21 November 2007

Blogger, Pluralisme dan Negara Indonesia

Oleh Imam Shofwan


Suatu Sabtu lalu, lebih dari 400 orang, kebanyakan lelaki umur 20an atau 30an tahun, memadati Mega Blitz, sebuah teater di daerah Kebon Kacang, Jakarta. Mereka banyak berpakaian blue jeans dan kaos, tapi ada juga beberapa oom-oom, rambut memutih, ikut datang. Acaranya, "pesta blogger" dengan talk show, diskusi, cekikik-cekakak plus makan siang. Antrian panjang tapi rapi serta diskusi muncul sana-sini. Para blogger ini juga saling sapa, ambil foto, ingin tahu siapa-siapa, yang mereka kenal dari blog walking.

Anehnya, dan ini biasa dalam peradaban masyarakat Jakarta, acara ini diberi label “pertemuan nasional." Pesertanya, diklaim datang dari Kuala Lumpur, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Makassar, Mataram plus dua orang dari Poso. Slogannya, lebih kemlinti lagi, "Suara Baru Indonesia." Peserta terjauh, datang dari Poso, seorang wartawan, yang pernah dituduh ikut makan uang dana pengungsi Poso bersama Bupati Poso Andi Asikin Suyuti!

Wimar Witoelar, seorang kolumnis-cum-blogger-cum-pemandu talk show-cum-mantan juru bicara presiden Abdurahman Wahid, boleh dibilang jadi pusat perhatian kerapatan ini. Bukan hanya berkat ukuran badan besar, atau baju warna jingga, lengan pendek longgar, serta berat suara tawa dia, tapi juga kelihaian Witoelar memandu perbincangan. Dia buat celetukan lucu, ringan tapi serius. Dia bikin acara ini bernas, tak slogan melulu. Witoelar duduk di panggung dengan empat tamu.

Pembukaan, Witoelar bilang dia merasa mendapat kehormatan bisa diundang anak-anak muda. "Tidak banyak orang tua diundang acara beginian," katanya. Grrrrrr. Witoelar bilang ada 482 blogger sudah teken dan gabung di Mega Blitz pagi itu. Lawan bicaranya tiga blogger --Andrianto Gani, Enda Nasution, Budi Putra-- serta satu politikus: Menteri Komunikasi dan Informasi Muhammad Nuh.

Witoelar santai saja. “Pak Menteri belakangan,” katanya.

Suasana begini mungkin luput dari pemberitaan suratkabar Jakarta. Kebanyakan wartawan Jakarta, yang belum bisa menghilangkan gaya pemberitaan warisan Orde Baru, tentu saja, mengutip pejabat dan pejabat. Maka Muhammad Nuh dikutip dengan mengatakan pemerintah takkan membredel blogger. “Sudah bukan zamannya,” kata Nuh. Kedua, Muhammad Nuh juga dikutip menyatakan hari Sabtu itu, 27 Oktober, sebagai "hari blogger nasional … milik kita bersama." Nuh juga memberi hadiah laptop. Semua soal pejabat diberitakan.

Media Orde Baru ini pun, sebut saja Koran Tempo, The Jakarta Post dan Bisnis Indonesia, ramai-ramai menaruh omongan Nuh dalam headline mereka. Tak ada yang kritis bertanya: apa pula blogger nasional itu? Tak ada yang usul agar para blogger, misalnya, dari Lhokseumawe, Singkawang, Tomohon, Maumere, Sorong atau Niki-niki, diajak bicara dulu sebelum main klaim “blogger nasional.” Soalnya, peradaban Jakarta, dari zaman Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, dari konglomerat media hingga blogger amatir, belum punya kebiasaan berpikir kritis soal label “nasional.”

"Blogger itu majemuk, ada yang serius, ada yang nggak serius. Ada yang bermutu, ada yang nggak bermutu,” begitu tutur Wimar Witoelar. Para blogger pun kasih tepuk tangan.

Lalu dia mengajak tiga blogger bicara. “Pak Menteri, takut macet, silahkan kalau mau pergi dulu. Ini nggak ngusir lho!” kata Witoelar. Muhammad Nuh izin pergi dulu. Dia harus mengejar pesawat. Maka Nasution, Budi dan Gani cerita. Intinya, mereka ingin blogger bisa jadi media ekspresi baru, yang mampu menyuarakan pikiran, pendapat dan perasaan para blogger di Indonesia, dengan lebih bebas dan lebih jujur dari media mainstream. Nasution menambah nama deretan dengan harian Kompas. Budi bilang bagaimana pun bagus hosting-nya, tapi content yang menentukan bagus tidaknya suatu blog.

Talk show riuh rendah. Banyak yang tanya, banyak yang komentar. Tapi juga banyak yang plok plok plok. Suasana enak. Witoelar senyum terus. Apalagi ketika mendekati acara makan siang.

Blog atau weblog mulai masuk dalam kesadaran khalayak media pada 1999 ketika sebuah perusahaan California, Pyra Labs, meluncurkan Blogger.com. Ia dirancang sebagai sebuah sistem publikasi internet. Mekanisme kerjanya dirancang untuk orang yang secara teknologi kurang melek. Ia berkembang cepat. Pada 2002, orang sudah bisa menerbitkan teks, gambar, suara maupun video dalam blog mereka. Politikus korban pertama blog adalah Trent Lott, ketua Partai Republik di Senat Amerika, ketika ucapannya yang rasialis, menjalar dalam berbagai blog dan mailing list. Lott akhirnya mundur. Blogger juga membuat Howard Dean jadi kuda hitam dalam pencalonan kandidat presiden Partai Demokrat pada 2004. Ironisnya, media mainstream praktis tak memperhitungkan blog.

Blogger jadi mencuat dan bersinergi dengan media mainstream ketika tiga bom meledak di London pada 7 Juli 2005. BBC minta bantuan blogger untuk memberikan informasi, gambar maupun video. BBC bahkan menyediakan ruang, baik dalam versi radio, televisi mapun situs web, buat informasi yang datang dari warga.

Singkatnya, “blogger Indonesia” mungkin harus ditanya, apa indonesianya? Acara blogger ini sendiri digagas, satu setengah bulan sebelumnya, oleh bukan hanya warga Indonesia. Memang ada Enda Nasution, Budi Putra dan Gani. Tapi satunya lagi adalah Ong Hock Cuan dari perusahaan public relations Maverick. Ong mantan wartawan harian Asia Times (Bangkok) dan warga negara Malaysia. Cuma Ong lama tinggal di Jakarta. Pertemuan pertama panitia pertemuan ini ada di kantor Maverick di Jl. Belitung, Jakarta. Ong juga blogger rajin.

Witoelar ringan saja biang, “Kita bukannya mau menyaingi Soempah Pemoeda ha ha ha ….”

Ong pula yang bantu mencarikan tempat, sponsor dan sebagainya. Beberapa sponsor besar berhasil dirangkul: Microsoft, Nokia dan XL. Masing-masing membantu sebesar Rp 50 juta. "Tigapuluh juta cash dan 20 juta barang," tutur Enda Nasution. Selain itu, muncul dukungan dari Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Nasution getol bilang terima kasih untuk para sponsor. Wajar saja. Tanpa Rp 90 juta itu, para undangan tak bisa makan siang. Demokratisnya, setiap kali nama Microsoft disebut, tanggapan dari khalayak di Mega Blitz adalah … hu hu huuuuu. Microsoft tampaknya tak punya banyak teman di kalangan blogger Mega Blitz.

Lebih dari itu semua, dari slogan hingga nasionalisme, banyak peserta yang puas dengan acara ini. Misalnya, Tiara Ischwara, pemilik www.lolipops.multiply.com, menganggap blog sebagai media alternatif. Tiara sehari-hari bekerja di Brisbane. Dia menggunakan blog untuk berbagi cerita dengan keluarganya di Jakarta. "Lebih bebas mengeluarkan pendapat, lebih pribadi," tuturnya. Tiara sedang berlibur di Jakarta saat datang di pesta blogger.

Blogger macam Tiara, mungkin sulit dibayangkan akan bikin Muhammad Nuh dan establishment Jakarta, dag dig dug. Tapi blogger macam Witoelar, yang langganan dibredel program televisinya, baik zaman Soeharto maupun zaman Yudhoyono, yang harusnya bisa mengikuti jejak blogger asli di California sono. Bikin dag dig dug media mainstream serta para penguasa.

Naskah pernah dimuat di rubrik media di www.pantau.or.id

15 November 2007

Surat Coen Buat Andreas Dan Linda Tentang Tulisanku

From: Coen Husain Pontoh
Date: Tue, 30 Oct 2007 21:51:08 +0000 (GMT)
To: ,
Subject: Imam Shofwan PLAGIAT

Bung AH dan Linda yb,

Iseng-iseng saya berkunjung ke blog Imam Shofwan. Dari sana saya tertarik
membaca tulisannya yang berjudul "Brigade Dokter Kuba."

Mulanya, asyik juga sih. Tak dinyana, di bagian tengah tulisan itu, saya
membaca barisan kalimat yang akrab dengan saya. Saya baca terus, terus, dan
terus. Dan saya kemudian memeriksa lagi salah satu tulisan saya di blog
IndoPROGRESS berjudul "Pendidikan di Kuba." Ya, saya kemudian tahu bahwa
Shofwan telah bertindak plagiat. Ia mencomot beberapa paragraf tulisan saya
dalam tulisannya, tanpa sekalipun menyebut sumber tulisan itu. Saya kira,
ini tindakan yang sangat tercela dalam dunia akademik, JURNALISME, atau
dunia tulis-menulis keseluruhan.

Saya kira, sangat berbahaya jika di Pantau ada penulis macam beginian, ia
tidak layak bergabung dalam komunitas kita yang secara sukarela ingin kita
bangun supaya lebih berwibawa. Segala macam pelatihan yang dibikin Pantau
akan kehilangan kredibiltasnya, jika penulis seperti shofwan bergabung di
sana.

(Saya tidak membaca majalah Playboy dimana tulisan ini dimuat. Mungkin saja
di majalah itu ada dimuat sumber kutipan Shofwan. Kalau benar demikian,
tentu kritik saya ini batal dgn sendirinya. Kalau tidak, saya sangat
berkeberatan) .

-C

Berikut adalah kutipan dari tulisan Shofwan yang dimuat di majalah Playboy
pada Nopember 2006, dan bandingkan dengan artikel yang saya tulis pada April
2006.

Ini kutipan dari tulisan Imam Shofwan, yang berjudul ³Brigade Dokter Kuba.²

³Pendidikan tidak hanya berfungsi vertikal namun juga horisontal.² Jargon
ini sering diucapkan Che. Pendidikan tidak hanya ditujukan untuk mencapai
kekuasaan dan uang, tapi juga untuk fungsi sosial dan kemanusiaan.

Tahun 1959 Kuba lepas dari Batista. Fidel Castro berusaha melaksanakan
janji-janjinya. Dan berhasil. Menurut Juan Casassus, anggota tim dari the
Latin American Laboratory for Evaluation and Quality of Education at UNESCO
Santiago, prestasi tinggi Kuba dalam pendidikan ini merupakan hasil dari
komitmen kuat pemerintahan Kuba, yang menempatkan sektor pendidikan sebagai
prioritas teratas selama 40 tahun sesudah revolusi. Pemerintah Kuba memang
mengganggarkan sekitar 6,7 persen dari GNP untuk sektor ini, dua kali lebih
besar dari anggaran pendidikan di seluruh negara Amerika Latin.

Dengan anggaran sebesar itu, pemerintah Kuba berhasil membebaskan seluruh
biaya pendidikan, mulai level sekolah dasar hingga universitas. Bebas biaya
pendidikan diberlakukan juga untuk sekolah yang menempa kemampuan
profesional. "Everyone is educated there. Everyone has access to higher
education. Most Cubans have a college degree," ujar Rose Caraway, salah satu
mahasiswa AS yang ikut progam studi banding di Kuba, pada 2005. Kebijakan
ini menjadikan rakyat Kuba sebagai penduduk yang paling terdidik dan paling
terlatih di seluruh negara Amerika Latin. Saat ini saja ada sekitar 700 ribu
tenaga profesional yang bekerja di Kuba.

Tetapi, kebijakan menggratiskan biaya pendidikan ini tampaknya kurang
mencukupi. Sejak tahun 2000, pemerintah Kuba mencanangkan program yang
disebut ³University for All.² Tujuan dari program ini adalah untuk
mewujudkan mimpi menjadikan Kuba sebagai ³a nation becomes a university.²

Melalui program ini seluruh rakyat Kuba (tua-muda, laki-perempuan, sudah
berkeluarga atau bujangan) memperoleh kesempatan yang sama untuk menempuh
jenjang pendidikan universitas. Caranya, pihak universitas bekerjasama
dengan Cubavision and Tele Rebelde, menyelenggarakan program pendidikan
melalui televisi. Saat ini media televisi Kuba menyediakan 394 jam untuk
program pendidikan setiap minggunya. Jumlah ini sekitar 63 persen dari total
jam tayang televisi Kuba. Sejak program on-air ini, pada 2 Oktober 2000, ada
sekitar 775 profesor yang datang dari universitas- universitas besar di Kuba
yang aktif terlibat dalam program ini.

Program kesehatan bisa dikatakan sebagai dampak dari pembangunan pendidikan
Kuba itu. Cliff Durand, profesor emeritus filsafat di Morgan State
University, Baltimore, AS, mengungkapkan, saat ini rata-rata tingkat
kematian dini di Kuba hanya 5,8 kematian dalam satu tahun untuk 1.000
kelahiran. Angka ini adalah yang terendah di kawasan Amerika Latin, bahkan
lebih rendah dari yang terjadi di Amerika Serikat.

Jumlah tenaga dokter per kapita Kuba jauh lebih banyak dibandingkan negara
mana pun di dunia. Saat ini saja, ada sekitar 130.000 tenaga medis
profesional. Sebanyak 25.845 tenaga dokter Kuba bekerja untuk misi
kemanusiaan di 66 negara, 450 di antaranya bekerja di Haiti, negara
termiskin di benua Amerika. Sebagian lainnya bekerja di kawasan-kawasan
miskin di Venezuela. Ketika terjadi bencana topan Katrina di New Orleans,
beberapa waktu lalu, Presiden Fidel Castro berinisiatif mengirimkan 1.500
tenaga dokter. Tapi, inisiatif ini ditolak oleh pemerintah AS dengan alasan
yang sifatnya politis.

Tidak hanya untuk rakyat Kuba, kini melalui Latin American School of
Medicine, pemerintah Kuba memberikan beasiswa untuk pendidikan kesehatan
kepada ratusan kaum muda miskin dari seluruh negara Amerika Latin, Afrika,
bahkan Amerika Serikat. Yang menarik, di Kuba pengajaran kesehatan tidak
hanya menyangkut soal ilmu pengetahuan dan seni pengobatan tapi, juga
nilai-nilai pelayanan sosial terhadap kemanusiaan. Seperti dikemukakan
Castro, ketika mewisuda 1.610 mahasiswa pada musim panas Oktober 2005,

³Modal manusia (human capital) jauh lebih bernilai ketimbang modal kapital
(financial capital). Modal manusia meliputi tidak hanya pengetahuan, tapi
juga ­ dan ini yang sangat mendasar ­kesadaran, etika, solidaritas, rasa
kemanusiaan yang sejati, semangat rela berkorban, kepahlawanan, dan
kemampuan menciptakan sesuatu dalam jangka panjang.²

-- Pernah dimuat majalah Playboy, edisi November 2006.

Source: http://bungimam. blogspot. com/2007/ 08/brigade- dokter-kuba. html

------------ -

Bandingkan dengan artikel saya berikut:

Metode ini merupakan pengejawantahan dari nilai hidup yang diwariskan Che
Guevara, tentang solidaritas kelas. Dengannya, pendidikan tidak hanya
bermakna vertikal, dimana semakin terdidik orang peluangnya untuk berpindah
kelas semakin terbuka. Tapi, juga bermakna horisontal, dimana pendidikan
sekaligus bertujuan memupuk dan mengembangkan solidaritas antar sesama,
penghargaan terhadap alam-lingkungan dan kemandirian.

Menurut Juan Casassus, anggota tim dari the Latin American Laboratory for
Evaluation and Quality of Education at UNESCO Santiago, prestasi tinggi Kuba
dalam pendidikan ini merupakan hasil dari komitmen kuat pemerintahan Kuba,
yang menempatkan sektor pendidikan sebagai prioritas teratas selama 40 tahun
sesudah revolusi. Pemerintah Kuba memang mengganggarkan sekitar 6,7 persen
dari GNP untuk sektor ini, dua kali lebih besar dari anggaran pendidikan di
seluruh negara Amerika Latin.

Dengan anggaran sebesar itu, pemerintah Kuba berhasil membebaskan seluruh
biaya pendidikan, mulai dari level sekolah dasar hingga universitas. Bebas
biaya pendidikan diberlakukan juga untuk sekolah yang menempa kemampuan
profesional. "Everyone is educated there. Everyone has access to higher
education. Most Cubans have a college degree," ujar Rose Caraway, salah satu
mahasiswa AS yang ikut progam studi banding di Kuba, pada 2005. Kebijakan
ini menjadikan rakyat Kuba sebagai penduduk yang paling terdidik dan paling
terlatih di seluruh negara Amerika Latin. Saat ini saja ada sekitar 700 ribu
tenaga profesional yang bekerja di Kuba.

Tetapi, kebijakan menggratiskan biaya pendidikan ini tampaknya kurang
mencukupi. Sejak tahun 2000, pemerintah Kuba mencanangkan program yang
disebut ³University for All.² Tujuan dari program ini adalah untuk
mewujudkan mimpi menjadikan Kuba sebagai ³a nation becomes a university.²

Melalui program ini seluruh rakyat Kuba (tua-muda, laki-perempuan, sudah
berkeluarga atau bujangan) memperoleh kesempatan yang sama untuk menempuh
jenjang pendidikan universitas. Caranya, pihak universitas bekerjasama
dengan Cubavision and Tele Rebelde, menyelenggarakan program pendidikan
melalui televisi. Perlu diketahui, saat ini media televisi Kuba menyediakan
394 jam untuk program pendidikan setiap minggunya. Jumlah ini sekitar 63
persen dari total jam tayang televisi Kuba.

------------ -----

Seperti dikemukakan Castro, ketika mewisuda 1610 mahasiswa pada musim panas
Oktober 2005,

³modal manusia (human capital) jauh lebih bernilai ketimbang modal kapital
(financial capital). Modal manusia meliputi tidak hanya pengetahuan, tapi
juga ­ dan ini yang sangat mendasar ­kesadaran, etika, solidaritas, rasa
kemanusiaan yang sejati, semangat rela berkorban, kepahlawanan, dan
kemampuan menciptakan sesuatu dalam jangka panjang.²***

Sumber:
http://indoprogress .blogspot. com/2006/ 04/pendidikan- di-kuba-nation- becomes.h
tml

~~~~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~~~~~~~~ ~~

please visit my blog at http://coenpontoh. wordpress. com
personal: http://coenpontoh. blogspot. com

1 October 2007

Baju Putih, Pasukan Tempur Junta


Oleh Marwaan Macan-Markar

BANGKOK (IPS) – ADA kesamaan cara dengan Benito Mussolini di Italia dan Adolph Hitler di Jerman yang menggunakan masing-masing “baju hitam” dan “baju coklat” untuk meneror para pembangkang. Rezim militer Burma telah menyebarkan “baju putih” untuk melawan para biksu dan warga sipil yang melakukan protes.

Dalam berbagai event resmi, pasukan tempur –anggota milisi propemerintah Union Solidarity and Development Association (USDA)– tampil dengan seragam putih, baju lengan panjang khas Burma, serta sarung berwarna hijau gelap.

Tapi di lain kesempatan, mereka tampil dengan pakaian sipil dan menyaru sebagai anggota masyarakat. Tugas mereka sebagai mata dan telinga rezim militer Burma yang memakai kekerasan untuk menghalangi perbedaan pendapat. USDA-lah yang pertama mengadu ke junta ketika mantan pemimpin mahasiswa dan aktivis partai oposisi turun ke jalan pada pertengahan Agustus untuk memprotes kenaikan harga minyak sebesar 500%.

“Pemerintah militer menggunakan USDA untuk membubarkan pemrotes serta mengganggu, mengintimidasi, dan menyerang warga sipil tak bersenjata yang menolak kenaikan harga minyak,” ujar Naing Aung, sekretaris jendral Forum for Democracy in Burma (FDB), sebuah kelompok yang dibentuk oleh para eksil politik Burma yang tinggal di Thailand. “Mereka lalu mendatangi rumah para pemprotes dan menangkapi mereka.”

Aksi teror serupa juga ditunjukkan ketika junta militer memerintahkan pasukan bersenjata dalam jumlah besar dan polisi antihuru-hara untuk menghadapi ketidakpuasan masyarakat, kemudian berkembang menjadi pemperontakan Minggu, 24 September lalu, yang dipimpin ribuan biksu. “Anggota-anggota USDA beraksi layaknya polisi dengan pakaian preman dan menyusup di antara pemprotes,” ujar Naing Aung kepada IPS. “Mereka bekerja sama dengan tentara dan polisi antihuru-hara.”

Jika tidak berlaku kejam kepada warga sipil di jalanan, seperti beberapa bulan lalu, pasukan “baju putih” ini melenturkan otot di daerah lain. Mereka meredam kemarahan terhadap junta yang muncul ke permukaan setelah hampir 20 tahun diam. Salah satu sasaran mereka adalah perusahaan media yang menampilkan gambar-gambar tak menyenangkan, ketika junta militer mengganti nama Myanmar beberapa tahun lalu.

Anggota-anggota USDA bertanggungjawab atas “setidaknya 24 pelanggaran serius terhadap kebebasan memperoleh berita dan informasi sejak 19 Agustus,” demikian bunyi catatan yang dirilis Burma Media Association dan Reporters Sans Frontieres (RSF). Burma Media Association adalah sebuah lembaga yang didirikan wartawan-wartawan Burma yang bertugas di luar negeri, sementara RSF adalah pemantau hak-hak media global. Orang-orang USDA adalah kelompok pengacau yang “menyita peralatan” wartawan Burma yang bekerja untuk organisasi berita Jepang.

Tak heran jika USDA berada dalam radar pemantau HAM. Sebuah pernyataan yang dirilis April lalu oleh pelobi global Human Rights Watch (HRW) menjelaskan bagaimana 100 orang “yang menenteng pentungan dan senjata rakitan menyerang dan memukul Myint Naing dan Maung Maung Lay, anggota Human Rights Defenders and Promoters,” di sebuah desa 100 km barat laut Rangoon. “Serangan ini dilakukan oleh anggota-anggota USDA.”

Perlakuan kelompok paramiliter ini yang terkenal kejam di mata internasional adalah serangan pada Mei 2003 terhadap pemimpin prodemokrasi Aung San Suu Kyi dan anggota-anggota partainya, National League for Democracy (NLD). Aksi brutal ini dilakukan oleh sekira 2.000 orang ketika Suu Kyi dan sejumlah pemimpin partainya sedang berkampanye di Depayin, dataran tinggi Burma. Sekitar 70 orang tewas dan ratusan orang luka-luka.

Setelah “pembantaian Depayin”, kelompok-kelompok prodemokrasi mempertanyakan kekerasan ini. Peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi dan koleganya ditangkap, sementara “baju putih” bebas. Sejak itu, Suu Kyi menjalani tahanan rumah –total 11 tahun dia berada dalam tahanan selama 19 tahun terakhir.

Secara resmi, sejak dibentuk pada 1993 oleh orang kuat Burma Jenderal Than Shwe, USDA ditampilkan dengan gambar bunga bakung-putih. Masyarakat Burma memandang USDA sebagai “organisasi kesejahteraan sosial” dengan misi pembangunan untuk kebaikan seluruh warga, demikian hasil penelitian yang dirilis Mei 2006 oleh Network for Democracy and Development, kelompok aktivis politik Burma yang tinggal di pengasingan.

“USDA dimanajemen untuk terlibat dalam distribusi bantuan dan mendampingi NGO,” tambah penelitian ini. “Kemudian USDA berfungsi mengawasi rapat-rapat umum yang dilakukan untuk mendukung kebijakan junta atau mengadukan oposisi atau komunitas internasional.”

Warga Burma di dalam negeri, yang diwawancarai IPS awal tahun ini, mengatakan bahwa cara-cara kekerasan sering dipakai para pejabat lokal USDA untuk menarik anggota baru. Diperkirakan anggotanya mencapai 23 juta di seluruh negeri, meliputi pegawai negeri, guru, pejabat lokal, dan bahkan anak-anak sekolah menengah atas.

Hingga kekerasan berdarah baru-baru ini –sejumlah pemprotes, termasuk biksu, dibunuh, dipukuli, dan ditangkap– junta militer mulai mempromosikan USDA sebagai “wajah politik” rezim.

Jangkauan dan struktur organisasinya, yang melingkupi desa-desa di Burma, kabupaten, wilayah, dan kota, dianggap penting dalam desain rezim dengan menjadikan USDA sebagai sisi sipil dari junta. State Peace and Development Council (SPDC), yang dikenal sebagai badan resmi junta, berada di bawah tekanan internasional yang mendesak reformasi politik agar demokrasi berjalan dengan baik.

Keterlibatan USDA dalam kekerasan sejak pertengahan Agustus lalu mungkin mengikis gambaran pemerintah bahwa SPDC sudah memperhitungkan kekuatan ini untuk “kesejahteraan rakyat” Burma. Reputasi USDA berada di titik “paling rendah,” ujar Zin Linn, direktur informasi National Coalition Government of the Union of Burma –pemerintah yang terpilih secara demokratis melalui pemilihan umum memaksanya hidup di pengasingan.

“Tangan USDA telah berlumuran darah sejak pembantaian Depayin,” ujarnya dalam sebuah wawancara. “Penyerangan yang dilakukan oleh anggota-anggotanya telah memupus keraguan mengenai peran mereka dalam menindas rakyat atas perintah junta. Rakyat sangat marah dengan mereka.”*

Photo: www.ko-htike.blogspot.com
Translated by Imam Shofwan
Edited by Budi Setiyono

* ) Naskah ini dipublikasikan atas kerjasama Yayasan Pantau dan IPS.

14 September 2007

Al-Hallaj behind Dhani Ahmad

By Mujtaba Hamdi And Imam Shofwan


A string of accusations on religious contempt are now being hurled at Dhani Ahmad and his rock band Dewa. Dhani does not deny that his lyrics began with an attempt to open up some kind of a religious discourse. In fact, he admits his fondness for controversial Sufi figures.

It is still early in the morning. The day’s heat has yet to be felt. But not so in the infotainment programme on television. The camera is fixed on one man, and this man is announcing sternly, “A few of the lyrics and the pictures used by Dewa in their album have been taken from a poem by a heretical movement in the Middle East.” On the screen, you could read the caption which identifies them, Pertahanan Ideologi Syariat Islam (Perisai) [The Defence of the Islamic Ideology and Law].

This is not some kind of an innocent prank. Ridwan Saidi, the figure who claims to represent the aforementioned group called Perisai, is going to lodge a complaint on Dewa to the Attorney General. Ridwan is a Betawi cultural activist and prominent community figure. Ridwan has been known for his penchant for politics. During the New Order, he even had a stint with the Partai Persatuan Pembangunan [The Party for the Unity of Development (PPP)], before moving on to Golongan Karya [The Workers’ Group (Golkar)] and subsequently founding the New Masyumi. During the Reformasi era, when Masyumi did not manage to make it through the electoral threshold, Ridwan returned to PPP.

Ridwan is in the opinion that the cover of Dewa’s album, along with its lyrics written by Dhani contain the teachings of a heretical nature. “Not only on the Laskar Cinta (Soldier of Love) album, but also on the previous Dewa release, Mistukus Cinta (The Love Mystic).” Perhaps what he meant is really, the album Cintailah Cinta (Love the Love). Mistikus Cinta is only one of the song titles in the album in question.

Last April, as he was perusing over the cover of Dewa’s albums, Ridwan apparently discovered that many of Dewa’s lyrics like Satu (The One) and Nonsense were derived from heretical poems. It remains unclear if Ridwan has actually scrutinised the lyrics concerned. Ridwan could well assume that the lyrics of Satu as heretical, for instance, since on the cover of Laskar Cinta, one can find the phrase “thanks to Al-Hallaj” written under the text of the lyrics Satu. Al-Hallaj is a controversial figure in Muslim history.

The end of this month of April has certainly been very unfriendly for Dhani Ahmad Prasetyo.

Responding to the accusations in a newspaper, Dhani in fact did not make any references to al-Hallaj when he was discussing the lyrics to Satu. In fact, in the concerned article, Dhani clarified that the lyrics to his songs contain strong expressions of love to the divine. “An appreciation to a hadith [reported words and deeds attributed to the prophet Muhammad] narrated by Imam Bukhari had also inspired this writer to pen down the lyrics to Satu,” he wrote. Dhani not once referred to al-Hallaj in the article which sought to provide clarification after various reporting of the issue.

However, during another occasion, Dhani had been known to admit his admiration for the figure al-Hallaj. “I am a Sufi enthusiast. So you can say that I am also an admirer of al-Hallaj.”

At a corner at the19 Production studio in Pondok Indah, South Jakarta, Dhani could not sit still. Every now and then, his mobile phone would be ringing. And Dhani would have to take the call. Sometimes he would be walking back and forth, in and out. Or he would need to talk to someone through the telephone placed in an adjacent area. The facial expression of the gentleman born in Jakarta on May 26, 1972, still reflects the burden he is under. From the seven albums that Dewa had produced in all, this is the first time that they are receiving threats from Muslim groups. The placement of their band logo was said to have been an insult to Allah. Their lyrics are claimed to be heretical.

Dewa had never encountered such a problem for their previous efforts. Like other bands, they tended to pen down love songs with lyrics that speak of passionate and amorous romance. “In the beginning women inspired me, but slowly, that sort of thing died out,” utters Dhani. He then had to look for new inspiration, lest if his creativity stalls, the band would have been in a vacuum and this could spell an economic disaster as well, for Dhani and the entire Dewa. It would have been utterly disastrous.

Finally, Dhani began to look through various materials, especially books. Dhani began to be acquainted with the works of Kahlil Gibran, “the poet of two gulfs”, and other religious literature. From those books, Dhani began to socialise with figures such as Jalalluddin Rumi, Syeikh Abdul Qodir al-Jailani, Ibnul Arabi, al-Hallaj, Bayazid al-Bustami. Dhani also read many books on Syeikh Siti Jenar – which incidentally began to proliferate after the fall of the New Order.

Dhani then began to grasp that religious teachings tended to fracture into many different schools. And there it was – his new inspiration. That hadith which describes that religious communities tended to fracture. The Jews, Christians, and Muslims would break into 71, 72 and 73 subgroups respectively. Dhani worked on this idea, and at last Kuldesak was composed.

“This song is like my prayer, so that I would not be in the wrong path. Hence the lyrics – show us the true path so that we would not go astray at the crossroads.”

The prayer could be seen at the song’s refrain: Please God give us Your guide / The right path going towards Your path / So that we would not stray at the crossroads. This song became the theme soundtrack to a 1998 film with the same title. In the early 1999, Dhani improvised on the song along with a group of songs in duet album with Andra Ramadhan, a long time friend of Dewa. In this album, Dhani also wrote the song Kembali ke Timur (Return to East) which mentions the name al-Ghazali.

“Al-Ghazali is very famous name abroad. In fact, if we study philosophy, al-Ghazali is a major subject. That was why I made a mention of his name in the lyrics. I thought it was important.”

Al-Ghazali had long made an impression in Dhani. To the extent that his first son was named Ahmad al-Ghazali. “It is kind of a cool name. It is not a local name, it is international.”

As the months and years passed, Dhani became restless again. He began to feel that the religious nuances he had been putting into his song writing was not deep enough. He started to feel that his discourse was a tad too legalistic. And so, this changed when he met a spiritual mentor in the late 2000. Dhani refuses to divulge the name of this person. “My mentor does not have other students besides me. He does not have a school. I can be said as his only student.”

And so Dhani began his passion over tasawuf [the mystical discipline of Islam]. He felt like it was a breath of fresh air. However Dhani prefers to be said as a Sufi enthusiast rather than practitioner. “I feel that it is not yet fit to describe me as a Sufi practitioner. If one asks whether I am trying to head there, yes. But if you say that I am a practitioner, I am still further away.”

May be it is not so important whether he is a mere enthusiast or a practitioner. One thing for sure though, the Sufi world has given him inspiration in his song writing. When he became overwhelmed by Rabiah al-Adawiah, a legendary female Sufi, Dhani composed Jika Surga dan Neraka tak Pernah Ada [If Heaven and Earth Never Existed]. This song was sung by the most seniors of singers, Chrisye. When Dhani began to be infatuated with al-Hallaj, Satu was born. “Whether you like it or not, al-Hallaj is also a Sufi giant,” he says. “And his courage inspired me to write the lyrics to Satu.”

Spirituality did not only inspire one or two songs but an entire album. Dhani certainly felt so for Dewa’s seventh outing: Laskar Cinta. “Because my brain is filled with God,” claims this son to Eddy Abdul Manaf and Joyce Theresia Pamela. In fact, Dhani feels that his lyrical ability has yet to achieve its maximum potential. “The lyrics of Laskar Cinta does not even fully reflect the way my mind works, because not all that is in my mind I am able to turn into songs.”

The album Laskar Cinta may have a very deep significance for Dhani. To the extent that the entire wall of the studio of 19Production is painted with black and red, and here and there it is pasted with the particular symbol of an octagonal star – the symbol which has become Laskar Cinta’s logo. But this album in turn has caused Dhani to be faced with accusations of insulting religion.

And then, look again. A staff of his comes in with a new logo of Laskar Cinta. Dhani was pressured into replacing the old logo, because it is said that the old version resembles the word “Allah”.

“Where is the old one?”

The staff replies that all the copies of the older version have been destroyed.

“Wah, this would be really dangerous if found out by the FPI [Front Pembela Islam – The Islamic Defenders Front]. Destroying the name of God,” Dhani says in jest.

He then makes a telephone call. To the one answering on the other line, Dhani seeks for confirmation if it is really true that all the copies of the older version have been destroyed. This voice confirms it. Dhani then warns him.

“Not until the FPI finds out, that we destroyed the name of Allah.” he jokes again.

On November 22, 2004, the album Laskar Cinta was officially launched. Virtually all the journalists who were present did not seem to be interested in the issue of the octagonal star on the album cover. At the Sari Pan Pacific Hotel, most of them were more interested on the quality of the music on the offer. Some asked about the quality of the lyrics.

“Our lyrics are not very pop-ish,” Dhani replied. “In fact we penned down lyrics which are so littered with idealism they are not commercial even.”

Suddenly, one journalist questioned on the typography resembling the Arabic calligraphy on the octagonal star. Dhani only smiled as he answered that the letters concerned was there for aesthetics reasons. The calligraphy-like image reads Laskar Cinta.

And it is true that if we look closely at the cover, we should not read the letters from right to left. You would have not noticed. Instead, you should read it from left to right, and it will be visible that it is a stylistic writing of Laskar Cinta.

Not one journalist asked about the octagonal star.

For months, Dhani did not receive any complaints on the new album’s logo. Because he really liked it, he began to stick the logo on all sorts of things: on the studio of his wall, on musical instruments, and certainly on Dewa’s merchandise to be sold to fans.

Until the unfortunate Sunday evening, April 10. Dhani and Dewa gave a stirring performance on Eksklusif TransTV. The stage was bright with lights. Dhani’s much-loved octagonal logo of Laskar Cinta was everywhere. Including on the main floor, where their vocalist Once sang and moved about.

Without Dhani’s knowledge, there was a religious teacher by the name of Wahfiudin who was watching the concert on television. Wahfiudin was shocked when he saw the octagonal star. He believed that the octagonal star was a calligraphy spelling the word Allah. He quickly called TransTV, and informed the station that the logo on the floor was so. He even suggested that the concert should be called off there and then.

Immediately after the show, TransTV arranged a meeting between Dhani and Wahfiudin for a short dialogue. Wahfiudin showed the logo of the octagonal star in black which he found in book The Cultural Atlas by Prof Dr Ismail Raj’I al-Faruqi. Wahfiudin stressed to Dhani that the logo was in fact the word Allah written in Arabic calligraphy.

Dhani did not agree, saying that there had been some modifications. But Dhani apologised for the unawareness of their stage crew, and said that the stage itself had now been covered in black cloth.

Wahfiudin then felt that Dhani was being stubborn. At the end of the dialogue he warned Dhani to be careful, because if he might one day be confronted by Muslims with harder tendencies, he would be in real trouble.

At that precise moment, Dhani did not really understand the nature of Wahfiudin’s warning. All he knew was that the next day, his name was in the subject of several mail- lists on the internet with the subject written in capitals: Dhani the Dewa (god) of Israel Stepping All Over God. The posting began with this sentence: Although the subject-tag seems provocative, that is not my intention. Then the writer related the entire story of how he saw Dewa’s concert on TransTV, the call he made to the television station and how he met Dhani soon after the show. At the end of the posting, there was one name: Wahfiudin.

Dhani at first did not respond to the mail. But then when the daily Republika published the news on the dialogue between Wahfiudin and he, twice, along with comments that made him feel as if he was being cornered, Dhani replied with a writing entitled The Oasis of Laskar Cinta.

In his reply, Dhani not only clarified on the issue of the octagonal star and the lyrics of his songs. He first and foremost apologised on behalf of his stage crew for their carelessness to put the logo on the floor. Dhani explained that it is impossible for him to insult Islam, his own religion, for even insulting other religions he does not dare. Dhani demonstrated that the lyrics to his songs in fact called for us to love Allah.

Dhani mentioned that the lyrics of Pangeran Cinta (Prince of Love) were a result from the reflection from verse 27 from al-Rahman. “All that is on earth will perish: But will abide (forever) the Face of thy Lord, Full of Majesty, Bounty and Honour.”

This verse is a favourite among the Sufis who has a preference for the statement la wujuda illallah (Nothing Exists but Allah). Sufi historians categorise this branch of Sufism as from the Wujudiyyah School.

Dhani also showed that the symbol of the octagonal star was being used in the hope that the idea of the love of God would be spread far and wide. The eight points of the star in fact symbolised the eight geographical directions, just like that reflected in verse 115 of al-Baqarah 115, “whithersoever ye turn, there is Allah's countenance”. This verse is also very popular among Sufi enthusiasts.

The long clarification did not put an end to the controversy. FPI led by Habib Rizieq Shihab was bent on demanding that Dewa replace the cover of Laskar Cinta. Habib Rizieq was in the opinion that Dewa was not qualified to use such a logo, because they did appear as Islamic enough.

Dhani was dumbfounded. He called and visited religious figures, among them M. Quraish Shihab and Abdurrahman Wahid (Gus Dur). From Quraish to Shihab, Dhani received responses that relieved him. According to Quraish, the original symbol (like the one found in The Cultural Atlas – ed) is neither a fixed nor a popular symbol. It can only be detected by calligraphy experts. Meanwhile Dhani’s symbol was a modified version, and for Quraish it no longer resembles the word “Allah”.

Gus Dur meanwhile, when being paid a visit by Dhani at the headquarters office of Nahdatul Ulama, received a simple response, “Habib Rizieq cannot speak on behalf of the Muslim community. He is creating a headache out of a nothing.”

But the pressure against Dhani did not subside. The day after, all sorts of intimidating texts were messaged to his mobile phone, including “Not just one Gus Dur, even if with 1000 Gus Durs defending Dewa ana (I in Arabic) would still fight. Ana am not looking for popularity, isn’t FPI is already at the top?”

A few days later, based on reasons we yet have to understand, Dhani decided to replace the logo on the cover of the album. In an infotainment programme, when Dhani announced that they would be printing new versions of the logo, Dhani also added a commercial reminder in jest, “So that all the remaining cassettes can be replaced as soon as possible with the ones containing the new version of the logo, the people should buy them all.”

We met Dhani a day after he was called in by the police from the Jakartan branch.

That afternoon we Dhani tells us a lot of stories, including his admiration for many Sufi figures. Dhani does not fear to be labelled as heretical because of his admiration for al-Hallaj, although al-Hallaj was decapitated for his alleged heresy. “It’s like this,” he cautions. “Al-Hallah lives during the Abbassid era. Can you say the actions of the Abbasids of decapitating al-Hallaj as a way of our prophet?”

Dhani is, apparently, quite clever at turning the tables around. Outside, people tend to regard the teachings admired by Dhani, to be of the same genre with that taught by Syeikh Siti Djenar. He views such things quite in jest. “I have never felt I am as big as Syeikh Siti Djenar. Everybody is freaking out, but the biggest I could be is only as big as Jenar Mahesa Ayu.”

Jenar Mahesa Ayu is certainly not a saint. She is a short story author who frequently writes on sexuality issues.

So, right on. If Dhani is not afraid to admire al-Hallaj, not afraid to be called heretical, why then replace the album cover? Is he afraid of the threats from the FPI then?

“Sing waras ngalah lah,” he replies in his Surabayan accent. The sane will give in. Dhani still thinks it is not wrong to use the old logo. He says that even MUI does not make a big deal out of it. But Dhani believes, if he remains obstinate, he would have been no different than the FPI. And so, he chose to replace the album cover, and definitely for sure, calls for everyone to quickly buy all the remaining albums out there.

When he was being called in by the Jakartan police, Dhani did not forget to play a prank. “I deliberately made my children to dress like in FPI style. You know how deep the meaning of that.” Dhani purposefully asked his three children to accompany him to the police. They were then wearing the costumes similar to those frequently donned by the FPI, white shirts and white skullcaps. But Dhan, how do you mean with that?

“Ya… it is young children like these who would be most suitable to wear such things. These clothes, you know, their message are so deep.”[end]


Translated by Shamila Arifin, environmental activist in Sahabat Alam Malaysia.
This article appeared in the column Syir’atuna for the cover reporting of Syir’ah No. 43/June 2004

Seribu Kanvas Juragan Tembakau

Oleh Imam Shofwan

SEBATANG rokok terselip di bibir Munir Thalib. Sebelum hidupnya dijegal ajal yang dipaksakan, pejuang hak asasi manusia itu tidak lagi berstatus sebagai perokok berat. Tapi Agus Suwage memilih melukis Munir dengan rokok.



Kutipan sajak “Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi” yang menjadi judul lukisan itu, mengingatkan pada Chairil Anwar, sang pencipta bait puisi. Dalam potretnya yang paling populer, Chairil juga sedang menghisap sebatang rokok.

Untuk seri lukisan ini, Suwage juga melukis wajah Putri Diana, Marilyn Monroe dan Bob Marley. Semua tokoh dunia yang mati muda. Dalam lukisan-lukisan wajah itu Suwage ingin menghadirkan perbenturan. “Idenya kontradiksi antara kenginan hidup dan rokok yang merupakan simbol penyebab kematian” kata Suwage.

Suwage memamerkan seri lukisan ini, pertama kalinya, pada Bali Biennale tahun 2005. Awalnya dia lukis dengan cat air di atas kertas, lantas dia perbesar ke atas kanvas berukuran 1,5x21,2 meter. Suwage berencana melukis 40 tokoh untuk tema lukisan itu. Tapi proyek itu belum selesai ketika gempa menghajar Jogjakarta pada akhir Mei 2006.

Nama Suwage banyak dibicarakan sejak karyanya Pingswing Park hasil kolaborasi bersama Davy Linggar dipersoalkan oleh sebuah ormas Islam karena menggambarkan Anjasmara dan Isabel Jahja, seorang bintang sinetron dan model tenar Indonesia, tanpa sehelai benang.

Pada Juli 2006, Suwage mengikutkan karya itu pada pameran yang digelar Oei Hong Djien Magelang. “Oei Hong Djien kan juragane mbako (juragan tembakau), dan saya ingin Oei hidup seribu tahun lagi,” kata Suwage dengan logat Jawa yang kental.

Tisna Sanjaya, perupa asal Bandung juga berpartisipasi pada pameran itu. Kreator karya instalasi Special Prayer for the Dead yang pernah dibakar satuan Pamong Praja Kotamadya Bandung pada Febuari 2004 itu menyertakan karya berjudul Siklus Abu. Tisna menyebut metodenya self body print, dengan menggunakan abu bekas pembakaran.

Perupa asal Bali, Made Wianta, beberapa bulan sebelum acara sudah ada di Magelang untuk pameran itu. Wianta memasang daun tembakau berukuran besar pada langit-langit tempat pameran. Wianta menyebut karyanya sebagai “Sambutan dari Atap Cinta.”

Total ada sekitar 100 seniman yang kebanyakan dari Jogjakarta terlibat untuk menyulap gudang tembakau milik Oei menjadi tempat pesta pernikahan yang mewah.

Namanya saja hajatan juragan tembakau. Tajuk pamerannya saja “Seni dan Tembakau.” Pameran itu memang sekaligus jamuan pernikahan putra pertama Oei. Hadirin pesta itu sekitar 8.000 orang. Kebanyakan dari mereka pelaku seni rupa Indonesia, mulai dari pelukis, pematung, pemilik galeri sampai para kolektor.

Kalau soal pesta pernikahan, banyak yang bisa melakukan yang lebih mewah. Tapi jamuan pernikahan dengan bertabur ratusan karya seniman, hanya orang seperti Oei yang mampu. Oei Hong Djien adalah nama yang dihormati di jagat seni rupa Indonesia. Bukan sekadar karena dia kolektor berkocek tebal. Tapi cintanya pada dunia seni rupa.


CINTA Oei pada seni rupa terlihat pada sebuah bangunan berlantai berlantai dua seluas 200 m2 di sebelah rumahnya yang asri di Kwarasan, Magelang. Letaknya sekitar 500 meter arah utara obyek wisata Kyai Langgeng. Museum pribadi itu dibangun Oei tahun 1997 ketika koleksinya mencapai seribu lukisan hingga dinding rumahnya tak tersedia celah pajangan lagi.

Saya berkunjung ke sana pertengahan November lalu. Saya menuju ruangan berdinding kaca di depan museum yang jalan masuknya dipagari sebuah kolam. Di tengah kolam ada sebuah patung kura-kura karya G Sidharta. Di ruangan itu Oei sedang bersama 11 orang. Seluruhnya wanita. Rupanya petang itu jadwal Oei berlatih dansa. Di bawah arahan seorang pelatih line dance (dansa masal tidak berpasangan) Oei berdansa lebih dari 20 lagu. Dari salsa, rhumba, cha cha, jive sampai dangdut.

Pada usianya yang ke 67 gerakan Oei masih terlihat berenergi. Para wanita satu per satu menjadi mitra Oei berdansa. Dari gerakan mereka yang lentur dan teratur tampak kalau mereka terlatih. Nama klub dansa itu OHD. Lekas terkesan nama itu disingkat dari Oei Hong Djien. “OHD maksudnya Olahraga Harian Duda,” kata Oei tertawa lebar.

Masih mengucur peluh dari tubuhnya, tapi selekas latihan Oei mengajak saya melihat koleksi lukisannya. Museum Oei menampung 294 lukisan dan 24 empat patung. Pintu masuknya dibuat oleh Yayat Surya. Patung dari Syahrizal Koto, lukisan S Teddy D dan sebuah asbak logam dari Yusra Martunis menjadi karya penyambut sejak masuk pintu museum.

Ruang kaca tersebut didesain seperti teras beratap yang terletak di depan bangunan dua lantai yang menjadi ruang utama. Di sana terdapat lukisan-lukisan karya pelukis-pelukis kontemporer Indonesia. Setelah tiga karya penyambut, terdapat lukisan berukuran besar yang dibuat Nasirun tahun 2005. Pada kanvasnya tertulis karya itu diilhami karya Hendra Gunawan Pertiwi Hormat. Juga ada karya instalasi pematung Nyoman Nuarta berjudul Ground Zero.

Memasuki lantai dua, ada empat kanvas lukis karya pelukis muda Jogjakarta, Bayu Yuliansyah. Sekilas tampak biasa saja, masing-masing kanvas menggambarkan sebatang rokok menyala dalam posisi berdiri. Cerita, kalaupun itu ada, pada lukisan itu adalah pada perubahan bentuk asapnya. Pada kanvas keempat batang rokok semakin pendek tersisa dan asapnya membentuk sosok tubuh wanita telanjang. Lukisan itu dibuat Yuliansyah belum lama ini, ketika marak wacana RUU Antipornografi dan Pornoaksi.

Masih banyak karya lain yang tidak bisa terpajang di museum Oei. “Di museum hanya 25 persen dari koleksi saya, sebagian besar yang lain masih di gudang,” kata dia.

Oei masih memiliki banyak koleksi lain yang kalau periodenya dirunut dimulai dari karya para pelukis awal masa kemerdekaan. Mulai dari aliran ekspresionis dan impresionis yang dimotori oleh Affandi, Hendra Gunawan, S Sudjojono dan Lee Man-Fong. Lalu generasi pelukis lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI)—kini jadi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta—kemudian generasi pelukis dari Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB), dari Institut Kesenian Jakarta, hingga generasi pelukis kontemporer Jogjakarta yang mengusung aliran metarealisme, simbolisme, abstrak, dan ekspresionis.

Oei juga mengoleksi karya-karya pelukis Belanda yang pernah bermukim di Indonesia seperti Walter Sipes, Pieter Ouborg, dan Jan Frank.

Dari koleksi Oei bisa ditilik catatan sejarah tentang peranan para pelukis pada zamannya, dari membantu propaganda kemerdekaan hingga saksi sejarah atas kekejaman PKI atas seniman-seniman LEKRA. Misalnya karya pelukis Trubus Soedarsono yang meninggal saat kudeta PKI 1965 juga tersimpan di museum tersebut. Trubus dan Hendra Gunawan adalah pengajar Djoko Pekik, pelukis Selain itu murid Trubus yaitu pematung Soetopo yang karya-karyanya menyebar di seluruh Indonesia juga disimpan di sana. Karya-karya Soetopo antara lain: Monumen Tugu Muda di Semarang, Monumen Brawijaya di Surabaya, Monumen Jaman Ginting di Medan, di hotel Indonesia di Jakarta, dan di hotel Ambarukmo di Jogjakarta.

Koleksi-koleksi Oei juga menjadi saksi berbagai organisasi seniman di Indonesia dan peranannya dalam masyarakat. Sejak Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) pada zaman Belanda para senimannya mereka menggelorakan perlawanan dengan jargon Mooi Indie, kemudian organisasi Poetra (pusat kegiatan rakyat), kemudian saat revolusi dimana para seniman membentuk SIM (Seniman Indonesia Muda), hingga organisasi Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) pada tahun 1950 hingga 1960an.

Di belakang rumahnya Oei menyimpan koleksi klasik karya maestro-maestro lukis Indonesia. Seperti Affandi, Widayat, dan S. Sudjojono. “Tiga pelukis ini adalah favorit dan sahabat saya,” tutur Oei.

Oei juga menaruh minat pada lukisan wanita telanjang. Di kamarnya dia dia menggantung tiga lukisan wanita telanjang dari S. Sudjojono, Antonio Blanco dan Lee Man Fong. “Belakangan karya Sudjojono saya ganti dengan Karya Hendra yang telanjang juga,” tutur Oei.

Walaupun semua ruangan rumahnya sudah dipenuhi dengan lukisan dan bahkan banyak yang tak terpajang, Oei masih rajin memburu lukisan. Sampai ke mancanegara sekalipun. Ketika istrinya, Wilowati Surjanto, masih hidup ada yang bertindak sebagai pengontrol kegilaannya pada lukisan. Wilowati meninggal pada 1992.

“Sejak istri saya meninggal tidak ada lagi rem,” kata Oei.


OEI Hong Djien lahir di Magelang pada 5 April 1939. Dia putra kedua dari tiga anak pasangan Oei Kok Hie dan Tjan Marie Giam Nio. Oei kecil terbiasa melihat lukisan-lukisan tua peninggalan Belanda milik ayahnya. Begitu pula ketika dia SD di Semarang. Di sana dia tinggal di rumah neneknya yang juga menyukai lukisan. Oei masih menyimpan beberapa dari lukisan milik ayah dan neneknya.

Oei hidup berpindah-pindah, tapi rumah yang ditinggalinya selalu dihiasi lukisan. Tak terkecuali saat dia di Jakarta untuk belajar di SMP Katolik Aloysius I. Di kelas tiga dia pindah ke Bandung dan tinggal di kediaman Kwi Sian Yok, sepupunya. Kwi Sian adalah kritikus seni di mingguan Star Weekly dan lulusan sekolah gambar Teken Akademi, Bandung, angkatan pertama.

Dari perkenalan dengan beberapa pelukis Bandung macam Umar Sudjoko, Mochtar Apin, yang juga teman seangkatan sepupunya, kegemaran Oei pada lukisan semakin membuncah. Oei Kok Hie mendambakan anaknya menjadi dokter. Juragan tembakau di Magelang ini lantas mengirim Oei ke Jakarta lagi untuk belajar kedokteran di Universitas Indonesia.

Ketika belajar di UI Oei giat mengikuti perkembangan seni rupa Indonesia dan rajin mengunjungi pameran. “Waktu itu hanya lihat-lihat saja belum mampu beli,” kenang Oei.Lulus dari UI, Oei berangkat ke Belanda, belajar spesialis patologi anatomi di Catholic University, Nijmegen. Oei rajin melihat pameran lukisan dan menyambangi berbagai museum di negeri kincir angin ini. Sangat ingin dia memiliki lukisan asli, tapi apa boleh buat, statusnya yang masih mahasiswa. “Saya hanya mampu membeli reproduksinya,” tutur dr Oei.

Tahun 1968, pulang dari Belanda Oei bekerja di Balai Pengobatan Pancasila, organisasi Gereja Katolik yang membantu pengobatan untuk masyarakat kurang mampu. Wilayah kerja Oei meliputi daerah-daerah terpencil di Kabupaten Temanggung.

Sepuluh tahun bekerja, Oei belum mampu membeli lukisan tapi dia punya banyak waktu luang bertandang le galeri-galeri atau mengikuti seminar seni rupa. Dia semakin paham karya-karya yang bagus dan ingin memilikinya. Oei juga mulai mengenal banyak pelukis dan bersahabat dengan mereka. Tahun 1979 dia mulai mengelola gudang tembakau yang diwariskan ayahnya. Tak hanya harta Oei juga mewarisi bakat ayahnya sebagai grader (ahli tes tembakau).

Setelah tiga tahun menjadi grader PT Djarum Kudus, Oei mengalami panen tembakau yang melimpah akibat musim kemarau yang panjang. Harga satu kilogram tembakau setara dengan tiga gram emas murni. Oei pun berkesempatan mewujudkan impiannya membeli lukisan. Tidak tanggung-tanggung dia membeli tiga karya maestro lukis Indonesia Affandi berjudul Perahu Madura, Adu Ayam dan lukisan yang paling populer Potret Diri. Karena kenal dengan Affandi, Oei bisa membayar dengan mencicil. Jumlahnya Rp. 1 juta, dilunasi dalam setahun.

Setelah memiliki tiga lukisan itu, Oei kian keranjingan dengan dengan karya-karya Affandi lainnya. Bahkan setelah Affandi meninggal dunia. Tak sulit bagi Oei untuk mengetahui siapa saja orang yang memiliki karya-karya Affandi, bahkan yang di luar negeri. Salah satunya adalah Yoseas Leao, mantan duta besar Brazil untuk Indonesia. Leao jua menggemari karya-karya S Sudjojono dan Widayat.

Setelah Leao meninggal koleksi dilelang. Oei terbang ke Rio de Janeiro. Dia memborong 20 lukisan koleksi Leao karya ketiga maestro lukis Indonesia tersebut.

Oei menyukai semua jenis lukisan dari realis, abstrak, surealis, ekspresionis, dekoratif sampai kontemporer. Kriterianya lukisan yang menarik baginya sangat sederhana, yang mampu menyentuh perasaannya. “Pendeknya yang mampu menyentuh rasa saya, saya ambil. Walaupun itu karya pelukis-pelukis muda,” tutur dr Oei.

Menemukan karya-karya besar dari para pelukis berbakat yang belum terkenal adalah kenikmatan tersendiri bagi Oei dan sangat menantang naluri seninya. Oei menyebut orang-orang berbakat ini dengan istilah “the future” atau pelukis muda yang akan muncul. Kebanggaannya semakin berlipat ketika pelukis-pelukis tersebut tenar dan Oei telah memiliki karyanya.

“Itu baru tantangan yang nikmat,” tutur dr Oei.

Tidak hanya sekali dua kali dr Oei merasakan kenikmatan macam ini. Nasirun contohnya. Oei langsung jatuh cinta pada Perjalanan Absurd karya Nasirun saat pertama kali melihatnya. Itu terjadi tahun 1995, setahun setelah Nasirun lulus dari Institut Seni Rupa (ISI) Jogjakarta.

Oei menyebut pelukis kelahiran Cilacap tahun 1965 ini dengan satu kata “unik”. Kultur Jawa yang kuat yang menjadi latar belakang Nasirun, menurut Oei, membuat karya-karya Nasirun tidak dapat dicipta seniman-seniman barat.

Ibarat sastrawan yang sarat perbendaharaan kata, Nasirun bagi Oei adalah kamus seni lukis. Setiap karyanya selalu menampilkan perbedaan detail walaupun temanya dekat.

Selain itu, latar belakang seni kriya yang dia pelajari saat di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) juga menyebabkan goresan kuas Nasirun selalu khas. “Nasirun mampu menampilkan gabungan antara surealisme, ekspresionisme, dan dekoratif dalam tiap lukisannya. Dia favorit saya,” tutur dr Oei.

Oei juga berperan dalam membesarkan nama I Made Djirna dan Entang Wiharso. Keduanya kini sering berpameran di luar negeri. Oei juga sering meminjamkan koleksinya untuk dipamerkan di galeri-galeri. Pameran macam itu yang mengangkat nama para pelukis muda.

Oei menjadi semacam pengarah tren dalam pasar seni rupa Indonesia. Karena ketajaman penilaian dan prediksinya pada bakat seniman muda, banyak kolektor lain datang padanya untuk berkonsultasi.

Memang trend bisa direkayasa, nilai karya pelukis muda bisa “digoreng” oleh orang seperti Oei yang dipercaya oleh kolektor maupun “kolekdol”. Kolekdol sebutan bagi kolektor yang semata-mata menempatkan karya seni rupa sebagai investasi, dibeli untuk dijual lagi.

Oei tidak pernah meniatkan untuk menjual lukisan. Kecuali dia tidak lagi cinta dengan salah satu koleksinya. Itupun jarang dia lakukan. Kalau sudah tidak suka lagi, paling-paling dia menghadiahkan pada orang lain.

Integritas Oei dalam dunia koleksi materi seni rupa pernah dituliskan oleh Eddy Soetriyono, seorang kritikus seni rupa dan penyair. Oei yakin dengan penilaian estetisnya sendiri, dia berani mengatakan tak suka meski pada sebuah karya yang “berhasil” menjadi mahal.

“Coba bandingkan kekayaan dan mutu artistik koleksi Oei Hong Djien dengan koleksi museum pemerintah. Juga, bagaimana dengan tegas ia tidak mengoleksi lukisan penari-penari dan barong Bali karya Sunaryo yang meskipun laris dengan harga ratusan juta rupiah tapi secara kualitas artistik di mata Oei Hong Djien ‘jauh di bawah pencapaian lukisan abstraknya.”

Oei Hong Djien juga menghargai tinggi lukisan-lukisan periode kubis dan horizon karya Srihadi Sudarsono, tapi dengan lantang menilai rendah estetika para penari karya Srihadi. Yang harganya pernah mencapai Rp 1 miliar dan laris manis di pasaran itu. Sungguh suatu hal yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang otaknya hanya berisi gumpalan ‘uang’ dan ‘untung’….’ Tulis Soetriyono.

Museum Oei adalah rujukan para kolektor lain tentang karya pelukis muda yang layak dikoleksi. Kolektor yang berorientasi untung biasanya akan mendatangi pelukis itu untuk membeli seluruh karyanya atau mengontraknya untuk membuat sejumlah lukisan dalam waktu tertentu. Tisna Sanjaya, dalam artikelnya di Majalah Playboy, menyebutkan setelah lukisannya dibeli Oei dia dikejar-kejar para kolektor yang menginginkan karyanya. Kalau kolektor sudah memasuki dapur seniman, besar kemungkinan proses kreatif seniman akan terganggu.


BIANTORO Santoso, pemilik Nadi Galeri, Jakarta, mengatakan sejarah seni rupa terutama seni lukis Indonesia ada pada koleksi dua orang. Soekarno dan Oei. “Kalau koleksi keduanya digabungkan maka lengkaplah sejarah seni lukis Indonesia,” kata Biantoro.

Biantoro menjelaskan di negara-negara lain ada tiga pasar seni rupa, yakni kolektor perorangan, perusahaan dan Museum. “Museum biasanya kuat dan lengkap karena didanai pemerintah dan biasanya ditangani oleh tim kurator yang profesional. Sedangkan kolektor dan perusahaan lebih berdasarkan kesukaan pemilik perusahaan dan sang kolektor,” kata dia.

Di Indonesia sampai zaman pemerintahan Soekarno yang ada hanya kolektor perorangan termasuk Soekarno sendiri, sedang museum dan perusahaan tidak memperhatikan seni. Oei menurut Biantoro sangat berjasa dalam mengumpulkan karya-karya seni yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Biantoro juga memaklumi kalau koleksi-koleksi Oei sangat tergantung pada seleranya. “Sangat subyektif jadinya, dan sangat suka-suka dr Oei,” kata Biantoro.

Bagi Biantoro, kelebihan Oei adalah kontinuitas mengkoleksi lukisan selama lebih dari 25 tahun. Hebatnya lagi dia tidak membatasi koleksi hanya pada Maestro namun dia juga menggemari lukisan-lukissan dari pelukis-pelukis muda. “Tak banyak orang yang mampu melakukan hal ini, disela-sela kesibukannya dia selalu meluangkan waktu untuk membeli lukisan,” tutur Biantoro.

Banyak yang telah merasakan manfaat dari koleksi lukisan Oei. Salah satunya adalah DR Helena Spanjaard, ahli sejarah seni Indonesia asal Belanda. Dia mempelajari seni rupa di seluruh Indonesia dan menemukan banyak sumber dan contoh lukisan yang dia cari dari koleksi-koleksi dr Oei. Dalam buku Exsploring Modern Indonesian Art, the Collection from Oei Hai Djien, Spanjaard merekomendasikan pada orang yang hendak mempelajari seni rupa modern Indonesia supaya mendatangi museum Oei.

Sejarah seni rupa Indonesia mencerminkan sejarah nasional Indonesia. Setelah Belanda memperkenalkan cat minyak pada masa penjajahan. Banyak pelukis Indonesia mengabadikan masa kolonial lewat lukisan.

Pada tahun 1950an, tak banyak orang yang mau membeli lukisan. Ketika dalam proses penemuan gaya dan identitas seni lukis modern, produktivitas para pelukis dipacu oleh Soekarno. Soekarno adalah kolektor seni sejati. Dia membeli karya seni karena kecintaan terhadap seni, bukan untuk dijual lagi.

Menurut Oei koleksi Soekarno telah terhenti sampai pada tahun 1950an Terbukti dengan tidak adanya koleksi dari tidak adanya karya Widayat dan generasi yang lebih muda darinya, dalam koleksi Soekarno. “Saya ingin meneruskan Soekarno. Saya ingin membikin suatu koleksi yang representatif dan the highest quality,” tutur Oei.

Pada tahun 2001, setahun sebelum meninggal dunia, Widayat pernah menulis dua permohonan pada Tuhan. Pertama, dia ingin Oei bisa menikmati umur panjang agar bisa melanjutkan kecintaannya terhadap perkembangan seni rupa dan menambah koleksi museumnya dengan karya-karya dari pelukis-pelukis muda. Yang kedua, adalah agar kedua putra Oei mewarisi kecintaan yang sama dengan Oei akan seni dan karya-karya seni, agar koleksi dr Oei aman pada kemudian hari.

Ada kekhawatiran dalam tulisan Widayat tentang masa depan koleksi Oei setelah dia meninggal. Oei juga faham dengan kekhawatiran tersebut. Dia telah belajar banyak dari pengalaman Yoseas Leao. “Dia adalah kolektor hebat, banyak karya-karya pelukis hebat Indonesia yang dibawa pulang ke Rio de Janeiro. Namun setelah dia meninggal dia koleksi-koleksi tersebut dijual semua,” tutur Oei.

Menurut Oei dia sudah melatih dua putranya untuk mencintai seni dengan mengenalkan mereka para seniman-seniman hebat seperti Widayat dan Affandi. Dia yakin kalau anaknya juga suka seni, “waktu kecil saja mereka memilih (karya) Affandi daripada BMW.”


LIMA belas menit dari kediaman Oei ke arah timur atau Kopeng, Boyolali, ada desa Sorobayan, Magelang. Di sanalah gudang tembakau milik Oei. Puluhan petani, para tengkulak tembakau serta pekerja gudang sedang berkumpul saat saya memasuki pekarangan gudang. “Juragane bako di ruang kaca,” seseorang menjawab, beberapa orang menunjuk sebuah ruangan disamping gudang.

Saya menuju ruangan yang dituntuk dan mendapati Oei sedang asyik dengan tembakau hasil rajangan berbentuk kubus. Oei menyebutnya sebagai “monster” atau contoh. Tiap monster mewakili satu keranjang tembakau. Tembakau ini berwarna hijau bercampur kuning , Oei mencomot satu monster kemudian dia mencium aromanya berkali-kali. Dia pungut rontokan tembakau dan melintingnya dengan selembar kertas rokok. Ujung lintingan dia bakar dan menghisap asapnya perlahan.

“Tunggu sebentar nanti saya ambil tembakau srintil,” tutur dr Oei, dia berlalu menuju lemari kayu. Dia berjalan ke arah saya dan membuka bungkusan kertas warna kuning. Aroma selai pisang meruap. Isinya tembakau warna hitam. Ketika saya sentuh terasa lengket.

“Ini adalah tembakau kwalitas terbaik,” tutur Oei.

Oei menjelaskan bagaimana menilai tembakau dan cara memanennya. Ada sembilan derajat kualitas tembakau, kelas A, B, C, D, sampai I. Srintil adalah kwalitas dengan nilai I. Tembakau kualitas A berasal dari daun tembakau paling bawah, saat kering berwarna hijau. Tembakau kualitas B berasal dari daun ke-7 sampai ke-10 dihitung dari tanah. Warnanya kuning. Tembakau petikan ketiga biasanya berwarna merah kuningan saat kering dan berasal dari daun ke-11 sampai ke-15 dari tanah. Sedang daun ke-15 sampai ke-20 dari tanah biasanya berwarna merah kehitaman. Kualitas E ini lebih pekat lagi, bisanya dari daun ke-20 sampai 25. Kwalitas D dan E bisa menjadi kwalitas F, G, H, dan I. Tergantung pada daerah dan musimnya.

Kualitas I kadar nikotinnya paling tinggi dan berwarna hitam. Semakin kurang hitam atau masih terdapat warna hijau atau kuning berarti kualitas tembakaunya lebih rendah.

Tembakau kualitas I biasanya berasal dari daerah Weleri, Kendal dan Kali Bongkeng, Muntilan. Tidak setiap tahun tembakau macam ini bisa di panen. “Hanya 6 tahun sekali muncul,” tutur Oei.

Setelah tahun 1982, harga tembakau srintil kembali mengalami masa kejayaan pada tahun 1992. Harga tiap kilogramnya setara dengan 2 gram emas murni. “Orang jual 2 keranjang (40-50 kg per keranjang) aja bisa beli mobil saat itu,” kata Oei.

Oei enggan menceritakan besar pendapatannya sebagai Grader tembakau. Dia memiliki banyak tengkulak tembakau. Tengkulak mendapat komisi Rp 500-1000 dari tiap kilogram. Oei mengatakan, dalam setahun dia hanya bekerja saat panen.

Dalam setahun, tiga bulan Oei bekerja. Selebihnya untuk berburu lukisan.

Tulisan ini dimuat di Majalah Playboy edisi Januari 2007. Tiga lukisan dalam tulisan ini dibikin Agus Suwage.

29 August 2007

Dua Anak Serdadu

Oleh Imam Shofwan

BEATRIZ Miranda Guterres berwajah oval, dagunya berbelah, bibir tipis, mata sipit dan rambut hitam berombak. Kulitnya halus sawo matang dan tubuhnya ramping. Namun karunia ini jadi malapetaka baginya. Para serdadu Indonesia, yang bertugas di kampungnya, Lalerek Mutin di Viqueque, tergiur dengan kecantikannya. Miranda dipaksa jadi gundik, berpindah dari satu tentara ke tentara lain.

Para tentara itu sudah pulang ke Pulau Jawa, namun Miranda tak lupa wajah laki-laki yang pernah menyenggamainya. Dari hubungan “kawin paksa” dengan tiga serdadu, Miranda menanggung dua orang anak, yang hingga kini diasuhnya. “Yang pertama sudah kelas satu SMP (Sekolah Menengah Pertama),” tutur Miranda pada saya.

Saya menemui Miranda pada 22 Mei 2007 lalu di Lalerek Mutin. Anak-anak tanpa baju bermain di depan rumah-rumah kumuh dan kecil. Rumah-rumah itu beratap daun aren, atau uma tali, atau “rumah daun aren” dalam bahasa Tetun. Uma-uma tali itu berlantai tanah. Tidak ada listrik. Babi-babi berkeliaran di sekitar rumah bersama anjing-anjing. Suara mereka bercampur dengan suara anak-anak.

Miranda duduk di teras rumahnya. Alasnya dari kulit batang aren. Sebuah lampu minyak, dari botol minuman, menjadi penerangan tunggal. Miranda menaruh lampu itu di sebelah sebuah panci besar, berisi adonan roti pao, atau roti keras ala Portugis.

Usia Miranda kini mencapai kepala empat. Obrolan kami segera mengundang penasaran anak-anak. Mereka mendekat, mendengarkan obrolan dan nyempil di sekitar adonan kue. Ibu-ibu tak berbaju juga tidak mau ketinggalan. Mereka menggendong dan menyusui bayinya. Miranda jengah dikelilingi anak. “Halae, halae, halae (Bubar, bubar, bubar),” teriak Miranda.

Banyak yang yang ke sini meminta saya bercerita tentang perkosaan yang saya alami. Beberapa bulan lalu ada orang Australia datang dan meminta saya cerita,” tutur Miranda, tangannya melumatkan isi panci.

“Suami saya diculik dan dibunuh tiga orang tentara saat saya hamil empat bulan. Anak saya meninggal karena kelaparan. Saya menghidupi dua orang anak dari dua di antara tiga tentara, yang berzinah dengan saya,” tutur Miranda.

Kini Miranda membikin roti pao dan menjualnya di pagi hari, selain bertani. Kuenya dijual lima sen atau Rp 500 per biji. “Kalau laku semua biasanya saya mendapat dua dollar,” tutur Miranda. Dollar Amerika Serikat adalah mata uang di Timor Leste, pengganti rupiah Indonesia.

Nama Miranda saya pilih, secara acak, dari hampir 8000 orang yang memberikan kesaksian pada Komisi Penerimaan, Kebenaran, dan Rekonsiliasi Timor Leste, atau dalam bahasa Portugis, Comissao de Acolhimento, Verdade e Reconciliacao de Timor-Leste (CAVR). Kesaksian-kesaksian ini dikumpulkan, secara suka rela, dari 13 distrik di seluruh Timor Leste dan dibukukan dengan nama Chega! atau “Cukup” dalam bahasa Portugis.

Ribuan saksi ini menuturkan kejahatan yang mereka alami, atau mereka lihat, seraya menyebutkan siapa saja pelaku, kejahatan apa saja yang mereka lakukan, terhadap siapa dan di mana kejadian itu terjadi. Batasannya, kejahatan hak asasi manusia, yang berlangsung menjelang penyerbuan dan pendudukan.

Indonesia di Timor Leste, pada tahun 1974, hingga Indonesia keluar dari Timor Leste, setelah jajak pendapat, Agustus 1999. Pelakunya beragam. Mulai dari pasukan-pasukan bentukan partai politik Frente Revolucioniria de Timor-Leste Independente (Fretilin), Uniao Democratica Timorense (UDT) dan Associacao Popular Democratica Timorense (Apodeti). Namun utamanya, militer Indonesia dan milisi-milisi bikinannya.

UDT, Fretilin dan Apodeti berdiri pada pertengahan 1974, beberapa saat sesudah terjadi pergantian kekuasaan di Lisbon, yang mendorong dekolonisasi jajahan-jajahan Portugis di Afrika. UDT ingin Timor Leste ada dalam naungan Portugal. Fretilin ingin Timor Leste jadi negara berdaulat. Apodeti, partai terkecil, ingin berintegrasi dengan Indonesia. Namun Indonesia menyerbu Timor Leste pada Desember 1975 dengan dukungan Amerika Serikat dan Australia.

Nama Beatriz Miranda Guterres tak dicantumkan dalam laporan Chega! Dalam laporan ini namanya diganti dengan kode ‘MI’. Laporan perempuan ‘MI’ ada pada bagian Pemerkosaan dan Perbudakan Seksual. Saya mendapatkan nama “Beatriz Miranda Guterres” dari catatan audiensi nasional CAVR, 28-29 April 2003. Dalam audiensi ini, 14 perempuan bersaksi tentang pengalaman kekerasan seksual yang mereka alami. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan CAVR dalam mencari kebenaran dan rekonsiliasi setelah sebelumnya para staf CAVR mengambil pernyataan dari para korban dan saksi di distrik-distrik.

Dalam laporan Chega! yang disebarkan pada umum, nama pelaku dan korban disamarkan. Sementara laporan, yang diberikan kepada Presiden Timor Leste Xanana Gusmao, lengkap dengan nama korban dan para pelakunya.

Bacaan setebal 2500 halaman itu isinya berkisar soal pembunuhan, kelaparan, penahanan, penyiksaan, penganiayaan, pemerkosaan, dan perbudakan seksual. Saya makin miris ketika tahu sebagian besar kejahatan itu dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI), tentara yang sering saya jumpai sehari-hari, sejak saya kecil di Rembang, kuliah di Semarang dan bekerja di Jakarta.

MENGAPA CAVR penting? Sejak 1990an, komisi semacam CAVR lazim dibentuk di negara-negara pascakonflik, kebanyakan di Afrika dan Amerika Latin. CAVR menjadi komisi ke-21 sesudah komisi serupa di Sierra Leone.

“Saya kira (CAVR) adalah komisi kebenaran yang pertama di Asia,” tutur Jose Estevao Soares, salah seorang mantan anggota komisaris nasional CAVR dan kini anggota Komisi Kebenaran dan Persahabatan (KKP) di Dili.

“Gunanya supaya kejahatan itu dicatat dan orang bisa belajar dari sana dan tidak mengulanginya,” tutur Agustinho Vasconselos, mantan komisaris nasional CAVR yang kini mengepalai Sekretariat Teknik Pasca CAVR.

Jadi, tujuannya mencari kebenaran, sesuatu yang sangat sulit, ag

ar kekerasan-kekerasan itu jadi bahan pelajaran untuk generasi mendatang.

Menurut Aniceto Guterres Lopes, mantan ketua komisaris nasional CAVR, yang kini menjadi anggota KKP, ide membikin komisi ini berawal Timor Leste, yang remuk setelah referendum. Bangunan-bangunan dirusak dan dibakar, separuh penduduknya, yang hanya 600.000 jiwa, dipaksa mengungsi, yang tidak mau atau dicurigai pro kemerdekaan dibunuh militer dan milisi Indonesia.

“Saat itu kita benar-benar membutuhkan rekonsiliasi. Dan rekonsiliasi hanya bisa dilakukan dengan pengungkapan kebenaran,” tutur Aniceto pada saya.

Besarnya cakupan kejahatan hak asasi manusia atau HAM yang akan ditangani CAVR serta banyaknya pelaku, yang saat itu, menduduki jabatan penting, temasuk Xanana Gusmao dan Francisco Guterres Luo’lo, di Timor Leste adalah tantangan yang sempat membuat pesimistis saat perancangan CAVR. “Banyak orang pesimis dengan misi kita untuk mendokumentasikan semua kejahatan selama 25 tahun. Saat itu kebanyakan orang fokus pada HAM 1999,” tutur Aniceto.

Aniceto merujuk beberapa penyelidikan, antara lain: Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, Komisi Penyelidik Internasional, Komisi

Penyelidik Pelanggaran HAM Indonesia, dan Laporan James Dunn. Semua penyelidikan ini berfokus pada kejahatan HAM 1999. Laporan-laporan ini, diringkas oleh Geoffrey Robinson dalam East Timor 1999: Crimes Against Humanity, menyimpulkan kejahatan kemanusiaan di Timor Leste adalah sistematis dan sangat meluas.

“Yang menguatkan kami saat itu adalah dukungan komunitas internasional,” tutur Aniceto.

Tak hanya Aniceto, para aktivis perempuan, gereja, mantan tahanan politik, wakil-wakil pro-integrasi, ditambah dengan United Nations Transitional Administration in East Timor (UNTAET), membicarakan pembentukan komisi dalam sebuah lokakarya pada Juni 2000. Hubungan dekat antara para aktivis dan politisi, menyebabkan ide pembentukan komisi ini segara merembas di kalangan politisi.

Xanana, pemimpin Conselho Nacional da Resistência Timorense (CNRT), sebuah partai politik, segera menangkap sinyal pembentukan komisi kebenaran. Pada kongres CNRT yang perdana, Xanana membicarakan pembentukan komisi. Walhasil, salah satu amanat kongres CNRT adalah pembentukan komisi ini.

Sebuah panitia pengarah lalu dibentuk. Isinya, wa

kil dari berbagai organisasi politik, agama, militer maupun internasional. Mereka bertugas berkonsultasi dan mengumpulkan informasi untuk mendapatkan pemahaman tentang sikap dan pandangan rakyat Timor Leste terhadap hal-hal yang menyangkut kebenaran dan rekonsiliasi. UNTAET, yang saat itu masih bertanggung jawab untuk transisi pemerintahan Timor Leste, juga sepakat.

Dewan Nasional pimpinan Xanana mengajukan rancangan akhirnya kepada Segio Vieria De Mello, administrator transisi Timor Leste, untuk meminta pengesahan. De Mello mengukuhkan hukumnya pada tanggal 13 Juli 2001, menurut Chega!

Setelah landasan hukumnya ada, dibentuklah dewan penasehat CAVR, yang berisi orang-orang terkenal Timor Leste: Jose Ramos-Horta, Uskup Carlos Felipe Ximenes Belo, Uskup Basilio do Nascimento, Madre Zulmira Osorio Soares, Pastora Maria de Fatima Gomes dan Ana Pessoa Pinto. Selain itu, ada empat penasehat internasional: Sérgio Vieira de Mello, Ian Martin serta Saparinah Sadli dan Munir dari Jakarta.

Mereka jadi penasehat bagi komisaris nasional CAVR, antara lain: Aniceto Guterres Lopes, Padre Jovito do Rêgo de Araujo, Maria Olandina Isabel Caeiro Alves, Jacinto das Neves Raimundo Alves, José Estevão Soares, Rev. Agustinho de Vasconselos, serta Isabel Amaral Guterres.

Dengan jalan belajar dengan bekerja serta dukungan dari semua korban, laporan Chega! bisa diselesaikan juga, dengan wawancara hampir 8000 saksi dan perkiraan 183,000 orang mati pada zaman pendudukan Indonesia. Pada 28 November 2005, setelah menghabiskan dana sekitar US $5 juta, laporan Chega! resmi diberikan kepada Presiden Timor Leste Xanana Gusmao dan didistribusikan ke parlemen. CAVR selesai tugasnya.

Para aktivis puas dengan hasil laporan CAVR, yang dengan rinci merekam kejahatan kemanusiaan di Timor Leste, selama 24 tahun pendudukan Indonesia. Chega! juga menyebut bagaimana pesawat-pesawat terbang dan senjata buatan Amerika dan Inggris dipakai melakukan kejahatan terhadap penduduk sipil. Rekomendasinya, pembentukan pengadilan terhadap semua kejahatan, yang pernah terjadi serta rekonsiliasi dan pemaafan untuk kejahatan ringan. Chega! juga minta beberapa negara, termasuk Indonesia dan Australia, membayar kerugian kepada para korban.


HINGGA Mei 2007, saat saya berkunjung ke Dili, tak ada greget untuk menindaklanjuti rekomendasi dari CAVR. Xanana Gusmao, yang sebelumnya getol mencarikan duit untuk membiayai CAVR, justru sibuk dengan pesta-pesta perpisahan menjelang akhir masa jabatan kepresidenannya.


Saat saya bertemu Xanana di kediamannya di Balibar, Dili, Xanana menolak untuk mengomentari hal ini.

“Saya kira sekarang bukan waktu yang tepat untuk wawancara,” tutur Xanana pada saya.

Para anggota parlemen nasional Timor Leste, yang sebelumnya memberi dasar hukum dan perpanjangan waktu kerja bagi CAVR, juga setali tiga uang. Adem-adem saja. Beberapa orang anggota yang saya temui malah bilang belum dapat laporan Chega!

“Saya hanya dapat laporan singkat dari laporan itu. Belum lengkap dan komplit,” tutur Vicente da Silva Guterres, legislator dari Partai CNRT.

Mariano Sabino Lopes dari Partai Demokrat telah menerima laporan Chega! dan mengakui prosesnya mandek di parlemen. Dia mengakui kalau fungsi parlemen tidak jalan dan kini parlemen sedang sibuk dengan kampanye. “Lagi pula partai demokrat kan minoritas di Parlemen Nasional jadi kami tak punya cukup suara,” tuturnya.

“Tidak ada keinginan untuk tidak mempelajari dengan serius dokumen CAVR. Saat itu, parlemen punya prioritas lain, selain untuk mempelajari dan membaca hasil kerja CAVR,” tutur Fransisco Branco dari Fretilin, partai terbesar di parlemen. Branco mengacu pada krisis politik Timor Leste yang mendorong Perdana Menteri Mari Alkatiri mundur.

Indonesia sendiri, yang menolak pengadilan internasional bagi para perwira-perwiranya di Timor Leste, berjanji menyelenggarakan pengadilan yang jujur terhadap mereka. Memang ada serombongan perwira diadili namun tak ada satu pun yang dinyatakan bersalah. Dari Jenderal Benny Moerdani hingga Jenderal Wiranto, sampai ribuan sersan dan prajurit Indonesia, tak ada satu pun yang mengaku bertanggung jawab terhadap matinya 183,000 rakyat Timor Leste selama pendudukan Indonesia.

Keadaan ini bikin gemas Eddio Saldanha Borges, aktivis Perkumpulan Hukum, Hak Asasi, dan Keadilan atau Perkumpulan HAK, yang sejak laporan Chega! keluar membentuk aliansi untuk pengadilan internasional. Menurut Borges, semua anggota parlemen telah menerima laporan Chega! Kalau ada anggota parlemen yang mengaku belum dapat laporan itu adalah bohong. “Itu kebohongan publik, karena menurut konstitusi 162 tahun 2002 tentang CAVR pertanggungjawabannya ke parlemen,” ujar Borges, geram.

Kalau perwira Indonesia menolak bertanggung jawab, mungkin masih bisa dimengerti. Perampok mana mau mengaku? Namun Borges juga sakit hati dengan Presiden Xanana Gusmao, yang membikin Komisi Kebenaran dan Persahabatan dengan Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono. Komisi ini, menurut Borges, adalah bentuk penghianatan kepada korban. Borges tidak sendirian. Dari New York hingga Dili, banyak organisasi dan penulis soal kemanusiaan menyatakan komisi ini hanya pura-pura. Ia tak punya gigi untuk mencari kebenaran lewat pengadilan para penjahat kemanusiaan.

“Setelah mereka mengambil pernyataan dari para korban lalu mereka membikin komisi persahabatan yang bertujuan untuk memaafkan para pelaku. Ini penghianatan pada korban,” kata Borges.

Komisi ini sama sekali bertentangan dengan misi yang diemban CAVR: mengungkapkan kebenaran dan rekonsiliasi. Justru sebaliknya menyembunyikan kebenaran dan memaafkan para pelakunya.

Lebih parah lagi, Xanana membedol sebagian besar anggota komisaris nasional CAVR dan memindahkannya menjadi komisaris komisi-komisian. Mereka termasuk Aniceto Guterres Lopes, Maria Olandina Isabel Caeiro Alves, dan Jacinto das Neves Raimundo Alves.

Keputusan Xanana ini dianggap sebagai penghianatan terhadap para korban. Menurut Jose Luis Olivera, pemimpin Perkumpulan HAK, Xanana tidak serius menangani pelanggaran hak asasi manusia di Timor Leste. Tindakan Xanana, yang mendukung CAVR, lalu membuat komisi lain, adalah main-main soal hak asasi manusia.

“Xanana ingin dilihat dunia sebagai pendukung HAM dengan mendukung CAVR. Tapi sebenarnya dia tidak serius dalam hal ini, buktinya dia membuat KKP,” tutur Jose Luis.

Pengganti Xanana, Jose Ramos-Horta, sama saja. Ramos-Horta mengatakan pada pidato kepresidenannya, “Saya puas dengan hasil kerja Komisi Kebenaran dan Persahabatan dan akan melanjutkan apa yang telah dibentuk oleh pendahulu saya.”

DARI Dili menuju Manatuto lalu Baucau, pemandangannya sangat indah. Pantai tampak dan hilang seiring dengan jalur yang dilalui bis yang naik turun bukit. Dari kejauhan, pantai kelihatan biru dan bersih. Di pinggirnya terlihat pasir putih, yang memisahkan laut dari perbukitan yang hijau. Pantai pasir putih itu tak lebar namun memanjang seperti sapuan cat warna putih, yang memisah biru laut dan hijau bukit.

Dari Baucau ke selatan, hingga ke Viqueque, lebih banyak pemandangan savana, hutan, dan lahan pertanian. Bangunan di pinggir jalan relatif utuh. Ini berbeda dengan bangunan yang ada di sepanjang jalan dari Dili ke arah Motaain, perbatasan dengan Indonesia, yang kebanyakan bangunannya gosong atau tinggal separuh. Artinya, ketika lebih dari 260,000 orang Timor Leste dibawa ke bagian Timor barat, pada Oktober-November 1999, perjalanan ini juga berupa bumi hangus.

Dari Dili ke Viqueque menggunakan bis umum memerlukan waktu 10 jam dengan biaya US$10. Viqueque berada 100 kilometer sebelah timur Dili. Pada masa pendudukan Indonesia, Viqueque bersama Baucau dan Los Palos, dikenal sebagai basis kelompok pejuang kemerdekaan Fretilin.

Tak sulit untuk mencari desa Lalerek Mutin. Sebagian orang tahu desa itu. Orang biasa menyebutnya “desa janda.” Jaraknya tak lebih dari 15 kilometer dari Viqueque.

Masalahnya, saya sampai di Viqueque menjelang petang dan tidak ada angkutan umum menuju desa ini. Untuk berjalan kaki tidak mungkin.

Beruntung saya dihubungkan dengan Mario Pinto, wartawan Radio Timor Leste. Pinto bertubuh gelap dan berbadan besar. Pembawaannya ramah dan murah senyum. Pinto tak pandai mengendarai motor dan dia meminta saya untuk memegang kendali. Setelah melewati hutan jati, pasar Viqueque, hutan kelapa, sungai Waituku, dan sebuah bekas barak tentara barulah kami sampai di Lalerek Mutin.

Hari mulai malam. Kami langsung menuju rumah Jose Gomes, kepala desa Lalerek Mutin, juga seorang saksi CAVR. Kami mengobrol soal peristiwa Kraras pada 1983. Tragedi Kraras salah satu kejahatan militer Indonesia di Timor Leste. Antara 1982 hingga 1984, tak kurang dari 180 orang penduduk desa ini dibunuh.

Sebagian penduduk yang tersisa, yang kebanyakan perempuan, lalu berpindah tempat ke desa Lalerek Mutin pada 1984. Saya dan Pinto lalu berpamitan pada Gomes dan menuju rumah Beatriz Miranda Guterres, tidak jauh dari kediaman Gomes.

Bayangan saya tentang uma tali, yang eksotis, seketika sirna setelah melihat kemiskinan. Anak-anak tak berbaju, tempat gelap tanpa listrik dan suara babi di mana-mana.

Kami mengobrol dengan Miranda hingga larut. Saya mulai panik saat awan gelap menutupi bintang-bintang di angkasa.

Saya lalu memohon diri. Gerimis mulai turun dan jalan setapak menjadi licin. Dalam gelap, di jalan, saya berpapasan dengan beberapa rombongan orang berjalan kaki dan membawa parang. Sebagian mendorong gerobak barang. “Mereka baru pulang dari pasar,” tutur Pinto.

Kami melanjutkan jalan dan sesampainya di pasar, jalan mulai baik dan beraspal namun masih gelap. Sial di tengah hutan lampu motor padam. Kami panik dalam gelap hingga ada sebuah truk. Pinto minta pengemudi untuk menyoroti jalan kami. Saya melaju di depan truk hingga pertigaan Viqueque, kota yang juga gelap. “Di sini listrik sehari hidup, sehari mati,” tutur Pinto.

TUJUH tahun Miranda merasakan kemerdekaan Timor Leste. Dia tetap bertani dan membikin roti pao.

Sejak zaman Indonesia, sebagai korban, dia hanya ditanya dan ditanya tentang pengalaman pahitnya, tanpa pernah ada yang perduli dengan perbaikan hidupnya.

“Kalau zaman Indonesia saya memberikan keterangan pada audiensi gelap yang dilakukan oleh gereja. Saat CAVR saya memberi keterangan lagi,” tuturnya.

Miranda tak langsung memberikan kesaksian saat para staf CAVR datang ke kediamannya. Pada pertemuan pertama, kedua, ketiga para staf ini hanya melakukan pendekatan. Baru pada pertemuan keempat Miranda mau memberikan kesaksian. “Ibu percaya karena saat datang pastur itu datang bersama mereka (CAVR),” katanya.

Dia tak tahu siapa membunuh suaminya, Andrew Alves. Dia bertemu terakhir dengan suaminya yang dijemput tiga orang tentara yang tidak dikenalinya. Setelah itu suaminya tidak pernah kembali. Kejadian itu berlangsung setelah peristiwa Kraras 1983. Miranda hanya ingat orang-orang yang pernah menghamilinya.

Dalam laporan Chega! tak disebutkan nama tentara-tentara yang “mengawini paksa” Miranda. Namun Miranda menyebutkan pada saya. “Pada tahun 1991 Mulyono, dari Nanggala, berzinah dengan saya dan punya anak kini sudah kelas satu SMP. Dan pada tahun 1993 Sumitro, dari Batalyon 408, beradu tembak dengan komandannya untuk memperebutkan saya, menghamili, dan juga meninggalkan anak pada saya.”

Mulyono berakhir masa tugasnya dan kembali ke kesatuan sebelum Miranda melahirkan anak darinya. Sedang Sumitro sempat mengetahui Miranda melahirkan anaknya. Sumitro kembali ke kesatuannya ketika anaknya dengan Miranda berusia lima bulan. “Saya tidak bisa bekerja setelah melahirkan, untuk makan saya dikasih tetangga dan keluarga,” tutur Miranda.

Saya berusaha untuk mencari Mulyono dan Sumitro. Pada 26 Juni, saya bertemu Kolonel Ahmad Yani Basuki, Kepala Dinas Penerangan Umum Pusat Penerangan TNI di Jakarta. Ahmad Yani minta saya mengirim surat resmi. Saya mengirim surat esok paginya. Hingga kini tak ada jawaban.

Saya pergi ke Komando Daerah Militer (Kodam) Batalyon 408, di Sragen, dekat kota Solo, untuk mencari Sumitro. Pada 2 Juli, saya menemui Letnan kolonel Ahmad Bazar, komandan 408.

Bazar menemui saya di lapangan tembak Widoro Kandang. Para serdadu latihan dengan kaos loreng. Bazar pakai seragam harian. Saya bicara 15 menit dengannya.

“Kalau soal kesiapan tempur 408 saya akan cerita. Tapi kalau soal (kejahatan HAM) ini Anda harus minta izin ke Korem (Komando Resor Militer) karena kami cuma unit pelaksana,” tutur Bazar.

Besok siangnya, saya menelepon Korem 074 Warastratama, Solo, Jawa Tengah. Letnan kolonel IGK Wicitra Wisnu, kepala staf Korem 074, menjawab. “Ini bukan wewenang kami. Kami punya atasan. Daripada salah jawab lebih baik izin dulu ke penerangan Kodam,” tutur Wisnu. Intinya, saya diping-pong dari pusat ke daerah, dan dari daerah dilempar lagi ke pusat.

Saya memutuskan menyewa kamar dekat Asrama 408. Saya minta tolong pedagang buah dan es krim untuk mencari Sumitro, namun hasilnya nol.

Saya sempat bertemu Sulistiowati, istri Iskak, seorang tentara yang saya duga pernah bertugas dengan Sumitro di Timor Leste. Sulis marah setelah saya menyampaikan maksud saya. “Kalau saya lapor ke Kodim (Komando Distrik Militer) atau ke polisi kamu bisa ditangkap,” gertak Sulis.

Dengan nada tinggi dan sinis, Sulis menjelaskan kalau suaminya tidak di rumah dan dua anaknya, yang lulusan Akademi Militer Magelang, dan seorang lagi polisi, berada di Surabaya dan Jakarta.

“Untung anak saya tidak di rumah. Kalau di rumah bisa diperkarakan kamu,” kata Sulis.

Saya masih berusaha mencari Sumitro dan Mulyono untuk menyampaikan pesan Miranda bahwa mereka punya anak di Timor Leste dan kini sudah bersekolah.

Keinginan Miranda sederhana. Dia hanya butuh kerbau untuk membantunya bertani. “Kerbau” selalu menjadi jawabannya setiap kali ditanya apa keinginannya setelah menceritakan pengalaman pahitnya. Berulangkali dia meminta, berulangkali juga sia-sia.

“Terserah pemerintahlah,” tutur Miranda pasrah.*

*) Naskah ini dipublikasikan di Sindikasi Pantau dan liputannya diongkosi oleh Southeast Asian Press Alliance (SEAPA), Bangkok.

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...