Sumber: Selilit Syir’ah edisi Januari 2006
13 May 2008
“Jangan Ajak Dia, Nanti Dia Marah”
Sumber: Selilit Syir’ah edisi Januari 2006
Coblosan Hati Nurani
Ceritanya, Senin pagi 5 Juli, Rahman, bersama tetangga dekatnya Yusuf, berjalan semangat menuju bilik suara yang tak jauh dari rumahnya. Sepanjang perjalanan, kedua warga Madura yang bermukim di Yogyakarta ini memperbincangkan siapa pilihannya.
Dialog singkat berlogat Madura pun terjadi sepanjang perjalanan:
“Kamu milih apa Sup?” tanya Rahman.
“Aku pilih SBY saja lah,” jawab Yusup enteng.
“Kamu ini gimana! Kita kan orang Madura, masa milih SBY,” tentang Rahman.
“Lo, kan ibu kota kita Surabaya, pas kan kalau milih SBY? Coba kepanjangan SBY itu apa kalau bukan Surabaya?” kilah Yusup sengit.
“Tapi SBY kan bukan orang NU?”
“Gak peduli NU atau bukan. Yang penting sesuai dengan hati nurani! Kalau kamu pilih siapa?” Tanya Yusup.
“Sesuai dengan hati nuraniku, aku tetep pilih Gus Dur to,” jawab Rahman, mantap.
“Kon goblok yo? Gus Dur kan tidak bisa maju jadi presiden. Gimana mau nyoblos dia?” komentar Yusup sembari terkekeh-kekeh.
“Nggak ada urusan, yang penting sesuai dengan hati nurani!”
“Iya tapi gimana mau pilih Gus Dur kalau gambarnya aja tidak ada.”
Rahman lalu mengeluarkan foto Gus Dur dari sakunya.
Singkat cerita, Rahman hanya ingin tetap menjaga hati nuraninya agar tidak memilih kandidat presiden lain. Karenanya, dia mempersiapkan foto Gus Dur dan dia bawa masuk bilik suara, dia pasang di kartu tanda gambar yang akan dipilih.
Akhirnya, kesampaian juga niat memilih kandidat presiden pilihan hati nuraninya. Sesudah mendapat giliran mencoblos, di dalam bilik suara Rahman melaksanakan aksinya. Ia memang langsung membuka lembar tanda gambar. Namun, ia tidak langsung menusuk salah satu dari lima pasangan yang ada. Sebelum menusuk, Rahman merogoh foto Gus Dur di saku lalu menempelkan foto Gus Dur dengan lem yang sudah dipersiapkannya.
Sejenak berfikir, ia lalu memasang foto Gus Dur persis pada gambar Wiranto, "Wah, pas ini, pasangan orang NU, keturunan kyai, bernama Wahid lagi!" fikirnya. Dengan senyum puas gambar Gus Dur pun dicoblos. Bles, sesuai dengan hati nuraninya.[end] FM
Sumber: humorina Syir’ah edisi Agustus 2004
12 May 2008
11 May 2008
Meet a Smile in Myanmar's diaspora
Ati Nurbaiti
NAI NAI: JP/Ati NurbaitiNai Nai, her friend said, "is worried sick again." The young woman is busy collecting donations to send to family and friends in Yangon, the old capital stuck in the middle of the area hardest hid by the cyclone, the Irrawaddy Delta.
With her friends at the Bangkok office where she works at a media organization, Nai Nai had just heard the news that barely two weeks after the Cyclone Nargis hit her homeland, further rain storms had been predicted, while survivors still had no proper shelter. The other day she sounded gay on the phone, saying she had heard good news from home -- only the roof had flown off in the disaster.
On a daily basis, Nai Nai, 32, is indeed a cheerful woman.
But behind the friendly eyes and smiles on the faces of Myanmarese living overseas, is a sense of their resignation to being unable to help. When the cyclone hit, a few million exiles, migrants, refugees and others on the run had to bear the pain of waiting for news to arrive from home.
One email sent to The Jakarta Post from a Bangkok-based researcher began on a happy note. "My parents in Rangoon (Yangon) are fine," it said. "But I don't know about my relatives in Bogalay." He was referring to the coastal town where authorities said 95 percent of homes were destroyed.
