5 August 2007

Maaf, Ini Tempat Pangeran

Oleh Imam Shofwan

TIRAI malam turun di Leuwinanggung, Depok. Hanya ada beberapa orang lewat, melintasi ruas-ruas jalan desa. Sepi merayapi pemukiman itu.

Di rumah Iwan Fals, yang terletak di tengah-tengah pemukiman tadi, suasananya terlihat lain. Sejak sore hari, sekitar tiga ratus pemuda-pemudi berkumpul sebuah pendopo, di samping rumah itu. Mereka, kebanyakan mereka mengenakan busana – sejak T-shirt, jaket hingga topi -- yang ditempeli pin bergambar Iwan Fals, judul-judul lagu Iwan Fals, kutipan syair lagu-lagu Iwan Fals. Ada juga yang menempeli busananya dengan emblim organisasi penggemar Iwan Fals, Oi.

Jelas mereka fans Iwan Fals. Mereka sengaja datang ke Leuwinanggung untuk bertemu idolanya, sambil main musik bersama, lengkap dengan berjoget bersama. Mereka pun menyaksikan pertunjukan teater, pembacaan puisi, dan selebihnya kongkow-kongkow hingga larut malam. Topiknya macam-macam, namun mereka kerap memberi tekanan pada persoalan kebobrokan bangsa.

Setiap Rabu, seminggu sekali acara itu digelar. Suasananya tampak akrab. Sang idola dan fans duduk tanpa sekat. Iwan biasanya ditemani anak-istrinya dan duduk lesehan di tengah kerumunan para penggemarnya.

Pendopo itu sendiri cukup besar. Bisa menampung sedikitnya 200 orang. Kalau penggemar Iwan datang membludak, mereka bisa duduk di depan pendopo. Ada empat kursi di sana.

Acara kongkow-kongkow itu biasanya dimulai pukul 20.00.

Saya duduk menyempil di antara penggemar Iwan Fals dan bersandar di tiang sebelah kanan pendopo. Saat acara hendak dimulai, Agus Pagar, seorang penjaga keamanan di rumah Iwan Fals menghampiri saya. Dengan ramah, dia meminta saya pindah tempat.. ”Maaf geser ke depan Mas,” pintanya, ”ini tempat Pangeran.” Tangannya mengarah ke Iwan Fals, yang ada diluar pendopo. Saya mafhum siapa yang dimaksud ”Pangeran.” Dan Iwan Fals memang pangeran di hati fansnya.

Dia mendapatkan gelar itu bukan lantaran keturunan ningrat. Kepangerannya lahir dari aura dan perjalanan karirnya sebagai seniman yang paling konsisten menyuarakan kritik sosial, kegelisahan rakyat kecil, dan kegundahan orang-orang yang terpinggirkan secara rutin oleh perubahan sosial yang berlangsung cepat. Dia berkarir di jagat musik lebih dari 25 tahun ini. Lebih 35 album telah lahir dari tangannya.
IWAN Fals lahir Jakarta, 3 September 1961. Ayah-ibunya, pasangan Harsoyo dan Lies Suudiyah, memberi dia nama Virgiawan Listanto. Dia biasa dipanggil keluarganya ”Tanto”. Nama dan panggilan itu kini nyaris tak dikenal.

Kepekaan Iwan Fals terhadap penderitaan rakyat kecil telah tersemai di hatinya sejak usia dini, sekurang-kurangnya sejak usia belasan . Tak jarang dia memberikan barang-barang yang justru disenanginya, sekadar untuk berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya yang memang kurang beruntung secara ekonomis.

Kepekaan sosok Iwan terasah di jalanan saat mengamen di jalanan Bandung. Dia melihat kemiskinan, kekerasan hidup, dan sebagainya. Iwan Fals melawannya dengan kebersamaan, kejujuran, solidaritas, juga humor khas anak jalanan. Pada sisi lain Iwan juga menyaksikan kehidupan sebagian kecil orang yang serba mewah. Pada sudut lainnya lagi Iwan menyaksikan para pemimpin bangsa dan politisi yang hanya memikirkan perut mereka sendiri dan abai dengan pendidikan dan kesehatan yang menjadi kebutuhan dasar rakyat kecil. ”Jangan salahkan kalau mereka belajar kehidupan di jalanan,” tutur Iwan Fals kepada saya.

