14 September 2007

Seribu Kanvas Juragan Tembakau

Oleh Imam Shofwan

SEBATANG rokok terselip di bibir Munir Thalib. Sebelum hidupnya dijegal ajal yang dipaksakan, pejuang hak asasi manusia itu tidak lagi berstatus sebagai perokok berat. Tapi Agus Suwage memilih melukis Munir dengan rokok.



Kutipan sajak “Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi” yang menjadi judul lukisan itu, mengingatkan pada Chairil Anwar, sang pencipta bait puisi. Dalam potretnya yang paling populer, Chairil juga sedang menghisap sebatang rokok.

Untuk seri lukisan ini, Suwage juga melukis wajah Putri Diana, Marilyn Monroe dan Bob Marley. Semua tokoh dunia yang mati muda. Dalam lukisan-lukisan wajah itu Suwage ingin menghadirkan perbenturan. “Idenya kontradiksi antara kenginan hidup dan rokok yang merupakan simbol penyebab kematian” kata Suwage.

Suwage memamerkan seri lukisan ini, pertama kalinya, pada Bali Biennale tahun 2005. Awalnya dia lukis dengan cat air di atas kertas, lantas dia perbesar ke atas kanvas berukuran 1,5x21,2 meter. Suwage berencana melukis 40 tokoh untuk tema lukisan itu. Tapi proyek itu belum selesai ketika gempa menghajar Jogjakarta pada akhir Mei 2006.

Nama Suwage banyak dibicarakan sejak karyanya Pingswing Park hasil kolaborasi bersama Davy Linggar dipersoalkan oleh sebuah ormas Islam karena menggambarkan Anjasmara dan Isabel Jahja, seorang bintang sinetron dan model tenar Indonesia, tanpa sehelai benang.

Pada Juli 2006, Suwage mengikutkan karya itu pada pameran yang digelar Oei Hong Djien Magelang. “Oei Hong Djien kan juragane mbako (juragan tembakau), dan saya ingin Oei hidup seribu tahun lagi,” kata Suwage dengan logat Jawa yang kental.

Tisna Sanjaya, perupa asal Bandung juga berpartisipasi pada pameran itu. Kreator karya instalasi Special Prayer for the Dead yang pernah dibakar satuan Pamong Praja Kotamadya Bandung pada Febuari 2004 itu menyertakan karya berjudul Siklus Abu. Tisna menyebut metodenya self body print, dengan menggunakan abu bekas pembakaran.

Perupa asal Bali, Made Wianta, beberapa bulan sebelum acara sudah ada di Magelang untuk pameran itu. Wianta memasang daun tembakau berukuran besar pada langit-langit tempat pameran. Wianta menyebut karyanya sebagai “Sambutan dari Atap Cinta.”

Total ada sekitar 100 seniman yang kebanyakan dari Jogjakarta terlibat untuk menyulap gudang tembakau milik Oei menjadi tempat pesta pernikahan yang mewah.

Namanya saja hajatan juragan tembakau. Tajuk pamerannya saja “Seni dan Tembakau.” Pameran itu memang sekaligus jamuan pernikahan putra pertama Oei. Hadirin pesta itu sekitar 8.000 orang. Kebanyakan dari mereka pelaku seni rupa Indonesia, mulai dari pelukis, pematung, pemilik galeri sampai para kolektor.

Kalau soal pesta pernikahan, banyak yang bisa melakukan yang lebih mewah. Tapi jamuan pernikahan dengan bertabur ratusan karya seniman, hanya orang seperti Oei yang mampu. Oei Hong Djien adalah nama yang dihormati di jagat seni rupa Indonesia. Bukan sekadar karena dia kolektor berkocek tebal. Tapi cintanya pada dunia seni rupa.


CINTA Oei pada seni rupa terlihat pada sebuah bangunan berlantai berlantai dua seluas 200 m2 di sebelah rumahnya yang asri di Kwarasan, Magelang. Letaknya sekitar 500 meter arah utara obyek wisata Kyai Langgeng. Museum pribadi itu dibangun Oei tahun 1997 ketika koleksinya mencapai seribu lukisan hingga dinding rumahnya tak tersedia celah pajangan lagi.

Saya berkunjung ke sana pertengahan November lalu. Saya menuju ruangan berdinding kaca di depan museum yang jalan masuknya dipagari sebuah kolam. Di tengah kolam ada sebuah patung kura-kura karya G Sidharta. Di ruangan itu Oei sedang bersama 11 orang. Seluruhnya wanita. Rupanya petang itu jadwal Oei berlatih dansa. Di bawah arahan seorang pelatih line dance (dansa masal tidak berpasangan) Oei berdansa lebih dari 20 lagu. Dari salsa, rhumba, cha cha, jive sampai dangdut.

Pada usianya yang ke 67 gerakan Oei masih terlihat berenergi. Para wanita satu per satu menjadi mitra Oei berdansa. Dari gerakan mereka yang lentur dan teratur tampak kalau mereka terlatih. Nama klub dansa itu OHD. Lekas terkesan nama itu disingkat dari Oei Hong Djien. “OHD maksudnya Olahraga Harian Duda,” kata Oei tertawa lebar.

Masih mengucur peluh dari tubuhnya, tapi selekas latihan Oei mengajak saya melihat koleksi lukisannya. Museum Oei menampung 294 lukisan dan 24 empat patung. Pintu masuknya dibuat oleh Yayat Surya. Patung dari Syahrizal Koto, lukisan S Teddy D dan sebuah asbak logam dari Yusra Martunis menjadi karya penyambut sejak masuk pintu museum.

Ruang kaca tersebut didesain seperti teras beratap yang terletak di depan bangunan dua lantai yang menjadi ruang utama. Di sana terdapat lukisan-lukisan karya pelukis-pelukis kontemporer Indonesia. Setelah tiga karya penyambut, terdapat lukisan berukuran besar yang dibuat Nasirun tahun 2005. Pada kanvasnya tertulis karya itu diilhami karya Hendra Gunawan Pertiwi Hormat. Juga ada karya instalasi pematung Nyoman Nuarta berjudul Ground Zero.

Memasuki lantai dua, ada empat kanvas lukis karya pelukis muda Jogjakarta, Bayu Yuliansyah. Sekilas tampak biasa saja, masing-masing kanvas menggambarkan sebatang rokok menyala dalam posisi berdiri. Cerita, kalaupun itu ada, pada lukisan itu adalah pada perubahan bentuk asapnya. Pada kanvas keempat batang rokok semakin pendek tersisa dan asapnya membentuk sosok tubuh wanita telanjang. Lukisan itu dibuat Yuliansyah belum lama ini, ketika marak wacana RUU Antipornografi dan Pornoaksi.

Masih banyak karya lain yang tidak bisa terpajang di museum Oei. “Di museum hanya 25 persen dari koleksi saya, sebagian besar yang lain masih di gudang,” kata dia.

Oei masih memiliki banyak koleksi lain yang kalau periodenya dirunut dimulai dari karya para pelukis awal masa kemerdekaan. Mulai dari aliran ekspresionis dan impresionis yang dimotori oleh Affandi, Hendra Gunawan, S Sudjojono dan Lee Man-Fong. Lalu generasi pelukis lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)—kini jadi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta—kemudian generasi pelukis dari Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), dari Institut Kesenian Jakarta, hingga generasi pelukis kontemporer Jogjakarta yang mengusung aliran metarealisme, simbolisme, abstrak, dan ekspresionis.

Oei juga mengoleksi karya-karya pelukis Belanda yang pernah bermukim di Indonesia seperti Walter Sipes, Pieter Ouborg, dan Jan Frank.

Dari koleksi Oei bisa ditilik catatan sejarah tentang peranan para pelukis pada zamannya, dari membantu propaganda kemerdekaan hingga saksi sejarah atas kekejaman PKI atas seniman-seniman LEKRA. Misalnya karya pelukis Trubus Soedarsono yang meninggal saat kudeta PKI 1965 juga tersimpan di museum tersebut. Trubus dan Hendra Gunawan adalah pengajar Djoko Pekik, pelukis Selain itu murid Trubus yaitu pematung Soetopo yang karya-karyanya menyebar di seluruh Indonesia juga disimpan di sana. Karya-karya Soetopo antara lain: Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Brawijaya di Surabaya, Monumen Jaman Ginting di Medan, di hotel Indonesia di Jakarta, dan di hotel Ambarukmo di Jogjakarta.

Koleksi-koleksi Oei juga menjadi saksi berbagai organisasi seniman di Indonesia dan peranannya dalam masyarakat. Sejak Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) pada zaman Belanda para senimannya mereka menggelorakan perlawanan dengan jargon Mooi Indie, kemudian organisasi Poetra (pusat kegiatan rakyat), kemudian saat revolusi dimana para seniman membentuk SIM (Seniman Indonesia Muda), hingga organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada tahun 1950 hingga 1960an.

Di belakang rumahnya Oei menyimpan koleksi klasik karya maestro-maestro lukis Indonesia. Seperti Affandi, Widayat, dan S. Sudjojono. “Tiga pelukis ini adalah favorit dan sahabat saya,” tutur Oei.

Oei juga menaruh minat pada lukisan wanita telanjang. Di kamarnya dia dia menggantung tiga lukisan wanita telanjang dari S. Sudjojono, Antonio Blanco dan Lee Man Fong. “Belakangan karya Sudjojono saya ganti dengan Karya Hendra yang telanjang juga,” tutur Oei.

Walaupun semua ruangan rumahnya sudah dipenuhi dengan lukisan dan bahkan banyak yang tak terpajang, Oei masih rajin memburu lukisan. Sampai ke mancanegara sekalipun. Ketika istrinya, Wilowati Surjanto, masih hidup ada yang bertindak sebagai pengontrol kegilaannya pada lukisan. Wilowati meninggal pada 1992.

“Sejak istri saya meninggal tidak ada lagi rem,” kata Oei.


OEI Hong Djien lahir di Magelang pada 5 April 1939. Dia putra kedua dari tiga anak pasangan Oei Kok Hie dan Tjan Marie Giam Nio. Oei kecil terbiasa melihat lukisan-lukisan tua peninggalan Belanda milik ayahnya. Begitu pula ketika dia SD di Semarang. Di sana dia tinggal di rumah neneknya yang juga menyukai lukisan. Oei masih menyimpan beberapa dari lukisan milik ayah dan neneknya.

Oei hidup berpindah-pindah, tapi rumah yang ditinggalinya selalu dihiasi lukisan. Tak terkecuali saat dia di Jakarta untuk belajar di SMP Katolik Aloysius I. Di kelas tiga dia pindah ke Bandung dan tinggal di kediaman Kwi Sian Yok, sepupunya. Kwi Sian adalah kritikus seni di mingguan Star Weekly dan lulusan sekolah gambar Teken Akademi, Bandung, angkatan pertama.

Dari perkenalan dengan beberapa pelukis Bandung macam Umar Sudjoko, Mochtar Apin, yang juga teman seangkatan sepupunya, kegemaran Oei pada lukisan semakin membuncah. Oei Kok Hie mendambakan anaknya menjadi dokter. Juragan tembakau di Magelang ini lantas mengirim Oei ke Jakarta lagi untuk belajar kedokteran di Universitas Indonesia.

Ketika belajar di UI Oei giat mengikuti perkembangan seni rupa Indonesia dan rajin mengunjungi pameran. “Waktu itu hanya lihat-lihat saja belum mampu beli,” kenang Oei.Lulus dari UI, Oei berangkat ke Belanda, belajar spesialis patologi anatomi di Catholic University, Nijmegen. Oei rajin melihat pameran lukisan dan menyambangi berbagai museum di negeri kincir angin ini. Sangat ingin dia memiliki lukisan asli, tapi apa boleh buat, statusnya yang masih mahasiswa. “Saya hanya mampu membeli reproduksinya,” tutur dr Oei.

Tahun 1968, pulang dari Belanda Oei bekerja di Balai Pengobatan Pancasila, organisasi Gereja Katolik yang membantu pengobatan untuk masyarakat kurang mampu. Wilayah kerja Oei meliputi daerah-daerah terpencil di Kabupaten Temanggung.

Sepuluh tahun bekerja, Oei belum mampu membeli lukisan tapi dia punya banyak waktu luang bertandang le galeri-galeri atau mengikuti seminar seni rupa. Dia semakin paham karya-karya yang bagus dan ingin memilikinya. Oei juga mulai mengenal banyak pelukis dan bersahabat dengan mereka. Tahun 1979 dia mulai mengelola gudang tembakau yang diwariskan ayahnya. Tak hanya harta Oei juga mewarisi bakat ayahnya sebagai grader (ahli tes tembakau).

Setelah tiga tahun menjadi grader PT Djarum Kudus, Oei mengalami panen tembakau yang melimpah akibat musim kemarau yang panjang. Harga satu kilogram tembakau setara dengan tiga gram emas murni. Oei pun berkesempatan mewujudkan impiannya membeli lukisan. Tidak tanggung-tanggung dia membeli tiga karya maestro lukis Indonesia Affandi berjudul Perahu Madura, Adu Ayam dan lukisan yang paling populer Potret Diri. Karena kenal dengan Affandi, Oei bisa membayar dengan mencicil. Jumlahnya Rp. 1 juta, dilunasi dalam setahun.

Setelah memiliki tiga lukisan itu, Oei kian keranjingan dengan dengan karya-karya Affandi lainnya. Bahkan setelah Affandi meninggal dunia. Tak sulit bagi Oei untuk mengetahui siapa saja orang yang memiliki karya-karya Affandi, bahkan yang di luar negeri. Salah satunya adalah Yoseas Leao, mantan duta besar Brazil untuk Indonesia. Leao jua menggemari karya-karya S Sudjojono dan Widayat.

Setelah Leao meninggal koleksi dilelang. Oei terbang ke Rio de Janeiro. Dia memborong 20 lukisan koleksi Leao karya ketiga maestro lukis Indonesia tersebut.

Oei menyukai semua jenis lukisan dari realis, abstrak, surealis, ekspresionis, dekoratif sampai kontemporer. Kriterianya lukisan yang menarik baginya sangat sederhana, yang mampu menyentuh perasaannya. “Pendeknya yang mampu menyentuh rasa saya, saya ambil. Walaupun itu karya pelukis-pelukis muda,” tutur dr Oei.

Menemukan karya-karya besar dari para pelukis berbakat yang belum terkenal adalah kenikmatan tersendiri bagi Oei dan sangat menantang naluri seninya. Oei menyebut orang-orang berbakat ini dengan istilah “the future” atau pelukis muda yang akan muncul. Kebanggaannya semakin berlipat ketika pelukis-pelukis tersebut tenar dan Oei telah memiliki karyanya.

“Itu baru tantangan yang nikmat,” tutur dr Oei.

Tidak hanya sekali dua kali dr Oei merasakan kenikmatan macam ini. Nasirun contohnya. Oei langsung jatuh cinta pada Perjalanan Absurd karya Nasirun saat pertama kali melihatnya. Itu terjadi tahun 1995, setahun setelah Nasirun lulus dari Institut Seni Rupa (ISI) Jogjakarta.

Oei menyebut pelukis kelahiran Cilacap tahun 1965 ini dengan satu kata “unik”. Kultur Jawa yang kuat yang menjadi latar belakang Nasirun, menurut Oei, membuat karya-karya Nasirun tidak dapat dicipta seniman-seniman barat.

Ibarat sastrawan yang sarat perbendaharaan kata, Nasirun bagi Oei adalah kamus seni lukis. Setiap karyanya selalu menampilkan perbedaan detail walaupun temanya dekat.

Selain itu, latar belakang seni kriya yang dia pelajari saat di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) juga menyebabkan goresan kuas Nasirun selalu khas. “Nasirun mampu menampilkan gabungan antara surealisme, ekspresionisme, dan dekoratif dalam tiap lukisannya. Dia favorit saya,” tutur dr Oei.

Oei juga berperan dalam membesarkan nama I Made Djirna dan Entang Wiharso. Keduanya kini sering berpameran di luar negeri. Oei juga sering meminjamkan koleksinya untuk dipamerkan di galeri-galeri. Pameran macam itu yang mengangkat nama para pelukis muda.

Oei menjadi semacam pengarah tren dalam pasar seni rupa Indonesia. Karena ketajaman penilaian dan prediksinya pada bakat seniman muda, banyak kolektor lain datang padanya untuk berkonsultasi.

Memang trend bisa direkayasa, nilai karya pelukis muda bisa “digoreng” oleh orang seperti Oei yang dipercaya oleh kolektor maupun “kolekdol”. Kolekdol sebutan bagi kolektor yang semata-mata menempatkan karya seni rupa sebagai investasi, dibeli untuk dijual lagi.

Oei tidak pernah meniatkan untuk menjual lukisan. Kecuali dia tidak lagi cinta dengan salah satu koleksinya. Itupun jarang dia lakukan. Kalau sudah tidak suka lagi, paling-paling dia menghadiahkan pada orang lain.

Integritas Oei dalam dunia koleksi materi seni rupa pernah dituliskan oleh Eddy Soetriyono, seorang kritikus seni rupa dan penyair. Oei yakin dengan penilaian estetisnya sendiri, dia berani mengatakan tak suka meski pada sebuah karya yang “berhasil” menjadi mahal.

“Coba bandingkan kekayaan dan mutu artistik koleksi Oei Hong Djien dengan koleksi museum pemerintah. Juga, bagaimana dengan tegas ia tidak mengoleksi lukisan penari-penari dan barong Bali karya Sunaryo yang meskipun laris dengan harga ratusan juta rupiah tapi secara kualitas artistik di mata Oei Hong Djien ‘jauh di bawah pencapaian lukisan abstraknya.”

Oei Hong Djien juga menghargai tinggi lukisan-lukisan periode kubis dan horizon karya Srihadi Sudarsono, tapi dengan lantang menilai rendah estetika para penari karya Srihadi. Yang harganya pernah mencapai Rp 1 miliar dan laris manis di pasaran itu. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang otaknya hanya berisi gumpalan ‘uang’ dan ‘untung’….’ Tulis Soetriyono.

Museum Oei adalah rujukan para kolektor lain tentang karya pelukis muda yang layak dikoleksi. Kolektor yang berorientasi untung biasanya akan mendatangi pelukis itu untuk membeli seluruh karyanya atau mengontraknya untuk membuat sejumlah lukisan dalam waktu tertentu. Tisna Sanjaya, dalam artikelnya di Majalah Playboy, menyebutkan setelah lukisannya dibeli Oei dia dikejar-kejar para kolektor yang menginginkan karyanya. Kalau kolektor sudah memasuki dapur seniman, besar kemungkinan proses kreatif seniman akan terganggu.


BIANTORO Santoso, pemilik Nadi Galeri, Jakarta, mengatakan sejarah seni rupa terutama seni lukis Indonesia ada pada koleksi dua orang. Soekarno dan Oei. “Kalau koleksi keduanya digabungkan maka lengkaplah sejarah seni lukis Indonesia,” kata Biantoro.

Biantoro menjelaskan di negara-negara lain ada tiga pasar seni rupa, yakni kolektor perorangan, perusahaan dan Museum. “Museum biasanya kuat dan lengkap karena didanai pemerintah dan biasanya ditangani oleh tim kurator yang profesional. Sedangkan kolektor dan perusahaan lebih berdasarkan kesukaan pemilik perusahaan dan sang kolektor,” kata dia.

Di Indonesia sampai zaman pemerintahan Soekarno yang ada hanya kolektor perorangan termasuk Soekarno sendiri, sedang museum dan perusahaan tidak memperhatikan seni. Oei menurut Biantoro sangat berjasa dalam mengumpulkan karya-karya seni yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Biantoro juga memaklumi kalau koleksi-koleksi Oei sangat tergantung pada seleranya. “Sangat subyektif jadinya, dan sangat suka-suka dr Oei,” kata Biantoro.

Bagi Biantoro, kelebihan Oei adalah kontinuitas mengkoleksi lukisan selama lebih dari 25 tahun. Hebatnya lagi dia tidak membatasi koleksi hanya pada Maestro namun dia juga menggemari lukisan-lukissan dari pelukis-pelukis muda. “Tak banyak orang yang mampu melakukan hal ini, disela-sela kesibukannya dia selalu meluangkan waktu untuk membeli lukisan,” tutur Biantoro.

Banyak yang telah merasakan manfaat dari koleksi lukisan Oei. Salah satunya adalah DR Helena Spanjaard, ahli sejarah seni Indonesia asal Belanda. Dia mempelajari seni rupa di seluruh Indonesia dan menemukan banyak sumber dan contoh lukisan yang dia cari dari koleksi-koleksi dr Oei. Dalam buku Exsploring Modern Indonesian Art, the Collection from Oei Hai Djien, Spanjaard merekomendasikan pada orang yang hendak mempelajari seni rupa modern Indonesia supaya mendatangi museum Oei.

Sejarah seni rupa Indonesia mencerminkan sejarah nasional Indonesia. Setelah Belanda memperkenalkan cat minyak pada masa penjajahan. Banyak pelukis Indonesia mengabadikan masa kolonial lewat lukisan.

Pada tahun 1950an, tak banyak orang yang mau membeli lukisan. Ketika dalam proses penemuan gaya dan identitas seni lukis modern, produktivitas para pelukis dipacu oleh Soekarno. Soekarno adalah kolektor seni sejati. Dia membeli karya seni karena kecintaan terhadap seni, bukan untuk dijual lagi.

Menurut Oei koleksi Soekarno telah terhenti sampai pada tahun 1950an Terbukti dengan tidak adanya koleksi dari tidak adanya karya Widayat dan generasi yang lebih muda darinya, dalam koleksi Soekarno. “Saya ingin meneruskan Soekarno. Saya ingin membikin suatu koleksi yang representatif dan the highest quality,” tutur Oei.

Pada tahun 2001, setahun sebelum meninggal dunia, Widayat pernah menulis dua permohonan pada Tuhan. Pertama, dia ingin Oei bisa menikmati umur panjang agar bisa melanjutkan kecintaannya terhadap perkembangan seni rupa dan menambah koleksi museumnya dengan karya-karya dari pelukis-pelukis muda. Yang kedua, adalah agar kedua putra Oei mewarisi kecintaan yang sama dengan Oei akan seni dan karya-karya seni, agar koleksi dr Oei aman pada kemudian hari.

Ada kekhawatiran dalam tulisan Widayat tentang masa depan koleksi Oei setelah dia meninggal. Oei juga faham dengan kekhawatiran tersebut. Dia telah belajar banyak dari pengalaman Yoseas Leao. “Dia adalah kolektor hebat, banyak karya-karya pelukis hebat Indonesia yang dibawa pulang ke Rio de Janeiro. Namun setelah dia meninggal dia koleksi-koleksi tersebut dijual semua,” tutur Oei.

Menurut Oei dia sudah melatih dua putranya untuk mencintai seni dengan mengenalkan mereka para seniman-seniman hebat seperti Widayat dan Affandi. Dia yakin kalau anaknya juga suka seni, “waktu kecil saja mereka memilih (karya) Affandi daripada BMW.”


LIMA belas menit dari kediaman Oei ke arah timur atau Kopeng, Boyolali, ada desa Sorobayan, Magelang. Di sanalah gudang tembakau milik Oei. Puluhan petani, para tengkulak tembakau serta pekerja gudang sedang berkumpul saat saya memasuki pekarangan gudang. “Juragane bako di ruang kaca,” seseorang menjawab, beberapa orang menunjuk sebuah ruangan disamping gudang.

Saya menuju ruangan yang dituntuk dan mendapati Oei sedang asyik dengan tembakau hasil rajangan berbentuk kubus. Oei menyebutnya sebagai “monster” atau contoh. Tiap monster mewakili satu keranjang tembakau. Tembakau ini berwarna hijau bercampur kuning , Oei mencomot satu monster kemudian dia mencium aromanya berkali-kali. Dia pungut rontokan tembakau dan melintingnya dengan selembar kertas rokok. Ujung lintingan dia bakar dan menghisap asapnya perlahan.

“Tunggu sebentar nanti saya ambil tembakau srintil,” tutur dr Oei, dia berlalu menuju lemari kayu. Dia berjalan ke arah saya dan membuka bungkusan kertas warna kuning. Aroma selai pisang meruap. Isinya tembakau warna hitam. Ketika saya sentuh terasa lengket.

“Ini adalah tembakau kwalitas terbaik,” tutur Oei.

Oei menjelaskan bagaimana menilai tembakau dan cara memanennya. Ada sembilan derajat kualitas tembakau, kelas A, B, C, D, sampai I. Srintil adalah kwalitas dengan nilai I. Tembakau kualitas A berasal dari daun tembakau paling bawah, saat kering berwarna hijau. Tembakau kualitas B berasal dari daun ke-7 sampai ke-10 dihitung dari tanah. Warnanya kuning. Tembakau petikan ketiga biasanya berwarna merah kuningan saat kering dan berasal dari daun ke-11 sampai ke-15 dari tanah. Sedang daun ke-15 sampai ke-20 dari tanah biasanya berwarna merah kehitaman. Kualitas E ini lebih pekat lagi, bisanya dari daun ke-20 sampai 25. Kwalitas D dan E bisa menjadi kwalitas F, G, H, dan I. Tergantung pada daerah dan musimnya.

Kualitas I kadar nikotinnya paling tinggi dan berwarna hitam. Semakin kurang hitam atau masih terdapat warna hijau atau kuning berarti kualitas tembakaunya lebih rendah.

Tembakau kualitas I biasanya berasal dari daerah Weleri, Kendal dan Kali Bongkeng, Muntilan. Tidak setiap tahun tembakau macam ini bisa di panen. “Hanya 6 tahun sekali muncul,” tutur Oei.

Setelah tahun 1982, harga tembakau srintil kembali mengalami masa kejayaan pada tahun 1992. Harga tiap kilogramnya setara dengan 2 gram emas murni. “Orang jual 2 keranjang (40-50 kg per keranjang) aja bisa beli mobil saat itu,” kata Oei.

Oei enggan menceritakan besar pendapatannya sebagai Grader tembakau. Dia memiliki banyak tengkulak tembakau. Tengkulak mendapat komisi Rp 500-1000 dari tiap kilogram. Oei mengatakan, dalam setahun dia hanya bekerja saat panen.

Dalam setahun, tiga bulan Oei bekerja. Selebihnya untuk berburu lukisan.

Tulisan ini dimuat di Majalah Playboy edisi Januari 2007. Tiga lukisan dalam tulisan ini dibikin Agus Suwage.

29 August 2007

Dua Anak Serdadu

Oleh Imam Shofwan

BEATRIZ Miranda Guterres berwajah oval, dagunya berbelah, bibir tipis, mata sipit dan rambut hitam berombak. Kulitnya halus sawo matang dan tubuhnya ramping. Namun karunia ini jadi malapetaka baginya. Para serdadu Indonesia, yang bertugas di kampungnya, Lalerek Mutin di Viqueque, tergiur dengan kecantikannya. Miranda dipaksa jadi gundik, berpindah dari satu tentara ke tentara lain.

Para tentara itu sudah pulang ke Pulau Jawa, namun Miranda tak lupa wajah laki-laki yang pernah menyenggamainya. Dari hubungan “kawin paksa” dengan tiga serdadu, Miranda menanggung dua orang anak, yang hingga kini diasuhnya. “Yang pertama sudah kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama),” tutur Miranda pada saya.

Saya menemui Miranda pada 22 Mei 2007 lalu di Lalerek Mutin. Anak-anak tanpa baju bermain di depan rumah-rumah kumuh dan kecil. Rumah-rumah itu beratap daun aren, atau uma tali, atau “rumah daun aren” dalam bahasa Tetun. Uma-uma tali itu berlantai tanah. Tidak ada listrik. Babi-babi berkeliaran di sekitar rumah bersama anjing-anjing. Suara mereka bercampur dengan suara anak-anak.

Miranda duduk di teras rumahnya. Alasnya dari kulit batang aren. Sebuah lampu minyak, dari botol minuman, menjadi penerangan tunggal. Miranda menaruh lampu itu di sebelah sebuah panci besar, berisi adonan roti pao, atau roti keras ala Portugis.

Usia Miranda kini mencapai kepala empat. Obrolan kami segera mengundang penasaran anak-anak. Mereka mendekat, mendengarkan obrolan dan nyempil di sekitar adonan kue. Ibu-ibu tak berbaju juga tidak mau ketinggalan. Mereka menggendong dan menyusui bayinya. Miranda jengah dikelilingi anak. “Halae, halae, halae (Bubar, bubar, bubar),” teriak Miranda.

Banyak yang yang ke sini meminta saya bercerita tentang perkosaan yang saya alami. Beberapa bulan lalu ada orang Australia datang dan meminta saya cerita,” tutur Miranda, tangannya melumatkan isi panci.

“Suami saya diculik dan dibunuh tiga orang tentara saat saya hamil empat bulan. Anak saya meninggal karena kelaparan. Saya menghidupi dua orang anak dari dua di antara tiga tentara, yang berzinah dengan saya,” tutur Miranda.

Kini Miranda membikin roti pao dan menjualnya di pagi hari, selain bertani. Kuenya dijual lima sen atau Rp 500 per biji. “Kalau laku semua biasanya saya mendapat dua dollar,” tutur Miranda. Dollar Amerika Serikat adalah mata uang di Timor Leste, pengganti rupiah Indonesia.

Nama Miranda saya pilih, secara acak, dari hampir 8000 orang yang memberikan kesaksian pada Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor Leste, atau dalam bahasa Portugis, Comissao de Acolhimento, Verdade e Reconciliacao de Timor-Leste (CAVR). Kesaksian-kesaksian ini dikumpulkan, secara suka rela, dari 13 distrik di seluruh Timor Leste dan dibukukan dengan nama Chega! atau “Cukup” dalam bahasa Portugis.

Ribuan saksi ini menuturkan kejahatan yang mereka alami, atau mereka lihat, seraya menyebutkan siapa saja pelaku, kejahatan apa saja yang mereka lakukan, terhadap siapa dan di mana kejadian itu terjadi. Batasannya, kejahatan hak asasi manusia, yang berlangsung menjelang penyerbuan dan pendudukan.

Indonesia di Timor Leste, pada tahun 1974, hingga Indonesia keluar dari Timor Leste, setelah jajak pendapat, Agustus 1999. Pelakunya beragam. Mulai dari pasukan-pasukan bentukan partai politik Frente Revolucioniria de Timor-Leste Independente (Fretilin), Uniao Democratica Timorense (UDT) dan Associacao Popular Democratica Timorense (Apodeti). Namun utamanya, militer Indonesia dan milisi-milisi bikinannya.

UDT, Fretilin dan Apodeti berdiri pada pertengahan 1974, beberapa saat sesudah terjadi pergantian kekuasaan di Lisbon, yang mendorong dekolonisasi jajahan-jajahan Portugis di Afrika. UDT ingin Timor Leste ada dalam naungan Portugal. Fretilin ingin Timor Leste jadi negara berdaulat. Apodeti, partai terkecil, ingin berintegrasi dengan Indonesia. Namun Indonesia menyerbu Timor Leste pada Desember 1975 dengan dukungan Amerika Serikat dan Australia.

Nama Beatriz Miranda Guterres tak dicantumkan dalam laporan Chega! Dalam laporan ini namanya diganti dengan kode ‘MI’. Laporan perempuan ‘MI’ ada pada bagian Pemerkosaan dan Perbudakan Seksual. Saya mendapatkan nama “Beatriz Miranda Guterres” dari catatan audiensi nasional CAVR, 28-29 April 2003. Dalam audiensi ini, 14 perempuan bersaksi tentang pengalaman kekerasan seksual yang mereka alami. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan CAVR dalam mencari kebenaran dan rekonsiliasi setelah sebelumnya para staf CAVR mengambil pernyataan dari para korban dan saksi di distrik-distrik.

Dalam laporan Chega! yang disebarkan pada umum, nama pelaku dan korban disamarkan. Sementara laporan, yang diberikan kepada Presiden Timor Leste Xanana Gusmao, lengkap dengan nama korban dan para pelakunya.

Bacaan setebal 2500 halaman itu isinya berkisar soal pembunuhan, kelaparan, penahanan, penyiksaan, penganiayaan, pemerkosaan, dan perbudakan seksual. Saya makin miris ketika tahu sebagian besar kejahatan itu dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), tentara yang sering saya jumpai sehari-hari, sejak saya kecil di Rembang, kuliah di Semarang dan bekerja di Jakarta.

MENGAPA CAVR penting? Sejak 1990an, komisi semacam CAVR lazim dibentuk di negara-negara pascakonflik, kebanyakan di Afrika dan Amerika Latin. CAVR menjadi komisi ke-21 sesudah komisi serupa di Sierra Leone.

“Saya kira (CAVR) adalah komisi kebenaran yang pertama di Asia,” tutur Jose Estevao Soares, salah seorang mantan anggota komisaris nasional CAVR dan kini anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) di Dili.

“Gunanya supaya kejahatan itu dicatat dan orang bisa belajar dari sana dan tidak mengulanginya,” tutur Agustinho Vasconselos, mantan komisaris nasional CAVR yang kini mengepalai Sekretariat Teknik Pasca CAVR.

Jadi, tujuannya mencari kebenaran, sesuatu yang sangat sulit, ag

ar kekerasan-kekerasan itu jadi bahan pelajaran untuk generasi mendatang.

Menurut Aniceto Guterres Lopes, mantan ketua komisaris nasional CAVR, yang kini menjadi anggota KKP, ide membikin komisi ini berawal Timor Leste, yang remuk setelah referendum. Bangunan-bangunan dirusak dan dibakar, separuh penduduknya, yang hanya 600.000 jiwa, dipaksa mengungsi, yang tidak mau atau dicurigai pro kemerdekaan dibunuh militer dan milisi Indonesia.

“Saat itu kita benar-benar membutuhkan rekonsiliasi. Dan rekonsiliasi hanya bisa dilakukan dengan pengungkapan kebenaran,” tutur Aniceto pada saya.

Besarnya cakupan kejahatan hak asasi manusia atau HAM yang akan ditangani CAVR serta banyaknya pelaku, yang saat itu, menduduki jabatan penting, temasuk Xanana Gusmao dan Francisco Guterres Luo’lo, di Timor Leste adalah tantangan yang sempat membuat pesimistis saat perancangan CAVR. “Banyak orang pesimis dengan misi kita untuk mendokumentasikan semua kejahatan selama 25 tahun. Saat itu kebanyakan orang fokus pada HAM 1999,” tutur Aniceto.

Aniceto merujuk beberapa penyelidikan, antara lain: Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komisi Penyelidik Internasional, Komisi

Penyelidik Pelanggaran HAM Indonesia, dan Laporan James Dunn. Semua penyelidikan ini berfokus pada kejahatan HAM 1999. Laporan-laporan ini, diringkas oleh Geoffrey Robinson dalam East Timor 1999: Crimes Against Humanity, menyimpulkan kejahatan kemanusiaan di Timor Leste adalah sistematis dan sangat meluas.

“Yang menguatkan kami saat itu adalah dukungan komunitas internasional,” tutur Aniceto.

Tak hanya Aniceto, para aktivis perempuan, gereja, mantan tahanan politik, wakil-wakil pro-integrasi, ditambah dengan United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET), membicarakan pembentukan komisi dalam sebuah lokakarya pada Juni 2000. Hubungan dekat antara para aktivis dan politisi, menyebabkan ide pembentukan komisi ini segara merembas di kalangan politisi.

Xanana, pemimpin Conselho Nacional da ResistĂȘncia Timorense (CNRT), sebuah partai politik, segera menangkap sinyal pembentukan komisi kebenaran. Pada kongres CNRT yang perdana, Xanana membicarakan pembentukan komisi. Walhasil, salah satu amanat kongres CNRT adalah pembentukan komisi ini.

Sebuah panitia pengarah lalu dibentuk. Isinya, wa

kil dari berbagai organisasi politik, agama, militer maupun internasional. Mereka bertugas berkonsultasi dan mengumpulkan informasi untuk mendapatkan pemahaman tentang sikap dan pandangan rakyat Timor Leste terhadap hal-hal yang menyangkut kebenaran dan rekonsiliasi. UNTAET, yang saat itu masih bertanggung jawab untuk transisi pemerintahan Timor Leste, juga sepakat.

Dewan Nasional pimpinan Xanana mengajukan rancangan akhirnya kepada Segio Vieria De Mello, administrator transisi Timor Leste, untuk meminta pengesahan. De Mello mengukuhkan hukumnya pada tanggal 13 Juli 2001, menurut Chega!

Setelah landasan hukumnya ada, dibentuklah dewan penasehat CAVR, yang berisi orang-orang terkenal Timor Leste: Jose Ramos-Horta, Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo, Uskup Basilio do Nascimento, Madre Zulmira Osorio Soares, Pastora Maria de Fatima Gomes dan Ana Pessoa Pinto. Selain itu, ada empat penasehat internasional: Sérgio Vieira de Mello, Ian Martin serta Saparinah Sadli dan Munir dari Jakarta.

Mereka jadi penasehat bagi komisaris nasional CAVR, antara lain: Aniceto Guterres Lopes, Padre Jovito do RĂȘgo de Araujo, Maria Olandina Isabel Caeiro Alves, Jacinto das Neves Raimundo Alves, JosĂ© EstevĂŁo Soares, Rev. Agustinho de Vasconselos, serta Isabel Amaral Guterres.

Dengan jalan belajar dengan bekerja serta dukungan dari semua korban, laporan Chega! bisa diselesaikan juga, dengan wawancara hampir 8000 saksi dan perkiraan 183,000 orang mati pada zaman pendudukan Indonesia. Pada 28 November 2005, setelah menghabiskan dana sekitar US $5 juta, laporan Chega! resmi diberikan kepada Presiden Timor Leste Xanana Gusmao dan didistribusikan ke parlemen. CAVR selesai tugasnya.

Para aktivis puas dengan hasil laporan CAVR, yang dengan rinci merekam kejahatan kemanusiaan di Timor Leste, selama 24 tahun pendudukan Indonesia. Chega! juga menyebut bagaimana pesawat-pesawat terbang dan senjata buatan Amerika dan Inggris dipakai melakukan kejahatan terhadap penduduk sipil. Rekomendasinya, pembentukan pengadilan terhadap semua kejahatan, yang pernah terjadi serta rekonsiliasi dan pemaafan untuk kejahatan ringan. Chega! juga minta beberapa negara, termasuk Indonesia dan Australia, membayar kerugian kepada para korban.


HINGGA Mei 2007, saat saya berkunjung ke Dili, tak ada greget untuk menindaklanjuti rekomendasi dari CAVR. Xanana Gusmao, yang sebelumnya getol mencarikan duit untuk membiayai CAVR, justru sibuk dengan pesta-pesta perpisahan menjelang akhir masa jabatan kepresidenannya.


Saat saya bertemu Xanana di kediamannya di Balibar, Dili, Xanana menolak untuk mengomentari hal ini.

“Saya kira sekarang bukan waktu yang tepat untuk wawancara,” tutur Xanana pada saya.

Para anggota parlemen nasional Timor Leste, yang sebelumnya memberi dasar hukum dan perpanjangan waktu kerja bagi CAVR, juga setali tiga uang. Adem-adem saja. Beberapa orang anggota yang saya temui malah bilang belum dapat laporan Chega!

“Saya hanya dapat laporan singkat dari laporan itu. Belum lengkap dan komplit,” tutur Vicente da Silva Guterres, legislator dari Partai CNRT.

Mariano Sabino Lopes dari Partai Demokrat telah menerima laporan Chega! dan mengakui prosesnya mandek di parlemen. Dia mengakui kalau fungsi parlemen tidak jalan dan kini parlemen sedang sibuk dengan kampanye. “Lagi pula partai demokrat kan minoritas di Parlemen Nasional jadi kami tak punya cukup suara,” tuturnya.

“Tidak ada keinginan untuk tidak mempelajari dengan serius dokumen CAVR. Saat itu, parlemen punya prioritas lain, selain untuk mempelajari dan membaca hasil kerja CAVR,” tutur Fransisco Branco dari Fretilin, partai terbesar di parlemen. Branco mengacu pada krisis politik Timor Leste yang mendorong Perdana Menteri Mari Alkatiri mundur.

Indonesia sendiri, yang menolak pengadilan internasional bagi para perwira-perwiranya di Timor Leste, berjanji menyelenggarakan pengadilan yang jujur terhadap mereka. Memang ada serombongan perwira diadili namun tak ada satu pun yang dinyatakan bersalah. Dari Jenderal Benny Moerdani hingga Jenderal Wiranto, sampai ribuan sersan dan prajurit Indonesia, tak ada satu pun yang mengaku bertanggung jawab terhadap matinya 183,000 rakyat Timor Leste selama pendudukan Indonesia.

Keadaan ini bikin gemas Eddio Saldanha Borges, aktivis Perkumpulan Hukum, Hak Asasi, dan Keadilan atau Perkumpulan HAK, yang sejak laporan Chega! keluar membentuk aliansi untuk pengadilan internasional. Menurut Borges, semua anggota parlemen telah menerima laporan Chega! Kalau ada anggota parlemen yang mengaku belum dapat laporan itu adalah bohong. “Itu kebohongan publik, karena menurut konstitusi 162 tahun 2002 tentang CAVR pertanggungjawabannya ke parlemen,” ujar Borges, geram.

Kalau perwira Indonesia menolak bertanggung jawab, mungkin masih bisa dimengerti. Perampok mana mau mengaku? Namun Borges juga sakit hati dengan Presiden Xanana Gusmao, yang membikin Komisi Kebenaran dan Persahabatan dengan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Komisi ini, menurut Borges, adalah bentuk penghianatan kepada korban. Borges tidak sendirian. Dari New York hingga Dili, banyak organisasi dan penulis soal kemanusiaan menyatakan komisi ini hanya pura-pura. Ia tak punya gigi untuk mencari kebenaran lewat pengadilan para penjahat kemanusiaan.

“Setelah mereka mengambil pernyataan dari para korban lalu mereka membikin komisi persahabatan yang bertujuan untuk memaafkan para pelaku. Ini penghianatan pada korban,” kata Borges.

Komisi ini sama sekali bertentangan dengan misi yang diemban CAVR: mengungkapkan kebenaran dan rekonsiliasi. Justru sebaliknya menyembunyikan kebenaran dan memaafkan para pelakunya.

Lebih parah lagi, Xanana membedol sebagian besar anggota komisaris nasional CAVR dan memindahkannya menjadi komisaris komisi-komisian. Mereka termasuk Aniceto Guterres Lopes, Maria Olandina Isabel Caeiro Alves, dan Jacinto das Neves Raimundo Alves.

Keputusan Xanana ini dianggap sebagai penghianatan terhadap para korban. Menurut Jose Luis Olivera, pemimpin Perkumpulan HAK, Xanana tidak serius menangani pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste. Tindakan Xanana, yang mendukung CAVR, lalu membuat komisi lain, adalah main-main soal hak asasi manusia.

“Xanana ingin dilihat dunia sebagai pendukung HAM dengan mendukung CAVR. Tapi sebenarnya dia tidak serius dalam hal ini, buktinya dia membuat KKP,” tutur Jose Luis.

Pengganti Xanana, Jose Ramos-Horta, sama saja. Ramos-Horta mengatakan pada pidato kepresidenannya, “Saya puas dengan hasil kerja Komisi Kebenaran dan Persahabatan dan akan melanjutkan apa yang telah dibentuk oleh pendahulu saya.”

DARI Dili menuju Manatuto lalu Baucau, pemandangannya sangat indah. Pantai tampak dan hilang seiring dengan jalur yang dilalui bis yang naik turun bukit. Dari kejauhan, pantai kelihatan biru dan bersih. Di pinggirnya terlihat pasir putih, yang memisahkan laut dari perbukitan yang hijau. Pantai pasir putih itu tak lebar namun memanjang seperti sapuan cat warna putih, yang memisah biru laut dan hijau bukit.

Dari Baucau ke selatan, hingga ke Viqueque, lebih banyak pemandangan savana, hutan, dan lahan pertanian. Bangunan di pinggir jalan relatif utuh. Ini berbeda dengan bangunan yang ada di sepanjang jalan dari Dili ke arah Motaain, perbatasan dengan Indonesia, yang kebanyakan bangunannya gosong atau tinggal separuh. Artinya, ketika lebih dari 260,000 orang Timor Leste dibawa ke bagian Timor barat, pada Oktober-November 1999, perjalanan ini juga berupa bumi hangus.

Dari Dili ke Viqueque menggunakan bis umum memerlukan waktu 10 jam dengan biaya US$10. Viqueque berada 100 kilometer sebelah timur Dili. Pada masa pendudukan Indonesia, Viqueque bersama Baucau dan Los Palos, dikenal sebagai basis kelompok pejuang kemerdekaan Fretilin.

Tak sulit untuk mencari desa Lalerek Mutin. Sebagian orang tahu desa itu. Orang biasa menyebutnya “desa janda.” Jaraknya tak lebih dari 15 kilometer dari Viqueque.

Masalahnya, saya sampai di Viqueque menjelang petang dan tidak ada angkutan umum menuju desa ini. Untuk berjalan kaki tidak mungkin.

Beruntung saya dihubungkan dengan Mario Pinto, wartawan Radio Timor Leste. Pinto bertubuh gelap dan berbadan besar. Pembawaannya ramah dan murah senyum. Pinto tak pandai mengendarai motor dan dia meminta saya untuk memegang kendali. Setelah melewati hutan jati, pasar Viqueque, hutan kelapa, sungai Waituku, dan sebuah bekas barak tentara barulah kami sampai di Lalerek Mutin.

Hari mulai malam. Kami langsung menuju rumah Jose Gomes, kepala desa Lalerek Mutin, juga seorang saksi CAVR. Kami mengobrol soal peristiwa Kraras pada 1983. Tragedi Kraras salah satu kejahatan militer Indonesia di Timor Leste. Antara 1982 hingga 1984, tak kurang dari 180 orang penduduk desa ini dibunuh.

Sebagian penduduk yang tersisa, yang kebanyakan perempuan, lalu berpindah tempat ke desa Lalerek Mutin pada 1984. Saya dan Pinto lalu berpamitan pada Gomes dan menuju rumah Beatriz Miranda Guterres, tidak jauh dari kediaman Gomes.

Bayangan saya tentang uma tali, yang eksotis, seketika sirna setelah melihat kemiskinan. Anak-anak tak berbaju, tempat gelap tanpa listrik dan suara babi di mana-mana.

Kami mengobrol dengan Miranda hingga larut. Saya mulai panik saat awan gelap menutupi bintang-bintang di angkasa.

Saya lalu memohon diri. Gerimis mulai turun dan jalan setapak menjadi licin. Dalam gelap, di jalan, saya berpapasan dengan beberapa rombongan orang berjalan kaki dan membawa parang. Sebagian mendorong gerobak barang. “Mereka baru pulang dari pasar,” tutur Pinto.

Kami melanjutkan jalan dan sesampainya di pasar, jalan mulai baik dan beraspal namun masih gelap. Sial di tengah hutan lampu motor padam. Kami panik dalam gelap hingga ada sebuah truk. Pinto minta pengemudi untuk menyoroti jalan kami. Saya melaju di depan truk hingga pertigaan Viqueque, kota yang juga gelap. “Di sini listrik sehari hidup, sehari mati,” tutur Pinto.

TUJUH tahun Miranda merasakan kemerdekaan Timor Leste. Dia tetap bertani dan membikin roti pao.

Sejak zaman Indonesia, sebagai korban, dia hanya ditanya dan ditanya tentang pengalaman pahitnya, tanpa pernah ada yang perduli dengan perbaikan hidupnya.

“Kalau zaman Indonesia saya memberikan keterangan pada audiensi gelap yang dilakukan oleh gereja. Saat CAVR saya memberi keterangan lagi,” tuturnya.

Miranda tak langsung memberikan kesaksian saat para staf CAVR datang ke kediamannya. Pada pertemuan pertama, kedua, ketiga para staf ini hanya melakukan pendekatan. Baru pada pertemuan keempat Miranda mau memberikan kesaksian. “Ibu percaya karena saat datang pastur itu datang bersama mereka (CAVR),” katanya.

Dia tak tahu siapa membunuh suaminya, Andrew Alves. Dia bertemu terakhir dengan suaminya yang dijemput tiga orang tentara yang tidak dikenalinya. Setelah itu suaminya tidak pernah kembali. Kejadian itu berlangsung setelah peristiwa Kraras 1983. Miranda hanya ingat orang-orang yang pernah menghamilinya.

Dalam laporan Chega! tak disebutkan nama tentara-tentara yang “mengawini paksa” Miranda. Namun Miranda menyebutkan pada saya. “Pada tahun 1991 Mulyono, dari Nanggala, berzinah dengan saya dan punya anak kini sudah kelas satu SMP. Dan pada tahun 1993 Sumitro, dari Batalyon 408, beradu tembak dengan komandannya untuk memperebutkan saya, menghamili, dan juga meninggalkan anak pada saya.”

Mulyono berakhir masa tugasnya dan kembali ke kesatuan sebelum Miranda melahirkan anak darinya. Sedang Sumitro sempat mengetahui Miranda melahirkan anaknya. Sumitro kembali ke kesatuannya ketika anaknya dengan Miranda berusia lima bulan. “Saya tidak bisa bekerja setelah melahirkan, untuk makan saya dikasih tetangga dan keluarga,” tutur Miranda.

Saya berusaha untuk mencari Mulyono dan Sumitro. Pada 26 Juni, saya bertemu Kolonel Ahmad Yani Basuki, Kepala Dinas Penerangan Umum Pusat Penerangan TNI di Jakarta. Ahmad Yani minta saya mengirim surat resmi. Saya mengirim surat esok paginya. Hingga kini tak ada jawaban.

Saya pergi ke Komando Daerah Militer (Kodam) Batalyon 408, di Sragen, dekat kota Solo, untuk mencari Sumitro. Pada 2 Juli, saya menemui Letnan kolonel Ahmad Bazar, komandan 408.

Bazar menemui saya di lapangan tembak Widoro Kandang. Para serdadu latihan dengan kaos loreng. Bazar pakai seragam harian. Saya bicara 15 menit dengannya.

“Kalau soal kesiapan tempur 408 saya akan cerita. Tapi kalau soal (kejahatan HAM) ini Anda harus minta izin ke Korem (Komando Resor Militer) karena kami cuma unit pelaksana,” tutur Bazar.

Besok siangnya, saya menelepon Korem 074 Warastratama, Solo, Jawa Tengah. Letnan kolonel IGK Wicitra Wisnu, kepala staf Korem 074, menjawab. “Ini bukan wewenang kami. Kami punya atasan. Daripada salah jawab lebih baik izin dulu ke penerangan Kodam,” tutur Wisnu. Intinya, saya diping-pong dari pusat ke daerah, dan dari daerah dilempar lagi ke pusat.

Saya memutuskan menyewa kamar dekat Asrama 408. Saya minta tolong pedagang buah dan es krim untuk mencari Sumitro, namun hasilnya nol.

Saya sempat bertemu Sulistiowati, istri Iskak, seorang tentara yang saya duga pernah bertugas dengan Sumitro di Timor Leste. Sulis marah setelah saya menyampaikan maksud saya. “Kalau saya lapor ke Kodim (Komando Distrik Militer) atau ke polisi kamu bisa ditangkap,” gertak Sulis.

Dengan nada tinggi dan sinis, Sulis menjelaskan kalau suaminya tidak di rumah dan dua anaknya, yang lulusan Akademi Militer Magelang, dan seorang lagi polisi, berada di Surabaya dan Jakarta.

“Untung anak saya tidak di rumah. Kalau di rumah bisa diperkarakan kamu,” kata Sulis.

Saya masih berusaha mencari Sumitro dan Mulyono untuk menyampaikan pesan Miranda bahwa mereka punya anak di Timor Leste dan kini sudah bersekolah.

Keinginan Miranda sederhana. Dia hanya butuh kerbau untuk membantunya bertani. “Kerbau” selalu menjadi jawabannya setiap kali ditanya apa keinginannya setelah menceritakan pengalaman pahitnya. Berulangkali dia meminta, berulangkali juga sia-sia.

“Terserah pemerintahlah,” tutur Miranda pasrah.*

*) Naskah ini dipublikasikan di Sindikasi Pantau dan liputannya diongkosi oleh Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), Bangkok.

17 August 2007

Kalau Diungkap, Kami akan Dihukum Berat

Oleh Imam Shofwan

“Diundur tp bisa jd batal, km lg berjuang,” pesan pendek ini saya terima dari Mikanos, salah seorang pengacara Fabianus Tibo, pada, 12 Agustus. Hari eksekusi mati Fabianus Tibo, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu. Mikanos biasa menemani para wartawan yang hendak bertemu dengan Tibo. Saya mengenalnya lima bulan lalu saat Majalah Playboy mengutus saya untuk mewawancarai Fabianus Tibo di Palu.

Mikanos sangat membantu selama saya di Palu. Untuk dapat mewawancarai Fabianus Tibo dengan leluasa, dia mengusulkan agar saya mengurus izin di Kantor Wilayah Kehakiman Sulawesi Tengah. Seharian saya bolak-balik dari Kantor Wilayah Kehakiman-Kejaksaan Tinggi-Pengadilan Negari untuk mendapatkan izin tersebut, namun saya tidak dapat mendapat. Mikanos kemudian mengusulkan agar saya ikut rombongan Pastur saat kebaktian. Cara ini cukup jitu, atas nama jemaah yang akan kebaktian saya masuk ke Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Palu tanpa halangan berarti.

Pagar dari anyaman kawat setinggi dua meter mengelilingi sebuah lapangan bola, tepat di depan gerbang jaga Lembaga Pemasyarakatan Klas IIA Palu. Ada 79 sel di sana yang dihuni sedikitnya 305 narapidana. Hanya satu narapidana wanita.

Fabianus Tibo, terpidana mati kasus rangkaian kerusuhan Poso, tinggal di sana menempati kamar 1 blok 1. Ruangannya cukup luas, sekira 2 x 4 meter persegi. Tapi dia tak sendirian di ruangan itu. Dia tinggal Herry Mengkawa, Novri Sambola dan Vekkye. Di blok lain, terdapat Dominggus da Silva dan Marinus Riwu, juga dua terpidana mati kasus yang sama.



Tibo dijumpai Senin, 24 April 2006, saat berlangsung upacara kebaktian Katholik di sebuah gereja kecil di penjara itu. Dia duduk di bangku barisan kedua dan terlihat khusuk melantunkan puji-pujian, dengan alkitab di tangan. Dia bersedia saya wawancarai di tengah-tengah khotbah pastor.

Apa aktivitas Anda sehari-hari di penjara?

Biasanya macam ini (ibadah). Kalau hari Senin, Rabu, Minggu, kita ibadah. Lepas dari itu kita juga ada perkerjaan khusus yaitu anyaman rotan. Disamping itu kita juga bersama-sama di sini dengan teman-teman agar tetap akrab, tidak ada pikiran apakah dia Islam, apakah dia Kristen. Di dalam penjara ini kita satu. Kita tidak tahu pemikiran masing-masing ya.

Anda masih tetap merasa tidak bersalah?

Iya, karena kalau kami dianggap yang bersalah, itu saya rasa jauh sekali. Karena kita tidak bahwa tahu kejadiannya itu yang bagaimana. Kita tidak tahu.


(Fabianus mulai menjadi narapidana tetap di penjara itu sejak majlis hakim Pengadilan Negeri Palu memvonis mati pada 5 April 2001. Bersama dua orang kawannya, Dominggus da Silva dan Marinus Riwu mereka didakwa melakukan serangkaian pembunuhan berencana, pembakaran rumah dan penganiayaan. Tak hanya itu, mereka bertiga didakwa bertanggungjawab sebagai dalang kerusuhan Poso jilid III (sejak Desember 1998 sampai Juni 2000 setidaknya ada tiga jilid kerusuhan di Poso).

Sejak Desember 1998 umat Islam dan Kristen bertikai di Poso. Akibat pertikaian ini, yang berlangsung dalam kurun waktu tiga tahun, sekitar 1000 sampai 2500 orang meregang nyawa, ribuan orang terluka, puluhan bangunan masjid dan gereja luluh lantak. Sementara rumah yang terbakar mendekati jumlah 100.000. Bahkan, untuk beberapa waktu, Poso jadi kota mati. Hampir semua warga kota mengungsi.

Tidak terima dengan putusan itu Fabianus cs yang didampingi kuasa hukum Robert Bofe dan rekan mengajukan banding dan ditolak ke Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah. Selanjutnya tim penasihat hukum ketiga terpidana mati mengajukan memori kasasi dan juga ditolak oleh Mahkamah Agung pada, 11 Oktober 2001. Selanjutnya Tibo cs dan pengacara mengupayakan Peninjauan Kembali, lagi-lagi upaya ini ditolak oleh Mahkamah Agung pada, 31 Maret 2004.

Upaya terakhir yang dilakukan Fabianus cs yaitu permohonan keringanan hukuman (grasi) pada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Upaya ini pun buntu, ketika pada tanggal 10 November 2005, SBY menandatangani penolakan grasi Tibo, Marinus dan Dominggus.

Setelah semua proses hukum dilaksanakan Tibo cs tinggal menunggu eksekusi yang waktu itu akan dilaksanakan pada bulan Desember 2005. Namun diundur karena memberi kesempatan kepada ketiga terpidana untuk merayakan Natal, penundaan kedua dilakukan pada bulan Febuari karena alasan kemanusiaan.)


Di pengadilan, Anda dihukum karena mengumpulkan pemuda di Morales, Masara dan Beteleme lalu membawa mereka ke Kelei dan Anda melatih berperang di sana...

Awalnya saya didatangi Yanis Simangunsong dengan membawa berita bahwa Gereja St. Theresia Maengko Poso akan dibakar, dan seluruh penghuni yang ada di gereja tersebut akan dibunuh. Saya terkejut dengan kabar tersebut karena kami tahu di Poso belum sepenuhnya aman. Sedangkan anak-anak kami masih berada di Gereja St. Theresia karena sedang mengikuti ujian Ebtanas (Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional-ed). Maka sebagai orang tua, secara spotanitas saya berangkat ke Desa Jamur Jaya, Morales dan Masara membawa berita kepada orang tua murid yang anak-anak mereka berada di gereja…. Dan tidak benar bila saya mengumpulkan para pemuda dari Desa Jamur Jaya, Morales dan Masara untuk dibawa dan dilatih di Desa Kelei, seperti tuduhan kepada kami.

Anda juga dihukum karena menyerang Desa Maengko Baru dan Kayamanya yang menyebabkan tiga orang tewas…

Itu tidak benar. Kami tidak pernah menyerang di desa Maegko Baru dan Kayamanya, justru yang menyerang adalah kelompok Ir. Lateka. (Hal ini) dikuatkan dengan saksi saudara Heri Mengkawa, warga asli Poso (Desa Tambaru) yang menolong Ir. Lateka, bahkan salah satu dari anak buah Ir. Lateka yaitu Saudara Yenny Tandega menguatkan keterangan bahwa bukan Tibo cs yang melakukan penyerangan. Yenny sudah divonis bersalah karena ikut menyerang bersama Ir. Lateka.

Banyak saksi yang melihat Anda terlibat dalam kerusuhan dan pembakaran rumah di komplek Pesantren Walisongo…

Tuduhan tersebut tidak benar. Kami tidak pernah melakukan penyerangan di Km 9 (Pesantren Walisongo), karena saat itu saya berada di Sayo untuk menyelamatkan sembilan orang yang sudah terjebak akibat serangan Kelompok Putih (milisi Islam). Begitu pun kami tidak pernah melakukan penyerangan dan pembakaran. Kalau saksi-saksi dalam persidangan yang memberatkan kami, itu karena sudah direkayasa. Saya yakin kesaksian mereka tidak sesuai dengan hati nurani mereka. Buktinya para saksi tidak pernah tidak pernah bisa membuktikan karena memang mereka tidak pernah melihat kami. Justru mereka katakan yang melakukan masih berkeliaran bebas. Bahkan ada satu saksi yang mengatakan kalau saya bersaksi karena dipaksa polisi. Jadi, tidak tepat bila tuduhan tersebut di tujukan kepada kami.

Setelah meninggalnya Ir Lateka, Anda diangkat sebagai panglima Pasukan Merah, apakah benar?

Itu tidak benar. Semuanya bohong, penuh dengan kepalsuan. Semua sudah diatur sedemikian rupa dengan mengorbankan orang lain. Jujur saya katakan bahwa saya dan keluarga tidak mempunyai persoalan dengan siapa pun baik Muslim maupun Kristen. Kami hanya menjemput anak-anak yang sementara mengikuti ujian serta para guru, pastor, suster. Kurang lebih berjumlah 85 orang, belum termasuk kami. Dan setelah menolong anak-anak, kami diancam Paulus Tungkanan, dan harus mengikuti petunjuknya. Tetapi kami tidak pernah melakukan seperti yang dituduhkan kepada kami.

(Paulus Tungkangan adalah seorang dari sepuluh nama yang disebut Fabianus Tibo sebagai dalang kerusuhan di Poso. Dalam pemeriksaan polisi, Tungkangan hanya berstatus saksi.)


Saat diadili, apakah saksi-saksi memberatkan Anda?

Saksi-saksi yang dihadirkan sudah direkayasa, dan tidak ada satu pun saksi yang dengan jujur melihat kami melakukan pelanggaran seperti tuduhan-tuduhan yang diarahkan kepada kami. Semuanya sudah diatur rapi oleh oknum-oknum yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau golongan. Bahkan pengacara Robert Bofe SH (pengacara yang mendampingi Tibo cs di Pengadilan tingkat I-Ed), menyuruh kami bungkam, sehingga kami tidak bisa mengungkapkan apa yang menjadi harapan kami.

Jadi Anda di bawah tekanan?

Saya tidak tahu ….Kami tidak tahu permainan politik, dan memang kami bukan orang politik melainkan seorang petani kecil yang hidup hanya dengan hasil keringat kami sebagai petani. Kami heran saat persidangan seakan-akan sudah memvonis kami sebagai dalang dan otak kerusuhan Poso jilid III, suatu predikat yang sebenarnya bukan milik petani, tetapi kepada orang-orang politik yang senang dengan permainan kotor dengan mengorbankan orang lain. Saya hanya tahu pengadilan itu harus adil. Tetapi yang kami terima justru sebaliknya ketidakadilan.


(Seiring usainya semua proses hukum formal, mulai Pengadilan Negeri sampai penolakan grasi berakhir pula kewajiban pengacara-pengacara. Tibo cs masih mengusahakan pembebasan dirinya dan dua kawannya, pada, 23 Januari 2006 Tibo cs meminta Padma Indonesia (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia) untuk membantu membebaskan mereka bertiga, Padma adalah sebuah lembaga bantuan hukum.

Gayung bersambut, Padma Indonesia bersedia membantu Tibo cs, dua tim pun dibentuk, tim legal dan tim paralegal, tim legal dikomandani oleh Roy Rening dan beranggota 20 advokat mereka bertugas untuk melakukan upaya hukum lanjutan. Sementara tim paralegal dengan komandan Iryanto Jou beranggota sepuluh orang, tim ini dibagi menjadi 4 divisi, yaitu: lobby, media, aksi massa dan sekretariat.

Kerja besar pun dimulai, setelah mengakaji kasus Tibo cs dari segi hukum, tim legal mengajukan upaya hukum lanjutan yang kurang populer di Indonesia, pada tanggal 20 Febuari 2006 Roy Rening dan anggota timnya melayangkan memori Peninjauan Kembali II ke Pengadilan Negeri Palu dengan menyuguhkan bukti-bukti baru (novum) yaitu saksi-saksi yang memberikan kesaksian akan ketidak terlibatan Fabianus Tibo dan dua rekannya dalam kerusuhan Poso.

Langkah ini dianggap ilegal oleh Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh. Alasannya, tidak ada dasar hukumnya baik dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) maupun dalam undang-undang lain yang berlaku di Indonesia.)

Siapa yang menyarankan Anda meminta bantuan hukum setelah semua proses hukum memvonis mati Anda?

Pihak keluarga kami.

Dukungan terhadap penundaan eksekusi Anda sangat besar sampai Jakarta, apa yang menyebabkan pengaruh Anda begitu kuat?

Yang memberi dukungan kepada kami adalah semua orang yang mencintai keadilan.

Bagaimana pendapat Anda soal demo FPUMP (Forum Perjuangan Umat Muslim Poso) yang menuntut supaya Anda cepat dieksekusi?

Saya belum yakin FPUMP mau menuntut kami segera dieksekusi, karena kami yakin mereka sangat mencintai keadilan.

Bagaimana pendapat Anda tentang tentang Kelompok Putih, kenapa mereka tidak ada yang dihukum? Apa yang Anda ketahui?

Yang saya tahu tentang Kelompok Putih adalah warga Muslim yang bertikai dengan Kelompok Merah (Kristen). Itu pun pada saat Pendeta Reynaldi Damanik membaca tuntutan di depan kantor Sinode Tentena. Yang pasti saya tidak pernah ada masalah dengan warga Muslim, begitu pun keluarga saya. Masalah mereka (Kelompok Putih) ada yang dihukum atau tidak, bukan hak saya karena saya tidak tahu tentang mereka. Yang saya tahu bahwa Yayasan Bina Warga Sulawesi Tengah, serta Pak Nahendra Pasik dan Ibu Agustin Lumentut harus bertanggungjawab karena mereka punya andil besar dalam menjebloskan kami tanpa dasar.

Anda pernah menyatakan kalau gereja mendukung anda?

Iya.

Anda pernah bilang, sebelum turun ke Poso, didoakan di halaman GKST (Gereja Kristen Sulawesi Tengah) oleh para pendeta?

Memang kewajiban orang Kristen sebelum makan harus berdo’a, selanjutnya saya diperintahkan oleh Paulus Tungkangan ke Desa Togalu Kecamatan Lage. Di sana saya ketemu Ir. A Lateka di rumah saudara Bate Lateka, adiknya.

Anda juga bilang kalau didukung GKST, apa maksudnya?

Kalau gereja di Tanah Poso, Sinode, GKST, waktu itu semua fasilitas dari mereka semua. Semua fasilitas waktu itu dari mereka semua.

Fasilitasnya apa saja?

Semua dari mobil untuk dipakai, dan masalah makanan, masalah bensin, selebaran, semua dari sana.

Dari Gereja Sinode?

Iya.

(Kontroversi semakin memanas. Di satu sisi Pemerintah meminta supaya eksekusi terhadap ketiga terpidana mati dipercepat, di sisi lain para kuasa hukum Tibo meminta eksekusi diundur dan persoalan Kerusuhan Poso dituntaskan.

Tak hanya itu, banyak para tokoh yang juga mendesak pemerintah untuk menuntaskan kasus Tibo dan meminta supaya eksekusi diundur. Demo-demo menuntut pengunduran kasus Tibo juga meluas tidak hanya di Poso dan Palu, tetapi juga di Jakarta.

Dalam masa penantiannya menunggu kepastian eksekusinya Fabianus layaknya tahanan yang lain juga melakukan pekerjaan-pekerjaan komersial. Biasanya dia menganyam rotan untuk membuat kerajinan rumah tangga seperti topi dan penutup makanan.)


Kenapa Anda menyalahkan gereja kini, dan bukan pada saat anda diadili?

Dulu dari pengacara kami larang. Tidak boleh mengungkapkan. Sebenarnya bukan gereja yang salah, oknum-oknum di dalamnya itulah. Itu yang membuat, bukan gereja. Kalau gereja tidak ada kaitannya. Tetapi oknum-oknumnya yang membuat persoalan ini, sampai saya sampaikan itu, supaya mereka harus bertanggungjawab. Itu.

Waktu itu Anda dilarang pengacara Anda untuk mengungkapkan keterlibatan gereja?

Iya, semua itu. Dilarang …untuk mengungkapkan. Dilarang, tidak boleh. Karena kalau kami mengungkapkan semua itu, berarti kami akan menerima hukuman berat. Maklum pada waktu itu kami tidak tahu hukum. Kepada siapa kami akan bertanya.

Keterlibatan Sinode seperti apa?

Seperti yang saya kemukakan tadi, semua fasilitas dari mereka. Waktu hari pertama, hari kedua, hari-hari selanjutnya. Kalau mereka langsung hari itu langsung melapor kepada pemerintah, mungkin mereka tidak terlibat. Tetapi tahu, ketika umat mereka berperang, mereka diam saja. Sehingga, banyak orang yang tidak tahu persoalan jadi korban. Mereka rapat terus, mereka tidak menghimbau. ….Mereka menjebak kami.

Jebakannya seperti apa?

Jebakannya, mereka ada menyuruh Janis Simangunsong. Janis Simangunsong itu datang pada saya dan ngomong pada saya. Itu semua ada pada keterangan saya pada pengacara.

Kenapa Anda waktu itu dilarang pengacara untuk ngomong soal keterlibatan GKST?

Semua keterlibatan itu kalau saya ngomong. Waktu itu Robert Bofe, pengacara kami yang dulu (di pengadilan tingkat I di Pengadilan Negeri Palu) waktu itu larang ngomong. Maklum kami tidak tahu hukum, jadi kami ikut. Waktu itu Bofe bilang, kalau kamu ngomong semua keterlibatan itu kamu akan dihukum berat. Jadi kalau dihukum berat kami diam saja, sedang kami tidak tahu apa-apa. Ternyata sampai disana saya dicegat.

GKST ikut bersalah?

Dari oknum-oknum di GKST ini mereka yang mempunyai persoalan, mereka yang menuntut supaya orang-orang Islam ditangkap. Akhirnya mereka balik kepada kami, apa salah kami, kamikan tidak tahu. Saya baru tahu setelah baca tuntutan yang dikemukakan GKST di Tentena. Di situlah baru saya tahu. Oh, waktu itu, ada Wakapolda ada Brimob, ada Kapolres waktu itu. Mereka (yang berkonflik) hanya dua, dua-duanya adalah GKST dan Islam. Kenapa mereka harus menjerumuskan kami.

Dengan mengungkapkan keterlibatan GKST Anda ingin dikurangi hukuman?

Iya, saya yakin hukuman saya akan berkurang. Karena ini bukan hukuman kami. Yang membuat adalah mereka.

Pada kerusuhan Poso, apakah benar Anda seorang panglima?

Mereka yang meneriakkan itu saya panglima, supaya saya dikenal sebagai dalangnya. Mereka hanya membuat yang tidak benar. Supaya menutup mereka punya kesalahan.

Apa sebenarnya posisi Anda waktu itu?

Saya dipaksakan oleh Paulus Tungkangan untuk turun ke Tegolo. Waktu itu saya tanyakan untuk apa saya turun. Dia bilang kamu tidak punya mata. Kamu tidak lihat orang Kristen punya gereja dibakar, rumahnya dibakar, orangnya dibunuh. Dengan marah, saya tidak bisa bicara dan waktu itu orang Flores hanya saya sendiri. Mereka ke bawah, langsung masuk. Waktu itu daripada kita mati konyol, kita ikuti mereka punya mau, apa sebenarnya. Di situlah saya di lapangan itu semua saya lihat. Hingga saat itu kejahatan saya ungkap. Kalau saat itu saya tidak ikut, mungkin persoalan ini tidak bisa terungkap. Kalau saya tidak mau, siapa yang mau? Tidak ada yang berani.

Apa sebenarnya target dari semua ini?

Waktu itu ngobrol bahwa sebenarnya mereka semua tahu persoalan yang terjadi, sebenarnya hanya untuk merebut kedudukan. Perebutan bupati., Waktu itu kita kan tanya-tanya. Mereka hanya bilang itu. Tidak pantas darah masyarakat yang tumpah, padahal mereka inginkan kedudukan. Saya tanya sama Pak Heri Mengkawa soal kerusuhan itu? Dia hanya menjawab, seharusnya yang bertanggungjawab bukan saya sendiri, harus ada Kapolres, Dandim.

Benar Anda baru bisa baca tulis belum lama ini?

Anda lihat sendiri tadi, saya bacanya terlambat. Di sini saya baru bisa.

Dan Anda juga punya catatan kriminal, apa sebenarnya kasus Anda sebelumnya?

Kasus Poso itu sudah dilemparkan pada saya, sehingga dari hakim, jaksa menuduh keras pada saya. Padahal kami tidak punya kepentingan apa-apa. Bukti saya waktu sidang. Saya bilang bukan kami punya, orang punya. Kami bilang bahwa tindakan kami. ..Kami bawa parang, panah. Namun panah kami waktu itu masih terikat.

Menurut Anda apa hukuman yang pantas untuk diri anda sendiri, kalau hukuman mati Anda anggap tidak adil?

Kalau pemerintah betul-betul melihat semua keterangan kami, maka kami harus bebas. Kalau pemerintah dan presiden sudah memeriksa dengan adil harus berkurang?

Berapa kira-kira?

Itu pemerintah yang tahu. [end]


* Tulisan ini dimuat Majalah Playboy edisi Juni 2006

Brigade Dokter Kuba

Oleh Imam Shofwan

Dari Kuba mereka memberi cinta dan cara bertahan hidup dalam suasana darurat

LOUIS Chaviano baru tiga hari berada di rumahnya, di Ave 38 Y Final, Sanatorio Pabellion, Cienfuegos, Kuba. Chaviano sedang melepas kangen pada istri dan anaknya, Liliana Chaviano setelah selama enam bulan berada di Khasmir, Pakistan, bersama rekan-rekannya. Di sana, mereka membantu korban gempa.

Sore itu, di paro akhir Mei 2006, ia hanya duduk-duduk saja menonton acara televisi. Tapi sebuah siaran berita menggugah nuraninya. Lagi-lagi soal gempa, dan kali ini diberitakan melanda Yogyakarta. Indera Chaviano menangkap bagian-bagian mengerikan: ribuan orang meninggal dunia dan puluhan ribu orang lainnya luka-luka.

Chaviano merasa dirinya harus segera terbang ke Yogyakarta. Namun dia tidak sampai hati untuk menyampaikan perasaannya itu kepada anggota keluarganya. Dia khawatir merusak suasana kebersamaan mereka. Sampai malam, Chaviano berusaha untuk menutupi kegelisahannya.

Seseorang dari Departemen Kesehatan Kuba menelepon Chaviano, esoknya sekira pukul 10.00. Chaviano masih tidur bersama istrinya. Dugaan Chaviano benar, pemerintah meminta kesediaannya untuk di berangkatkan ke Yogyakarta, membantu korban gempa. Chaviano siap dengan tugas itu namun dia menjawab akan membicarakannya dengan istri dan anaknya. “Kalau bersedia, silahkan kumpul di istana kepresidenan di Havana. Berangkat hari ini juga,” suara telepon ditutup.

