7 September 2004

Penganut Agama Baru Pembenci Agama Asal

Oleh Fathuri SR, Imam Shofwan, Toddi Y. Kurniawan

Pemeluk agama baru yang mencari kesalahan agama asalnya ternyata banyak terjadi. Mereka menilai agama lama sesat bahkan ‘musuh’.

Dari dalam sebuah masjid, kalimat-kalimat itu lantang terdengar. “Tidak akan rela Yahudi dan Nasrani terhadap kamu sampai kamu mengikuti millah mereka. Millah bisa diartikan agama, bisa juga pola pikir, dan juga budaya,” tutur perempuan setengah baya. Mantap ia menyatakan pesan: hati-hati dengan orang Yahudi dan Nasrani!

Sepintas pesan itu bukan sesuatu yang istimewa. Sudah banyak ulama, mubalig atau kiai, dengan banyak tafsir, telah menyitir kata-kata yang merupakan terjemahan dari surat al-Baqarah ayat 120 ini. Tapi, kalau yang mengutip adalah orang yang pernah merasakan agama Nasrani, tentu lain persoalannya.

Irene Handono, demikian perempuan yang mengutip ayat ini biasa dipanggil. Seorang peranakan Tionghoa kelahiran 30 Juli 1954 ini bernama asli Han Hoo Lie.

Irene, sebagaimana pengakuannya sendiri, adalah mantan biarawati. Dia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Katolik. Orangtuanya penyumbang terbesar gereja di daerahnya, Surabaya.

Namun, sejak 1982 di Masjid al-Falah, Surabaya. Ia masuk Islam disaksikan oleh KH Misbach yang waktu itu menjabat ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Pengakuan akan masa lalu Irena bisa disaksikan dalam sebuah pengajian di bulan Ramadlan, November 2003 lalu, yang rekaman VCD-nya dijual bebas di pasaran dengan judul Strategi Pemurtadan Umat. Di bawah judul ditulis “Irene: mantan biarawati”, dengan secara tidak langsung telah diganti dengan titel barunya: seorang mubaligah.

“Perbedaan antara saya dan Bapak-Ibu, saya lahir dari keluarga yang beragama Katolik, sedangkan Bapak-Ibu ketika lahir yang didengar suara azan dan iqamah,” tuturnya kepada peserta pengajian. “Dalam usia lima atau enam tahun, Bapak-Ibu sudah belajar ngaji tapi saya sudah masuk Sunday School, Sekolah Minggu, yaitu kursus untuk mempelajari Kristen atau Katolik,” lanjut Irene menceritakan masa kecilnya.

Irene adalah pembicara yang baik. Para peserta pengajian terdiam mendengar penuturannya. Tandas, dengan diksi yang tepat dan intonasi suara yang teratur.

“Saya yang ada di hadapan anda ini, adalah salah satu contoh mantan kafir. Dan disebut mantan kafir saya mengucapkan alhamdulillah,” aku Irene, sang da’iyah mualaf yang kini tinggal di Bekasi.

Dari pengakuan ini, Irene ingin menunjukkan, kekatolikannya di masa lalu merupakan kekafiran. Lebih dari itu, dalam ceramah-ceramahnya, Irene juga menganggap Katolik sebagai ‘musuh’ Islam. Irene kerap berpesan, Katolik akan terus menerus melakukan pendangkalan iman dan memurtadkan orang Islam. Ia sering kali mengutip ayat 120 al-Baqarah sebagai argumentasi dalam ceramahnya.

Selain Irena, ada Ragil Wibowo, 38 tahun, mualaf dari Protestan asal Jawa Tengah, juga mendeklarasikan hal yang sama. Ragil yang kini tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini berharap umat Islam berusaha tanpa henti memperkuat akidah. “(Umat Islam) harus mengerti bahwa musuh yang paling utama adalah musuh pendangkalan iman lewat pendidikan gratis kepada umat muslim, pembinaan ekonomi, pengobatan gratis, yang dijalankan Nasrani,” ujar Ragil kepada syir’ah.

Latar belakang Ragil tak kalah hebatnya dengan Irene. Menurut pengakuan Ragil, ia lahir dari keluarga Protestan totok. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pendeta. Setelah lulus SMA, Ragil kuliah di Institut Agama Kristen Maranatha, Bandung, dan mengambil jurusan misi sejenis dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kalau di Institut Agama Islam. Selama empat tahun dia sekolah di sana dan selesai dari situ dia masuk International Misionary Fellowship (IMF), sebuah organisasi misionaris internasional.

Ragil bersama sebelas kawannya diterjunkan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1988 sampai 1993. Mereka menjalankan misi pemberian bantuan pangan dan pembinaan iman. Program berjalan bagus hanya saja pembinaan iman yang awalnya dihadiri ratusan orang semakin hari makin sedikit.

“Lalu setelah evaluasi tim, kami menyimpulkan ada masalah dengan Korp Dakwah Pedesaan (KDP) yang menghalangi orang-orang yang mau menghadiri kebaktian kami,” kata Ragil menguraikan. Ragil dan teman-temannya tak tahu persis dari organisasi Islam mana KDP itu. Ragil hanya tahu KDP dipimpin oleh KH Jalal Mukhsid dari SD Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Korp ini juga mengadakan dakwah bagi penduduk Gunung Kidul dengan mengadakan pengajian dan sebagainya.

Kedua fihak sepakat konflik “perebutan pengikut” harus dihentikan. Untuk menghindari konflik fisik dipilihlah dialog. “Kami mengadakan dialog pribadi dengan Pak Jalal,” kata Ragil. Tema dialog itu adalah memperdebatkan akidah masing-masing. Dalam dialog itu ada perjanjian antara Jalan dan Ragil, kalau Ragil kalah harus masuk Islam, dan sebaliknya kalau Jalal kalah harus masuk Kristen.

Alot dan seru perdebatan ini. Ragil yang alumni jurusan misi tentu pengetahuan keprotestenannya mendalam, sebaliknya Jalal pun tak kalah mumpuni soal keislaman. Tapi akhirnya setelah enam bulan Ragil kalah argumentasi. Mau tak mau dia harus masuk Islam meski dengan resiko dijauhi gereja, teman, dan keluarganya.

Setelah masuk Islam, Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. “Sekarang agenda terpenting saya adalah mengislamkan kembali orang-orang yang dulu saya kristenkan,” katanya. Bagi Ragil, misi Kristenisasi sangat berbahaya. Di sisi lain, Ragil juga mengkritik habis ajaran Kristen.

Menurut Ragil ada dua hal yang salag dalam Kristen. Pertama, Injil, kitab suci orang Kristen, tidak menjamin keselamatan bagi seseorang. Kedua, ajaran Nabi Isa dengan ajaran Kristen sekarang itu sangat berbeda. “Ajaran yang dipraktikkan umat Kristen adalah ajaran Paulus bukan ajaran Nabi Isa,” katanya.

Nabi Isa, menurut Ragil, mencontohkan umatnya untuk bersunat, tapi umat Kristen tidak ada yang mau bersunat. Nabi Isa sembahyang dengan besujud sampai ke tanah, sedang umat Kristen sekarang ibadahnya dengan bernyanyi-nyanyi. Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk berdoa menengadahkan tanganya tapi mereka berdoa, malah, dengan tangan dilipat.

“Dalam Matius, ayat sebelas, Nabi Isa mengajarkan doa pada murid-muridnya, berdoa kepada bapak kami dengan menengadahkan tangannya ke atas, dan berdoalah demikian bapa kami di surga yang dikuduskan nama-Mu,” kutip Ragil.

Sementara itu, kritik pedas juga dilakukan Irene terhadap agama Katoliknya. “Tanggal 25 Desember yang dijadikan peringatan Hari Natal, hari kelahiran Nabi Isa, itu tidak benar,” tandas Irene. Dalam literatur sejarah yang dibaca Irene, diketahui bahwa tanggal itu merupakan hari pesta rakyat Romawi demi dewa Matahari.

Karena berharap rakyat mau mengikuti rajanya yang telah masuk Kristen, rakyat dibujuk untuk mengikutinya dengan berbagai toleransi. Secara panjang lebar Irene menjelaskan hal ini dalam bukunya: Hari Natal: Antara Dogma dan Toleransi.

Pendapat Irene ini tak ditampik oleh Romo Hariyanto SJ, pastur Katolik yang kini aktif dalam dialog antaragama. Menurut Hariyanto tanggal 25 Desember baru dipakai dan diperingati sebagai Hari Natal.

Bahkan, menurut dia, di kalangan bangsa Eropa Timur dan Rusia, Hari Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Tanggal ini tidak berkait dengan kelahiran Jesus, namun berhubungan dengan cerita Yesus yang sesudah dilahirkan dikunjungi oleh tiga raja dari Timur.

“(Natal) dalam bahasa Yunani dikenal dengan bahasa efifania yaitu sesuatu yang diumumkan kepada publik, dan tidak dalam kontek kelahiran Yesus. Ini sudah lama diketahui oleh umat Kristen,” kata Hariyanto.

Bagi Hariyanto, persoalan Natal di mata umat Kristen tidaklah terlalu esensial. “Natal tanggal berapa pun tidak akan mengubah sistem dan keimanan yang ada dalam diri umat Kristen,” tambahnya. Menilai sikap Irene, Hariyanto berpendapat, orang seperti Irene akan selalu ada dalam sejarah dan terus berulang-ulang.

Apa yang dikatakan Hariyanto bukan isapan jempol belaka. Faktanya tak hanya orang Kristen atau Katolik yang masuk Islam yang mengorek keburukan agama lamanya, orang Islam yang masuk ke Kristen pun bertingkah sama.

Sebagaimana dikutip dari Media Dakwah edisi Agustus 2003, Yusuf Roni, pendeta yang sebelumnya beragama Islam, dalam sebuah ceramahnya di Gereja Maranatha, Surabaya, pada tanggal 13 September 1973 menelanjangi keburukan Islam.

Islam yang dikenal Yusuf Roni adalah Islam yang garang, penuh kebencian dengan agama lain. Di dalam al-Quran ada ayat “Asy-syida’u ‘ala al-kuffari, yang artinya, potong itu orang-orang Kristen,” kutip Yusuf. Tentu ini tafsiran versi Yusuf Roni.

Kepada Syir’ah, Yusuf mengaku, sebelum masuk Kristen dia sangat kuat memegang Islam. Dalam lingkungan keluarganya di Palembang, ia begitu keras dididik sejak kecil tentang keislaman. Di luar itu, saat belajar di Bandung, Yusuf Roni aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi Islam. Dia pernah menjabat ketua umum Serikat Pelajar Muslimin Indonesia cabang Bandung, ketua seksi pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia, dan ketua seksi dakwah Pemuda Muslimin Indonesia wilayah Jawa Barat.

Mengomentari ceramah Yusuf Roni, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Zainun Kamal, menilai kalau dilihat tanpa analisa hanya dari sisi politik saja, kesan itu ada. Islam yang garang, penuh pertempuran dan seterusnya.

“Nabi (Muhammad) sewaktu menyebarkan Islam harus menghadapi berbagai pertempuran. Kala Nabi wafat, antara Muhajirin dan Ansor pun terjadi pertengkaran,” kata Zainun menjelaskan.

Namun inti ajaran Islam bukan di situ. Tak usah jauh-jauh, Islam dari bahasanya saja bermakna “damai”. “Dalam al-Quran sendiri dinyatakan, ketika mereka masuk kepadanya maka mereka berkata, ‘selamat’,” kata Zainun mengutip ayat 52 surat al-Dzariyat.

Zainun sendiri yang mengenal cukup dekat dengan Yusuf Roni, rektor Sekolah Tinggi Apostolos Jakarta, kini tak melihat dia melakukan hal yang demikian. Menurut Zainun, mungkin karena waktu itu Yusuf baru masuk Kristen sehingga bersikap keras dengan agama lamanya.

“Seperti suami-istri yang baru bercerai, pasti si suami atau istri akan mencela mantan istri atau suaminya,” kata Zainun mengumpamakan.

Sama dengan Yusuf, apa yang dilakukan oleh Irene dan Ragil mungkin juga hanya sekedar kekagetan saja. Hariyanto sendiri melihat, problem dari agama Kristen dan Islam sebagai agama dakwah atau misi memang terletak pada perebutan umat, dan ini menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai.

Makanya, menurut Zainun, untuk menghindari konflik semacam itu antara Islam dan Kristen lebih baik kembali melihat pada agama induk. Kristen mengklaim Ibrahim adalah bapak mereka, umat Islam juga demikian, tak ketinggalan Yahudi pun mengakuinya. Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari satu sumber, yaitu agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.

“Agama yang dibawa Ibrahim adalah dinul hanif, agama yang lurus,” terang Zainun.

Kalau tidak disadari, persaingan di antara Kristen dan Islam akan terus terjadi. Dan seharusnya dakwah atau misi, saran Zainun, dikembalikan pada makna sebenarnya, jangan dimaknai sebagai perekrutan umat sebanyak-banyaknya. “Tapi menggembleng umat berkualitas,” ujar Zainun.[end]

Tulisan ini dimuat di majalah Syir'ah pada September 2004.

Pemeluk agama baru yang mencari kesalahan agama asalnya ternyata banyak terjadi. Mereka menilai agama lama sesat bahkan ‘musuh’.

Dari dalam sebuah masjid, kalimat-kalimat itu lantang terdengar. “Tidak akan rela Yahudi dan Nasrani terhadap kamu sampai kamu mengikuti millah mereka. Millah bisa diartikan agama, bisa juga pola pikir, dan juga budaya,” tutur perempuan setengah baya. Mantap ia menyatakan pesan: hati-hati dengan orang Yahudi dan Nasrani!

Sepintas pesan itu bukan sesuatu yang istimewa. Sudah banyak ulama, mubalig atau kiai, dengan banyak tafsir, telah menyitir kata-kata yang merupakan terjemahan dari surat al-Baqarah ayat 120 ini. Tapi, kalau yang mengutip adalah orang yang pernah merasakan agama Nasrani, tentu lain persoalannya.

Irene Handoni, demikian perempuan yang mengutip ayat ini biasa dipanggil. Seorang peranakan Tionghoa kelahiran 30 Juli 1954 ini bernama asli Han Hoo Lie.

Irene, sebagaimana pengakuannya sendiri, adalah mantan biarawati. Dia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Katolik. Orangtuanya penyumbang terbesar gereja di daerahnya, Surabaya.

Namun, sejak 1982 di Masjid al-Falah, Surabaya. Ia masuk Islam disaksikan oleh KH Misbach yang waktu itu menjabat ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Pengakuan akan masa lalu Irena bisa disaksikan dalam sebuah pengajian di bulan Ramadlan, November 2003 lalu, yang rekaman VCD-nya dijual bebas di pasaran dengan judul Strategi Pemurtadan Umat. Di bawah judul ditulis “Irene: mantan biarawati”, dengan secara tidak langsung telah diganti dengan titel barunya: seorang mubaligah.

“Perbedaan antara saya dan Bapak-Ibu, saya lahir dari keluarga yang beragama Katolik, sedangkan Bapak-Ibu ketika lahir yang didengar suara azan dan iqamah,” tuturnya kepada peserta pengajian. “Dalam usia lima atau enam tahun, Bapak-Ibu sudah belajar ngaji tapi saya sudah masuk Sunday School, Sekolah Minggu, yaitu kursus untuk mempelajari Kristen atau Katolik,” lanjut Irene menceritakan masa kecilnya.

Irene adalah pembicara yang baik. Para peserta pengajian terdiam mendengar penuturannya. Tandas, dengan diksi yang tepat dan intonasi suara yang teratur.

“Saya yang ada di hadapan anda ini, adalah salah satu contoh mantan kafir. Dan disebut mantan kafir saya mengucapkan alhamdulillah,” aku Irene, sang da’iyah mualaf yang kini tinggal di Bekasi.

Dari pengakuan ini, Irene ingin menunjukkan, kekatolikannya di masa lalu merupakan kekafiran. Lebih dari itu, dalam ceramah-ceramahnya, Irene juga menganggap Katolik sebagai ‘musuh’ Islam. Irene kerap berpesan, Katolik akan terus menerus melakukan pendangkalan iman dan memurtadkan orang Islam. Ia sering kali mengutip ayat 120 al-Baqarah sebagai argumentasi dalam ceramahnya.

Selain Irena, ada Ragil Wibowo, 38 tahun, mualaf dari Protestan asal Jawa Tengah, juga mendeklarasikan hal yang sama. Ragil yang kini tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini berharap umat Islam berusaha tanpa henti memperkuat akidah. “(Umat Islam) harus mengerti bahwa musuh yang paling utama adalah musuh pendangkalan iman lewat pendidikan gratis kepada umat muslim, pembinaan ekonomi, pengobatan gratis, yang dijalankan Nasrani,” ujar Ragil kepada syir’ah.

Latar belakang Ragil tak kalah hebatnya dengan Irene. Menurut pengakuan Ragil, ia lahir dari keluarga Protestan totok. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pendeta. Setelah lulus SMA, Ragil kuliah di Institut Agama Kristen Maranatha, Bandung, dan mengambil jurusan misi sejenis dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kalau di Institut Agama Islam. Selama empat tahun dia sekolah di sana dan selesai dari situ dia masuk International Misionary Fellowship (IMF), sebuah organisasi misionaris internasional.

