30 March 2008

Aku Juga Mau Disyuting

Oleh: Hanum

Nafasku tersengal seiring dengan langkah kaki yang kupacu. Pak Sur, guru paling galak di SMP 2 Porong, berdiri di ujung koridor membuat langkahku gentar. Sapaanku yang kupaksakan dibalas dengan anggukan muka masam.

Setelah melewatinya dan hampir sampai di pintu kelas kurapikan jilbabku yang berantakan. Aku terlambat lagi dan aku berusaha tidak mengulanginya tapi percuma aku tetep aku dengan kebiasaan burukku.

Sekolahku di desa Renokenongo. Aku menyukai sekolah ini karena banyak pohon besarnya dan letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di Perumahan Tanggulangin Sejahtera. Karena letaknya di dekat areal persawahan Renokenongo orang sering meledeknya dengan sekolah mewah alias mepet sawah.

Aku juga suka tinggal di perumahan tempatku tinggal karena akrab suasanya, tetangga yang akrab. Namaku Hanum Anggraini Azkawati. Para tetangga, teman sekolah dan keluargaku biasa memanggilku Hanum.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sebentar lagi akan jadi empat bersaudara karena sekarang ibuku sedang hamil tua. Di sekolah aku dikenal “jam karet.” Molor terus, tak pernah on time.

“ Hanum, kamu telat lagi ya?” Tanya Risa padaku. Risa adalah sahabatku, kita berdua sebangku. Rumah Risa di Desa Kedungbendo tak jauh dari tempat tinggalku.

“Hehe, iya aku telat. Habis tadi rantai sepedanya lepas. Nih tanganku banyak oli,” aku menunjukkan tanganku.

Selain Risa, ada juga yang bernama Chintya dan Tika. Mereka berdua teman akrabku. Kami selalu bersama. Aku bahagia sekali sekolah di sini. Gurunya unik, teman-temanku juga baik. Meskipun di sekolah aku bukan golongan anak populer. Karena aku pendiam, sangat pendiam. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja. Nggak ada aku, tidak ada pengaruhnya. Tapi aku senang di SMPN 2 Porong. Aku sekelas lagi dengan temanku di Sekolah Dasar (SD) dulu. Iya, apalagi ada Galang. Aku beruntung sekelas lagi dengannya.

“Uffh,” Teriknya mentari membuatku ingin lekas pulang. Apalagi teringat kata-kata Wachidaini tadi pagi. Bahwa tadi ada gas yang bocor tak jauh dari sekolahku. Kata teman-teman baunya menyengat, bahkan banyak yang pingsan. Tapi aku sama sekali tak mencium bau apa-apa.Wah, sepertinya hidungku perlu di periksakan ke dokter spesialis hidung.

Aku tak sabar pulang, terlebih bertemu si cantik Fahma. Adik baruku yang lahir empat hari yang lalu, tepatnya 25 Mei 2006. Inginku ciumi pipinya yang tembem itu.

“Uffh, sampai juga aku di rumah, eh ada Tante,” Aku tersenyum pada tetanggaku yang menjenguk adikku. “Mbak, katanya tadi di dekat sekolah sampeyan ada gas yang bocor ya?” Tanya tetanggaku. “Mm, iya sih, tapi ndak tau apanya yang bikin bocor. Pokonya hari ini sekolah pulang cepet aja tante. Soalnya banyak yang pingsan.”

Esoknya, pelajaran di sekolah benar-benar tidak efektif. Bayangkan saja, guru dan muridnya melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menutup mulut dan hidung dengan masker. Mirip sekali dengan sekolah ninja.

“Sudah anak-anak, kita libur dulu saja, pulang dulu anak-anak,”guruku berteriak panik. Jelas saja, karena jumlah anak pingsan makin banyak saja. Yang muntah malah tidak terhitung. Aku hanya mengikuti saja perintah guru, pulang ya pulang, libur ya libur.

Tak terasa sudah beberapa hari aku dan teman-temanku tidak masuk sekolah. Aduh bingung sekali aku. Aku iri dengan anak tetanggaku yang setiap pagi selalu berangkat sekolah. Akhirnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Sur. Pak Sur terlihat bingung. “Tunggu informasi selanjutnya!” Ujar Beliau, aku dan teman-temankupun kecewa. Sampai akhirnya ada kabar bahwa SMPN 2 Porong dipindah ke SDN 1 dan 2 Renokenongo.

Hmm, jaraknya lumayan dekat dengan SMPN 2 Porong yang terlihat sudah ditanggul.

Teman-temanku banyak yang pindah. Rere, Risky dan banyak lagi. Kenapa kalian pindah meninggalkan kenangan indah kita?

Sebenarnya ada apa ini? Aku bertanya dalam hati. Mengapa hanya karena gas bocor lalu menjadi luapan lupur yang meluber kemana-mana? Rumah Risa di Desa Kedungbendo sudah digenangi lumpur. Lumpur itu panas sekali. Sekolah SD-ku juga hilang ditelan lumpur.

Lingkungan rumahku mulai tak aman. Air di rumahku mulai keruh. Fahma kecilku juga terkena dampaknya. Kulitnya kemerah-merahan. Sempat aku sekeluarga menginap di rumah Bude, agar sakit kulit Fahma hilang. Dan benar, setelah di rumah Budhe, kulit Fahma kembali seperti semula.

Aku semakin bingung, karena keadaan semakin parah. Warga Perum TAS yang tadinya tentram dan damai kini mulai resah.

Waraga Perum TAS mulai berdemo. Termasuk Ayahku. Mereka berpikir realistis, jika Desa Kedungbendo yang jaraknya lumayan jauh dengan Porong saja terkena dampak lumpur. Bagaimana dengan Perum TAS yang jaraknya lumayan dekat dengan Kedungbendo? Meski sudah ditanggul berkali-kali, tetap saja lumpur tetap mengalir.

“Hanum, sampai kapan ya kita begini terus?” Tanya Risa padaku.

“Wah aku sendiri nggak tahu tuh! Gimana kabarmu? Kamu sekarang tinggal di mana?”

“Aku? Aku sekarang di pengungsian.”

“Terus gimana sekarang?”

“Waduh, jangan tanya gitu Num. Di pengungsian itu nggak enak sama sekali. Airnya keruh, baunya kayak kotoran manusia. Mandi juga harus antre!”

“Wah, masak sih? Jangan berlebihan deh!”

“Serius Num! Malahan kalau makan nasi bungkusnya ada yang berulat. Iih, mau nggak kayak gitu?”

“Stop! Stop! Jangan lanjutin, aku nanti mutah di sini.”

“Woi, ayo cepetan masuk. Kita mau masuk! Ada wartawan,” teriak Joko, salah satu temanku.

“Idih, jangan norak deh Jok, kayak nggak pernah lihat wartawan ngeliput aja,” Aku menyindir Joko, Padahal aku sendiri juga belum pernah melihat wartawan meliput secara langsung.

Benar saja, beberapa menit kemudian ada dua wartawan datang, wartawan itu dari SCTV, satu saluran TV swasta di Indonesia .

Beberapa detik, suasana kelas langsung sunyi. Aku menunjukkan raut muka paling manis sedunia. Pak Isa guru matematikaku yang biasanya bergurau, kini terlihat formil.

“Cut, cut,” teriak Pak Isa pada wartawan. Pak Isa ingin diulang lagi. Beliau keluar dari kelas, dan kembali masuk dengan langkahnya yang tegap plus senyuman yang berwibawa. “Huu,” Gumamku dalam hati. Cepetan, aku juga mau disyuting.[end]

Bersambung.

0 comments: