15 April 2008

Tesaurus Moko

Oleh Imam Shofwan


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Baris pertama puisi Sapardi Djoko Damono digubah pengarangnya sendiri dalam acara peluncuran buku Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko di Teater Utan Kayu pada Rabu malam 17 Januari lalu, hasilnya menjadi:

Awak hendak menggemarimu seraya elementer

Sapardi adalah penyair pertama yang menggunakan tesaurus karya Moko –sapaan akrab Eko Endarmoko di Utan Kayu. Tak pelak, saat Sapardi membacakan gubahan puisi karyanya, para pengunjung pun terpingkal-pingkal.
Ada kegagapan dalam pemakaian tesaurus tersebut.

Malam itu Sapardi menjadi pembicara bersama Jos Daniel Parera. Pemandunya penyair Sitok Srengenge. Sapardi mewakili para penyair yang dianggap sebagai calon pemakai aktif tesaurus tersebut. Sedangkan Parera sehari-hari bekerja di divisi penerbitan PT Balai Pustaka serta dosen bahasa Indonesia di Universitas Negeri Jakarta dan beberapa Universitas lainnya di Jakarta. Karena Tesaurus Moko adalah tesaurus pertama di Indonesia, pejelasan seorang linguis macam Parera dianggap penting. Analisisnya diharapkan memberikan gambaran fungsi dan manfaat tesaurus.

Saya mendatangi acara tersebut bersama Steph Tupeng Witin, seorang pastur lulusan S2 Theologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katholik Ladelero, Flores. “Ladelero berasal dari bahasa Sikka artinya tempat bersandar matahari,” tutur Pater Steph. Sejak lima hari sebelumnya dia bernafsu mengikuti acara tersebut. Alasannya, dia ingin melihat presentasi Jos Daniel Parera, orang yang dia yakini berasal dari Sikka.

Romo Steph berkonsentrasi penuh serta menikmati kata demi kata tuturan Parera. Tiga kata yang dipakai Parera untuk mengomentari penulis tesaurus tersebut: berani, nekat, dan ulet.

Berani karena seorang diri dia memulung kata yang kemudian membukukannya. Umumnya tesaurus disusun sebuah tim yang kuat dan dibiayai lembaga berwibawa dengan dukungan dana yang kuat pula. Namun Moko berani melakukannya sendirian dengan kemampuan cekak pula. Moko juga nekat karena dia bukanlah seorang linguis, apalagi leksikograf. Dia hanya seorang pemerhati bahasa. Ulet karena pengumpulan kata itu dilakukan selama kurang lebih 13 tahun.

“Dengan Tesaurus ini, ia kelak akan dikenal sebagai leksikograf bahasa Indonesia,” tutur Parera.

Setelah berbasa-basi sedikit tibalah saat penghujatan karya. Penghujatan ini dibagi secara sistematis dalam tiga tingkat seurut dengan susunan bab tesaurus tersebut, yakni Mukadimah, Tentang Tesaurus Ini, dan Isi Tesaurus yang disusun alfabetis.

Penyusunan Mukadimah dan Tentang Tesaurus Ini tumpang tindih antara isi, konsep, dan perjalanan kerja penulis. Parera mengusulkan bagian Mukadimah sebaiknya ditulis ucapan terima kasih penulis dan perjalanan kerja penulis. Sedangkan pada bagian Tentang Tesaurus Ini berisikan landasan teori penyusunan dan isi tesaurus, dan diakhiri dengan Panduan Pemakaian. “Panduan penting karena isi Tesaurus ini kurang mampu mencerminkan konsep penyusunan yang kuat,” tutur Parera.

Biasanya, menurut Parera, tesaurus disusun berdasarkan kategori hubungan ide atau disusun tematis. Ini yang membedakan kamus dengan tesaurus. Kamus biasanya disusun alfabetis sedangkan tesaurus tematis.

Namun Tesaurus Moko disusun alfabetis. Penyusunan semacam ini terinspirasi dari Collins dan Webster. Yang beda dari karya Moko adalah judulnya kamus dan tesaurus sekaligus.

“Hal ini perlu disampaikan biar masyarakat tidak menerima dan berpendapat kalau tesaurus model Eko adalah tesaurus yang baku dan berlaku,” tutur Parera.

Karena tesaurus merupakan buku jenis baru, Parera merasa perlu mendefinisikan apa itu tesaurus.
Tujuannya jelas, apakah karya Moko patut disebut tesaurus?

Definisi pertama diambil Parera dari Hartman dalam buku Teaching and Researching Lexicography.
Yakni, (tesaurus adalah) karya referensi yang menyediakan informasi kosa-kata suatu bahasa atau jenis bahasa, fokusnya pada kata-kata bersinonim atau hubungan-hubungan lain antarkata, dan biasanya disusun tematis.

Dalam makalahnya, Parera juga menyuguhkan definisi dari H. Steinhauer yang lebih ketat: Tesaurus bahasa adalah perbendaharaan kata yang dilengkapi dengan keterangan tambahan kata itu, sedapat mungkin terperinci, keterangan ini menyangkut sumber, konteks pemakaian, keterangan gramatikal, ragam kekerapan, makna, sejarah, varian-varian, pemakai dan pemakaiannya (lengkap dengan contoh).

Satu per satu Parera membenturkan karya Moko dengan definisi tersebut. Dimulai dari asal kata. Dalam Tesaurus Moko hanya kata dari Jawa dan Arab yang diberi keterangan dengan kode (Jw) dan (Ar), sedang yang lain tidak. Selain itu Tesaurus Moko tidak dilengkapi contoh penggunaan.

“Apakah ini patut disebut tesaurus?” tanya Parera.

Parera sadar kalau pengguna kamus dan tesaurus berbeda tujuan. Pengguna kamus mencari informasi dan keterangan tentang makna sebuah kata. Pengguna tesaurus sudah memiliki kata tertentu dan mencari padanan kata yang sesuai dengan ide dan konsepnya. Atau untuk menemukan kata lain guna menghindari pengulangan kata. Bisa juga penulis ingin menemukan kata khusus untuk makna tertentu. Tesaurus melayani penulis dan pemakai bahasa yang kreatif dan produktif.

“Apakah Tesaurus karya Eko ini cukup mampu melayani penulis yang kreatif dan produktif?” tutur Parera.

Lalu Parera memblejeti satu per satu bagian isi kamus ini secara acak. Kesimpulan Parera cukup mengejutkan. Dia menyebut Tesaurus Moko sebagai karya yang menyesatkan.

Ada beberapa contoh yang dikemukakan Parera. Pada abjad A misalnya, dia menemukan kata “abstraksi” yang disinonimkan dengan kata “generalisasi”. Kata “abstrak” disinonimkan dengan “hipotesis”, “ideal”, “konseptual”, “teoritis”, “transendental”. “Saya tidak tahu apakah ini memang variasi kata abstrak atau salah konsep,” tandas Parera.

Ada entri “adibintang” namun tidak ada entri “adibusana”. Mengapa dalam entri “adu" tidak ada bentuk “beradu” atau “peraduan”.

Pada abjad P, Parera menemukan kata “persuasi” yang disinonimkan dengan “agitasi”. “Saya kira ini berlawanan arti dan menyesatkan,” tutur Parera.

Pater Steph terlihat khusuk mendengar penuturan Parera dan bertepuk tangan dengan semangat saat Parera mengakhiri presentasinya.

Senada dengan Parera, Sapardi Djoko Damono cenderung mencari kelemahan Tesaurus Moko. Salah satu kritiknya adalah tidak teraturnya tingkatan kata dari makna paling dekat ke makna yang lebih jauh dan makin jauh. Selain itu ketiadaan contoh penggunaan kata dalam kalimat menyulitkan pemakaian tesaurus tersebut.

Sapardi menutup presentasinya dengan menggubah puisinya berjudul “Aku Ingin” menjadi “Awak Hendak” dengan menggunakan padanan kata pada Tesaurus Moko untuk membuktikan kelemahannya.

Pater Steph tampak puas mengikuti diskusi yang jarang atau bahkan tidak mungkin di daerahnya. Namun pemaparan sisi negatif kedua pembicara menyebabkan Pater Steph mengurungkan niat untuk membeli buku tersebut. “Saya beli nanti saja, setelah direvisi,” tutur Pater.


MOKO memulai kerja penyusunan Tesaurus ini sejak masih kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Adalah Anton M. Moeliono, ketika itu menjadi dosen semantiknya, yang kali pertama memberi tugas pada Moko untuk mengumpulkan kata-kata dasar yang bersinonim. Kegiatan yang berlangsung sekitar satu semester itu adalah tonggak awal pembuatan Tesaurus ini.

Saat itu pencarian kata yang dilakukan Moko belumlah sistematis, bahkan bisa dikatakan serabutan. Pembuatan catatan dilakukan kapan saja. Tidak setiap hari. Tidak ada waktu khusus. Tidak pula mengikuti satu sistem tertentu.

Catatan kata-kata bersinonim dalam kertas HVS ukuran A4 yang dibikin Moko ini kian menggunung pada 1993. Moko mulai menelisik dan menapis kata-kata dari berbagai sumber. Mengurutkannya menurut abjad dengan memperhatikan harmoni, polisemi, label-label kelas kata dan ragam bahasa, dan kemudian menyalinnya ke komputer. Kebiasan buruk kembali terulang, bisa berminggu-minggu catatan itu terhantar saja di kolong meja. Karena pengerjaan yang sambil lalu ini, proses berjalan sangat lamban.

Bisa jadi karena kesibukan Moko sebagai wartawan. Setelah lulus dari UI pada 1980 Moko bekerja sebagai wartawan di majalah pembukuan Optimis selama kurang lebih setahun. Dua tahun berikutnya dia menjadi redaktur pelaksana Berita Buku terbitan Ikatan Penerbit Indonesia Pusat.

Moko mulai mengerjakan catatan-catatan ini dengan teratur saat dia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam, yang berkantor di Utan Kayu. “Di Utan Kayu saya tidak terikat dengan jam kerja. Dengan demikian memiliki kesempatan yang luas pada bidang kreatif,” tutur Moko. Catatan-catatan ini sudah mulai tampak sebagai draft awal tesaurus.

Di Utan Kayu pula Moko mulai akrab dengan Goenawan Mohamad dan Ayu Utami yang juga redaktur Kalam. Saat melihat kesungguhan Moko menggeluti kata-kata ini, Mas Goen –begitu Goenawan Mohammad biasa disapa– mensponsori Moko untuk tinggal di Leiden pada Mei hingga Agustus 2001. Di sini Moko bergaul dengan Hein Steinhauer, dosen Bahasa Indonesia di Universitas Leiden, dan Susi Moeimam dari KITLV. Kedua orang ini memiliki perhatian yang sama dengan Moko. Mereka sama-sama menekuni kata-kata. Saat itu Steinhauer dan Moeimam sedang menyusun Kamus Indonesia-Belanda. “Saya bertukar pikiran dengan mereka, terutama mengenai penyajian lema,” tutur Moko.

Moko baru tersadar kalau dia sedang menghadapi pekerjaan yang sedemikian luar biasa menantang saat dia pulang dari Leiden.

Muncullah beberapa pikiran baru yang berpengaruh besar pada rancangan Tesaurus ini. Gugusan kata yang menjadi sinonim tiap-tiap lema yang sudah tercatat, demi penyajian yang lebih tertib, dia bongkar dan urutkan kembali menurut abjad.
Moko terinspirasi dengan buku A Dictionary of Synonyms and Antonyms Alan Spooner dan Collins Thesaurus in A-Z Form. Ia ingin membuatnya lain dari kamus-kamus sinonim Indonesia yang pernah diterbikan, seperti karya Harimurti Kridalaksana (1988) dan karya Nur Arifin Chaniago dkk (2000) yang tidak disusun alfabetis.

Penyusunan Tesaurus ini, menurut Moko, menghidangkan sinonim yang dikelompokkan berdasarkan kedekatan makna. Semua lema berikut padanannya disusun menurut abjad, sama sekali tanpa takrif dan penjelasan. Moko mengandaikan pemakainya kelak adalah orang yang tidak sedang mencari penjelasan arti sebuah kata. Sebaliknya, pembaca yang ingin mendapatkan ungkapan yang tepat untuk suatu konsep dan nuansa makna yang paling cocok dalam konteks tertentu, atau sedang mencari bentuk lain sebuah kata.

“Saya membayangkan pengguna TBI adalah mereka yang selesai dengan urusan makna, tetapi terdorong oleh suatu keperluan untuk mencari tahu kata-kata apa sajakah yang bersinonim atau berhubungan dengan kata tertentu,” tutur Moko. TBI adalah akronim Tesaurus Bahasa Indonesia.


SAYA mengetahui diskusi serupa akan digelar di Bentara Budaya Jakarta. Saya dan Pater Steph berencana menghadiri diskusi tersebut. Pater bilang kalau dia ingin mendengar komentar Goenawan Mohamad, yang akan menjadi pembicara bersama Ayu Utami dan Anton M. Moeliono. “Saya kira diskusi itu hendak memuji karya Moko,” tutur Pater beberapa hari sebelum diskusi.

Saya penasaran dengan prediksi Pater Steph dan datang ke Bentara Budaya. Pengunjungnya lebih dari seratus orang. Tampak di sana para karyawan Gramedia dan Kompas serta sejumlah wartawan. Parera juga datang. Namun Pater Steph berhalangan hadir.

Anton M. Moeliono menjadi pembicara pertama. Dia menguraikan sebuah bagan yang cukup rumit soal perkembangan kamus bahasa Indonesia serta kamus-kamus bahasa asing untuk menempatkan posisi Tesaurus Moko. Pada akhir presentasinya dia memuji Moko. “Dia adalah mahasiswa saya yang paling tekun mencatat kata yang bersinonim,” tutur Anton.

Pujian juga datang dari pembicara berikutnya. Goenawan dalam presentasinya menyebutkan bahwa Moko adalah seorang pecinta bahasa dan bukan ahli semantik. Kecintaan terhadap bahasa merupakan dasar semangat kecintaan terhadap bangsa. Dan di sinilah posisi pentingnya Tesaurus Moko. Tapi Goenawan juga mengusulkan agar ada buku petunjuk penggunaan untuk memudahkan pemakaian Tesaurus Moko.

Pada akhir diskusi Ayu Utami –penulis novel Saman dan Larung– menggubah puisi karya Goenawan Mohamad dengan menggunakan Tesaurus Moko. Saya tak ingat persis puisi mana yang dia gubah namun saya mendengar rima yang cukup indah saat Ayu membacakan puisi tersebut.

Usai diskusi saya menemui Eko Endarmoko untuk memintanya menandatangani Tesaurus Bahasa Indonesia milik saya. Di atas parafnya dia menulis: moga-moga bermanfaat!*


Naskah ini pernah dimuat di Situs Pantau dan harian Flores Pos

30 March 2008

Senyum Terakhir
Oleh Daris

Senin pagi selalu dibuka dengan upacara bendera di sekolahku. Namun rutinitas itu tak lagi bisa dilakukan sejak lumpur Lapindo menggenangi halaman sekolahku, sekira Mei 2006.

Aku tak lagi bisa membaca do’a penutup upacara yang selalu jadi tugas rutinku. Sahabatku Zahroh yang biasanya membacakan teks proklamasi dengan suaranya yang lembut namun dibikin tegas juga tak lagi bisa aku dengarkan.

Aku siswi kelas III C Sekolah Menengah Pertama Negeri Porong. Sekolahku terletak di desa Renokenongo. Sekolah di sini sangat menyenangkan pada awalnya hingga musibah lumpur Lapindo merusak semuanya.

Aku masih ingat lumpur itu, awalnya, hanya sebuah bau busuk yang menyengat. Saat itu, Bu Etik, guru bahasa daerahku sedang mengajar di depan kelas.

Bu Etik guru yang penyabar, selembar kain yang selalu menempel di kepalanya selalu mengesankanku. Karena kesabarannya murid-muridnya biasanya berani gaduh saat dia mengajar, seperti pagi itu, sejak Bu Etik masuk kelas kawan-kawan sekelasku gaduh sekali.

“Tenang anak-anak!” tutur Bu Etik mencoba untuk meredam suasana.

Namun kelas makin gaduh. Bu Etik lantas diam, para siswa sudah mafhum kalau Bu Etik diam tandanya marah. Kawan-kawan lantas diam beberapa saat. Ketika Bu Etik akan bicara lagi.

“Eh, kamu kentut ya?” celetuk seorang kawanku pada seorang anak yang berambut keriting dan berbadan gemuk yang tak jauh dari tempat duduknya. Sontak semua tertawa termasuk aku.

“Dasar! Kalau kentut di luar dong! Bau nih,” sambungnya. Pelajaran jadi kacau semua tertawa tak mempedulikan guru.

“Diam. Diam anak-anak,” lerai Bu Etik.

Karena temanku yang dituduh merasa tidak melakukan. Dia pun berusaha membela diri dan berdiri.

Braak. Karena tak sabar, meja harus mau jadi korban kekesalannya.

“Siapa yang kentut? Aku nggak kentut, kamu kali? Nuduh orang sembarangan. Kalau nggak percaya nih cium pantatku.” Teriaknya lantas duduk kembali.

Semua kembali tertawa. Kacau. Sangat kacau. (Semua belum tahu kalau bau itu berasal dari semburan lumpur Lapindo)

Bu Etik keluar, Aku celingak-celinguk di pintu. Banyak anak-anak dari kelas lain sudah pada keluar. Tanpa dikomando kami lantas berhamburan keluar kelas.

Aku tak pernah keluar sendiri. Aku selalu keluar bersama geng-ku. Nama gengku Ijo Lumut singkatan dari Jomblo-jomblo Imut. Anggotanya lima orang dan tempat tongkrong kami di depan kelas di bawah pohon mangga. Kami lantas keluar kelas bersama dan menuju ke tempat tongkrong kami.

Karena sudah penuh kami lantas mencari tempat tongkrong lain di dekat kantin.

