3 August 2007

Islam Menurut Novelis Kristen

Oleh Imam Shofwan

Pandangan orang Barat terhadap Islam umumnya penuh dengan stereotip negatif seperti Islam identik dengan terorisme, poligami, dan jihad. Pandangan semacam ini semakin dikukuhkan pasca pemboman gedung WTC 9 September 2001 lalu yang dikenal dengan peristiwa 9/11.

Namun pandangan ini akan lain jika seorang datang langsung, hidup bersama, dan melihat keseharian umat Islam. Minimal inilah yang dilakukan oleh Camilla Gibb, seorang antropolog lulusan Oxford University ini, yang pernah tinggal di dua negara Islam. Pertama dia pernah tinggal di Mesir selama satu tahun dan pada 1994/1995 dia tinggal di Eithopia untuk penelitian antropologi untuk tesis Phd-nya. Di sana dia melihat langsung bagaimana orang-orang Islam mempraktekkan agama dan berjuang melawan kekerasan dan kelaparan.

Dia merasa menulis tesis tidak cukup memuaskan dirinya. Karena harus ditata berdasarkan berbagai teori dan aturan-aturan lain yang menurutnya mereduksi banyak hal yang dia saksikan. Setelah dia lulus Phd dia memulai cara penulisan baru yang bisa menampung semua yang dia saksikan itu. Belakangan dia tahu bentuk novel bisa mengakomodasi keinginannya. Dan pada 1999 diterbitkanlah novel perdananya Mouthing The Words, kemudian The Petty Detail of So-and-so’s Life pada 2002 dan novel terbarunya Sweetness in the Belly terbit pada akhir 2005. Karya ini yang kemudian mengantarkannya ke Indonesia.

Pada Kamis 22 Maret kemarin, Gibb diundang kedutaan Kanada di Jakarta untuk membicarakan karyanya bersama dua orang novelis Indonesia dalam sebuah seminar dengan tema Agama dan Perempuan dalam Sastra, Pengalaman Indonesia dan Kanada. Sebelum acara, dia memberikan bocoran isi karya terbarunya saat wawancara dengan kontributor Syirah, Imam Shofwan, berikut petikannya:

Anda pernah bilang kalau Novel ini terinspirasi dari al-Quran, sejauh mana pengaruhnya?

Sebelumnya saya ingin katakan kalau saya adalah seorang nasrani, jadi saya bukan seorang muslim, saya belajar al-Quran lewat terjemahan dalam bahasa Inggris. Al-Quran tidak mengalami penulisan ulang dan hanya memiliki satu versi, selain itu saya kira keindahan bahasa yang puitis yang menarik dan memberi inspirasi saya.

Bagaimana Anda tahu keindahan bahasa kalau mempelajari dari terjemahan?

Saya juga belajar bahasa Arab sebelum ke Mesir. Dan yang lebih menarik (al-Quran) adalah kitab yang komprehensif dan mengatur semua aspek kehidupan Muslim.

Selain itu, sebagaimana yang saya lihat di Eithopia, bagaimana al-Quran diajarkan seorang ayah pada anaknya dari generasi ke generasi selanjutnya ini menarik saya.

Gibb dilahirkan di United Kingdom Inggris dan pada usia 3 tahun pindah ke Toronto Kanada bersama orang tuanya dan di sinilah dia tinggal hingga kini.

Tokoh Lilly dalam novel terbaru anda mirip dengan karakter Anda yang berpindah dari satu tempat ketempat lain. Lilly juga seorang perempuan Barat yang mengunjungi Eithopia, yang membedakan hanya dia seorang muslim dan Anda bukan?

Saya ingin menggambarkan kehidupan seorang perempuan dari keluarga hippi (orang yang suka hidup bebas) Eropa yang ditinggal orang tuanya di Eithopia dan bagaimana dia mencari jati dirinya. (dalam wawancara lain Gibb menyatakan yang dicari tokoh Lilly adalah Cinta dan Kebahagiaan)

Karakter semacam ini yang tidak bisa saya munculkan secara detail dalam karya akademik dan bisa dengan bebas saya tuangkan dalam novel.

Secara umum novel ini tidak terjebak pada pandangan umum Barat pada Islam yang dianggap identik dengan teroris, bisa jelaskan soal ini?

Ini pula ingin saya sampaikan dan bisa tertuang dalam novel. Saya melihat Islam dipandang dengan banyak sekali stereotip yang negatif oleh orang Barat khususnya paska kejadian 9/11. Pandangan umum ini tidak berlaku di Kanada, terutama di Toronto tempat tinggal saya. Di Toronto 50% penduduknya bukan kelahiran asli sana angka ini lebih besar daripada di Kanada secara umum yang 20% dari penduduknya bukan kelahiran asli Kanada.

Hal ini berlangsung sejak saya kecil. Saya masih ingat waktu kecil saya punya seorang kawan dari Pakistan. Saya bertanya padanya dengan pertanyaan yang sangat umum dilontarkan oleh orang Kanada, “Where are u From?” ”Kamu darimana?”, dan dia menjawab, Pakistan.” Saat itu saya tanya apa itu Pakistan dan dia menjawab, “Semacam negara.”

Hal ini membekas dan membuat saya ingin tahu lebih soal Pakistan dan hal lain yang multikultur di Kanada. Dalam suasana multikultural ini Kanada berhasil dalam akulturasi berbagai budaya dan hidup bersama-sama dengan toleransi.

Kondisi toleransi dari berbagai budaya ini yang saya rasakan dari kecil yang ingin saya ceritakan dalam novel saya.

Apa anda ingin melawan stereotip umum Barat ini?

Tentu saja, saya ingin menggarisbawahi bahwa saya menulis ini jauh sebelum kejadian 9/11. Jadi streotip yang ada di Barat pada umumnya tidak berlaku di Kanada. Menurut saya stereotip semacam jihad yang identik dengan teror ada di Islam namun hanya pada kelompok kecil Islam dan interpretasi minoritas.

Di Eithopia, misalnya, saya menemukan arti jihad yang lain, yaitu; jihad secara internal atau jihad individu yaitu perjuangan untuk menjadi pribadi yang baik, jihad melawan kemiskinan dan kebodohan.

Bagaimana soal poligami yang ada di Islam?

Saya juga tidak menemukannya di Eithopia, di sana terlalu mahal untuk poligami. Dari pada untuk poligami lebih baik untuk makan. Dan dalam Islam, saya tahu praktek poligami yang dilakukan Muhammad adalah untuk janda-janda tua dan miskin.

Apakah akulturasi ini didukung oleh kebijakan pemerintah Kanada?

Seperti tadi saya bilang, banyak orang Kanada bukan kelahiran asli Kanada. Banyak pendatang dari Yunani, Skotlandia, Libanon, Palestina.

Angka penduduk muslim di sana sekitar 70.000 dan merupakan 2% dari keseluruhan penduduk dan dua kali lipat dari penduduk yang beragama Sigh, Yahudi, dan Hindu.

Dan ini membutuhkan kebijakan multikultur dari pemerintah. Sejauh ini banyak kebijakan yang mendukung hal ini, misalnya kursus-kursus berbagai bahasa yang banyak difasilitasi pemerintah.

Selain Anda ada beberapa novelis Kanada lain yang menulis soal Islam, apakah ini trend baru?

Betul, ada sekitar 4 novelis lain yang menulis soal Islam dan bukan dari kalangan Islam. Dan mereka rata-rata menulis perspektif lain soal Islam dari umumnya pandangan Barat soal Islam. Saya juga beruntung karena penerbit-penerbit di sana juga suka dengan kampanye toleransi ini.

0 comments: