30 March 2008

Asal Bau Itu
Oleh Zahroh

Geger antara Pak Suryawan dan murid-murid yang terlambat sekolah adalah ritual pembuka sekolahku. Karena hadiah khususnya, macam push up, loncat-jongkok, lari-lari keliling lapangan. Teman-teman sekolahku menamai guru biologi ini sebagai the killer teacher.

Saya selalu datang ke sekolah lebih awal agar tidak berhadapan dengan Pak Surya. Baru melihat Pak Surya saja saya sudah keder apalagi kalau dapat sarapan pagi dari Pak Surya. Amit-amit.

Pagi itu, akhir Mei 2006, di depan sekolah sudah banyak anak-anak ramai dan ada Pak Surya pula. Aku sudah takut karena mengira sudah terlambat sekolah. Segera aku percepat kayuhan sepedaku di pojok parkir sekolah.

Di tempat parkir, aku bertemu Nia, teman sekelasku. Setelah basa-basi sebentar aku tanya dia.

“Kamu telat juga? Banyak ya yang telat ya hari ini?”

Nggak kok, kan belum jam masuk?” Jawab Nia.

Karena aku takut sama Pak Surya aku jadi aku tak sempat melihat jam tangan dan memang benar belum lagi jam masuk sekolahku. Aku lantas mengalihkan pembicaraan, “lho kok ramai sekali anak-anak di depan sekolah. Emang ada apa?” Aku mendekati Nia.

“Kamu belum ta? Ada semburan Lumpur di desa ini,” mukanya meyakinkanku.

”Apa semburan Lumpur?” Aku sempat tak percaya apa yang telah Nia ucapkan padaku.

“Iya, di sebelah barat sekolah kita ada pabrik gas PT Lapindo Brantas Inc,” jelas Nia, “ada yang bilang semburan itu karena kelalaian pabrik dan ada pula yang bilang akibat pergeseran tanah akibat gempa Jogja.” Kami mengobrol sambil berjalan menuju ke kelas. Aku lega karena tak harus berhadapan dengan Pak Surya.

“Emm, gitu ya ceritanya. Wah aku ketinggalan nih ceritanya!”

“Masak kamu nggak mencium bau yang nggak enak kayak gini sich?”

“Ya sih, tapi nggak tahu bau ini berasal dari mana. Emang kenapa?”

“Ih. ya bau ini bau semburan Lumpur itu tau!” Nia jengkel melihatku karena aku dari tadi tanya melulu.

Tapi mungkin memang seluruh keluarga besar sekolahku telah banyak yang mengetahui hal itu. Mungkin aku salah satu orang yang ketinggalan berita itu. Mulai saat itu pelajaran telah ditiadakan siswa-siswi mulai banyak yang keluar masuk kelas. Mereka tampaknya senang sekali.

Seperti burung yang telah lama dikurung dalam sangkar kemudian dilepaskan begitu saja. Bebas dengan senangnya. Layaknya mereka saat itu. Sebab tidak pusing memikirkan pelajaran. Tapi hanya untuk saat itu saja. Mungkin guru-guruku juga tengah membicarakan hal itu, “Semburan Lumpur.“

Aku masih punya banyak pertanyaan soal semburan lumpur. Penjelasan Nia kalau semburan itu di sebelah barat sekolahku belum cukup bagiku. Aku tak tahu kalau ada pabrik gas di tempat itu. Setahuku pabrik gas di tempatku cuma satu di desa Permisan. Aku baru tahu ada pabrik gas di Renokenongo bernama Lapindo Brantas Inc.

Obrolan ini menjadi tema pagi itu di sekolah. Semua orang membicarakannya. Hingga suara. Bel panjang ting, ting, ting. Sekolah dipulangkan lebih awal hari itu. Aku penasaran dan ingin segera melihat lumpur yang dibicarakan semua orang itu.

Bersama kawan-kawan sedesaku aku mengayuh sepeda merahku bersama teman-teman menuju semburan lumpur. Di ujung Renokenongo, Lumpur telah meluber ke jalan raya. Jalan yang menghubungkan Malang-Surabaya itu panas dan berdebu dan makin berdebu lagi karena lalu-lalang truk-truk yang membawa beban berat. Dan tak hanya jalan raya saja yang sudah digenangi lumpur tapi areal persawahan pun juga sudah sebagian ada yang terkena luberan Lumpur.

“Aduh, kok bisa begini ya?” Keluhku pada teman-temanku.

“Wajah orang-orang terlihat resah melihat semburan itu kasihan mereka. Ya, mudah-mudahan saja semburan Lumpur ini bisa cepat dihentikan ya,” jawab kawanku.

“Amin-amin,” seru Rida pada kami.[end]

Bersambung.

0 comments: