14 February 2013

Valentine

Hi,

Dua minggu yang lalu ada teman di kantor yang berkata bahwa dia harus pulang lebih sore karena holiday esok harinya. “Holiday apa?” saya bertanya.


“Valentine's Day!” dia membalas. Saya tertawa. Teman saya, Kimberly (atau Kim), punya dua anak yang masih bersekolah SD. Dua-duanya anak perempuan dan Kim harus pulang lebih awal supaya bisa membantu membuat kartu, kue, dan persiapan lain untuk pesta Valentine yang akan diadakan di sekolah.

Kim adalah salah satu bintang di Department Media and Public Affairs kami. Dia sangat pintar dan sangat baik hati juga. Dulu dia mendapatkan PhD-nya di department Ilmu Politik di Universitas Michigan, dan menulis tentang media dan opini publik. Bagi Kim ada tantangan menyeimbangkan urusan pekerjaan dengan urusan rumah, tetapi dua-duanya dilakukan dengan baik. Dua anaknya, Elly dan Willa, sangat pintar seperti ibunya.

Untuk anak SD di Amerika, Valentine's Day adalah salah satu holiday yang cukup besar dan penting. Biasanya anak-anak membuat kartu untuk para siswa lain. Kartu Valentine untuk anak-anak sekolah bisa dibeli dalam paket (24 atu 30), atau bisa dibuat sendiri. Di sekolah ada pesta dan semua murid saling menukar kartu Valentine. Tidak ada pesan pribadi, cuma nama si pengirim. Biasanya para ibu membuat kue Valentine -- tentu saja dengan icing merah muda -- untuk pesta sekolah itu.

Saya masih ingat Valentine's Day waktu saya kecil. Ibu membelikan paket yang terdiri dari kertas merah, doilies (semacam renda kertas putih), glitter, dan hearts dibuat dari kertas emas dan perak. Dengan gunting dan lem, saya membuat kartu untuk teman-teman sekolah, ayah, ibu, dan adik saya. Juga saya kirim lewat pos kepada paman dan bibi.

Saya juga mendapat kartu dari ayah dan ibu. Ada permen istimewa berbentuk hati, dengan tulisan Be Mine, Be My Valentine, dan sebagainya. Permen itu manis sekali (kebanyakan isinya gula!) tetapi sangat disukai anak-anak. Biasanya ayah memberi bunga-bunga atau cokelat kepada ibu. Ada kotak cokelat namanya Whitman's sampler, dengan banyak macamnya di dalam. Ibu selalu membagi cokelat itu dengan kami sesudah makan malam sebagai dessert.

Biasanya sesudah anak-anak masuk SMP, perayaan resmi Valentine's Day berhenti. Kadang-kadang seorang laki-laki atau perempuan secara individu memberi Valentine kepada teman sekolah, atau seorang akan mendapatkan Valentine dari pengagum gelap.  Saya tidak pernah mendapatkan Valentine seperti itu, tetapi setiap tahun ada kartu Valentine dari ayah dan ibu.
Kemarin, waktu saya membaca bahwa Majelis Ulama Indonesia melarang perayaan Valentine's Day, saya merasa sedih. Mungkin mereka tidak sungguh-sungguh mengerti artinya Valentine's Day.

Valentines Day tidak terkait dengan agama sama sekali. Ada kesempatan untuk memberi ucapan cinta atau kasih sayang kepada orang lain. Teman saya Kim, misalnya, membawa kue untuk teman-teman di departemen kami! Lucu juga melihat puluhan dosen makan heart-shaped cookies dengan icing merah yang dibuat untuk anak-anaknya.

Seumur hidup, ibu saya mengirim kartu Valentine kepada saya. Saya masih menyimpan salah satu yang dikirim dua tahun yang lalu. Tertulis “Selamat hari Valentine, semoga hatimu akan berbahagia hari ini dan selalu. Lots of love, Mother.”

Kali ini ini saya merasa sedih. Saya tahu tidak ada Valentine yang akan datang dari ibu, karena dia meninggal tiga bulan yang lalu. Tetapi tahun ini ada kejutan --ada email dari seorang teman lama. Ternyata dia menduga bahwa saya akan merasa sedih. Dia menulis “Happy Valentine's Day!  Saya kira kamu tidak terlalu sentimental, tetapi hey, hari ini adalah Valentine's Day, dan kamu seorang yang sangat istimewa dalam kehidupan saya. Itulah dia!”  Saya sangat terharu.

Mungkin sebuah Valentine seperti itu yang tidak diduga-duga ada yang paling enak diterima. Salam hangat dan sampai minggu depan.

Janet

20 January 2013

Chairul Saleh: Si Bengal Dari Lubuk Jantan

Berasal dari keluarga menak Minang. Ayah dan ibunya bercerai. Ia suka sa­bung ayam namun tak suka adat Minang yang meno­morduakan laki-laki. Cintanya pada Zus Yo membawanya ke Batavia. Bung Karno dan Bung Hatta menandatangani prok­lamasi mewakili bangsa Indonesia karena usahanya.

Chairul Saleh tak lama bersama-sama ibunya yang cantik bermata binar dan ayahnya yang dokter di Sawah Lunto. Usia dua tahun ayah dan ibunya memutuskan pisah. Chairul ikut ibunya ke Lintau. Di Lintau Zubaidah binti Ahmad Marzuki sakit-sakitan, dan jadi pendiam, Chairul ikut ibunya hingga usia 4 tahun dan ia lantas diasuh uwaknya Suleiman Rajo Mudo di Lubuk Jantan pada 1920. Ayahnya Achmad Shaleh membina keluarga baru dengan Nurisam dan tugas di Medan.

Tanpa diawasi orang tua, Chairul main suka-suka, ia suka mengadu ayam jago. Jagoan kecil ini pandai berka­wan dan dia bisa bermain kapan saja dan di mana saja dia suka. Hal ini berlangsung hingga empat tahun, saat ayahnya memintanya pindah dari kampung ke kota Medan. Ia lantas dimasukkan ke Europese Lagere School (se­macam SD).

Di Lintau dia bisa berbuat sesukanya namun tidak di Medan. Ada banyak peraturan di kota, ia harus bisa sopan santun plus bahasa Belanda.

Suatu ketika ayahnya pulang kerja dan dia ditanya apa sudah makan. Chairul menjawab, “ik niet…ik mag niet”  dan dia tak boleh bilang itu, jawabnya mustinya “nog niet.” bukan “tidak boleh” namun “belum.” Ia lantas mengulang-ulang nog niet dan dalam waktu tak lama ia mampu berdialog Belanda.

Chairul kecil tak nyaman di rumah Medan. Di samping banyak aturan dia sering mendengar ibunya digun­jingkan, ia juga tak suka budaya Minang yang mendidik laki-laki menjadi tidak jantan. Hal ini ditutup dengan kelembutan Nurisam yang tak membedakan Chairul dengan anak-anak kandungnya. Ia mendongeng untuk semuanya ketika anak-anak hendak tidur.

Ada satu hal yang tak dilupakan dalam keluarga ini ketika Chairul kecil. Suatu musim hujan ia mengingini buah pepaya masak di pekarangan rumahnya. Ia tak diperbolehkan memanjatkan karena bajunya akan kotor. Chairul tak kehabisan akal, ia memanjat dengan telanjang bulat. Kejadian ini diketahui oleh ayahnya saat bangun dari tidur siang. Pantatnya dicambuk dengan kembang sepatu hingga merah biru seperti habis dikerok.

Walau dikenal keras hati dan melakukan apa saja yang dia ingini namun di mata adik-adiknya Chairul adalah kakak pelindung. Ia tak mau adik-adiknya diperlakukan keras seperti dia. Suatu ketika dia bilang pada ayahnya, “dulu kami begitu takut padamu, kayak lihat harimau! Hafidz (salah satu adiknya) jangan Papa hajar seperti saya ya, Pa?”

Chairul saleh pindah Euro­pese Largere School di Bukit Tinggi saat ayahnya pindah tugas. Bangunan sekolah ini ada di dekat jam gadang. Di sini ia sudah tidak dikeloni mamanya. Dia tak suka de­ngan anak-anak Belanda dan sering berkelahi dengan me­reka. Lulus dari ELS ia pindah ke Hoge Burgerlijke School (HBS) di Pasti Alam, Medan. Ia masih menunjukkan sayang pada adik-adiknya saat re­maja. Ia kasih kopernya buat Hafidz dan juga beri minyak rambut paling keren saat itu Stacomb.

Di buku Chairul Saleh Tokoh Kontoversial karya Irna H.N. Hadi Soewito, menulis Chairul remaja suka mengerjai adiknya, salah satu yang paling diingat Ayi (salah satu adiknya) adalah saat Chairul bangun tidur. Ia meminta Ayi beli makan:

“Tolong dong Yi beli nasi,”
“Mana uangnya?”
“Di kantong”
“Di kantong mana?”
“Ya di situ.” Ayi lantas merogoh kantong dan merasakan sesuatu yang aneh.
“Hai ini apa?” Tanya Ayi ingin tahu.
“Oh, itu kalau pilek, taruh hidung.”

Ayi lantas mendekatkan barang itu ke hidung. “Ditaruh begini,” kata Ayi sembari mendekatkan ke hidungnya. “Jangan! Jangan!” Kata Chai­rul. Setelah beberapa tahun Ayi baru tahu kalau itu kon­dom.

Bila libur tiba Chairul pulang ke Bukittinggi, ia suka menghabiskan waktu berenang di sungai Tabang. Ia suka saat seperti itu karena banyak pelajar yang belajar di Jawa juga pulang. Salah satunya adalah Yohana Siti Menara Saidah, gadis manis putri Tuan Lanjumin Datuk Tumanggung dengan Masnin. Gadis ini sekolah di Batavia.

Perkenalan dengan Yohana ini bikin Chairul tak bergairah sekolah di Medan, ia lantas pindah ke Batavia di sekolah Koning Willem Drie (KW III) atau HBS 5 tahun, di jalan Salemba.
Ia hanya punya tiga stel pakaian namun selalu rapi dan memakai sepeda butut namun di mata perempuan dia adalah sosok yang menarik, kecuali tubuhnya yang gemuk, bibir tebal dan mata sedikit juling.

Di Batavia hubungannya dengan Yohana semakin lengket. Namun tak direstui orang tua Yohana. Orang tua Yohana bilang kalau keluarga Chairul punya penyakit jiwa keturunan. Belakangan diketahui masalahnya adalah persaingan dua keluarga ini memperebutkan posisi anggota Volksraad. Ceritanya, dokter Saleh yang nasionalis dicalonkan sebagai anggota namun yang jadi Datuk Tumenggung.

Pada 1940 Chairul dan Zus Yo, sapaan akrab Yohana, berbulat tekat untuk menikah. Mereka melangsungkannya di rumah uwaknya Datuk Sulai­man Rajo Mudo di Lubuk Jantan. Tak seorang sauda­ranya yang datang. Saat itu papanya sedang sakit.

Sejak saat itu dia ia tak lagi dapat kiriman uang dari ayahnya. Untuk kebutuhan sehari-hari ia mengandalkan kiriman dari kakeknya dan adik papanya. Pengalaman pahit masa kanak-kanak menjadikannya berwatak keras dan teguh pendirian. Ia tampak jelas pada sikap-sikapnya saat dewasa.

Dari Teks Proklamasi Hingga Batas Laut

Saat Jepang kalah dari Sekutu, Chairul Saleh adalah tokoh pemuda yang sangat menonjol di angkatan 45. Dia bersama Sukarni adalah pa­sa­­ngan yang memegang pera­nan penting dalam penentuan jalannya proklamasi kemer­dekaan Indonesia. Chairul Saleh menggerakkan massa pemuda pelajar untuk mematangkan situasi, sedang Sukarni menggerakkan para perwira Peta untuk mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok. Otak penculikan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok adalah mereka berdua.

Sukarni dan Chairul me­na­warkan teks proklamasi sebagai berikut, “Bahwa de­ngan ini menyatakan kemer­dekaannya. Segala badan-badan pemerintah yang ada harus direbut oleh rakyat, dari orang-orang asing yang masih mempertahankannya.”

Teks ini tak memuaskan Sukarno-Hatta. Alasannya, mereka khawatir Jepang akan menghajar rakyat habis-habisan. Sayuti Malik yang mengetik naskah itu dan akhirnya teksnya menjadi:
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemer­dekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain dise­lenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Chairul dan Sukarni ingin perebutan total kemerdekaan oleh rakyat namun Soekarno mempertimbangkan reaksi Jepang bila hal itu dilakukan. Tak hanya soal paragraf proklamasi yang jadi perdebatan, namun juga siapa yang akan menandatangani teks proklamasi.

Untuk penandatanganan, Chairul Saleh, sesuai rapat sebelumnya di Manggarai menunjuk enam namauntuk menandatangani, namun rapat proklamasi menghendaki semua yang hadir untuk tandatangan. Sukarni kebe­ratan mencampurkan enam orang tadi dengan mere­ka yang namanya berhu­bungan denganJepang. Ia lantas meng­usulkan Sukarno-Hatta untuk menandatangani. Usul ini yang dipakai.

Chairul Saleh terkenal tak mau kompromi dengan prinsipnya. Saat konferensi meja bundar misalnya, ia tak sepakat dengan hasil konferensi ini yang dianggap merugikan Indonesia. Chairil lantas masuk hutan memimpin laskar rakyat berjuang melawan Republik Indonesia Serikat. Pada 1950 Chairul ditangkap kolonel Nasution dan dibuang ke Jerman. Di sana ia sekolah Fakultas Hukum Universitas Bonn di Jerman Barat 1952-1955. Di sini, ia menghimpun para pelajar Indonesia dan mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI). Ia pulang saat Bung Karno mengawali Demokrasi Ter­pim­pin.

Selama bersama Sukarno ia menduduki banyak jaba­tan, mulai menteri veteran, menteri perindustrian dasar dan pertambangan hingga wakil perdana menteri III. Ia juga pernah diangkat jadi ketua MPRS.
Prinsip negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut adalah idenya yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Prinsip ini disahkan internasional jadi hukum laut di Montego, Jamaika pada 1982, setelah Chairul Saleh meninggal dan memerlukan waktu 25 tahun. Ia tak mem­punyai keturunan bersama Zus Yo. ***

Dipublikasin di harian Haluan, Minggu, 20 Januari 2013.









9 December 2012

Past Crime in Aceh

By Imam Shofwan

If the Aceh bill is passed in Jakarta, lieutenant colonel Sudjono and his associates would probably have difficulties sleeping. The bill demands the establishment of a human right court and a truth and reconciliation commission in Aceh.

Such a system would have it that those understood as being involved in previous murders could finally be searched out and tried. If there is reconciliation, then they could possibly receive amnesty, so long as they are open and tell the truth about their former violations.

If Aceh is successful in trying the perpetrators of crimes against humanity, then at least in theory, Papua should also be able to find the murderers of roughly 100,000 Papuans since 1969, or even further still, the murderers of one, two or perhaps three million people who were killed on the island of Jawa in 1965-66.

Marzuki Darusman, a legialator with the Golkar Party and a member of the committee for the Draft Bill on the Government of Aceh, claims that the handling of the violations of human rights in Aceh cannot go on as it has:“the cases are beyond the mark and cannot handle by normal courts.”

There is yet another obstacle, “if the Acehnese understand peace as more important than the pursuit of these human rights cases,’ Marzuki notes.

Sudjono is Head of the Intelligence Section in Korem Liliwangsa at Lhokseumawe. On 19 July 1999, Sudjono led about 70 Indonesian soldiers in an ambush against a dayah (religion school) headed by Teungku Bantaqiah in Beutong Ateuh, West Aceh. The reason for the ambush was Bangaquah’s support for GAM, involvement in the black market for marijuana, stockpiling of weaponary, and his teaching of ”deviant philosophies.”

Read more..

17 November 2012

Suciwati Kunjungi Papua Untuk Melawan Lupa


Tak ada peringatan Tokoh sebesar Theys, Suciwati heran

Oleh: Angela Flassy

“Di sini makam Theys,” kata Suciwati saat melihat makam Dortheys
Hiyo Eluay. Makam di tengah kota Sentani, Kabupaten Jayapura itu tepat berada di gerbang keluar Bandara Sentani. Setiap orang yang datang dari arah Bandara Sentani pasti akan mengenalinya. Makam yang tepat berada di lapangan itu menghadap persis ke ke gerbang bandara Sentani, bandara terbesar di Papua.

“Belum ada yang datang?” Katanya sembari memperhatikan makam yang bersih terawat. Di atas makam terdapat dua krans bunga yang usang dan warnanya memudar. Suciwati, memanjatkan doa sejenak sebelum melanjutkan perjalanan.

Suciwati tiba di Jayapura, 11 November pagi untuk memperingati 11 tahun wafatnya ketua Presidium Dewan Papua (PDP), Dortheys Hiyo Eluay, atau yang dikenal dengan Theys Eluay. 

Theys meninggal 11 tahun lalu, tepatnya 10 November 2001, usai memenuhi undangan perayaan hari pahlawan di Markas Tribuana Kopassus, Argapura Hanurata, Jayapura. Saat hendak pulang ke rumahnya di Kota Sentani, 45 kilometer arah barat dari Kota Jayapura, mobilnya dicegat di Skyland lalu dicekik dalam mobil dan jasadnya dibuang ke Koya Tengah, 20 kilometer ke arah Timur dari Kota Jayapura.

Suciwati lalu melanjutkan perjanalan ke bekas markas Tribuana Kopassus, Argapura Hanurata, Jayapura. Rumah yang dikontrak Markas Tribuana masih ada, namun sudah dihuni oleh orang lain. Halaman depannya belum dibongkar.  Halaman parkir alat berat PT. Hanurata (HPH) yang 11 tahun lalu digunakan sebagai tempat dilaksanakannya perayaan hari Pahlawan, masih ada di sana.

“Acara diselenggarakan pada malam hari. Theys pulang bersama sopirnya, Aristoteles Masoka dan dicegat di Skyland. Aris melompat dari mobil dan kembali ke markas ini untuk melaporkan penculikan Theys. Sejak saat itu, Aris hilang hingga saat ini,” jelas Baguma dari KontraS Papua pada Suci di pelataran parkiran.

Suciwati lalu melanjutkan ke Skyland, tempat mobil Theys dihentikan dan Theys diculik. Disini terdapat tugu peringatan penculikan Theys yang ditandatangani Ketua Dewan Adat (DAP) Port Numbay, Herman Hamadi. Suci berhenti sejenak, lalu meneruskan perjalanan ke kantor KontraS Papua di Abepura untuk melakukan jumpa Pers.

Kepada wartawan, Suciwati menyatakan keheranannya. “Saya kaget, kok di Papua tidak ada solidaritas untuk mengenang pejuang keadilan Papua, almarhum Theys Eluay,” katanya. Baginya, baik Theys Eluay maupun Aristoteles, sama dengan suaminya Munir. Baginya mereka adalah tokoh penting dalam perjuangan keadilan dan HAM di Indonesia.

“Theys adalah tokoh penting yang memperjuangankan keadilan untuk masyarakat Papua yang mengalami penindasan yang luar biasa. Sama dengan suami saya. Sebab itu kematian mereka patut dikenang sebagai pejuang kemanusiaan,” katanya. 

Setiap 7 September, tanggal kematian Cak Munir, semua elemen masyarakat memperingati kematian Munir dengan cara-caranya masing-masing. Seniman melakukan pertunjukan seni, aktivis HAM membuat kaos bergambar wajah suaminya dan lain-lain demi mengkampanyekan penegakan keadilan, HAM dan tegaknya hukum di Indonesia. Suci menegaskan, "bahkan, beberapa kali peringatan kematiannya kami gelar demontrasi di markas BIN."

“Harusnya di Papua juga seperti itu, kita harus membangkitkan rasa solidaritas dan persatuan demi penegakkan hukum dan HAM. Jika kita diam, maka kita akan terus hidup dalam ancaman dan kekerasan,” tegasnya. Sebab sampai hari ini, meski rezim berganti rezim, tetapi wajah negara soal impunitas tetap tidak berubah. Bahkan pelaku-pelakunya hingga kini tetap bebas karena mendapat impunitas terhadap hukum plus promosi jabatan.

“Pelanggar-pelanggar HAM hingga kini tetap dilindungi oleh negara. Ini bukan persoalan Theys atau Munir, ini persoalan kita bersama dan harus dihentikan,” katanya. Solidaritas terus dibangun untuk mendesak pemerintah untuk menghentikan agar kedepan tidak jatuh lagi korban-korban kekerasan di Indonesia.

Dari ketujuh orang anggota Kopassus tersangka pembunuhan Theys, tidak sepenuhnya menjalani hukuman. Letkol Tri Hartomo, Komandan Kopassus di Jayapura, saat Theys tewas yang di hukum pemecatan dan 3,5 tahun penjara, kini adalah Komandan Sekolah Calon Perwira angkatan darat di Bandung. Mayor Doni Hutabarat, yang dihukum 2,5 tahun penjara karena mengundang Theys ke acara dan memata-matai Theys Eluay, kini berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai komandan Kodim Medan.

“Terima kasih untuk Mbak Suci yang mau jauh-jauh datang ke Papua untuk mengingatkan kami di sini dan melawan lupa. Terima kasih dan rasa hormat yang sebesar-besarnya untuk datang dan kembali mengingatkan dan menyegarkan ingatan kami tentang pentingnya sebuah advokasi yang dilakukan secara terus menerus,” kata Olga Hamadi, koordinator KontraS Papua. Baginya ini bisa dijadikan awal, untuk mengagendakan kembali semua kasus pelanggaran HAM di Papua, agar tidak ada satupun orang di Indonesia lupa dan negara mau mengakui dan memberi keadilan bagi setiap warganya yang dilanggar hak asasi manusianya.

“Masyarakat kita adalah masyarakat yang pemaaf dan pelupa. Itu yang harus dilawan. Mereka bisa membunuh Cak Munir, Theys yang menyuarakan kebenaran. Tapi mereka tidak bisa membunuh kebenaran,” kata Suciwati.

Setelah bertemu dengan wartawan lokal di Papua, Suciwati melanjutkan perjalanan ke lokasi tempat jasad Theys dibuang. Tak ada tanda, atau penanda lainnya membuat Suciwati dan rombongan harus bolak-balik mencari lokasi. Setelah bertanya dengan beberapa warga, akhirnya tempatnya ditemukan.

Lokasi sama seperti saat Theys ditemukan tak bernyawa. Diantara tingginya ilalang dan pohon pisang, dekat lokasi galian C di Koya Tengah, 20 kilometer ke arah timur Kota Jayapura.

Keesokan harinya, sebelum kembali ke Jakarta, Suciwati diundang bertemu dengan putra Theys Eluay, Boy Eluay di pendopo resmi Ondofolo, kepala suku besar, Suku Sentani, Sentani.

“Saya sudah lama mendengar dan mengikuti pemberitaan Cak Munir juga Ibu Suci. Saya kagum dengan konsistensi ibu untuk mendapatkan keadilan di Negara ini,” kata Boy Eluay, Putra Theys Eluay yang menerima kedatangan Suciwati di kediamannya, pagi itu.

Suciwati datang ke Jayapura membangun solidaritas sesama keluarga korban untuk bersama-sama melawan lupa. “Jika orang sebesar Theys, mereka mampu menghilangkan nyawanya, bagaimana dengan kita? Kita tidak ingin jika anak kita di masa yang akan datang menjadi korban kekerasan seperti ini!” Kata Suci.

Persoalan kemanusiaan, selalu menjadi kepedulian siapa saja. Untuk itu jangan sampai kasus kekerasan negara dibiarkan begitu saja, apa lagi dilupakan. Selama ini, Suciwati dikenal aktif melakukan aksi damai untuk penyelesaian kasus pembunuhan Munir. Salah satunya adalah “Aksi Kamisan,” aksi diam yang dilakukan setiap Kamis di depan Istana Negara oleh solidaritas keluarga korban penghilangan secara paksa oleh negara sejak 2007 hingga kini masih dilakukannya.

“Ada bagian yang bisa kita kerjakan sendiri, ada  bagian yang dikerjakan bersama-sama dengan teman-teman aktivis. Sudah saatnya keluarga korban melakukan aksi yang lebih terorganisir untuk penegakkan hukum dan HAM di Papua,” katanya.

Situasi di Papua, tak seperti di pulau lain di Indonesia. Di Papua, setiap kegiatan kemanusian, penegakkan Hukum dan HAM selalu diindentikkan dengan masalah politik dan makar. “Mereka membawa jubah yang sudah diukur. Ketika kami melakukan kegiatan ataupun aksi yang bersinggungan dengan kemanusiaan, mereka datang membawa jas yang sudah diukur dan mengenakannya kepada kami,” ujar Boy Eluay, putra sulung Alm. Theys Eluay. Stigma itu yang kemudian membuat keluarga korban berpikir dua kali jika berbicara soal penegakkan HAM secara terus menerus dan menuntut keadilan bagi mereka.

“Dukungan dari teman-teman di luar Papua sangat dibutuhkan, agar negara dapat meletakkan jubah-jubah itu,” kata Boy Eluay. Untuk itu Suci mengharapkan keluarga korban di Papua harus membangun solidaritas dan menjaga kemurnian perjuangan itu, dengan begitu tidak mudah terkena stigma dari aparat negara dan Boy setuju dengan itu.

“Pemerintah sudah saatnya tidak berjalan dengan mata terpejam dan nyenyak dengan mata terbuka. Saya respek dengan Ibu Suci dan berharap pertemuan ini akan melahirkan barisan yang lebih panjang untuk usaha penegakkan HAM di Papua,” ujar Boy.

Suciwati kembali ke Jakarta Senin siang (12/11). Suciwati berharap aksi solidaritas ini dapat berjalan terus dan ketakutan tidak merajalela hingga kekerasan dapat berhenti di Papua, “Sejak awal saya percaya bahwa nyawa itu milik Tuhan, jadi kenapa saya harus takut kepada pecundang? Saya justru takut di ruang-ruang kebenaran dan takut kalau kebenaran itu tidak pernah datang,” kata Suci sambil menegaskan ulang bahwa dirinya tak akan berhenti menuntut keadilan untuk Munir dan juga Theys Eluay.

11 November 2012

Ziarahi Makam Theys Elluay, Suciwati Tuntut Keadilan


 JAYAPURA, 11 November 2012 – Suciwati, isteri almarhum Munir Said Thalib, mendatangi makam Theys H. Eluay di Sentani serta bertemu keluarga Aristoteles Masoka, sopir Eluay, yang hilang usai melaporkan penculikan Eluay 11 tahun lalu.


“Apa yang dialami Theys Eluay dan Aristoteles Masoka sama dengan suami saya, Munir. Mereka dibunuh oleh orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Saya ingin kita semua berjuang bersama merebut keadilan. Jangan biarkan pelaku bebas berkeliaran,” kata Suciwati.  Perempuan yang pernah jadi aktivis buruh ini menyatakan suaminya diracun dalam penerbangan Garuda Indonesia, Jakarta-Amsterdam, pada 7 September 2004.

“Rezim ini tidak berubah karena penculikan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap pejuang hak asasi manusia terus terjadi. Sampai hari ini para penjahatnya masih bebas bahkan dipromosikan. Kita harus terus melawan dan katakan meski para pelaku itu membunuh Munir dan Theys ini tidak akan menghentikan kebenaran dan perjuangan yang telah dilakukan Theys dan Munir. Kita harus terus menolak kekerasan di bumi Indonesia!” Tandas Suciwati.

Suciwati datang ke Jayapura untuk memperingati hari pembunuhan Eluay, kepala suku dan ketua Presidium Dewan Papua, yang diculik dan dibunuh seusai memenuhi undangan perayaan hari pahlawan di Markas Tribuana Kopassus, Jayapura, 10 November 2001.

Saat hendak pulang menuju ke rumah keluarga Eluay di Sentani, dia dibunuh dalam mobilnya sendiri. Mulanya, komandan Kopassus di Jayapura, Letkol Sri Hartomo membantah terlibat pembunuhan Eluay. Namun tekanan nasional dan internasional membuat militer Indonesia terpaksa mengakui keterlibatan Kopassus dalam pembunuhan Eluay.

“Kami datang ke Papua bukan untuk menyatakan solidaritas atas korban-korban pelanggaran hak asasi manusia di Papua, namun juga mohon bantuan masyarakat Papua agar Mbak Suci didoakan agar dia juga bisa mendapat keadilan dalam kasus pembunuhan Cak Munir” kata Olga Hamadi, koordinator KontraS Papua yang mendampingi Suciwati selama di Papua.

Pada 21-23 April 2003, pengadilan militer Surabaya memvonis Letkol Tri Hartomo dan enam tentara Kopassus lain bersalah secara bersama-sama melakukan penganiayaan yang mengakibatkan kematian Theys Eluay. Mereka dihukum antara dua hingga 3.5 tahun penjara serta sebagian dipecat dari militer:

                Letkol  Tri Hartomo, komandan Kopassus di Jayapura (pemecatan, hukuman 3.5 tahun penjara);
                Mayor Doni Hutabarat (2.5 tahun penjara, mengundang Eluay hadir dalam acara Kopassus, ikut memata-matai Eluay);
                Kapten Rionaldo (3 tahun, melakukan penganiayaan terhadap Eluay, memata-matai Eluay);
                Letnan Satu Agus Supriyanto (3 tahun, penganiayaan, tidak hentikan Prajurit A. Zulfahmi saat mencekik Eluay);
                Sersan Satu Asrial (3 tahun, penganiayaan);
                Sersan Satu Laurensius Li (2 tahun, tak mencegah rekan-rekannya mencekik dan menganiaya Eluay;  
                Prajurit Kepala A. Zulfahmi (3 tahun, pemecatan, mencekik Eluay dalam mobil Toyota Kijang).

Sebulan sebelum pembunuhan, Tri Hartomo memerintahkan bawahannya “mengamankan” Theys Eluay. Di pengadilan, Hartomo mengaku bahwa dia memerintahkan anak buah untuk mencegah Eluay merayakan kemerdekaan Papua pada 1 Desember 2001. Mayor Doni Hutabarat memimpin team. Mereka menghentikan mobil Eluay di daerah Skyline, sekitar 20 menit dari Hamadi. Menurut kesaksian di Surabaya, Theys Eluay berteriak yang membuat A. Zulfahmi membungkam mulut Eluay dan “tak sengaja” membunuh Eluay.

Aristoteles Masoka sempat menelepon isteri Theys Eluay, Yaneke Ohee, di mana Masoka dikutip menelepon gugup dan tergesa-gesa, sebelum telepon mendadak mati: “Mama, Bapa diculik, saya akan pergi cek, karena mereka yang culik ….”

Almarhum Munir dari Kontras mengatakan, pembunuhan Theys Eluay ada kemungkinan terkait dengan sebuah dokumen bocor dari rapat di Departemen Dalam Negeri pada 8 Juni 2000 di mana dibicarakan soal bagaimana mengatasi tokoh-tokoh Papua, termasuk Theys Eluay, yang bicara soal merdeka. Peserta rapat termasuk datang dari Kopassus.  

Sekarang ternyata ketujuh orang tersebut tidak sepenuhnya menjalani hukuman yang ditimpakan pengadilan Surabaya. Ada kemungkinan mereka mendapat keringanan ketika banding di pengadilan militer Jakarta. Tri Hartomo bahkan naik pangkat, menjadi kolonel dan komandan Group I Kopassus di Serang. Hartomo baru dipindahkan dari Kopassus ketika Amerika Serikat hendak menjalin kerja sama militer dengan Kopassus pada Juli 2010. Kini Hartomo adalah komandan Sekolah Calon Perwira AD di Bandung. Doni Hutabarat kini berpangkat Letnan Kolonel dan bertugas sebagai Komandan Dandim Medan.

Kopassus tetap melakukan kegiatan mata-mata terhadap masyarakat sipil di Papua, termasuk membayar wartawan, guna mengawasi tokoh-tokoh sipil. Pada Agustus 2011, ratusan lembar dokumen Kopassus bocor, termasuk nama-nama wartawan, pegawai negeri, sopir rental, tukang ojek dan lainnya, yang bekerja untuk Kopassus.


Solidaritas Nasional untuk Papua (SNUP): Mengenai Pengadilan Pembunuhan Theys Eluay
Dokumen Militer Menyingkap Aksi Mata-mata di Papua:

30 October 2012

Tiga Wartawan Sulut Dianiaya


Ada Pelaku Pamer Senjata Api


Manado, MS
Aksi penganiayaan tiga wartawan asal Sulut di kawasan parkir CornerCafe, Kamis (25/10) pekan lalu ditengarai melibatkan oknum petugaspolisi.

Dari penelusuran Media Sulut, satu diantara belasan pelaku
pengeroyokan dinihari itu sempat mengeluarkan senjata api. "Ada satupelaku yang cabut pistol," aku Bryan Sondakh, wartawan media online Sulut yang ikut jadi korban. "Pelaku memukul kepala saya dengan gagangpistol itu," timpal Bryan.

Akibat pukulan dengan gagang senjata api itu, Bryan terkapar denganluka sobek di bagian ubun-ubun kepala.Tak sampai disitu, Bryan lantas diinjak-injak beberapa pelaku lainnya
hingga pingsan bersimbah darah.

Dua rekan Bryan masing-masing wartawan media cetak lokal Sulut masing-masing Risky Pogaga dan Hendra Lumanauw bahkan lebih parah.

Risky, wartawan biro Minahasa Utara (Minut)harian Media Sulut kinidirawat intensif di Rumah Sakit Siloam, Manado. Pukulan bertubi-tubiyang diterima mengakibatkan luka dan memar di sekujur tubuhnya. Riskymengalami patah tulang hidung, dan pendarahan otak akibat penganiayaantersebut. "Kiky (sapaan Risky, red) sempat pingsan hampir 10 jam," aku Stevy Sengke, istri tercinta yang setia menunggui Risky yang hingga kini masih terus dirawat intensif.

Sementara Hendra Lumanauw, wartawan biro Minut harian Koran Manadosempat dirawat di RSUP Prof Kandou Malalayang. Sama halnya denganRisky, Hendra juga mengalami luka dan memar di sekujur tubuh, serta luka sobek di bagian kepala.

Akar persoalan yang berujung aksi pengeroyokan tersebut diawali aksi salah satu pelaku yang mendatangi ketiga korban yang tengah menghabiskan waktu bersama di Corner Club. "Hey, kamu yang bajingan?" kata oknum yang belum diketahui identitasnya itu sebagaimana dituturkan Risky. Ia juga menarik kerah baju Risky. Merasa tidak melakukan kesalahan, Risky lantas mendorong pria tersebut.

Perselisihan itu langsung diamankan petugas keamanan Corner Club. Namun ternyata, para pelaku tak berhenti sampai disitu. Saat hendak pulang, ketiga wartawan itu dibuntuti. Ketika tiba di parkiran, para pelaku tanpa tendeng aling-aling langsung menghujami ketiganya dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi.

Joppy Pogaga, ayah Risky telah melaporkan peristiwa penganiayaan tersebut ke Mapolresta Manado. "Kami keluarga meminta agar pihak kepolisian secepatnya menangkap para pelaku penganiayaan," tutur Joppy. Namun hingga kini, identitas para pelaku yang menurut penuturan sejumlah saksi mata sekitar 10 hingga 12 orang itu, belum satupun berhasil teridentifikasi.

Aksi kekerasan yang dialami dua pekerja pers Sulut itu memicu reaksi keras dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado. Ketua AJI Manado, Yoseph Ikanubun secara terpisah mengutuk aksi penganiayaan tersebut.

Ia meminta agar aparat hukum secepatnya mengungkap dan menangkap para pelaku penganiayaan. "Kami minta agar kasus ini diusut tuntas. Para pelaku harus ditindak tegas sesuai hukum," lugas Yoseph
.
Menurut redaktur harian Metro itu, AJI Manado juga siap mengadvokasi kedua wartawan korban penganiayaan tersebut untuk mendapatkan keadilan. "AJI Manado pasti akan mengawal proses penanganan kasus ini," tandasnya.

Kapolresta Manado melalui Wakapolresta AKBP Anis Viktor
Brugman SIK saat dikonfirmasi membenarkan adanya tindakan penganiayaan terhadap dua oknum wartawan tersebut. "Sudah ada laporannya. Yang pasti akan kita tindak-lanjuti," papar Anis.

Motif Diduga Terkait Pemberitaan

Penganiayaan yang dialami ketiga wartawan tersebut memicu reaksi kecaman dari kalangan pekerja pers Sulut. "Harus diselidiki, jangan sampai aksi kekerasan ini motifnya karena pemberitaan," tegas Yoppie Worek, wartawan senior Sulut.

Pemimpin Redaksi harian Media Sulut, Rio Rumagit sendiri meminta agar pihak kepolisian mengungkap kasus kekerasan tersebut secara transparan dan profesional. "Hukum harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Jika memang ada aparat yang ikut terlibat, harus ditindak. Para pelaku harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya di depan hukum," paparnya.

"Kami percaya kasus ini akan diusut tuntas pihak kepolisian. Sebab setahu kami, Pak Kapolda (Sulut) sangat menghargai pers dan independensinya," timpal Rio.

Perihal dugaan keterkaitan aksi kekerasan tersebut dengan pemberitaan, Rio mengaku tak mau berandai-andai. "Biar proses hukum yang menjawab. Kita percayakan saja ke pihak kepolisian untuk mengungkap motifnya," pungkas Rio. (tim ms)

23 October 2012

End the violence against journalists In Papua


A statement issued by Pantau Foundation and Southeast Asian Press Alliance (SEAPA)

Jakarta (23 October 2012):- Police today attacked a journalist covering a rally organised by the West Papua National Committee (KNPB) in Manokwari in West Papua. Oktovianus Pogau, a reporter with Suara Papua and a contributor to the Yayasan Pantau, was beaten by five policemen while trying to take pictures of police use of excessive violence against the KNPB demonstrators in front of the State University of Papua, Manokwari. Pogau had displayed his press card, but some police did not stop the beating. He sustained injuries to his face.

The security forces had attempted to stop the rally but the KNPB activists went on with the demonstrations.

In Jayapura, police dispersed thousands of demonstrators using the water cannon and tear gas. In Manokwari, five people were reportedly shot but it is still not clear their conditions.

SEAPA's executive director Gayathry Venkiteswaran said: "We deplore the aggression used against the demonstrators and especially journalists, who are on duty. Papua has been a particularly difficult and dangerous place for the media and  such kinds of abuse will further deny the rights of the people to news and information."

She said SEAPA raised concerns about the violence against journalists in Papua and the restrictions placed on foreign journalists in its submission to the Human Rights Council on the occasion of Indonesia's Universal Periodic Review.

"The threats of impunity, of not bringing perpetrators of violence against media personnel to justice, is  problem that has pushed backs Indonesia's gains in media freedom in the last decade or so," she added.

In 2011, two journalists were killed in Papua, eight were kidnapped and 18 attacked. Foreign journalists are required to apply for special permits to enter and cover stories in Papua since Indonesia took over the administration of West Papua in 1963. Only three news organizations, including BBC, obtained the permits last year.

Pantau Foundation and the Southeast Asian Press Alliance condemn the attacks against the media, especially in Papua where activists, human rights defenders and journalists are frequently targeted for their work. Since October, two veteran human rights defenders, respectively from Wamena and Jayapura, have moved out of Papua due to serious threats against them.

We call on the police to:

1. Respect the rights of citizens to freedom of expression;
2. Ensure the safety of Oktovianus Pugao;
3. Stop all forms of violence against journalists;
4. Arrest and prosecute the perpetrators of violence.

We also call on the Indonesian government to:

1. Open up Papua to international journalists and human rights monitors; and
2. Guarantee the rights of all journalists working in West Papua  to ensure they can work free of violence, hindrance or intimidation from any members of the security forces

For Pantau Foundation: Imam Shofwan, Chairman
For SEAPA: Gayathry Venkiteswaran, Executive Director 

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...