Pada 1979, Iwan mengikuti lomba musik yang diselenggarakan LHI (Lembaga Humor Indonesia). Dia memenangkan lomba ini. Panitia merekam dan ABC Records mengasetkannya menjadi dua album: Yang Muda yang Bercanda I dan II. Nama ”Iwan Fals” waktu itu ditulis dengan ”Iwan False”.

Nama ”Iwan Fals” baru dipakai sejak album Canda Dalam Nada. Ini bisa dibilang kelanjutan dari album kerja sama LHI dan ABC record. Dalam album ini, Iwan menyanyikan Generasi Frustasi dan Imitasi. Dia belum lagi terkenal.

Serenande Kembang Pete adalah album percobaan Iwan dengan ABC Records. Nuansa jalanan beraransemen minimalis, dengan olah vokal yang polos, masih dominan dalam lagu Serenande Kembang Pete. Lirik dan musik country yang membungkus lagu tadi, mengingatkan kita pada penyanyi-cum-kritikus sosial Bob Dylan, penyanyi balada asal Amerika Serikat yang kehadirannya di sana identik dengan gerakan anti-Perang Vietnam 1960-an dan 1970-an.

Kalau di antara kita jatuh sakit
Lebih baik tak usah ke dokter
Sebab ongkos dokter di sini
Terkait di awan tinggi

DARI ABC Record Iwan Fals pindah ke Musica Studio dan memproduksi album Sarjana Muda pada 1981. Angka penjualan mencapai 300 ribu keping. Dari penjualan tersebut Iwan membeli tanah 6.000 meter persegi, yang kini jadi tempat untuk istananya.

Lagu-lagu Oemar Bakri, Ambulance Zig Zag, Bung Hatta adalah lagu-lagu paling terkenal Iwan hingga kini. Stasiun-stasiun radio waktu itu mulai memutar lagu Oemar Bakri, sebuah lagu yang diisi dawai melodi Idris Sardi.

Lagu-lagu yang sarat kritik pada album itu meroketkan nama Iwan Fals.

Tahun baru 1982 adalah hari kelahiran Galang Rambu Anarki, putra pertama Iwan dengan Yos Rosana, mantan model. Kebahagian itu terganggu oleh isu kenaikan BBM. Dia merekam suasana hatinya yang sedemikian sehingga munculah Galang Rambu Anarki dalam album Opini.

Iwan semakin mengukuhkan ketenaran dirinya sebagai penyanyi dengan syair-syair yang penuh kritik sosial. Selain mengkritik kenaikan BBM di tengah-tengah kesulitan hidup rakyat kecil yang sulit mendapatkan pekerjaan, Iwan juga mengeritik kesulitan susahnya orang mendapatkan kerja. Yang disebut terakhir diabadikannya dalam lagu Sarjana Muda. Tak hanya sampai di sana. Maraknya penebangan hutan menggugah Iwan untuk menciptakan Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi.

Masih di bawah Musica Studio’s, Iwan memproduksi album Sumbang (1982), Sugali (1984), Barang Antik (1984), Sore Tugu Pancoran (1985) dan Eithopia (1986). Kekejaman politik diabadikan Iwan dalam lagu Sumbang, kebobrokan transportasi pada lagu Kereta Tiba Pukul Berapa, lalu Celoteh Camar Tolol dan Cemar mengabadikan tenggelamnya kapal Tampomas II yang kelebihan penumpang.

Dia juga hendak mengangkat martabat kaum terpinggirkan. Lirik Sugali jelas-jelas memotret martabat seseorang yang dianggap sampah masyarakat. Intinya, Iwan hendak mengeritik maraknya isu petrus (penembakan misterius) sekitar tahun 1984. Kontras kehidupan kaya miskin diabadikan dalam lagu Siang Seberang Istana sampai lirik Sore Tugu Pancoran yang mengabadikan anak yang harus bekerja.

Tak hanya kritik. Iwan pun melahirkan lagu-lagu manis, romantis, sesuatu yang manusiawi. Anda bisa mendengarnya lewat Asmara tak Secengeng yang Aku Kira, Entah dan Kumenanti Seorang Kekasih. Lagu yang disebut terakhir karya Yoesyana, kawan Iwan yang membantu album Ethiopia.


ADA masa-masa bagi Iwan Fals untuk mengerem kritik sosialnya. Dan itu mulai terlihat gejalannya pada 1986. Di masa itu, Iwan meluncurkan album Aku Sayang Padamu yang lebih didominasi lagu-lagu bertemakan cinta, seperti Ku Sayang Kamu, Jangan Tutup Dirimu, atau Selamat Tinggal Malam.

Hanya setahun. Berikutnya, hingga 1988, nuansa kritik kembali mengental pada album Lancar, Wakil Rakyat dan 1910. Beberapa lagu yang terkenal dalam periode ini adalah Kereta Tua, Kuli Jalanan, Surat Buat Wakil Rakyat, PHK, Libur Kaum Kusam, Ada Lagi yang Mati, Mimpi yang Terbeli, atau 1910.

Sungguh pun kritik makin mengental, Iwan ternyata belum lagi melepaskan diri dari tema-tema cinta seperti tahun sebelumnya. Dengar saja Mata Indah Bola Pingpong atau Buku Ini Aku Pinjam, yang ditulis Iwan pada kurun 1987 - 1988.

Pada 1989 Iwan Fals Iwan Hijrah dari Musica Studios ke Airo Records, milik Setiawan Djody, bos kapal tangker yang menyukai musik. Di Airo, Iwan dikolaborasikan dengan Ian Antono dan menghasilkan album Mata Dewa, yang meledak dipasaran. Djody senang dan terpacu semangatnya untuk mendalami dunia rekaman. Dia lantas menggaet Sawung Jabo, Naniel, dan Innisisri. Mereka disatukan dalam Band Swami yang menghasilkan dua album, Swami I dan Swami II.

Album Swami I menembus angka 800 ribu keping. Djodi makin bersemangat dan Swami yang hanya dikontrak tiga tahun, diarahkan ke wadah baru bernama ”Kantata Taqwa” pada 1990. Djody mengajak penyair WS. Rendra dan musisi Jocky Suryoprayogo untuk bergabung. Penggarapannya album lebih serius, sekurang-kurangnya peralatan musik kini modern dan lebih lengkap. Mereka membuat album Kantata Taqwa.

Kerjasama dengan Djodi ini menghasilkan Bento dan Bongkar, dua lagu yang fenomenal dan semakin mengukuhkan Iwan sebagai musisi yang selalu kritis dengan pemerintah. Selain itu lagu-lagu kritis seperti Kesaksian, Orang Orang Kalah, Hio juga diproduksi masa ini.

Iwan Fals kembali ke Musica pada 1990. Dia merilis album Antara Aku Kau dan Bekas Pacarku. Album ini berisi lagu-lagu aransement ulang tanpa tambahan lagu baru dan hanya lagu-lagu cinta seperti, Antara Kau Aku Dan Bekas Pacarmu, Yang Tersendiri, Sebelum Kau Bosan, Jalan Yang Panjang Berliku, Jangan Tutup Dirimu, Nyanyianmu, Maaf Cintaku, Entah, Aku Antarkan, ditambah dengan single Kemesraan karya Franky Sahilatua.

Kurun 1990-1997, Iwan membuat album Cikal (1991, Indo Music Box), Belum Ada Judul (1992, Harpa Record), Hijau (1992, Pro sound), Dalbo (1993), Orang Gila (1993), Anak Wayang (1994, PT Kharisma Swara Indopersada), Terminal (1994, Harpa Record), Perahu Retak (1995, Harpa Record) dan Lagu Pemanjat (1996)

Syair kritik semisal Proyek 13, Belum Ada Judul, Besar dan Kecil, Anak Wayang, Lingkaran Aku Cinta Padamu, Terminal mewarnai album-album itu.

