7 July 2005

Menjual Kuburan di Layar Kaca

Oleh: Fathuri SR, Imam Shofwan, Ingwuri Handayani, dan Muhammad Aslam

MENJELANG pukul 20.00, di rukan Bauvenville, perbatasan Jakarta Timur-Bekasi. Seorang gadis cantik duduk di sebuah ruangan yang sudah dirubah menjadi tempat ganti kostum. Juru rias terus memoles wajah sang gadis. Pipi, hidung, dagu, kening. Bolak balik.

Setumpuk kertas di tangannya ia baca dengan serius. Tak terganggu dengan polah juru make up di depannya. “Pak, gimana nih, Fina, enggak hafal ayat kursi?”

Tak terdengar jawaban. Hanya pandang mata sebentar dari yang hadir. Orang-orang tetap pada kesibukannya: menyiapkan kamera di pojok ruangan, mengatur lampu, merapikan dekorasi, atau memindah barang-barang.

“Dia kalau ada yang berhubungan dengan baca-baca al-Qur’an di sekolahnya juga sering kabur,” kembali gadis itu berteriak memberi keterangan. Belum juga ada tanggapan. Gadis itu kembali diam, sibuk membaca naskah. Wajahnya masih menjadi sasaran kuas rias.

Orang yang dimaksud gadis itu, Fina, adalah seorang artis teman mainnya. Waktu itu sedang diadakan syuting untuk sinetron Astaghfirullah, Minggu, 12 Juni lalu. Kebetulan saat sang artis cantik bicara jadwal syuting sedang istirahat sehingga tak terlalu dihiraukan kru yang lain.

Astaghfirullah, sinetron ini menjadi satu di antara sinetron-sinetron religius yang kini bak cendawan di musim hujan bertebaran di layar kaca. Bermula dari sinetron Rahasia Ilahi, produksi Kusuma Eka Permata (KEP), yang tayang di bulan Ramadlan lalu. Sinetron yang ceritannya berasal dari majalah Hidayah ini tak dinyana-nyana meraih sukses besar. Imbasnya, ia turut mengangkat TPI menjadi televisi nomor wahid ditonton pemirsa.

Tak berapa lama muncul sekira 36 pengikut gaya; berharap menangguk sukes yang sama. TPI menayangkan Rahasia Ilahi 2 dan 3, Takdir Ilahi, Mereka Ada di Mana-mana, Allah Maha Besar, Jerat Iblis, dan Kehendakmu. SCTV hadir dengan Astaghfirullah, Kuasa Ilahi, Kafir, dan Suratan Takdir. TransTV juga menayangkan empat sinetron serupa dengan judul Taubat, Istighfar, Hidayah, dan Insyaf. Disusul Lativi dengan Azab Ilahi dan Padamu Ya Rab, kemudian Azab Dunia dan Sakaratul Maut di ANTV, terakhir Hanya Tuhan Yang Tahu dan Padamu Ya Rabbi di Indosiar.

Semuanya tayang pada premier time (waktu tayang utama), dari jam 19.00 sampaui 21.30. Makanya tak heran kalau pada satu malam saja bisa menyaksikan tiga sampai lima sinetron jenis ini dalam waktu yang sama.

Terutama pada Malam Jum’at. Pada 23 Juni lalu, misalnya: jam 19.00 TPI menayangkan Mereka Ada Di mana-mana”, berkisah tentang Azab Istri yang Dzalim. Tersebutlah seorang istri yang tidak mau taat dengan suami. Ia membuat suaminya sakit hati. Lebih dari itu ia juga menyeleweng dengan laki-laki lain. Singkat cerita ia terkena HIV dan tak tahu mengapa kepalanya melepuh sehingga wajahnya menjadi menyeramkan. Ia meninggal sengsara seperti orang yang terkena kutukan.

Pada jam yang sama 19.00 ANTV menayangkan cerita Burhan dalam Sakaratul Maut. Ceritanya tentang seorang miskin Burhan yang menggunakan jalan pintas untuk kaya lalu mati tragis karena komplikasi, perutnya membesar dan keluar darah serta busa dari mulutnya.

Sejam kemudian, 20.00, SCTV memutar “Kuburan Penuh Lintah” dalam sinetron “Kuasa Ilahi”. Barangkali dibanding sinetron-sinetron sejenis Kuasa Ilahi tergolong paling unik. Ia menggabungkan teknik-teknik dalam sinetron laga. Musiknya juga khas; saat tokoh-tokohnya dirundung kedukaan musik yang mengiringi adalah musik India.

Rombongan pengantar jenazah menjadi pembuka adegan. Siang itu ada jenazah penguburan jenazah Erni. Tiga penggali kubur sibuk mencangkul. Mereka dikejutkan oleh puluhan lintah yang muncul dari tanah yang mereka cangkul. Ketakutan. Lari.

Beberapa saat kemudian Ustad Jak’far lalu ke kuburan mengecek kebenaran cerita salah seorang penggali. Ia melihat sendiri puluhan lintah. Betapa terkejutnya dia saat keranda dibuka lintah juga ada di tubuh mayit. “Masya’allah, ampuni istri saya ya Allah,” jerit sang suami Bambang. Keadaan istrinya yang aneh diratapinya sebagai siksa Tuhan.

Adegan selanjutnya pertemuan adik ipar korban Aulia dengan Ustad Ja’far pada hari berikutnya. Aulia diperankan oleh artis cantik Cece Kirani. “Dosa apa yang pernah dilakukan Mbak Erni?” Tanya Ustad Ja’far.

Aulia bercerita dalam adegan mundur. Mba Erni suatu malam memaksa dia dan kakaknya, Bambang, untuk menyerahkan harta anak yatim. “Jangan Mba! Itu harta peninggalan Mas Rahman,” tolaknya. Harta itu oleh almarhum Rahman diperuntukkan untuk anaknya, Astrid, yang tinggal di rumah keluarga Bambang.

Adegan selanjutnya Astrid menjewer anak Erni. Lalu Erni marah besar. Erni memaki-maki Astrid.

Di lain adegan sepulang sekolah Astrid nyaris diculik. Usut punya usut ternyata penculiknya adalah orang suruhan Erni. Tujuannya: harta peninggalan Rahman.

Kegagalan rencana Erni tak menyurutkan niatnya untuk memakan harta Astrid. Meski dilarang oleh suaminya sendiri. Erni pun tega menjual gelang emas peninggalan Rahman. Tak hanya itu, Erni juga minta tolong seorang dukun di Sukabumi, Mbah Gempol, untuk menyantet Astrid dan adik suaminya. Lagi-lagi tujuannya hanya satu: kematian Astrid, si anak yatim.

Berbagai usaha itu gagal total sampai Erni sendiri meninggal dunia dan tragisnya dengan disaksikan sendiri pembantunya. Erni dikubur mengalami siksaan menyedihkan. “Panas, panas, panas,” rintihnya. Rasmi, pembantu, berlari dari kuburan sambil menjerit ketakutan.

Bulu kuduk meremang saat melihat akhir kejadian ini. Apalagi menurut ustad Jefri Buchory, dai yang ceramahnya selalu menjadi penutup adegan, cerita-cerita ini diilhami dari kisah nyata. Mengerikan.

Di sebuah warung bubur ayam di jalan Cikini, Jakarta. Jefry Buchory menjelaskan, “saya berfikir apapun yang terjadi, apa sih yang tidak mungkin bagi Allah, saya kembalinya ke sana.”

Contohnya, kata Jefry, di zaman Rosulullah ada seoang yang mau dikuburkan. Anehnya saat mau dimasukkan ke kubur kepala mayit berubah menjadi babi atau anjing.

Lalu Rosulullah berdoa dan ternyata setelah itu keadaan mayit normal kembali. “Rasulullah lalu bersambda, inilah contoh orang yang meninggalkan sholat,” tambah Jefry.

Meski begitu Jefry mengakui bahwa kejadian seperti ini jarang terjadi. Allah hanya memberikan contoh pada beberapa orang. “Satu orang, biar untuk contoh yang lain,” kata Jefry.

Sehari usai menemui Jefry, Syir’ah bertemu dengan Chairul Umam, sutradara sinetron Astaghfirullah, di lokasi syuting, Kalimalang, Bekasi. Umam menyanggah kalau sinetron yang ia garap sama dengan sinetron lain yang sedang booming.

“Ini metode penyembuhan kok. Kalau itu (sinetron lain) kan cerita tentang yang hidupnya begini, matinya begini. Kalau sinetron yang saya garap ini serita sakitnya seseorang lalu begini penyembuhannya. Ini berhubungan dengan orang sehat kok. Bukan mayat,” tandasnya.

Sebagaimana sinetron “Rahasia Ilahi” yang menumpukan stok ceritanya pada majalah Hidayah, “Astaghfirullah” pada majalah Ghoib. Ide pembuatannya sudah dimiliki Umam setahun lalu. Sayang, saat disodorkan ke beberapa produser ia ditolak.

Baru ketika Rahasia Ilahi dan teman-temannya mendapat respon luar biasa dari pemirsa, Umam datang ke Cinema Art, salah satu rumah produksi. “Saya langsung diterima. Langsung tayang. Wah, keteteran juga, kejar tayang,” katanya,

H. Thantawi, penulis skenario Astaghfirullah, juga tidak setuju kalau sinetronnya disamakan dengan sinetron lain, apalagi disebut menjual mistis. “Kalau di Astaghfirullah tidak ada mistis. (Adanya tentang) orang kesurupan jin.” Mistik yang dimaksudkan Thantawi adalah sinetron-sinetron yang bercerita, misalnya, tentang orang bunuh diri kemudian rohnya bisa gentayangan.

“Kita membenahi itu. Bahwa orang yang bunuh diri itu bukan rohnya yang gentayangan tapi jin yang menyerupai itu,” tandasnya. Thantawi menyebutkan orang dari alam kubur tidak akan mampu menembus alam dunia, atau sebaliknya.

Memang, sinetron yang tayang setiap Senin malam ini alur ceritanya agak berbeda dengan Kuasa Ilahi yang tayang di stasiun televisi yang sama. Kuasa Ilahi satu jalur dengan Rahasia Ilahi, Sakaratul Maut, Azab Ilahi, atau Azab Dunia yang muncul di stasiun televisi lain.

Cerita yang diusung sinetron-sinetron ini umumnya berkonsep sebab akibat. “Misalnya karena anak durhaka kepada orang tuanya maka saat meninggal bakal mengalam peristiwa yang mengerikan,” ujar Dondy B Sudjono dari rumah produksi Kusuma Eka Permata (KEP) ketika wawancara dengan sebuah surat kabar.

Misalnya yang terjadi pada Burhan (dakan Sakarotul Maut, ANTV) yang mati karena komplikasi penyakit, muntah darah dan perut membuncit karena memilih jalan pintas mendapat harta atau sebab tidak taat pada suami sehingga terkena HIV dan lebam kepala seperti pada Erni (Mereka Ada Dimana-mana, TPI).

Kalau benar cerita ini dari kisah nyata, akhir hidup seperti ini tentu tidak diingini oleh siapapun. Tapi benarkah sebabnya sebagaimana digambarkan dalam sinetron-sinetron itu?

SELASA, 14 Juni, syir’ah datang ke ruang kerja dr. Mun’im Idris, ahli forensik dari rumah sakit Cipta Mangunkusumo, Jakarta. Gambar-gambar eksotik menghias di dinding, ada sebuah meja di bagian belakang dengan berbagai pernik dan aksesoris yang menghias. Senyum Mun’im menyambut ramah.

“Jangan ngomong masalah itu kalau bukan urusan kamu. Diam,” ujar Mun’im mengomentari cerita-cerita sinetron akhir-akhir ini. “Dalam kaitan ini, untuk masalah penyakit, luka-luka, menyangkut tubuh, kesehatan, atau nyawa manusia, harus ditanyakan ke dokter. Itu kenapa pada setiap kasus pidana polisi harus selalu bertanya pada dokter,” tuturnya tegas.

Dalam pandangannya, bukan kapasitas kyai, untuk menjelaskan (sebab-sebab kejadian) itu. Mengapa orang meninggal perut buncit? Kaki penuh belatung? Jenazah gosong?...

Bidang kedokteran bisa menjelaskannya dengan gamblang sehingga menghilangkan syakwasangka, juga ketakutan.

Secara kedokteran, ujar Mun’im yang ahli mengotopsi mayat, mayit yang perutnya buncit itu karena semasa hidup almarhum mengidap penyakit ginjal dan kencing manis. Kencing manis berarti kadar gulanya tinggi yang mengakibatkan tubuh cepat membusuk. “Proses pembusukan akan membentuk gas yang menyebabkan menggelembung,” tuturnya.

Untuk menjelaskan orang yang meninggal dengan kaki penuh belatung Mun’im punya sebuah cerita. Pernah ada seorang pasien awalnya kram, kejang karena terlalu banyak duduk di bis. Rasanya seperti berjalan di atas kulit durian. Kaki sulit digerakkan.

Karena malam ia tidak pergi ke dokter, ibunya mencoba meringankan dengan mengurut kakinya. Esoknya dia dibawa ke dokter. Hasil diagnosa ia mengalami penyempitan pembuluh darah. Obat diberikan. Harus diminum teratur kalau tidak bisa berbahaya.

Waktu berjalan ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh, malah kakinya semakin menghitam (beku dan mati). Dokter menyarankan untuk operasi guna mengangkat pembuluh darah yang telah mati. Setuju. Usai operasi ia dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah itu dokter mengizinkannya pulang. Tiap hari harus ganti perban.

Namun setelah beberapa hari penyakitnya kambuh lagi sementara uang sudah tidak cukup untuk berobat ke dokter. Akhirnya diputuskan berobat ke tabib. Bukannya kesembuhan yang diperoleh tapi keadaan kaki semakin gawat. Dari kaki keluar nanah sampai dengkul, bahkan keluar belatung. Sampai puncaknya kaki kiri putus.

Itu penjelasan kaki yang penuh belatung. Sementara tubuh mayat yang gosong lebih mudah dijelaskan. “Bagi orang umum dalam waktu 24 jam itu tubuh sudah mulai tampak kehijau-hijauan, terjadi pembusukan pada dinding perut sebelah kanan,” kata Mun’im.

Keadaan itu untuk orang sehat yang mati. Bagi orang yang meninggal karena penyakit akan lebih cepat busuknya. Oleh karena daerah itu adalah daerah usus, biasanya daerah-daerah itu lebih awal terdeteksi.

Kalau mengidap hipertensi, jantung memompa darah dengan tenaga ekstra, lama kelamaan jantung tidak kuat. Jantung akan membesar kepayahan. Nah di situ pembuluh darah yang ada di kepala, daerah atas, akan lebih banyak berkumpul di daerah dekat jantung. Kalau begitu daerah atas akan lebih cepat membusuk, lebih gelap oleh karena proses oksigenisasi orang tersebut terganggu.

Biasanya warna tubuh menjadi biru-biru karena darah kekurangan oksigen.

Orang yang meninggal dalam keadaan biasa saja terdapat warna merah ungu, gelap, di tubuhnya. Sedangkan orang mati karena ada kelainan otak akibat hipertensi akan lebih cepat gelap dan meluas. Akibatnya tubuh menjadi gosong.

“Umum itu,” kata Mun’im.

Keterangan dari Mun’im sebagai ahli forensik begitu gamblang dan detil. Namun, apa lacur, tayangan-tayangan sinetron itu sudah masuk ke rumah-rumah. Jutaan kepala menontonnya. Setiap hari, dari anak-anak hingga orang tua.

“Itu membawa banyak kemunduran,” komentar Dr. Jamhari, kepala Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta kepada Syir’ah pertengahan Juni lalu.

Jamhari menilai fenomena ini hanyalah sebentuk klangenan, nanti juga hilang dengan sendirinya. Ia ingat waktu kecil suka membaca komik-komik yang mengisahkan tentang siksa neraka. Ada yang disetrika, dibakar dengan besi panas, atau bagi yang suka berzina ditusuk kemaluannya.

“Kalau begini akan membuat orang beragama karena takut,” tutur Jamhari. Takut mati gosong, dipenuhi belatung, perut buncit, atau ditolak bumi.

Seorang tidak lagi beragama karena senang dan penuh kesadaran, tapi ada dorongan kengerian di kepalanya.

Salah satu pengajar di Fakultas Dakwah UIN Jakarta ini tidak menyangkal ada nilai dakwah dalam tayangang tersebut.

KH Zubaidi Muslich dari Pesantren Mambaul Hikam, Jatirejo, Jombang juga menyatakan hal yang sama. Allah sendiri, kata kyai yang lebih akrab dipanggil Buya ini, memiliki sifat “Yang Maha Menakuti”.

Namun seharusnya cerita ini tidak berhenti pada kejadian yang mengerikan. “Menakutkan itu,” katanya lewat pesawat telepon. Dalam ajaran Islam harus seimbang antara Khauf (takut dan raja’ (harapan).

Ia menyontohkan ada seorang intelektual Mesir, almarhum Dr. Zakky Mubarak, yang mengkritik habis Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.

“Karena ia hanya membaca sampai juz tiga. Namun setelah ia melanjutkan membaca juz IV ia berbalik memuji-muji Al-Ghazali,” tutur Buya.

Dari situ lahirlah buku karangannya berjudul Al-Akhlaq ‘Inda Al-Ghazaly.

Pada Juz tiga Al-Ghazali menuliskan tentang khauf, cerita tentang siksa. Menginjak ke juz empat Al-Ghazali mengulas habis tentang taubat yang termasuk dalam raja’ atau harapan yang dimaksud. “Karena itu, sebaiknya dalam akhir cerita diakhiri dengan taubat. Jadi husnul khatimah,” sarannya.

Kalau ditontong satu per satu sebagian besar penutup sinetron-sinetron itu selalu mengundang seorang ustad sebagai pengukuh cerita sembari memberi nasehat. Menjelang pengambilan gambar di sebuah masjid Jakarta seorang ustad bingung dengan skrip yang akan di bacakan di akhir cerita.

“Ini penyakitnya kenapa? Apa karena stres atau yang lain?” Tanya sang ustad bingung. Seorang juru rias menyapu wajah ustad dengan kertas tisu.[end]

Tulisan ini pernah menjadi laporan utama majalah Syir’ah pada Juli 2005