Oleh Imam Shofwan
Perjalanan seorang seniman pemabuk yang ‘ditobatkan’ oleh Arifin Ilham.
JAMAAH zikir az-Zikra berduyun-duyun memadati masjid al-Amru bit-Taqwa. Awan hitam pertengahan Januari itu mencair menjadi rintik hujan, membasahi pelataran masjid yang terletak di daerah Mampang Indah Dua, Depok. Kaum menempati ruang utama masjid, sedang para wanita di teras luar.
Petang itu, jamaah isya baru selesai, acara dilanjutkan dengan zikir dan tausiyah yang dipimpin oleh Ustad Arifin Ilham, juru dakwah sering mongol di televisi. “Shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jamaah mendengar sang ustad menyitir sepenggal ayat al-Quran. Hening dan Khusuk.
“Seperti Bang Johnny AO,” lanjut Ustad Arifin sambil menunjuk seseorang di tengah jamaah. “AO” kependekan dari anggur orangtua.
Jamaah mengarahkan pandangan pada seorang laki-laki dengan rambut panjang yang terikat rapi dan ditutup kopiah putih. Lelaki paruh baya yang menjadi pusat perhatian tertunduk, kedua tangannya menutupi bagian bawah wajahnya. Suara jamaah sedikit riuh.
Sang Ustad melanjutkan kisah pertama kali bertemu dengan Johnny. “Saya mengucap Assalamualaikum kepada Bang Johnny.”
“Alaikumussalam, Ustad,” Arifin menirukan jawaban Johnny yang waktu itu sedang mabuk. Jamaah tergelak dan lelaki itu kian tertunduk.
Johnny AO adalah seorang pelukis dan pemabuk berat. Tapi itu kisah masa lalu. Kini, dia sudah berhenti minum dan ikut zikir. Majalah Empathy, Hidayah, Amanah, juga novel Suamiku Menangis karya Wahyuniwati al-Wali, istri Arifin Ilham, merekam kisah Johnny secara dramatis.
Diceritakan bagaimana Johnny bertemu dengan Arifin Ilham. Ustadz Arifin memberi lontong Sayur, Johnny tersentuh. Sejak saat itu, Johnny aktif mengikuti zikir pimpinan Sang Ustad. Majalah Amanah merangkum kisah ini dengan judul memikat: Johnny Zikir: Lontong Sayur Membuatnya Insyaf.
SIANG yang cerah awal Januari, Johnny duduk disebuah kursi kayu di ruang tengah rumahnya. Tangan kirinya memegang palet beisi warna-warni cat winston. Tangan kanannya lincah memainkan kuas pada sebuah kanvas. Di dinding tergantung beberapa lukisan. “Semula saya melukis abstrak, sekarang saya melukis kaligrafi,” tutur Johnny saat berbincang dengan saya tentang masa lalunya.
Johnny lahir 14 Januari 1954, di Bandung, dengan nama lengkap Johnny Guntoro. Dia anak kedua dari pasangan R. Guritno Wiryo Diatmodjo dan RA Siti Ana. Ayahnya seorang perwira tinggi Angkatan Darat.
Wiryo pensiun pada 1957, dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Setelah pensiun, sang ayah menjadi direktur utama Perusahaan Negara Tambang Emas Cikotok, Banten. Johnny bersama keluarganya ke sana sampai lulus sekolah dasar. Lima tahun Johnny menamatkan SD, setahun lebih cepat dari biasanya.
Keluarga Johnny lalu pindah ke Jakarta pada tahun 1967. Mereka menempati rumah di jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru. Saat itu Johnny masuk SMP 12. Dia satu sekolah dengan Ari Widjianto, tetangga yang kemudian menjadi teman dekat Johnny. Ari juga putra seorang pejabat militer.
Saat naik kelas dua SMP, Johnny tidak mau menlanjutkan sekolah. Dia mogok lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Sebagai teman, Ari menghibur Johnny, mengajak jalan-jalan, dan nongkrong. Mereka lalu membentuk geng “Ganja Fly”.
“Geng yang cukup terkenal di Panglima Polim saat itu,” tutur Johnny.
“Santai aja, kita minum bir, Gua yang traktir,” kata Ari waktu itu di sebuah restoran di jalan Panglima Polim Raya. Inilah kali pertama Johnny menenggak minuman beralkohol. Adapun Pub Tanamur (Tanah Abang Timur), Kernolong, Kalipasir, Kramat Raya adalah tempat-tempat mangkal geng mereka. Dan mulailah mereka menenggak Vodka, Whisky dan tekawe (minuman keras khas Kalipasir). Sehari-hari mereka mabuk dan balapan.
Johnny dibelikan sepeda motor dan kembali sekolah sampai lulus SMP 12 pada 1971.
Ia lalu masuk SMA 09 Bulungan, di sini dia bertahan satu tahun. Kelas dua, Johnny pindah ke SMA 17 Grogol. Dia tak lagi satu sekolah dengan Ari. Di SMA, Johnny ikut beladiri. Agar Tubuhnya prima, dia harus mengurangi minum minuman keras.
Setelah lulus SMA tahun 1974, Johnny melanjutkan studinya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, Jurusan Seni Lukis.
Di ASRI, kebiasaan minum minuman keras kambuh lahi dan semakin parah. Dari kawan-kawannya, Johnny berkenalan dengan banyak jenis minuman beralkohol, seperti Jhony Walker, Drygin, Napoleon, Bols, Arak Putih, Drink Beer. Tak hanya minuman, dia juha mencoba ganja kering dan masrum, sejenis jamur dari tinja sapi.
Pada 1977, ayah Johnny meninggal dunia. Johnny terpukul. Kuliahnya terbengkalai, dia lebih sering menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan pelesiran di pantai. “Saking seringnya saya ke Parangtritis, saya banyak kenal para pemandu wisata dan turis-turis.”
Dia Parangtritis inilah, awalnya Johnny berkenalan dengan masrum. Di sebuah kafe panggung. Johnny bersama empat orang kawannya berpesta. “Omlet setengah mateng lima,” kata Johnny. Pelayan berlalu setelah mencatat pesanan.
“Kita coba barang baru, Dik,” kata Johnny sambil mengulurkan bungkusan berisi jamur ke arah Mardi, seorang kawannya yang bekerja sebagai pemandu wisata. “Oh ini masrum dari turis India,” jawab Mardi sambil menaburkan jamur yang telah dilumat dengan tangannya ke atas omlet lalu memakannya. Setelah pesta ini, Johny tidak sadarkan diri sampai dua hari.
MINGGU Pahing, 28 Juli 1980, Johnny menikah dengan Raden Ayu Wisetiati, seorang karyawati Bank Exim. Pernikahan ini digelar saat Johnny kuliah semester akhir. Harapan sang ibunda, dengan pernikahan itu, Johnny memiliki tanggungjawab terhadap keluarga.
Setelah resepsi pernikahan, Johnny kembali ke Yogja, menyelesaikan kuliah. “Kuliah saya yang tinggal tugas akhir kacau. Ibu berharap setelah diberi tanggung jawab, saya akan lebih baik,” tutur Johnny.
Seminggu sekali Johnny menjenguk istrinya di Jakarta. Kebaikan dan kesabaran Titik, sapaan akrab Wisetiati, membuat Johnny jauh dari teman-teman mabuknya. Johnny merasa bahagia saat Titik mengandung.
April 1981, Titik mengalami keguguran. Johnny labil, dan kembali ke Yogyakarta. Minuman keras kembali ditenggaknya.
Johnny tidak lulus kuliah karena terganjal kuliah agama. “Untuk ketiga kalinya saya ujian shalat. Ya, mana mungkin lulus, saya tidak bisa shalat,” tutur Johnny.
Waktu itu Johnny menyogok dosennya dengan lukisan supaya diluluskan. Johni lulus ASRI pada 1982.
Setelah lulus Johnny kembali ke Jakarta. Sesekali dia menjenguk istrinya yang tinggal di rumah ibunya di daerah Mayestik, Jakarta Selatan. Tujuannya untuk meminta uang. Johnny lebih suka menghabiskan uang bersama minuman keras.
Melihat suaminya yang kian tidak bisa lepas dari minuman keras, Titik selalu berdoa sehabis sholat agar suaminya tobat.
Pada tahun 1984, Johnny membangun rumah di atas tanah peninggalan ayahnya di Depok. Pasangan ini lalu pindah ke rumah ini pada tahun yang sama.
Di Depok, kebiasaan Johnny semakin menjadi, dia semakin tidak terpisahkan dengan minuman beralkohol. “Tiap hari kerjaannya nyekek botol,” tutur Titik. “Johnny sering memecah kaca, gelas, dan mukulin tembok kalau habis minum.”
Biasanya Johnny menjemput Titik pulang kerja di Stasiun Depok, kemudian begadang di Pinbi kafe di jalan Margonda. “Biasanya Johnny menghabiskan satu picer berem, kadang nambah,” tutur Titik. Berem adalah minuman keras olahan tradisional. Satu picer seukuran satu sampe dua liter.
Mereka biasa sampai rumah setelah lewat tengah malam. “Paling lambat kami pulang jam dua dini hari,” tutur Titik.
Titik sering menemani suaminya minum, “saya tahu betul suami saya dan apa yang dia minum.” Tapi tidak setuju suaminya disebut preman. “Suami saya bukan preman, tidak pernah malak orang, sebenarnya tidak ada tetangga yang memanggil suami saya Johnny AO. AO hanya sebutan Ustad Arifin saja.”
Kepada saya, Arifin Ilham mengatakan sebutan AO alias anggur orangtua memang dia yang mempopulerkan. Jamaah az-Zikra lantas menjadikan nama itu sapaan akrab. Tapi, Arifin lantas memberikan sapaan baru buat Johnny, yaitu “Johnny Zikir”. Ini setelah Johnny rajin menghadiri jemaah zikir yang dipimpin Arifin.
Begitulah, Titik tak pernah menganggap suaminya penjahat. Dalam novel Suamiku Menangis, Johnny disebut sebagai seorang preman yang mengganggu perjalanan tokoh Ustad. Jalan menuju rumah Arifin harus melewati rumah Johnny. Johnny dan Arifin tinggal di perkampungan yang sama.
Titik keberatan dengan isi novel tersebut. “Preman itu kan identik terminal, pasar dan suka malak, padahal suami saya tidak pernah melakukan itu,” tutur Titik. “Sebenarnya saya ingin meluruskan hal itu, tapi udah kayak gitu. Ya sudahlah.”
Selama di Depok, Johnny termasuk orang yang rajin secara sosial. Tiap ada kerja bakti, Johnny selalu datang lebih awal. Dia juga membikin Sanggar Fajar dan mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Selain itu dia juga mengajari mereka teater. “Johnny hanya suka minum, dia tidak melakukan kejahatan,” tegas Titik.
Titik tidak pernah mengeluh pada siapa pun tentang kebiasaan suaminya kecuali pada Tuhan. Sampai suatu hari nahas di tahun 1989, terjadi.
Suatu malam, Titik sedang menunggu Johnny yang sedang mendesain taman seorang tetangga. Sejak sore, Titik memasak dan ingin makan malam bersama. Di meja makan, hidangan mulai dingin. Malam kian larut, mata Titik sudah terasa berat saat terdengar seorang berteriak “cihuy” dari luar. Dia paham itu adalah suaminya karena berteriak “cihuy” telah menjadi kebiasaan Johnny.
Titik bergegas menuju gerbang. Dia melihat suaminya memegang botol dalam kondisi mabuk berat.
Titik membopong Johnny menuju ruang makan. Kekesalan Titik saat itu tidak terbendung. “Sudah capek-capek masak, kamu enak-enakan minum,” ucap Titik. Emosi. Johnny kalap dan melempar piring ke arah Titik.
Darah mengucur dari sela-sela tangan Titik yang menutup wajahnya. Panik. Semua tentangga berdatangan ke rumah mereka setelah pembantu Johnny berteriak-teriak minta tolong.
Kemudian Titik dibawa ke rumah sakit Bhakti Husada, Depok. Karena keterbatasan alat, dokter memberi rujukan ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk dioperasi. Selam tiga bulan dia dirawat di RSCM, kemudian pindah ke RS Pertamina selama enam bulan untuk pemulihan. Sebelah mata Titik cacat setelah kejadian itu.
“Saat dirawat, Johnny selalu menemani saya dan tidak pernah tercium bau minuman dari mulutnya,” tutur Titik.
Setelah itu Johnny berhenti minum minuman keras. “Keluarga melarang saya kembali ke Depok. Saya dan Johnny tinggal di Mayestik di rumah orang tua,” tutur Titik, hampir setahun tinggal di sana. Sampai Johnny terlihat berhenti minum. Dan Kami diperbolehkan kembali ke Depok.”
Setelah kembali ke Depok Johnny kembali kambuh. “Minum lagi dan mabuk lagi.”
Dan, tibalah hari itu. Pada 12 Febuari 1998, ada perubahan penting dalam kehidupan pasangan Johnny-Titik, Titik melahirkan seorang puteri yang cantik dan diberi nama Sekar Siti Nabila.
“Karena saya bekerja, Johnny yang merawat Sekar. Dia tidak ada waktu lagi mencari minuman,” ujar Titik.
Tahun 1999 Titik berhenti kerja agar bisa merawat Sekar. Johnny berubah. Ia tak pernah menenggak minuman keras jika di rumah.
KAMIS, 31 Juli 2003, sekitar pukul tujuh pagi, sebuah mobil melintas di jalan Kampung Kekupu, tepat di depan rumah sekaligus workshop Johnny. Mobil itu berhenti. Saat itu Johnny sedang membersihkan halaman.
“Assalamualaikum, Bang Johnny,” seru seorang pemuda dari dalam mobil. Johnny menoleh ke asal suara. Tangannya masih menggenggam sapu. “Alaikumsalam. Ooo, Ustad Arifin,” timpal Johnny.
“Makan nasi uduk, yuk,” ajak Arifin.
“Makasih, kirim-kirim aja,” jawab Johnny.
Mobil berlalu. Johnny kembali menyapu. Setelah itu, Johnny masuk ke rumah mandi kemudian duduk di beranda rumah.
“Assalamualaikum,” seorang menyapa dari depan gerbang. Mobil yang membawa Arifin tadi berhenti tepat di belakangnya. Johnny menjawab salam dan membukakan gerbang. “Ustad Syukur, silahkan masuk,” ucap Johnny. Ustad Syukur salah seorang pengurus Majelis az-Zikra.
“Terima kasih. Di sini aja. Ini ada lontong sayur dari ustad Arifin. Maaf tadi nasi uduknya habis,” ucap Ustad Syukur. Johnny bengong sesaat. Belum sempat Johnny berterima kasih, mobil sudah berlalu.
Johnny menutup gerbang dan masuk kembali ke dalam rumah.
“Mami, Ustad Arifin baik ya?” ucap Johnny. Sang istri hanya bengong mencoba menerka arah pembicaraan. “Tadi Ustad Syukur nganterin lontong sayur dari Ustad Arifin, besok aku mau ikut dizir, ah.”
Tiga hari kemudian, Minggu 3 Agustus, untuk kali pertama Johnny ikut zikir yang dipimpin oleh Arifin Ilham.
Sebulan berikutnya, Minggu 7 September 2003, sebuah stasiun televisi swasta nasional merelai acara “Zikir dan Tausiyyah” di masjid az-Zikra. Arifin Ilham biasanya menjadi pembicara tunggal. Tapi hari itu sang ustad ditemani Johnny Guntoro alias Johnny AO. Sambil menangis, johnny menceritakan masa lalunya yang “hitam” sampai ketemu Arifin Ilham dan ikut majelis zikir az-Zikra.
Acara pengajian selesai, jamaah satu persatu kembali kembali ke rumah masing-masing. Tinggal berapa orang di masjid. Ustad Syukur menghampiri Johnny dan memberinya amplop uang terimakasih. Tersenyum, Johnny menerima dengan gembira.
“Sejak acara dialog itu,” tutur Johnny, “Ustad Arifin sering mengajak saya mengisi acara, baik di dalam maupun di luar kota.” Di pengajian-pengajian itu Johnny selalu menjadi pencerita yang baik. Ia mengisahkan kekelaman hidupnya dahulu, hingga pertemuaannya dengan Ustad Arifin.
Titik senang dengan kondisi suaminya saat ini. “Sekarang gantian, dulu saya yang rajin shalat, sementara dia tidak perna. Sekarang kebalik, dia yang rajin…,” tawa Titik berderai.
Tulisan ini dimuat di majalah Syirah pada Febuari 2005
7 February 2005
7 September 2004
Penganut Agama Baru Pembenci Agama Asal
Oleh Fathuri SR, Imam Shofwan, Toddi Y. KurniawanPemeluk agama baru yang mencari kesalahan agama asalnya ternyata banyak terjadi. Mereka menilai agama lama sesat bahkan ‘musuh’.
Dari dalam sebuah masjid, kalimat-kalimat itu lantang terdengar. “Tidak akan rela Yahudi dan Nasrani terhadap kamu sampai kamu mengikuti millah mereka. Millah bisa diartikan agama, bisa juga pola pikir, dan juga budaya,” tutur perempuan setengah baya. Mantap ia menyatakan pesan: hati-hati dengan orang Yahudi dan Nasrani!
Sepintas pesan itu bukan sesuatu yang istimewa. Sudah banyak ulama, mubalig atau kiai, dengan banyak tafsir, telah menyitir kata-kata yang merupakan terjemahan dari surat al-Baqarah ayat 120 ini. Tapi, kalau yang mengutip adalah orang yang pernah merasakan agama Nasrani, tentu lain persoalannya.
Irene Handono, demikian perempuan yang mengutip ayat ini biasa dipanggil. Seorang peranakan Tionghoa kelahiran 30 Juli 1954 ini bernama asli Han Hoo Lie.
Irene, sebagaimana pengakuannya sendiri, adalah mantan biarawati. Dia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Katolik. Orangtuanya penyumbang terbesar gereja di daerahnya, Surabaya.
Namun, sejak 1982 di Masjid al-Falah, Surabaya. Ia masuk Islam disaksikan oleh KH Misbach yang waktu itu menjabat ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Pengakuan akan masa lalu Irena bisa disaksikan dalam sebuah pengajian di bulan Ramadlan, November 2003 lalu, yang rekaman VCD-nya dijual bebas di pasaran dengan judul Strategi Pemurtadan Umat. Di bawah judul ditulis “Irene: mantan biarawati”, dengan secara tidak langsung telah diganti dengan titel barunya: seorang mubaligah.
“Perbedaan antara saya dan Bapak-Ibu, saya lahir dari keluarga yang beragama Katolik, sedangkan Bapak-Ibu ketika lahir yang didengar suara azan dan iqamah,” tuturnya kepada peserta pengajian. “Dalam usia lima atau enam tahun, Bapak-Ibu sudah belajar ngaji tapi saya sudah masuk Sunday School, Sekolah Minggu, yaitu kursus untuk mempelajari Kristen atau Katolik,” lanjut Irene menceritakan masa kecilnya.
Irene adalah pembicara yang baik. Para peserta pengajian terdiam mendengar penuturannya. Tandas, dengan diksi yang tepat dan intonasi suara yang teratur.
“Saya yang ada di hadapan anda ini, adalah salah satu contoh mantan kafir. Dan disebut mantan kafir saya mengucapkan alhamdulillah,” aku Irene, sang da’iyah mualaf yang kini tinggal di Bekasi.
Dari pengakuan ini, Irene ingin menunjukkan, kekatolikannya di masa lalu merupakan kekafiran. Lebih dari itu, dalam ceramah-ceramahnya, Irene juga menganggap Katolik sebagai ‘musuh’ Islam. Irene kerap berpesan, Katolik akan terus menerus melakukan pendangkalan iman dan memurtadkan orang Islam. Ia sering kali mengutip ayat 120 al-Baqarah sebagai argumentasi dalam ceramahnya.
Selain Irena, ada Ragil Wibowo, 38 tahun, mualaf dari Protestan asal Jawa Tengah, juga mendeklarasikan hal yang sama. Ragil yang kini tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini berharap umat Islam berusaha tanpa henti memperkuat akidah. “(Umat Islam) harus mengerti bahwa musuh yang paling utama adalah musuh pendangkalan iman lewat pendidikan gratis kepada umat muslim, pembinaan ekonomi, pengobatan gratis, yang dijalankan Nasrani,” ujar Ragil kepada syir’ah.
Latar belakang Ragil tak kalah hebatnya dengan Irene. Menurut pengakuan Ragil, ia lahir dari keluarga Protestan totok. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pendeta. Setelah lulus SMA, Ragil kuliah di Institut Agama Kristen Maranatha, Bandung, dan mengambil jurusan misi sejenis dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kalau di Institut Agama Islam. Selama empat tahun dia sekolah di sana dan selesai dari situ dia masuk International Misionary Fellowship (IMF), sebuah organisasi misionaris internasional.
Ragil bersama sebelas kawannya diterjunkan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1988 sampai 1993. Mereka menjalankan misi pemberian bantuan pangan dan pembinaan iman. Program berjalan bagus hanya saja pembinaan iman yang awalnya dihadiri ratusan orang semakin hari makin sedikit.
“Lalu setelah evaluasi tim, kami menyimpulkan ada masalah dengan Korp Dakwah Pedesaan (KDP) yang menghalangi orang-orang yang mau menghadiri kebaktian kami,” kata Ragil menguraikan. Ragil dan teman-temannya tak tahu persis dari organisasi Islam mana KDP itu. Ragil hanya tahu KDP dipimpin oleh KH Jalal Mukhsid dari SD Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Korp ini juga mengadakan dakwah bagi penduduk Gunung Kidul dengan mengadakan pengajian dan sebagainya.
Kedua fihak sepakat konflik “perebutan pengikut” harus dihentikan. Untuk menghindari konflik fisik dipilihlah dialog. “Kami mengadakan dialog pribadi dengan Pak Jalal,” kata Ragil. Tema dialog itu adalah memperdebatkan akidah masing-masing. Dalam dialog itu ada perjanjian antara Jalan dan Ragil, kalau Ragil kalah harus masuk Islam, dan sebaliknya kalau Jalal kalah harus masuk Kristen.
Alot dan seru perdebatan ini. Ragil yang alumni jurusan misi tentu pengetahuan keprotestenannya mendalam, sebaliknya Jalal pun tak kalah mumpuni soal keislaman. Tapi akhirnya setelah enam bulan Ragil kalah argumentasi. Mau tak mau dia harus masuk Islam meski dengan resiko dijauhi gereja, teman, dan keluarganya.
Setelah masuk Islam, Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. “Sekarang agenda terpenting saya adalah mengislamkan kembali orang-orang yang dulu saya kristenkan,” katanya. Bagi Ragil, misi Kristenisasi sangat berbahaya. Di sisi lain, Ragil juga mengkritik habis ajaran Kristen.
Menurut Ragil ada dua hal yang salag dalam Kristen. Pertama, Injil, kitab suci orang Kristen, tidak menjamin keselamatan bagi seseorang. Kedua, ajaran Nabi Isa dengan ajaran Kristen sekarang itu sangat berbeda. “Ajaran yang dipraktikkan umat Kristen adalah ajaran Paulus bukan ajaran Nabi Isa,” katanya.
Nabi Isa, menurut Ragil, mencontohkan umatnya untuk bersunat, tapi umat Kristen tidak ada yang mau bersunat. Nabi Isa sembahyang dengan besujud sampai ke tanah, sedang umat Kristen sekarang ibadahnya dengan bernyanyi-nyanyi. Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk berdoa menengadahkan tanganya tapi mereka berdoa, malah, dengan tangan dilipat.
“Dalam Matius, ayat sebelas, Nabi Isa mengajarkan doa pada murid-muridnya, berdoa kepada bapak kami dengan menengadahkan tangannya ke atas, dan berdoalah demikian bapa kami di surga yang dikuduskan nama-Mu,” kutip Ragil.
Sementara itu, kritik pedas juga dilakukan Irene terhadap agama Katoliknya. “Tanggal 25 Desember yang dijadikan peringatan Hari Natal, hari kelahiran Nabi Isa, itu tidak benar,” tandas Irene. Dalam literatur sejarah yang dibaca Irene, diketahui bahwa tanggal itu merupakan hari pesta rakyat Romawi demi dewa Matahari.
Karena berharap rakyat mau mengikuti rajanya yang telah masuk Kristen, rakyat dibujuk untuk mengikutinya dengan berbagai toleransi. Secara panjang lebar Irene menjelaskan hal ini dalam bukunya: Hari Natal: Antara Dogma dan Toleransi.
Pendapat Irene ini tak ditampik oleh Romo Hariyanto SJ, pastur Katolik yang kini aktif dalam dialog antaragama. Menurut Hariyanto tanggal 25 Desember baru dipakai dan diperingati sebagai Hari Natal.
Bahkan, menurut dia, di kalangan bangsa Eropa Timur dan Rusia, Hari Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Tanggal ini tidak berkait dengan kelahiran Jesus, namun berhubungan dengan cerita Yesus yang sesudah dilahirkan dikunjungi oleh tiga raja dari Timur.
“(Natal) dalam bahasa Yunani dikenal dengan bahasa efifania yaitu sesuatu yang diumumkan kepada publik, dan tidak dalam kontek kelahiran Yesus. Ini sudah lama diketahui oleh umat Kristen,” kata Hariyanto.
Bagi Hariyanto, persoalan Natal di mata umat Kristen tidaklah terlalu esensial. “Natal tanggal berapa pun tidak akan mengubah sistem dan keimanan yang ada dalam diri umat Kristen,” tambahnya. Menilai sikap Irene, Hariyanto berpendapat, orang seperti Irene akan selalu ada dalam sejarah dan terus berulang-ulang.
Apa yang dikatakan Hariyanto bukan isapan jempol belaka. Faktanya tak hanya orang Kristen atau Katolik yang masuk Islam yang mengorek keburukan agama lamanya, orang Islam yang masuk ke Kristen pun bertingkah sama.
Sebagaimana dikutip dari Media Dakwah edisi Agustus 2003, Yusuf Roni, pendeta yang sebelumnya beragama Islam, dalam sebuah ceramahnya di Gereja Maranatha, Surabaya, pada tanggal 13 September 1973 menelanjangi keburukan Islam.
Islam yang dikenal Yusuf Roni adalah Islam yang garang, penuh kebencian dengan agama lain. Di dalam al-Quran ada ayat “Asy-syida’u ‘ala al-kuffari, yang artinya, potong itu orang-orang Kristen,” kutip Yusuf. Tentu ini tafsiran versi Yusuf Roni.
Kepada Syir’ah, Yusuf mengaku, sebelum masuk Kristen dia sangat kuat memegang Islam. Dalam lingkungan keluarganya di Palembang, ia begitu keras dididik sejak kecil tentang keislaman. Di luar itu, saat belajar di Bandung, Yusuf Roni aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi Islam. Dia pernah menjabat ketua umum Serikat Pelajar Muslimin Indonesia cabang Bandung, ketua seksi pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia, dan ketua seksi dakwah Pemuda Muslimin Indonesia wilayah Jawa Barat.
Mengomentari ceramah Yusuf Roni, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Zainun Kamal, menilai kalau dilihat tanpa analisa hanya dari sisi politik saja, kesan itu ada. Islam yang garang, penuh pertempuran dan seterusnya.
“Nabi (Muhammad) sewaktu menyebarkan Islam harus menghadapi berbagai pertempuran. Kala Nabi wafat, antara Muhajirin dan Ansor pun terjadi pertengkaran,” kata Zainun menjelaskan.
Namun inti ajaran Islam bukan di situ. Tak usah jauh-jauh, Islam dari bahasanya saja bermakna “damai”. “Dalam al-Quran sendiri dinyatakan, ketika mereka masuk kepadanya maka mereka berkata, ‘selamat’,” kata Zainun mengutip ayat 52 surat al-Dzariyat.
Zainun sendiri yang mengenal cukup dekat dengan Yusuf Roni, rektor Sekolah Tinggi Apostolos Jakarta, kini tak melihat dia melakukan hal yang demikian. Menurut Zainun, mungkin karena waktu itu Yusuf baru masuk Kristen sehingga bersikap keras dengan agama lamanya.
“Seperti suami-istri yang baru bercerai, pasti si suami atau istri akan mencela mantan istri atau suaminya,” kata Zainun mengumpamakan.
Sama dengan Yusuf, apa yang dilakukan oleh Irene dan Ragil mungkin juga hanya sekedar kekagetan saja. Hariyanto sendiri melihat, problem dari agama Kristen dan Islam sebagai agama dakwah atau misi memang terletak pada perebutan umat, dan ini menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai.
Makanya, menurut Zainun, untuk menghindari konflik semacam itu antara Islam dan Kristen lebih baik kembali melihat pada agama induk. Kristen mengklaim Ibrahim adalah bapak mereka, umat Islam juga demikian, tak ketinggalan Yahudi pun mengakuinya. Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari satu sumber, yaitu agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.
“Agama yang dibawa Ibrahim adalah dinul hanif, agama yang lurus,” terang Zainun.
Kalau tidak disadari, persaingan di antara Kristen dan Islam akan terus terjadi. Dan seharusnya dakwah atau misi, saran Zainun, dikembalikan pada makna sebenarnya, jangan dimaknai sebagai perekrutan umat sebanyak-banyaknya. “Tapi menggembleng umat berkualitas,” ujar Zainun.[end]
Tulisan ini dimuat di majalah Syir'ah pada September 2004.
Pemeluk agama baru yang mencari kesalahan agama asalnya ternyata banyak terjadi. Mereka menilai agama lama sesat bahkan ‘musuh’.
Dari dalam sebuah masjid, kalimat-kalimat itu lantang terdengar. “Tidak akan rela Yahudi dan Nasrani terhadap kamu sampai kamu mengikuti millah mereka. Millah bisa diartikan agama, bisa juga pola pikir, dan juga budaya,” tutur perempuan setengah baya. Mantap ia menyatakan pesan: hati-hati dengan orang Yahudi dan Nasrani!
Sepintas pesan itu bukan sesuatu yang istimewa. Sudah banyak ulama, mubalig atau kiai, dengan banyak tafsir, telah menyitir kata-kata yang merupakan terjemahan dari surat al-Baqarah ayat 120 ini. Tapi, kalau yang mengutip adalah orang yang pernah merasakan agama Nasrani, tentu lain persoalannya.
Irene Handoni, demikian perempuan yang mengutip ayat ini biasa dipanggil. Seorang peranakan Tionghoa kelahiran 30 Juli 1954 ini bernama asli Han Hoo Lie.
Irene, sebagaimana pengakuannya sendiri, adalah mantan biarawati. Dia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Katolik. Orangtuanya penyumbang terbesar gereja di daerahnya, Surabaya.
Namun, sejak 1982 di Masjid al-Falah, Surabaya. Ia masuk Islam disaksikan oleh KH Misbach yang waktu itu menjabat ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Pengakuan akan masa lalu Irena bisa disaksikan dalam sebuah pengajian di bulan Ramadlan, November 2003 lalu, yang rekaman VCD-nya dijual bebas di pasaran dengan judul Strategi Pemurtadan Umat. Di bawah judul ditulis “Irene: mantan biarawati”, dengan secara tidak langsung telah diganti dengan titel barunya: seorang mubaligah.
“Perbedaan antara saya dan Bapak-Ibu, saya lahir dari keluarga yang beragama Katolik, sedangkan Bapak-Ibu ketika lahir yang didengar suara azan dan iqamah,” tuturnya kepada peserta pengajian. “Dalam usia lima atau enam tahun, Bapak-Ibu sudah belajar ngaji tapi saya sudah masuk Sunday School, Sekolah Minggu, yaitu kursus untuk mempelajari Kristen atau Katolik,” lanjut Irene menceritakan masa kecilnya.
Irene adalah pembicara yang baik. Para peserta pengajian terdiam mendengar penuturannya. Tandas, dengan diksi yang tepat dan intonasi suara yang teratur.
“Saya yang ada di hadapan anda ini, adalah salah satu contoh mantan kafir. Dan disebut mantan kafir saya mengucapkan alhamdulillah,” aku Irene, sang da’iyah mualaf yang kini tinggal di Bekasi.
Dari pengakuan ini, Irene ingin menunjukkan, kekatolikannya di masa lalu merupakan kekafiran. Lebih dari itu, dalam ceramah-ceramahnya, Irene juga menganggap Katolik sebagai ‘musuh’ Islam. Irene kerap berpesan, Katolik akan terus menerus melakukan pendangkalan iman dan memurtadkan orang Islam. Ia sering kali mengutip ayat 120 al-Baqarah sebagai argumentasi dalam ceramahnya.
Selain Irena, ada Ragil Wibowo, 38 tahun, mualaf dari Protestan asal Jawa Tengah, juga mendeklarasikan hal yang sama. Ragil yang kini tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini berharap umat Islam berusaha tanpa henti memperkuat akidah. “(Umat Islam) harus mengerti bahwa musuh yang paling utama adalah musuh pendangkalan iman lewat pendidikan gratis kepada umat muslim, pembinaan ekonomi, pengobatan gratis, yang dijalankan Nasrani,” ujar Ragil kepada syir’ah.
Latar belakang Ragil tak kalah hebatnya dengan Irene. Menurut pengakuan Ragil, ia lahir dari keluarga Protestan totok. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pendeta. Setelah lulus SMA, Ragil kuliah di Institut Agama Kristen Maranatha, Bandung, dan mengambil jurusan misi sejenis dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kalau di Institut Agama Islam. Selama empat tahun dia sekolah di sana dan selesai dari situ dia masuk International Misionary Fellowship (IMF), sebuah organisasi misionaris internasional.
Ragil bersama sebelas kawannya diterjunkan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1988 sampai 1993. Mereka menjalankan misi pemberian bantuan pangan dan pembinaan iman. Program berjalan bagus hanya saja pembinaan iman yang awalnya dihadiri ratusan orang semakin hari makin sedikit.
“Lalu setelah evaluasi tim, kami menyimpulkan ada masalah dengan Korp Dakwah Pedesaan (KDP) yang menghalangi orang-orang yang mau menghadiri kebaktian kami,” kata Ragil menguraikan. Ragil dan teman-temannya tak tahu persis dari organisasi Islam mana KDP itu. Ragil hanya tahu KDP dipimpin oleh KH Jalal Mukhsid dari SD Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Korp ini juga mengadakan dakwah bagi penduduk Gunung Kidul dengan mengadakan pengajian dan sebagainya.
Kedua fihak sepakat konflik “perebutan pengikut” harus dihentikan. Untuk menghindari konflik fisik dipilihlah dialog. “Kami mengadakan dialog pribadi dengan Pak Jalal,” kata Ragil. Tema dialog itu adalah memperdebatkan akidah masing-masing. Dalam dialog itu ada perjanjian antara Jalan dan Ragil, kalau Ragil kalah harus masuk Islam, dan sebaliknya kalau Jalal kalah harus masuk Kristen.
Alot dan seru perdebatan ini. Ragil yang alumni jurusan misi tentu pengetahuan keprotestenannya mendalam, sebaliknya Jalal pun tak kalah mumpuni soal keislaman. Tapi akhirnya setelah enam bulan Ragil kalah argumentasi. Mau tak mau dia harus masuk Islam meski dengan resiko dijauhi gereja, teman, dan keluarganya.
Setelah masuk Islam, Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. “Sekarang agenda terpenting saya adalah mengislamkan kembali orang-orang yang dulu saya kristenkan,” katanya. Bagi Ragil, misi Kristenisasi sangat berbahaya. Di sisi lain, Ragil juga mengkritik habis ajaran Kristen.
Menurut Ragil ada dua hal yang salag dalam Kristen. Pertama, Injil, kitab suci orang Kristen, tidak menjamin keselamatan bagi seseorang. Kedua, ajaran Nabi Isa dengan ajaran Kristen sekarang itu sangat berbeda. “Ajaran yang dipraktikkan umat Kristen adalah ajaran Paulus bukan ajaran Nabi Isa,” katanya.
Nabi Isa, menurut Ragil, mencontohkan umatnya untuk bersunat, tapi umat Kristen tidak ada yang mau bersunat. Nabi Isa sembahyang dengan besujud sampai ke tanah, sedang umat Kristen sekarang ibadahnya dengan bernyanyi-nyanyi. Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk berdoa menengadahkan tanganya tapi mereka berdoa, malah, dengan tangan dilipat.
“Dalam Matius, ayat sebelas, Nabi Isa mengajarkan doa pada murid-muridnya, berdoa kepada bapak kami dengan menengadahkan tangannya ke atas, dan berdoalah demikian bapa kami di surga yang dikuduskan nama-Mu,” kutip Ragil.
Sementara itu, kritik pedas juga dilakukan Irene terhadap agama Katoliknya. “Tanggal 25 Desember yang dijadikan peringatan Hari Natal, hari kelahiran Nabi Isa, itu tidak benar,” tandas Irene. Dalam literatur sejarah yang dibaca Irene, diketahui bahwa tanggal itu merupakan hari pesta rakyat Romawi demi dewa Matahari.
Karena berharap rakyat mau mengikuti rajanya yang telah masuk Kristen, rakyat dibujuk untuk mengikutinya dengan berbagai toleransi. Secara panjang lebar Irene menjelaskan hal ini dalam bukunya: Hari Natal: Antara Dogma dan Toleransi.
Pendapat Irene ini tak ditampik oleh Romo Hariyanto SJ, pastur Katolik yang kini aktif dalam dialog antaragama. Menurut Hariyanto tanggal 25 Desember baru dipakai dan diperingati sebagai Hari Natal.
Bahkan, menurut dia, di kalangan bangsa Eropa Timur dan Rusia, Hari Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Tanggal ini tidak berkait dengan kelahiran Jesus, namun berhubungan dengan cerita Yesus yang sesudah dilahirkan dikunjungi oleh tiga raja dari Timur.
“(Natal) dalam bahasa Yunani dikenal dengan bahasa efifania yaitu sesuatu yang diumumkan kepada publik, dan tidak dalam kontek kelahiran Yesus. Ini sudah lama diketahui oleh umat Kristen,” kata Hariyanto.
Bagi Hariyanto, persoalan Natal di mata umat Kristen tidaklah terlalu esensial. “Natal tanggal berapa pun tidak akan mengubah sistem dan keimanan yang ada dalam diri umat Kristen,” tambahnya. Menilai sikap Irene, Hariyanto berpendapat, orang seperti Irene akan selalu ada dalam sejarah dan terus berulang-ulang.
Apa yang dikatakan Hariyanto bukan isapan jempol belaka. Faktanya tak hanya orang Kristen atau Katolik yang masuk Islam yang mengorek keburukan agama lamanya, orang Islam yang masuk ke Kristen pun bertingkah sama.
Sebagaimana dikutip dari Media Dakwah edisi Agustus 2003, Yusuf Roni, pendeta yang sebelumnya beragama Islam, dalam sebuah ceramahnya di Gereja Maranatha, Surabaya, pada tanggal 13 September 1973 menelanjangi keburukan Islam.
Islam yang dikenal Yusuf Roni adalah Islam yang garang, penuh kebencian dengan agama lain. Di dalam al-Quran ada ayat “Asy-syida’u ‘ala al-kuffari, yang artinya, potong itu orang-orang Kristen,” kutip Yusuf. Tentu ini tafsiran versi Yusuf Roni.
Kepada Syir’ah, Yusuf mengaku, sebelum masuk Kristen dia sangat kuat memegang Islam. Dalam lingkungan keluarganya di Palembang, ia begitu keras dididik sejak kecil tentang keislaman. Di luar itu, saat belajar di Bandung, Yusuf Roni aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi Islam. Dia pernah menjabat ketua umum Serikat Pelajar Muslimin Indonesia cabang Bandung, ketua seksi pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia, dan ketua seksi dakwah Pemuda Muslimin Indonesia wilayah Jawa Barat.
Mengomentari ceramah Yusuf Roni, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Zainun Kamal, menilai kalau dilihat tanpa analisa hanya dari sisi politik saja, kesan itu ada. Islam yang garang, penuh pertempuran dan seterusnya.
“Nabi (Muhammad) sewaktu menyebarkan Islam harus menghadapi berbagai pertempuran. Kala Nabi wafat, antara Muhajirin dan Ansor pun terjadi pertengkaran,” kata Zainun menjelaskan.
Namun inti ajaran Islam bukan di situ. Tak usah jauh-jauh, Islam dari bahasanya saja bermakna “damai”. “Dalam al-Quran sendiri dinyatakan, ketika mereka masuk kepadanya maka mereka berkata, ‘selamat’,” kata Zainun mengutip ayat 52 surat al-Dzariyat.
Zainun sendiri yang mengenal cukup dekat dengan Yusuf Roni, rektor Sekolah Tinggi Apostolos Jakarta, kini tak melihat dia melakukan hal yang demikian. Menurut Zainun, mungkin karena waktu itu Yusuf baru masuk Kristen sehingga bersikap keras dengan agama lamanya.
“Seperti suami-istri yang baru bercerai, pasti si suami atau istri akan mencela mantan istri atau suaminya,” kata Zainun mengumpamakan.
Sama dengan Yusuf, apa yang dilakukan oleh Irene dan Ragil mungkin juga hanya sekedar kekagetan saja. Hariyanto sendiri melihat, problem dari agama Kristen dan Islam sebagai agama dakwah atau misi memang terletak pada perebutan umat, dan ini menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai.
Makanya, menurut Zainun, untuk menghindari konflik semacam itu antara Islam dan Kristen lebih baik kembali melihat pada agama induk. Kristen mengklaim Ibrahim adalah bapak mereka, umat Islam juga demikian, tak ketinggalan Yahudi pun mengakuinya. Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari satu sumber, yaitu agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.
“Agama yang dibawa Ibrahim adalah dinul hanif, agama yang lurus,” terang Zainun.
Kalau tidak disadari, persaingan di antara Kristen dan Islam akan terus terjadi. Dan seharusnya dakwah atau misi, saran Zainun, dikembalikan pada makna sebenarnya, jangan dimaknai sebagai perekrutan umat sebanyak-banyaknya. “Tapi menggembleng umat berkualitas,” ujar Zainun.
Pada September 2004, tulisan ini pernah dimuat di majalah Syir'ah.
7 June 2004
Ada al-Hallaj di Balik Dhani Ahmad
Oleh Mujtaba Hamdi dan Imam Shofwan
Berbagai tudingan penghinaan agama menggempur Dhani Ahmad dan Dewa. Dhani tak memungkiri, inspirasi lirik-liriknya bermula dari wacana agama. Dhani bahkan menyukai tokoh-tokoh sufi kontroversial.
HARI masih pagi. Cuaca belum begitu panas. Tapi kabar panas sudah muncul di acara infotainment televisi swasta itu. Kamera menyorot tajam segurat wajah yang berucap dengan tegas, “Beberapa lirik dan gambar yang dipakai Dewa dalam kasetnya diambil dari syair aliran sesat di Timur Tengah.” Di layar, tampak subtitle Pertahanan Ideologi Syariat Islam (Perisai).
Sepertinya tidak main-main. Ridwan Saidi, sosok yang mewakili kelompok bernama Perisai tersebut, hari itu tengah melaporkan grup band Dewa ke Kejaksaan Agung. Ridwan seorang budayawan dan tokoh Betawi. Ridwan juga suka politik. Di masa Orde Baru, Ridwan sempat menclok di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), lalu pindah ke Golongan Karya (Golkar), kemudian mendirikan Masyumi Baru. Di Era Reformasi, saat Partai Masyumi tak lolos electoral treshold, Ridwan kembali ke PPP.
Ridwan menilai gambar di sampul album Dewa serta lirik-lirik bikinan Dhani mengandung muatan ajaran sesat. “Tidak hanya yang ada di album Laskar Cinta, tetapi juga di album Dewa sebelumnya, Mistikus Cinta.” Mungkin yang dimaksud Ridwan adalah album Cintailah Cinta. Mistikus Cinta merupakan salah satu judul lagu di album ini.
Akhir April itu, sembari menenteng sampul kaset dan CD Dewa, Ridwan menyatakan, ada banyak lirik lagu Dewa yang diambil dari syair sesat, di antaranya Satu dan Nonsense. Tak pasti benar apakah Ridwan pernah menyimak lagu-lagu itu. Ridwan bisa menganggap syair lagu Satu, misalnya, sesat barangkali lantaran di sampul album Laskar Cinta, di bawah teks lirik Satu, terpampang kalimat “thanks to Al-Hallaj”. Al-Hallaj tokoh yang kontroversial dalam sejarah ajaran Islam.
Sungguh sebuah penghujung April yang tak bersahabat buat Dhani Ahmad Prasetyo.
Dhani, dalam tulisannya di sebuah koran, tak menyebut nama al-Hallaj ketika menyinggung lirik Satu. Dalam tulisan itu, Dhani menuturkan bahwa lirik-liriknya memuat dengan kental luapan cinta kepada Sang Khalik. “Apresiasi akan sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Bukhari, juga telah mendorong penulis untuk menulis lirik lagu Satu,” tulis Dhani. Dhani sama sekali tak menyinggung al-Hallaj, bahkan di seluruh tulisan yang merupakan klarifikasi atas berbagai pemberitaan itu.
Namun, di satu kesempatan, Dhani terus terang mengagumi sosok bernama al-Hallaj. “Saya itu penggemar sufi. Bisa dibilang, saya juga penggemar al-Hallaj.”
DI SEBUAH ruangan 19Production, kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Dhani tampak tak jenak. Sebentar-sebentar handphone-nya berbunyi. Dan Dhani harus menjawab suara di seberang sana. Dhani kadang mondar-mandir, keluar masuk ruangan. Dia harus menghubungi seseorang melalui pesawat telepon di ruang sebelah. Raut muka lelaki kelahiran Jakarta, 26 Mei 1972, ini tampak masih menyiratkan beban. Dari tujuh album yang dilahirkan Dewa, baru kali ini Dhani mendapat hujatan keras dari kelompok Islam. Penempatan logo dibilang melecehkan Allah. Lirik dinilai sesat.
Di album-album awal, Dhani tak pernah menghadapi masalah seperti ini. Seperti band-band lainnya, Dhani pun lebih sering membesut lagu-lagu cinta, lirik-lirik kasmaran. “Awal-awalnya inspirasi saya wanita, tapi lama-lama itu habis,” tutur Dhani. Dhani mau tak mau harus cari inspirasi baru, jika tak ingin kreasinya macet, yang kalau terus-terusan bisa membuat Dewa vacuum dan itu artinya rezeki seret, tak hanya bagi dia sendiri, tapi juga seluruh personil band-nya. Bisa gawat.
Akhirnya Dhani menggali-gali berbagai bahan, terutama buku. Dhani berkenalan dengan karya-karya Kahlil Gibran, si penyair dua teluk, juga buku-buku keagamaan. Dari buku, Dhani bergumul dengan tokoh-tokoh semacam Jalalluddin Rumi, Syeikh Abdul Qodir al-Jailani, Ibnul Arabi, al-Hallaj, Bayazid al-Bustami. Dhani juga membaca buku-buku tentang Syeikh Siti Jenar—yang waktu itu mulai bertebaran setelah Orde Baru tumbang.
Dhani semakin tahu bahwa ajaran-ajaran agama memiliki pecahan-pecahan yang banyak. Dan, aha, Dhani mendapat inspirasi. Kata sebuah hadis, umat akan terpecah-pecah. Kaum Majusi menjadi 71 aliran, Nasrani jadi 72 aliran, sedangkan umat Islam terpencar 73 aliran. Dhani mengelola inspirasi itu menjadi ide, dan lahirlah Kuldesak.
“Lagu itu merupakan doa saya, supaya saya tidak salah aliran. Makanya dalam liriknya ada: tunjukkan jalan yang benar agar tak tersesat dipersimpang jalan.”
Doa itu tampak pada bagian refrein: Tolonglah Tuhan beri petunjukMu/Jalan yang benar menuju jalanMu/Agar tak tersesat di persimpangan jalan. Lagu ini menjadi theme song sebuah film layar lebar produksi 1998 berjudul sama: Kuldesak. Awal 1999, Dhani mengemas lagi lagu ini bersama sejumlah lagu lain dalam album duet dengan Andra Ramadhan, rekannya di Dewa. Dalam album itu pula, Dhani membikin lirik Kembali ke Timur yang menyebut-nyebut nama al-Ghazali.
“Di luar negeri, nama al-Ghazali sangat terkenal. Bahkan kalau kita belajar filsafat, al-Ghazali itu adalah salah satu pokok mata kuliah. Karena itu nama al-Ghazali saya masukkan dalam lirik lagu. Saya merasa penting itu.”
Nama al-Ghazali mungkin sudah begitu membekas di hati Dhani. Sampai-sampai, putra pertamanya, dia namai Ahmad al-Ghazali. “Itu juga nama yang keren. Nama yang tidak lokal, tapi internasional.”
Bulan berlalu, tahun berganti. Dhani resah kembali. Unsur-unsur keagamaan yang dia masukkan dalam lirik dia rasakan kurang dalam. Wacana-wacananya masih terlalu syariat Dan Dhani mengalami perubahan wacana ketika bertemu seorang mursyid, guru spiritual, di akhir 2000. Dhani enggan menyebut nama si mursyid. “Mursyid saya tidak punya murid lain selain saya. Artinya, dia tidak membuka padepokan. Saya bisa dibilang murid satu-satunya.”
Dhani semakin tergila-gila dengan tasawuf. Ia merasa mendapat hawa baru. Tapi Dhani lebih suka disebut penggemar sufi ketimbang pelaku. “Saya rasa, saya belum pantes kalau dibilang nyufi. Kalaupun jalan menuju sana, iya. Tapi kalau dibilang nyufi, masih jauh.”
Barangkali tak terlalu penting, penggemar atau pelaku. Yang pasti, dunia sufi telah mengilhami Dhani mencipta lagu-lagu. Saat Dhani terpesona oleh Rabiah al-Adawiah, seorang sufi perempuan legendaris, Dhani menelorkan Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada. Lagu ini dilantunkan penyanyi senior Chrisye. Kala kepincut dengan Al-Hallaj, Dhani melahirkan Satu. “Mau tidak mau, dia (al-Hallaj) adalah tokoh sufi juga ya,” kata Dhani. “Dan keberanian dia itu menginspirasikan saya untuk menulis lagu Satu itu.”
Dunia spiritual ternyata tak hanya menginspirasikan satu-dua lagu, tapi hampir satu album. Dhani merasakan itu dalam album Dewa yang ketujuh: Laskar Cinta. “Karena memang otak saya lagi dipenuhi dengan Tuhan,” kata putra pasangan Eddy Abdul Manaf dan Joyce Theresia Pamela ini. Bahkan, Dhani merasakan penuangan pikirannya menjadi lirik lagu belum maksimal. “Lirik-lirik yang ada di Laskar Cinta itu tidak ada apa-apanya dengan apa yang ada diotak saya, karena enggak semuanya bisa dituangkan dalam sebuah lagu.”
Album Laskar Cinta barangkali memiliki makna yang sangat dalam buat Dhani. Sampai-sampai, seluruh tembok di ruangan 19Production ini dicat dengan warna merah hitam, dan di sana-sini dipoles dengan bintang bersudut delapan—sebuah citra yang menjadi logo resmi Laskar Cinta. Tapi album ini pula yang membuat Dhani banyak berurusan dengan tudingan pelecehan agama.
Dan lihat itu lagi. Seorang staf Dhani datang membawa logo Laskar Cinta yang baru. Dhani mendapat desakan untuk menggantinya, sebab logo yang lama mirip lafaz Allah.
“Yang lama mana?”
Staf hanya menjawab kalau yang lama sudah dihancurin.
“Wah, bahaya ini kalau ketahuan FPI. Menghancurkan nama Allah.” Dhani bercanda.
Dhani langsung memijit-mijit nomor telepon. Kepada suara di seberang sana, Dhani memastikan apakah benar logo lama sudah dimusnahkan. Suara di seberang mengiyakan. Dhani akhirnya berpesan.
“Jangan sampai FPI tahu, kalau menghancurkan nama Allah.” Dhani bercanda lagi.
TANGGAL 22 November 2004, album Laskar Cinta diluncurkan. Nyaris tak ada wartawan yang tanya soal bintang segi delapan di kulit kaset. Di Avenue Hotel Sari Pan Pacific itu, kebanyakan wartawan mengorek informasi soal kualitas musik yang ditawarkan. Ada jurnalis yang menanyakan kualitas lirik.
“Lirik kami tidak ngepop-ngepop amat,” jawab Dhani. “Bahkan kami memasukkan lirik-lirik idealis yang teramat tidak komersial.”
Tiba-tiba ada jurnalis lain yang tanya soal tipografi yang mirip Arab yang berada persis di atas bintang segi delapan. Sembari tersenyum, Dhani menjawab kalau itu cuma estetika saja. Huruf mirip kaligrafi Arab itu bunyinya “Laskar Cinta”.
Dan memang, kalau Anda lihat sampul tersebut, jangan baca huruf kearab-araban itu dari kanan ke kiri. Pasti tak terbaca. Sebaliknya, bacalah dari kiri ke kanan, akan tampak bahwa itu cuma gaya-gayaan penulisan Laskar Cinta.
Tak ada jurnalis yang tanya soal bintang segi delapan.
Berbulan-bulan, Dhani tak menerima komplain apa pun soal logo album barunya. Karena Dhani suka, logo itu pun ia tempelkan ke berbagai benda: di tembok studionya, di alat-alat musik, dan sudah barang tentu di merchandise-merchandise Dewa yang bisa dibeli dan dinikmati penggemar.
Hingga tibalah Minggu malam yang nahas, 10 April, itu. Dhani dan semua personil Dewa tampil semangat dalam acara Eksklusif Trans TV. Setting panggung tampak cerah, dengan tata lampu yang terdesain indah. Logo Laskar Cinta dengan bintang segi delapan kesukaan Dhani pun terpantul di mana-mana. Termasuk di lantai utama, tempat si vokalis, Once, mempertunjukkan aksi dan suara emasnya.
Tanpa sepengetahuan Dhani, ada seorang ustad bernama Wahfiudin yang sedang menonton konsernya melalui televisi. Wahfiudin kaget begitu melihat bintang segi delapan itu. Ia tahu bahwa bintang segi delapan itu merupakan kaligrafi lafaz Allah. Wahfiudin segera menelepon TransTV, dan memberitahu bahwa logo yang ada di lantai itu kaligrafi lafaz Allah. Wahfiudin sempat menyarankan agar konser Dewa itu ditutup.
Selepas show, pihak Trans TV mempertemukan Dhani dengan Wahfiudin. Terjadilah dialog singkat. Wahfiudin menunjukkan logo bintang delapan warna hitam yang ada buku The Cultural Atlas of Islam karya Prof Dr Ismail Raj’i al-Faruqi. Wahfiudin menegaskan kepada Dhani, logonya nyata-nyata merupakan kaligrafi lafaz Allah.
Dhani bilang tidak sama, dia sudah memodifikasi. Tapi Dhani menyatakan maaf atas ketidaktahuan tim panggung, dan toh panggung itu sendiri sudah ditutup kain hitam.
Wahfiudin merasa Dhani tidak mau mendengar kata-katanya. Di akhir dialog, Wahfiudin sempat berpesan agar Dhani berhati-hati, sebab nanti kalau berhadapan dengan Islam “garis keras”, Dhani bisa kena masalah.
Saat itu, Dhani barangkali tak mengerti maksud pesan Wahfiudin. Tahu-tahu, keesokan harinya, nama Dhani terpampang di berbagai milis di Internet dengan huruf kapital: DHANI DEWA ISRAEL MENGINJAK-INJAK ALLAH. Posting ini dibuka dengan kalimat berikut: Sekilas judul di atas provokatif sekali, tapi bukan itu maksud saya. Lalu, si “saya” menceritakan kronologis dia menyaksikan konser Dewa di TransTV , kemudian perjalanannya menelpon hingga bertemu dengan Dhani di studio TransTV. Di akhir posting, tertera satu nama: Wahfiudin.
Dhani belum bereaksi. Dhani baru bergerak ketika harian Republika memberitakan peristiwa dialog dia dengan Wahfiudin sebanyak dua kali, yang disertai komentar-komentar yang membuat Dhani merasa terpojok. Dhani membuat sebuah tulisan dengan judul Oase Bernama Laskar Cinta.
Di tulisan itu, Dhani tak hanya mengklarifikasi soal bintang segi delapan, melainkan juga lirik-lirik lagunya. Dhani pertama-tama minta maaf atas kealpaan tim panggung TransTV menaruh logo bintang tersebut sebagai alas. Dhani kemudian menjelaskan, tak mungkin ia sengaja melecehkan Islam, agama sendiri, melecehkan agama lain saja tidak berani. Dhani pun menunjukkan, lirik-lirik ciptaannya justru mengajak pada cinta kepada Allah.
Dhani menyebut lirik Pangeran Cinta yang, menurutnya, mencerminkan ayat 27 Surat al-Rahman (55). Ayat ini berbunyi, Siapa yang masih tinggal dan eksis di saat semua ciptaan musnah, bukankah Dia Allah yang Hayyun Qayyuum.
Ayat ini sering dirujuk kaum sufi yang menyukai pernyataan la wujuda illallah, tiada wujud kecuali Allah. Para ahli sejarah tasawuf mengkategorikan sufi model ini sebagai kelompok Wujudiyyah.
Dhani juga menunjukkan, lambang bintang segi delapan justru dia pakai untuk memenuhi harapan besar tersebarnya kasih sayang Allah. Segi delapan melambangkan delapan penjuru mata angin, yang menyiratkan makna seperti dalam al-Baqarah (2) ayat 115, yakni ke mana saja engkau berpaling, di sana ada wajah-Nya. Ayat ini pun populer di kalangan pengagum tasawuf.
Klarifikasi panjang lebar tersebut tak membuat kontroversi terhenti. Front Pembela Islam (FPI) yang diketuai Habib Rizieq Shihab tetap meminta Dewa mencabut cover Laskar Cinta. Habib Rizieq menilai, Dewa tak pantas menggunakan logo tersebut, karena Dewa tak tampil Islami.
Dhani tak kurang akal. Ia menghubungi dan mengunjungi tokoh-tokoh agama, di antaranya M Quraish Shihab dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari Quraish Shihab, Dhani mendapat jawaban melegakan. Menurut Quraish, lambang asli (seperti dalam buku The Cultural Atlas—Red) bukanlah lambang yang baku dan populer. Ia hanya dipahami bagi mereka yang tahu kaligrafi. Sedangkan lambang Dhani, yang merupakan hasil modifikasi, menurut Quraish tak lagi mencerminkan kata “Allah”.
Sementara dari Gus Dur, saat dikunjungi Dhani di kantor PBNU, Dhani mendapat pernyataan pendek, “Habib Rizieq tidak bisa berbicara atas nama umat. Pusing-pusing amat.”
Tapi, gempuran terhadap Dhani bukannya surut. Keesokan hari, banyak teror SMS yang mampir di handphone Dhani, di antaranya berbunyi: Jgnkan 1 Gus Dur 1000 Gus Dur pun yg bela Dewa, tetap ana lawan. Ana tidak cari popularitas, FPI sdh ngetop kok.
Beberapa hari setelah itu, entah dengan pertimbangan apa, Dhani memutuskan untuk mengganti logo sampul. Di sebuah tayangan infotainment, setelah Dhani mengabarkan bakal mencetak logo baru, Dhani punya pesan komersial, “Supaya kaset itu cepet diganti dengan lambang baru, masyarakat harus membelinya supaya habis semua itu kaset.”
SAAT Syir’ah menemui Dhani, sehari sebelumnya Dhani memenuhi panggilan Polda Metro Jaya.
Siang itu, Syir’ah mendapat banyak cerita dari Dhani, di antaranya soal kekagumannya terhadap banyak tokoh sufi. Dhani tidak kuatir dicap sesat mengagumi al-Hallaj, meski al-Hallaj mati dipancung karena dianggap sesat. “Begini ya, begini,” kata Dhani. “Al-Hallaj itu hidup di zaman Bani Abbasiyyah ya. Apakah yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah membunuh, memenggal al-Hallaj, apakah itu sebuah sunnah Rasul?”
Dhani pandai melempar pertanyaan balik rupanya. Di luar, orang menyebut-nyebut ajaran yang dikagumi Dhani itu sejenis dengan yang dianut Syeikh Siti Djenar. Dhani menaggapi enteng saja. “Saya enggak pernah merasa sebesar Syeikh Siti Djenar. Kok orang pada ribut, paling saya sebesar Jenar Mahesa Ayu.”
Jenar Mahesa Ayu bukanlah seorang wali. Ia seorang cerpenis yang suka bikin cerita tentang seksualitas.
Lha, kalau Dhani tak takut mengagumi al-Hallaj, tak jeri dicap sesat, kenapa Dhani ganti cover? Apa Dhani takut gertakan FPI?
“Sing waras ngalah lah,” ujar Dhani dengan logat Suroboyoan. Yang sehat akal, mengalah. Dhani merasa tetap tak salah menggunakan logo semula. Ia mengacu pada MUI yang tetap tak mempermasalahkan. Tapi, Dhani berpikiran, jika tetap kekeuh, ia merasa tak ada bedanya dengan FPI. Jadi, dia memilih mengganti logo dan, tentu saja, meminta agar masyarakat cepat-cepat membeli kasetnya.
Saat memenuhi panggilan Polda Metro Jaya kemarin, Dhani tak lupa juga bersiasat. “Aku sengaja, aku sengaja anak-anakku tak kasih logo kayak FPI itu. Itu kan meaning-nya dalem.” Dhani memang mengajak ketiga anaknya ke kantor Polda. Mereka memakai kostum mirip FPI, baju putih-putih dengan kopiah putih pula. Tapi, apa maksudnya, Dhan?
“Ya anak-anak kecil kayak gini yang pantes pake gitu-gitu. Itu kan pesennya dalem.”*
Tulisan ini dimuat dalam rubrik Syir’atuna [Laporan Utama] Syir’ah No. 43/Juni 2004
Berbagai tudingan penghinaan agama menggempur Dhani Ahmad dan Dewa. Dhani tak memungkiri, inspirasi lirik-liriknya bermula dari wacana agama. Dhani bahkan menyukai tokoh-tokoh sufi kontroversial.
HARI masih pagi. Cuaca belum begitu panas. Tapi kabar panas sudah muncul di acara infotainment televisi swasta itu. Kamera menyorot tajam segurat wajah yang berucap dengan tegas, “Beberapa lirik dan gambar yang dipakai Dewa dalam kasetnya diambil dari syair aliran sesat di Timur Tengah.” Di layar, tampak subtitle Pertahanan Ideologi Syariat Islam (Perisai).
Sepertinya tidak main-main. Ridwan Saidi, sosok yang mewakili kelompok bernama Perisai tersebut, hari itu tengah melaporkan grup band Dewa ke Kejaksaan Agung. Ridwan seorang budayawan dan tokoh Betawi. Ridwan juga suka politik. Di masa Orde Baru, Ridwan sempat menclok di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), lalu pindah ke Golongan Karya (Golkar), kemudian mendirikan Masyumi Baru. Di Era Reformasi, saat Partai Masyumi tak lolos electoral treshold, Ridwan kembali ke PPP.
Ridwan menilai gambar di sampul album Dewa serta lirik-lirik bikinan Dhani mengandung muatan ajaran sesat. “Tidak hanya yang ada di album Laskar Cinta, tetapi juga di album Dewa sebelumnya, Mistikus Cinta.” Mungkin yang dimaksud Ridwan adalah album Cintailah Cinta. Mistikus Cinta merupakan salah satu judul lagu di album ini.
Akhir April itu, sembari menenteng sampul kaset dan CD Dewa, Ridwan menyatakan, ada banyak lirik lagu Dewa yang diambil dari syair sesat, di antaranya Satu dan Nonsense. Tak pasti benar apakah Ridwan pernah menyimak lagu-lagu itu. Ridwan bisa menganggap syair lagu Satu, misalnya, sesat barangkali lantaran di sampul album Laskar Cinta, di bawah teks lirik Satu, terpampang kalimat “thanks to Al-Hallaj”. Al-Hallaj tokoh yang kontroversial dalam sejarah ajaran Islam.
Sungguh sebuah penghujung April yang tak bersahabat buat Dhani Ahmad Prasetyo.
Dhani, dalam tulisannya di sebuah koran, tak menyebut nama al-Hallaj ketika menyinggung lirik Satu. Dalam tulisan itu, Dhani menuturkan bahwa lirik-liriknya memuat dengan kental luapan cinta kepada Sang Khalik. “Apresiasi akan sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Bukhari, juga telah mendorong penulis untuk menulis lirik lagu Satu,” tulis Dhani. Dhani sama sekali tak menyinggung al-Hallaj, bahkan di seluruh tulisan yang merupakan klarifikasi atas berbagai pemberitaan itu.
Namun, di satu kesempatan, Dhani terus terang mengagumi sosok bernama al-Hallaj. “Saya itu penggemar sufi. Bisa dibilang, saya juga penggemar al-Hallaj.”
DI SEBUAH ruangan 19Production, kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Dhani tampak tak jenak. Sebentar-sebentar handphone-nya berbunyi. Dan Dhani harus menjawab suara di seberang sana. Dhani kadang mondar-mandir, keluar masuk ruangan. Dia harus menghubungi seseorang melalui pesawat telepon di ruang sebelah. Raut muka lelaki kelahiran Jakarta, 26 Mei 1972, ini tampak masih menyiratkan beban. Dari tujuh album yang dilahirkan Dewa, baru kali ini Dhani mendapat hujatan keras dari kelompok Islam. Penempatan logo dibilang melecehkan Allah. Lirik dinilai sesat.
Di album-album awal, Dhani tak pernah menghadapi masalah seperti ini. Seperti band-band lainnya, Dhani pun lebih sering membesut lagu-lagu cinta, lirik-lirik kasmaran. “Awal-awalnya inspirasi saya wanita, tapi lama-lama itu habis,” tutur Dhani. Dhani mau tak mau harus cari inspirasi baru, jika tak ingin kreasinya macet, yang kalau terus-terusan bisa membuat Dewa vacuum dan itu artinya rezeki seret, tak hanya bagi dia sendiri, tapi juga seluruh personil band-nya. Bisa gawat.
Akhirnya Dhani menggali-gali berbagai bahan, terutama buku. Dhani berkenalan dengan karya-karya Kahlil Gibran, si penyair dua teluk, juga buku-buku keagamaan. Dari buku, Dhani bergumul dengan tokoh-tokoh semacam Jalalluddin Rumi, Syeikh Abdul Qodir al-Jailani, Ibnul Arabi, al-Hallaj, Bayazid al-Bustami. Dhani juga membaca buku-buku tentang Syeikh Siti Jenar—yang waktu itu mulai bertebaran setelah Orde Baru tumbang.
Dhani semakin tahu bahwa ajaran-ajaran agama memiliki pecahan-pecahan yang banyak. Dan, aha, Dhani mendapat inspirasi. Kata sebuah hadis, umat akan terpecah-pecah. Kaum Majusi menjadi 71 aliran, Nasrani jadi 72 aliran, sedangkan umat Islam terpencar 73 aliran. Dhani mengelola inspirasi itu menjadi ide, dan lahirlah Kuldesak.
“Lagu itu merupakan doa saya, supaya saya tidak salah aliran. Makanya dalam liriknya ada: tunjukkan jalan yang benar agar tak tersesat dipersimpang jalan.”
Doa itu tampak pada bagian refrein: Tolonglah Tuhan beri petunjukMu/Jalan yang benar menuju jalanMu/Agar tak tersesat di persimpangan jalan. Lagu ini menjadi theme song sebuah film layar lebar produksi 1998 berjudul sama: Kuldesak. Awal 1999, Dhani mengemas lagi lagu ini bersama sejumlah lagu lain dalam album duet dengan Andra Ramadhan, rekannya di Dewa. Dalam album itu pula, Dhani membikin lirik Kembali ke Timur yang menyebut-nyebut nama al-Ghazali.
“Di luar negeri, nama al-Ghazali sangat terkenal. Bahkan kalau kita belajar filsafat, al-Ghazali itu adalah salah satu pokok mata kuliah. Karena itu nama al-Ghazali saya masukkan dalam lirik lagu. Saya merasa penting itu.”
Nama al-Ghazali mungkin sudah begitu membekas di hati Dhani. Sampai-sampai, putra pertamanya, dia namai Ahmad al-Ghazali. “Itu juga nama yang keren. Nama yang tidak lokal, tapi internasional.”
Bulan berlalu, tahun berganti. Dhani resah kembali. Unsur-unsur keagamaan yang dia masukkan dalam lirik dia rasakan kurang dalam. Wacana-wacananya masih terlalu syariat Dan Dhani mengalami perubahan wacana ketika bertemu seorang mursyid, guru spiritual, di akhir 2000. Dhani enggan menyebut nama si mursyid. “Mursyid saya tidak punya murid lain selain saya. Artinya, dia tidak membuka padepokan. Saya bisa dibilang murid satu-satunya.”
Dhani semakin tergila-gila dengan tasawuf. Ia merasa mendapat hawa baru. Tapi Dhani lebih suka disebut penggemar sufi ketimbang pelaku. “Saya rasa, saya belum pantes kalau dibilang nyufi. Kalaupun jalan menuju sana, iya. Tapi kalau dibilang nyufi, masih jauh.”
Barangkali tak terlalu penting, penggemar atau pelaku. Yang pasti, dunia sufi telah mengilhami Dhani mencipta lagu-lagu. Saat Dhani terpesona oleh Rabiah al-Adawiah, seorang sufi perempuan legendaris, Dhani menelorkan Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada. Lagu ini dilantunkan penyanyi senior Chrisye. Kala kepincut dengan Al-Hallaj, Dhani melahirkan Satu. “Mau tidak mau, dia (al-Hallaj) adalah tokoh sufi juga ya,” kata Dhani. “Dan keberanian dia itu menginspirasikan saya untuk menulis lagu Satu itu.”
Dunia spiritual ternyata tak hanya menginspirasikan satu-dua lagu, tapi hampir satu album. Dhani merasakan itu dalam album Dewa yang ketujuh: Laskar Cinta. “Karena memang otak saya lagi dipenuhi dengan Tuhan,” kata putra pasangan Eddy Abdul Manaf dan Joyce Theresia Pamela ini. Bahkan, Dhani merasakan penuangan pikirannya menjadi lirik lagu belum maksimal. “Lirik-lirik yang ada di Laskar Cinta itu tidak ada apa-apanya dengan apa yang ada diotak saya, karena enggak semuanya bisa dituangkan dalam sebuah lagu.”
Album Laskar Cinta barangkali memiliki makna yang sangat dalam buat Dhani. Sampai-sampai, seluruh tembok di ruangan 19Production ini dicat dengan warna merah hitam, dan di sana-sini dipoles dengan bintang bersudut delapan—sebuah citra yang menjadi logo resmi Laskar Cinta. Tapi album ini pula yang membuat Dhani banyak berurusan dengan tudingan pelecehan agama.
Dan lihat itu lagi. Seorang staf Dhani datang membawa logo Laskar Cinta yang baru. Dhani mendapat desakan untuk menggantinya, sebab logo yang lama mirip lafaz Allah.
“Yang lama mana?”
Staf hanya menjawab kalau yang lama sudah dihancurin.
“Wah, bahaya ini kalau ketahuan FPI. Menghancurkan nama Allah.” Dhani bercanda.
Dhani langsung memijit-mijit nomor telepon. Kepada suara di seberang sana, Dhani memastikan apakah benar logo lama sudah dimusnahkan. Suara di seberang mengiyakan. Dhani akhirnya berpesan.
“Jangan sampai FPI tahu, kalau menghancurkan nama Allah.” Dhani bercanda lagi.
TANGGAL 22 November 2004, album Laskar Cinta diluncurkan. Nyaris tak ada wartawan yang tanya soal bintang segi delapan di kulit kaset. Di Avenue Hotel Sari Pan Pacific itu, kebanyakan wartawan mengorek informasi soal kualitas musik yang ditawarkan. Ada jurnalis yang menanyakan kualitas lirik.
“Lirik kami tidak ngepop-ngepop amat,” jawab Dhani. “Bahkan kami memasukkan lirik-lirik idealis yang teramat tidak komersial.”
Tiba-tiba ada jurnalis lain yang tanya soal tipografi yang mirip Arab yang berada persis di atas bintang segi delapan. Sembari tersenyum, Dhani menjawab kalau itu cuma estetika saja. Huruf mirip kaligrafi Arab itu bunyinya “Laskar Cinta”.
Dan memang, kalau Anda lihat sampul tersebut, jangan baca huruf kearab-araban itu dari kanan ke kiri. Pasti tak terbaca. Sebaliknya, bacalah dari kiri ke kanan, akan tampak bahwa itu cuma gaya-gayaan penulisan Laskar Cinta.
Tak ada jurnalis yang tanya soal bintang segi delapan.
Berbulan-bulan, Dhani tak menerima komplain apa pun soal logo album barunya. Karena Dhani suka, logo itu pun ia tempelkan ke berbagai benda: di tembok studionya, di alat-alat musik, dan sudah barang tentu di merchandise-merchandise Dewa yang bisa dibeli dan dinikmati penggemar.
Hingga tibalah Minggu malam yang nahas, 10 April, itu. Dhani dan semua personil Dewa tampil semangat dalam acara Eksklusif Trans TV. Setting panggung tampak cerah, dengan tata lampu yang terdesain indah. Logo Laskar Cinta dengan bintang segi delapan kesukaan Dhani pun terpantul di mana-mana. Termasuk di lantai utama, tempat si vokalis, Once, mempertunjukkan aksi dan suara emasnya.
Tanpa sepengetahuan Dhani, ada seorang ustad bernama Wahfiudin yang sedang menonton konsernya melalui televisi. Wahfiudin kaget begitu melihat bintang segi delapan itu. Ia tahu bahwa bintang segi delapan itu merupakan kaligrafi lafaz Allah. Wahfiudin segera menelepon TransTV, dan memberitahu bahwa logo yang ada di lantai itu kaligrafi lafaz Allah. Wahfiudin sempat menyarankan agar konser Dewa itu ditutup.
Selepas show, pihak Trans TV mempertemukan Dhani dengan Wahfiudin. Terjadilah dialog singkat. Wahfiudin menunjukkan logo bintang delapan warna hitam yang ada buku The Cultural Atlas of Islam karya Prof Dr Ismail Raj’i al-Faruqi. Wahfiudin menegaskan kepada Dhani, logonya nyata-nyata merupakan kaligrafi lafaz Allah.
Dhani bilang tidak sama, dia sudah memodifikasi. Tapi Dhani menyatakan maaf atas ketidaktahuan tim panggung, dan toh panggung itu sendiri sudah ditutup kain hitam.
Wahfiudin merasa Dhani tidak mau mendengar kata-katanya. Di akhir dialog, Wahfiudin sempat berpesan agar Dhani berhati-hati, sebab nanti kalau berhadapan dengan Islam “garis keras”, Dhani bisa kena masalah.
Saat itu, Dhani barangkali tak mengerti maksud pesan Wahfiudin. Tahu-tahu, keesokan harinya, nama Dhani terpampang di berbagai milis di Internet dengan huruf kapital: DHANI DEWA ISRAEL MENGINJAK-INJAK ALLAH. Posting ini dibuka dengan kalimat berikut: Sekilas judul di atas provokatif sekali, tapi bukan itu maksud saya. Lalu, si “saya” menceritakan kronologis dia menyaksikan konser Dewa di TransTV , kemudian perjalanannya menelpon hingga bertemu dengan Dhani di studio TransTV. Di akhir posting, tertera satu nama: Wahfiudin.
Dhani belum bereaksi. Dhani baru bergerak ketika harian Republika memberitakan peristiwa dialog dia dengan Wahfiudin sebanyak dua kali, yang disertai komentar-komentar yang membuat Dhani merasa terpojok. Dhani membuat sebuah tulisan dengan judul Oase Bernama Laskar Cinta.
Di tulisan itu, Dhani tak hanya mengklarifikasi soal bintang segi delapan, melainkan juga lirik-lirik lagunya. Dhani pertama-tama minta maaf atas kealpaan tim panggung TransTV menaruh logo bintang tersebut sebagai alas. Dhani kemudian menjelaskan, tak mungkin ia sengaja melecehkan Islam, agama sendiri, melecehkan agama lain saja tidak berani. Dhani pun menunjukkan, lirik-lirik ciptaannya justru mengajak pada cinta kepada Allah.
Dhani menyebut lirik Pangeran Cinta yang, menurutnya, mencerminkan ayat 27 Surat al-Rahman (55). Ayat ini berbunyi, Siapa yang masih tinggal dan eksis di saat semua ciptaan musnah, bukankah Dia Allah yang Hayyun Qayyuum.
Ayat ini sering dirujuk kaum sufi yang menyukai pernyataan la wujuda illallah, tiada wujud kecuali Allah. Para ahli sejarah tasawuf mengkategorikan sufi model ini sebagai kelompok Wujudiyyah.
Dhani juga menunjukkan, lambang bintang segi delapan justru dia pakai untuk memenuhi harapan besar tersebarnya kasih sayang Allah. Segi delapan melambangkan delapan penjuru mata angin, yang menyiratkan makna seperti dalam al-Baqarah (2) ayat 115, yakni ke mana saja engkau berpaling, di sana ada wajah-Nya. Ayat ini pun populer di kalangan pengagum tasawuf.
Klarifikasi panjang lebar tersebut tak membuat kontroversi terhenti. Front Pembela Islam (FPI) yang diketuai Habib Rizieq Shihab tetap meminta Dewa mencabut cover Laskar Cinta. Habib Rizieq menilai, Dewa tak pantas menggunakan logo tersebut, karena Dewa tak tampil Islami.
Dhani tak kurang akal. Ia menghubungi dan mengunjungi tokoh-tokoh agama, di antaranya M Quraish Shihab dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari Quraish Shihab, Dhani mendapat jawaban melegakan. Menurut Quraish, lambang asli (seperti dalam buku The Cultural Atlas—Red) bukanlah lambang yang baku dan populer. Ia hanya dipahami bagi mereka yang tahu kaligrafi. Sedangkan lambang Dhani, yang merupakan hasil modifikasi, menurut Quraish tak lagi mencerminkan kata “Allah”.
Sementara dari Gus Dur, saat dikunjungi Dhani di kantor PBNU, Dhani mendapat pernyataan pendek, “Habib Rizieq tidak bisa berbicara atas nama umat. Pusing-pusing amat.”
Tapi, gempuran terhadap Dhani bukannya surut. Keesokan hari, banyak teror SMS yang mampir di handphone Dhani, di antaranya berbunyi: Jgnkan 1 Gus Dur 1000 Gus Dur pun yg bela Dewa, tetap ana lawan. Ana tidak cari popularitas, FPI sdh ngetop kok.
Beberapa hari setelah itu, entah dengan pertimbangan apa, Dhani memutuskan untuk mengganti logo sampul. Di sebuah tayangan infotainment, setelah Dhani mengabarkan bakal mencetak logo baru, Dhani punya pesan komersial, “Supaya kaset itu cepet diganti dengan lambang baru, masyarakat harus membelinya supaya habis semua itu kaset.”
SAAT Syir’ah menemui Dhani, sehari sebelumnya Dhani memenuhi panggilan Polda Metro Jaya.
Siang itu, Syir’ah mendapat banyak cerita dari Dhani, di antaranya soal kekagumannya terhadap banyak tokoh sufi. Dhani tidak kuatir dicap sesat mengagumi al-Hallaj, meski al-Hallaj mati dipancung karena dianggap sesat. “Begini ya, begini,” kata Dhani. “Al-Hallaj itu hidup di zaman Bani Abbasiyyah ya. Apakah yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah membunuh, memenggal al-Hallaj, apakah itu sebuah sunnah Rasul?”
Dhani pandai melempar pertanyaan balik rupanya. Di luar, orang menyebut-nyebut ajaran yang dikagumi Dhani itu sejenis dengan yang dianut Syeikh Siti Djenar. Dhani menaggapi enteng saja. “Saya enggak pernah merasa sebesar Syeikh Siti Djenar. Kok orang pada ribut, paling saya sebesar Jenar Mahesa Ayu.”
Jenar Mahesa Ayu bukanlah seorang wali. Ia seorang cerpenis yang suka bikin cerita tentang seksualitas.
Lha, kalau Dhani tak takut mengagumi al-Hallaj, tak jeri dicap sesat, kenapa Dhani ganti cover? Apa Dhani takut gertakan FPI?
“Sing waras ngalah lah,” ujar Dhani dengan logat Suroboyoan. Yang sehat akal, mengalah. Dhani merasa tetap tak salah menggunakan logo semula. Ia mengacu pada MUI yang tetap tak mempermasalahkan. Tapi, Dhani berpikiran, jika tetap kekeuh, ia merasa tak ada bedanya dengan FPI. Jadi, dia memilih mengganti logo dan, tentu saja, meminta agar masyarakat cepat-cepat membeli kasetnya.
Saat memenuhi panggilan Polda Metro Jaya kemarin, Dhani tak lupa juga bersiasat. “Aku sengaja, aku sengaja anak-anakku tak kasih logo kayak FPI itu. Itu kan meaning-nya dalem.” Dhani memang mengajak ketiga anaknya ke kantor Polda. Mereka memakai kostum mirip FPI, baju putih-putih dengan kopiah putih pula. Tapi, apa maksudnya, Dhan?
“Ya anak-anak kecil kayak gini yang pantes pake gitu-gitu. Itu kan pesennya dalem.”*
Tulisan ini dimuat dalam rubrik Syir’atuna [Laporan Utama] Syir’ah No. 43/Juni 2004
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang
Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi, to ? Bapak biang k...
-
Oleh: Imam Shofwan Apa Yang Bisa Diharapkan Dari Perusahan Media Ini? Jelang akhir tahun lalu seorang kawan wartawan Tempo TV mengeluh ...
-
Oleh Imam Shofwan Dari Kuba mereka memberi cinta dan cara bertahan hidup dalam suasana darurat LOUIS Chaviano baru tiga hari berada di rumah...
-
Siaran Pers Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JM-PPK) KUPATAN KENDENG 2024 Pangkur Lamun tekan iki dina Isa mangan merg...