak mau menlanjutkan sekolah. Dia mogok lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Sebagai teman, Ari menghibur Johnny, mengajak jalan-jalan, dan nongkrong. Mereka lalu membentuk geng “Ganja Fly”.

“Geng yang cukup terkenal di Panglima Polim saat itu,” tutur Johnny.

“Santai aja, kita minum bir, Gua yang traktir,” kata Ari waktu itu di sebuah restoran di jalan Panglima Polim Raya. Inilah kali pertama Johnny menenggak minuman beralkohol. Adapun Pub Tanamur (Tanah Abang Timur), Kernolong, Kalipasir, Kramat Raya adalah tempat-tempat mangkal geng mereka. Dan mulailah mereka menenggak Vodka, Whisky dan tekawe (minuman keras khas Kalipasir). Sehari-hari mereka mabuk dan balapan.

Johnny dibelikan sepeda motor dan kembali sekolah sampai lulus SMP 12 pada 1971.

Ia lalu masuk SMA 09 Bulungan, di sini dia bertahan satu tahun. Kelas dua, Johnny pindah ke SMA 17 Grogol. Dia tak lagi satu sekolah dengan Ari. Di SMA, Johnny ikut beladiri. Agar Tubuhnya prima, dia harus mengurangi minum minuman keras.

Setelah lulus SMA tahun 1974, Johnny melanjutkan studinya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, Jurusan Seni Lukis.

Di ASRI, kebiasaan minum minuman keras kambuh lahi dan semakin parah. Dari kawan-kawannya, Johnny berkenalan dengan banyak jenis minuman beralkohol, seperti Jhony Walker, Drygin, Napoleon, Bols, Arak Putih, Drink Beer. Tak hanya minuman, dia juha mencoba ganja kering dan masrum, sejenis jamur dari tinja sapi.

Pada 1977, ayah Johnny meninggal dunia. Johnny terpukul. Kuliahnya terbengkalai, dia lebih sering menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan pelesiran di pantai. “Saking seringnya saya ke Parangtritis, saya banyak kenal para pemandu wisata dan turis-turis.”

Dia Parangtritis inilah, awalnya Johnny berkenalan dengan masrum. Di sebuah kafe panggung. Johnny bersama empat orang kawannya berpesta. “Omlet setengah mateng lima,” kata Johnny. Pelayan berlalu setelah mencatat pesanan.

“Kita coba barang baru, Dik,” kata Johnny sambil mengulurkan bungkusan berisi jamur ke arah Mardi, seorang kawannya yang bekerja sebagai pemandu wisata. “Oh ini masrum dari turis India,” jawab Mardi sambil menaburkan jamur yang telah dilumat dengan tangannya ke atas omlet lalu memakannya. Setelah pesta ini, Johny tidak sadarkan diri sampai dua hari.

MINGGU Pahing, 28 Juli 1980, Johnny menikah dengan Raden Ayu Wisetiati, seorang karyawati Bank Exim. Pernikahan ini digelar saat Johnny kuliah semester akhir. Harapan sang ibunda, dengan pernikahan itu, Johnny memiliki tanggungjawab terhadap keluarga.

Setelah resepsi pernikahan, Johnny kembali ke Yogja, menyelesaikan kuliah. “Kuliah saya yang tinggal tugas akhir kacau. Ibu berharap setelah diberi tanggung jawab, saya akan lebih baik,” tutur Johnny.

Seminggu sekali Johnny menjenguk istrinya di Jakarta. Kebaikan dan kesabaran Titik, sapaan akrab Wisetiati, membuat Johnny jauh dari teman-teman mabuknya. Johnny merasa bahagia saat Titik mengandung.

April 1981, Titik mengalami keguguran. Johnny labil, dan kembali ke Yogyakarta. Minuman keras kembali ditenggaknya.

Johnny tidak lulus kuliah karena terganjal kuliah agama. “Untuk ketiga kalinya saya ujian shalat. Ya, mana mungkin lulus, saya tidak bisa shalat,” tutur Johnny.

Waktu itu Johnny menyogok dosennya dengan lukisan supaya diluluskan. Johni lulus ASRI pada 1982.

Setelah lulus Johnny kembali ke Jakarta. Sesekali dia menjenguk istrinya yang tinggal di rumah ibunya di daerah Mayestik, Jakarta Selatan. Tujuannya untuk meminta uang. Johnny lebih suka menghabiskan uang bersama minuman keras.

Melihat suaminya yang kian tidak bisa lepas dari minuman keras, Titik selalu berdoa sehabis sholat agar suaminya tobat.

Pada tahun 1984, Johnny membangun rumah di atas tanah peninggalan ayahnya di Depok. Pasangan ini lalu pindah ke rumah ini pada tahun yang sama.

Di Depok, kebiasaan Johnny semakin menjadi, dia semakin tidak terpisahkan dengan minuman beralkohol. “Tiap hari kerjaannya nyekek botol,” tutur Titik. “Johnny sering memecah kaca, gelas, dan mukulin tembok kalau habis minum.”

Biasanya Johnny menjemput Titik pulang kerja di Stasiun Depok, kemudian begadang di Pinbi kafe di jalan Margonda. “Biasanya Johnny menghabiskan satu picer berem, kadang nambah,” tutur Titik. Berem adalah minuman keras olahan tradisional. Satu picer seukuran satu sampe dua liter.

Mereka biasa sampai rumah setelah lewat tengah malam. “Paling lambat kami pulang jam dua dini hari,” tutur Titik.

Titik sering menemani suaminya minum, “saya tahu betul suami saya dan apa yang dia minum.” Tapi tidak setuju suaminya disebut preman. “Suami saya bukan preman, tidak pernah malak orang, sebenarnya tidak ada tetangga yang memanggil suami saya Johnny AO. AO hanya sebutan Ustad Arifin saja.”

Kepada saya, Arifin Ilham mengatakan sebutan AO alias anggur orangtua memang dia yang mempopulerkan. Jamaah az-Zikra lantas menjadikan nama itu sapaan akrab. Tapi, Arifin lantas memberikan sapaan baru buat Johnny, yaitu “Johnny Zikir”. Ini setelah Johnny rajin menghadiri jemaah zikir yang dipimpin Arifin.

Begitulah, Titik tak pernah menganggap suaminya penjahat. Dalam novel Suamiku Menangis, Johnny disebut sebagai seorang preman yang mengganggu perjalanan tokoh Ustad. Jalan menuju rumah Arifin harus melewati rumah Johnny. Johnny dan Arifin tinggal di perkampungan yang sama.

Titik keberatan dengan isi novel tersebut. “Preman itu kan identik terminal, pasar dan suka malak, padahal suami saya tidak pernah melakukan itu,” tutur Titik. “Sebenarnya saya ingin meluruskan hal itu, tapi udah kayak gitu. Ya sudahlah.”

Selama di Depok, Johnny termasuk orang yang rajin secara sosial. Tiap ada kerja bakti, Johnny selalu datang lebih awal. Dia juga membikin Sanggar Fajar dan mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Selain itu dia juga mengajari mereka teater. “Johnny hanya suka minum, dia tidak melakukan kejahatan,” tegas Titik.

Titik tidak pernah mengeluh pada siapa pun tentang kebiasaan suaminya kecuali pada Tuhan. Sampai suatu hari nahas di tahun 1989, terjadi.

Suatu malam, Titik sedang menunggu Johnny yang sedang mendesain taman seorang tetangga. Sejak sore, Titik memasak dan ingin makan malam bersama. Di meja makan, hidangan mulai dingin. Malam kian larut, mata Titik sudah terasa berat saat terdengar seorang berteriak “cihuy” dari luar. Dia paham itu adalah suaminya karena berteriak “cihuy” telah menjadi kebiasaan Johnny.

Titik bergegas menuju gerbang. Dia melihat suaminya memegang botol dalam kondisi mabuk berat.

Titik membopong Johnny menuju ruang makan. Kekesalan Titik saat itu tidak terbendung. “Sudah capek-capek masak, kamu enak-enakan minum,” ucap Titik. Emosi. Johnny kalap dan melempar piring ke arah Titik.

Darah mengucur dari sela-sela tangan Titik yang menutup wajahnya. Panik. Semua tentangga berdatangan ke rumah mereka setelah pembantu Johnny berteriak-teriak minta tolong.

Kemudian Titik dibawa ke rumah sakit Bhakti Husada, Depok. Karena keterbatasan alat, dokter memberi rujukan ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk dioperasi. Selam tiga bulan dia dirawat di RSCM, kemudian pindah ke RS Pertamina selama enam bulan untuk pemulihan. Sebelah mata Titik cacat setelah kejadian itu.

“Saat dirawat, Johnny selalu menemani saya dan tidak pernah tercium bau minuman dari mulutnya,” tutur Titik.

Setelah itu Johnny berhenti minum minuman keras. “Keluarga melarang saya kembali ke Depok. Saya dan Johnny tinggal di Mayestik di rumah orang tua,” tutur Titik, hampir setahun tinggal di sana. Sampai Johnny terlihat berhenti minum. Dan Kami diperbolehkan kembali ke Depok.”

Setelah kembali ke Depok Johnny kembali kambuh. “Minum lagi dan mabuk lagi.”

Dan, tibalah hari itu. Pada 12 Febuari 1998, ada perubahan penting dalam kehidupan pasangan Johnny-Titik, Titik melahirkan seorang puteri yang cantik dan diberi nama Sekar Siti Nabila.

“Karena saya bekerja, Johnny yang merawat Sekar. Dia tidak ada waktu lagi mencari minuman,” ujar Titik.

Tahun 1999 Titik berhenti kerja agar bisa merawat Sekar. Johnny berubah. Ia tak pernah menenggak minuman keras jika di rumah.

KAMIS, 31 Juli 2003, sekitar pukul tujuh pagi, sebuah mobil melintas di jalan Kampung Kekupu, tepat di depan rumah sekaligus workshop Johnny. Mobil itu berhenti. Saat itu Johnny sedang membersihkan halaman.

“Assalamualaikum, Bang Johnny,” seru seorang pemuda dari dalam mobil. Johnny menoleh ke asal suara. Tangannya masih menggenggam sapu. “Alaikumsalam. Ooo, Ustad Arifin,” timpal Johnny.

“Makan nasi uduk, yuk,” ajak Arifin.

“Makasih, kirim-kirim aja,” jawab Johnny.

Mobil berlalu. Johnny kembali menyapu. Setelah itu, Johnny masuk ke rumah mandi kemudian duduk di beranda rumah.

“Assalamualaikum,” seorang menyapa dari depan gerbang. Mobil yang membawa Arifin tadi berhenti tepat di belakangnya. Johnny menjawab salam dan membukakan gerbang. “Ustad Syukur, silahkan masuk,” ucap Johnny. Ustad Syukur salah seorang pengurus Majelis az-Zikra.

“Terima kasih. Di sini aja. Ini ada lontong sayur dari ustad Arifin. Maaf tadi nasi uduknya habis,” ucap Ustad Syukur. Johnny bengong sesaat. Belum sempat Johnny berterima kasih, mobil sudah berlalu.

Johnny menutup gerbang dan masuk kembali ke dalam rumah.

“Mami, Ustad Arifin baik ya?” ucap Johnny. Sang istri hanya bengong mencoba menerka arah pembicaraan. “Tadi Ustad Syukur nganterin lontong sayur dari Ustad Arifin, besok aku mau ikut dizir, ah.”

Tiga hari kemudian, Minggu 3 Agustus, untuk kali pertama Johnny ikut zikir yang dipimpin oleh Arifin Ilham.

Sebulan berikutnya, Minggu 7 September 2003, sebuah stasiun televisi swasta nasional merelai acara “Zikir dan Tausiyyah” di masjid az-Zikra. Arifin Ilham biasanya menjadi pembicara tunggal. Tapi hari itu sang ustad ditemani Johnny Guntoro alias Johnny AO. Sambil menangis, johnny menceritakan masa lalunya yang “hitam” sampai ketemu Arifin Ilham dan ikut majelis zikir az-Zikra.

Acara pengajian selesai, jamaah satu persatu kembali kembali ke rumah masing-masing. Tinggal berapa orang di masjid. Ustad Syukur menghampiri Johnny dan memberinya amplop uang terimakasih. Tersenyum, Johnny menerima dengan gembira.

“Sejak acara dialog itu,” tutur Johnny, “Ustad Arifin sering mengajak saya mengisi acara, baik di dalam maupun di luar kota.” Di pengajian-pengajian itu Johnny selalu menjadi pencerita yang baik. Ia mengisahkan kekelaman hidupnya dahulu, hingga pertemuaannya dengan Ustad Arifin.

Titik senang dengan kondisi suaminya saat ini. “Sekarang gantian, dulu saya yang rajin shalat, sementara dia tidak perna. Sekarang kebalik, dia yang rajin…,” tawa Titik berderai.

Tulisan ini dimuat di majalah Syirah pada Febuari 2005