Ragil bersama sebelas kawannya diterjunkan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1988 sampai 1993. Mereka menjalankan misi pemberian bantuan pangan dan pembinaan iman. Program berjalan bagus hanya saja pembinaan iman yang awalnya dihadiri ratusan orang semakin hari makin sedikit.

“Lalu setelah evaluasi tim, kami menyimpulkan ada masalah dengan Korp Dakwah Pedesaan (KDP) yang menghalangi orang-orang yang mau menghadiri kebaktian kami,” kata Ragil menguraikan. Ragil dan teman-temannya tak tahu persis dari organisasi Islam mana KDP itu. Ragil hanya tahu KDP dipimpin oleh KH Jalal Mukhsid dari SD Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Korp ini juga mengadakan dakwah bagi penduduk Gunung Kidul dengan mengadakan pengajian dan sebagainya.

Kedua fihak sepakat konflik “perebutan pengikut” harus dihentikan. Untuk menghindari konflik fisik dipilihlah dialog. “Kami mengadakan dialog pribadi dengan Pak Jalal,” kata Ragil. Tema dialog itu adalah memperdebatkan akidah masing-masing. Dalam dialog itu ada perjanjian antara Jalan dan Ragil, kalau Ragil kalah harus masuk Islam, dan sebaliknya kalau Jalal kalah harus masuk Kristen.

Alot dan seru perdebatan ini. Ragil yang alumni jurusan misi tentu pengetahuan keprotestenannya mendalam, sebaliknya Jalal pun tak kalah mumpuni soal keislaman. Tapi akhirnya setelah enam bulan Ragil kalah argumentasi. Mau tak mau dia harus masuk Islam meski dengan resiko dijauhi gereja, teman, dan keluarganya.

Setelah masuk Islam, Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. “Sekarang agenda terpenting saya adalah mengislamkan kembali orang-orang yang dulu saya kristenkan,” katanya. Bagi Ragil, misi Kristenisasi sangat berbahaya. Di sisi lain, Ragil juga mengkritik habis ajaran Kristen.

Menurut Ragil ada dua hal yang salag dalam Kristen. Pertama, Injil, kitab suci orang Kristen, tidak menjamin keselamatan bagi seseorang. Kedua, ajaran Nabi Isa dengan ajaran Kristen sekarang itu sangat berbeda. “Ajaran yang dipraktikkan umat Kristen adalah ajaran Paulus bukan ajaran Nabi Isa,” katanya.

Nabi Isa, menurut Ragil, mencontohkan umatnya untuk bersunat, tapi umat Kristen tidak ada yang mau bersunat. Nabi Isa sembahyang dengan besujud sampai ke tanah, sedang umat Kristen sekarang ibadahnya dengan bernyanyi-nyanyi. Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk berdoa menengadahkan tanganya tapi mereka berdoa, malah, dengan tangan dilipat.

“Dalam Matius, ayat sebelas, Nabi Isa mengajarkan doa pada murid-muridnya, berdoa kepada bapak kami dengan menengadahkan tangannya ke atas, dan berdoalah demikian bapa kami di surga yang dikuduskan nama-Mu,” kutip Ragil.

Sementara itu, kritik pedas juga dilakukan Irene terhadap agama Katoliknya. “Tanggal 25 Desember yang dijadikan peringatan Hari Natal, hari kelahiran Nabi Isa, itu tidak benar,” tandas Irene. Dalam literatur sejarah yang dibaca Irene, diketahui bahwa tanggal itu merupakan hari pesta rakyat Romawi demi dewa Matahari.

Karena berharap rakyat mau mengikuti rajanya yang telah masuk Kristen, rakyat dibujuk untuk mengikutinya dengan berbagai toleransi. Secara panjang lebar Irene menjelaskan hal ini dalam bukunya: Hari Natal: Antara Dogma dan Toleransi.

Pendapat Irene ini tak ditampik oleh Romo Hariyanto SJ, pastur Katolik yang kini aktif dalam dialog antaragama. Menurut Hariyanto tanggal 25 Desember baru dipakai dan diperingati sebagai Hari Natal.

Bahkan, menurut dia, di kalangan bangsa Eropa Timur dan Rusia, Hari Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Tanggal ini tidak berkait dengan kelahiran Jesus, namun berhubungan dengan cerita Yesus yang sesudah dilahirkan dikunjungi oleh tiga raja dari Timur.

“(Natal) dalam bahasa Yunani dikenal dengan bahasa efifania yaitu sesuatu yang diumumkan kepada publik, dan tidak dalam kontek kelahiran Yesus. Ini sudah lama diketahui oleh umat Kristen,” kata Hariyanto.

Bagi Hariyanto, persoalan Natal di mata umat Kristen tidaklah terlalu esensial. “Natal tanggal berapa pun tidak akan mengubah sistem dan keimanan yang ada dalam diri umat Kristen,” tambahnya. Menilai sikap Irene, Hariyanto berpendapat, orang seperti Irene akan selalu ada dalam sejarah dan terus berulang-ulang.

Apa yang dikatakan Hariyanto bukan isapan jempol belaka. Faktanya tak hanya orang Kristen atau Katolik yang masuk Islam yang mengorek keburukan agama lamanya, orang Islam yang masuk ke Kristen pun bertingkah sama.

Sebagaimana dikutip dari Media Dakwah edisi Agustus 2003, Yusuf Roni, pendeta yang sebelumnya beragama Islam, dalam sebuah ceramahnya di Gereja Maranatha, Surabaya, pada tanggal 13 September 1973 menelanjangi keburukan Islam.

Islam yang dikenal Yusuf Roni adalah Islam yang garang, penuh kebencian dengan agama lain. Di dalam al-Quran ada ayat “Asy-syida’u ‘ala al-kuffari, yang artinya, potong itu orang-orang Kristen,” kutip Yusuf. Tentu ini tafsiran versi Yusuf Roni.

Kepada Syir’ah, Yusuf mengaku, sebelum masuk Kristen dia sangat kuat memegang Islam. Dalam lingkungan keluarganya di Palembang, ia begitu keras dididik sejak kecil tentang keislaman. Di luar itu, saat belajar di Bandung, Yusuf Roni aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi Islam. Dia pernah menjabat ketua umum Serikat Pelajar Muslimin Indonesia cabang Bandung, ketua seksi pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia, dan ketua seksi dakwah Pemuda Muslimin Indonesia wilayah Jawa Barat.

Mengomentari ceramah Yusuf Roni, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Zainun Kamal, menilai kalau dilihat tanpa analisa hanya dari sisi politik saja, kesan itu ada. Islam yang garang, penuh pertempuran dan seterusnya.

“Nabi (Muhammad) sewaktu menyebarkan Islam harus menghadapi berbagai pertempuran. Kala Nabi wafat, antara Muhajirin dan Ansor pun terjadi pertengkaran,” kata Zainun menjelaskan.

Namun inti ajaran Islam bukan di situ. Tak usah jauh-jauh, Islam dari bahasanya saja bermakna “damai”. “Dalam al-Quran sendiri dinyatakan, ketika mereka masuk kepadanya maka mereka berkata, ‘selamat’,” kata Zainun mengutip ayat 52 surat al-Dzariyat.

Zainun sendiri yang mengenal cukup dekat dengan Yusuf Roni, rektor Sekolah Tinggi Apostolos Jakarta, kini tak melihat dia melakukan hal yang demikian. Menurut Zainun, mungkin karena waktu itu Yusuf baru masuk Kristen sehingga bersikap keras dengan agama lamanya.

“Seperti suami-istri yang baru bercerai, pasti si suami atau istri akan mencela mantan istri atau suaminya,” kata Zainun mengumpamakan.

Sama dengan Yusuf, apa yang dilakukan oleh Irene dan Ragil mungkin juga hanya sekedar kekagetan saja. Hariyanto sendiri melihat, problem dari agama Kristen dan Islam sebagai agama dakwah atau misi memang terletak pada perebutan umat, dan ini menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai.

Makanya, menurut Zainun, untuk menghindari konflik semacam itu antara Islam dan Kristen lebih baik kembali melihat pada agama induk. Kristen mengklaim Ibrahim adalah bapak mereka, umat Islam juga demikian, tak ketinggalan Yahudi pun mengakuinya. Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari satu sumber, yaitu agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.

“Agama yang dibawa Ibrahim adalah dinul hanif, agama yang lurus,” terang Zainun.

Kalau tidak disadari, persaingan di antara Kristen dan Islam akan terus terjadi. Dan seharusnya dakwah atau misi, saran Zainun, dikembalikan pada makna sebenarnya, jangan dimaknai sebagai perekrutan umat sebanyak-banyaknya. “Tapi menggembleng umat berkualitas,” ujar Zainun.

Pada September 2004, tulisan ini pernah dimuat di majalah Syir'ah.