Ada apa sih kok semua sudah pada keluar,” tanya Alisa, salah seorang anggota gengku membuka percakapan.

“Emm, tadi waktu berangkat sekolah, aku lihat di jalan raya sebelah barat sudah banyak orang berkerumun,” tutur Regina, seorang anggota gengku dari desa Jatirejo.

Emang ada apa?”

“La, itu yang nggak aku tahu, Vi”

“Pom bensin milik pertamina bocor!” teriak seorang anak, tapi aku tak tahu pasti siapa itu.

“Hah, pom bensin?” Kami saling memandang. Bengong.

Tak lama kemudian bel panjang dibunyikan tandanya pulang sekolah. Kami senang sekali pulang lebih awal tapi kami tak tahu, kenapa?

Kawan-kawan segengku lantas ke kelas mengambil tas dan lantas ke tempat parkir sepeda. Regina membuka pembicaraan.

“Kamu tidak mau lihat pom bensin?” Kata Regina, anak-anak banyak yang mau ke sana!”

“Em, aku tanya teman-teman sedesaku dulu. Kalau mereka mau aku ke sana. Kamu duluan aja deh kalau buru-buru.”

“Ya udah, aku duluan ya,” kata Regina sambil melambaikan tangan.

Aku menunggu teman-temanku di tempat parker sambil memikirkan darimana asal bau busuk ini. Tak lama kemudian mereka datang.

“Mau liat pom pertamina, nggak?” Tanya seorang kawanku.

“Tanya yang lain, mau nggak?” Jawabku.

Semua serempak mengiyakan lantas kami mengayuh sepeda masing-masing. Belum sampai pom bensin, di ujung desa Renokenongo tak jauh dari jalan tol kami melihat banyak orang berkerumun.

Dari situ bau busuk makin kuat dan kami baru tau di situlah asal bau itu dari sebuah semburan lumpur besar. [end]

Awal Maret di Porong.

Bersambung.

Asal Bau Itu
Oleh Zahroh

Geger antara Pak Suryawan dan murid-murid yang terlambat sekolah adalah ritual pembuka sekolahku. Karena hadiah khususnya, macam push up, loncat-jongkok, lari-lari keliling lapangan. Teman-teman sekolahku menamai guru biologi ini sebagai the killer teacher.

Saya selalu datang ke sekolah lebih awal agar tidak berhadapan dengan Pak Surya. Baru melihat Pak Surya saja saya sudah keder apalagi kalau dapat sarapan pagi dari Pak Surya. Amit-amit.

Pagi itu, akhir Mei 2006, di depan sekolah sudah banyak anak-anak ramai dan ada Pak Surya pula. Aku sudah takut karena mengira sudah terlambat sekolah. Segera aku percepat kayuhan sepedaku di pojok parkir sekolah.

Di tempat parkir, aku bertemu Nia, teman sekelasku. Setelah basa-basi sebentar aku tanya dia.

“Kamu telat juga? Banyak ya yang telat ya hari ini?”

Nggak kok, kan belum jam masuk?” Jawab Nia.

Karena aku takut sama Pak Surya aku jadi aku tak sempat melihat jam tangan dan memang benar belum lagi jam masuk sekolahku. Aku lantas mengalihkan pembicaraan, “lho kok ramai sekali anak-anak di depan sekolah. Emang ada apa?” Aku mendekati Nia.

“Kamu belum ta? Ada semburan Lumpur di desa ini,” mukanya meyakinkanku.

”Apa semburan Lumpur?” Aku sempat tak percaya apa yang telah Nia ucapkan padaku.

“Iya, di sebelah barat sekolah kita ada pabrik gas PT Lapindo Brantas Inc,” jelas Nia, “ada yang bilang semburan itu karena kelalaian pabrik dan ada pula yang bilang akibat pergeseran tanah akibat gempa Jogja.” Kami mengobrol sambil berjalan menuju ke kelas. Aku lega karena tak harus berhadapan dengan Pak Surya.

“Emm, gitu ya ceritanya. Wah aku ketinggalan nih ceritanya!”

“Masak kamu nggak mencium bau yang nggak enak kayak gini sich?”

“Ya sih, tapi nggak tahu bau ini berasal dari mana. Emang kenapa?”

“Ih. ya bau ini bau semburan Lumpur itu tau!” Nia jengkel melihatku karena aku dari tadi tanya melulu.

Tapi mungkin memang seluruh keluarga besar sekolahku telah banyak yang mengetahui hal itu. Mungkin aku salah satu orang yang ketinggalan berita itu. Mulai saat itu pelajaran telah ditiadakan siswa-siswi mulai banyak yang keluar masuk kelas. Mereka tampaknya senang sekali.

Seperti burung yang telah lama dikurung dalam sangkar kemudian dilepaskan begitu saja. Bebas dengan senangnya. Layaknya mereka saat itu. Sebab tidak pusing memikirkan pelajaran. Tapi hanya untuk saat itu saja. Mungkin guru-guruku juga tengah membicarakan hal itu, “Semburan Lumpur.“

Aku masih punya banyak pertanyaan soal semburan lumpur. Penjelasan Nia kalau semburan itu di sebelah barat sekolahku belum cukup bagiku. Aku tak tahu kalau ada pabrik gas di tempat itu. Setahuku pabrik gas di tempatku cuma satu di desa Permisan. Aku baru tahu ada pabrik gas di Renokenongo bernama Lapindo Brantas Inc.

Obrolan ini menjadi tema pagi itu di sekolah. Semua orang membicarakannya. Hingga suara. Bel panjang ting, ting, ting. Sekolah dipulangkan lebih awal hari itu. Aku penasaran dan ingin segera melihat lumpur yang dibicarakan semua orang itu.

Bersama kawan-kawan sedesaku aku mengayuh sepeda merahku bersama teman-teman menuju semburan lumpur. Di ujung Renokenongo, Lumpur telah meluber ke jalan raya. Jalan yang menghubungkan Malang-Surabaya itu panas dan berdebu dan makin berdebu lagi karena lalu-lalang truk-truk yang membawa beban berat. Dan tak hanya jalan raya saja yang sudah digenangi lumpur tapi areal persawahan pun juga sudah sebagian ada yang terkena luberan Lumpur.

“Aduh, kok bisa begini ya?” Keluhku pada teman-temanku.

“Wajah orang-orang terlihat resah melihat semburan itu kasihan mereka. Ya, mudah-mudahan saja semburan Lumpur ini bisa cepat dihentikan ya,” jawab kawanku.

“Amin-amin,” seru Rida pada kami.[end]

Bersambung.

Aku Juga Mau Disyuting

Oleh: Hanum

Nafasku tersengal seiring dengan langkah kaki yang kupacu. Pak Sur, guru paling galak di SMP 2 Porong, berdiri di ujung koridor membuat langkahku gentar. Sapaanku yang kupaksakan dibalas dengan anggukan muka masam.

Setelah melewatinya dan hampir sampai di pintu kelas kurapikan jilbabku yang berantakan. Aku terlambat lagi dan aku berusaha tidak mengulanginya tapi percuma aku tetep aku dengan kebiasaan burukku.

Sekolahku di desa Renokenongo. Aku menyukai sekolah ini karena banyak pohon besarnya dan letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di Perumahan Tanggulangin Sejahtera. Karena letaknya di dekat areal persawahan Renokenongo orang sering meledeknya dengan sekolah mewah alias mepet sawah.

Aku juga suka tinggal di perumahan tempatku tinggal karena akrab suasanya, tetangga yang akrab. Namaku Hanum Anggraini Azkawati. Para tetangga, teman sekolah dan keluargaku biasa memanggilku Hanum.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sebentar lagi akan jadi empat bersaudara karena sekarang ibuku sedang hamil tua. Di sekolah aku dikenal “jam karet.” Molor terus, tak pernah on time.

“ Hanum, kamu telat lagi ya?” Tanya Risa padaku. Risa adalah sahabatku, kita berdua sebangku. Rumah Risa di Desa Kedungbendo tak jauh dari tempat tinggalku.

“Hehe, iya aku telat. Habis tadi rantai sepedanya lepas. Nih tanganku banyak oli,” aku menunjukkan tanganku.

Selain Risa, ada juga yang bernama Chintya dan Tika. Mereka berdua teman akrabku. Kami selalu bersama. Aku bahagia sekali sekolah di sini. Gurunya unik, teman-temanku juga baik. Meskipun di sekolah aku bukan golongan anak populer. Karena aku pendiam, sangat pendiam. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja. Nggak ada aku, tidak ada pengaruhnya. Tapi aku senang di SMPN 2 Porong. Aku sekelas lagi dengan temanku di Sekolah Dasar (SD) dulu. Iya, apalagi ada Galang. Aku beruntung sekelas lagi dengannya.

“Uffh,” Teriknya mentari membuatku ingin lekas pulang. Apalagi teringat kata-kata Wachidaini tadi pagi. Bahwa tadi ada gas yang bocor tak jauh dari sekolahku. Kata teman-teman baunya menyengat, bahkan banyak yang pingsan. Tapi aku sama sekali tak mencium bau apa-apa.Wah, sepertinya hidungku perlu di periksakan ke dokter spesialis hidung.

Aku tak sabar pulang, terlebih bertemu si cantik Fahma. Adik baruku yang lahir empat hari yang lalu, tepatnya 25 Mei 2006. Inginku ciumi pipinya yang tembem itu.

“Uffh, sampai juga aku di rumah, eh ada Tante,” Aku tersenyum pada tetanggaku yang menjenguk adikku. “Mbak, katanya tadi di dekat sekolah sampeyan ada gas yang bocor ya?” Tanya tetanggaku. “Mm, iya sih, tapi ndak tau apanya yang bikin bocor. Pokonya hari ini sekolah pulang cepet aja tante. Soalnya banyak yang pingsan.”

Esoknya, pelajaran di sekolah benar-benar tidak efektif. Bayangkan saja, guru dan muridnya melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menutup mulut dan hidung dengan masker. Mirip sekali dengan sekolah ninja.

“Sudah anak-anak, kita libur dulu saja, pulang dulu anak-anak,”guruku berteriak panik. Jelas saja, karena jumlah anak pingsan makin banyak saja. Yang muntah malah tidak terhitung. Aku hanya mengikuti saja perintah guru, pulang ya pulang, libur ya libur.

Tak terasa sudah beberapa hari aku dan teman-temanku tidak masuk sekolah. Aduh bingung sekali aku. Aku iri dengan anak tetanggaku yang setiap pagi selalu berangkat sekolah. Akhirnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Sur. Pak Sur terlihat bingung. “Tunggu informasi selanjutnya!” Ujar Beliau, aku dan teman-temankupun kecewa. Sampai akhirnya ada kabar bahwa SMPN 2 Porong dipindah ke SDN 1 dan 2 Renokenongo.

Hmm, jaraknya lumayan dekat dengan SMPN 2 Porong yang terlihat sudah ditanggul.

Teman-temanku banyak yang pindah. Rere, Risky dan banyak lagi. Kenapa kalian pindah meninggalkan kenangan indah kita?

Sebenarnya ada apa ini? Aku bertanya dalam hati. Mengapa hanya karena gas bocor lalu menjadi luapan lupur yang meluber kemana-mana? Rumah Risa di Desa Kedungbendo sudah digenangi lumpur. Lumpur itu panas sekali. Sekolah SD-ku juga hilang ditelan lumpur.

Lingkungan rumahku mulai tak aman. Air di rumahku mulai keruh. Fahma kecilku juga terkena dampaknya. Kulitnya kemerah-merahan. Sempat aku sekeluarga menginap di rumah Bude, agar sakit kulit Fahma hilang. Dan benar, setelah di rumah Budhe, kulit Fahma kembali seperti semula.

Aku semakin bingung, karena keadaan semakin parah. Warga Perum TAS yang tadinya tentram dan damai kini mulai resah.

Waraga Perum TAS mulai berdemo. Termasuk Ayahku. Mereka berpikir realistis, jika Desa Kedungbendo yang jaraknya lumayan jauh dengan Porong saja terkena dampak lumpur. Bagaimana dengan Perum TAS yang jaraknya lumayan dekat dengan Kedungbendo? Meski sudah ditanggul berkali-kali, tetap saja lumpur tetap mengalir.

“Hanum, sampai kapan ya kita begini terus?” Tanya Risa padaku.

“Wah aku sendiri nggak tahu tuh! Gimana kabarmu? Kamu sekarang tinggal di mana?”

“Aku? Aku sekarang di pengungsian.”

“Terus gimana sekarang?”

“Waduh, jangan tanya gitu Num. Di pengungsian itu nggak enak sama sekali. Airnya keruh, baunya kayak kotoran manusia. Mandi juga harus antre!”

“Wah, masak sih? Jangan berlebihan deh!”

“Serius Num! Malahan kalau makan nasi bungkusnya ada yang berulat. Iih, mau nggak kayak gitu?”

“Stop! Stop! Jangan lanjutin, aku nanti mutah di sini.”

“Woi, ayo cepetan masuk. Kita mau masuk! Ada wartawan,” teriak Joko, salah satu temanku.

“Idih, jangan norak deh Jok, kayak nggak pernah lihat wartawan ngeliput aja,” Aku menyindir Joko, Padahal aku sendiri juga belum pernah melihat wartawan meliput secara langsung.

Benar saja, beberapa menit kemudian ada dua wartawan datang, wartawan itu dari SCTV, satu saluran TV swasta di Indonesia .

Beberapa detik, suasana kelas langsung sunyi. Aku menunjukkan raut muka paling manis sedunia. Pak Isa guru matematikaku yang biasanya bergurau, kini terlihat formil.

“Cut, cut,” teriak Pak Isa pada wartawan. Pak Isa ingin diulang lagi. Beliau keluar dari kelas, dan kembali masuk dengan langkahnya yang tegap plus senyuman yang berwibawa. “Huu,” Gumamku dalam hati. Cepetan, aku juga mau disyuting.[end]

Bersambung.

14 February 2008

Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi
Oleh Imam Shofwan

Saya kenal Agus Suwage saat karya Pinkswing Park, hasil kolaborasinya dengan fotografer Davy Linggar, diprotes FPI. Saya semakin dekat dengan Suwage dan Keluarganya saat gempa Jogja 2006. Saat itu saya sempat tinggal di studionya 2 bulan untuk membantu posko gempa. Saya lalu mengikuti beberapa pameran Wage dan mencoba parsial dan menuliskan kisahnya.

Tulisan ini saya ajukan ke RollingStone dan Gatra tapi keduanya tak memberikan kepastian akan memuat naskah ini. Maka saya muat naskah ini di blog buat pembaca semua.

Lanjut...

11 January 2008

“Orang Islam Takut Profesi Musik”

Wawancara dengan Anne K Rasmussen, PH.D, Associate professor musik dan etnomusikologi di the College of William and Marry Williamsburg, Virginia.
Oleh Mujtaba Hamdi dan Imam Shofwan

Nasyid pesat di Indonesia. Dapatkah anda petakan nasyid dengan musik Islam lain…

Saya pernah mendengar nasyid Raihan. Meski liriknya salawat, namun saya tidak menemukan hubungan Raihan dengan jenis musik Arab mana pun. Kalau mau jujur, daripada mendengar Raihan saya lebih tertarik mendengar musik berbahasa Arab. Apakah mereka pakai Bahasa Arab agar terkesan bernafaskan Islam, atau hanya tambahan supaya berwarna Islam.

Islam kerap identik dengan Arab. Apa sebenarnya citra yang ingin ditampilkan dari musik bernuansa Arab?
Kalau saya memimpin orkestra musik Timur Tengah, orang Amerika langsung berpikir musik yang dibawakan adalah musik Islam. Saya selalu harus menjelaskan musik kami dari kebudayaan Arab, ada Islam, Yahudi, Nasrani. Campur baur. Sejarah Yahudi dan Kristen sangat kaya dengan musik. Berbeda dengan orang Islam, karena orang Islam sangat takut dengan profesi musik. Jadi, lebih banyak orang Yahudi dan Kristen yang bermusik karena tidak dilarang.

Bisa anda jelaskan hubungan lagu dengan agama?

Melihat tradisi agama, di Islam ada seni baca Al-Quran, di Yahudi juga ada seni baca Taurat. Kalau kita masuk gereja Meroic atau Melkait di Lebanon, misalnya, akan mendengar musik suci dari Gereja Meroic, mirip sekali dengan alunan ayat Al-Quran. Karena kebudayaannya berasal dari tempat yang sama; dari perspektif musik agama, dari sudut syair religi dan melodi saja. Perumpamaannya, kalau kita tinggal di daerah hanya ada pisang, pasti semua orang makan pisang, Yahudi makan pisang, Islam makan pisang, kaya-miskin, kulit hitam-putih, tempat yang sama pasti akan sama pula kebiasaannya, termasuk bermusik.
Orang Islam banyak yang bermain musik akapela. Sebenarnya mereka mencari sesuatu yang Islami; bersenandung tanpa alat musik…

Kalau mendengar akapela, saya langsung teringat tradisi Kristen, karena istilah ‘a’ dan ‘capela’ maksudnya dari gereja. Akapela maksudnya tidak pakai instrumen, sudah menjadi tidak hanya lagu gereja tapi juga koor, juga gaya seperti Snada. Asal musik semacam itu dari orang Hitam-Amerika. Kalau mendengar lagu-lagu Snada, saya langsung ingat akarnya, yaitu dari tradisi kristen Amerika-Afrika. Kini orang Islam senang membawakan lagu-lagu akapela. Mereka merasa cocok dengan akapela lalu diambil, mereka dari orientasi pop, global pop culture, kadang saya tidak bisa membedakan kalau saya mendengarkan musik dari negara lain dengan bahasa lain, tapi kita bisa menebak makna lirik dan konteksnya. Memang dalam bahasa asing kadang kita tidak paham maknanya tapi kekuatan liriknya kita bisa pahami maksudnya.

Apakah ada kesamaan akar, antara musik-musik islami, seperti Debu misalnya?

Bagi saya, Debu adalah fenomena di luar kebudayaan Indonesia. Mereka orang asing dari wilayah Texas di Amerika Serikat, mesti ada beberapa orang Indonesia. Mereka memainkan banyak instrumen yand digabung, ada yang main satur (alat musik dari Iran). Dan mereka tidak mewakili satu kebudayaan mana pun. Sebenarnya mereka baru belajar. Kalau orang Amerika ke sini, mereka memproduk sesuatu harus punya suport dana. Mereka bagus, kreatif, menarik, tapi tidak merepresentasikan tradisi tertentu, ada pengaruh musik country, ada pengaruh musik Timur Tengah. Mereka meracik secara otodidak. Pasti mereka belum belajar musik Indonesia. Kalau musik di Indonesia pasti agak terpengaruh oleh musik tradisional seperti keroncong atau gamelan.

Wawancara ini mengisi boks dalam rubrik Syir’atuna, laporan utama, majalah Syir’ah, edisi November 2004.

Gaya Musik Islam Menafsir Yang Haram

Oleh Banani Bahrul-Hassan dan Imam Shofwan

Aula yang tak begitu besar itu penuh penonton, di panggung sebaris personel kelompok musik beraksi. Vokalisnya bergerak lincah. Kostumnya kemeja hitam bergambar kepala singa berbulu pirang, nyaris sama dengan warna rambutnya. Mustafa, pria itu, adalah vokalis utama kelompok musik Debu.


Debu pentas di Wisma Grafika, 17 Minggu 17 Oktober lalu. Beragam lantunan alat musik mengiringi lagu demi lagu. Alat musik, bagi Mustafa, bukanlah barang haram yang tak boleh dimainkan.
“Alat musik itu adalah anugerah Allah, sejak Nabi Daud telah tercipta alat musik,” kata Mustafa.

Debu, salah satu dari banyak kelompok yang menyemarakkan belantika musik Tanah Air. Kelompok yang gemar melantunkan syair-syair religi ini punya pandangan berbeda dengan kelompok musik lain. Tengok saja pandangan kelompok nasyid Azzam. Pendatang baru di jagad nasyid ini adalah kontestan dalam ajang pergelaran mencari bakat bertajuk ‘Konser Bintang Nasyid, Tausiyah dan Qiraah’ di TV7.

Azzam, lahir pada 1999, emoh memainkan alat musik apa pun. “Nasyid tidak mementingkan musik, karena alat musik bukanlah faktor dominan, tapi nasyid mengandalkan lirik,” ujar salah seorang personelnya Langgeng Jatmiko alias Koko.

Lirik pun, lanjut Koko, bukan sembarang lirik. Lirik dalam nasyid mengutamakan cinta pada Allah dan Rasul. “Inilah yang membedakan nasyid dan lagu band yang mengagungkan cinta kepada sesama manusia, atau kepada lawan jenis, cinta yang belum dirangkai dalam ikatan sah,” kata Koko yang mengaku pernah memiliki grup band. “Nasyid memberi alternatif cinta sejati, cinta kepada Pencipta,” timpal Febri Adan Pangestu, personel Azzam juga.

Namun, Azzam rupanya juga membutuhkan variasi untuk mempertahankan audiennya. Awalnya, Azzam bernasyid dengan gaya haroki, yang mirip lagu-lagu mars kebangsaan, tapi kini beralih ke akapela.
“Awalnya kami membawakan lagu-lagu haroki dengan irama penuh semangat. Semakin ke sini, karena permintaan pengundang, kita membawakan akapela,” kata Koko.

Alat musik, kata Koko, masih banyak perbedaan pendapat di antara ulama. Karena itu kita berusaha untuk berhati-hati tidak menggunakan instrumen.

Pada konser di TV7 lalu, Azzam pun menampilkan variasi baru. Lihatlah, meski telah menetapkan prinsip untuk berhati-hati menggunakan instrumen musik, Azzam tak menolak Ozenk Percussion mengiringi penampilannya.

Lain Azzam, lain pula Al-Kahfi. Kelompok nasyid asal Lampung yang juga ikut dalam festival di TV7 ini punya pendapat yang sedikit berbeda dengan Azzam. Lirik yang Islami, bagi Al-Kahfi, bukanlah monopoli nasyid. “Lagu pop dapat sesuai syar’i kalau liriknya Islami,” kata pentolah Kahfi Taufiq Qodri pada syir’ah.
Al-Kahfi sendiri dalam album perdananya menggunakan instrumen. “Dari sepuluh lagu dalam album kami, hanya beberapa yang akapela. Kebanyakan pakai instrumen, seperti keyboard, gitar juga biola. Albumnya dibikin minus one dan kami tinggal mengisi suara,” kata Qodri yang saat wawancara ditemani personel Al-Kahfi lainnya.

Kenapa mau menggunakan alat musik, apakah tidak melanggar syari’at? Qodri rupanya punya jawaban. Para penemu alat musik, kata Qodri, adalah orang Islam. Yang pertama tahu akapela juga orang Islam. Sebenarnya nasyid (yang) seperti akapela itu bukan dari gereja, yang pertama tahu musik itu orang Islam,” papar Qodri.

Menanggapi pendapat Qodri Anne K Rasmussen, associate profesor musik dan etnomusikologi di The College of William and Mary Williamsburg, Virginia, punya jawaban. Menurutnya, saat ia mendengar istilah akapela, ia langsung ingat tradisi Kristen, karena istilah ‘a’ dan ‘capela’ maksudnya dari gereja.

“Asal musik macam itu dari orang hitam-Amerika. Kalau mendengar lagu Snada (satu grup nasyid) saya langsung ingat akarnya yakni dari tradisi Kristen Afroamerica,” tuturnya pada Syir’ah.

Menanggapi banyaknya orang Islam yang menggunakan aliran akapela untuk berdakwah, menurut Rasmussen, adalah wajar karena orientasi mereka pop.

“Ini adalah gejala global pop kultur,” tandas Rasmussen.

Definisi musik sesuai dengan syariat bagi kelompok musik ternama, Raihan, berbeda lagi. Grup musik nasyid asal Malaysia ini adalah biang nasyid. Para munsyid, penyanyi lagu jenis nasyid, tanah air banyak terinspirasi dengan grup yang berdiri pada 1996 ini.

Ukuran musik syari’at bagi Raihan sederhana saja, yang terpenting adalah pesan yang disampaikan lewat lirik lagu. “Dalam penyampaian hiburan, yang utama adalah pesan,” kata Abu Bakar MD Yatim ketika berbincang dengan Syir’ah selepas tampil sebagai bintang tamu pembukaan Festival Nasyid Indonesia, 15 Oktober lalu.

Kata Abu Bakar, pesan tersebut mesti memberi peringatan kepada diri sendiri dan orang lain agar tidak terbuai oleh hiburan. Itu sebenarnya tujuan utama bermusik. “Soal bagaimana cara mempersembahkan, mengolah, itu tergantung kreativitas masing-masing,” kata pria asal Johor Baru ini. Kreativitas Raihan selain pada lirikm juga pada iringan komposisi suara perkusi yang dominan. Dalam lima album Raihan selalu diiringi musik, terutama perkusi.

Dari segi musik pengiring, Raihan tidak selengkap Hard, grup musik religi asal Indonesia. Meski hard menolak disebut nasyid, namun warna musiknya mirip nasyid. Mereka menyebut groupnya beraliran pop-religi, musik pop berisi syair-syair yang syarat dengan pesan keagamaan. Hard membidik kalangan muslim yang belum bisa menerima nasyid sebagai pilihan konsumsi musik. Karena Hard berkeyakinan, tak semua generasi muda Islam suka nasyid.

Kelompok ini juga punya patokan tersendiri soal musik yang sesuai dengan syariat. Menurut Reza Syarif, vokalis Hard, wilayah seni itu tidak benar salah. “Biar wilayah seni itu abu-abu, asal jangan sampai hitam,” ujarnya.

Dalam Islam, menurut Syarif, tak ada larangan secara definitif terhadap musik. Musik yang sesuai syariat, bagi Syarif, adalah yang tidak membawa ke jalur maksiat, tak membikin orang lalai, serta musik dijadikan cara saling menasehati.

Personil Hard terdiri dari Hasan, Alfian, Reza, dan Djay. Empat orang ini semuanya sebagai vokalis, kala tampil alat musik dimainkan kelompok lain sebagai pengiring. Berbeda dengan debu yang tampil utuh, vokalis plus orkestranya. Debu memiliki personil tak kurang dari 24 orang yang berasal dari Amerika Serikat, Inggris, Swedia, Malaysia, dan Indonesia.

Sedikitnya dua hal yang membedakan Debu dengan kelompok musik Islam lain. Debu menggunakan banyak alat musik dan tak membedakan kemahiran personil pria dan perempuan, termasuk dalam olah vokal. Lengkingan suara perempuan, yang katanya aurat nan haram, dapat dinikmati dalam setiap konser debu.
Bagi Debu, kata Mustafa, tak ada larangan bermusik dalam Al-Qur’an dan Hadis. Dan suara kaum hawa bukanlah aurat yang perlu dijaga,”.

Mustafa meyakini sebuah prinsip; “al-ashlu fi al-asya’ al-ibahah”, sebuah kaidah pokok hukum Islam yang dianut madzhab Syafi’i, “segala sesuatu boleh selama tak ada nash Al-Quran dan Hadis yang memvonis haram,” kata Mustafa.

Ulama sekaliber Al-Ghazali menjadi inspirator Mustafa. “Barangsiapa tak terharu oleh musim semi dengan bunga-bunganya, atau gambus dengan senarnya, maka komposisi kemanusiaan orang itu tidak sempurna,” sindir Mustafa mengutip Al-Ghazali.

Pendapat Debu soal definisi musik islam, bagi banyak orang, sudah bisa dinilai sangat lentur. Tapi, Novi Budianto, pendiri grup gamelan Kiai Kanjeng, memiliki pandangan berbeda. Musik yang sesuai dengan syariat atau Islami, menurut Novi, tidak hanya monopoli lagu berbahasa Arab. Yang terpenting adalah spirit bermusiknya. Makanya Kiai Kanjeng menerapkan prinsip ma’iyah (kebersamaan) dalam bermusik.
Menurut Budianto, musik sesuai dengan syariat itu luas, asal berdasar pada ajaran Allah, tidak yang identik dengan Arab, tidak menggunakan idiom Arab.

Bermain musik, bagi Kyai Kanjeng, tidak berhenti pada hiburan. “Bermusik musti punya tiga unsur; keasyikan, kekhusukan, dan ilmu,” ujar Budianto. Menghibur sekaligus mencipta kekhusyukan dan sarana mencari ilmu bukanlah hal mudah. Kyai Kanjeng tak hanya menggunakan alat musik lokal, macam saron, bonang, dan gong. Kyai Kanjeng harus mendatangkan alat musik Barat. “Kami tak menganggap alat musik modern adalah lambang kekafiran. Pengertian Islami bukan jenis alat musik, tapi seberapa jauh kami menggunakannya untuk menimbulkan spirit islami.”

“Dalam prinsip kami,” kata Budianto, “tak ada istilah alat musik ini boleh dan yang itu tak boleh.”
Fadilah, vokalis Wahana Ria, kasidah asal Pedurungan Semarang, malah berpendapat lebih nyeleneh. Penggunaan instrumen, bagi grup ini, sama sekali tak menyalahi aturan agama. Justru, peralatan musik macam suling, biola, ataupun gambus itulah alat-alat musik islami.

“Yang disebut sesuai syariat dan islami itu, yang menggunakan alat musik seperti biola, gambus, dan seruling. Berisi nasihat amar makruf nahi munkar dan salawat-salawat,” papar Fadilah.

Selain tiga alat musik tadi, Wahana Ria juga menggunakan gendang, organ, gitar, drum, dan biola saat pentas. Tak hanya itu, mereka juga harus hafal lagu-lagu dangdut yang lagi populer, “ini untuk persiapan kalau ada permintaan penonton,” tuturnya.

Artikel ini dimuat dalam rubrik Syir’atuna, laporan utama, majalah Syir’ah, edisi November 2004.

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...