“Aku akan mempersiapkan keperluan-keperluanmu, kamu segera ke Havana saja,” tutur istri Chaviano. Rupanya istri Chaviano sudah mendengar isi pembicaraan telepon tadi. Berat hati Chaviano untuk meninggalkan istri dan anaknya. Dengan izin dan pengertian sang istri, Chaviano akhirnya mempersiapkan diri untuk berangkat ke Havana.

Kuba adalah negeri kepulauan terbesar di lautan Karibia. Dari udara, bentuknya menyerupai buaya sedang tidur, memanjang seperti pulau Jawa. Chaviano berasal dari provinsi Cienfuegos. Jarak antara Cienfuegos dan Havana, kalau kita lihat di peta, seperti jarak antara kota Surabaya dan Jakarta. Chaviano berangkat dari kotanya di Cienfuegos ke Havana menggunakan bis umum. Ada beberapa relawan yang sedaerah dengan Chaviano. Mereka bertemu di istana kepresidenan Kuba di Havana pada 30 Juni 2006.

Di istana kepresidenan, para relawan yang akan diberangkatkan ke Yogyakarta berkumpul untuk mendapatkan pengarahan sehari. Fidel Castro turun tangan sendiri dalam memberikan pengarahan tersebut. Materinya seputar kondisi geografis Indonesia dan tipikal masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim.

Dari situ Chaviano tahu Indonesia termasuk negara miskin. Dia senang dengan Indonesia yang tropis. Namun, dia berpikir macam-macam tentang Indonesia yang mayoritas muslim. Seperti pengalamannya di Khasmir, dia membayangkan akan bertemu perempuan-perempuan bercadar. Dokter-dokter akan kesulitan memeriksa pasien perempuan, apalagi melakukan operasi.

“Saya terbayang penerapan Syariat Islam yang strict di Pakistan,” tutur Chaviano.

Chaviano adalah pegawai pemerintah. Latar belakang Chaviano bukan medis sebetulnya. Dia seorang insinyur energi otomatik kontrol. Pemerintah Kuba mendaulatnya sebagai kepala tim medis Bencana Alam Internasional (Medical Team Leader for International Natural Disaster).

Untuk Yogyakarta, Chaviano berangkat bersama dengan 135 personel, yang terdiri atas 124 orang dokter – mulai dokter umum, bedah, hingga ortopedi. Kru lainnya adalah perawat, teknisi dan tukang masak.

Tanggung jawab Chaviano tidak ringan. Dia punya beban tugas untuk mengontrol operasi peralatan-peralatan medis.

Tim harus berangkat pada 1 Juni 2006.

Istri Chaviano bertindak sigap. Ia mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa suaminya membantu korban bencana alam. Ia menyiapkan seperangkat peralatan pemberian pemerintah untuk keperluan itu, mulai dua ransel (satu berukuran kecil, satu lagi ransel gunung besar), satu kompor kecil, celana jeans, T-shirt warna merah, dan sepatu boot hitam. Dia sudah hafal apa yang diperlukan suaminya karena sebelumnya pernah dua kali menjalani misi yang sama: di Zimbabwe dua tahun dan di Pakistan enam bulan.


MALAM hari, didampingi anggota keluarga masing-masing, mereka berkumpul di Bandara Havana untuk berangkat. Keluarga mereka bangga anggotanya hendak membantu korban bencana alam. Liliana, anak Chaviano, juga bangga pada ayahnya yang waktu itu berangkat dengan diantarkan Menteri Luar Negeri Kuba, Felipe Perez Roque. Sebelum berangkat, Liliana memesani ayahnya untuk membeli boneka dan baju saat pulang nantinya.

Komunikasi dengan Jakarta terus mereka lakukan. Ada sedikit ganjalan. Rencana awal, semua bantuan dari mereka akan di pusatkan di Yogyakarta yang menjadi episentrum gempa. Namun, pemerintah Jakarta dan pemerintah propinsi Yogyakarta rupanya masih bersitegang. Mereka berdebat soal status gempa: bencana lokalkah atau bencana nasional. Pemerintah Yogyakarta menganggap gempa Yogyakarta, 27 Mei 2006 sebagai bencana lokal dan cukup diselesaikan secara lokal. Mereka menolak bantuan-bantuan asing.

Fidel Castro turun tangan. Dia menelepon presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membicarakan masalah ini. Akhirnya, keduanya bersepakat bantuan dipusatkan di Kabupaten Klaten yang terkena gempa paling parah. Malam itu juga akhirnya tim medis Kuba diberangkatkan dengan pesawat Cubana dari bandara Havana.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 jam dan melakukan tiga kali transit di Lisabon, Istambul dan Calcuta, pada 3 Juni 2006 siang pesawat yang membawa mereka mendarat di Bandara Adi Sumarmo, Solo. Mereka disambut oleh Jorge Leon, duta besar Kuba untuk Indonesia.

Sesampainya di Solo, Louis Chaviano senang melihat perempuan-perempuan mengenakan rok pendek, bekerja di toko dan bersepeda motor. Bayangan wanita muslim bercadar yang pernah dia temui di Khasmir tidak dia temukan di Solo.

“Saya langsung bernapas lega,” tutur Chaviano.

Dari bandara Solo, mereka mampir ke kantor bupati Klaten untuk beramah tamah. Tuntas itu, mereka menginap di Quality Hotel Solo. Suwarna SE, bupati Klaten menawarkan dua tempat untuk pusat kegiatan dokter Kuba ini: di Kecamatan Gantiwarno dan Prambanan.

Di Gantiwarno, mereka mendapat tempat di halaman sebuah SD. Sementara di Prambanan, mereka mendapat tempat di sebuah tanah lapang milik Hariadi --dulunya tanah itu digunakan untuk depot pasir.

Malam itu juga Chaviano ditemani beberapa orang menyurvai kedua tempat tersebut. Mereka menganggap kedua tempat itu layak.

Pagi harinya, 60 ton peralatan dan obat-obatan sampai di bandara Adi Sumarmo. Para anggota tim check out dari hotel untuk mendirikan tenda-tenda dan mengurus obat-obatan dan peralatan.

Pertama kali mereka mendirikan tenda-tenda di Gantiwarno lalu di Prambanan. Seharian berpanas-panasan, akhirnya tenda-tenda ukuran besar ini berdiri. Dua tenda untuk ruang rawat inap, laki-laki dan perempuan, ruang operasi, ruang gawat darurat, laboratorium dan ruang menginap para penerjemah. Selain itu, mereka juga mendirikan tenda-tenda kecil untuk menginap para anggota tim. Satu tenda ditempati dua orang.

Malam harinya Louis Chaviano menginstal peralatan-peralatan medis, mulai mesin rongent, mesin pendeteksi suara, mesin pendeteksi darah sampai alat-alat komunikasi. Louis dan kawan-kawannya bekerja cepat. Esoknya, 5 Juni, rumah sakit itu mulai beroperasi.

Tidak ada pesta pembukaan.

Untuk menginformasikan keberadaan kedua rumah sakit ini kepada masyarakat, mereka hanya memasang umbul-umbul bertuliskan “Pengobatan dan Operasi Gratis untuk Rakyat Indonesia dari Tim Medis Kuba” di antara bendera Kuba dan bendera Indonesia. Selain itu, secara bergantian dokter-dokter Kuba itu mengunjungi desa-desa untuk mengobati korban-korban gempa sambil terus menginformasikan keberadaan kedua rumah sakit itu.


TIM Chaviano bernama Brigade Medis Henry Reave. Mereka siap setiap saat untuk diterbangkan membantu korban bencana alam di seluruh dunia. Mereka sudah bekerja membantu korban bencana dan konflik di lebih dari 60 negara, termasuk Indonesia dan tetangganya di Timor Leste.

Chaviano menceritakan banyak hal pada saya, tentang pengalaman-pengalamannya selama ini, terutama sewaktu bertugas di Zimbabwe dan Khasmir, sistem pendidikan dan kesehatan di Kuba sampai tokoh idolanya Che Guevara. Dia senang bisa melakukan hal yang sama dengan sang idola, berkeliling dunia untuk membantu orang-orang yang membutuhkan.

“Che melakukan apa saja di tempat mana saja yang membutuhkan,” tutur Chaviano pada saya.

Sekilas, wajah Louis Chaviano rasanya mirip juga dengan Che Guevara, yang tergambar di kaos tanpa lengan yang dia kenakan siang itu. Rambutnya berombak sebahu dan kulitnya coklat khas Amerika latin. Saya bertemu dengannya pada 23 Agustus lalu, di Klaten, atau setelah hampir tiga bulan dia bekerja di sana bersama relawan medis Kuba.

Nuansa Che terlihat di hampir setiap tempat. Yang paling dominan tentu saja di sebuah ruangan yang bersinar agak redup, tempat peralatan rongent tersimpan. Di sana terpampang poster-poster Che Guevara, selain Fidel castro, di dinding tenda. Tak hanya poster, sesungguhnya. Tapi juga tampilan para dokternya. Seperti juga Chaviano, sebagian dokter laki-laki memiliki rambut panjang, ikon rambut yang mengingatkan orang pada Che Guevara.

Che Guevara yang dimaksud adalah salah satu pahlawan revolusi Kuba. Sejak tahun 1956, Che, bersama Fidel Castro dan Raul Castro, mengorganisasi petani Kuba untuk bergerilya melawan Diktator Fulgencio Batista.

Guevara dan Fidel Castro antara lain berjanji untuk menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai pilar utama Kuba setelah revolusi. Selama gerilya, para petani melihat kesungguhan para pemimpin mereka. Guevara sendiri, yang memang dasarnya seorang dokter, mengobati sendiri para gerilyawan yang terluka. Selain itu, pada saat senggang, Guevara mengajar membaca pada para pengikutnya yang rata-rata buta huruf.

“Pendidikan tidak hanya berfungsi vertikal namun juga horisontal.” Jargon ini sering diucapkan Che. Pendidikan tidak hanya ditujukan untuk mencapai kekuasaan dan uang, tapi juga untuk fungsi sosial dan kemanusiaan.

Tahun 1959 Kuba lepas dari Batista. Fidel Castro berusaha melaksanakan janji-janjinya. Dan berhasil. Menurut Juan Casassus, anggota tim dari the Latin American Laboratory for Evaluation and Quality of Education at UNESCO Santiago, prestasi tinggi Kuba dalam pendidikan ini merupakan hasil dari komitmen kuat pemerintahan Kuba, yang menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas teratas selama 40 tahun sesudah revolusi. Pemerintah Kuba memang mengganggarkan sekitar 6,7 persen dari GNP untuk sektor ini, dua kali lebih besar dari anggaran pendidikan di seluruh negara Amerika Latin.

Dengan anggaran sebesar itu, pemerintah Kuba berhasil membebaskan seluruh biaya pendidikan, mulai level sekolah dasar hingga universitas. Bebas biaya pendidikan diberlakukan juga untuk sekolah yang menempa kemampuan profesional. "Everyone is educated there. Everyone has access to higher education. Most Cubans have a college degree," ujar Rose Caraway, salah satu mahasiswa AS yang ikut progam studi banding di Kuba, pada 2005. Kebijakan ini menjadikan rakyat Kuba sebagai penduduk yang paling terdidik dan paling terlatih di seluruh negara Amerika Latin. Saat ini saja ada sekitar 700 ribu tenaga profesional yang bekerja di Kuba.

Tetapi, kebijakan menggratiskan biaya pendidikan ini tampaknya kurang mencukupi. Sejak tahun 2000, pemerintah Kuba mencanangkan program yang disebut “University for All.” Tujuan dari program ini adalah untuk mewujudkan mimpi menjadikan Kuba sebagai “a nation becomes a university.”

Melalui program ini seluruh rakyat Kuba (tua-muda, laki-perempuan, sudah berkeluarga atau bujangan) memperoleh kesempatan yang sama untuk menempuh jenjang pendidikan universitas. Caranya, pihak universitas bekerjasama dengan Cubavision and Tele Rebelde, menyelenggarakan program pendidikan melalui televisi. Saat ini media televisi Kuba menyediakan 394 jam untuk program pendidikan setiap minggunya. Jumlah ini sekitar 63 persen dari total jam tayang televisi Kuba. Sejak program on-air ini, pada 2 Oktober 2000, ada sekitar 775 profesor yang datang dari universitas-universitas besar di Kuba yang aktif terlibat dalam program ini.

