30 March 2008

Aku Juga Mau Disyuting

Oleh: Hanum

Nafasku tersengal seiring dengan langkah kaki yang kupacu. Pak Sur, guru paling galak di SMP 2 Porong, berdiri di ujung koridor membuat langkahku gentar. Sapaanku yang kupaksakan dibalas dengan anggukan muka masam.

Setelah melewatinya dan hampir sampai di pintu kelas kurapikan jilbabku yang berantakan. Aku terlambat lagi dan aku berusaha tidak mengulanginya tapi percuma aku tetep aku dengan kebiasaan burukku.

Sekolahku di desa Renokenongo. Aku menyukai sekolah ini karena banyak pohon besarnya dan letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di Perumahan Tanggulangin Sejahtera. Karena letaknya di dekat areal persawahan Renokenongo orang sering meledeknya dengan sekolah mewah alias mepet sawah.

Aku juga suka tinggal di perumahan tempatku tinggal karena akrab suasanya, tetangga yang akrab. Namaku Hanum Anggraini Azkawati. Para tetangga, teman sekolah dan keluargaku biasa memanggilku Hanum.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sebentar lagi akan jadi empat bersaudara karena sekarang ibuku sedang hamil tua. Di sekolah aku dikenal “jam karet.” Molor terus, tak pernah on time.

“ Hanum, kamu telat lagi ya?” Tanya Risa padaku. Risa adalah sahabatku, kita berdua sebangku. Rumah Risa di Desa Kedungbendo tak jauh dari tempat tinggalku.

“Hehe, iya aku telat. Habis tadi rantai sepedanya lepas. Nih tanganku banyak oli,” aku menunjukkan tanganku.

Selain Risa, ada juga yang bernama Chintya dan Tika. Mereka berdua teman akrabku. Kami selalu bersama. Aku bahagia sekali sekolah di sini. Gurunya unik, teman-temanku juga baik. Meskipun di sekolah aku bukan golongan anak populer. Karena aku pendiam, sangat pendiam. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja. Nggak ada aku, tidak ada pengaruhnya. Tapi aku senang di SMPN 2 Porong. Aku sekelas lagi dengan temanku di Sekolah Dasar (SD) dulu. Iya, apalagi ada Galang. Aku beruntung sekelas lagi dengannya.

“Uffh,” Teriknya mentari membuatku ingin lekas pulang. Apalagi teringat kata-kata Wachidaini tadi pagi. Bahwa tadi ada gas yang bocor tak jauh dari sekolahku. Kata teman-teman baunya menyengat, bahkan banyak yang pingsan. Tapi aku sama sekali tak mencium bau apa-apa.Wah, sepertinya hidungku perlu di periksakan ke dokter spesialis hidung.

Aku tak sabar pulang, terlebih bertemu si cantik Fahma. Adik baruku yang lahir empat hari yang lalu, tepatnya 25 Mei 2006. Inginku ciumi pipinya yang tembem itu.

“Uffh, sampai juga aku di rumah, eh ada Tante,” Aku tersenyum pada tetanggaku yang menjenguk adikku. “Mbak, katanya tadi di dekat sekolah sampeyan ada gas yang bocor ya?” Tanya tetanggaku. “Mm, iya sih, tapi ndak tau apanya yang bikin bocor. Pokonya hari ini sekolah pulang cepet aja tante. Soalnya banyak yang pingsan.”

Esoknya, pelajaran di sekolah benar-benar tidak efektif. Bayangkan saja, guru dan muridnya melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menutup mulut dan hidung dengan masker. Mirip sekali dengan sekolah ninja.

“Sudah anak-anak, kita libur dulu saja, pulang dulu anak-anak,”guruku berteriak panik. Jelas saja, karena jumlah anak pingsan makin banyak saja. Yang muntah malah tidak terhitung. Aku hanya mengikuti saja perintah guru, pulang ya pulang, libur ya libur.

Tak terasa sudah beberapa hari aku dan teman-temanku tidak masuk sekolah. Aduh bingung sekali aku. Aku iri dengan anak tetanggaku yang setiap pagi selalu berangkat sekolah. Akhirnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Sur. Pak Sur terlihat bingung. “Tunggu informasi selanjutnya!” Ujar Beliau, aku dan teman-temankupun kecewa. Sampai akhirnya ada kabar bahwa SMPN 2 Porong dipindah ke SDN 1 dan 2 Renokenongo.

Hmm, jaraknya lumayan dekat dengan SMPN 2 Porong yang terlihat sudah ditanggul.

Teman-temanku banyak yang pindah. Rere, Risky dan banyak lagi. Kenapa kalian pindah meninggalkan kenangan indah kita?

Sebenarnya ada apa ini? Aku bertanya dalam hati. Mengapa hanya karena gas bocor lalu menjadi luapan lupur yang meluber kemana-mana? Rumah Risa di Desa Kedungbendo sudah digenangi lumpur. Lumpur itu panas sekali. Sekolah SD-ku juga hilang ditelan lumpur.

Lingkungan rumahku mulai tak aman. Air di rumahku mulai keruh. Fahma kecilku juga terkena dampaknya. Kulitnya kemerah-merahan. Sempat aku sekeluarga menginap di rumah Bude, agar sakit kulit Fahma hilang. Dan benar, setelah di rumah Budhe, kulit Fahma kembali seperti semula.

Aku semakin bingung, karena keadaan semakin parah. Warga Perum TAS yang tadinya tentram dan damai kini mulai resah.

Waraga Perum TAS mulai berdemo. Termasuk Ayahku. Mereka berpikir realistis, jika Desa Kedungbendo yang jaraknya lumayan jauh dengan Porong saja terkena dampak lumpur. Bagaimana dengan Perum TAS yang jaraknya lumayan dekat dengan Kedungbendo? Meski sudah ditanggul berkali-kali, tetap saja lumpur tetap mengalir.

“Hanum, sampai kapan ya kita begini terus?” Tanya Risa padaku.

“Wah aku sendiri nggak tahu tuh! Gimana kabarmu? Kamu sekarang tinggal di mana?”

“Aku? Aku sekarang di pengungsian.”

“Terus gimana sekarang?”

“Waduh, jangan tanya gitu Num. Di pengungsian itu nggak enak sama sekali. Airnya keruh, baunya kayak kotoran manusia. Mandi juga harus antre!”

“Wah, masak sih? Jangan berlebihan deh!”

“Serius Num! Malahan kalau makan nasi bungkusnya ada yang berulat. Iih, mau nggak kayak gitu?”

“Stop! Stop! Jangan lanjutin, aku nanti mutah di sini.”

“Woi, ayo cepetan masuk. Kita mau masuk! Ada wartawan,” teriak Joko, salah satu temanku.

“Idih, jangan norak deh Jok, kayak nggak pernah lihat wartawan ngeliput aja,” Aku menyindir Joko, Padahal aku sendiri juga belum pernah melihat wartawan meliput secara langsung.

Benar saja, beberapa menit kemudian ada dua wartawan datang, wartawan itu dari SCTV, satu saluran TV swasta di Indonesia .

Beberapa detik, suasana kelas langsung sunyi. Aku menunjukkan raut muka paling manis sedunia. Pak Isa guru matematikaku yang biasanya bergurau, kini terlihat formil.

“Cut, cut,” teriak Pak Isa pada wartawan. Pak Isa ingin diulang lagi. Beliau keluar dari kelas, dan kembali masuk dengan langkahnya yang tegap plus senyuman yang berwibawa. “Huu,” Gumamku dalam hati. Cepetan, aku juga mau disyuting.[end]

Bersambung.

14 February 2008

Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi
Oleh Imam Shofwan

Saya kenal Agus Suwage saat karya Pinkswing Park, hasil kolaborasinya dengan fotografer Davy Linggar, diprotes FPI. Saya semakin dekat dengan Suwage dan Keluarganya saat gempa Jogja 2006. Saat itu saya sempat tinggal di studionya 2 bulan untuk membantu posko gempa. Saya lalu mengikuti beberapa pameran Wage dan mencoba parsial dan menuliskan kisahnya.

Tulisan ini saya ajukan ke RollingStone dan Gatra tapi keduanya tak memberikan kepastian akan memuat naskah ini. Maka saya muat naskah ini di blog buat pembaca semua.

Lanjut...

11 January 2008

“Orang Islam Takut Profesi Musik”

Wawancara dengan Anne K Rasmussen, PH.D, Associate professor musik dan etnomusikologi di the College of William and Marry Williamsburg, Virginia.
Oleh Mujtaba Hamdi dan Imam Shofwan

Nasyid pesat di Indonesia. Dapatkah anda petakan nasyid dengan musik Islam lain…

Saya pernah mendengar nasyid Raihan. Meski liriknya salawat, namun saya tidak menemukan hubungan Raihan dengan jenis musik Arab mana pun. Kalau mau jujur, daripada mendengar Raihan saya lebih tertarik mendengar musik berbahasa Arab. Apakah mereka pakai Bahasa Arab agar terkesan bernafaskan Islam, atau hanya tambahan supaya berwarna Islam.

Islam kerap identik dengan Arab. Apa sebenarnya citra yang ingin ditampilkan dari musik bernuansa Arab?
Kalau saya memimpin orkestra musik Timur Tengah, orang Amerika langsung berpikir musik yang dibawakan adalah musik Islam. Saya selalu harus menjelaskan musik kami dari kebudayaan Arab, ada Islam, Yahudi, Nasrani. Campur baur. Sejarah Yahudi dan Kristen sangat kaya dengan musik. Berbeda dengan orang Islam, karena orang Islam sangat takut dengan profesi musik. Jadi, lebih banyak orang Yahudi dan Kristen yang bermusik karena tidak dilarang.

Bisa anda jelaskan hubungan lagu dengan agama?

Melihat tradisi agama, di Islam ada seni baca Al-Quran, di Yahudi juga ada seni baca Taurat. Kalau kita masuk gereja Meroic atau Melkait di Lebanon, misalnya, akan mendengar musik suci dari Gereja Meroic, mirip sekali dengan alunan ayat Al-Quran. Karena kebudayaannya berasal dari tempat yang sama; dari perspektif musik agama, dari sudut syair religi dan melodi saja. Perumpamaannya, kalau kita tinggal di daerah hanya ada pisang, pasti semua orang makan pisang, Yahudi makan pisang, Islam makan pisang, kaya-miskin, kulit hitam-putih, tempat yang sama pasti akan sama pula kebiasaannya, termasuk bermusik.
Orang Islam banyak yang bermain musik akapela. Sebenarnya mereka mencari sesuatu yang Islami; bersenandung tanpa alat musik…

Kalau mendengar akapela, saya langsung teringat tradisi Kristen, karena istilah ‘a’ dan ‘capela’ maksudnya dari gereja. Akapela maksudnya tidak pakai instrumen, sudah menjadi tidak hanya lagu gereja tapi juga koor, juga gaya seperti Snada. Asal musik semacam itu dari orang Hitam-Amerika. Kalau mendengar lagu-lagu Snada, saya langsung ingat akarnya, yaitu dari tradisi kristen Amerika-Afrika. Kini orang Islam senang membawakan lagu-lagu akapela. Mereka merasa cocok dengan akapela lalu diambil, mereka dari orientasi pop, global pop culture, kadang saya tidak bisa membedakan kalau saya mendengarkan musik dari negara lain dengan bahasa lain, tapi kita bisa menebak makna lirik dan konteksnya. Memang dalam bahasa asing kadang kita tidak paham maknanya tapi kekuatan liriknya kita bisa pahami maksudnya.

Apakah ada kesamaan akar, antara musik-musik islami, seperti Debu misalnya?

Bagi saya, Debu adalah fenomena di luar kebudayaan Indonesia. Mereka orang asing dari wilayah Texas di Amerika Serikat, mesti ada beberapa orang Indonesia. Mereka memainkan banyak instrumen yand digabung, ada yang main satur (alat musik dari Iran). Dan mereka tidak mewakili satu kebudayaan mana pun. Sebenarnya mereka baru belajar. Kalau orang Amerika ke sini, mereka memproduk sesuatu harus punya suport dana. Mereka bagus, kreatif, menarik, tapi tidak merepresentasikan tradisi tertentu, ada pengaruh musik country, ada pengaruh musik Timur Tengah. Mereka meracik secara otodidak. Pasti mereka belum belajar musik Indonesia. Kalau musik di Indonesia pasti agak terpengaruh oleh musik tradisional seperti keroncong atau gamelan.

Wawancara ini mengisi boks dalam rubrik Syir’atuna, laporan utama, majalah Syir’ah, edisi November 2004.

Gaya Musik Islam Menafsir Yang Haram

Oleh Banani Bahrul-Hassan dan Imam Shofwan

Aula yang tak begitu besar itu penuh penonton, di panggung sebaris personel kelompok musik beraksi. Vokalisnya bergerak lincah. Kostumnya kemeja hitam bergambar kepala singa berbulu pirang, nyaris sama dengan warna rambutnya. Mustafa, pria itu, adalah vokalis utama kelompok musik Debu.


Debu pentas di Wisma Grafika, 17 Minggu 17 Oktober lalu. Beragam lantunan alat musik mengiringi lagu demi lagu. Alat musik, bagi Mustafa, bukanlah barang haram yang tak boleh dimainkan.
“Alat musik itu adalah anugerah Allah, sejak Nabi Daud telah tercipta alat musik,” kata Mustafa.

Debu, salah satu dari banyak kelompok yang menyemarakkan belantika musik Tanah Air. Kelompok yang gemar melantunkan syair-syair religi ini punya pandangan berbeda dengan kelompok musik lain. Tengok saja pandangan kelompok nasyid Azzam. Pendatang baru di jagad nasyid ini adalah kontestan dalam ajang pergelaran mencari bakat bertajuk ‘Konser Bintang Nasyid, Tausiyah dan Qiraah’ di TV7.

Azzam, lahir pada 1999, emoh memainkan alat musik apa pun. “Nasyid tidak mementingkan musik, karena alat musik bukanlah faktor dominan, tapi nasyid mengandalkan lirik,” ujar salah seorang personelnya Langgeng Jatmiko alias Koko.

Lirik pun, lanjut Koko, bukan sembarang lirik. Lirik dalam nasyid mengutamakan cinta pada Allah dan Rasul. “Inilah yang membedakan nasyid dan lagu band yang mengagungkan cinta kepada sesama manusia, atau kepada lawan jenis, cinta yang belum dirangkai dalam ikatan sah,” kata Koko yang mengaku pernah memiliki grup band. “Nasyid memberi alternatif cinta sejati, cinta kepada Pencipta,” timpal Febri Adan Pangestu, personel Azzam juga.

Namun, Azzam rupanya juga membutuhkan variasi untuk mempertahankan audiennya. Awalnya, Azzam bernasyid dengan gaya haroki, yang mirip lagu-lagu mars kebangsaan, tapi kini beralih ke akapela.
“Awalnya kami membawakan lagu-lagu haroki dengan irama penuh semangat. Semakin ke sini, karena permintaan pengundang, kita membawakan akapela,” kata Koko.

Alat musik, kata Koko, masih banyak perbedaan pendapat di antara ulama. Karena itu kita berusaha untuk berhati-hati tidak menggunakan instrumen.

Pada konser di TV7 lalu, Azzam pun menampilkan variasi baru. Lihatlah, meski telah menetapkan prinsip untuk berhati-hati menggunakan instrumen musik, Azzam tak menolak Ozenk Percussion mengiringi penampilannya.

Lain Azzam, lain pula Al-Kahfi. Kelompok nasyid asal Lampung yang juga ikut dalam festival di TV7 ini punya pendapat yang sedikit berbeda dengan Azzam. Lirik yang Islami, bagi Al-Kahfi, bukanlah monopoli nasyid. “Lagu pop dapat sesuai syar’i kalau liriknya Islami,” kata pentolah Kahfi Taufiq Qodri pada syir’ah.
Al-Kahfi sendiri dalam album perdananya menggunakan instrumen. “Dari sepuluh lagu dalam album kami, hanya beberapa yang akapela. Kebanyakan pakai instrumen, seperti keyboard, gitar juga biola. Albumnya dibikin minus one dan kami tinggal mengisi suara,” kata Qodri yang saat wawancara ditemani personel Al-Kahfi lainnya.

Kenapa mau menggunakan alat musik, apakah tidak melanggar syari’at? Qodri rupanya punya jawaban. Para penemu alat musik, kata Qodri, adalah orang Islam. Yang pertama tahu akapela juga orang Islam. Sebenarnya nasyid (yang) seperti akapela itu bukan dari gereja, yang pertama tahu musik itu orang Islam,” papar Qodri.

Menanggapi pendapat Qodri Anne K Rasmussen, associate profesor musik dan etnomusikologi di The College of William and Mary Williamsburg, Virginia, punya jawaban. Menurutnya, saat ia mendengar istilah akapela, ia langsung ingat tradisi Kristen, karena istilah ‘a’ dan ‘capela’ maksudnya dari gereja.

“Asal musik macam itu dari orang hitam-Amerika. Kalau mendengar lagu Snada (satu grup nasyid) saya langsung ingat akarnya yakni dari tradisi Kristen Afroamerica,” tuturnya pada Syir’ah.

Menanggapi banyaknya orang Islam yang menggunakan aliran akapela untuk berdakwah, menurut Rasmussen, adalah wajar karena orientasi mereka pop.

“Ini adalah gejala global pop kultur,” tandas Rasmussen.

Definisi musik sesuai dengan syariat bagi kelompok musik ternama, Raihan, berbeda lagi. Grup musik nasyid asal Malaysia ini adalah biang nasyid. Para munsyid, penyanyi lagu jenis nasyid, tanah air banyak terinspirasi dengan grup yang berdiri pada 1996 ini.

Ukuran musik syari’at bagi Raihan sederhana saja, yang terpenting adalah pesan yang disampaikan lewat lirik lagu. “Dalam penyampaian hiburan, yang utama adalah pesan,” kata Abu Bakar MD Yatim ketika berbincang dengan Syir’ah selepas tampil sebagai bintang tamu pembukaan Festival Nasyid Indonesia, 15 Oktober lalu.

Kata Abu Bakar, pesan tersebut mesti memberi peringatan kepada diri sendiri dan orang lain agar tidak terbuai oleh hiburan. Itu sebenarnya tujuan utama bermusik. “Soal bagaimana cara mempersembahkan, mengolah, itu tergantung kreativitas masing-masing,” kata pria asal Johor Baru ini. Kreativitas Raihan selain pada lirikm juga pada iringan komposisi suara perkusi yang dominan. Dalam lima album Raihan selalu diiringi musik, terutama perkusi.

Dari segi musik pengiring, Raihan tidak selengkap Hard, grup musik religi asal Indonesia. Meski hard menolak disebut nasyid, namun warna musiknya mirip nasyid. Mereka menyebut groupnya beraliran pop-religi, musik pop berisi syair-syair yang syarat dengan pesan keagamaan. Hard membidik kalangan muslim yang belum bisa menerima nasyid sebagai pilihan konsumsi musik. Karena Hard berkeyakinan, tak semua generasi muda Islam suka nasyid.

Kelompok ini juga punya patokan tersendiri soal musik yang sesuai dengan syariat. Menurut Reza Syarif, vokalis Hard, wilayah seni itu tidak benar salah. “Biar wilayah seni itu abu-abu, asal jangan sampai hitam,” ujarnya.

Dalam Islam, menurut Syarif, tak ada larangan secara definitif terhadap musik. Musik yang sesuai syariat, bagi Syarif, adalah yang tidak membawa ke jalur maksiat, tak membikin orang lalai, serta musik dijadikan cara saling menasehati.

Personil Hard terdiri dari Hasan, Alfian, Reza, dan Djay. Empat orang ini semuanya sebagai vokalis, kala tampil alat musik dimainkan kelompok lain sebagai pengiring. Berbeda dengan debu yang tampil utuh, vokalis plus orkestranya. Debu memiliki personil tak kurang dari 24 orang yang berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Swedia, Malaysia, dan Indonesia.

Sedikitnya dua hal yang membedakan Debu dengan kelompok musik Islam lain. Debu menggunakan banyak alat musik dan tak membedakan kemahiran personil pria dan perempuan, termasuk dalam olah vokal. Lengkingan suara perempuan, yang katanya aurat nan haram, dapat dinikmati dalam setiap konser debu.
Bagi Debu, kata Mustafa, tak ada larangan bermusik dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dan suara kaum hawa bukanlah aurat yang perlu dijaga,”.

Mustafa meyakini sebuah prinsip; “al-ashlu fi al-asya’ al-ibahah”, sebuah kaidah pokok hukum Islam yang dianut madzhab Syafi’i, “segala sesuatu boleh selama tak ada nash Al-Quran dan Hadis yang memvonis haram,” kata Mustafa.

Ulama sekaliber Al-Ghazali menjadi inspirator Mustafa. “Barangsiapa tak terharu oleh musim semi dengan bunga-bunganya, atau gambus dengan senarnya, maka komposisi kemanusiaan orang itu tidak sempurna,” sindir Mustafa mengutip Al-Ghazali.

Pendapat Debu soal definisi musik islam, bagi banyak orang, sudah bisa dinilai sangat lentur. Tapi, Novi Budianto, pendiri grup gamelan Kiai Kanjeng, memiliki pandangan berbeda. Musik yang sesuai dengan syariat atau Islami, menurut Novi, tidak hanya monopoli lagu berbahasa Arab. Yang terpenting adalah spirit bermusiknya. Makanya Kiai Kanjeng menerapkan prinsip ma’iyah (kebersamaan) dalam bermusik.
Menurut Budianto, musik sesuai dengan syariat itu luas, asal berdasar pada ajaran Allah, tidak yang identik dengan Arab, tidak menggunakan idiom Arab.

Bermain musik, bagi Kyai Kanjeng, tidak berhenti pada hiburan. “Bermusik musti punya tiga unsur; keasyikan, kekhusukan, dan ilmu,” ujar Budianto. Menghibur sekaligus mencipta kekhusyukan dan sarana mencari ilmu bukanlah hal mudah. Kyai Kanjeng tak hanya menggunakan alat musik lokal, macam saron, bonang, dan gong. Kyai Kanjeng harus mendatangkan alat musik Barat. “Kami tak menganggap alat musik modern adalah lambang kekafiran. Pengertian Islami bukan jenis alat musik, tapi seberapa jauh kami menggunakannya untuk menimbulkan spirit islami.”

“Dalam prinsip kami,” kata Budianto, “tak ada istilah alat musik ini boleh dan yang itu tak boleh.”
Fadilah, vokalis Wahana Ria, kasidah asal Pedurungan Semarang, malah berpendapat lebih nyeleneh. Penggunaan instrumen, bagi grup ini, sama sekali tak menyalahi aturan agama. Justru, peralatan musik macam suling, biola, ataupun gambus itulah alat-alat musik islami.

“Yang disebut sesuai syariat dan islami itu, yang menggunakan alat musik seperti biola, gambus, dan seruling. Berisi nasihat amar makruf nahi munkar dan salawat-salawat,” papar Fadilah.

Selain tiga alat musik tadi, Wahana Ria juga menggunakan gendang, organ, gitar, drum, dan biola saat pentas. Tak hanya itu, mereka juga harus hafal lagu-lagu dangdut yang lagi populer, “ini untuk persiapan kalau ada permintaan penonton,” tuturnya.

Artikel ini dimuat dalam rubrik Syir’atuna, laporan utama, majalah Syir’ah, edisi November 2004.

10 December 2007

Doctor Brigade (revisions)

Oleh Imam Shofwan


Louis Chaviano was just three days back in home at 38 Ave Y Final, Sanatorio Pabellion, Cienfuegos, Kuba. Chaviano cured his missed to his wife an his dougther, Liliana Chaviano after six months in Khasmir, Pakistan, with his team. They helped eartquake victims there.

That afternoon, in the end of May 2006, he only and watching television. A foreign news teases his lustrous. Earthquake again, and nowadays unsettling Jogjakarta. His eyes captured chilling parts: thousands peoples died and another tens of thousand peoples injured.

Chaviano feels that he will depart to Jogjakarta immedietly. But he cannot tell what did he feels to his family mambers. He discourages it will ruin their togetherness ambience. Until night, Chaviano covered his willies.

Someone from departemen of public health of Cuba called Chaviano, morning after at 10 AM. Chaviano still slept with his wife. His assesment was true, government asked him to depart to Jogjakarta, for assist earthquake victims. Chaviano ready for this duty but he answer he will discusse with his wife and his doughter, firstly.

”If you agree, please convene in president’s palace in Havana. Set out today,” the telephon closed.

”I will drow up your necessities, better you go Havana soon,” Chaviano’s wife said. Fittingly his wife heard his conversation in the telephone. Chaviano feels hard to leave his wife and dougther. With permission and apprehension from his wife, Chaviano goes to Havana.

Cuba is biggest island group in Caribean ocean. From sky, it look like slept crocodile. Lengthwise like Java. Chaviano derive from Cienfuegos. Between Cienfuegos and Havana, from map, like between Semarang and Jakarta in Java. Chaviano leave from Chienfuegos by public bus. Some volunteers came from Chienfuegos. They meet in Cuban president’s palace in Havana June 30 2006.

In president’s palace, volunteers for Jogja disaster got briefing. Cuban President Fidel Castro himself directs the volunteers. The items: about Indonesian geographical condition and typical of Indonesian peoples who mostly Moslem.

From this briefing Chaviano undestand that Indonesia is poor country. But he like Indonesia because has tropical climate. But, he anxious about Indonesia who mostly Moslem. As his experience in Khasmir, Pakistan. He conceived of womens with her veil. Doctor’s will get difficulties to check women patients, especially for surgical operation.

”I think of strict Moslem rule application in Pakistan,” Chaviano said.

Chaviano is government employee. He don’t have madical backgroud. He is an energy outomatic control engineer. Cuban government assigned him as Medical Team Leader for International Natural Disaster.

For Jogjakarta disaster, he depart with 135 personnels, 124 of them are doctors –from medical doctors, surgeons, to orthopedics. Other crews are nurses, technicians and kitcheners.

Chaviano’s responsibilities are heavy. His job is to control all medical tools operation.

In June 1 2006 the team depart.

Chaviano’s wife act sprily. He fiting out all certain things for help disaster victims. He prepare a set of equipment given by government for that purpose: two duffle bags (a small size and a big back pack), a small stove, blue jeans, red T-shirt, and black boot. She know very well all of her husband’s tools because he have two similar missions before: two years in Zimbabwe and in six months in Pakistan.


****

At night, accompanied by their family members, the team convened in Havana airport for departure ceremony. Their families proud of their member will help disaster victims. Liliana, Chaviano’s only doughter, also proud of her father who departed by minister of foreign affairs, Felipe Perez Roque. Before depart, Liliana ordered his father to buy puppets and blouses when he returned home presently.

They keep communication with Jakarta. They have litle trouble. Initial plan, all their aid will focus in Jogjakarta who became earthquake episentrum. But, Jakarta governmen and Jogjakarta province governor still in dispute. They debated about eartquake status: national disaster or local disaster. Jogjakarta government considered the Jogjakarta earthquake, May 27 2006 as local disaster and will localy resolve. They reject foreign aid.

Fidel Castro takes steps. He calls President Susilo Bambang Yudhoyono to discuss this problem. Finally, they agreed all Cuban aids focused in Klaten regency, the worst earthquake area in Southern Central Java. That night finally medical team departed from Havana airport by Cubana aircraft.

After 30 hours flight and transits in Lisabon, Istambul and Calcuta, June 3 2006 afternoon aircraft who brought them landed in Adi Sumarmo Airport, Solo. They accepted by Jorge Leon, Cuban Ambassador for Indonesia.

After arraived in Solo, Louis Chaviano see womans wear short skirt, they work in store dan drive motor cycle. His imagenation about women moslem with her veil who he meet in Khasmir not found in Solo.

”I’m breathing freely,” Chaviano said.

From Solo airport, they dropped on Klaten regent office for conversable. After that, they lodge in Quality Hotel Solo. Suwarno SE, Klaten regent offered two locations for this cuban doctors’s activity center. In subdistrict of Gantiwarno dan Prambanan.

In Gantiwarno, they got location in front of an elementry school building. While in Prambanan, their location in a terrain belong to Hariadi, local citizen –previously that land used for sand depot.

That night Chaviano together with some people visit that places for survey. They consider both of that places are suitable.

Morning after, 60 tons equipment and medicine arraived Adi Sumarmo Airport. Team members check out from hotel and set up tents and manage the medicine.

They built tens in Gantiwarno first and than in Prambanan. After sweltered all day long, finally this large tents standed. Two tens for mens and womens patient room, operation room, laboratory, and two big tens for translators. Beside that, they also set up many small tents for team members. Two peoples per tent.

Night after Louis Chaviano install medical equipments from rongent mechine, voice detector mechine, blood detector mechine until communication tools. Chaviano and his teams work briskly. Day after, June 5, hospital tents began operate.

No opening party.

To inform peoples about existance of this two hospitals, they attach a street banner wrote: ”Pengobatan dan Operasi Gratis untuk Rakyat Indonesia dari Tim Medis Kuba, Free Medication and Surgical Operation for Indonesian Peoples from Cuban Medical Team,” between Cuban dan Indonesian flag. Beside that, the doctors visit villages regularly to cure eartquake victims and let peoples know about that two hospitals.

***

Caviano’s team named Hendry Reave Medical Brigade. They available every time to departed around the wolrd for helping disaster. They have worked to helping disaster and conflict victims at more than 60 countries, including Indonesia and its neigbour Timor Leste.

Chaviano told many story to me, about his experiences all this time, especially during his duties in Zimbabwe and Khasmir, education sistem in Cuba until his favorite figure Ernesto Che Guevara. His happiness when he do similar thing like what Che have done; went around the world and help everybody who wanted for.

”Che do everthing in everywhere who need him,” Chaviano told me.

In a flash, Chaviano’s face look like Che Guevara, who printed in his t-shirt without sleeve who he weared that day. His wave hare until his shoulder dan his dark skin typically Latin Amerika. I meet his in last August 23, in Klaten, when he and his medical team have spent three months helping earthquake victims.

Che nuances seen in every place. Especially in a lightcolour room, where rongent machine placed. In that room many Che pictures put up, beside Fidel castro picture, in the tent’s wall. Not only pictures, actually, but also appearence of the doctors. Like Chaviano, some doctors have dark skin and long hair --the hair icon of Che Guevara.

Che Guevara is Cuban revolusion hero. Since 1956, Che, with Fidel Castro and Raul Castro, organaized Cuban farmers for guerrila war against dictator Fulgencio Batista.

One of Guevara and Castro’s promised are make public education and health as Cuban prominent pillar after revolution. During guerrilla warfare, farmers looked seriousness of their leaders. Guevara, who a doctor, treat wounded guerrillaman by himself. Beside that, in leisure time, Guevara teach his follower, allmost all illiterate, how to read.

”Education not anly for vertical function but also horizontally,” this jargon often pronounceable by Guevara. Education not only purposed to reach power and money, but also for sosial an humanity purpose.

In 1959 Batista slide down. Fidel Castro tried to fulfill their promises. And successed. According to Juan Casassus, member of the Latin American Laboratory for Evaluation and Quality of Education at UNESCO Santiago, this highest achievement of education in Cuba is success of strong commitment from Cuban government, who disposed education sector as highest priority during 40 years after revolution.

Cuban government budgeted about 6,7 percent from GNP for this sector, doubly bigger than education budget in all Latin America countries.

With that big budget, Cuban government make free for all education costs, from elementary level until University. It also available for profesional school. ”Everyone is educated there. Everyone has access to higher education. Most Cubans have a college degree," Rose Caraway said, one of US student who follow study exchange program in Cuba, in 2005, as quoted by Coen Husain Pontoh in his article Pendidikan di Kuba or Education in Cuba.

According to Pontoh this policy made Cuban people became most educated and trained people in all Latin America countries. Nowadays some 700 thousands professional worked in Cuba.

But, this this policy is not enough. Since 2000, Cuban government launched ”University for All” program. The aim of this program is to make Cuba became “a nation becomes a university.”

Through this program all Cuban people (old-young, male-female, merried-single) earned equal opportunity to get university level. Practically, university working with Cubavision and Tele Rebelde, run education program via television.

Nowadays Cuban television provide 394 hours per week for education program. Abut 63 percent from airwaves total in Cuba. Since this program running, in October 2000, about 775 professors from big universities around Cuba involved in this program.

Healty program is an impact of Cuban educational development. Cliff DuRand, emeritus professor of philosophy in Morgan State University, Baltimore US, as quoted by Pontoh, said; nowadays death rate in Cuba only 5,8 per childbirth in a year. This rate are lowest in Latin Amerika, even lower than in US.

Total of doctors per capita in Kuba are more than any countries around the world. Nowadays, Cuba have around 130.000 professional medical manpower. Around 25 thousand Cuban doctors worked for humanity mission in 66 countries, 450 of them worked in Haiti, poorest country in American continent. Some other worked in poor areas around Venezuela. When Catrina hurricane barged into New Orleans, past few months, President Fidel Castro take initiative to send 1.500 doctors. But this initiative refused by US government by political reason.

Not only for Cuban people, nowadays through Latin American School of Medicine, Cuban government give schoolarship in medicare education for hundreds of poor people from all Latin American Countries, Afrika, Asia, even US.

The most interesting, according to Pontoh, medicare education in Cuba not only about science and art of medication, but also sosial service values for humanity. As what Fidel Castro said, during graduation ceremony in summer October 2005, ”human capital more valuable than financial capital. Human capital not only science, but also –and this is very basic- awareness, erhict, solidarity, genuine humanity sense, spirit of sacrifice will, heroism, and capability to built something in long term.”

****

They worked wearing jeans and T-shirt, while some doctor womens wear tang top. Their nature commonly friendly. I lough by myself when I heard one of the doctor talk to her patient. Although accompanied by translator, she try to speake Javanese.

”Matur nuwun, thank you”
”Sami-sami, your wellcome”

Very hot in women room tent, I see tens of patiens bedriddening in wards. Two of them have just endured caesarean, one endured treatment after tumor operation, and a mother have just bore children.

Ginem is one of grateful patient because of Cuban doctors presence. Ginem came to hospital tent for bearing her second children.

Before in this hospital, Ginem said to me, she has examined her unborn child, in Bethesda hospital, Jogjakarta. She suggested to carry out caesarean, because her unborn child has two weeks overdue. It mean, Ali Yani, Ginem Husband, said, they have to prepare at least Rp 7 millions. This big amount is serious for him, who only small laborer at a departement store in Jogjakarta.

”Although hot climate, it’s okey. As long as my baby saved,” Ginem said.

I can’t see this patient in this hot tent too long. Than, I asked Chaviano to continue to other room. We visit laboratorium, male room, and Chaviano’s small tent together with other doctors tent. Only his room I can’t entered.

”Is only one our private place,” Chaviano said.

Too passionate curing patient the doctors forgot that they lived in field that no bathroom there. At first week, after tired cured patient all day long, they make their simple bathroom with iron sheeting walls.

Late afternoon. I returned to hotel who about three kilometers from Cuban hospital tent in Prambanan. I take a bath and have dinner there.

***

Chaviano and Brigade members for Anangga Kurniawan (22) and other translators is plesant friends. Kurniawan is student in Surakarta State University, translator volunteer in that hospital. He accompany doctors, since they cured patient until visited villages aroun Klaten.

Since he became volunteer in Cuban hospital, Kurniawan lived in a big tent at hospital tent location in Prambanan. There are two tents for Kurniawan and his friends: One for male and other for female. All their requairements during in tent guaranteed by Cuban hospital.

From patients and doctors interactions, Kurniawan knows how they serious in handled patients. In certain disease, in fact there are seven doctors togethers in handling one patient. They discussed in Spanish, Kurniawan does not really understand what their intention, but from doctors actions, he know that they serious in handling patients.

Ussually Kurniawan activities start from six AM. He and his friends preparing patients registrations. At seven they start enroling until ten. ”Some 350 patients every day,” Kurniawan said.

After enroled, some of them accompany doctors in hospital, some other accompany doctors go around villages to find patients who cannot came to hospital. Usually, visiting time start from nine AM until one PM. They back to hospital and help doctors.

Kurniawan have an interesting experience. One day, after visiting village, the doctors want to do shopping. Since two months became translator, it was his first shopping invitation. They said will buy baby shoes and T-shirt. Kurniawan happy, than invite them to the biggest depatment store in Klaten: Matahari Department Store.

Because first shopping, Kurniawan conceived they will do total expense just like ussual other tourists he has guided before. His approximation missed. They only bought T-shirt and baby shoes. Moreover, they choosed the cheapest or discount one. After that, they returned. Kurniawan downhearted because –again—no lunch agenda after shopping.

Actually, Kurniawan has curious that Cuban doctors are poor doctors. Every day, they wear regularly only two T-shirt. The red or green one. Beside that, they never eaten outside and very bewared using money. ”The never buy something but tea,” Kurniawan said.

With all their simplicity, they very serious in helping disaster victims. ”We are from poor country. We only help as long as we could,” Chaviano said.

In first two months, Kurniawan showed by himself how they worked seven days in a weeks without off day, 24 hours they serve patients. After third month, they off in Sunday.

***

Subandi (56) sits in black stone, between coconat and trembesi tree in one corner of terrain at the edge of Solo-Yogja road. Tens of hospital big tents line up in front of him.

White colour of hospital tents, covered by dust and became brown. Hot and stuffy inside that tents. Subandi is one of sweltered patients. He decided to sit outside tent.

”My privates painful and hot if worked hard,” Subandi told me using refined Javanese.
Two years his penis swollen became twofold. According to doctor diagnosis, he suffered hernia. His local terms are usus ting planangan or kontol landung for coarse term. While that, he not examined his dissease. For palliating, ussually he get traditional message while recurrence.

Subandi learns his neigbour’s experience who suffered same dissease. This dissease will recover with operation. Subandi have to buried his wish to get operation because a big cost. According to him, that big amount is better for his 24 years old daughter Tri Suwanti education cost. Tri study in English faculty of Muhammadiyah University Surakarta, ”My wish, after Tri graduate I will collect money for operation,” Subandi said.

Tri graduated, Subandi collects money than. As farmer he plan to get operation after rice harvest. But that plan immediately disappeared after 5,9 Richter Scale eartquake hit Jogjakarta and Southern Central Java, may 27 2006. His rice crop damaged and his operation plan also gone.

Subandi know Cuban doctors can erase his pain. In August, he goes to hospital tent to get surgical operation for his desease. His heal possibility grow again.

”Everything running well, I only told my plaints and translator will extend to doctors,” Subandi said. After six days, Subandi get an operation.

”Nowadays just fine, have deflated, only need routine check up,” Subandi said.

In womens room, I meet another patient named Ginem (42). She look happy after her caesarean. She said thanks god many times and thanks to Cuban doctor who save her and her baby life.

Ginem and other patients wonder when they heard information that Cuban doctors asked to leave Jogjakarta because some complaints from local medical institution. Maybe they deprived of patients because all sucked up to this hospital tent.

”It is impossible, still many patients like this here. Why government expel doctors who planned six months became three months,” said Ali Yani, Ginem’s husband.

He, together with some patients, than wrote their protest in beaverboard and put it in hospital gate: ”Let Cuba Help Peoples”.

Prasetya and his friends not sure that their handwriting will red by government, and restrain Chaviano and friends departure.[end]

This Indonesian version of this article publised in pantau website: www.panatau.or.id

27 November 2007

Dulu Daerah Modal, Kini Daerah Model

Oleh: Imam Shofwan

LIEM Soei Liong belum sehari penuh di Jakarta. Liem baru datang dari tempat tinggalnya di Amsterdam, Belanda. Dari sana Liem aktif mengikuti perkembangan Indonesia khususnya yang berkaitan dengan penegakan Hak Asasi Manusia.

Di London Liem aktif di organisasi HAM Tapol, tahanan politik, yang banyak membantu korban pelanggaran HAM mulai dari pelanggaran HAM 1965, Timor Leste, Tanjung Priok, dan Papua.

Mereka juga getol memperjuangkan penegakan HAM di Aceh.

Liem peranakan Tionghoa Sunda. Dia lahir di Tasikmalaya enam puluh empat tahun silam. Sekira setahun lalu, saya pertama kali ketemu Liem. Saat itu kami sama-sama melayat almarhum Pramoedya Ananta Toer, novelis terbesar Indonesia.

Jum’at lalu, saya bertemu Liem untuk kedua kali. Liem lebih kurus. Kami bertemu di depan ruang Bima, Hotel Bidakara, Jakarta sesaat sebelum seminar Peluang Pendirian Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Walau tak lagi muda, dia selalu bergairah berbicara soal HAM.

”Saya baru saja sampai dan ke sini,” tutur Liem pada saya.

Selain Liem, banyak aktivis HAM hadir di acara ini. Ada Patrick Borges, Priscilla Hayner, dan Galuh Wandita, dari International Center for Transitional Justice (ICTJ) Asia.

ICTJ banyak berperan dalam Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi (singkatan Portugalnya CAVR), Timor Leste.

Peserta dari Aceh paling banyak; Hendra Budian, dari Komite Pengungkapan Kebenaran, Mawardi Ismail, dekan Fakultas Hukum Universitas Syah Kuala dan beberapa korban konflik Aceh.

Acara ini dibuka oleh gubernur Aceh Irwandi Yusuf pada jam sembilan lebih sedikit.

Irwandi menyebutkan pentingnya pembentukan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Aceh karena ini merupakan amanat Kesepahaman Helsinki dan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA).

”Paling lambat 1 tahun setelah diundangkan,” tutur Irwandi dalam sambutannya.

Undang-undang Aceh diundangkan pada 1 Agustus 2006 dan batas waktu pendirian KKR telah lewat namun pemerintah Jakarta belum juga bergerak. Dua hari setelah batas waktunya lewat Irwandi mengirim surat ke presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang isinya mengingatkan bahwa KKR belum dibentuk di Aceh.

”Saya menyarankan Bapak Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono, untuk mengupayakan percepatan,” tutur Irwandi.

Jakarta masih menggantung pembentukan KKR Aceh. Pasal 229 UUPA menentukan; KKR di Aceh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari KKR Nasional. Logikanya; kalau KKR nasional belum dibentuk Aceh pun tak bisa membentuk KKR mereka.

Sialnya, lima bulan setelah UUPA disahkan. Tepatnya pada Desember 2006, undang-undang yang melandasi pendirian KKR nasional (baca; UU 24/2004) dianulir oleh Mahkamah Konstitusi. Pasalnya, Undang-undang ini dianggap bertentangan dengan Undang-undang 1945, khususnya soal pemberian reparasi pada korban apabila pelaku mendapat amnesti.

Irwandi ingin segera membentuk KKR Aceh, ”(kami ingin) pembentukan KKR nasional tidak menghambat pembentukan KKR Aceh,” tutur Irwandi.

Irwandi menutup pidatonya dengan pesan agar tak berharap banyak dengan Jakarta, ”berharap banyak, tapi tidak banyak realiasinya,” tutur Irwandi.

Liem serius mendengarkan pidato Irwandi. Sesekali dia maju ke depan dan memotret Irwandi dengan foto digitalnya yang berukuran mini dan berwarna perak.

Seminar dimulai setelah sambutan Irwandi. Pembicaranya tiga; Ifdhal Kasim, ketua Komnas HAM, Mawardi Ismail, dan Budiono dari Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Budiono menggantikan Harkristuti Harkrisnowo, Dirjen HAM.

Mereka bertiga mengupas sisi hukum dari pendirian Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Ifdhal Kasim mendapat kesempatan pertama memaparkan makalahnya. Waktunya dua puluh menit.

Kasim mengajak peserta untuk mencermati pasal 229 UUPA; KKR Aceh merupakan bagian tak terpisahkan dari KKR nasional.

Kasim menyebutkan bahwa secara redaksional pasal ini tidak jelas, apakah KKR Aceh dibentuk setelah KKR nasional? Masalahnya, frasa yang digunakan bukan ”(setelah) pembentukan (KKR nasional)” tapi ”bagian tak terpisahkan.”

”Secara politis KKR nasional tetap perlu,” tandas Kasim.

KKR Nasional tidak bisa dibentuk karena UU 27/2004 telah dinyatakan tidak berlaku.

”Apakah KKR harus menunggu adanya UU dan pembentukan KKR Nasional?” Soal Kasim dipenghujung presentasinya.

Pertanyaan Kasim dibahas tuntas oleh Mawardi Ismail, pemakalah berikutnya. Menurut Ismail memaafkan dan rekonsiliasi hukumnya wajib dalam Islam. Sesuai dengan Aceh yang menganut syari’at Islam.

Ismail menggunakan kaidah ushul fiqh; segala sesuatu yang menyebabkan sahnya sesuatu yang wajib, hukumnya wajib juga. Rekonsiliasi dan memaafkan adalah hal yang wajib dan KKR adalah instrumen yang bisa menyebabkan rekonsiliasi dan memaafkan bisa dilakukan. Kalau memaafkan, rekonsiliasi wajib, maka KKR juga wajib.

”Ini adalah landasan filosofis,” tandas Ismail.

Menurut Ismail KKR Aceh tidak perlu menunggu KKR nasional, pasalnya, dalam pasal 260 UUPA tidak menggunakan istilah ”pembentukan” tetapi ”berlaku efektif”.

”Ini adalah landasan yuridis,” tutur Ismail.

Sedangkan landasan operasionalnya pada pasal 229 ayat 3 UUPA.

Lebih lanjut, menurut Mawardi, fardlunya bikin KKR menjadi terkendala karena dibatalkannya undang-undang 27/2004 oleh Mahkamah Konstitusi.

Putusan ini hanya menghilangkan dasar operasional KKR Aceh, tetapi tidak mengganggu dasar filosofis dan adat (pasal 229 ayat 1 dan empat).

”KKR Aceh dapat beroperasi berdasarkan prinsip hukum adat dan prinsip internasional yang telah diratifikasi,” tutur Ismail.

Namun Mawardi juga menggarisbawahi pentingnya KKR nasional. Kalau KKR nasional tidak ada sebagai payung maka KKR Aceh akan bekerja secara minimal.

”Bekerja sangat minimal karena dasar operasional utamanya belum ada,” tegas Ismail.

Kekosongan landasan hukum pembentukan KKR Nasional ini ditanggapi oleh Budiono, Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Menurut Budiono, pemerintah sedang menyiapkan draft undang-undang pengganti UU 27/2004.

”Desember akan uji publik. Pertama di Jakarta,” janji Budiono.

Beberapa korban memberikan komentar usai ketiganya memaparkan makalah. Para korban menyoroti apakah KKR ini akan mampu menjadi solusi rekonsiliasi bagi korban. Mereka khawatir KKR akan sama dengan BRA (Badan Reintegrasi Aceh) yang salah urus dan mengabaikan para korban HAM. Mereka tak banyak tahu soal KKR karena kurangnya sosialisasi ke Korban.

”Tidak ada yang menjelaskan ke korban, bagaimana KKR yang ideal bagi korban,” tutur Semiadi, seorang korban dari Loksumawe.

Sesi pertama usai dan dilanjutkan sesi kedua setelah shalat Jum’at.

Jam dua sesi II dibuka dengan tiga pembicara; Hendra Budian, Priscilla Hayner, dan Azriana (aktivis Komnas Perempuan).

Sesi kedua kurang gayeng seperti sesi pertama. Banyak kursi yang kosong dan beberapa peserta tampak kelelahan. Liem tertidur beberapa saat ketika pembicara memberikan ceramah.

Penyelesaian damai antara pemerintah Indonesia dan gerakan Aceh merdeka adalah model penyelesaian konflik yang baik di Indonesia.

Ini merupakan sumbangan terbesar masyarakat Aceh. Mereka ingin menyumbang lagi dengan memberikan model penyelesaian pelanggaran HAM dengan KKR. Aceh ingin menjadi model KKR pertama di Indonesia.

”KKR adalah (baca; akan menjadi) sumbangan terbersar bagi Indonesia,” tutur Budian.

KKR yang ideal adalah KKR yang khas Aceh. ”Korban yang berhak (menentukan) keadilan seperti apa yang akan dijalankan,” tutur Budian.

Dulu, sekira tahun 1948, mantan presiden Soekarno pernah bilang kalau Aceh adalah daerah modal Indonesia. Karena Aceh banyak membantu Indonesia setelah proklamasi. Kondisinya sekarang sudah berbeda. Kekayaan Aceh sudah dikeruk Jakarta dan Aceh sekarang hanya bisa memberikan model penyelesaian konflik.

”Daerah modal dulu, jadi daerah model,” tegas Mawardi.

*Tulisan pertamaku pasca masa skorsing menulis di Pantau.

22 November 2007

Dalam Gelap, Karya itu Lahir

Oleh: Imam Shofwan

SEBUAH balai dengan kasur busa bertengger di pojok ruangan. Rak-rak buku. Lemari duduk dan di atasnya laptop butut. Kursi plastik.

Di dinding tergantung foto orang Arab Pekalongan: Habib Husain, Habib Lutfi, berukuran besar, berderet dengan poster Sarah Azhari dengan dua bekas staples di bagian tengahnya. Ah, benar-benar pengap kamar itu.

Sambil membetulkan kain sarung yang dipakainya, Sumanto, si empunya kamar, mendekati laptop yang dia sebut ‘laptop jangkrik’. “Dengan laptop ini saya menulis tesis saya,” tuturnya.

Tesis inilah yang kemudian menjadi buku yang banyak diperdebatkan: Arus Cina-Islam-Jawa, Membongkar Sejarah atas Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV & XVI.

Sumanto melacak asal-usul penyebaran Islam di tanah Jawa. Dia menganggap ada yang hilang dalam sejarah masuknya Islam di Jawa. Dia mengumpulkan bukti-bukti dan mendatangi banyak peninggalan Islam di pelosok Jawa.

Ukiran padas di Masjid Kuno Mantingan, Jepara, Menara Masjid Pecinan Banten, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, Arsitektur Keraton Cirebon, Konstruksi Masjid Demak, telah dikunjunginya.

Dari perjalanan ini dia membuat kesimpulan mencengengangkan: pada abad ke 15/16 Islam yang masuk ke tanah Jawan berasal dari Cina.

Hal ini bertentangan dengan pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa Islam datang ke Jawa melalui dua Jalur, yaitu Arab dan Gujarat, India.

Dukungan, kritik, dan juga bantahan terhadap hasil risetnya datang dari mana-mana. Namun dia tidak bergeming. “Penulisan tesis ini adalah untuk melawan kemapanan sejarah,” ujarnya pada saya akhir Oktober lalu.

DALAM rumah kecil berdinding anyaman bambu, berlantai tanah, Sumanto dilahirkan. Menjelang subuh, 10 Juli 1975, dengan penerangan lamu petromak, di atas dipan bambu tanpa kasur, dengan bantuan dukun beranak, Daryuni, sang ibu melahirkan untuk kali keempat.

Manggis nama kampungnya, sebuah dusun terpencil di Batang, Jawa Tengah. Sang ayah, tutur Sumanto, adalah seorang petani miskin. Ketiga kakaknya yang telah berkeluarga juga tak jauh berbeda, miskin. Sumanto menuturkan hal ini pada saya lewat surat elektronik akhir Oktober silam. “Untuk bisa terbebas dari kemiskinan, saya harus pintar, saya harus sekolah.”

Jalan terjal naik turun menuju sekolah dasar membentang lebih dari sepuluh kilometer. Setiap hari Sumanto menyusuri jalan itu tanpa teman. “Kebanyakan mereka memilih mencangkul di sawah atau menggembala ternak di hutan daripada sekolah.”

Jiwa memberontak terhadap sesuatu yang dianggap mapan sudah mulai tumbuh pada diri Sumanto kecil. Dia menolak kerja bakti waktu sekolah dasar. “Saya fikir, sekolah dan pelajaran lebih penting,” keluhnya saat itu.

Kebiasaan ‘buruk’ itu terus berlanjut sampai tingkat MTs Walisongo Batang dan MAN I di Pekalongan. “Hampir tidak ada satu guru pun waktu itu yang tidak pernah memarahi saya. Sebabnya ya apalagi kalau bukan kembelingan saya seperti menolak upacara, ngeyel di kelas,” kisahnya lagi. Karena kebiasaan itu salah seorang kiainya waktu mondok di Pekalongan menyematkan “AL Qurtubi” setelah namanya. Yang merupakan sebutan lain Cordova, sebuah simbol kejayaan Islam masa lalu.

Puncaknya tentu saja saat jadi mahasiswa IAIN Walisongo yang sering mengkritik secara vulgar apa saja dan siapa saja yang dianggap tidak benar. Tradisi mempertanyakan kemapanan itu semakin mendapat landasan saat kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga.

Berawal dari majalah kampus Justisia, di sana dia tiga tahun menjabat pemimpin redaksi. Selain itu dia juga menjabat redaktur agama di Nurani Bangsa, koran milik masyarakat Tionghoa di Semarang. Bergelut di dunia pers inilah kemampuan menulis Sumanto terasah. Pergaulan lintas agamanya pun dimulai.

Agustus 2000 dengan segala keterbatasan finansila, selama tujuh tahun akhirnya Sumanto menyelesaikan sarjananya di Fakultas Syari’ah. Dengan modal nekat dan sedikit uang simpanan, Sumanto melanjutkan studi S-2 di UKSW, Salatiga.

Masa-masa sulit karena keterbatasan keuangan yang pernah dan sering menjadi kendala selama dia sekolah sampai kuliah, kembali mendera. Dan kali ini lebih dahsyat. Tugas-tugas paper dan makalah yang menumpuk menyita perhatian dan semua waktunya. “Waktu di IAIN saya punya banyak waktu untuk nulis artikel di koran. Di UKSW nyaris tak bisa melakukan itu lagi,” kenangnya.

Untuk bisa bertahan hidup, dia terpaksa berjualan sepatu, sandal, tas, dan baju. “Saya bekerja sebagai salesman sebuah perusahaan yang berpusat di Bandung,” tutur Sumanto.

Karena beban begitu beratm sempat terpikir olehnya untuk keluar kuliah. “Saya sempat ingin keluar,” ucapnya berat. Proposal tesis yang dia edarkan pun tak kunjung memberi hasil.

Atas saran teman dekatnya, dia menghadap KH Sahal Mahfudh di Kajen Pati, sambil membawa proposal tesis. “Di luar dugaan, Kiai Sahal menanggapi sangat positif tesis saya.”

Kiai Sahal menghubungkan saya dengan Sudhamek (Bos Kacang Garuda) Soewarno M. Seradj (Direktur Research & Development PT Djarum). Oleh Sudhamek, dia dikenalkan dengan Eddie Lembong, ketua umum Perhimpunan Indonesia (Keturunan) Tionghoa (Pehimpunan INTI) yang juga Bos PT Pharos Jakarta.

Pada waktu yang hampir bersamaan, proposalnya juga diterima di Global Ministries The Uniting Churches of Netherlands, Belanda, lewat kerja keras Dr Mesach Krisetya, Presiden Mennonite World Conference (Paris) yang kebetulan menjadi salah satu pembimbing tesis saya. “Dari Global Ministries, saya dapat grant 5000 Uero, sekitar Rp. 40 juta. Dari uang inilah saya melunasi semua SPP,” tuturnya.

Semua dana dimanfaatkan untuk risetnya. Setelah merasa cukup dengan bahan-bahan yang perlu, selama September-Oktober 2002 Sumanto “bertapa” di dalam kamar pengap itu, dia hanya keluar untuk makan. “Gara-gara lembur siang malam menulis tesis ini, notebook (laptop) saya sampai jebol,” ujar Sumanto. Warna layarnya saja sampai berubah dari putih jadi hitam. Jadi, waktu saya menulis laporan dalam kondisi laptop yang antik: layar hitam tulisan putih. “Lucunya, kalau malam terkena lampu, tulisannya tidak kelihatan, karena itu, ngetik harus dalam keadaan gelap. Sungguh indah!” Kenangnya.

Tesis Arus Cina-Islam-Jawa yang telah dibukukan disambut hangat oleh pemerhati sejarah Jawa. Rabu, 19 November 2003, sejumlah tokoh berkumpul di Puri Agung di Hotel Sahid Jaya. Tampak Nurcholish Madjid (Cak Nur), Malik Fajar, Syafi’i Ma’arif, Cecep Syarifuddin, Asvi Warman Adam, Soegeng Sjarjadi, dan Fachry Ali. Bersama 1000 undangan lainnya, mereka menghadiri diskusi dan peluncuran buku karya Sumanto.

Buku Arus Cina-Islam-Jawa, kata Cak Nur, seolah meluruskan sebuah karya sejenis itu yang ada jauh sebelumnya yang ditulis debfab sangat tidak obyektif, parsial dan politis. “Saudara Sumanto Al Qurtuby meluruskan semua itu dan dikaji secara akademis,” kata rektor Universitas Paramadina ini.

Puaskah Sumanto? “Terus terang, saya kurang puas dengan penulisan buku ini,” ungkapnya. Sumanto merasa kurang maksimal menggunakan buku-buku dan sumber yang dia peroleh dari Survey. Dan lebih dari itu, “Saya kurang mempunyai kesempatan mengkritik dan ‘memblejeti’ berbagai buku yang menolak teori Cina dalam islamisasi Jawa.” Semoga tidak bergelap-gelapan lagi.[]

*Naskah ini pernah dimuat pada majalah Syir'ah edisi khusus akhir tahun 2004, tentang; pemuda-pemuda yang berpandangan bersebrangan dengan pandangan umum.

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...