28 August 2008

Kerugian Ekonomi Yang Tidak Kunjung Pulih


Silahkan dilihat angka-angka ini, Rp 33,2 Triliun; Rp 27,4 triliun; dan Rp 32,8 triliun. Yah, luar biasa besar, bukan?
Dan angka-angka itu bukan angka kerugian investor akibat ribut-ribut ambruknya pasar saham dunia baru-baru ini.
Angka-angka itu adalah perkiraan kerugian ekonomi akibat bencana semburan lumpur panas Lapindo di Sidoarjo. 
Adalah lembaga-lembaga Greenomics, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang melakukan kajian dampak ekonomi dan menemukan angka-angka fantastis diatas.
Senada dengan temuan ini, ekonom Kresnayana Yahya memperkirakan setiap hari sebesar Rp 300 miliar dana di Jatim tidak terpakai untuk kegiatan ekonomi akibat ketersendatan transportasi dan infrastruktur yang disebabkan oleh bencana ini.
Bagaimana mungkin semburan lumpur yang bagi sebagian pejabat sering dikecilkan artinya dengan hanya disebut berimbas kepada masyarakat Porong dan sekitarnya, yang hanya mengubur area kurang dari 2 persen dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Sidoarjo, bisa menimbulkan kerugian demikian besar?
Karena ternyata semburan lumpur ini tidak hanya menenggelamkan wilayah desa-desa di Porong saja. Ikut tenggelam juga adalah jalan tol, infrastruktur utama lainnya (listrik, gas, telepon dan PDAM) serta ketersendatan nadi utama jalur transportasi Jawa Timur yang menghubungkan Surabaya sebagai hub perdagangan nasional, bahkan internasional dengan kota-kota disekitarnya.
Tidak terhitung potensi kerugian akibat penurunan signifikan sektor usaha di Jatim akibat bencana lumpur ini. Misalnya sektor properti di Sidoarjo dan wilayah sekitarnya, Pariwisata di Pasuruan dan Malang, serta beberapa sentra industri di wilayah Pasuruan dan Mojokerto yang harus merelokasi usahanya.
Tetapi kali ini, kami tidak akan membahas mengenai dampak besar ekonomi akibat bencana lumpur. Yang akan kali ini kami angkat adalah, kerugian ekonomi yang dialami korban lumpur dan kegiatan ekonomi usaha rakyat lainnya akibat lumpur Lapindo.
Lumpur Datang, Ekonomi Melayang
Sebagai penopang utama Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, Kabupaten Sidoarjo merupakan wilayah yang cukup makmur secara ekonomi. Berbagai kegiatan ekonomi rakyat berkembang cukup pesat, termasuk diwilayah yang saat ini terdampak oleh lumpur.
Wilayah yang sudah tenggelam mencapai 824 ha., dimana kerugian ekonomi korban dibedakan menjadi kerugian ekonomi pribadi dan perusahaan.
  1. Kerugian ekonomi pribadi dialami oleh warga masyarakat yang daerahnya sudah tenggelam meliputi kehilangan aset berupa tanah dan bangunan dan kehilangan lapangan pekerjaan. Untuk hilangnya lapangan pekerjaan bisa dibagi menjadi beberapa kelompok lagi, yaitu mereka yang kehilangan pekerjaan di sektor formal (pekerja di pabrik yang sudah tenggelam, pemilik usaha dan para pekerjanya, para produsen kecil yang mengerjakan pesanan dari luar daerah dan sebagainya).
Sedangkan sektor informal misalnya pengrajin, toko peracangan, pedagang di pasar desa, warung nasi, tukang ojek, tukang becak, usaha kos-kosan yang menampung pekerja pabrik yang berada di desa2 tersebut, dan berbagai jenis usaha lainnya. Hilangnya pekerjaan juga diakibatkan oleh telah hilangnya ratusan hektar lahan pertanian baik untuk sawah, padi maupun perikanan darat (tambak) yang menyerap banyak tenaga kerja di desa.
  1. Disamping pemukiman, ikut tenggelam juga 28 perusahaan yang total menampung 2.935 orang pekerja. Sebagian pekerja berasal dari desa-desa sekitar yang sudah tenggelam, sebagian besar berasal dari wilayah lain di Kabupaten Sidoarjo, bahkan dari kabupaten lain di Jawa Timur. Sebagian besar perusahaan-perusahaan ini tidak lagi bisa beroperasi sejak awal semburan, dan hampir semuanya belum merelokasi usaha ke tempat baru akibat proses ganti rugi dengan skema business to business (B2B) yang berjalan lambat.
Disamping wilayah yang sudah tenggelam, belasan desa yang berada tepat di sekeliling area yang sudah tenggelam ini juga mengalami kerugian ekonomi yang cukup parah. Terputusnya jaringan jalan, sarana irigasi dan terus melebarnya luapan lumpur juga mengakibatkan kerugian ekonomi yang cukup penting bagi desa-desa yang berada di sekelilingnya.
Total area pertanian yang tidak berfungsi lagi akibat rusaknya saluran irigasi diperkirakan mencapai 792 ha. Ribuan hektar area tambak (umumnya untuk budidaya udang dan bandeng) juga mengalami dampak langsung akibat penurunan kualitas air. Disamping itu, terjadi penurunan kegiatan ekonomi wilayah2 desa yang terisolir akibat akses jalan ke desa mereka terputus akibat genangan lumpur ini.
Dampak Ikutan Lainnya
Dampak ekonomi lain juga dirasakan oleh kegiatan ekonomi rakyat disekitar lokasi semburan. Misalnya sentra industri tas dan kulit Tanggulangin, kegiatan ekonomi masyarakat di sekitar pintu keluar tol gempol, penambang pasir disepanjang Kali Porong, serta sentra bordir di Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
Sentra industri tas dan kulit Tanggulangin terkenal memproduksi tas dan berbagai produk kulit seperti dompet, ikat pinggang, jaket dan lain-lain. Sebelum lumpur jumlah pelaku usaha mencapai 852 unit dengan jumlah showroon mencapai 200 lebih, dengan pembeli sampai ke luar Jawa (Bali dan wilayah lain Indonesia Timur). Bencana lumpur ini telah memangkas 60 sampai 80 persen dari total pengusaha yang sebelumnya beroperasi.
Kegiatan ekonomi di sekitar pintu keluar tol Gempol memanfaatkan puluhan ribu kendaraan yang biasanya melewati pintu tol. Berbagai jenis usaha mulai dari makanan, oleh-oleh, kerajinan dan berbagai produk lainnya, tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar, namun dari seluruh Jawa Timur. Sebelum bencana lumpur ini, diperkirakan 200 sampai 300 unit usaha, yang kini terpangkas hanya tinggal 20 sampai 30 persennya saja.
Kegiatan penambang pasir secara tradisional memanfaatkan sedimen Kali Porong untuk dijual sebagai bahan bangunan. Kegiatan ini melibatkan ribuan orang dari desa-desa disepanjang Kali Porong. Kini kegiatan tersebut terhenti total akibat endapan lumpur yang sangat tebal, sehingga tidak mungkin lagi menggali pasir.
Sentra pengrajin bordir di Kecamatan Bangil terkenal dengan berbagai hasil kerajinan bordir dan busana muslim wanita lainnya. Akibat tersendatnya jalur transportasi, pasar utama pembeli dan pedagang di sejumlah pasar grosir di Surabaya, menjadi enggan akibat naiknya biaya produksi dan harga jual, serta keterlambatan pengiriman. Asosiasi Pengusaha Bordir (Aspendir) Bangil yang berjumlah 110 pengusaha, mengalami penurunan omzet hingga 75 persen, dan yang mampu bertahan kini hanya tinggal 60 persennya saja.
***
Dua tahun setengah semburan lumpur Lapindo juga menjadi saksi ambruknya banyak sekali kegiatan ekonomi masyarakat. Tidak hanya mereka yang menjadi korban langsung (mereka yang rumahnya tenggelam), tetapi mereka yang tinggal disekitar lokasi semburan.
Sementara Lapindo dan pemerintah hanya fokus pada urusan penanggulangan dan jual beli aset, kerugian sektor ekonomi rakyat ini masih terabaikan. Dengan kondisi ekonomi nasional dan global yang kian sulit, upaya pemulihan yang mengandalkan sumber daya dari para pelaku usaha sendiri juga akan semakin berat. [win]