1 January 2009

Sheryl Mendez, Karim Fael dan Jassim Mohammed



Jassim Mohammed dan Sheryl Mendez orang perhatian sama kawan. Pertengahan Desember lalu, saat Karim Fael ulang tahun, Jassim membelikan tart kotak coklat-putih plus lilin kecil dan Sheryl memberikan hadiah kecil; sebuah gantungan kunci menara eifel.

“Karim tidak suka eifel, karena dia orang Italia,” kata Jassim dan saya tidak percaya. Jassim hendak bikin kejutan kecil.

Ketiganya adalah wartawan freelance, Jassim dari Irak, Karim dari Italia dan Sheryl dari Amerika. Invasi Amerika terhadap Irak pada 2003 telah mempertemukan mereka dan Irak sebagai neraka bagi wartawan telah mengukuhkan ketiganya menjadi satu tim. Cerita berjudul “A Letter From Heaven,” adalah salah satu hasil kerja bareng mereka. Cerita ini memenangkan Media-Award Every Human Has Right (EHHR-award) 2008 di Paris.

Tim ini bereuni kembali di Paris bareng dengan 29 pemenang lainnya. Kebetulan, Karim ulang tahun. Saya diajak Jassim untuk merayakannya di sebuah kafe bersama Rodrigo Tornero, dari Argentina, Fatima Monterrosa, dari Mexico dan Helene Geniez, panitia dari Internews Europe, Paris.

Kejutan kecil Jassim dimulai saat lilin dinyalakan dan diletakkan di atas tart bersebelahan dengan menara eifel kecil. Karim tak mau meniup lilin karena ada eifelnya dan setelah semua teriak tiup, Karim tak bisa menolak. Busss, semua tepuk tangan sambil menyanyi Happy Birthday. Setelah itu, Fatima dan Rodrigo menyanyikan versi Spanyolnya Happy Birthday, disulul versi Prancis oleh Geniez dan versi Arab oleh Jassim. Saya tak punya pilihan lain selain menyanyikan versi Indonesianya.

Wine, bir dituangkan di gelas. Masing-masing mengucapkan bersulang dengan bahasa mereka dan saya pakai werr, khas Porong. Setelah menghabiskan bir pertamanya Jassim lebih banyak ngomong. Karim tampak senang.

“Ini, mungkin, akan jadi ulang tahun terbaik saya,” tutur Karim, “terima kasih.”

Sambil minum dan ngobrol, malam itu, ada seorang kawan Rodrigo yang gabung bersama. Dia membawa beberapa majalah mahasiswa bahasa Prancis L’’Amiante. Saya beli satu karena ketularan Karim yang juga membelinya. Karim suka dengan kartun-kartun di majalah itu, “It's briliant,” komentarnya pendek. Saya suka salah sebuah di antaranya; sebuah gambar anak sekolah duduk di depan komputer dengan gambar orang bercinta dilayarnya. Judulnya Bahasa Prancis dan saya tidak mudeng, menurut terjemahan kasar Karim, Tak Ada Acara Yang Baik di Televisi, dan anak digambar itu bilang, “untung ada internet.”

Karim juga menunjukkan pada saya sebuah buku tipis yang cantik. Di halaman muka tertulis SGMN dengan tulisan kecil dibawahnya, navigating space between home and exile.

"Harganya 5 dolar, tapi untuk kamu gratis, tapi musti dibaca." kata Karim.

Di halaman awal ditulis Karim bertanggungjawab atas graphics dan layout. Sheryl sebagai editor dan Jassim sebagai contributor dan collaborator. Rangkain tulisan soal pengungsi Irak inilah yang memenangkan EHHR Award; satu kisah tentang wartawan yang mencari hidup dari Irak ke Stockholm dan seorang anak perempuan 11 tahun yang dipaksa melacur.

Dari buku kecil inilah saya tahu pedihnya hidup wartawan di Irak. Yakni dari tulisan Jassim; A Letter From Heaven. Tulisan yang penuh dengan kalimat tanya ini mengacak-acak emosi saya saat membacanya. Ceritanya tentang kehidupan seorang wartawan Irak mempertahankan hidupnya dan keluarganya. Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya dia harus keluar dari negeri kelahirannya dan mencari suaka di Stockholm, Swedia. Tempat dimana keterasingan baru mendera. Tokoh dalam cerita itu adalah Jassim sendiri.

Untuk pembuka, Jassim menggambarkan keadaannya di Irak dengan mengajukan beberapa pertanyaan; Di negara anda, saat ada orang mati di jalan, apakah orang peduli? Di negara anda, apakah orang dibunuh gara-gara menenteng uang 100 dolar? Di negara anda apakah orang dibunuh karena punya mobil bagus? Atau karena dia manajer? Dokter? Atau karena mereka bahagia? Bahagia dalam hidupnya? Di negara saya, anda tidak tahu siapa kawan anda; tak tahu siapa musuh anda? Anda berjalan dan anda tidak tahu kapan anda mati dan untuk alasan apa. Tiap pagi kami pergi bekerja dan mengucapkan ‘selamat tinggal’ pada keluarga kami. Kami meninggalkan rumah dan mereka yakin bahwa anda mungkin takkan kembali. Lalu mereka bilang “hati-hati.” Tiap hari mereka mengingatkan anda untuk hati-hati. Masalahnya anda tidak tahu berhati-hati dari apa?

Kisahnya mengalir, menuturkan bagaimana kehidupan Jassim, interaksinya dengan orang-orang sekitarnya, lalu keadaan keluarga sampai dia dipaksa untuk keluar dari Irak atau dia sekeluarganya akan dibunuh. Jassim dituduh mata-mata Barat karena pekerjaannya sebagai wartawan.

Tahun 2007, akhirnya Jassim mendapat suaka di sebuah penampungan Stockhom, Swedia. "Di Swedia semua mahal, kami terpaksa bikin roti sendiri, karena tak mampu membelinya." tulis Jassim, "Kalau mau merokok, kami beli dari toko Arab yang harganya separuh lebih murah. Kami tak mampu beli tiket bis untuk jalan. Sehari-hari kami hanya berjalan-jalan sekitar satu kilo meter persegi dari tempat tinggal kami."

Keterasingan baru muncul, Jassim menggambarkannya dengan sangat baik di akhir cerita. Kalimatnya kira-kira begini; Bayangkan saya telah bebas dari penjara dan saya sadar saya belum bebas; saya hanya pindah sel tanpa tahu sebelumnya. Tiap hari pikiran menyempit, tiap hari saya lihat wajah orang-orang sekitar kosong. Terlalu lama tanpa keluarga, tanpa sesuatu yang biasa mereka lakukan. Terlalu mahal untuk menelpon ke rumah; kami kehilangan banyak uang untuk telepon, kami kehilangan banyak untuk telepon. Kebosanan membunuh anda; ini telah membunuh orang-orang sekitar saya. Saya yakin suatu hari akan membunuh saya. Semuanya asing di sini, semuanya. Jalannya, bahasanya, bagaimana mereka melihat dan berprilaku, bagaimana mereka memperlakukan saya. Hanya orang-orang asing yang kini saya lihat.

Kafe tutup jam satu dini hari, dan saat kami berkemas hendak meninggalkan pesta, Mary Fianko, dari Ghana, dan Shani Simba Russeu, dari Lebanon, datang. Karim lantas mengajak untuk mencari tempat baru untuk melanjutkan pesta. Di perjalanan tiba-tiba Jassim lari, dan kami menunggu kedinginan. Setelah satu jam tak tahan dingin, saya tanya Sheryl kemana Jassim pergi? Sheryl juga tak tahu kemana. Mungkin dia mabuk.

“Dia Muslim yang baik. Dia tak pernah minum bir sebelumnya,” kata Sheryl.

0 comments: