2 October 2005

Mesra dengan Tuhan Itu Privasi

Oleh Imam Shofwan

Anggur merah, yang sering memabukkan diri
Kuanggap belum seberapa dahsyatnya…



Bait lagu karya Meggy Z ini dinyanyikan salah satu peserta Akademi Fantasi Indonesia (AFI). Trie Utami Sari yang sejak awal acara duduk manis di bangku juri langsung berdiri, bergoyang bersama bersama dua orang juri lainnya.

“Ade…Ade…Ade…,” riuh yel-yel dan tepuk tangan penontong mengiringi berakhirnya lagu. Giliran Iie –sapaan akrab Trie Utami— memberikan komentar, “penampilan kamu malam ini bagus.”

“Boleh diulang refrein lagu tadi,” lanjut ‘si bola bekel’. Sejenak Adi mengambil nafas. Lalu, “teganya teganya teganya teganya teganya… oh pada diriku….”

Iie pun tersenyum.

Sudah sejak setahun lalu Iie menjadi juri AFI. Wajahnya yang selalu terbalut tutup kepala khas dapat disaksikan seminggu sekali di layar Indosiar, sebuah stasiun televisi swasta nasional. Namun malam itu dia tidak mengenakan tutup kepala seperti biasanya. “Saya tidak lagi mengenakan ‘topi’, ujar adik musisi Purwacaraka saat ngobrol dengan saya usai acara pencarian bakat tersebut.

Penyanyi yang juga hobi melukis ini terlihat tanpa tutup kepala di hadapan publik untuk pertama kalinya di saat peluncuran album Kedamaian di Hard Rock CafĂ©, Jakarta, akhir April lalu. Sebuah harian nasional menulis, saat itu Iie mengenakan wig coklat gelap dan mengenakan busana dan aksesori serba biru. “Saya merasa terlahir kembali,” begitu jawaban penyanyi berbadan mungil ini saat ditanya tentang penampilan barunya.

Teman curhat Iie sewaktu ingin melepas Jilbab adalah Nana, sahabat Iie sejak Sekolah Menengah Pertama. Nana sekarang dengan setia selalu menemani Iie sebagai asisten pribadi.

Ketika itu, Maret 2005m Iie meminta tanggapan Nana, “Gua mau buka ‘topi’ nih,” Iie menanti jawaban daro karibnya. Dan Nana, setelah berfikir sejenak, balik bertanya, “Lu nggak takut sama publik?”

Jawaban spontan Nana tersebut ternyata dianggap sebagai gamparan telak bagi Iie. “Jangan-jangan gue make ‘topi’ gara-gara publik,” batin Iie ketika itu.

Ia mencoba flashback ke tahun 1999, ketika dia pertama kali memutuskan mengenakan ‘topi’ itu –yang kemudian oleh pedagang busana muslim di Pasar Tanah Abang dianggap sebagai jilbab gaya Trie Utami, yang merupakan varian dari dua gaya jilbab lain: gaya Marisa Haque dan gaya Ineke Koesherawati. Keduanya adalah pemain sinetron.

“Pake ‘topi’ adalah big deal dalam hidup saya,” kenang putri bungsu pasangan H Soejono Atmotenoyo dan Hj Soejarni Oesoep ini.

Masih segar dalam ingatan Iie saat menunaikan ibadah haji bersama suami tercintanya, Andi Analta Amier. Setahun setelah haji, Iie ingin belajar memanjangkan pakaian, dan diapun menutup kepalanya. “Saya merasa belum memakai jilbab, saya baru belajar memanjangkan pakaian,” tutur perempuan kelahiran Bandung, 8 Januari 1968 ini.

Hal demikian itu berjalan biasa saja, selama tahun-tahun awal dia mengenakan pakaian panjang. Tapi lama kelamaan Iie merasakan sesuatu yang lain dalam dirinya. Dia merasakan underestimate, dia merasa lebih baik dan lebih benar dari orang lain. Perasaan itu dianggap wajar pada awalnya tapi semakin hari mengganggu perasaannya.

Sampai suatu ketika, keluhan hatinya diungkapkan pada Nana. Dan dari jawaban Nana Iie menemukan ketidaktulusan niatnya. Ia merasa motivasi memakai pakaian panjang dan ber’topi’ itu karena publik dan untuk menjaga imej. “Itu kan gila. Gua sendiri kan yang nanggung dosanya,” papar Iie. Setelah obrolan dengan Nana Iie lantas lepas “topi”.

Beragam tanggapan tentang penampilan baru Iie ini bermunculan, baik dari keluarga, teman, atau masyarakat. Dan Iie sepenuhnya sadar dengan reaksi pro-kontra dengan penampilan barunya. “Saya tidak peduli apa kata orang, saya memahami alasan mereka,” tutur Iie.

Ada yang melegakan Iie dengan keputusannya ini saat Iie berjumpa dengan Gus Sholah (sapaan akrab Sholahuddin Wahid) di sebuah acara di TVRI, Mei lalu. Usai acara, Iie ngobrol dengan adik mantan presiden RI Abdurrahman Wahid ini.

“Gus, saya telah buka ‘topi’,” Iie membuka percakapan.

“Terserah, kalau kamu merasa nyaman dengan penampilan begitu, ya silahkan,” tanggap Gus Sholah, “Jangankan kamu, istri saya saja kalau mau buka jilbab tidak akan saya larang. Di mata Tuhan, manusia dilihat dari kadar ketaqwaannya bukan jilbabnya.”

Usai obrolan, Iie merenungkan kata-kata Gus Sholah, “Menurut saya, jawaban Gus Sholah menarik, dan membuat orang berfikir,” ujar Iie. “Jadi agama tidak hanya salah dan benar saja.”

Namun tidak semua orang berpendapat seperti Gus Sholah. Banyak orang menganggap Iie tidak konsisten memakai jilbab. Menurut mereka, alasan Iie membuka jilbab karena perceraian dengan Andi Analta Amir. Iie pun tidak sepenuhnya menolak pendapat ini, dengan jujur ia mengatakan kalau motivasinya belajar memanjangkan pakaian adalah untuk suaminya tercinta.

Namun Iie menolak anggapan kalau dia melepaskan ‘topi’ gara-gara perceraiannya. “Kebetulan waktunya hampir beiringan,” tutur mantan vokalis Krakatau ini.

Iie lepas topi pada akhir Maret, sementara perceraiannya berlangsung pada Januari. Di hadapan para wartawan dan pekerja infotainment, di sebuah kafe do kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Trie Utami dan Andi Analta Amier mengumumkan perceraian atas perkawianan yang mereka jalani lebih dari sepuluh tahun.

Sebuah harian di Jakarta menyebutkan penyebab bubarnya perkawinan mereka lantaran poligami. Beberapa bulan sebelumnya Andi telah menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Aisyah, tanpa meminta izin dulu dengan Iie. “Menjelang tahun baru, saya baru dikasih tahu A’la (sebutan Iie untuk mantan suaminya),” kenang Iie.

Iie sepenuhnya memahami perkawinan Andi tersebut terjadi karena dia tidak mampu memberikan keturunan bagi suaminya. Bahkan, seniman multibakat ini sendiri pernah mengusulkan hal itu pada sang suami. Mengenai izin, Iie menganggap hal itu dilakukan Andi karena tidak ingin menyakiti hatinya.

Ada perbedaan pendapat antara keduanya dalam memandang poligami. Menurut Andi, penerimaan poligami adalah bukti kekuatan iman seseorang, “untuk menerima poligami memang dibutuhkan kekuatan iman yang full dari seseorang, dan ternyata saya belum bisa menguatkan iman istri saya,” kata Andi.

Berbeda dengan Andi, Iie sebagai sebagai muslimah menyadari ada ayat yang membolehkan poligami. Iie mengakui dan meyakininya. Namun menurut Iie, ayat tersebut harus dipahami secara keseluruhan. Bahwa ada persyaratan ketat ketika seorang hendak berpoligami, yaitu adil dalam semua hal. Sikap adil ini menurut Iie sangat berat. Bahkan mustahil untuk bisa dilakukan orang sekarang.

Dalam poligami Iie juga merujuk pada praktik yang pernah dilakukan Rasulullah: Pertama, Rasulullah berpoligami setelah berusia lebih dari 40 tahun, di mana manusia secara emosional sudah mapan. Kedua, motivasinya untuk menyelamatkan, dan yang ketiga, Rasulullah tidak melihat penampilan.

“Rasulullah melakukan poligami karena memang bisa berbuat adil dalam hal apapun. Dan dilakukan pada usia empat puluh tahun dan untuk menyelamatkan para janda tua,” tutur artis yang menyukai kesunyian ini.

Karena tidak ingin membuat suaminya merasa berat dengan syarat tersebut, dengan kebesaran hati Iie meminta cerai pada Andi.

Di mata Iie, kebanyakan praktik poligami sekarang lebih karena nafsu daripada motivasi keagamaan seperti yang dilakukan Rasulullah. “Kebanyakan orang menggunakan alasan agama untuk menyalurkan nafsunya,” tutur pelantun lagu Mungkinkah Terjadi ini.

Keretakan rumah tangga tak membuat Iie larut dengan kesedihan. Justru Iie merasa lebih punya banyak kesempatan untuk terlibat dalam aksi-aksi kemanusiaan. Setidaknya, selama bulan Januari 2005, tiga kegiatan amal untuk korban tsunami Aceh diikutinya.

Bersama Franky Sahilatua, WS Rendra, Jokey S Prayogo dan seniman-seniman ibukota, tanggal 8 Januari Iie menggelar acara “Panggung Kepekaan Seniman,” untuk mengumpulkan dana untuk korban Tsunami. Acara tersebut di gelar di Galeri Nasional Jakarta dan diulang, dengan perubahan tajuk: Satu Duka Satu Bangsa, di Taman Budaya Yogyakarta.

Selain melaui konser Iie juga merilis album untuk menggalang dana buat para korban. Album ini diisi oleh 50 vokalis dari 3 generasi. Judulnya Kita Untuk Mereka yang diambil dari judul lagu karangan Glen Fredly yang dilantunkannya.

“Kegiatan itu adalah sebuah kerja kongkrit. Nggak Cuma ngomong aja,” tutur Iie. Iie tidak menceritakan lebih detil tentang kegiatan sosialnya ini. “Saya tidak akan pernah mau menceritakan kegiatan sosial saya, selama dua puluh tahun saya berkarier tidak pernah saya membuka itu,” tutur Iie.

Baginya, kegiatan-kegiatan tersebut adalah urusan dia dengan Tuhannya. “Privasi itu, bagi saya, bukan hanya urusan rumah tangga, tapi yang lebih privasi lagi yaitu hubungan saya dengan Tuhan saya.”

Begitulah Iie. Dia menganggap hubungan mesra dengan Tuhan tak perlu diketahui orang lain. Dia hanya ingin ikhlas, Iie ingin semuanya dilakukan bukan karena imej ataupun karena publik. “Saya nggak mau fardlu publik ta’ala dan fardlu imej ta’ala.”

7 July 2005

Menjual Kuburan di Layar Kaca

Oleh: Fathuri SR, Imam Shofwan, Ingwuri Handayani, dan Muhammad Aslam

MENJELANG pukul 20.00, di rukan Bauvenville, perbatasan Jakarta Timur-Bekasi. Seorang gadis cantik duduk di sebuah ruangan yang sudah dirubah menjadi tempat ganti kostum. Juru rias terus memoles wajah sang gadis. Pipi, hidung, dagu, kening. Bolak balik.

Setumpuk kertas di tangannya ia baca dengan serius. Tak terganggu dengan polah juru make up di depannya. “Pak, gimana nih, Fina, enggak hafal ayat kursi?”

Tak terdengar jawaban. Hanya pandang mata sebentar dari yang hadir. Orang-orang tetap pada kesibukannya: menyiapkan kamera di pojok ruangan, mengatur lampu, merapikan dekorasi, atau memindah barang-barang.

“Dia kalau ada yang berhubungan dengan baca-baca al-Qur’an di sekolahnya juga sering kabur,” kembali gadis itu berteriak memberi keterangan. Belum juga ada tanggapan. Gadis itu kembali diam, sibuk membaca naskah. Wajahnya masih menjadi sasaran kuas rias.

Orang yang dimaksud gadis itu, Fina, adalah seorang artis teman mainnya. Waktu itu sedang diadakan syuting untuk sinetron Astaghfirullah, Minggu, 12 Juni lalu. Kebetulan saat sang artis cantik bicara jadwal syuting sedang istirahat sehingga tak terlalu dihiraukan kru yang lain.

Astaghfirullah, sinetron ini menjadi satu di antara sinetron-sinetron religius yang kini bak cendawan di musim hujan bertebaran di layar kaca. Bermula dari sinetron Rahasia Ilahi, produksi Kusuma Eka Permata (KEP), yang tayang di bulan Ramadlan lalu. Sinetron yang ceritannya berasal dari majalah Hidayah ini tak dinyana-nyana meraih sukses besar. Imbasnya, ia turut mengangkat TPI menjadi televisi nomor wahid ditonton pemirsa.

Tak berapa lama muncul sekira 36 pengikut gaya; berharap menangguk sukes yang sama. TPI menayangkan Rahasia Ilahi 2 dan 3, Takdir Ilahi, Mereka Ada di Mana-mana, Allah Maha Besar, Jerat Iblis, dan Kehendakmu. SCTV hadir dengan Astaghfirullah, Kuasa Ilahi, Kafir, dan Suratan Takdir. TransTV juga menayangkan empat sinetron serupa dengan judul Taubat, Istighfar, Hidayah, dan Insyaf. Disusul Lativi dengan Azab Ilahi dan Padamu Ya Rab, kemudian Azab Dunia dan Sakaratul Maut di ANTV, terakhir Hanya Tuhan Yang Tahu dan Padamu Ya Rabbi di Indosiar.

Semuanya tayang pada premier time (waktu tayang utama), dari jam 19.00 sampaui 21.30. Makanya tak heran kalau pada satu malam saja bisa menyaksikan tiga sampai lima sinetron jenis ini dalam waktu yang sama.

Terutama pada Malam Jum’at. Pada 23 Juni lalu, misalnya: jam 19.00 TPI menayangkan Mereka Ada Di mana-mana”, berkisah tentang Azab Istri yang Dzalim. Tersebutlah seorang istri yang tidak mau taat dengan suami. Ia membuat suaminya sakit hati. Lebih dari itu ia juga menyeleweng dengan laki-laki lain. Singkat cerita ia terkena HIV dan tak tahu mengapa kepalanya melepuh sehingga wajahnya menjadi menyeramkan. Ia meninggal sengsara seperti orang yang terkena kutukan.

Pada jam yang sama 19.00 ANTV menayangkan cerita Burhan dalam Sakaratul Maut. Ceritanya tentang seorang miskin Burhan yang menggunakan jalan pintas untuk kaya lalu mati tragis karena komplikasi, perutnya membesar dan keluar darah serta busa dari mulutnya.

Sejam kemudian, 20.00, SCTV memutar “Kuburan Penuh Lintah” dalam sinetron “Kuasa Ilahi”. Barangkali dibanding sinetron-sinetron sejenis Kuasa Ilahi tergolong paling unik. Ia menggabungkan teknik-teknik dalam sinetron laga. Musiknya juga khas; saat tokoh-tokohnya dirundung kedukaan musik yang mengiringi adalah musik India.

Rombongan pengantar jenazah menjadi pembuka adegan. Siang itu ada jenazah penguburan jenazah Erni. Tiga penggali kubur sibuk mencangkul. Mereka dikejutkan oleh puluhan lintah yang muncul dari tanah yang mereka cangkul. Ketakutan. Lari.

Beberapa saat kemudian Ustad Jak’far lalu ke kuburan mengecek kebenaran cerita salah seorang penggali. Ia melihat sendiri puluhan lintah. Betapa terkejutnya dia saat keranda dibuka lintah juga ada di tubuh mayit. “Masya’allah, ampuni istri saya ya Allah,” jerit sang suami Bambang. Keadaan istrinya yang aneh diratapinya sebagai siksa Tuhan.

Adegan selanjutnya pertemuan adik ipar korban Aulia dengan Ustad Ja’far pada hari berikutnya. Aulia diperankan oleh artis cantik Cece Kirani. “Dosa apa yang pernah dilakukan Mbak Erni?” Tanya Ustad Ja’far.

Aulia bercerita dalam adegan mundur. Mba Erni suatu malam memaksa dia dan kakaknya, Bambang, untuk menyerahkan harta anak yatim. “Jangan Mba! Itu harta peninggalan Mas Rahman,” tolaknya. Harta itu oleh almarhum Rahman diperuntukkan untuk anaknya, Astrid, yang tinggal di rumah keluarga Bambang.

Adegan selanjutnya Astrid menjewer anak Erni. Lalu Erni marah besar. Erni memaki-maki Astrid.

Di lain adegan sepulang sekolah Astrid nyaris diculik. Usut punya usut ternyata penculiknya adalah orang suruhan Erni. Tujuannya: harta peninggalan Rahman.

Kegagalan rencana Erni tak menyurutkan niatnya untuk memakan harta Astrid. Meski dilarang oleh suaminya sendiri. Erni pun tega menjual gelang emas peninggalan Rahman. Tak hanya itu, Erni juga minta tolong seorang dukun di Sukabumi, Mbah Gempol, untuk menyantet Astrid dan adik suaminya. Lagi-lagi tujuannya hanya satu: kematian Astrid, si anak yatim.

Berbagai usaha itu gagal total sampai Erni sendiri meninggal dunia dan tragisnya dengan disaksikan sendiri pembantunya. Erni dikubur mengalami siksaan menyedihkan. “Panas, panas, panas,” rintihnya. Rasmi, pembantu, berlari dari kuburan sambil menjerit ketakutan.

Bulu kuduk meremang saat melihat akhir kejadian ini. Apalagi menurut ustad Jefri Buchory, dai yang ceramahnya selalu menjadi penutup adegan, cerita-cerita ini diilhami dari kisah nyata. Mengerikan.

Di sebuah warung bubur ayam di jalan Cikini, Jakarta. Jefry Buchory menjelaskan, “saya berfikir apapun yang terjadi, apa sih yang tidak mungkin bagi Allah, saya kembalinya ke sana.”

Contohnya, kata Jefry, di zaman Rosulullah ada seoang yang mau dikuburkan. Anehnya saat mau dimasukkan ke kubur kepala mayit berubah menjadi babi atau anjing.

Lalu Rosulullah berdoa dan ternyata setelah itu keadaan mayit normal kembali. “Rasulullah lalu bersambda, inilah contoh orang yang meninggalkan sholat,” tambah Jefry.

Meski begitu Jefry mengakui bahwa kejadian seperti ini jarang terjadi. Allah hanya memberikan contoh pada beberapa orang. “Satu orang, biar untuk contoh yang lain,” kata Jefry.

Sehari usai menemui Jefry, Syir’ah bertemu dengan Chairul Umam, sutradara sinetron Astaghfirullah, di lokasi syuting, Kalimalang, Bekasi. Umam menyanggah kalau sinetron yang ia garap sama dengan sinetron lain yang sedang booming.

“Ini metode penyembuhan kok. Kalau itu (sinetron lain) kan cerita tentang yang hidupnya begini, matinya begini. Kalau sinetron yang saya garap ini serita sakitnya seseorang lalu begini penyembuhannya. Ini berhubungan dengan orang sehat kok. Bukan mayat,” tandasnya.

Sebagaimana sinetron “Rahasia Ilahi” yang menumpukan stok ceritanya pada majalah Hidayah, “Astaghfirullah” pada majalah Ghoib. Ide pembuatannya sudah dimiliki Umam setahun lalu. Sayang, saat disodorkan ke beberapa produser ia ditolak.

Baru ketika Rahasia Ilahi dan teman-temannya mendapat respon luar biasa dari pemirsa, Umam datang ke Cinema Art, salah satu rumah produksi. “Saya langsung diterima. Langsung tayang. Wah, keteteran juga, kejar tayang,” katanya,

H. Thantawi, penulis skenario Astaghfirullah, juga tidak setuju kalau sinetronnya disamakan dengan sinetron lain, apalagi disebut menjual mistis. “Kalau di Astaghfirullah tidak ada mistis. (Adanya tentang) orang kesurupan jin.” Mistik yang dimaksudkan Thantawi adalah sinetron-sinetron yang bercerita, misalnya, tentang orang bunuh diri kemudian rohnya bisa gentayangan.

“Kita membenahi itu. Bahwa orang yang bunuh diri itu bukan rohnya yang gentayangan tapi jin yang menyerupai itu,” tandasnya. Thantawi menyebutkan orang dari alam kubur tidak akan mampu menembus alam dunia, atau sebaliknya.

Memang, sinetron yang tayang setiap Senin malam ini alur ceritanya agak berbeda dengan Kuasa Ilahi yang tayang di stasiun televisi yang sama. Kuasa Ilahi satu jalur dengan Rahasia Ilahi, Sakaratul Maut, Azab Ilahi, atau Azab Dunia yang muncul di stasiun televisi lain.

Cerita yang diusung sinetron-sinetron ini umumnya berkonsep sebab akibat. “Misalnya karena anak durhaka kepada orang tuanya maka saat meninggal bakal mengalam peristiwa yang mengerikan,” ujar Dondy B Sudjono dari rumah produksi Kusuma Eka Permata (KEP) ketika wawancara dengan sebuah surat kabar.

Misalnya yang terjadi pada Burhan (dakan Sakarotul Maut, ANTV) yang mati karena komplikasi penyakit, muntah darah dan perut membuncit karena memilih jalan pintas mendapat harta atau sebab tidak taat pada suami sehingga terkena HIV dan lebam kepala seperti pada Erni (Mereka Ada Dimana-mana, TPI).

Kalau benar cerita ini dari kisah nyata, akhir hidup seperti ini tentu tidak diingini oleh siapapun. Tapi benarkah sebabnya sebagaimana digambarkan dalam sinetron-sinetron itu?

SELASA, 14 Juni, syir’ah datang ke ruang kerja dr. Mun’im Idris, ahli forensik dari rumah sakit Cipta Mangunkusumo, Jakarta. Gambar-gambar eksotik menghias di dinding, ada sebuah meja di bagian belakang dengan berbagai pernik dan aksesoris yang menghias. Senyum Mun’im menyambut ramah.

“Jangan ngomong masalah itu kalau bukan urusan kamu. Diam,” ujar Mun’im mengomentari cerita-cerita sinetron akhir-akhir ini. “Dalam kaitan ini, untuk masalah penyakit, luka-luka, menyangkut tubuh, kesehatan, atau nyawa manusia, harus ditanyakan ke dokter. Itu kenapa pada setiap kasus pidana polisi harus selalu bertanya pada dokter,” tuturnya tegas.

Dalam pandangannya, bukan kapasitas kyai, untuk menjelaskan (sebab-sebab kejadian) itu. Mengapa orang meninggal perut buncit? Kaki penuh belatung? Jenazah gosong?...

Bidang kedokteran bisa menjelaskannya dengan gamblang sehingga menghilangkan syakwasangka, juga ketakutan.

Secara kedokteran, ujar Mun’im yang ahli mengotopsi mayat, mayit yang perutnya buncit itu karena semasa hidup almarhum mengidap penyakit ginjal dan kencing manis. Kencing manis berarti kadar gulanya tinggi yang mengakibatkan tubuh cepat membusuk. “Proses pembusukan akan membentuk gas yang menyebabkan menggelembung,” tuturnya.

Untuk menjelaskan orang yang meninggal dengan kaki penuh belatung Mun’im punya sebuah cerita. Pernah ada seorang pasien awalnya kram, kejang karena terlalu banyak duduk di bis. Rasanya seperti berjalan di atas kulit durian. Kaki sulit digerakkan.

Karena malam ia tidak pergi ke dokter, ibunya mencoba meringankan dengan mengurut kakinya. Esoknya dia dibawa ke dokter. Hasil diagnosa ia mengalami penyempitan pembuluh darah. Obat diberikan. Harus diminum teratur kalau tidak bisa berbahaya.

Waktu berjalan ternyata penyakitnya tak kunjung sembuh, malah kakinya semakin menghitam (beku dan mati). Dokter menyarankan untuk operasi guna mengangkat pembuluh darah yang telah mati. Setuju. Usai operasi ia dirawat di rumah sakit selama seminggu. Setelah itu dokter mengizinkannya pulang. Tiap hari harus ganti perban.

Namun setelah beberapa hari penyakitnya kambuh lagi sementara uang sudah tidak cukup untuk berobat ke dokter. Akhirnya diputuskan berobat ke tabib. Bukannya kesembuhan yang diperoleh tapi keadaan kaki semakin gawat. Dari kaki keluar nanah sampai dengkul, bahkan keluar belatung. Sampai puncaknya kaki kiri putus.

Itu penjelasan kaki yang penuh belatung. Sementara tubuh mayat yang gosong lebih mudah dijelaskan. “Bagi orang umum dalam waktu 24 jam itu tubuh sudah mulai tampak kehijau-hijauan, terjadi pembusukan pada dinding perut sebelah kanan,” kata Mun’im.

Keadaan itu untuk orang sehat yang mati. Bagi orang yang meninggal karena penyakit akan lebih cepat busuknya. Oleh karena daerah itu adalah daerah usus, biasanya daerah-daerah itu lebih awal terdeteksi.

Kalau mengidap hipertensi, jantung memompa darah dengan tenaga ekstra, lama kelamaan jantung tidak kuat. Jantung akan membesar kepayahan. Nah di situ pembuluh darah yang ada di kepala, daerah atas, akan lebih banyak berkumpul di daerah dekat jantung. Kalau begitu daerah atas akan lebih cepat membusuk, lebih gelap oleh karena proses oksigenisasi orang tersebut terganggu.

Biasanya warna tubuh menjadi biru-biru karena darah kekurangan oksigen.

Orang yang meninggal dalam keadaan biasa saja terdapat warna merah ungu, gelap, di tubuhnya. Sedangkan orang mati karena ada kelainan otak akibat hipertensi akan lebih cepat gelap dan meluas. Akibatnya tubuh menjadi gosong.

“Umum itu,” kata Mun’im.

Keterangan dari Mun’im sebagai ahli forensik begitu gamblang dan detil. Namun, apa lacur, tayangan-tayangan sinetron itu sudah masuk ke rumah-rumah. Jutaan kepala menontonnya. Setiap hari, dari anak-anak hingga orang tua.

“Itu membawa banyak kemunduran,” komentar Dr. Jamhari, kepala Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta kepada Syir’ah pertengahan Juni lalu.

Jamhari menilai fenomena ini hanyalah sebentuk klangenan, nanti juga hilang dengan sendirinya. Ia ingat waktu kecil suka membaca komik-komik yang mengisahkan tentang siksa neraka. Ada yang disetrika, dibakar dengan besi panas, atau bagi yang suka berzina ditusuk kemaluannya.

“Kalau begini akan membuat orang beragama karena takut,” tutur Jamhari. Takut mati gosong, dipenuhi belatung, perut buncit, atau ditolak bumi.

Seorang tidak lagi beragama karena senang dan penuh kesadaran, tapi ada dorongan kengerian di kepalanya.

Salah satu pengajar di Fakultas Dakwah UIN Jakarta ini tidak menyangkal ada nilai dakwah dalam tayangang tersebut.

KH Zubaidi Muslich dari Pesantren Mambaul Hikam, Jatirejo, Jombang juga menyatakan hal yang sama. Allah sendiri, kata kyai yang lebih akrab dipanggil Buya ini, memiliki sifat “Yang Maha Menakuti”.

Namun seharusnya cerita ini tidak berhenti pada kejadian yang mengerikan. “Menakutkan itu,” katanya lewat pesawat telepon. Dalam ajaran Islam harus seimbang antara Khauf (takut dan raja’ (harapan).

Ia menyontohkan ada seorang intelektual Mesir, almarhum Dr. Zakky Mubarak, yang mengkritik habis Ihya Ulumuddin karangan Imam Al-Ghazali.

“Karena ia hanya membaca sampai juz tiga. Namun setelah ia melanjutkan membaca juz IV ia berbalik memuji-muji Al-Ghazali,” tutur Buya.

Dari situ lahirlah buku karangannya berjudul Al-Akhlaq ‘Inda Al-Ghazaly.

Pada Juz tiga Al-Ghazali menuliskan tentang khauf, cerita tentang siksa. Menginjak ke juz empat Al-Ghazali mengulas habis tentang taubat yang termasuk dalam raja’ atau harapan yang dimaksud. “Karena itu, sebaiknya dalam akhir cerita diakhiri dengan taubat. Jadi husnul khatimah,” sarannya.

Kalau ditontong satu per satu sebagian besar penutup sinetron-sinetron itu selalu mengundang seorang ustad sebagai pengukuh cerita sembari memberi nasehat. Menjelang pengambilan gambar di sebuah masjid Jakarta seorang ustad bingung dengan skrip yang akan di bacakan di akhir cerita.

“Ini penyakitnya kenapa? Apa karena stres atau yang lain?” Tanya sang ustad bingung. Seorang juru rias menyapu wajah ustad dengan kertas tisu.[end]

Tulisan ini pernah menjadi laporan utama majalah Syir’ah pada Juli 2005

7 March 2005

Terhormat Meski Tanpa Jilbab

Oleh Banani Bahrul Hasan dan Imam Shofwan

Najwa Shihab punya prinsip sendiri tentang jilbab. Bagi dia, hati “berjibab” lebih baik daripada sekadar jilbab kepala.

TAK SULIT menjumpai Najwa Shihab. Hampir saban hari dia muncul di stasiun MetroTV. Selama kariernya di televisi itu, yang paling mengharukan saat Nana, sapaan karibnya, melaporkan kondisi Aceh pasca-Tsunami akhir Desember lalu. Awal mula dia memberi laporan, meski tampak tegar tapi akhirnya tak kuasa menahan linangan air mata. Nana menangis.

Saat bertolak ke Aceh, 27 Desember, Nana berniat menggelar talkshow Today’s Dialog di sana. Nana, yang juga co-produser program itu, sebenarnya telah mempersiapkan talkshow lengkap dengan krunya. Tapi, karena keterbatasan sarana, hari pertama Nana melaporkan hasil liputannya cuma via telepon. Laporan langsung lewat satelit baru bisa dilakukannya hari kedua.

Turun dari pesawat rombongan wakil presiden di Blang Bintang, Banda Aceh, Nana belum merasakan atmosfer kematian. Dia mencium bau anyir darah baru setelah sampai di Lambaro, Aceh Besar. Di daerah inilah dia melaporkan kondisi yang dia lihat. Mayat-mayat berserakan. Orang yang masih hidup pun terlihat bingung. Mereka mencari keluarga dan sanak saudara. Nana mengatakan, belum pernah melihat orang sedemikian putus asa. Saat itulah Nana melakukan reportase diiringi tangisan.

Di sana Nana hanya lima hari. Tanggal 31, bersama rombongan wakil presiden dia kembali ke Jakarta. Pekan pertama setelah peristiwa, dia belum mendengar isu kristenisasi. “Isu kristenisasi setelah saya di sini, waktu saya di sana tidak terdengar. Memang ada Worldhelp yang konon mengajak anak-anak keluar Aceh,” ungkap putri kedua Quraish Shihab itu.

Di sana, kata Nana, banyak sekali isu yang berkembang, karena tak ada komando, tak ada pusat informasi yang jelas. Komunikasi lumpuh. Jadi orang gampang sekali diprovokasi oleh berbagai isu. Menurut dia, kalau memang kristenisasi ada itu sangat tercela. Dalam kondisi darurat orang masih sempat mengurusi agama. “Tapi saya percaya, orang Aceh tidak semudah itu berubah keyakinan, hanya karena diberi bantuan,” ujarnya.


LIPUTAN lima hari itu tak sia-sia. Berkat liputannya itu, pada 2 Februari 2005 lalu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya memberi penghargaan PWI Jaya Award. Menurut sekretaris PWI Jaya Akhmad Kusaeni, liputan Nana dan presenter teve-teve lain betul-betul telah membuat Indonesia menangis.

Bukan hanya PWI Jakarta yang menganugerahi Nana, pada Hari Pers Nasional (HPN) yang dilangsungkan di Pekanbaru, Riau 9 Februari lalu, Nana meraih penghargaan HPN Award. PWI pusat menilai, Najwa Shihab adalah wartawan pertama yang memberi informasi tragedi tsunami secara intensif.

Pujian untuk Nana pun meluncur dari pakar komunikasi dari Universitas Indonesia, Effendy Gazali. Dia menyitir judul film drama komedi terkenal Amerika, Kramer Vs Kramer yang dianalogikannya menjadi “Shihab Vs Shihab”.

Shihab pertama adalah Najwa Shihab, kedua Alwi Shihab, yang masih punya hubungan saudara dengan Nana. “Najwa mengkritik penanganan bencana yang dilakukan pemerintah yang diwakili oleh Menko Kesra Alwi Shihab,” kata Effendy Ghazali. Dalam reportasenya, Najwa menyampaikan bahwa bantuan terlambat dan tak terkoordinasi, sementara mayat-mayat bergelimpangan tidak tertangani.

“Shihab Vs Shihab”, kata Effendy, untuk menggambarkan bagaimana Najwa Shihab sebagai wartawan tetap garang dalam menyuarakan kepentingan publik dan korban tsunami di Aceh.


WANITA kelahiran 16 september 1977 ini hidup dalam keluarga religius. Nana kecil, saat di Makasar, sudah masuk TK Al-Quran. Dia masih ingat betul, kalau melakukan kesalahan, sang guru memukulnya dengan kayu kecil. Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (1984-1990), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada 1990-1993. Aktivitas sampai SMU, dipimpin ibunya, Nana dengan lima orang saudaranya sejak magrib harus ada di rumah. “Jadi berjamaah magrib, ngaji Al-Quran, lalu ratib Haddad bersama. Itu ritual keluarga sampai saya SMU.” Setelah kuliah, karena banyak kegiatan, Nana baru boleh keluar setelah magrib.

Keluarganya memang sangat memprihatikan faktor pendidikan. “Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku,” ujarnya.

Pendidikan, bagi keluarga Shihab, adalah nomor wahid, tidak bisa ditawar-tawar. Dulu waktu kelas dua SMU, Nana dapat kesempatan AFS (America Field Service), program pertukaran pelajar ke Amerika. Sempat keluarga menolak karena harus melepas selama setahun anak cewek yang baru usia 16 tahun tinggal di keluarga asuh. “Sempat terjadi perdebatan keluarga. Waktu itu yang paling mendukung ayah saya. Apa pun untuk pendidikan akan diperbolehkan, dalam usia itu pun beliau sudah memberikan kepercayaan, walaupun di sana dia sudah dibekali agama, mereka percaya shalatnya tidak akan ditinggal. Dan alhamdulillah saya bisa menjaga kepercayaan itu,” cerita Nana.

Quraish Shihab, pakar tafsir itu, bagi Nana, adalah sosok bapak yang santai. “Seneng joke-joke Abu Nawas, ketawa-ketawa,” kisahnya. Jadi beliau, kata Nana, membebaskan pilihan kepada anak-anaknya untuk sekolah ke mana saja.

Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai.” Menjelang pernikahan, kata Nana, keluarga sempat ragu, tapi karena pengalaman kakak yang nikah saat usia 19 tahun akhirnya diizinkan. Tapi sebelum itu mereka sekeluarga umroh dulu. “Di sana ayah bertanya, ‘udah mantep?’ saya jawab, ‘udah’. Ya sudah diizinkan,” tutur Nana.


KENDATI dalam keluarga religius, soal pakai jilbab tak menjadi keharusan. Menurut Nana, kalau orang pakai jilbab itu bagus, kalau tak berjilbab juga tidak apa-apa. “Saya sih seperti itu dan saya percaya itu.”

Karena memang, kata Nana, alasan ayahnya yang lebih penting adalah terhormat. Karena bukan berarti yang berjilbab tidak terhormat dan yang berjilbab sangat terhormat, karena kan masih banyak interpretasi tentang hal itu. Menurut Nana, yang penting tampil terhormat dan banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab. “Tidak pernah ada keharusan untuk berjilbab,” ucapnya.

Dengan cara berpakaian seperti itu, kata Nana, tak pernah ada yang komplain. “Karena mungkin melihat ayah, kalau ditanya orang pendapatnya membolehkan, membebaskan berjilbab atau tidak. Jadi banyak alasan dari ayah saya. Kalau ada yang komplain, paling pas bercanda. Dan saya selalu bilang: ya insyaallah mudah-mudahan suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok.”

Nana kagum pada yang pakai jilbab dan menutup aurat. Dia ingin juga pakai jilbab, mungkin suatu saat. “Sampai saat ini saya tidak merasa ada kewajiban atau beban untuk berjilbab,” katanya, “Karena sejauh saya bisa menjalankan kewajiban saya sebagai muslimah tidak masalah berjilbab atau tidak.”

Meski kini ada rekan reporter yang mengenakan jilbab, Nana tidak terpengaruh. Sampai saat ini, dia merasa apa yang dilakukannya sudah berada pada jalur yang benar. Kalau nanti ada hidayah lebih lanjut, atau kemantapan memakai jilbab, tanpa ragu Nana akan memakainya. “Apa yang dilakukan orang kan bukan berarti kita akan terpengaruh. Kalau sekarang ada yang berjilbab kemudian saya ikut. Menurut saya, rugi kalau berjilbab alasannya itu,” ujarnya.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Syir'ah Edisi Maret 2005

7 February 2005

Jalan Mendaki Penyuka Whisky

Oleh Imam Shofwan

Perjalanan seorang seniman pemabuk yang ‘ditobatkan’ oleh Arifin Ilham.

JAMAAH zikir az-Zikra berduyun-duyun memadati masjid al-Amru bit-Taqwa. Awan hitam pertengahan Januari itu mencair menjadi rintik hujan, membasahi pelataran masjid yang terletak di daerah Mampang Indah Dua, Depok. Kaum menempati ruang utama masjid, sedang para wanita di teras luar.

Petang itu, jamaah isya baru selesai, acara dilanjutkan dengan zikir dan tausiyah yang dipimpin oleh Ustad Arifin Ilham, juru dakwah sering mongol di televisi. “Shalat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Jamaah mendengar sang ustad menyitir sepenggal ayat al-Quran. Hening dan Khusuk.

“Seperti Bang Johnny AO,” lanjut Ustad Arifin sambil menunjuk seseorang di tengah jamaah. “AO” kependekan dari anggur orangtua.

Jamaah mengarahkan pandangan pada seorang laki-laki dengan rambut panjang yang terikat rapi dan ditutup kopiah putih. Lelaki paruh baya yang menjadi pusat perhatian tertunduk, kedua tangannya menutupi bagian bawah wajahnya. Suara jamaah sedikit riuh.

Sang Ustad melanjutkan kisah pertama kali bertemu dengan Johnny. “Saya mengucap Assalamualaikum kepada Bang Johnny.”

“Alaikumussalam, Ustad,” Arifin menirukan jawaban Johnny yang waktu itu sedang mabuk. Jamaah tergelak dan lelaki itu kian tertunduk.

Johnny AO adalah seorang pelukis dan pemabuk berat. Tapi itu kisah masa lalu. Kini, dia sudah berhenti minum dan ikut zikir. Majalah Empathy, Hidayah, Amanah, juga novel Suamiku Menangis karya Wahyuniwati al-Wali, istri Arifin Ilham, merekam kisah Johnny secara dramatis.

Diceritakan bagaimana Johnny bertemu dengan Arifin Ilham. Ustadz Arifin memberi lontong Sayur, Johnny tersentuh. Sejak saat itu, Johnny aktif mengikuti zikir pimpinan Sang Ustad. Majalah Amanah merangkum kisah ini dengan judul memikat: Johnny Zikir: Lontong Sayur Membuatnya Insyaf.

SIANG yang cerah awal Januari, Johnny duduk disebuah kursi kayu di ruang tengah rumahnya. Tangan kirinya memegang palet beisi warna-warni cat winston. Tangan kanannya lincah memainkan kuas pada sebuah kanvas. Di dinding tergantung beberapa lukisan. “Semula saya melukis abstrak, sekarang saya melukis kaligrafi,” tutur Johnny saat berbincang dengan saya tentang masa lalunya.

Johnny lahir 14 Januari 1954, di Bandung, dengan nama lengkap Johnny Guntoro. Dia anak kedua dari pasangan R. Guritno Wiryo Diatmodjo dan RA Siti Ana. Ayahnya seorang perwira tinggi Angkatan Darat.

Wiryo pensiun pada 1957, dengan pangkat terakhir brigadir jenderal. Setelah pensiun, sang ayah menjadi direktur utama Perusahaan Negara Tambang Emas Cikotok, Banten. Johnny bersama keluarganya ke sana sampai lulus sekolah dasar. Lima tahun Johnny menamatkan SD, setahun lebih cepat dari biasanya.

Keluarga Johnny lalu pindah ke Jakarta pada tahun 1967. Mereka menempati rumah di jalan Panglima Polim, Kebayoran Baru. Saat itu Johnny masuk SMP 12. Dia satu sekolah dengan Ari Widjianto, tetangga yang kemudian menjadi teman dekat Johnny. Ari juga putra seorang pejabat militer.

Saat naik kelas dua SMP, Johnny tidak mau menlanjutkan sekolah. Dia mogok lantaran tidak dibelikan sepeda motor. Sebagai teman, Ari menghibur Johnny, mengajak jalan-jalan, dan nongkrong. Mereka lalu membentuk geng “Ganja Fly”.

“Geng yang cukup terkenal di Panglima Polim saat itu,” tutur Johnny.

“Santai aja, kita minum bir, Gua yang traktir,” kata Ari waktu itu di sebuah restoran di jalan Panglima Polim Raya. Inilah kali pertama Johnny menenggak minuman beralkohol. Adapun Pub Tanamur (Tanah Abang Timur), Kernolong, Kalipasir, Kramat Raya adalah tempat-tempat mangkal geng mereka. Dan mulailah mereka menenggak Vodka, Whisky dan tekawe (minuman keras khas Kalipasir). Sehari-hari mereka mabuk dan balapan.

Johnny dibelikan sepeda motor dan kembali sekolah sampai lulus SMP 12 pada 1971.

Ia lalu masuk SMA 09 Bulungan, di sini dia bertahan satu tahun. Kelas dua, Johnny pindah ke SMA 17 Grogol. Dia tak lagi satu sekolah dengan Ari. Di SMA, Johnny ikut beladiri. Agar Tubuhnya prima, dia harus mengurangi minum minuman keras.

Setelah lulus SMA tahun 1974, Johnny melanjutkan studinya ke Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, Jurusan Seni Lukis.

Di ASRI, kebiasaan minum minuman keras kambuh lahi dan semakin parah. Dari kawan-kawannya, Johnny berkenalan dengan banyak jenis minuman beralkohol, seperti Jhony Walker, Drygin, Napoleon, Bols, Arak Putih, Drink Beer. Tak hanya minuman, dia juha mencoba ganja kering dan masrum, sejenis jamur dari tinja sapi.

Pada 1977, ayah Johnny meninggal dunia. Johnny terpukul. Kuliahnya terbengkalai, dia lebih sering menghabiskan waktu di tempat hiburan malam dan pelesiran di pantai. “Saking seringnya saya ke Parangtritis, saya banyak kenal para pemandu wisata dan turis-turis.”

Dia Parangtritis inilah, awalnya Johnny berkenalan dengan masrum. Di sebuah kafe panggung. Johnny bersama empat orang kawannya berpesta. “Omlet setengah mateng lima,” kata Johnny. Pelayan berlalu setelah mencatat pesanan.

“Kita coba barang baru, Dik,” kata Johnny sambil mengulurkan bungkusan berisi jamur ke arah Mardi, seorang kawannya yang bekerja sebagai pemandu wisata. “Oh ini masrum dari turis India,” jawab Mardi sambil menaburkan jamur yang telah dilumat dengan tangannya ke atas omlet lalu memakannya. Setelah pesta ini, Johny tidak sadarkan diri sampai dua hari.

MINGGU Pahing, 28 Juli 1980, Johnny menikah dengan Raden Ayu Wisetiati, seorang karyawati Bank Exim. Pernikahan ini digelar saat Johnny kuliah semester akhir. Harapan sang ibunda, dengan pernikahan itu, Johnny memiliki tanggungjawab terhadap keluarga.

Setelah resepsi pernikahan, Johnny kembali ke Yogja, menyelesaikan kuliah. “Kuliah saya yang tinggal tugas akhir kacau. Ibu berharap setelah diberi tanggung jawab, saya akan lebih baik,” tutur Johnny.

Seminggu sekali Johnny menjenguk istrinya di Jakarta. Kebaikan dan kesabaran Titik, sapaan akrab Wisetiati, membuat Johnny jauh dari teman-teman mabuknya. Johnny merasa bahagia saat Titik mengandung.

April 1981, Titik mengalami keguguran. Johnny labil, dan kembali ke Yogyakarta. Minuman keras kembali ditenggaknya.

Johnny tidak lulus kuliah karena terganjal kuliah agama. “Untuk ketiga kalinya saya ujian shalat. Ya, mana mungkin lulus, saya tidak bisa shalat,” tutur Johnny.

Waktu itu Johnny menyogok dosennya dengan lukisan supaya diluluskan. Johni lulus ASRI pada 1982.

Setelah lulus Johnny kembali ke Jakarta. Sesekali dia menjenguk istrinya yang tinggal di rumah ibunya di daerah Mayestik, Jakarta Selatan. Tujuannya untuk meminta uang. Johnny lebih suka menghabiskan uang bersama minuman keras.

Melihat suaminya yang kian tidak bisa lepas dari minuman keras, Titik selalu berdoa sehabis sholat agar suaminya tobat.

Pada tahun 1984, Johnny membangun rumah di atas tanah peninggalan ayahnya di Depok. Pasangan ini lalu pindah ke rumah ini pada tahun yang sama.

Di Depok, kebiasaan Johnny semakin menjadi, dia semakin tidak terpisahkan dengan minuman beralkohol. “Tiap hari kerjaannya nyekek botol,” tutur Titik. “Johnny sering memecah kaca, gelas, dan mukulin tembok kalau habis minum.”

Biasanya Johnny menjemput Titik pulang kerja di Stasiun Depok, kemudian begadang di Pinbi kafe di jalan Margonda. “Biasanya Johnny menghabiskan satu picer berem, kadang nambah,” tutur Titik. Berem adalah minuman keras olahan tradisional. Satu picer seukuran satu sampe dua liter.

Mereka biasa sampai rumah setelah lewat tengah malam. “Paling lambat kami pulang jam dua dini hari,” tutur Titik.

Titik sering menemani suaminya minum, “saya tahu betul suami saya dan apa yang dia minum.” Tapi tidak setuju suaminya disebut preman. “Suami saya bukan preman, tidak pernah malak orang, sebenarnya tidak ada tetangga yang memanggil suami saya Johnny AO. AO hanya sebutan Ustad Arifin saja.”

Kepada saya, Arifin Ilham mengatakan sebutan AO alias anggur orangtua memang dia yang mempopulerkan. Jamaah az-Zikra lantas menjadikan nama itu sapaan akrab. Tapi, Arifin lantas memberikan sapaan baru buat Johnny, yaitu “Johnny Zikir”. Ini setelah Johnny rajin menghadiri jemaah zikir yang dipimpin Arifin.

Begitulah, Titik tak pernah menganggap suaminya penjahat. Dalam novel Suamiku Menangis, Johnny disebut sebagai seorang preman yang mengganggu perjalanan tokoh Ustad. Jalan menuju rumah Arifin harus melewati rumah Johnny. Johnny dan Arifin tinggal di perkampungan yang sama.

Titik keberatan dengan isi novel tersebut. “Preman itu kan identik terminal, pasar dan suka malak, padahal suami saya tidak pernah melakukan itu,” tutur Titik. “Sebenarnya saya ingin meluruskan hal itu, tapi udah kayak gitu. Ya sudahlah.”

Selama di Depok, Johnny termasuk orang yang rajin secara sosial. Tiap ada kerja bakti, Johnny selalu datang lebih awal. Dia juga membikin Sanggar Fajar dan mengumpulkan anak-anak untuk diajari melukis. Selain itu dia juga mengajari mereka teater. “Johnny hanya suka minum, dia tidak melakukan kejahatan,” tegas Titik.

Titik tidak pernah mengeluh pada siapa pun tentang kebiasaan suaminya kecuali pada Tuhan. Sampai suatu hari nahas di tahun 1989, terjadi.

Suatu malam, Titik sedang menunggu Johnny yang sedang mendesain taman seorang tetangga. Sejak sore, Titik memasak dan ingin makan malam bersama. Di meja makan, hidangan mulai dingin. Malam kian larut, mata Titik sudah terasa berat saat terdengar seorang berteriak “cihuy” dari luar. Dia paham itu adalah suaminya karena berteriak “cihuy” telah menjadi kebiasaan Johnny.

Titik bergegas menuju gerbang. Dia melihat suaminya memegang botol dalam kondisi mabuk berat.

Titik membopong Johnny menuju ruang makan. Kekesalan Titik saat itu tidak terbendung. “Sudah capek-capek masak, kamu enak-enakan minum,” ucap Titik. Emosi. Johnny kalap dan melempar piring ke arah Titik.

Darah mengucur dari sela-sela tangan Titik yang menutup wajahnya. Panik. Semua tentangga berdatangan ke rumah mereka setelah pembantu Johnny berteriak-teriak minta tolong.

Kemudian Titik dibawa ke rumah sakit Bhakti Husada, Depok. Karena keterbatasan alat, dokter memberi rujukan ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) untuk dioperasi. Selam tiga bulan dia dirawat di RSCM, kemudian pindah ke RS Pertamina selama enam bulan untuk pemulihan. Sebelah mata Titik cacat setelah kejadian itu.

“Saat dirawat, Johnny selalu menemani saya dan tidak pernah tercium bau minuman dari mulutnya,” tutur Titik.

Setelah itu Johnny berhenti minum minuman keras. “Keluarga melarang saya kembali ke Depok. Saya dan Johnny tinggal di Mayestik di rumah orang tua,” tutur Titik, hampir setahun tinggal di sana. Sampai Johnny terlihat berhenti minum. Dan Kami diperbolehkan kembali ke Depok.”

Setelah kembali ke Depok Johnny kembali kambuh. “Minum lagi dan mabuk lagi.”

Dan, tibalah hari itu. Pada 12 Febuari 1998, ada perubahan penting dalam kehidupan pasangan Johnny-Titik, Titik melahirkan seorang puteri yang cantik dan diberi nama Sekar Siti Nabila.

“Karena saya bekerja, Johnny yang merawat Sekar. Dia tidak ada waktu lagi mencari minuman,” ujar Titik.

Tahun 1999 Titik berhenti kerja agar bisa merawat Sekar. Johnny berubah. Ia tak pernah menenggak minuman keras jika di rumah.

KAMIS, 31 Juli 2003, sekitar pukul tujuh pagi, sebuah mobil melintas di jalan Kampung Kekupu, tepat di depan rumah sekaligus workshop Johnny. Mobil itu berhenti. Saat itu Johnny sedang membersihkan halaman.

“Assalamualaikum, Bang Johnny,” seru seorang pemuda dari dalam mobil. Johnny menoleh ke asal suara. Tangannya masih menggenggam sapu. “Alaikumsalam. Ooo, Ustad Arifin,” timpal Johnny.

“Makan nasi uduk, yuk,” ajak Arifin.

“Makasih, kirim-kirim aja,” jawab Johnny.

Mobil berlalu. Johnny kembali menyapu. Setelah itu, Johnny masuk ke rumah mandi kemudian duduk di beranda rumah.

“Assalamualaikum,” seorang menyapa dari depan gerbang. Mobil yang membawa Arifin tadi berhenti tepat di belakangnya. Johnny menjawab salam dan membukakan gerbang. “Ustad Syukur, silahkan masuk,” ucap Johnny. Ustad Syukur salah seorang pengurus Majelis az-Zikra.

“Terima kasih. Di sini aja. Ini ada lontong sayur dari ustad Arifin. Maaf tadi nasi uduknya habis,” ucap Ustad Syukur. Johnny bengong sesaat. Belum sempat Johnny berterima kasih, mobil sudah berlalu.

Johnny menutup gerbang dan masuk kembali ke dalam rumah.

“Mami, Ustad Arifin baik ya?” ucap Johnny. Sang istri hanya bengong mencoba menerka arah pembicaraan. “Tadi Ustad Syukur nganterin lontong sayur dari Ustad Arifin, besok aku mau ikut dizir, ah.”

Tiga hari kemudian, Minggu 3 Agustus, untuk kali pertama Johnny ikut zikir yang dipimpin oleh Arifin Ilham.

Sebulan berikutnya, Minggu 7 September 2003, sebuah stasiun televisi swasta nasional merelai acara “Zikir dan Tausiyyah” di masjid az-Zikra. Arifin Ilham biasanya menjadi pembicara tunggal. Tapi hari itu sang ustad ditemani Johnny Guntoro alias Johnny AO. Sambil menangis, johnny menceritakan masa lalunya yang “hitam” sampai ketemu Arifin Ilham dan ikut majelis zikir az-Zikra.

Acara pengajian selesai, jamaah satu persatu kembali kembali ke rumah masing-masing. Tinggal berapa orang di masjid. Ustad Syukur menghampiri Johnny dan memberinya amplop uang terimakasih. Tersenyum, Johnny menerima dengan gembira.

“Sejak acara dialog itu,” tutur Johnny, “Ustad Arifin sering mengajak saya mengisi acara, baik di dalam maupun di luar kota.” Di pengajian-pengajian itu Johnny selalu menjadi pencerita yang baik. Ia mengisahkan kekelaman hidupnya dahulu, hingga pertemuaannya dengan Ustad Arifin.

Titik senang dengan kondisi suaminya saat ini. “Sekarang gantian, dulu saya yang rajin shalat, sementara dia tidak perna. Sekarang kebalik, dia yang rajin…,” tawa Titik berderai.

Tulisan ini dimuat di majalah Syirah pada Febuari 2005

7 September 2004

Penganut Agama Baru Pembenci Agama Asal

Oleh Fathuri SR, Imam Shofwan, Toddi Y. Kurniawan

Pemeluk agama baru yang mencari kesalahan agama asalnya ternyata banyak terjadi. Mereka menilai agama lama sesat bahkan ‘musuh’.

Dari dalam sebuah masjid, kalimat-kalimat itu lantang terdengar. “Tidak akan rela Yahudi dan Nasrani terhadap kamu sampai kamu mengikuti millah mereka. Millah bisa diartikan agama, bisa juga pola pikir, dan juga budaya,” tutur perempuan setengah baya. Mantap ia menyatakan pesan: hati-hati dengan orang Yahudi dan Nasrani!

Sepintas pesan itu bukan sesuatu yang istimewa. Sudah banyak ulama, mubalig atau kiai, dengan banyak tafsir, telah menyitir kata-kata yang merupakan terjemahan dari surat al-Baqarah ayat 120 ini. Tapi, kalau yang mengutip adalah orang yang pernah merasakan agama Nasrani, tentu lain persoalannya.

Irene Handono, demikian perempuan yang mengutip ayat ini biasa dipanggil. Seorang peranakan Tionghoa kelahiran 30 Juli 1954 ini bernama asli Han Hoo Lie.

Irene, sebagaimana pengakuannya sendiri, adalah mantan biarawati. Dia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Katolik. Orangtuanya penyumbang terbesar gereja di daerahnya, Surabaya.

Namun, sejak 1982 di Masjid al-Falah, Surabaya. Ia masuk Islam disaksikan oleh KH Misbach yang waktu itu menjabat ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Pengakuan akan masa lalu Irena bisa disaksikan dalam sebuah pengajian di bulan Ramadlan, November 2003 lalu, yang rekaman VCD-nya dijual bebas di pasaran dengan judul Strategi Pemurtadan Umat. Di bawah judul ditulis “Irene: mantan biarawati”, dengan secara tidak langsung telah diganti dengan titel barunya: seorang mubaligah.

“Perbedaan antara saya dan Bapak-Ibu, saya lahir dari keluarga yang beragama Katolik, sedangkan Bapak-Ibu ketika lahir yang didengar suara azan dan iqamah,” tuturnya kepada peserta pengajian. “Dalam usia lima atau enam tahun, Bapak-Ibu sudah belajar ngaji tapi saya sudah masuk Sunday School, Sekolah Minggu, yaitu kursus untuk mempelajari Kristen atau Katolik,” lanjut Irene menceritakan masa kecilnya.

Irene adalah pembicara yang baik. Para peserta pengajian terdiam mendengar penuturannya. Tandas, dengan diksi yang tepat dan intonasi suara yang teratur.

“Saya yang ada di hadapan anda ini, adalah salah satu contoh mantan kafir. Dan disebut mantan kafir saya mengucapkan alhamdulillah,” aku Irene, sang da’iyah mualaf yang kini tinggal di Bekasi.

Dari pengakuan ini, Irene ingin menunjukkan, kekatolikannya di masa lalu merupakan kekafiran. Lebih dari itu, dalam ceramah-ceramahnya, Irene juga menganggap Katolik sebagai ‘musuh’ Islam. Irene kerap berpesan, Katolik akan terus menerus melakukan pendangkalan iman dan memurtadkan orang Islam. Ia sering kali mengutip ayat 120 al-Baqarah sebagai argumentasi dalam ceramahnya.

Selain Irena, ada Ragil Wibowo, 38 tahun, mualaf dari Protestan asal Jawa Tengah, juga mendeklarasikan hal yang sama. Ragil yang kini tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini berharap umat Islam berusaha tanpa henti memperkuat akidah. “(Umat Islam) harus mengerti bahwa musuh yang paling utama adalah musuh pendangkalan iman lewat pendidikan gratis kepada umat muslim, pembinaan ekonomi, pengobatan gratis, yang dijalankan Nasrani,” ujar Ragil kepada syir’ah.

Latar belakang Ragil tak kalah hebatnya dengan Irene. Menurut pengakuan Ragil, ia lahir dari keluarga Protestan totok. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pendeta. Setelah lulus SMA, Ragil kuliah di Institut Agama Kristen Maranatha, Bandung, dan mengambil jurusan misi sejenis dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kalau di Institut Agama Islam. Selama empat tahun dia sekolah di sana dan selesai dari situ dia masuk International Misionary Fellowship (IMF), sebuah organisasi misionaris internasional.

Ragil bersama sebelas kawannya diterjunkan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1988 sampai 1993. Mereka menjalankan misi pemberian bantuan pangan dan pembinaan iman. Program berjalan bagus hanya saja pembinaan iman yang awalnya dihadiri ratusan orang semakin hari makin sedikit.

“Lalu setelah evaluasi tim, kami menyimpulkan ada masalah dengan Korp Dakwah Pedesaan (KDP) yang menghalangi orang-orang yang mau menghadiri kebaktian kami,” kata Ragil menguraikan. Ragil dan teman-temannya tak tahu persis dari organisasi Islam mana KDP itu. Ragil hanya tahu KDP dipimpin oleh KH Jalal Mukhsid dari SD Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Korp ini juga mengadakan dakwah bagi penduduk Gunung Kidul dengan mengadakan pengajian dan sebagainya.

Kedua fihak sepakat konflik “perebutan pengikut” harus dihentikan. Untuk menghindari konflik fisik dipilihlah dialog. “Kami mengadakan dialog pribadi dengan Pak Jalal,” kata Ragil. Tema dialog itu adalah memperdebatkan akidah masing-masing. Dalam dialog itu ada perjanjian antara Jalan dan Ragil, kalau Ragil kalah harus masuk Islam, dan sebaliknya kalau Jalal kalah harus masuk Kristen.

Alot dan seru perdebatan ini. Ragil yang alumni jurusan misi tentu pengetahuan keprotestenannya mendalam, sebaliknya Jalal pun tak kalah mumpuni soal keislaman. Tapi akhirnya setelah enam bulan Ragil kalah argumentasi. Mau tak mau dia harus masuk Islam meski dengan resiko dijauhi gereja, teman, dan keluarganya.

Setelah masuk Islam, Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. “Sekarang agenda terpenting saya adalah mengislamkan kembali orang-orang yang dulu saya kristenkan,” katanya. Bagi Ragil, misi Kristenisasi sangat berbahaya. Di sisi lain, Ragil juga mengkritik habis ajaran Kristen.

Menurut Ragil ada dua hal yang salag dalam Kristen. Pertama, Injil, kitab suci orang Kristen, tidak menjamin keselamatan bagi seseorang. Kedua, ajaran Nabi Isa dengan ajaran Kristen sekarang itu sangat berbeda. “Ajaran yang dipraktikkan umat Kristen adalah ajaran Paulus bukan ajaran Nabi Isa,” katanya.

Nabi Isa, menurut Ragil, mencontohkan umatnya untuk bersunat, tapi umat Kristen tidak ada yang mau bersunat. Nabi Isa sembahyang dengan besujud sampai ke tanah, sedang umat Kristen sekarang ibadahnya dengan bernyanyi-nyanyi. Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk berdoa menengadahkan tanganya tapi mereka berdoa, malah, dengan tangan dilipat.

“Dalam Matius, ayat sebelas, Nabi Isa mengajarkan doa pada murid-muridnya, berdoa kepada bapak kami dengan menengadahkan tangannya ke atas, dan berdoalah demikian bapa kami di surga yang dikuduskan nama-Mu,” kutip Ragil.

Sementara itu, kritik pedas juga dilakukan Irene terhadap agama Katoliknya. “Tanggal 25 Desember yang dijadikan peringatan Hari Natal, hari kelahiran Nabi Isa, itu tidak benar,” tandas Irene. Dalam literatur sejarah yang dibaca Irene, diketahui bahwa tanggal itu merupakan hari pesta rakyat Romawi demi dewa Matahari.

Karena berharap rakyat mau mengikuti rajanya yang telah masuk Kristen, rakyat dibujuk untuk mengikutinya dengan berbagai toleransi. Secara panjang lebar Irene menjelaskan hal ini dalam bukunya: Hari Natal: Antara Dogma dan Toleransi.

Pendapat Irene ini tak ditampik oleh Romo Hariyanto SJ, pastur Katolik yang kini aktif dalam dialog antaragama. Menurut Hariyanto tanggal 25 Desember baru dipakai dan diperingati sebagai Hari Natal.

Bahkan, menurut dia, di kalangan bangsa Eropa Timur dan Rusia, Hari Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Tanggal ini tidak berkait dengan kelahiran Jesus, namun berhubungan dengan cerita Yesus yang sesudah dilahirkan dikunjungi oleh tiga raja dari Timur.

“(Natal) dalam bahasa Yunani dikenal dengan bahasa efifania yaitu sesuatu yang diumumkan kepada publik, dan tidak dalam kontek kelahiran Yesus. Ini sudah lama diketahui oleh umat Kristen,” kata Hariyanto.

Bagi Hariyanto, persoalan Natal di mata umat Kristen tidaklah terlalu esensial. “Natal tanggal berapa pun tidak akan mengubah sistem dan keimanan yang ada dalam diri umat Kristen,” tambahnya. Menilai sikap Irene, Hariyanto berpendapat, orang seperti Irene akan selalu ada dalam sejarah dan terus berulang-ulang.

Apa yang dikatakan Hariyanto bukan isapan jempol belaka. Faktanya tak hanya orang Kristen atau Katolik yang masuk Islam yang mengorek keburukan agama lamanya, orang Islam yang masuk ke Kristen pun bertingkah sama.

Sebagaimana dikutip dari Media Dakwah edisi Agustus 2003, Yusuf Roni, pendeta yang sebelumnya beragama Islam, dalam sebuah ceramahnya di Gereja Maranatha, Surabaya, pada tanggal 13 September 1973 menelanjangi keburukan Islam.

Islam yang dikenal Yusuf Roni adalah Islam yang garang, penuh kebencian dengan agama lain. Di dalam al-Quran ada ayat “Asy-syida’u ‘ala al-kuffari, yang artinya, potong itu orang-orang Kristen,” kutip Yusuf. Tentu ini tafsiran versi Yusuf Roni.

Kepada Syir’ah, Yusuf mengaku, sebelum masuk Kristen dia sangat kuat memegang Islam. Dalam lingkungan keluarganya di Palembang, ia begitu keras dididik sejak kecil tentang keislaman. Di luar itu, saat belajar di Bandung, Yusuf Roni aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi Islam. Dia pernah menjabat ketua umum Serikat Pelajar Muslimin Indonesia cabang Bandung, ketua seksi pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia, dan ketua seksi dakwah Pemuda Muslimin Indonesia wilayah Jawa Barat.

Mengomentari ceramah Yusuf Roni, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Zainun Kamal, menilai kalau dilihat tanpa analisa hanya dari sisi politik saja, kesan itu ada. Islam yang garang, penuh pertempuran dan seterusnya.

“Nabi (Muhammad) sewaktu menyebarkan Islam harus menghadapi berbagai pertempuran. Kala Nabi wafat, antara Muhajirin dan Ansor pun terjadi pertengkaran,” kata Zainun menjelaskan.

Namun inti ajaran Islam bukan di situ. Tak usah jauh-jauh, Islam dari bahasanya saja bermakna “damai”. “Dalam al-Quran sendiri dinyatakan, ketika mereka masuk kepadanya maka mereka berkata, ‘selamat’,” kata Zainun mengutip ayat 52 surat al-Dzariyat.

Zainun sendiri yang mengenal cukup dekat dengan Yusuf Roni, rektor Sekolah Tinggi Apostolos Jakarta, kini tak melihat dia melakukan hal yang demikian. Menurut Zainun, mungkin karena waktu itu Yusuf baru masuk Kristen sehingga bersikap keras dengan agama lamanya.

“Seperti suami-istri yang baru bercerai, pasti si suami atau istri akan mencela mantan istri atau suaminya,” kata Zainun mengumpamakan.

Sama dengan Yusuf, apa yang dilakukan oleh Irene dan Ragil mungkin juga hanya sekedar kekagetan saja. Hariyanto sendiri melihat, problem dari agama Kristen dan Islam sebagai agama dakwah atau misi memang terletak pada perebutan umat, dan ini menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai.

Makanya, menurut Zainun, untuk menghindari konflik semacam itu antara Islam dan Kristen lebih baik kembali melihat pada agama induk. Kristen mengklaim Ibrahim adalah bapak mereka, umat Islam juga demikian, tak ketinggalan Yahudi pun mengakuinya. Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari satu sumber, yaitu agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.

“Agama yang dibawa Ibrahim adalah dinul hanif, agama yang lurus,” terang Zainun.

Kalau tidak disadari, persaingan di antara Kristen dan Islam akan terus terjadi. Dan seharusnya dakwah atau misi, saran Zainun, dikembalikan pada makna sebenarnya, jangan dimaknai sebagai perekrutan umat sebanyak-banyaknya. “Tapi menggembleng umat berkualitas,” ujar Zainun.[end]

Tulisan ini dimuat di majalah Syir'ah pada September 2004.
Pemeluk agama baru yang mencari kesalahan agama asalnya ternyata banyak terjadi. Mereka menilai agama lama sesat bahkan ‘musuh’.

Dari dalam sebuah masjid, kalimat-kalimat itu lantang terdengar. “Tidak akan rela Yahudi dan Nasrani terhadap kamu sampai kamu mengikuti millah mereka. Millah bisa diartikan agama, bisa juga pola pikir, dan juga budaya,” tutur perempuan setengah baya. Mantap ia menyatakan pesan: hati-hati dengan orang Yahudi dan Nasrani!

Sepintas pesan itu bukan sesuatu yang istimewa. Sudah banyak ulama, mubalig atau kiai, dengan banyak tafsir, telah menyitir kata-kata yang merupakan terjemahan dari surat al-Baqarah ayat 120 ini. Tapi, kalau yang mengutip adalah orang yang pernah merasakan agama Nasrani, tentu lain persoalannya.

Irene Handoni, demikian perempuan yang mengutip ayat ini biasa dipanggil. Seorang peranakan Tionghoa kelahiran 30 Juli 1954 ini bernama asli Han Hoo Lie.

Irene, sebagaimana pengakuannya sendiri, adalah mantan biarawati. Dia lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Katolik. Orangtuanya penyumbang terbesar gereja di daerahnya, Surabaya.

Namun, sejak 1982 di Masjid al-Falah, Surabaya. Ia masuk Islam disaksikan oleh KH Misbach yang waktu itu menjabat ketua Majlis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.

Pengakuan akan masa lalu Irena bisa disaksikan dalam sebuah pengajian di bulan Ramadlan, November 2003 lalu, yang rekaman VCD-nya dijual bebas di pasaran dengan judul Strategi Pemurtadan Umat. Di bawah judul ditulis “Irene: mantan biarawati”, dengan secara tidak langsung telah diganti dengan titel barunya: seorang mubaligah.

“Perbedaan antara saya dan Bapak-Ibu, saya lahir dari keluarga yang beragama Katolik, sedangkan Bapak-Ibu ketika lahir yang didengar suara azan dan iqamah,” tuturnya kepada peserta pengajian. “Dalam usia lima atau enam tahun, Bapak-Ibu sudah belajar ngaji tapi saya sudah masuk Sunday School, Sekolah Minggu, yaitu kursus untuk mempelajari Kristen atau Katolik,” lanjut Irene menceritakan masa kecilnya.

Irene adalah pembicara yang baik. Para peserta pengajian terdiam mendengar penuturannya. Tandas, dengan diksi yang tepat dan intonasi suara yang teratur.

“Saya yang ada di hadapan anda ini, adalah salah satu contoh mantan kafir. Dan disebut mantan kafir saya mengucapkan alhamdulillah,” aku Irene, sang da’iyah mualaf yang kini tinggal di Bekasi.

Dari pengakuan ini, Irene ingin menunjukkan, kekatolikannya di masa lalu merupakan kekafiran. Lebih dari itu, dalam ceramah-ceramahnya, Irene juga menganggap Katolik sebagai ‘musuh’ Islam. Irene kerap berpesan, Katolik akan terus menerus melakukan pendangkalan iman dan memurtadkan orang Islam. Ia sering kali mengutip ayat 120 al-Baqarah sebagai argumentasi dalam ceramahnya.

Selain Irena, ada Ragil Wibowo, 38 tahun, mualaf dari Protestan asal Jawa Tengah, juga mendeklarasikan hal yang sama. Ragil yang kini tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat, ini berharap umat Islam berusaha tanpa henti memperkuat akidah. “(Umat Islam) harus mengerti bahwa musuh yang paling utama adalah musuh pendangkalan iman lewat pendidikan gratis kepada umat muslim, pembinaan ekonomi, pengobatan gratis, yang dijalankan Nasrani,” ujar Ragil kepada syir’ah.

Latar belakang Ragil tak kalah hebatnya dengan Irene. Menurut pengakuan Ragil, ia lahir dari keluarga Protestan totok. Bahkan ayahnya sendiri adalah seorang pendeta. Setelah lulus SMA, Ragil kuliah di Institut Agama Kristen Maranatha, Bandung, dan mengambil jurusan misi sejenis dengan jurusan Komunikasi Penyiaran Islam kalau di Institut Agama Islam. Selama empat tahun dia sekolah di sana dan selesai dari situ dia masuk International Misionary Fellowship (IMF), sebuah organisasi misionaris internasional.

Ragil bersama sebelas kawannya diterjunkan ke Gunung Kidul, Yogyakarta, pada tahun 1988 sampai 1993. Mereka menjalankan misi pemberian bantuan pangan dan pembinaan iman. Program berjalan bagus hanya saja pembinaan iman yang awalnya dihadiri ratusan orang semakin hari makin sedikit.

“Lalu setelah evaluasi tim, kami menyimpulkan ada masalah dengan Korp Dakwah Pedesaan (KDP) yang menghalangi orang-orang yang mau menghadiri kebaktian kami,” kata Ragil menguraikan. Ragil dan teman-temannya tak tahu persis dari organisasi Islam mana KDP itu. Ragil hanya tahu KDP dipimpin oleh KH Jalal Mukhsid dari SD Muhammadiyah Suronatan, Yogyakarta. Korp ini juga mengadakan dakwah bagi penduduk Gunung Kidul dengan mengadakan pengajian dan sebagainya.

Kedua fihak sepakat konflik “perebutan pengikut” harus dihentikan. Untuk menghindari konflik fisik dipilihlah dialog. “Kami mengadakan dialog pribadi dengan Pak Jalal,” kata Ragil. Tema dialog itu adalah memperdebatkan akidah masing-masing. Dalam dialog itu ada perjanjian antara Jalan dan Ragil, kalau Ragil kalah harus masuk Islam, dan sebaliknya kalau Jalal kalah harus masuk Kristen.

Alot dan seru perdebatan ini. Ragil yang alumni jurusan misi tentu pengetahuan keprotestenannya mendalam, sebaliknya Jalal pun tak kalah mumpuni soal keislaman. Tapi akhirnya setelah enam bulan Ragil kalah argumentasi. Mau tak mau dia harus masuk Islam meski dengan resiko dijauhi gereja, teman, dan keluarganya.

Setelah masuk Islam, Ragil berubah seratus delapan puluh derajat. “Sekarang agenda terpenting saya adalah mengislamkan kembali orang-orang yang dulu saya kristenkan,” katanya. Bagi Ragil, misi Kristenisasi sangat berbahaya. Di sisi lain, Ragil juga mengkritik habis ajaran Kristen.

Menurut Ragil ada dua hal yang salag dalam Kristen. Pertama, Injil, kitab suci orang Kristen, tidak menjamin keselamatan bagi seseorang. Kedua, ajaran Nabi Isa dengan ajaran Kristen sekarang itu sangat berbeda. “Ajaran yang dipraktikkan umat Kristen adalah ajaran Paulus bukan ajaran Nabi Isa,” katanya.

Nabi Isa, menurut Ragil, mencontohkan umatnya untuk bersunat, tapi umat Kristen tidak ada yang mau bersunat. Nabi Isa sembahyang dengan besujud sampai ke tanah, sedang umat Kristen sekarang ibadahnya dengan bernyanyi-nyanyi. Nabi Isa mengajarkan umatnya untuk berdoa menengadahkan tanganya tapi mereka berdoa, malah, dengan tangan dilipat.

“Dalam Matius, ayat sebelas, Nabi Isa mengajarkan doa pada murid-muridnya, berdoa kepada bapak kami dengan menengadahkan tangannya ke atas, dan berdoalah demikian bapa kami di surga yang dikuduskan nama-Mu,” kutip Ragil.

Sementara itu, kritik pedas juga dilakukan Irene terhadap agama Katoliknya. “Tanggal 25 Desember yang dijadikan peringatan Hari Natal, hari kelahiran Nabi Isa, itu tidak benar,” tandas Irene. Dalam literatur sejarah yang dibaca Irene, diketahui bahwa tanggal itu merupakan hari pesta rakyat Romawi demi dewa Matahari.

Karena berharap rakyat mau mengikuti rajanya yang telah masuk Kristen, rakyat dibujuk untuk mengikutinya dengan berbagai toleransi. Secara panjang lebar Irene menjelaskan hal ini dalam bukunya: Hari Natal: Antara Dogma dan Toleransi.

Pendapat Irene ini tak ditampik oleh Romo Hariyanto SJ, pastur Katolik yang kini aktif dalam dialog antaragama. Menurut Hariyanto tanggal 25 Desember baru dipakai dan diperingati sebagai Hari Natal.

Bahkan, menurut dia, di kalangan bangsa Eropa Timur dan Rusia, Hari Natal dirayakan pada tanggal 6 Januari. Tanggal ini tidak berkait dengan kelahiran Jesus, namun berhubungan dengan cerita Yesus yang sesudah dilahirkan dikunjungi oleh tiga raja dari Timur.

“(Natal) dalam bahasa Yunani dikenal dengan bahasa efifania yaitu sesuatu yang diumumkan kepada publik, dan tidak dalam kontek kelahiran Yesus. Ini sudah lama diketahui oleh umat Kristen,” kata Hariyanto.

Bagi Hariyanto, persoalan Natal di mata umat Kristen tidaklah terlalu esensial. “Natal tanggal berapa pun tidak akan mengubah sistem dan keimanan yang ada dalam diri umat Kristen,” tambahnya. Menilai sikap Irene, Hariyanto berpendapat, orang seperti Irene akan selalu ada dalam sejarah dan terus berulang-ulang.

Apa yang dikatakan Hariyanto bukan isapan jempol belaka. Faktanya tak hanya orang Kristen atau Katolik yang masuk Islam yang mengorek keburukan agama lamanya, orang Islam yang masuk ke Kristen pun bertingkah sama.

Sebagaimana dikutip dari Media Dakwah edisi Agustus 2003, Yusuf Roni, pendeta yang sebelumnya beragama Islam, dalam sebuah ceramahnya di Gereja Maranatha, Surabaya, pada tanggal 13 September 1973 menelanjangi keburukan Islam.

Islam yang dikenal Yusuf Roni adalah Islam yang garang, penuh kebencian dengan agama lain. Di dalam al-Quran ada ayat “Asy-syida’u ‘ala al-kuffari, yang artinya, potong itu orang-orang Kristen,” kutip Yusuf. Tentu ini tafsiran versi Yusuf Roni.

Kepada Syir’ah, Yusuf mengaku, sebelum masuk Kristen dia sangat kuat memegang Islam. Dalam lingkungan keluarganya di Palembang, ia begitu keras dididik sejak kecil tentang keislaman. Di luar itu, saat belajar di Bandung, Yusuf Roni aktif menjadi pengurus di organisasi-organisasi Islam. Dia pernah menjabat ketua umum Serikat Pelajar Muslimin Indonesia cabang Bandung, ketua seksi pendidikan Partai Syarikat Islam Indonesia, dan ketua seksi dakwah Pemuda Muslimin Indonesia wilayah Jawa Barat.

Mengomentari ceramah Yusuf Roni, dosen pascasarjana Universitas Islam Negeri Jakarta, Zainun Kamal, menilai kalau dilihat tanpa analisa hanya dari sisi politik saja, kesan itu ada. Islam yang garang, penuh pertempuran dan seterusnya.

“Nabi (Muhammad) sewaktu menyebarkan Islam harus menghadapi berbagai pertempuran. Kala Nabi wafat, antara Muhajirin dan Ansor pun terjadi pertengkaran,” kata Zainun menjelaskan.

Namun inti ajaran Islam bukan di situ. Tak usah jauh-jauh, Islam dari bahasanya saja bermakna “damai”. “Dalam al-Quran sendiri dinyatakan, ketika mereka masuk kepadanya maka mereka berkata, ‘selamat’,” kata Zainun mengutip ayat 52 surat al-Dzariyat.

Zainun sendiri yang mengenal cukup dekat dengan Yusuf Roni, rektor Sekolah Tinggi Apostolos Jakarta, kini tak melihat dia melakukan hal yang demikian. Menurut Zainun, mungkin karena waktu itu Yusuf baru masuk Kristen sehingga bersikap keras dengan agama lamanya.

“Seperti suami-istri yang baru bercerai, pasti si suami atau istri akan mencela mantan istri atau suaminya,” kata Zainun mengumpamakan.

Sama dengan Yusuf, apa yang dilakukan oleh Irene dan Ragil mungkin juga hanya sekedar kekagetan saja. Hariyanto sendiri melihat, problem dari agama Kristen dan Islam sebagai agama dakwah atau misi memang terletak pada perebutan umat, dan ini menjadi masalah klasik yang tak kunjung usai.

Makanya, menurut Zainun, untuk menghindari konflik semacam itu antara Islam dan Kristen lebih baik kembali melihat pada agama induk. Kristen mengklaim Ibrahim adalah bapak mereka, umat Islam juga demikian, tak ketinggalan Yahudi pun mengakuinya. Islam, Kristen, dan Yahudi berasal dari satu sumber, yaitu agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim.

“Agama yang dibawa Ibrahim adalah dinul hanif, agama yang lurus,” terang Zainun.

Kalau tidak disadari, persaingan di antara Kristen dan Islam akan terus terjadi. Dan seharusnya dakwah atau misi, saran Zainun, dikembalikan pada makna sebenarnya, jangan dimaknai sebagai perekrutan umat sebanyak-banyaknya. “Tapi menggembleng umat berkualitas,” ujar Zainun.

Pada September 2004, tulisan ini pernah dimuat di majalah Syir'ah.

7 June 2004

Ada al-Hallaj di Balik Dhani Ahmad

Oleh Mujtaba Hamdi dan Imam Shofwan

Berbagai tudingan penghinaan agama menggempur Dhani Ahmad dan Dewa. Dhani tak memungkiri, inspirasi lirik-liriknya bermula dari wacana agama. Dhani bahkan menyukai tokoh-tokoh sufi kontroversial.

HARI masih pagi. Cuaca belum begitu panas. Tapi kabar panas sudah muncul di acara infotainment televisi swasta itu. Kamera menyorot tajam segurat wajah yang berucap dengan tegas, “Beberapa lirik dan gambar yang dipakai Dewa dalam kasetnya diambil dari syair aliran sesat di Timur Tengah.” Di layar, tampak subtitle Pertahanan Ideologi Syariat Islam (Perisai).

Sepertinya tidak main-main. Ridwan Saidi, sosok yang mewakili kelompok bernama Perisai tersebut, hari itu tengah melaporkan grup band Dewa ke Kejaksaan Agung. Ridwan seorang budayawan dan tokoh Betawi. Ridwan juga suka politik. Di masa Orde Baru, Ridwan sempat menclok di Partai Persatuan Pembangunan (PPP), lalu pindah ke Golongan Karya (Golkar), kemudian mendirikan Masyumi Baru. Di Era Reformasi, saat Partai Masyumi tak lolos electoral treshold, Ridwan kembali ke PPP.

Ridwan menilai gambar di sampul album Dewa serta lirik-lirik bikinan Dhani mengandung muatan ajaran sesat. “Tidak hanya yang ada di album Laskar Cinta, tetapi juga di album Dewa sebelumnya, Mistikus Cinta.” Mungkin yang dimaksud Ridwan adalah album Cintailah Cinta. Mistikus Cinta merupakan salah satu judul lagu di album ini.

Akhir April itu, sembari menenteng sampul kaset dan CD Dewa, Ridwan menyatakan, ada banyak lirik lagu Dewa yang diambil dari syair sesat, di antaranya Satu dan Nonsense. Tak pasti benar apakah Ridwan pernah menyimak lagu-lagu itu. Ridwan bisa menganggap syair lagu Satu, misalnya, sesat barangkali lantaran di sampul album Laskar Cinta, di bawah teks lirik Satu, terpampang kalimat “thanks to Al-Hallaj”. Al-Hallaj tokoh yang kontroversial dalam sejarah ajaran Islam.

Sungguh sebuah penghujung April yang tak bersahabat buat Dhani Ahmad Prasetyo.

Dhani, dalam tulisannya di sebuah koran, tak menyebut nama al-Hallaj ketika menyinggung lirik Satu. Dalam tulisan itu, Dhani menuturkan bahwa lirik-liriknya memuat dengan kental luapan cinta kepada Sang Khalik. “Apresiasi akan sebuah hadis Rasulullah riwayat Imam Bukhari, juga telah mendorong penulis untuk menulis lirik lagu Satu,” tulis Dhani. Dhani sama sekali tak menyinggung al-Hallaj, bahkan di seluruh tulisan yang merupakan klarifikasi atas berbagai pemberitaan itu.

Namun, di satu kesempatan, Dhani terus terang mengagumi sosok bernama al-Hallaj. “Saya itu penggemar sufi. Bisa dibilang, saya juga penggemar al-Hallaj.”



DI SEBUAH ruangan 19Production, kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, Dhani tampak tak jenak. Sebentar-sebentar handphone-nya berbunyi. Dan Dhani harus menjawab suara di seberang sana. Dhani kadang mondar-mandir, keluar masuk ruangan. Dia harus menghubungi seseorang melalui pesawat telepon di ruang sebelah. Raut muka lelaki kelahiran Jakarta, 26 Mei 1972, ini tampak masih menyiratkan beban. Dari tujuh album yang dilahirkan Dewa, baru kali ini Dhani mendapat hujatan keras dari kelompok Islam. Penempatan logo dibilang melecehkan Allah. Lirik dinilai sesat.

Di album-album awal, Dhani tak pernah menghadapi masalah seperti ini. Seperti band-band lainnya, Dhani pun lebih sering membesut lagu-lagu cinta, lirik-lirik kasmaran. “Awal-awalnya inspirasi saya wanita, tapi lama-lama itu habis,” tutur Dhani. Dhani mau tak mau harus cari inspirasi baru, jika tak ingin kreasinya macet, yang kalau terus-terusan bisa membuat Dewa vacuum dan itu artinya rezeki seret, tak hanya bagi dia sendiri, tapi juga seluruh personil band-nya. Bisa gawat.

Akhirnya Dhani menggali-gali berbagai bahan, terutama buku. Dhani berkenalan dengan karya-karya Kahlil Gibran, si penyair dua teluk, juga buku-buku keagamaan. Dari buku, Dhani bergumul dengan tokoh-tokoh semacam Jalalluddin Rumi, Syeikh Abdul Qodir al-Jailani, Ibnul Arabi, al-Hallaj, Bayazid al-Bustami. Dhani juga membaca buku-buku tentang Syeikh Siti Jenar—yang waktu itu mulai bertebaran setelah Orde Baru tumbang.

Dhani semakin tahu bahwa ajaran-ajaran agama memiliki pecahan-pecahan yang banyak. Dan, aha, Dhani mendapat inspirasi. Kata sebuah hadis, umat akan terpecah-pecah. Kaum Majusi menjadi 71 aliran, Nasrani jadi 72 aliran, sedangkan umat Islam terpencar 73 aliran. Dhani mengelola inspirasi itu menjadi ide, dan lahirlah Kuldesak.

“Lagu itu merupakan doa saya, supaya saya tidak salah aliran. Makanya dalam liriknya ada: tunjukkan jalan yang benar agar tak tersesat dipersimpang jalan.”

Doa itu tampak pada bagian refrein: Tolonglah Tuhan beri petunjukMu/Jalan yang benar menuju jalanMu/Agar tak tersesat di persimpangan jalan. Lagu ini menjadi theme song sebuah film layar lebar produksi 1998 berjudul sama: Kuldesak. Awal 1999, Dhani mengemas lagi lagu ini bersama sejumlah lagu lain dalam album duet dengan Andra Ramadhan, rekannya di Dewa. Dalam album itu pula, Dhani membikin lirik Kembali ke Timur yang menyebut-nyebut nama al-Ghazali.

“Di luar negeri, nama al-Ghazali sangat terkenal. Bahkan kalau kita belajar filsafat, al-Ghazali itu adalah salah satu pokok mata kuliah. Karena itu nama al-Ghazali saya masukkan dalam lirik lagu. Saya merasa penting itu.”

Nama al-Ghazali mungkin sudah begitu membekas di hati Dhani. Sampai-sampai, putra pertamanya, dia namai Ahmad al-Ghazali. “Itu juga nama yang keren. Nama yang tidak lokal, tapi internasional.”

Bulan berlalu, tahun berganti. Dhani resah kembali. Unsur-unsur keagamaan yang dia masukkan dalam lirik dia rasakan kurang dalam. Wacana-wacananya masih terlalu syariat Dan Dhani mengalami perubahan wacana ketika bertemu seorang mursyid, guru spiritual, di akhir 2000. Dhani enggan menyebut nama si mursyid. “Mursyid saya tidak punya murid lain selain saya. Artinya, dia tidak membuka padepokan. Saya bisa dibilang murid satu-satunya.”

Dhani semakin tergila-gila dengan tasawuf. Ia merasa mendapat hawa baru. Tapi Dhani lebih suka disebut penggemar sufi ketimbang pelaku. “Saya rasa, saya belum pantes kalau dibilang nyufi. Kalaupun jalan menuju sana, iya. Tapi kalau dibilang nyufi, masih jauh.”

Barangkali tak terlalu penting, penggemar atau pelaku. Yang pasti, dunia sufi telah mengilhami Dhani mencipta lagu-lagu. Saat Dhani terpesona oleh Rabiah al-Adawiah, seorang sufi perempuan legendaris, Dhani menelorkan Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada. Lagu ini dilantunkan penyanyi senior Chrisye. Kala kepincut dengan Al-Hallaj, Dhani melahirkan Satu. “Mau tidak mau, dia (al-Hallaj) adalah tokoh sufi juga ya,” kata Dhani. “Dan keberanian dia itu menginspirasikan saya untuk menulis lagu Satu itu.”

Dunia spiritual ternyata tak hanya menginspirasikan satu-dua lagu, tapi hampir satu album. Dhani merasakan itu dalam album Dewa yang ketujuh: Laskar Cinta. “Karena memang otak saya lagi dipenuhi dengan Tuhan,” kata putra pasangan Eddy Abdul Manaf dan Joyce Theresia Pamela ini. Bahkan, Dhani merasakan penuangan pikirannya menjadi lirik lagu belum maksimal. “Lirik-lirik yang ada di Laskar Cinta itu tidak ada apa-apanya dengan apa yang ada diotak saya, karena enggak semuanya bisa dituangkan dalam sebuah lagu.”

Album Laskar Cinta barangkali memiliki makna yang sangat dalam buat Dhani. Sampai-sampai, seluruh tembok di ruangan 19Production ini dicat dengan warna merah hitam, dan di sana-sini dipoles dengan bintang bersudut delapan—sebuah citra yang menjadi logo resmi Laskar Cinta. Tapi album ini pula yang membuat Dhani banyak berurusan dengan tudingan pelecehan agama.

Dan lihat itu lagi. Seorang staf Dhani datang membawa logo Laskar Cinta yang baru. Dhani mendapat desakan untuk menggantinya, sebab logo yang lama mirip lafaz Allah.

“Yang lama mana?”

Staf hanya menjawab kalau yang lama sudah dihancurin.

“Wah, bahaya ini kalau ketahuan FPI. Menghancurkan nama Allah.” Dhani bercanda.

Dhani langsung memijit-mijit nomor telepon. Kepada suara di seberang sana, Dhani memastikan apakah benar logo lama sudah dimusnahkan. Suara di seberang mengiyakan. Dhani akhirnya berpesan.

“Jangan sampai FPI tahu, kalau menghancurkan nama Allah.” Dhani bercanda lagi.



TANGGAL 22 November 2004, album Laskar Cinta diluncurkan. Nyaris tak ada wartawan yang tanya soal bintang segi delapan di kulit kaset. Di Avenue Hotel Sari Pan Pacific itu, kebanyakan wartawan mengorek informasi soal kualitas musik yang ditawarkan. Ada jurnalis yang menanyakan kualitas lirik.

“Lirik kami tidak ngepop-ngepop amat,” jawab Dhani. “Bahkan kami memasukkan lirik-lirik idealis yang teramat tidak komersial.”

Tiba-tiba ada jurnalis lain yang tanya soal tipografi yang mirip Arab yang berada persis di atas bintang segi delapan. Sembari tersenyum, Dhani menjawab kalau itu cuma estetika saja. Huruf mirip kaligrafi Arab itu bunyinya “Laskar Cinta”.

Dan memang, kalau Anda lihat sampul tersebut, jangan baca huruf kearab-araban itu dari kanan ke kiri. Pasti tak terbaca. Sebaliknya, bacalah dari kiri ke kanan, akan tampak bahwa itu cuma gaya-gayaan penulisan Laskar Cinta.

Tak ada jurnalis yang tanya soal bintang segi delapan.

Berbulan-bulan, Dhani tak menerima komplain apa pun soal logo album barunya. Karena Dhani suka, logo itu pun ia tempelkan ke berbagai benda: di tembok studionya, di alat-alat musik, dan sudah barang tentu di merchandise-merchandise Dewa yang bisa dibeli dan dinikmati penggemar.

Hingga tibalah Minggu malam yang nahas, 10 April, itu. Dhani dan semua personil Dewa tampil semangat dalam acara Eksklusif Trans TV. Setting panggung tampak cerah, dengan tata lampu yang terdesain indah. Logo Laskar Cinta dengan bintang segi delapan kesukaan Dhani pun terpantul di mana-mana. Termasuk di lantai utama, tempat si vokalis, Once, mempertunjukkan aksi dan suara emasnya.

Tanpa sepengetahuan Dhani, ada seorang ustad bernama Wahfiudin yang sedang menonton konsernya melalui televisi. Wahfiudin kaget begitu melihat bintang segi delapan itu. Ia tahu bahwa bintang segi delapan itu merupakan kaligrafi lafaz Allah. Wahfiudin segera menelepon TransTV, dan memberitahu bahwa logo yang ada di lantai itu kaligrafi lafaz Allah. Wahfiudin sempat menyarankan agar konser Dewa itu ditutup.

Selepas show, pihak Trans TV mempertemukan Dhani dengan Wahfiudin. Terjadilah dialog singkat. Wahfiudin menunjukkan logo bintang delapan warna hitam yang ada buku The Cultural Atlas of Islam karya Prof Dr Ismail Raj’i al-Faruqi. Wahfiudin menegaskan kepada Dhani, logonya nyata-nyata merupakan kaligrafi lafaz Allah.

Dhani bilang tidak sama, dia sudah memodifikasi. Tapi Dhani menyatakan maaf atas ketidaktahuan tim panggung, dan toh panggung itu sendiri sudah ditutup kain hitam.

Wahfiudin merasa Dhani tidak mau mendengar kata-katanya. Di akhir dialog, Wahfiudin sempat berpesan agar Dhani berhati-hati, sebab nanti kalau berhadapan dengan Islam “garis keras”, Dhani bisa kena masalah.

Saat itu, Dhani barangkali tak mengerti maksud pesan Wahfiudin. Tahu-tahu, keesokan harinya, nama Dhani terpampang di berbagai milis di Internet dengan huruf kapital: DHANI DEWA ISRAEL MENGINJAK-INJAK ALLAH. Posting ini dibuka dengan kalimat berikut: Sekilas judul di atas provokatif sekali, tapi bukan itu maksud saya. Lalu, si “saya” menceritakan kronologis dia menyaksikan konser Dewa di TransTV , kemudian perjalanannya menelpon hingga bertemu dengan Dhani di studio TransTV. Di akhir posting, tertera satu nama: Wahfiudin.

Dhani belum bereaksi. Dhani baru bergerak ketika harian Republika memberitakan peristiwa dialog dia dengan Wahfiudin sebanyak dua kali, yang disertai komentar-komentar yang membuat Dhani merasa terpojok. Dhani membuat sebuah tulisan dengan judul Oase Bernama Laskar Cinta.

Di tulisan itu, Dhani tak hanya mengklarifikasi soal bintang segi delapan, melainkan juga lirik-lirik lagunya. Dhani pertama-tama minta maaf atas kealpaan tim panggung TransTV menaruh logo bintang tersebut sebagai alas. Dhani kemudian menjelaskan, tak mungkin ia sengaja melecehkan Islam, agama sendiri, melecehkan agama lain saja tidak berani. Dhani pun menunjukkan, lirik-lirik ciptaannya justru mengajak pada cinta kepada Allah.

Dhani menyebut lirik Pangeran Cinta yang, menurutnya, mencerminkan ayat 27 Surat al-Rahman (55). Ayat ini berbunyi, Siapa yang masih tinggal dan eksis di saat semua ciptaan musnah, bukankah Dia Allah yang Hayyun Qayyuum.

Ayat ini sering dirujuk kaum sufi yang menyukai pernyataan la wujuda illallah, tiada wujud kecuali Allah. Para ahli sejarah tasawuf mengkategorikan sufi model ini sebagai kelompok Wujudiyyah.

Dhani juga menunjukkan, lambang bintang segi delapan justru dia pakai untuk memenuhi harapan besar tersebarnya kasih sayang Allah. Segi delapan melambangkan delapan penjuru mata angin, yang menyiratkan makna seperti dalam al-Baqarah (2) ayat 115, yakni ke mana saja engkau berpaling, di sana ada wajah-Nya. Ayat ini pun populer di kalangan pengagum tasawuf.

Klarifikasi panjang lebar tersebut tak membuat kontroversi terhenti. Front Pembela Islam (FPI) yang diketuai Habib Rizieq Shihab tetap meminta Dewa mencabut cover Laskar Cinta. Habib Rizieq menilai, Dewa tak pantas menggunakan logo tersebut, karena Dewa tak tampil Islami.

Dhani tak kurang akal. Ia menghubungi dan mengunjungi tokoh-tokoh agama, di antaranya M Quraish Shihab dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dari Quraish Shihab, Dhani mendapat jawaban melegakan. Menurut Quraish, lambang asli (seperti dalam buku The Cultural Atlas—Red) bukanlah lambang yang baku dan populer. Ia hanya dipahami bagi mereka yang tahu kaligrafi. Sedangkan lambang Dhani, yang merupakan hasil modifikasi, menurut Quraish tak lagi mencerminkan kata “Allah”.

Sementara dari Gus Dur, saat dikunjungi Dhani di kantor PBNU, Dhani mendapat pernyataan pendek, “Habib Rizieq tidak bisa berbicara atas nama umat. Pusing-pusing amat.”

Tapi, gempuran terhadap Dhani bukannya surut. Keesokan hari, banyak teror SMS yang mampir di handphone Dhani, di antaranya berbunyi: Jgnkan 1 Gus Dur 1000 Gus Dur pun yg bela Dewa, tetap ana lawan. Ana tidak cari popularitas, FPI sdh ngetop kok.

Beberapa hari setelah itu, entah dengan pertimbangan apa, Dhani memutuskan untuk mengganti logo sampul. Di sebuah tayangan infotainment, setelah Dhani mengabarkan bakal mencetak logo baru, Dhani punya pesan komersial, “Supaya kaset itu cepet diganti dengan lambang baru, masyarakat harus membelinya supaya habis semua itu kaset.”



SAAT Syir’ah menemui Dhani, sehari sebelumnya Dhani memenuhi panggilan Polda Metro Jaya.

Siang itu, Syir’ah mendapat banyak cerita dari Dhani, di antaranya soal kekagumannya terhadap banyak tokoh sufi. Dhani tidak kuatir dicap sesat mengagumi al-Hallaj, meski al-Hallaj mati dipancung karena dianggap sesat. “Begini ya, begini,” kata Dhani. “Al-Hallaj itu hidup di zaman Bani Abbasiyyah ya. Apakah yang dilakukan oleh Bani Abbasiyyah membunuh, memenggal al-Hallaj, apakah itu sebuah sunnah Rasul?”

Dhani pandai melempar pertanyaan balik rupanya. Di luar, orang menyebut-nyebut ajaran yang dikagumi Dhani itu sejenis dengan yang dianut Syeikh Siti Djenar. Dhani menaggapi enteng saja. “Saya enggak pernah merasa sebesar Syeikh Siti Djenar. Kok orang pada ribut, paling saya sebesar Jenar Mahesa Ayu.”

Jenar Mahesa Ayu bukanlah seorang wali. Ia seorang cerpenis yang suka bikin cerita tentang seksualitas.

Lha, kalau Dhani tak takut mengagumi al-Hallaj, tak jeri dicap sesat, kenapa Dhani ganti cover? Apa Dhani takut gertakan FPI?

“Sing waras ngalah lah,” ujar Dhani dengan logat Suroboyoan. Yang sehat akal, mengalah. Dhani merasa tetap tak salah menggunakan logo semula. Ia mengacu pada MUI yang tetap tak mempermasalahkan. Tapi, Dhani berpikiran, jika tetap kekeuh, ia merasa tak ada bedanya dengan FPI. Jadi, dia memilih mengganti logo dan, tentu saja, meminta agar masyarakat cepat-cepat membeli kasetnya.

Saat memenuhi panggilan Polda Metro Jaya kemarin, Dhani tak lupa juga bersiasat. “Aku sengaja, aku sengaja anak-anakku tak kasih logo kayak FPI itu. Itu kan meaning-nya dalem.” Dhani memang mengajak ketiga anaknya ke kantor Polda. Mereka memakai kostum mirip FPI, baju putih-putih dengan kopiah putih pula. Tapi, apa maksudnya, Dhan?

“Ya anak-anak kecil kayak gini yang pantes pake gitu-gitu. Itu kan pesennya dalem.”*

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Syir’atuna [Laporan Utama] Syir’ah No. 43/Juni 2004

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...