30 March 2008

Senyum Terakhir
Oleh Daris

Senin pagi selalu dibuka dengan upacara bendera di sekolahku. Namun rutinitas itu tak lagi bisa dilakukan sejak lumpur Lapindo menggenangi halaman sekolahku, sekira Mei 2006.

Aku tak lagi bisa membaca do’a penutup upacara yang selalu jadi tugas rutinku. Sahabatku Zahroh yang biasanya membacakan teks proklamasi dengan suaranya yang lembut namun dibikin tegas juga tak lagi bisa aku dengarkan.

Aku siswi kelas III C Sekolah Menengah Pertama Negeri Porong. Sekolahku terletak di desa Renokenongo. Sekolah di sini sangat menyenangkan pada awalnya hingga musibah lumpur Lapindo merusak semuanya.

Aku masih ingat lumpur itu, awalnya, hanya sebuah bau busuk yang menyengat. Saat itu, Bu Etik, guru bahasa daerahku sedang mengajar di depan kelas.

Bu Etik guru yang penyabar, selembar kain yang selalu menempel di kepalanya selalu mengesankanku. Karena kesabarannya murid-muridnya biasanya berani gaduh saat dia mengajar, seperti pagi itu, sejak Bu Etik masuk kelas kawan-kawan sekelasku gaduh sekali.

“Tenang anak-anak!” tutur Bu Etik mencoba untuk meredam suasana.

Namun kelas makin gaduh. Bu Etik lantas diam, para siswa sudah mafhum kalau Bu Etik diam tandanya marah. Kawan-kawan lantas diam beberapa saat. Ketika Bu Etik akan bicara lagi.

“Eh, kamu kentut ya?” celetuk seorang kawanku pada seorang anak yang berambut keriting dan berbadan gemuk yang tak jauh dari tempat duduknya. Sontak semua tertawa termasuk aku.

“Dasar! Kalau kentut di luar dong! Bau nih,” sambungnya. Pelajaran jadi kacau semua tertawa tak mempedulikan guru.

“Diam. Diam anak-anak,” lerai Bu Etik.

Karena temanku yang dituduh merasa tidak melakukan. Dia pun berusaha membela diri dan berdiri.

Braak. Karena tak sabar, meja harus mau jadi korban kekesalannya.

“Siapa yang kentut? Aku nggak kentut, kamu kali? Nuduh orang sembarangan. Kalau nggak percaya nih cium pantatku.” Teriaknya lantas duduk kembali.

Semua kembali tertawa. Kacau. Sangat kacau. (Semua belum tahu kalau bau itu berasal dari semburan lumpur Lapindo)

Bu Etik keluar, Aku celingak-celinguk di pintu. Banyak anak-anak dari kelas lain sudah pada keluar. Tanpa dikomando kami lantas berhamburan keluar kelas.

Aku tak pernah keluar sendiri. Aku selalu keluar bersama geng-ku. Nama gengku Ijo Lumut singkatan dari Jomblo-jomblo Imut. Anggotanya lima orang dan tempat tongkrong kami di depan kelas di bawah pohon mangga. Kami lantas keluar kelas bersama dan menuju ke tempat tongkrong kami.

Karena sudah penuh kami lantas mencari tempat tongkrong lain di dekat kantin.

Ada apa sih kok semua sudah pada keluar,” tanya Alisa, salah seorang anggota gengku membuka percakapan.

“Emm, tadi waktu berangkat sekolah, aku lihat di jalan raya sebelah barat sudah banyak orang berkerumun,” tutur Regina, seorang anggota gengku dari desa Jatirejo.

Emang ada apa?”

“La, itu yang nggak aku tahu, Vi”

“Pom bensin milik pertamina bocor!” teriak seorang anak, tapi aku tak tahu pasti siapa itu.

“Hah, pom bensin?” Kami saling memandang. Bengong.

Tak lama kemudian bel panjang dibunyikan tandanya pulang sekolah. Kami senang sekali pulang lebih awal tapi kami tak tahu, kenapa?

Kawan-kawan segengku lantas ke kelas mengambil tas dan lantas ke tempat parkir sepeda. Regina membuka pembicaraan.

“Kamu tidak mau lihat pom bensin?” Kata Regina, anak-anak banyak yang mau ke sana!”

“Em, aku tanya teman-teman sedesaku dulu. Kalau mereka mau aku ke sana. Kamu duluan aja deh kalau buru-buru.”

“Ya udah, aku duluan ya,” kata Regina sambil melambaikan tangan.

Aku menunggu teman-temanku di tempat parker sambil memikirkan darimana asal bau busuk ini. Tak lama kemudian mereka datang.

“Mau liat pom pertamina, nggak?” Tanya seorang kawanku.

“Tanya yang lain, mau nggak?” Jawabku.

Semua serempak mengiyakan lantas kami mengayuh sepeda masing-masing. Belum sampai pom bensin, di ujung desa Renokenongo tak jauh dari jalan tol kami melihat banyak orang berkerumun.

Dari situ bau busuk makin kuat dan kami baru tau di situlah asal bau itu dari sebuah semburan lumpur besar. [end]

Awal Maret di Porong.

Bersambung.

Asal Bau Itu
Oleh Zahroh

Geger antara Pak Suryawan dan murid-murid yang terlambat sekolah adalah ritual pembuka sekolahku. Karena hadiah khususnya, macam push up, loncat-jongkok, lari-lari keliling lapangan. Teman-teman sekolahku menamai guru biologi ini sebagai the killer teacher.

Saya selalu datang ke sekolah lebih awal agar tidak berhadapan dengan Pak Surya. Baru melihat Pak Surya saja saya sudah keder apalagi kalau dapat sarapan pagi dari Pak Surya. Amit-amit.

Pagi itu, akhir Mei 2006, di depan sekolah sudah banyak anak-anak ramai dan ada Pak Surya pula. Aku sudah takut karena mengira sudah terlambat sekolah. Segera aku percepat kayuhan sepedaku di pojok parkir sekolah.

Di tempat parkir, aku bertemu Nia, teman sekelasku. Setelah basa-basi sebentar aku tanya dia.

“Kamu telat juga? Banyak ya yang telat ya hari ini?”

Nggak kok, kan belum jam masuk?” Jawab Nia.

Karena aku takut sama Pak Surya aku jadi aku tak sempat melihat jam tangan dan memang benar belum lagi jam masuk sekolahku. Aku lantas mengalihkan pembicaraan, “lho kok ramai sekali anak-anak di depan sekolah. Emang ada apa?” Aku mendekati Nia.

“Kamu belum ta? Ada semburan Lumpur di desa ini,” mukanya meyakinkanku.

”Apa semburan Lumpur?” Aku sempat tak percaya apa yang telah Nia ucapkan padaku.

“Iya, di sebelah barat sekolah kita ada pabrik gas PT Lapindo Brantas Inc,” jelas Nia, “ada yang bilang semburan itu karena kelalaian pabrik dan ada pula yang bilang akibat pergeseran tanah akibat gempa Jogja.” Kami mengobrol sambil berjalan menuju ke kelas. Aku lega karena tak harus berhadapan dengan Pak Surya.

“Emm, gitu ya ceritanya. Wah aku ketinggalan nih ceritanya!”

“Masak kamu nggak mencium bau yang nggak enak kayak gini sich?”

“Ya sih, tapi nggak tahu bau ini berasal dari mana. Emang kenapa?”

“Ih. ya bau ini bau semburan Lumpur itu tau!” Nia jengkel melihatku karena aku dari tadi tanya melulu.

Tapi mungkin memang seluruh keluarga besar sekolahku telah banyak yang mengetahui hal itu. Mungkin aku salah satu orang yang ketinggalan berita itu. Mulai saat itu pelajaran telah ditiadakan siswa-siswi mulai banyak yang keluar masuk kelas. Mereka tampaknya senang sekali.

Seperti burung yang telah lama dikurung dalam sangkar kemudian dilepaskan begitu saja. Bebas dengan senangnya. Layaknya mereka saat itu. Sebab tidak pusing memikirkan pelajaran. Tapi hanya untuk saat itu saja. Mungkin guru-guruku juga tengah membicarakan hal itu, “Semburan Lumpur.“

Aku masih punya banyak pertanyaan soal semburan lumpur. Penjelasan Nia kalau semburan itu di sebelah barat sekolahku belum cukup bagiku. Aku tak tahu kalau ada pabrik gas di tempat itu. Setahuku pabrik gas di tempatku cuma satu di desa Permisan. Aku baru tahu ada pabrik gas di Renokenongo bernama Lapindo Brantas Inc.

Obrolan ini menjadi tema pagi itu di sekolah. Semua orang membicarakannya. Hingga suara. Bel panjang ting, ting, ting. Sekolah dipulangkan lebih awal hari itu. Aku penasaran dan ingin segera melihat lumpur yang dibicarakan semua orang itu.

Bersama kawan-kawan sedesaku aku mengayuh sepeda merahku bersama teman-teman menuju semburan lumpur. Di ujung Renokenongo, Lumpur telah meluber ke jalan raya. Jalan yang menghubungkan Malang-Surabaya itu panas dan berdebu dan makin berdebu lagi karena lalu-lalang truk-truk yang membawa beban berat. Dan tak hanya jalan raya saja yang sudah digenangi lumpur tapi areal persawahan pun juga sudah sebagian ada yang terkena luberan Lumpur.

“Aduh, kok bisa begini ya?” Keluhku pada teman-temanku.

“Wajah orang-orang terlihat resah melihat semburan itu kasihan mereka. Ya, mudah-mudahan saja semburan Lumpur ini bisa cepat dihentikan ya,” jawab kawanku.

“Amin-amin,” seru Rida pada kami.[end]

Bersambung.

Aku Juga Mau Disyuting

Oleh: Hanum

Nafasku tersengal seiring dengan langkah kaki yang kupacu. Pak Sur, guru paling galak di SMP 2 Porong, berdiri di ujung koridor membuat langkahku gentar. Sapaanku yang kupaksakan dibalas dengan anggukan muka masam.

Setelah melewatinya dan hampir sampai di pintu kelas kurapikan jilbabku yang berantakan. Aku terlambat lagi dan aku berusaha tidak mengulanginya tapi percuma aku tetep aku dengan kebiasaan burukku.

Sekolahku di desa Renokenongo. Aku menyukai sekolah ini karena banyak pohon besarnya dan letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di Perumahan Tanggulangin Sejahtera. Karena letaknya di dekat areal persawahan Renokenongo orang sering meledeknya dengan sekolah mewah alias mepet sawah.

Aku juga suka tinggal di perumahan tempatku tinggal karena akrab suasanya, tetangga yang akrab. Namaku Hanum Anggraini Azkawati. Para tetangga, teman sekolah dan keluargaku biasa memanggilku Hanum.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sebentar lagi akan jadi empat bersaudara karena sekarang ibuku sedang hamil tua. Di sekolah aku dikenal “jam karet.” Molor terus, tak pernah on time.

“ Hanum, kamu telat lagi ya?” Tanya Risa padaku. Risa adalah sahabatku, kita berdua sebangku. Rumah Risa di Desa Kedungbendo tak jauh dari tempat tinggalku.

“Hehe, iya aku telat. Habis tadi rantai sepedanya lepas. Nih tanganku banyak oli,” aku menunjukkan tanganku.

Selain Risa, ada juga yang bernama Chintya dan Tika. Mereka berdua teman akrabku. Kami selalu bersama. Aku bahagia sekali sekolah di sini. Gurunya unik, teman-temanku juga baik. Meskipun di sekolah aku bukan golongan anak populer. Karena aku pendiam, sangat pendiam. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja. Nggak ada aku, tidak ada pengaruhnya. Tapi aku senang di SMPN 2 Porong. Aku sekelas lagi dengan temanku di Sekolah Dasar (SD) dulu. Iya, apalagi ada Galang. Aku beruntung sekelas lagi dengannya.

“Uffh,” Teriknya mentari membuatku ingin lekas pulang. Apalagi teringat kata-kata Wachidaini tadi pagi. Bahwa tadi ada gas yang bocor tak jauh dari sekolahku. Kata teman-teman baunya menyengat, bahkan banyak yang pingsan. Tapi aku sama sekali tak mencium bau apa-apa.Wah, sepertinya hidungku perlu di periksakan ke dokter spesialis hidung.

Aku tak sabar pulang, terlebih bertemu si cantik Fahma. Adik baruku yang lahir empat hari yang lalu, tepatnya 25 Mei 2006. Inginku ciumi pipinya yang tembem itu.

“Uffh, sampai juga aku di rumah, eh ada Tante,” Aku tersenyum pada tetanggaku yang menjenguk adikku. “Mbak, katanya tadi di dekat sekolah sampeyan ada gas yang bocor ya?” Tanya tetanggaku. “Mm, iya sih, tapi ndak tau apanya yang bikin bocor. Pokonya hari ini sekolah pulang cepet aja tante. Soalnya banyak yang pingsan.”

Esoknya, pelajaran di sekolah benar-benar tidak efektif. Bayangkan saja, guru dan muridnya melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menutup mulut dan hidung dengan masker. Mirip sekali dengan sekolah ninja.

“Sudah anak-anak, kita libur dulu saja, pulang dulu anak-anak,”guruku berteriak panik. Jelas saja, karena jumlah anak pingsan makin banyak saja. Yang muntah malah tidak terhitung. Aku hanya mengikuti saja perintah guru, pulang ya pulang, libur ya libur.

Tak terasa sudah beberapa hari aku dan teman-temanku tidak masuk sekolah. Aduh bingung sekali aku. Aku iri dengan anak tetanggaku yang setiap pagi selalu berangkat sekolah. Akhirnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Sur. Pak Sur terlihat bingung. “Tunggu informasi selanjutnya!” Ujar Beliau, aku dan teman-temankupun kecewa. Sampai akhirnya ada kabar bahwa SMPN 2 Porong dipindah ke SDN 1 dan 2 Renokenongo.

Hmm, jaraknya lumayan dekat dengan SMPN 2 Porong yang terlihat sudah ditanggul.

Teman-temanku banyak yang pindah. Rere, Risky dan banyak lagi. Kenapa kalian pindah meninggalkan kenangan indah kita?

Sebenarnya ada apa ini? Aku bertanya dalam hati. Mengapa hanya karena gas bocor lalu menjadi luapan lupur yang meluber kemana-mana? Rumah Risa di Desa Kedungbendo sudah digenangi lumpur. Lumpur itu panas sekali. Sekolah SD-ku juga hilang ditelan lumpur.

Lingkungan rumahku mulai tak aman. Air di rumahku mulai keruh. Fahma kecilku juga terkena dampaknya. Kulitnya kemerah-merahan. Sempat aku sekeluarga menginap di rumah Bude, agar sakit kulit Fahma hilang. Dan benar, setelah di rumah Budhe, kulit Fahma kembali seperti semula.

Aku semakin bingung, karena keadaan semakin parah. Warga Perum TAS yang tadinya tentram dan damai kini mulai resah.

Waraga Perum TAS mulai berdemo. Termasuk Ayahku. Mereka berpikir realistis, jika Desa Kedungbendo yang jaraknya lumayan jauh dengan Porong saja terkena dampak lumpur. Bagaimana dengan Perum TAS yang jaraknya lumayan dekat dengan Kedungbendo? Meski sudah ditanggul berkali-kali, tetap saja lumpur tetap mengalir.

“Hanum, sampai kapan ya kita begini terus?” Tanya Risa padaku.

“Wah aku sendiri nggak tahu tuh! Gimana kabarmu? Kamu sekarang tinggal di mana?”

“Aku? Aku sekarang di pengungsian.”

“Terus gimana sekarang?”

“Waduh, jangan tanya gitu Num. Di pengungsian itu nggak enak sama sekali. Airnya keruh, baunya kayak kotoran manusia. Mandi juga harus antre!”

“Wah, masak sih? Jangan berlebihan deh!”

“Serius Num! Malahan kalau makan nasi bungkusnya ada yang berulat. Iih, mau nggak kayak gitu?”

“Stop! Stop! Jangan lanjutin, aku nanti mutah di sini.”

“Woi, ayo cepetan masuk. Kita mau masuk! Ada wartawan,” teriak Joko, salah satu temanku.

“Idih, jangan norak deh Jok, kayak nggak pernah lihat wartawan ngeliput aja,” Aku menyindir Joko, Padahal aku sendiri juga belum pernah melihat wartawan meliput secara langsung.

Benar saja, beberapa menit kemudian ada dua wartawan datang, wartawan itu dari SCTV, satu saluran TV swasta di Indonesia .

Beberapa detik, suasana kelas langsung sunyi. Aku menunjukkan raut muka paling manis sedunia. Pak Isa guru matematikaku yang biasanya bergurau, kini terlihat formil.

“Cut, cut,” teriak Pak Isa pada wartawan. Pak Isa ingin diulang lagi. Beliau keluar dari kelas, dan kembali masuk dengan langkahnya yang tegap plus senyuman yang berwibawa. “Huu,” Gumamku dalam hati. Cepetan, aku juga mau disyuting.[end]

Bersambung.