Iwan kembali digandeng Setiawan Djodi 1998. Mereka merilis album Kantata Samsara. Para penggemar Iwan Fals agak kecewa. Pasalnya, seperti pada album Swami II, dalam album ini terlalu banyak yang menjadi vokalis. Padahal, karisma Iwan Fals dalam berolah vokal tetap tak tertandingi. Kekecewaan ini berbuntut pada angka penjualan album ini yang menurun dari album sebelumnya. Album selanjutnya adalah Peristiwa Senayan 6 Juli 1998, yang berisi lagu-lagu Iwan dalam konser Iwan 6 Juli 1998 yang berakhir rusuh.
Tahun 2000 Iwan kembali merilis album Best of The Best. Ini berisikan album lama Iwan tanpa aransemen ulang. Hanya Kumenanti Seorang Kekasih dan Entah yang diaransemen ulang. Sejak album Orang Gila (1994), Iwan baru mengeluarkan album single lagi tahun 2002, yaitu album Suara Hati. Namun nuansa kritiknya lebih lembut dan tidak sekeras pada album-album Iwan yang terdahulu.
Setahun kemudian Iwan merilis album In Colaboration With, yang mecapai 600 ribu copy hingga berhak mendapat triple platinum. Album ini merupakan kolaborasi Iwan dengan musisi muda, taruhlah Pongky (Jikustik), Eross (Sheila on 7) atau Kaka (Slank). Tidak ada satu pun lagu yang bernuansa kritik. Semua melulu tema cinta.

Iwan terus bicara cinta dalam album terakhinya In Love (2005). Dia tak lagi menulis lagu baru dalam album ini.


MARCELLIUS Kirana Hamonangan Siahaan alias Marcel mendapat inspirasi lagu Temani Diriku dari sang istri Dewi Lestari. Dany Sepriatna Gumilar atau Dany Java Jive mendapat inspirasi lagu-lagunya dari penjara. Ahmad Dhani terinspirasi syair-syair lagunya dari bacaan buku-buku sufinya. Bagaimana Iwan Fals?

Iwan Fals punya cara sendiri untuk mendapat inspirasi lagu-lagunya. Ketika muda, Iwan gemar naik gunung untuk mendapat inspirasi. Di usianya sekarang yang berkepala empat, Iwan punya cara sendiri untuk mendapatkan inspirasi lagu-lagunya lewat ”Diskusi Reboan”, sebuah ajang pertukaran ide setiap hari Rabu malam antara Iwan Fals dan penggemarnya. Salah satunya, lagu di bawah ini:

negara harus bebaskan biaya pendidikan
negara harus bebaskan biaya kesehatan
negara harus ciptakan pekerjaan
negara harus adil tidak memihak
itulah tugasnya negara
....
negara harus begitu
kalau tidak bubarkan saja

Bait lagu ini belum ada di album-album Iwan Fals, bahkan belum mempunyai judul. . ”...Satu lagu tentang negara, kita belum tahu judulnya,” tulis Chaerudin via sms pada saya. Chaerudin adalah organizer diskusi itu. Diskusi ini pertama kali digelar sejak 3 Okober 2005, yang digagas oleh Rosana Listanto istri Iwan Fals, Digo Dz, dan Epol Ramadlan. Dua yang disebut terakhir adalah pengurus organisasi penggemar Iwan Fals.

Iwan melantunkan bait-bait lagu tersebut dengan iringan gitar tunggal yang dimainkannya sendiri, dengan semangat penuh. Lagu itu dinyanyikan Iwan sebagai hiburan untuk diskusi Reboan pada 29 Maret 2006, di pendopo rumah Iwan. Titik api perbincangan berkisar soal utang negara.

Diskusi itu rutin diselenggarakan sepekan sekali, sejak enam bulan lalu. Penyelenggaranya, Badan Pengurus Pusat (BPP) Oi, yang bekerjasama dengan Iwan Fals Managemen (IFM). Acara ini menjadi hiburan tersendiri bagi para penggemar. Iwan Fals kadang menyelingi acara tadi dengan main musik. Lebih beruntung lagi kalau Iwan membawakan lagunya yang terbaru, seperti malam itu.

Malam itu mereka mengundang ekonom dari Universitas Gajah Mada Revrisond Baswir, ekonom Golkar Ichsanuddin Noorsy, Dian Kartika Sari dari Infid (International NGO Forum on Indonesian Development) dan Kusfiardi dari Koalisi Anti Utang.

Iwan Fals tak beranjak dari tempat duduknya, sementara Mba Yos – sapaan akrab Yos Rosana -- sesekali keluar pendopo dan mengajak bicara Titin Fatimah, sekretaris Iwan Fals Management sekaligus bendahara diskusi ini. Iwan terkesan dengan uraian-uraian para pembicara, terutama pada Revrisond Baswir.

Revrisond Baswir seorang dosen yang kritis terhadap pemerintah. Ketika presiden Susilo Bambang Yudhoyono berencana menaikkan harga BBM, Baswir termasuk orang yang menolak rencana tersebut.

Baswir, biasa disapa Soni, mengartikan kembali kemerdekaan melalui sejarah utang Indonesia. Menurut dosen ekonomi Universitas Gadjah Mada ini, Indonesia belum merdeka pada 1945, sebab Belanda masih belum ikhlas memberikan kedaulatan Indonesia pada tahun tersebut. Indonesia baru diakui kemerdekaannya Desember 1950 melalui Konferensi Meja Bundar (KMB).

Dia sendiri berpendapat, Indonesia belum merdeka hingga kini. Pasalnya, salah satu hasil KMB menyebutkan semua utang yang dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda menjadi tanggungan perintah republik ini. Jadi, begitu Indonesia diakui kedaulatannya oleh PBB otomatis Indonesia telah berhutang sejumlah empat miliar dolar Amerika, ”Apakah ini yang dinamakan kemerdekaan,” Baswir bertanya retoris.

Selain terpikat uraian Baswir, Iwan juga tertarik dengan penuturan Ichsanuddin Noorsy yang menjelaskan soal utang luar negeri sebagai bentuk kejahatan kemanusiaan. ”Budget pengeluaran Indonesia yang terbesar adalah untuk membayar utang luar negeri. Sementara untuk pendidikan dan kesehatan masyarakat budgetnya jauh lebih kecil, ” kata Noorsy.

Iwan menggenapi topik perbincangan dengan membawakan lima lagu yang sarat kritik. ”Sebuah lagu yang saya gak tahu apakah ada hubungannya dengan ini atau tidak ama utang negara. Soalnya, kalau soal hutang, saya belum buat,” tutur Iwan disambut dengan tepuk tangan para penggemarnya. ”Lagu ini adalah harapan saya untuk negara Indonesia.”

Begitu melihat Iwan maju ke depan dan menyandang gitar, para penggemar Iwan yang semula duduk santai sambil mengobrol di luar pendopo, langsung merangsek masuk ke dalam ruangan.

Diskusi malam itu ke-22 kalinya. Sebelumnya, telah banyak pembicara didatangkan, mulai Budiman Sudjatmiko, Sri Bintang Pamungkas, Khofifah Indar Parawangsa, Anang Hermansyah, Franz Magnis Suseno, sampai Menegpora Adhyalksa Dault.

Bahan pembicaraannya juga beragam, mulai agama, cinta, politik, pembajakan, kekerasan terhadap perempuan, penyakit AIDS, kenaikan BBM, korupsi, demonstrasi, tenaga kerja, sampai utang negara.

Iwan senang berdiskusi dan menghibur para penggemarnya. Dia berharap kebiasaan seperti ini bisa menjadi kebijakan Oi secara nasional. ”Kebanggaan terhadap negeri ini harus dipertanyakan lagi,” tutur Iwan mengomentari hasil diskusi malam itu. ”Kalau masyarakatnya makmur, saya yakin tidak hanya dari Sabang sampai Merauke, tapi Singapura, Malaysia juga akan tertarik bergabung dengan Indonesia,” kelakar Iwan Fals. [end]


* Tulisan ini pernah dimuat di majalah Rolling Stones, edisi ulang tahun Mei 2006.

0 comments: