7 October 2005

Depan Belakang Oke

Oleh Imam Shofwan

LAIN sekali suasana Masjid al-Muslimun pada malam 6 September itu. Biasanya, jamaah shalat isya di masjid Gang Jeruk, Utan Kayu, Jakarta Timur tersebut hanya warga sekitar. Tapi malam itu, yang jadi imam shalat isya, tak tanggung-tanggung, adalah Komandan Rayon Militer Matraman: Kapten (Inf) Soedar.

Makmumnya pun istimewa, ada camat Matraman Khairil Astrapraja, Kepala Kepolisian Sektor Matraman Soelarno, serta seorang Kepala Badan Kesatuan Bangsa (Kesbang) Jakarta Timur, alamsyah. Tampak juga sejumlah orang dari Forum Umat Islam Utan Kayu (FUI-UK).

Kedatangan para pejabat kecamatan Matraman di Masjid al-Muslimun ini tentu bukan tanpa alasan. Mereka hadir di masjid itu menyusul tuntutam dari FUI-UK yang mengatasnamakan warga Utan Kayu yang “terganggu” dan menuntut Jaringan Islam Liberal (JIL) dan Komunitas Utan Kayu (KUK) –yang terletak di Jalan Raya Utan Kayu 68H, sekira 300 meter dari masjid tersebut—supaya dibubarkan dan hengkang dari wilayah Utan Kayu.

Tepat pukul 19.45 jama’ah itu selesai menunaikan shalat. Maka dimulailah acara dialog antara warga sekitar Utan Kayu, pihak KUK, dan pejabat-pejabat tersebut.

Imam masjid al-Muslimun, yang memperkenalkan diri bernama Imam Pambudi, memandu acara. Setelah basa basi sebentar, Pambudi mempersilahkan perwakilan dari Radio 68H, Camat, Kesbang, Kapolsek dan Danramil untuk memberikan sambutan secara bergantian.

Banyak hal disampaikan. Dari soal pentingnya saling menghormati sampai perlunya kerukunan dan perdamaian antarwarga. Hal ini terkait dengan aksi sekitar 20 orang massa FUI-UK yang menyampaikan keberatan dengan keberadaan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang merupakan bagian dari KUK.

Malam itu, FUI-UK, diwakili oleh Syafrudin Tanjung, juga berkesempatan mengajukan pernyataan. Tanjung menuntut supaya JIL hengkang dari Utan Kayu.

“Kita tidak mau diskusi dengan JIL, kita tetap mendesak Muspika untuk mengusir JIL dari Utan Kayu,” tegas Tanjung.

Tanjung merujuk pada fatwa MUI yang dikeluarkan pada Juli lalu. Dalam fatwa itu, MUI mengharamkan paham liberalisme dan pluralisme. Sedangkan JIL, yang mengusung Islam yang ramah dan damai dengan ide kebebasan berfikir dalam beragama, dan pentingnya toleransi antarumat beragama, dinilai menganut paham liberalisme dan pluralisme yang diharamkan itu.

Aksi menuntut hengkagnya JIL oleh FUI-UK yang diwakili Tanjung bukanlah yang pertama. Sebelumnya, ratusan massa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sempat hendak meluruk kantor JIL.

Saat itu, 7 Agustus, ratusan massa tersebut berkumpul lebih dahulu di Masjid al-Azhar seusai shalat Jum’at.

Mereka lalu menggelar orasi yang intinya mendukung fatwa MUI, dan mengutuk Ulil Absar-Abdalla, pendiri JIL, sebagai orang yang merusak agama Islam dengan ide-ide liberalisme dan pluralisme.

Mereka juga menyatakan Ulil darahnya halal alias boleh dibunuh. Massa yang telah terbakar emosinya oleh orasi-orasi ini melanjutkan acara menuju Utan Kayu. Mereka hendak menutup paksa JIL.

Sementara itu Ulil, yang sebelumnya sudah mengetahui rencana penutupan JIL tersebut, hari itu juga mengundang teman-temannya untuk berkumpul di Jl. Utan Kayu 68H.

Maka sejak pagi, sejumlah tokoh seperti Indra J Piliang, Dawam Raharjo, Syafii Anwar, Musdah Mulia, Hamid Basyaib sudah berkumpul di kedai Tempo, kantin di Komunitas Utan Kayu.

Sejumlah organisasi juga hadir memberikan dukungan. Ada perwakilah dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pusat Pengembangan Sumberdaya Manusia Universitas Islam Negeri (PPSDM UIN) Jakarta, Forum Mahasiswa Ciputat, Lajnah Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam NU), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan sejumlah organisasi lainnya.

Di luar kedai, di sepanjang Jalan Raya Utan Kayu, massa semakin banyak. Ratusan polisi dan puluhan Bantuan Serba Guna (Banser) berjaga-jaga. Sejumlah wartawan dalam dan luar negeri pun sudah berada di sana sejak pagi.

Di saat yang sama, massa FPI yang bergerak dari masjid al-Azhar telah sampai di kawasan Matraman, sekitar tiga kilometer dari Jl. Utan Kayu Raya.

Mereka juga mengetahui di JIL telah berkumpul banyak pendukung, apalagi banyak wartawan yang berkumpul di sana. Dan entah atas pertimbangan apa, akhirnya ratusan massa itu memutuskan membatalkan niat mereka semula untuk menutup JIL.

Pembatalan itu diinformasikan langsung oleh Radio 68H yang didengarkan orang-orang yang berkumpul di Kedai Tempo. Pembatalan tersebut membuat mereka lega.

Namun selesaikan teror terhadap JIL? Ternyata tidak. Para aktivis JIL mendapat beragam teror lewat telepon dan pesan pendek, SMS.

DAN di luar pengetahuan JIL, pada 25 Agustus, ada “tamu tak diundang” berjumlah sekitar 25 orang di masjid al-Muslimun –yang letaknya tak jauh dari JIL. Mereka menginap di sana tiga hari. Tamu-tamu itu mengenakan baju koko dan celana congkrang, sebagian mengenakan peci kain.

Pada warga Utan Kayu mereka memperkenalkan diri sebagai jamaah dari Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka ingin memakmurkan masjid dan mengingatkan warga untuk memakmurkan masjid.

“Kita datang ke sini karena masjid ini sepi dan kita ingin memakmurkannya,” jawab seorang dari mereka ketika ditanya warga Utan Kayu.

Mereka mengadakan shalat berjamaah, diskusi dan mengunjungi warga sekitar masjid. Tak hanya itu, mereka juga membentuk Forum Umat Islam Utan Kayu (FUI-UK).

“Sebagian dari mereka ikut dalam pembentukan FUI Utan Kayu,” tutur Imam Pambudi, imam Masjid al-Muslimun. Forum inilah yang kemudian mengatasnamakan warga Utan Kayu dan menuntut pembubaran JIL.

FUI-UK, menurut Pambudi, dibentuk berdasarkan usulan dari beberapa orang perwakilan dari masjid-masjid di sekitar Utan Kayu. Mereka meminta Masjid al-Muslimun untuk menjadi pusat FUI karena lokasinya berdekatan dengan 68H.

Pambudi juga tahu tentang fatwa MUI dari orang-orang tersebut, “orang yang dari jauh aja pada ke sini, masak kita diem aja.”

Kebanyakan warga sekitar Masjid al-Muslimun sendiri sebenarnya tak banyak tahu soal FUI-UK. Mereka juga tidak dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan FUI-UK. Dari mendemo JIL sampai dialog dengan camat mereka tidak dilibatkan.

“Saya tahu kalau kemarin ada rame-rame sampai masuk teve segala, tapi saya enggak diundang jadi saya tidak hadir,” ujar Siti Halimah, pemimpin sebuah majelis taklim perempuan yang tinggal tak jauh dari al-Muslimun.

Bahkan pemimpin FUI-UK sendiri Syafruddin Tanjung, status kewargaannya di Utan Kayu agak kabur. Beberapa warga yang saya tanyai ada yang menjawab dia tinggal di Gang Mangga, ada yang menjawab tinggal di Gang Sirsak –kedua gang ini terletak di belakang Masjid al-Muslimun.

“Dulu dia pernah buka bengkel di Jalan Sirsak, sekarang kayaknya udah pindah,” tutur seorang warga.

Semenjak dibentuk, FUI-UK mengadakan pengajian di masjid ini. Sebagian warga mengikuti acara tersebut. “Saya ikut karena ramai dan ingin tahu ada apa di masjid,” ujar Aisyah, seorang pimpinan majelis taklim yang sejak kecil tinggal di Utan Kayu.

Ibu Aisyah mengaku tidak mengenal orang-orang yang datang pada pengajian tersebut. “Hanya sebagian kecil warga sini. Saya bahkan tidak kenal dengan ustad yang memberi ceramah,” tuturnya.

MESKI tak banyak dikenal warga, FUI-UK cukup memiliki pengaruh dalam menyebarkan fatwa MUI dan posisi JIL. Sabtu, 3 September, usai pengajian, Imam Pambudi dan beberapa anggota FUI berkumpul untuk membahas keberadaan JIL.

Malam itu mereka sepakat untuk menyampaikan aspirasi warga kepada Camat Matraman. “Setelah kita kontak, ternyata Pak Camat bisanya hari Selasa,” tutur Pambudi.

Pengajian saja tentu tidak cukup. Minggu 4 September, sehari setelah pengajian itu, pada saat shalat magrib berjamaah, di atas tempat imam terbentang spanduk besar bertuliskan “Mendukung Satwa MUI untuk Membasmi JIL dan Antek-anteknya”. Lalu di papan pengumuman masjid, terpasanglah sejumlah salinan berita yang mengejam JIL dan mendukung fatwa MUI.

Dan malam itu juga, sekitar pukul tujuh, Syafruddin Tanjung bersama Imam Pambudi mendatangi undangan dari Radio 68H untuk bertemu dengan camat Matraman.

Saat itulah mereka menyampaikan tuntutan agar JIL pindah dari Utan Kayu. Syafruddin mengaku membawa aspirasi masjid-masjid di sekitar Utan Kayu yang tidak menghendaki keberadaan JIL.

“Saya hanya menyampaikan aspirasi, dan kami tidak ingin mendengar klarifikasi dari JIL, warga di sini ingin JIL pindah dari sini,” tutur Tanjung seperti dilansir sebuah media.

Sementara itu, pada saat yang sama, sekitar 30 orang dari FUI-UK mendatangi kantor JIL. Mereka membawa spanduk yang sebelumnya terpasang di atas tempat imam Masjid al-Muslimun. Mereka juga membawa spanduk lain bertuliskan, “JIL Haram, Darah Ulil Halal”.

Tuntutan mereka tetap: JIL pindah dari Utan Kayu.

Rupanya pertemuan malam itu tidak membuahkan kesepakatan apa pun. Massa FUI-UK merasa belum puas sebelum JIL hengkang dari Utan Kayu. Akhirnya mereka meminta diadakan pertemuan lanjutan antara warga Utan Kayu dan fihak kecamatan.

Dan begitulah, kemudian berlangsung pertemuan 6 September di Masjid al-Muslimun itu. Imam Pambudi memimpin acara. Setelah Camat, Kapolsek, Danramil serta perwakilan dari Radio 68H menyampaikan kata sambutan, dibukalah sesi tanya jawab. Sesi ini dipimpin oleh Syafruddin Tanjung, pimpinan FUI-UK.

Situasi memanas. Dialog menjadi tegang ketika seorang warga menyatakan interupsi bahwa dia sebagai warga merasa tidak keberatan dengan keberadaan JIL.

“Kita harus menghormati kebebasan berfikir, kita harus menghormati JIL,” tutur pemuda itu dan disambut dengan ancaman dari beberapa orang FUI-UK di luar ruangan masjid. “Seret keluar dia, bawa keluar, kita selesaikan dia.”

Dialog pun dilanjutkan setelah warga tadi diamankan dari massa yang marah. Dan ternyata, dari sepuluh penanya, tiga orang di antaranya tidak keberatan dengan keberadaan JIL.

Jika di dalam masjid itu, FUI-UK berusaha meyakinkan warga bahwa JIL harus diusir. Di luar masjid, warga tenang-tenang saja.

Sekitar seratus meter dari masjid beberapa orang berkumpul di sebuah warung mi instan. Mereka tidak ambil pusing dengan apa yang terjadi di Masjid al-Muslimun. Sebagian mereka serius mempelototi bidak catur dan sebagian lainnya sedang mengobrol santai tentang acara memancing mereka esok hari.

Di sela-sela pembicaraan, mereka juga membahas JIL dengan santai. “Orang JIL kan udah lama, kenapa baru ribut sekarang,” tutur seorang di antara mereka. Kawannya langsung menimpali, “kalau JIL (baca: GIL, sebuah grup musik barat) yang nyanyi You Are The The Girl, gua tau, dari dulu gua tau.”

Begitulah warga. JIL sendiri sebenarnya juga merupakan lembaga hukum yang sah. Pada 15 September, saat konferensi pers di kedai Tempo, Muspika Matraman secara tegas menyatakan hal tersebut. “Tidak ada alasan untuk mengusir JIL dari Utan Kayu.”[end]

Naskah ini pernah dimuat di rubrik peristiwa majalah Syir’ah edisi Oktober 2005. Saat menulis tulisan ini saya kebetulan tinggal tak jauh dari Masjid al-Muslimun.

2 October 2005

Mesra dengan Tuhan Itu Privasi

Oleh Imam Shofwan

Anggur merah, yang sering memabukkan diri
Kuanggap belum seberapa dahsyatnya…



Bait lagu karya Meggy Z ini dinyanyikan salah satu peserta Akademi Fantasi Indonesia (AFI). Trie Utami Sari yang sejak awal acara duduk manis di bangku juri langsung berdiri, bergoyang bersama bersama dua orang juri lainnya.

“Ade…Ade…Ade…,” riuh yel-yel dan tepuk tangan penontong mengiringi berakhirnya lagu. Giliran Iie –sapaan akrab Trie Utami— memberikan komentar, “penampilan kamu malam ini bagus.”

“Boleh diulang refrein lagu tadi,” lanjut ‘si bola bekel’. Sejenak Adi mengambil nafas. Lalu, “teganya teganya teganya teganya teganya… oh pada diriku….”

Iie pun tersenyum.

Sudah sejak setahun lalu Iie menjadi juri AFI. Wajahnya yang selalu terbalut tutup kepala khas dapat disaksikan seminggu sekali di layar Indosiar, sebuah stasiun televisi swasta nasional. Namun malam itu dia tidak mengenakan tutup kepala seperti biasanya. “Saya tidak lagi mengenakan ‘topi’, ujar adik musisi Purwacaraka saat ngobrol dengan saya usai acara pencarian bakat tersebut.

Penyanyi yang juga hobi melukis ini terlihat tanpa tutup kepala di hadapan publik untuk pertama kalinya di saat peluncuran album Kedamaian di Hard Rock CafĂ©, Jakarta, akhir April lalu. Sebuah harian nasional menulis, saat itu Iie mengenakan wig coklat gelap dan mengenakan busana dan aksesori serba biru. “Saya merasa terlahir kembali,” begitu jawaban penyanyi berbadan mungil ini saat ditanya tentang penampilan barunya.

Teman curhat Iie sewaktu ingin melepas Jilbab adalah Nana, sahabat Iie sejak Sekolah Menengah Pertama. Nana sekarang dengan setia selalu menemani Iie sebagai asisten pribadi.

Ketika itu, Maret 2005m Iie meminta tanggapan Nana, “Gua mau buka ‘topi’ nih,” Iie menanti jawaban daro karibnya. Dan Nana, setelah berfikir sejenak, balik bertanya, “Lu nggak takut sama publik?”

Jawaban spontan Nana tersebut ternyata dianggap sebagai gamparan telak bagi Iie. “Jangan-jangan gue make ‘topi’ gara-gara publik,” batin Iie ketika itu.

Ia mencoba flashback ke tahun 1999, ketika dia pertama kali memutuskan mengenakan ‘topi’ itu –yang kemudian oleh pedagang busana muslim di Pasar Tanah Abang dianggap sebagai jilbab gaya Trie Utami, yang merupakan varian dari dua gaya jilbab lain: gaya Marisa Haque dan gaya Ineke Koesherawati. Keduanya adalah pemain sinetron.

“Pake ‘topi’ adalah big deal dalam hidup saya,” kenang putri bungsu pasangan H Soejono Atmotenoyo dan Hj Soejarni Oesoep ini.

Masih segar dalam ingatan Iie saat menunaikan ibadah haji bersama suami tercintanya, Andi Analta Amier. Setahun setelah haji, Iie ingin belajar memanjangkan pakaian, dan diapun menutup kepalanya. “Saya merasa belum memakai jilbab, saya baru belajar memanjangkan pakaian,” tutur perempuan kelahiran Bandung, 8 Januari 1968 ini.

Hal demikian itu berjalan biasa saja, selama tahun-tahun awal dia mengenakan pakaian panjang. Tapi lama kelamaan Iie merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Dia merasakan underestimate, dia merasa lebih baik dan lebih benar dari orang lain. Perasaan itu dianggap wajar pada awalnya tapi semakin hari mengganggu perasaannya.

Sampai suatu ketika, keluhan hatinya diungkapkan pada Nana. Dan dari jawaban Nana Iie menemukan ketidaktulusan niatnya. Ia merasa motivasi memakai pakaian panjang dan ber’topi’ itu karena publik dan untuk menjaga imej. “Itu kan gila. Gua sendiri kan yang nanggung dosanya,” papar Iie. Setelah obrolan dengan Nana Iie lantas lepas “topi”.

Beragam tanggapan tentang penampilan baru Iie ini bermunculan, baik dari keluarga, teman, atau masyarakat. Dan Iie sepenuhnya sadar dengan reaksi pro-kontra dengan penampilan barunya. “Saya tidak peduli apa kata orang, saya memahami alasan mereka,” tutur Iie.

Ada yang melegakan Iie dengan keputusannya ini saat Iie berjumpa dengan Gus Sholah (sapaan akrab Sholahuddin Wahid) di sebuah acara di TVRI, Mei lalu. Usai acara, Iie ngobrol dengan adik mantan presiden RI Abdurrahman Wahid ini.

“Gus, saya telah buka ‘topi’,” Iie membuka percakapan.

“Terserah, kalau kamu merasa nyaman dengan penampilan begitu, ya silahkan,” tanggap Gus Sholah, “Jangankan kamu, istri saya saja kalau mau buka jilbab tidak akan saya larang. Di mata Tuhan, manusia dilihat dari kadar ketaqwaannya bukan jilbabnya.”

Usai obrolan, Iie merenungkan kata-kata Gus Sholah, “Menurut saya, jawaban Gus Sholah menarik, dan membuat orang berfikir,” ujar Iie. “Jadi agama tidak hanya salah dan benar saja.”

Namun tidak semua orang berpendapat seperti Gus Sholah. Banyak orang menganggap Iie tidak konsisten memakai jilbab. Menurut mereka, alasan Iie membuka jilbab karena perceraian dengan Andi Analta Amir. Iie pun tidak sepenuhnya menolak pendapat ini, dengan jujur ia mengatakan kalau motivasinya belajar memanjangkan pakaian adalah untuk suaminya tercinta.

Namun Iie menolak anggapan kalau dia melepaskan ‘topi’ gara-gara perceraiannya. “Kebetulan waktunya hampir beiringan,” tutur mantan vokalis Krakatau ini.

Iie lepas topi pada akhir Maret, sementara perceraiannya berlangsung pada Januari. Di hadapan para wartawan dan pekerja infotainment, di sebuah kafe do kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Trie Utami dan Andi Analta Amier mengumumkan perceraian atas perkawianan yang mereka jalani lebih dari sepuluh tahun.

Sebuah harian di Jakarta menyebutkan penyebab bubarnya perkawinan mereka lantaran poligami. Beberapa bulan sebelumnya Andi telah menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Aisyah, tanpa meminta izin dulu dengan Iie. “Menjelang tahun baru, saya baru dikasih tahu A’la (sebutan Iie untuk mantan suaminya),” kenang Iie.

Iie sepenuhnya memahami perkawinan Andi tersebut terjadi karena dia tidak mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Bahkan, seniman multibakat ini sendiri pernah mengusulkan hal itu pada sang suami. Mengenai izin, Iie menganggap hal itu dilakukan Andi karena tidak ingin menyakiti hatinya.

Ada perbedaan pendapat antara keduanya dalam memandang poligami. Menurut Andi, penerimaan poligami adalah bukti kekuatan iman seseorang, “untuk menerima poligami memang dibutuhkan kekuatan iman yang full dari seseorang, dan ternyata saya belum bisa menguatkan iman istri saya,” kata Andi.

Berbeda dengan Andi, Iie sebagai sebagai muslimah menyadari ada ayat yang membolehkan poligami. Iie mengakui dan meyakininya. Namun menurut Iie, ayat tersebut harus dipahami secara keseluruhan. Bahwa ada persyaratan ketat ketika seorang hendak berpoligami, yaitu adil dalam semua hal. Sikap adil ini menurut Iie sangat berat. Bahkan mustahil untuk bisa dilakukan orang sekarang.

Dalam poligami Iie juga merujuk pada praktik yang pernah dilakukan Rasulullah: Pertama, Rasulullah berpoligami setelah berusia lebih dari 40 tahun, di mana manusia secara emosional sudah mapan. Kedua, motivasinya untuk menyelamatkan, dan yang ketiga, Rasulullah tidak melihat penampilan.

“Rasulullah melakukan poligami karena memang bisa berbuat adil dalam hal apapun. Dan dilakukan pada usia empat puluh tahun dan untuk menyelamatkan para janda tua,” tutur artis yang menyukai kesunyian ini.

Karena tidak ingin membuat suaminya merasa berat dengan syarat tersebut, dengan kebesaran hati Iie meminta cerai pada Andi.

Di mata Iie, kebanyakan praktik poligami sekarang lebih karena nafsu daripada motivasi keagamaan seperti yang dilakukan Rasulullah. “Kebanyakan orang menggunakan alasan agama untuk menyalurkan nafsunya,” tutur pelantun lagu Mungkinkah Terjadi ini.

Keretakan rumah tangga tak membuat Iie larut dengan kesedihan. Justru Iie merasa lebih punya banyak kesempatan untuk terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan. Setidaknya, selama bulan Januari 2005, tiga kegiatan amal untuk korban tsunami Aceh diikutinya.

Bersama Franky Sahilatua, WS Rendra, Jokey S Prayogo dan seniman-seniman ibukota, tanggal 8 Januari Iie menggelar acara “Panggung Kepekaan Seniman,” untuk mengumpulkan dana untuk korban Tsunami. Acara tersebut di gelar di Galeri Nasional Jakarta dan diulang, dengan perubahan tajuk: Satu Duka Satu Bangsa, di Taman Budaya Yogyakarta.

Selain melaui konser Iie juga merilis album untuk menggalang dana buat para korban. Album ini diisi oleh 50 vokalis dari 3 generasi. Judulnya Kita Untuk Mereka yang diambil dari judul lagu karangan Glen Fredly yang dilantunkannya.

“Kegiatan itu adalah sebuah kerja kongkrit. Nggak Cuma ngomong aja,” tutur Iie. Iie tidak menceritakan lebih detil tentang kegiatan sosialnya ini. “Saya tidak akan pernah mau menceritakan kegiatan sosial saya, selama dua puluh tahun saya berkarier tidak pernah saya membuka itu,” tutur Iie.

Baginya, kegiatan-kegiatan tersebut adalah urusan dia dengan Tuhannya. “Privasi itu, bagi saya, bukan hanya urusan rumah tangga, tapi yang lebih privasi lagi yaitu hubungan saya dengan Tuhan saya.”

Begitulah Iie. Dia menganggap hubungan mesra dengan Tuhan tak perlu diketahui orang lain. Dia hanya ingin ikhlas, Iie ingin semuanya dilakukan bukan karena imej ataupun karena publik. “Saya nggak mau fardlu publik ta’ala dan fardlu imej ta’ala.”

7 July 2005

Menjual Kuburan di Layar Kaca

Oleh: Fathuri SR, Imam Shofwan, Ingwuri Handayani, dan Muhammad Aslam

MENJELANG pukul 20.00, di rukan Bauvenville, perbatasan Jakarta Timur-Bekasi. Seorang gadis cantik duduk di sebuah ruangan yang sudah dirubah menjadi tempat ganti kostum. Juru rias terus memoles wajah sang gadis. Pipi, hidung, dagu, kening. Bolak balik.

Setumpuk kertas di tangannya ia baca dengan serius. Tak terganggu dengan polah juru make up di depannya. “Pak, gimana nih, Fina, enggak hafal ayat kursi?”

Tak terdengar jawaban. Hanya pandang mata sebentar dari yang hadir. Orang-orang tetap pada kesibukannya: menyiapkan kamera di pojok ruangan, mengatur lampu, merapikan dekorasi, atau memindah barang-barang.

“Dia kalau ada yang berhubungan dengan baca-baca al-Qur’an di sekolahnya juga sering kabur,” kembali gadis itu berteriak memberi keterangan. Belum juga ada tanggapan. Gadis itu kembali diam, sibuk membaca naskah. Wajahnya masih menjadi sasaran kuas rias.

Orang yang dimaksud gadis itu, Fina, adalah seorang artis teman mainnya. Waktu itu sedang diadakan syuting untuk sinetron Astaghfirullah, Minggu, 12 Juni lalu. Kebetulan saat sang artis cantik bicara jadwal syuting sedang istirahat sehingga tak terlalu dihiraukan kru yang lain.

Astaghfirullah, sinetron ini menjadi satu di antara sinetron-sinetron religius yang kini bak cendawan di musim hujan bertebaran di layar kaca. Bermula dari sinetron Rahasia Ilahi, produksi Kusuma Eka Permata (KEP), yang tayang di bulan Ramadlan lalu. Sinetron yang ceritannya berasal dari majalah Hidayah ini tak dinyana-nyana meraih sukses besar. Imbasnya, ia turut mengangkat TPI menjadi televisi nomor wahid ditonton pemirsa.

Tak berapa lama muncul sekira 36 pengikut gaya; berharap menangguk sukes yang sama. TPI menayangkan Rahasia Ilahi 2 dan 3, Takdir Ilahi, Mereka Ada di Mana-mana, Allah Maha Besar, Jerat Iblis, dan Kehendakmu. SCTV hadir dengan Astaghfirullah, Kuasa Ilahi, Kafir, dan Suratan Takdir. TransTV juga menayangkan empat sinetron serupa dengan judul Taubat, Istighfar, Hidayah, dan Insyaf. Disusul Lativi dengan Azab Ilahi dan Padamu Ya Rab, kemudian Azab Dunia dan Sakaratul Maut di ANTV, terakhir Hanya Tuhan Yang Tahu dan Padamu Ya Rabbi di Indosiar.

Semuanya tayang pada premier time (waktu tayang utama), dari jam 19.00 sampaui 21.30. Makanya tak heran kalau pada satu malam saja bisa menyaksikan tiga sampai lima sinetron jenis ini dalam waktu yang sama.

Terutama pada Malam Jum’at. Pada 23 Juni lalu, misalnya: jam 19.00 TPI menayangkan Mereka Ada Di mana-mana”, berkisah tentang Azab Istri yang Dzalim. Tersebutlah seorang istri yang tidak mau taat dengan suami. Ia membuat suaminya sakit hati. Lebih dari itu ia juga menyeleweng dengan laki-laki lain. Singkat cerita ia terkena HIV dan tak tahu mengapa kepalanya melepuh sehingga wajahnya menjadi menyeramkan. Ia meninggal sengsara seperti orang yang terkena kutukan.

Pada jam yang sama 19.00 ANTV menayangkan cerita Burhan dalam Sakaratul Maut. Ceritanya tentang seorang miskin Burhan yang menggunakan jalan pintas untuk kaya lalu mati tragis karena komplikasi, perutnya membesar dan keluar darah serta busa dari mulutnya.

Sejam kemudian, 20.00, SCTV memutar “Kuburan Penuh Lintah” dalam sinetron “Kuasa Ilahi”. Barangkali dibanding sinetron-sinetron sejenis Kuasa Ilahi tergolong paling unik. Ia menggabungkan teknik-teknik dalam sinetron laga. Musiknya juga khas; saat tokoh-tokohnya dirundung kedukaan musik yang mengiringi adalah musik India.

Rombongan pengantar jenazah menjadi pembuka adegan. Siang itu ada jenazah penguburan jenazah Erni. Tiga penggali kubur sibuk mencangkul. Mereka dikejutkan oleh puluhan lintah yang muncul dari tanah yang mereka cangkul. Ketakutan. Lari.

Beberapa saat kemudian Ustad Jak’far lalu ke kuburan mengecek kebenaran cerita salah seorang penggali. Ia melihat sendiri puluhan lintah. Betapa terkejutnya dia saat keranda dibuka lintah juga ada di tubuh mayit. “Masya’allah, ampuni istri saya ya Allah,” jerit sang suami Bambang. Keadaan istrinya yang aneh diratapinya sebagai siksa Tuhan.

Adegan selanjutnya pertemuan adik ipar korban Aulia dengan Ustad Ja’far pada hari berikutnya. Aulia diperankan oleh artis cantik Cece Kirani. “Dosa apa yang pernah dilakukan Mbak Erni?” Tanya Ustad Ja’far.

Aulia bercerita dalam adegan mundur. Mba Erni suatu malam memaksa dia dan kakaknya, Bambang, untuk menyerahkan harta anak yatim. “Jangan Mba! Itu harta peninggalan Mas Rahman,” tolaknya. Harta itu oleh almarhum Rahman diperuntukkan untuk anaknya, Astrid, yang tinggal di rumah keluarga Bambang.

Adegan selanjutnya Astrid menjewer anak Erni. Lalu Erni marah besar. Erni memaki-maki Astrid.

Di lain adegan sepulang sekolah Astrid nyaris diculik. Usut punya usut ternyata penculiknya adalah orang suruhan Erni. Tujuannya: harta peninggalan Rahman.

Kegagalan rencana Erni tak menyurutkan niatnya untuk memakan harta Astrid. Meski dilarang oleh suaminya sendiri. Erni pun tega menjual gelang emas peninggalan Rahman. Tak hanya itu, Erni juga minta tolong seorang dukun di Sukabumi, Mbah Gempol, untuk menyantet Astrid dan adik suaminya. Lagi-lagi tujuannya hanya satu: kematian Astrid, si anak yatim.

Berbagai usaha itu gagal total sampai Erni sendiri meninggal dunia dan tragisnya dengan disaksikan sendiri pembantunya. Erni dikubur mengalami siksaan menyedihkan. “Panas, panas, panas,” rintihnya. Rasmi, pembantu, berlari dari kuburan sambil menjerit ketakutan.

Bulu kuduk meremang saat melihat akhir kejadian ini. Apalagi menurut ustad Jefri Buchory, dai yang ceramahnya selalu menjadi penutup adegan, cerita-cerita ini diilhami dari kisah nyata. Mengerikan.

Di sebuah warung bubur ayam di jalan Cikini, Jakarta. Jefry Buchory menjelaskan, “saya berfikir apapun yang terjadi, apa sih yang tidak mungkin bagi Allah, saya kembalinya ke sana.”

Contohnya, kata Jefry, di zaman Rosulullah ada seoang yang mau dikuburkan. Anehnya saat mau dimasukkan ke kubur kepala mayit berubah menjadi babi atau anjing.

Lalu Rosulullah berdoa dan ternyata setelah itu keadaan mayit normal kembali. “Rasulullah lalu bersambda, inilah contoh orang yang meninggalkan sholat,” tambah Jefry.

Meski begitu Jefry mengakui bahwa kejadian seperti ini jarang terjadi. Allah hanya memberikan contoh pada beberapa orang. “Satu orang, biar untuk contoh yang lain,” kata Jefry.

Sehari usai menemui Jefry, Syir’ah bertemu dengan Chairul Umam, sutradara sinetron Astaghfirullah, di lokasi syuting, Kalimalang, Bekasi. Umam menyanggah kalau sinetron yang ia garap sama dengan sinetron lain yang sedang booming.

“Ini metode penyembuhan kok. Kalau itu (sinetron lain) kan cerita tentang yang hidupnya begini, matinya begini. Kalau sinetron yang saya garap ini serita sakitnya seseorang lalu begini penyembuhannya. Ini berhubungan dengan orang sehat kok. Bukan mayat,” tandasnya.

Sebagaimana sinetron “Rahasia Ilahi” yang menumpukan stok ceritanya pada majalah Hidayah, “Astaghfirullah” pada majalah Ghoib. Ide pembuatannya sudah dimiliki Umam setahun lalu. Sayang, saat disodorkan ke beberapa produser ia ditolak.

Baru ketika Rahasia Ilahi dan teman-temannya mendapat respon luar biasa dari pemirsa, Umam datang ke Cinema Art, salah satu rumah produksi. “Saya langsung diterima. Langsung tayang. Wah, keteteran juga, kejar tayang,” katanya,

H. Thantawi, penulis skenario Astaghfirullah, juga tidak setuju kalau sinetronnya disamakan dengan sinetron lain, apalagi disebut menjual mistis. “Kalau di Astaghfirullah tidak ada mistis. (Adanya tentang) orang kesurupan jin.” Mistik yang dimaksudkan Thantawi adalah sinetron-sinetron yang bercerita, misalnya, tentang orang bunuh diri kemudian rohnya bisa gentayangan.

“Kita membenahi itu. Bahwa orang yang bunuh diri itu bukan rohnya yang gentayangan tapi jin yang menyerupai itu,” tandasnya. Thantawi menyebutkan orang dari alam kubur tidak akan mampu menembus alam dunia, atau sebaliknya.

Memang, sinetron yang tayang setiap Senin malam ini alur ceritanya agak berbeda dengan Kuasa Ilahi yang tayang di stasiun televisi yang sama. Kuasa Ilahi satu jalur dengan Rahasia Ilahi, Sakaratul Maut, Azab Ilahi, atau Azab Dunia yang muncul di stasiun televisi lain.

Cerita yang diusung sinetron-sinetron ini umumnya berkonsep sebab akibat. “Misalnya karena anak durhaka kepada orang tuanya maka saat meninggal bakal mengalam peristiwa yang mengerikan,” ujar Dondy B Sudjono dari rumah produksi Kusuma Eka Permata (KEP) ketika wawancara dengan sebuah surat kabar.

Misalnya yang terjadi pada Burhan (dakan Sakarotul Maut, ANTV) yang mati karena komplikasi penyakit, muntah darah dan perut membuncit karena memilih jalan pintas mendapat harta atau sebab tidak taat pada suami sehingga terkena HIV dan lebam kepala seperti pada Erni (Mereka Ada Dimana-mana, TPI).

Kalau benar cerita ini dari kisah nyata, akhir hidup seperti ini tentu tidak diingini oleh siapapun. Tapi benarkah sebabnya sebagaimana digambarkan dalam sinetron-sinetron itu?

SELASA, 14 Juni, syir’ah datang ke ruang kerja dr. Mun’im Idris, ahli forensik dari rumah sakit Cipta Mangunkusumo, Jakarta. Gambar-gambar eksotik menghias di dinding, ada sebuah meja di bagian belakang dengan berbagai pernik dan aksesoris yang menghias. Senyum Mun’im menyambut ramah.

“Jangan ngomong masalah itu kalau bukan urusan kamu. Diam,” ujar Mun’im mengomentari cerita-cerita sinetron akhir-akhir ini. “Dalam kaitan ini, untuk masalah penyakit, luka-luka, menyangkut tubuh, kesehatan, atau nyawa manusia, harus ditanyakan ke dokter. Itu kenapa pada setiap kasus pidana polisi harus selalu bertanya pada dokter,” tuturnya tegas.

Dalam pandangannya, bukan kapasitas kyai, untuk menjelaskan (sebab-sebab kejadian) itu. Mengapa orang meninggal perut buncit? Kaki penuh belatung? Jenazah gosong?...

Bidang kedokteran bisa menjelaskannya dengan gamblang sehingga menghilangkan syakwasangka, juga ketakutan.

Secara kedokteran, ujar Mun’im yang ahli mengotopsi mayat, mayit yang perutnya buncit itu karena semasa hidup almarhum mengidap penyakit ginjal dan kencing manis. Kencing manis berarti kadar gulanya tinggi yang mengakibatkan tubuh cepat membusuk. “Proses pembusukan akan membentuk gas yang menyebabkan menggelembung,” tuturnya.

Untuk menjelaskan orang yang meninggal dengan kaki penuh belatung Mun’im punya sebuah cerita. Pernah ada seorang pasien awalnya kram, kejang karena terlalu banyak duduk di bis. Rasanya seperti berjalan di atas kulit durian. Kaki sulit digerakkan.

Karena malam ia tidak pergi ke dokter, ibunya mencoba meringankan dengan mengurut kakinya. Esoknya dia dibawa ke dokter. Hasil diagnosa ia mengalami penyempitan pembuluh darah. Obat diberikan. Harus diminum teratur kalau tidak bisa berbahaya.

Waktu berjalan ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh, malah kakinya semakin menghitam (beku dan mati). Dokter menyarankan untuk operasi guna mengangkat pembuluh darah yang telah mati. Setuju. Usai operasi ia dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah itu dokter mengizinkannya pulang. Tiap hari harus ganti perban.

Namun setelah beberapa hari penyakitnya kambuh lagi sementara uang sudah tidak cukup untuk berobat ke dokter. Akhirnya diputuskan berobat ke tabib. Bukannya kesembuhan yang diperoleh tapi keadaan kaki semakin gawat. Dari kaki keluar nanah sampai dengkul, bahkan keluar belatung. Sampai puncaknya kaki kiri putus.

Itu penjelasan kaki yang penuh belatung. Sementara tubuh mayat yang gosong lebih mudah dijelaskan. “Bagi orang umum dalam waktu 24 jam itu tubuh sudah mulai tampak kehijau-hijauan, terjadi pembusukan pada dinding perut sebelah kanan,” kata Mun’im.

Keadaan itu untuk orang sehat yang mati. Bagi orang yang meninggal karena penyakit akan lebih cepat busuknya. Oleh karena daerah itu adalah daerah usus, biasanya daerah-daerah itu lebih awal terdeteksi.

Kalau mengidap hipertensi, jantung memompa darah dengan tenaga ekstra, lama kelamaan jantung tidak kuat. Jantung akan membesar kepayahan. Nah di situ pembuluh darah yang ada di kepala, daerah atas, akan lebih banyak berkumpul di daerah dekat jantung. Kalau begitu daerah atas akan lebih cepat membusuk, lebih gelap oleh karena proses oksigenisasi orang tersebut terganggu.

Biasanya warna tubuh menjadi biru-biru karena darah kekurangan oksigen.

Orang yang meninggal dalam keadaan biasa saja terdapat warna merah ungu, gelap, di tubuhnya. Sedangkan orang mati karena ada kelainan otak akibat hipertensi akan lebih cepat gelap dan meluas. Akibatnya tubuh menjadi gosong.

“Umum itu,” kata Mun’im.

Keterangan dari Mun’im sebagai ahli forensik begitu gamblang dan detil. Namun, apa lacur, tayangan-tayangan sinetron itu sudah masuk ke rumah-rumah. Jutaan kepala menontonnya. Setiap hari, dari anak-anak hingga orang tua.

“Itu membawa banyak kemunduran,” komentar Dr. Jamhari, kepala Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta kepada Syir’ah pertengahan Juni lalu.

Jamhari menilai fenomena ini hanyalah sebentuk klangenan, nanti juga hilang dengan sendirinya. Ia ingat waktu kecil suka membaca komik-komik yang mengisahkan tentang siksa neraka. Ada yang disetrika, dibakar dengan besi panas, atau bagi yang suka berzina ditusuk kemaluannya.

“Kalau begini akan membuat orang beragama karena takut,” tutur Jamhari. Takut mati gosong, dipenuhi belatung, perut buncit, atau ditolak bumi.

Seorang tidak lagi beragama karena senang dan penuh kesadaran, tapi ada dorongan kengerian di kepalanya.

Salah satu pengajar di Fakultas Dakwah UIN Jakarta ini tidak menyangkal ada nilai dakwah dalam tayangang tersebut.

KH Zubaidi Muslich dari Pesantren Mambaul Hikam, Jatirejo, Jombang juga menyatakan hal yang sama. Allah sendiri, kata kyai yang lebih akrab dipanggil Buya ini, memiliki sifat “Yang Maha Menakuti”.

Namun seharusnya cerita ini tidak berhenti pada kejadian yang mengerikan. “Menakutkan itu,” katanya lewat pesawat telepon. Dalam ajaran Islam harus seimbang antara Khauf (takut dan raja’ (harapan).

Ia menyontohkan ada seorang intelektual Mesir, almarhum Dr. Zakky Mubarak, yang mengkritik habis Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.

“Karena ia hanya membaca sampai juz tiga. Namun setelah ia melanjutkan membaca juz IV ia berbalik memuji-muji Al-Ghazali,” tutur Buya.

Dari situ lahirlah buku karangannya berjudul Al-Akhlaq ‘Inda Al-Ghazaly.

Pada Juz tiga Al-Ghazali menuliskan tentang khauf, cerita tentang siksa. Menginjak ke juz empat Al-Ghazali mengulas habis tentang taubat yang termasuk dalam raja’ atau harapan yang dimaksud. “Karena itu, sebaiknya dalam akhir cerita diakhiri dengan taubat. Jadi husnul khatimah,” sarannya.

Kalau ditontong satu per satu sebagian besar penutup sinetron-sinetron itu selalu mengundang seorang ustad sebagai pengukuh cerita sembari memberi nasehat. Menjelang pengambilan gambar di sebuah masjid Jakarta seorang ustad bingung dengan skrip yang akan di bacakan di akhir cerita.

“Ini penyakitnya kenapa? Apa karena stres atau yang lain?” Tanya sang ustad bingung. Seorang juru rias menyapu wajah ustad dengan kertas tisu.[end]

Tulisan ini pernah menjadi laporan utama majalah Syir’ah pada Juli 2005

7 March 2005

Terhormat Meski Tanpa Jilbab

Oleh Banani Bahrul Hasan dan Imam Shofwan

Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.

TAK SULIT menjumpai Najwa Shihab. Hampir saban hari dia muncul di stasiun MetroTV. Selama kariernya di televisi itu, yang paling mengharukan saat Nana, sapaan karibnya, melaporkan kondisi Aceh pasca-Tsunami akhir Desember lalu. Awal mula dia memberi laporan, meski tampak tegar tapi akhirnya tak kuasa menahan linangan air mata. Nana menangis.

Saat bertolak ke Aceh, 27 Desember, Nana berniat menggelar talkshow Today’s Dialog di sana. Nana, yang juga co-produser program itu, sebenarnya telah mempersiapkan talkshow lengkap dengan krunya. Tapi, karena keterbatasan sarana, hari pertama Nana melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.

Turun dari pesawat rombongan wakil presiden di Blang Bintang, Banda Aceh, Nana belum merasakan atmosfer kematian. Dia mencium bau anyir darah baru setelah sampai di Lambaro, Aceh Besar. Di daerah inilah dia melaporkan kondisi yang dia lihat. Mayat-mayat berserakan. Orang yang masih hidup pun terlihat bingung. Mereka mencari keluarga dan sanak saudara. Nana mengatakan, belum pernah melihat orang sedemikian putus asa. Saat itulah Nana melakukan reportase diiringi tangisan.

Di sana Nana hanya lima hari. Tanggal 31, bersama rombongan wakil presiden dia kembali ke Jakarta. Pekan pertama setelah peristiwa, dia belum mendengar isu kristenisasi. “Isu kristenisasi setelah saya di sini, waktu saya di sana tidak terdengar. Memang ada Worldhelp yang konon mengajak anak-anak keluar Aceh,” ungkap putri kedua Quraish Shihab itu.

Di sana, kata Nana, banyak sekali isu yang berkembang, karena tak ada komando, tak ada pusat informasi yang jelas. Komunikasi lumpuh. Jadi orang gampang sekali diprovokasi oleh berbagai isu. Menurut dia, kalau memang kristenisasi ada itu sangat tercela. Dalam kondisi darurat orang masih sempat mengurusi agama. “Tapi saya percaya, orang Aceh tidak semudah itu berubah keyakinan, hanya karena diberi bantuan,” ujarnya.


LIPUTAN lima hari itu tak sia-sia. Berkat liputannya itu, pada 2 Februari 2005 lalu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Nana dan presenter teve-teve lain betul-betul telah membuat Indonesia menangis.

Bukan hanya PWI Jakarta yang menganugerahi Nana, pada Hari Pers Nasional (HPN) yang dilangsungkan di Pekanbaru, Riau 9 Februari lalu, Nana meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, Najwa Shihab adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

Pujian untuk Nana pun meluncur dari pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendy Gazali. Dia menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer yang dianalogikannya menjadi “Shihab Vs Shihab”.

Shihab pertama adalah Najwa Shihab, kedua Alwi Shihab, yang masih punya hubungan saudara dengan Nana. “Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kesra Alwi Shihab,” kata Effendy Ghazali. Dalam reportasenya, Najwa menyampaikan bahwa bantuan terlambat dan tak terkoordinasi, sementara mayat-mayat bergelimpangan tidak tertangani.

“Shihab Vs Shihab”, kata Effendy, untuk menggambarkan bagaimana Najwa Shihab sebagai wartawan tetap garang dalam menyuarakan kepentingan publik dan korban tsunami di Aceh.


WANITA kelahiran 16 september 1977 ini hidup dalam keluarga religius. Nana kecil, saat di Makasar, sudah masuk TK Al-Quran. Dia masih ingat betul, kalau melakukan kesalahan, sang guru memukulnya dengan kayu kecil. Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (1984-1990), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada 1990-1993. Aktivitas sampai SMU, dipimpin ibunya, Nana dengan lima orang saudaranya sejak magrib harus ada di rumah. “Jadi berjamaah magrib, ngaji Al-Quran, lalu ratib Haddad bersama. Itu ritual keluarga sampai saya SMU.” Setelah kuliah, karena banyak kegiatan, Nana baru boleh keluar setelah magrib.

Keluarganya memang sangat memprihatikan faktor pendidikan. “Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku,” ujarnya.

Pendidikan, bagi keluarga Shihab, adalah nomor wahid, tidak bisa ditawar-tawar. Dulu waktu kelas dua SMU, Nana dapat kesempatan AFS (America Field Service), program pertukaran pelajar ke Amerika. Sempat keluarga menolak karena harus melepas selama setahun anak cewek yang baru usia 16 tahun tinggal di keluarga asuh. “Sempat terjadi perdebatan keluarga. Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan, dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, walaupun di sana dia sudah dibekali agama, mereka percaya shalatnya tidak akan ditinggal. Dan alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu,” cerita Nana.

Quraish Shihab, pakar tafsir itu, bagi Nana, adalah sosok bapak yang santai. “Seneng joke-joke Abu Nawas, ketawa-ketawa,” kisahnya. Jadi beliau, kata Nana, membebaskan pilihan kepada anak-anaknya untuk sekolah ke mana saja.

Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai.” Menjelang pernikahan, kata Nana, keluarga sempat ragu, tapi karena pengalaman kakak yang nikah saat usia 19 tahun akhirnya diizinkan. Tapi sebelum itu mereka sekeluarga umroh dulu. “Di sana ayah bertanya, ‘udah mantep?’ saya jawab, ‘udah’. Ya sudah diizinkan,” tutur Nana.


KENDATI dalam keluarga religius, soal pakai jilbab tak menjadi keharusan. Menurut Nana, kalau orang pakai jilbab itu bagus, kalau tak berjilbab juga tidak apa-apa. “Saya sih seperti itu dan saya percaya itu.”

Karena memang, kata Nana, alasan ayahnya yang lebih penting adalah terhormat. Karena bukan berarti yang berjilbab tidak terhormat dan yang berjilbab sangat terhormat, karena kan masih banyak interpretasi tentang hal itu. Menurut Nana, yang penting tampil terhormat dan banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab. “Tidak pernah ada keharusan untuk berjilbab,” ucapnya.

Dengan cara berpakaian seperti itu, kata Nana, tak pernah ada yang komplain. “Karena mungkin melihat ayah, kalau ditanya orang pendapatnya membolehkan, membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari ayah saya. Kalau ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya selalu bilang: ya insyaallah mudah-mudahan suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok.”

Nana kagum pada yang pakai jilbab dan menutup aurat. Dia ingin juga pakai jilbab, mungkin suatu saat. “Sampai saat ini saya tidak merasa ada kewajiban atau beban untuk berjilbab,” katanya, “Karena sejauh saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai muslimah tidak masalah berjilbab atau tidak.”

Meski kini ada rekan reporter yang mengenakan jilbab, Nana tidak terpengaruh. Sampai saat ini, dia merasa apa yang dilakukannya sudah berada pada jalur yang benar. Kalau nanti ada hidayah lebih lanjut, atau kemantapan memakai jilbab, tanpa ragu Nana akan memakainya. “Apa yang dilakukan orang kan bukan berarti kita akan terpengaruh. Kalau sekarang ada yang berjilbab kemudian saya ikut. Menurut saya, rugi kalau berjilbab alasannya itu,” ujarnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Syir'ah Edisi Maret 2005

7 February 2005

Jalan Mendaki Penyuka Whisky

Oleh Imam Shofwan

Perjalanan seorang seniman pemabuk yang ‘ditobatkan’ oleh Arifin Ilham.

JAMAAH zikir az-Zikra berduyun-duyun memadati masjid al-Amru bit-Taqwa. Awan hitam pertengahan Januari itu mencair menjadi rintik hujan, membasahi pelataran masjid yang terletak di daerah Mampang Indah Dua, Depok. Kaum menempati ruang utama masjid, sedang para wanita di teras luar.

Petang itu, jamaah isya baru selesai, acara dilanjutkan dengan zikir dan tausiyah yang dipimpin oleh Ustad Arifin Ilham, juru dakwah sering mongol di televisi. “Shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jamaah mendengar sang ustad menyitir sepenggal ayat al-Quran. Hening dan Khusuk.

“Seperti Bang Johnny AO,” lanjut Ustad Arifin sambil menunjuk seseorang di tengah jamaah. “AO” kependekan dari anggur orangtua.

Jamaah mengarahkan pandangan pada seorang laki-laki dengan rambut panjang yang terikat rapi dan ditutup kopiah putih. Lelaki paruh baya yang menjadi pusat perhatian tertunduk, kedua tangannya menutupi bagian bawah wajahnya. Suara jamaah sedikit riuh.

Sang Ustad melanjutkan kisah pertama kali bertemu dengan Johnny. “Saya mengucap Assalamualaikum kepada Bang Johnny.”

“Alaikumussalam, Ustad,” Arifin menirukan jawaban Johnny yang waktu itu sedang mabuk. Jamaah tergelak dan lelaki itu kian tertunduk.

Johnny AO adalah seorang pelukis dan pemabuk berat. Tapi itu kisah masa lalu. Kini, dia sudah berhenti minum dan ikut zikir. Majalah Empathy, Hidayah, Amanah, juga novel Suamiku Menangis karya Wahyuniwati al-Wali, istri Arifin Ilham, merekam kisah Johnny secara dramatis.

Diceritakan bagaimana Johnny bertemu dengan Arifin Ilham. Ustadz Arifin memberi lontong Sayur, Johnny tersentuh. Sejak saat itu, Johnny aktif mengikuti zikir pimpinan Sang Ustad. Majalah Amanah merangkum kisah ini dengan judul memikat: Johnny Zikir: Lontong Sayur Membuatnya Insyaf.

SIANG yang cerah awal Januari, Johnny duduk disebuah kursi kayu di ruang tengah rumahnya. Tangan kirinya memegang palet beisi warna-warni cat winston. Tangan kanannya lincah memainkan kuas pada sebuah kanvas. Di dinding tergantung beberapa lukisan. “Semula saya melukis abstrak, sekarang saya melukis kaligrafi,” tutur Johnny saat berbincang dengan saya tentang masa lalunya.

Johnny lahir 14 Januari 1954, di Bandung, dengan nama lengkap Johnny Guntoro. Dia anak kedua dari pasangan R. Guritno Wiryo Diatmodjo dan RA Siti Ana. Ayahnya seorang perwira tinggi Angkatan Darat.

Wiryo pensiun pada 1957, dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Setelah pensiun, sang ayah menjadi direktur utama Perusahaan Negara Tambang Emas Cikotok, Banten. Johnny bersama keluarganya ke sana sampai lulus sekolah dasar. Lima tahun Johnny menamatkan SD, setahun lebih cepat dari biasanya.

Keluarga Johnny lalu pindah ke Jakarta pada tahun 1967. Mereka menempati rumah di jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru. Saat itu Johnny masuk SMP 12. Dia satu sekolah dengan Ari Widjianto, tetangga yang kemudian menjadi teman dekat Johnny. Ari juga putra seorang pejabat militer.

Saat naik kelas dua SMP, Johnny tidak mau menlanjutkan sekolah. Dia mogok lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Sebagai teman, Ari menghibur Johnny, mengajak jalan-jalan, dan nongkrong. Mereka lalu membentuk geng “Ganja Fly”.

“Geng yang cukup terkenal di Panglima Polim saat itu,” tutur Johnny.

“Santai aja, kita minum bir, Gua yang traktir,” kata Ari waktu itu di sebuah restoran di jalan Panglima Polim Raya. Inilah kali pertama Johnny menenggak minuman beralkohol. Adapun Pub Tanamur (Tanah Abang Timur), Kernolong, Kalipasir, Kramat Raya adalah tempat-tempat mangkal geng mereka. Dan mulailah mereka menenggak Vodka, Whisky dan tekawe (minuman keras khas Kalipasir). Sehari-hari mereka mabuk dan balapan.

Johnny dibelikan sepeda motor dan kembali sekolah sampai lulus SMP 12 pada 1971.

Ia lalu masuk SMA 09 Bulungan, di sini dia bertahan satu tahun. Kelas dua, Johnny pindah ke SMA 17 Grogol. Dia tak lagi satu sekolah dengan Ari. Di SMA, Johnny ikut beladiri. Agar Tubuhnya prima, dia harus mengurangi minum minuman keras.

Setelah lulus SMA tahun 1974, Johnny melanjutkan studinya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, Jurusan Seni Lukis.

Di ASRI, kebiasaan minum minuman keras kambuh lahi dan semakin parah. Dari kawan-kawannya, Johnny berkenalan dengan banyak jenis minuman beralkohol, seperti Jhony Walker, Drygin, Napoleon, Bols, Arak Putih, Drink Beer. Tak hanya minuman, dia juha mencoba ganja kering dan masrum, sejenis jamur dari tinja sapi.

Pada 1977, ayah Johnny meninggal dunia. Johnny terpukul. Kuliahnya terbengkalai, dia lebih sering menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan pelesiran di pantai. “Saking seringnya saya ke Parangtritis, saya banyak kenal para pemandu wisata dan turis-turis.”

Dia Parangtritis inilah, awalnya Johnny berkenalan dengan masrum. Di sebuah kafe panggung. Johnny bersama empat orang kawannya berpesta. “Omlet setengah mateng lima,” kata Johnny. Pelayan berlalu setelah mencatat pesanan.

“Kita coba barang baru, Dik,” kata Johnny sambil mengulurkan bungkusan berisi jamur ke arah Mardi, seorang kawannya yang bekerja sebagai pemandu wisata. “Oh ini masrum dari turis India,” jawab Mardi sambil menaburkan jamur yang telah dilumat dengan tangannya ke atas omlet lalu memakannya. Setelah pesta ini, Johny tidak sadarkan diri sampai dua hari.

MINGGU Pahing, 28 Juli 1980, Johnny menikah dengan Raden Ayu Wisetiati, seorang karyawati Bank Exim. Pernikahan ini digelar saat Johnny kuliah semester akhir. Harapan sang ibunda, dengan pernikahan itu, Johnny memiliki tanggungjawab terhadap keluarga.

Setelah resepsi pernikahan, Johnny kembali ke Yogja, menyelesaikan kuliah. “Kuliah saya yang tinggal tugas akhir kacau. Ibu berharap setelah diberi tanggung jawab, saya akan lebih baik,” tutur Johnny.

Seminggu sekali Johnny menjenguk istrinya di Jakarta. Kebaikan dan kesabaran Titik, sapaan akrab Wisetiati, membuat Johnny jauh dari teman-teman mabuknya. Johnny merasa bahagia saat Titik mengandung.

April 1981, Titik mengalami keguguran. Johnny labil, dan kembali ke Yogyakarta. Minuman keras kembali ditenggaknya.

Johnny tidak lulus kuliah karena terganjal kuliah agama. “Untuk ketiga kalinya saya ujian shalat. Ya, mana mungkin lulus, saya tidak bisa shalat,” tutur Johnny.

Waktu itu Johnny menyogok dosennya dengan lukisan supaya diluluskan. Johni lulus ASRI pada 1982.

Setelah lulus Johnny kembali ke Jakarta. Sesekali dia menjenguk istrinya yang tinggal di rumah ibunya di daerah Mayestik, Jakarta Selatan. Tujuannya untuk meminta uang. Johnny lebih suka menghabiskan uang bersama minuman keras.

Melihat suaminya yang kian tidak bisa lepas dari minuman keras, Titik selalu berdoa sehabis sholat agar suaminya tobat.

Pada tahun 1984, Johnny membangun rumah di atas tanah peninggalan ayahnya di Depok. Pasangan ini lalu pindah ke rumah ini pada tahun yang sama.

Di Depok, kebiasaan Johnny semakin menjadi, dia semakin tidak terpisahkan dengan minuman beralkohol. “Tiap hari kerjaannya nyekek botol,” tutur Titik. “Johnny sering memecah kaca, gelas, dan mukulin tembok kalau habis minum.”

Biasanya Johnny menjemput Titik pulang kerja di Stasiun Depok, kemudian begadang di Pinbi kafe di jalan Margonda. “Biasanya Johnny menghabiskan satu picer berem, kadang nambah,” tutur Titik. Berem adalah minuman keras olahan tradisional. Satu picer seukuran satu sampe dua liter.

Mereka biasa sampai rumah setelah lewat tengah malam. “Paling lambat kami pulang jam dua dini hari,” tutur Titik.

Titik sering menemani suaminya minum, “saya tahu betul suami saya dan apa yang dia minum.” Tapi tidak setuju suaminya disebut preman. “Suami saya bukan preman, tidak pernah malak orang, sebenarnya tidak ada tetangga yang memanggil suami saya Johnny AO. AO hanya sebutan Ustad Arifin saja.”

Kepada saya, Arifin Ilham mengatakan sebutan AO alias anggur orangtua memang dia yang mempopulerkan. Jamaah az-Zikra lantas menjadikan nama itu sapaan akrab. Tapi, Arifin lantas memberikan sapaan baru buat Johnny, yaitu “Johnny Zikir”. Ini setelah Johnny rajin menghadiri jemaah zikir yang dipimpin Arifin.

Begitulah, Titik tak pernah menganggap suaminya penjahat. Dalam novel Suamiku Menangis, Johnny disebut sebagai seorang preman yang mengganggu perjalanan tokoh Ustad. Jalan menuju rumah Arifin harus melewati rumah Johnny. Johnny dan Arifin tinggal di perkampungan yang sama.

Titik keberatan dengan isi novel tersebut. “Preman itu kan identik terminal, pasar dan suka malak, padahal suami saya tidak pernah melakukan itu,” tutur Titik. “Sebenarnya saya ingin meluruskan hal itu, tapi udah kayak gitu. Ya sudahlah.”

Selama di Depok, Johnny termasuk orang yang rajin secara sosial. Tiap ada kerja bakti, Johnny selalu datang lebih awal. Dia juga membikin Sanggar Fajar dan mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Selain itu dia juga mengajari mereka teater. “Johnny hanya suka minum, dia tidak melakukan kejahatan,” tegas Titik.

Titik tidak pernah mengeluh pada siapa pun tentang kebiasaan suaminya kecuali pada Tuhan. Sampai suatu hari nahas di tahun 1989, terjadi.

Suatu malam, Titik sedang menunggu Johnny yang sedang mendesain taman seorang tetangga. Sejak sore, Titik memasak dan ingin makan malam bersama. Di meja makan, hidangan mulai dingin. Malam kian larut, mata Titik sudah terasa berat saat terdengar seorang berteriak “cihuy” dari luar. Dia paham itu adalah suaminya karena berteriak “cihuy” telah menjadi kebiasaan Johnny.

Titik bergegas menuju gerbang. Dia melihat suaminya memegang botol dalam kondisi mabuk berat.

Titik membopong Johnny menuju ruang makan. Kekesalan Titik saat itu tidak terbendung. “Sudah capek-capek masak, kamu enak-enakan minum,” ucap Titik. Emosi. Johnny kalap dan melempar piring ke arah Titik.

Darah mengucur dari sela-sela tangan Titik yang menutup wajahnya. Panik. Semua tentangga berdatangan ke rumah mereka setelah pembantu Johnny berteriak-teriak minta tolong.

Kemudian Titik dibawa ke rumah sakit Bhakti Husada, Depok. Karena keterbatasan alat, dokter memberi rujukan ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk dioperasi. Selam tiga bulan dia dirawat di RSCM, kemudian pindah ke RS Pertamina selama enam bulan untuk pemulihan. Sebelah mata Titik cacat setelah kejadian itu.

“Saat dirawat, Johnny selalu menemani saya dan tidak pernah tercium bau minuman dari mulutnya,” tutur Titik.

Setelah itu Johnny berhenti minum minuman keras. “Keluarga melarang saya kembali ke Depok. Saya dan Johnny tinggal di Mayestik di rumah orang tua,” tutur Titik, hampir setahun tinggal di sana. Sampai Johnny terlihat berhenti minum. Dan Kami diperbolehkan kembali ke Depok.”

Setelah kembali ke Depok Johnny kembali kambuh. “Minum lagi dan mabuk lagi.”

Dan, tibalah hari itu. Pada 12 Febuari 1998, ada perubahan penting dalam kehidupan pasangan Johnny-Titik, Titik melahirkan seorang puteri yang cantik dan diberi nama Sekar Siti Nabila.

“Karena saya bekerja, Johnny yang merawat Sekar. Dia tidak ada waktu lagi mencari minuman,” ujar Titik.

Tahun 1999 Titik berhenti kerja agar bisa merawat Sekar. Johnny berubah. Ia tak pernah menenggak minuman keras jika di rumah.

KAMIS, 31 Juli 2003, sekitar pukul tujuh pagi, sebuah mobil melintas di jalan Kampung Kekupu, tepat di depan rumah sekaligus workshop Johnny. Mobil itu berhenti. Saat itu Johnny sedang membersihkan halaman.

“Assalamualaikum, Bang Johnny,” seru seorang pemuda dari dalam mobil. Johnny menoleh ke asal suara. Tangannya masih menggenggam sapu. “Alaikumsalam. Ooo, Ustad Arifin,” timpal Johnny.

“Makan nasi uduk, yuk,” ajak Arifin.

“Makasih, kirim-kirim aja,” jawab Johnny.

Mobil berlalu. Johnny kembali menyapu. Setelah itu, Johnny masuk ke rumah mandi kemudian duduk di beranda rumah.

“Assalamualaikum,” seorang menyapa dari depan gerbang. Mobil yang membawa Arifin tadi berhenti tepat di belakangnya. Johnny menjawab salam dan membukakan gerbang. “Ustad Syukur, silahkan masuk,” ucap Johnny. Ustad Syukur salah seorang pengurus Majelis az-Zikra.

“Terima kasih. Di sini aja. Ini ada lontong sayur dari ustad Arifin. Maaf tadi nasi uduknya habis,” ucap Ustad Syukur. Johnny bengong sesaat. Belum sempat Johnny berterima kasih, mobil sudah berlalu.

Johnny menutup gerbang dan masuk kembali ke dalam rumah.

“Mami, Ustad Arifin baik ya?” ucap Johnny. Sang istri hanya bengong mencoba menerka arah pembicaraan. “Tadi Ustad Syukur nganterin lontong sayur dari Ustad Arifin, besok aku mau ikut dizir, ah.”

Tiga hari kemudian, Minggu 3 Agustus, untuk kali pertama Johnny ikut zikir yang dipimpin oleh Arifin Ilham.

Sebulan berikutnya, Minggu 7 September 2003, sebuah stasiun televisi swasta nasional merelai acara “Zikir dan Tausiyyah” di masjid az-Zikra. Arifin Ilham biasanya menjadi pembicara tunggal. Tapi hari itu sang ustad ditemani Johnny Guntoro alias Johnny AO. Sambil menangis, johnny menceritakan masa lalunya yang “hitam” sampai ketemu Arifin Ilham dan ikut majelis zikir az-Zikra.

Acara pengajian selesai, jamaah satu persatu kembali kembali ke rumah masing-masing. Tinggal berapa orang di masjid. Ustad Syukur menghampiri Johnny dan memberinya amplop uang terimakasih. Tersenyum, Johnny menerima dengan gembira.

“Sejak acara dialog itu,” tutur Johnny, “Ustad Arifin sering mengajak saya mengisi acara, baik di dalam maupun di luar kota.” Di pengajian-pengajian itu Johnny selalu menjadi pencerita yang baik. Ia mengisahkan kekelaman hidupnya dahulu, hingga pertemuaannya dengan Ustad Arifin.

Titik senang dengan kondisi suaminya saat ini. “Sekarang gantian, dulu saya yang rajin shalat, sementara dia tidak perna. Sekarang kebalik, dia yang rajin…,” tawa Titik berderai.

Tulisan ini dimuat di majalah Syirah pada Febuari 2005