Program kesehatan bisa dikatakan sebagai dampak dari pembangunan pendidikan Kuba itu. Cliff Durand, profesor emeritus filsafat di Morgan State University, Baltimore, AS, mengungkapkan, saat ini rata-rata tingkat kematian dini di Kuba hanya 5,8 kematian dalam satu tahun untuk 1.000 kelahiran. Angka ini adalah yang terendah di kawasan Amerika Latin, bahkan lebih rendah dari yang terjadi di Amerika Serikat.

Jumlah tenaga dokter per kapita Kuba jauh lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia. Saat ini saja, ada sekitar 130.000 tenaga medis profesional. Sebanyak 25.845 tenaga dokter Kuba bekerja untuk misi kemanusiaan di 66 negara, 450 di antaranya bekerja di Haiti, negara termiskin di benua Amerika. Sebagian lainnya bekerja di kawasan-kawasan miskin di Venezuela. Ketika terjadi bencana topan Katrina di New Orleans, beberapa waktu lalu, Presiden Fidel Castro berinisiatif mengirimkan 1.500 tenaga dokter. Tapi, inisiatif ini ditolak oleh pemerintah AS dengan alasan yang sifatnya politis.

Tidak hanya untuk rakyat Kuba, kini melalui Latin American School of Medicine, pemerintah Kuba memberikan beasiswa untuk pendidikan kesehatan kepada ratusan kaum muda miskin dari seluruh negara Amerika Latin, Afrika, bahkan Amerika Serikat. Yang menarik, di Kuba pengajaran kesehatan tidak hanya menyangkut soal ilmu pengetahuan dan seni pengobatan tapi, juga nilai-nilai pelayanan sosial terhadap kemanusiaan. Seperti dikemukakan Castro, ketika mewisuda 1.610 mahasiswa pada musim panas Oktober 2005,

“Modal manusia (human capital) jauh lebih bernilai ketimbang modal kapital (financial capital). Modal manusia meliputi tidak hanya pengetahuan, tapi juga – dan ini yang sangat mendasar – kesadaran, etika, solidaritas, rasa kemanusiaan yang sejati, semangat rela berkorban, kepahlawanan, dan kemampuan menciptakan sesuatu dalam jangka panjang.”


MEREKA bekerja dengan mengenakan jins dan T-shirt, sementara dokter perempuannya banyak yang mengenakan tang top. Pembawaan mereka umumnya ramah-ramah. Saya tertawa sendiri mendengar dialog salah satu dokter dengan pasien. Walau ditemani para penerjemah, mereka mencoba untuk berbicara Bahasa Jawa.

“Matur nuwun, terima kasih”

“Sami-sami, sama-sama”

Beberapa pasien perempuan dan anak-anak saya lihat tergeletak di bangsal-bangsal panas di ruang rawat inap perempuan. Dua orang pasien telah menjalani operasi cesar, seorang menjalani perawatan setelah operasi tumor, dan seorang ibu baru saja bersalin.

Ginem termasuk salah seorang yang bersyukur dengan kedatangan dokter-dokter Kuba ini. Dia datang ke rumah sakit untuk melahirkan anak keduanya.

Ginem bercerita kalau sebelumnya dia telah memeriksakan kandungannya di rumah sakit Bethesda, Yogyakarta. Dia disarankan untuk melakukan persalinan dengan cesar, karena kandungannya telah telat dua minggu. Ini berarti, kata Ali Yani, suami Ginem, mereka harus menyiapkan uang minimal Rp 7 juta. Jumlah sebesar ini tentu berat baginya, yang sehari-hari hanya buruh di sebuah swalayan di Yogyakarta.

“Walaupun panas, saya tidak apa-apa yang penting anak saya selamat,” tutur Ginem.

Saya tidak tahan menyaksikan para pasien ini di rawat di tenda-tenda yang panas. Saya lalu meminta Chaviano untuk melanjutkan ke ruangan lain. Kami lalu mengunjungi laboratorium. Hanya tenda-tenda tempat menginap mereka yang tidak boleh saya kunjungi.

“Itu adalah satu-satunya tempat pribadi kami,” tutur Chaviano.

Saking asyiknya mengobati pasien mereka lupa kalau mereka tinggal di lapangan yang tidak punya fasilitas untuk mandi. Pada minggu pertama, walau capek setelah seharian mengobati pasien, mereka mendirikan sendiri kamar mandi sederhana berdinding seng.

Hari sudah mulai sore. Saya kembali ke hotel yang berjarak tiga kilo meter dari rumah sakit Kuba di Kecamatan Prambanan. Di sana, saya mandi dan makan malam.


CHAVIANO dan anggota Brigade bagi Anangga Kurniawan (22) adalah kawan-kawan yang menyenangkan. Kurniawan mahasiswa Universitas Negeri Surakarta, penerjemah di rumah sakit tenda tersebut. Dia mendampingi mereka, mulai saat mengobati pasien hingga saat mereka mengadakan kunjungan ke desa-desa di sekitar Klaten.

Sejak menjadi relawan di Kuba, Kurniawan tinggal di sebuah tenda besar di lokasi rumah sakit tenda Kuba di Kecamatan Prambanan. Ada dua tenda bagi Kurniawan dan kawan-kawan: satu untuk laki-laki dan satu untuk perempuan. Semua kebutuhannya selama di tenda ditanggung oleh rumah sakit Kuba.

Dari interaksi antara pasien-pasien dengan para dokter, Kurniawan tahu bagaimana mereka bersungguh-sungguh dalam menangani pasien. Dalam menangani penyakit tertentu, bahkan ada tujuh dokter sekaligus yang menangani satu pasien. Mereka berdiskusi dengan Bahasa Spanyol, Kurniawan tidak tahu pasti apa maksudnya, namun dari tindakan para dokter itu, dia tahu kalau mereka serius menangani para pasien.

Aktivitas Kurniawan biasanya dia mulai pada jam enam pagi. Dia dan kawan-kawannya mulai mempersiapkan pendaftaran pasien-pasien. Jam pendaftaran mulai pukul 07.00 sampai pukul 10.00. “Biasanya tiap hari ada sekitar 350 pasien,” tutur Kurniawan.

Setelah mendaftar, pasien mereka sebagian menemani dokter di rumah sakit, sebagian lagi menemani para dokter untuk berkeliling desa-desa untuk mencari pasien yang tidak bisa datang ke rumah sakit. Biasanya, kunjungan berlangsung hingga pukul 09.00 pagi hingga pukul 13.00. Mereka kembali ke rumah sakit dan membantu para dokter yang ada di sana.

Kurniawan punya pengalaman yang menarik perhatiannya. Suatu hari, sehabis mengadakan kunjungan ke desa, para dokter itu hendak belanja. Sejak dua bulan menjadi penerjemah, ajakan belanja itu adalah yang pertama baginya. Mereka mengatakan hendak mencari sepatu anak dan kaos. Kurniawan senang, lalu mengajak mereka ke Swalayan Matahari, Klaten, yang merupakan tempat belanja terbesar di Klaten.

Karena sudah lama tak belanja, Kurniawan membayangkan mereka akan belanja habis-habisan seperti bule-bule yang biasa ia temani saat jadi guide wisata. Perkiraan Kurniawan meleset. Mereka hanya belanja barang yang disebutkan yaitu sebuah T-shirt dan sepatu anak. Itupun mereka mencari yang paling murah atau yang diskonan. Setelah membeli kaos dan sepatu anak, mereka langsung pulang. Kurniawan masgul karena – lagi-lagi --tidak ada acara makan-makan setelah belanja.

Sebenarnya Kurniawan sudah curiga kalau dokter-dokter Kuba itu hanya dokter-dokter miskin. Setiap hari, mereka hanya mengenakan dua kaos secara bergantian. Kalau tidak merah, ya hijau. Selain itu, mereka tidak pernah makan di luar dan sangat hati-hati menggunakan uang. “Kalau belanja, paling-paling cuman beli teh,” tutur Kurniawan.

Dengan segala kederhanaan ini mereka sungguh-sungguh membantu para korban bencana. “Kami hanya dari negara miskin. Kami hanya membantu sesuai dengan apa yang telah kami kuasai,” kata Chaviano.

Pada dua bulan pertama, Kurniawan menyaksikan sendiri bagaimana mereka bekerja penuh dalam seminggu tanpa hari libur, 24 jam mereka melayani pasien. Menjelang bulan ketiga, mereka libur di hari minggu.


SUBANDI (56) duduk di atas batu hitam, di antara pohon kelapa dan pohon Trembesi di sudut tanah lapang di pinggir ruas jalan Yogya-Solo. Di depannya berbaris sepuluh tenda rumah sakit, dan dua puluh tenda tempat tinggal para dokter. Sisanya dua tenda untuk para penerjemah dari Universitas Negari Surakarta.

Tenda-tenda warna putih rumah sakit, tertutup debu dan menjadi coklat. Panas dan pengap suasana dalam tenda tersebut. Subandi termasuk pasien kepanasan. Dia memilih duduk di luar tenda.

“Planangan kulo sakit lan panas menawi kerjo berat,” tutur Subandi kepasa saya. (Kemaluan saya sakit dan panas kalau bekerja berat).

Dua tahun kemaluan Subandi bengkak menjadi dua kali lipat. Menurut pemeriksaan dokter, dia menderita penyakit Hernia. Istilah lokalnya usus ting planangan atau kontol landung (kemaluan besar) untuk istilah kasarnya. Selama itu, dia tidak memeriksakan penyakit yang dideritanya. Untuk mengurangi rasa sakit, biasanya dia melakukan pijat urut sewaktu penyakitnya kambuh.

Subandi belajar dari pengalaman para tetangga yang menderita penyakit serupa. Penyakit semacam itu akan sembuh kalau dioperasi. Subandi harus mengubur keinginannya untuk operasi karena biaya yang besar. Biaya yang besar itu menurutnya lebih baik digunakan untuk biaya pendidikan anak perempuannya, Tri Suwanti (24). Tri kuliah di Fakultas Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Surakarta, “Cita-cita saya, kalau Tri lulus akan mengumpulkan uang untuk operasi,” tutur Subandi.

Tri Suwanti telah lulus kuliah, Subandi pun mengumpulkan uang untuk operasi. Sebagai petani dia berencana untuk operasi setelah panen padi. Namun rencana itu segera punah saat gempa bumi 5,9 Skala Richter menghajar Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian Selatan, pada 27 Mei 2006. Tanaman padinya rusak dan rencana untuk operasi juga gagal.

Subandi mengetahui para dokter-dokter Kuba bisa meredakan derita Subandi. Ia pergi ke sana untuk mengoperasi penyakitnya. Kemungkinan untuk sembuh kembali tumbuh. Dia segera mendatangai rumah sakit Kuba di Jalan Solo-Yogya, Klaten, pada Agustus.

“Semuanya lancar, saya tinggal mengungkapkan keluhan saya dan menerjemah akan menyampaikannya ke dokter,” tutur Subandi. Enam hari berselang, operasinya penyakit Subandi dilaksananakan.

“Sekarang sudah baik, sudah kempes, tinggal periksa rutin,” tutur Subandi.

Di ruang rawat inap, saya bertemu pasien lain. Namanya Ginem (42). Dia tampak berseri-seri karena telah berhasil melakukan operasi Cesar. Sebelumnya dia telah dua minggu telat melahirkan. Dia bersyukur dan berterima kasih pada dokter kuba yang telah menyelamatkan nyawanya.

Sebelumnya, Ginem selalu memeriksakan kandungannya ke Rumah Sakit Bethesda, namun karena tidak mampu membayar enam juta untuk operasi cesar akhirnya dia pindah ke rumah sakit Kuba. “Panas-panas saya nggak papa, yang penting saya selamat anak saya selamat,” tutur Ginem.

Ginem dan pasien-pasien lain merasa heran ketika mendengar bahwa dokter-dokter Kuba itu pada akhirnya disuruh meninggalkan Yogyakarta lantaran ada keluhan dari institusi kesehatan. Mungkin mereka kekurangan pasien karena semuanya tersedot ke rumah sakit tenda. “Masak masih banyak pasien kayak gini pemerintah tega mengusir para dokter yang rencananya enam bulan menjadi tiga bulan,” ujar Prasetya, suami Ginem.

Dia, bersama sejumlah pasien, kemudian menuliskan protes mereka di kertas-kertas plano dan memasangnya di pagar masuk rumah sakit. Sebagian bertuliskan: “Dibantu kok ngusir”, “biarkan Kuba membantu rakyat”.

Prasetya dan kawan-kawannya tidak yakin tulisannya akan dilihat pemerintah, sekaligus mencegah kepergian mereka. *

--Pernah dimuat majalah Playboy, edisi November 2006.

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...