One family's story reveals further just what separation means for those in diaspora. On the surface, the educated among them, not the refugees and migrant workers, have comfortable lives in cities in Thailand, Australia, the United States and other countries. For Nai Nai, migration meant dashed dreams, and more.
"My father had to officially separate from my mother," she said. Divorce became the only way to save everyone, as her father was a party executive within the National League for Democracy.
Nai Nai herself is not in exile, but she will only give me her nickname.
She graduated from high-school with flying colors, consistent with her earlier grades, her father said. Her goal was to continue on to medical school and become a surgeon -- but the authorities, who considered her family a political enemy, got wind of her aspirations.
"They approached me," says Zin Linn, her father.
"They said your daughter can enter medical school if you quit politics." He decided he could not leave the party that had swept to victory in the 1990 elections, which lead to the subsequent house arrest of chairwoman Aung San Syu Kyi.
Her father's refusal ended Nai Nai's dreams, and she said she was "very angry" when she found about the situation later from her mother. She took up studying English instead, "but I never had time for class, I copied my friends' notes," she said. Skipping classes was no fun; Nai Nai had to work.
"She became the family breadwinner," Zin Linn said.
Zin Linn was taken to jail, and her mother could not continue teaching. Not unlike under Indonesia's New Order, the government creatively and effectively used family harassment against dissidents.
"My mother's students were intimidated," Nai Nai said, and they stopped coming.
The family home in Yangon moved from time to time; as a "political family" which would bring trouble, landlords would ask them to leave, or extort them with higher rent fees, Nai Nai said.
Eventually, Nai Nai joined her father in Thailand; and achieved a scholarship for a masters degree in education.
"I spend weekends with him, we just talk," she said. She said one sister had fortunately managed to get a passport, and that occasionally half of the family reunited.
She said her mother gradually began to teach again. "The monks come to our house to learn English," Nai Nai said, adding that her sisters are now helping to teach.
"They teach children of (former and current) political prisoners," Nai Nai said. It was the least they could do, having known the hardship of such stigmatized families.
Fragmenting the populace is always an effective way for abusive rulers, and in Myanmar, one method to achieve this is by nurturing the mindset that some are less loyal to the motherland than others.
Even if Nai Nai's family had more political awareness than others, they were still of the dominant ethnic group, the Burmese -- who were taught that the minorities forever demanding autonomy were a "threat" to the union of Myanmar.
"I never knew about this ethnic issue," Nai Nai said. Then, one day, as she was about to take up further university studies, she said a fellow student found she was Burmese -- "and she wouldn't speak to me again." It turned out the other student was from one of the minority ethnic groups.
Most Burmese remain similarly oblivious of decades-old simmering resentment against them, she said.
"I only understood how the Shan (minority) suffered at the hands of the military from my aunt, who volunteered to teach there."
The Karens, the Shan, the Mon and many other groups accuse the junta of "ethnic genocide", which is achieved through forced expulsion of whole communities whenever the military decides to take over their land, either for their food supplies or their projects.
A book was recently published on the "Burmanization" of the Muslim minorities, mainly the Rohingya near the border with Bangladesh.
But Nai Nai remembers her student days when poetry, plays and newspapers were heavily censored.
It's not only the ethnic groups' identity the junta wants to wipe out, she said. The regime "wants to end Burmese culture."
Experts in Bangkok explained the values instilled in the populace, including the belief that only the military can protect Myanmar, coupled with the fear of outward dissent.
Nai Nai says she has no idea what the future holds for her.
But then her name means "nine nine" -- a lucky number in Myanmar.
She said her parents hoped her nickname would help her "pass all obstacles" -- and a grin spread across her face.[end]
The writer recently participated in a fellowship covering Myanmar as part of the Bangkok-based Southeast Asian Press Alliance. This article published on The Jakarta Post, Sun, 06/01/2008
10 May 2008
SKB Soal Ahmadiyah
Berikut keenam isi keputusan tersebut:
1. Memberi peringatan dan memerintahkan untuk semua warga negara untuk tidak menceritakan, menafsirkan suatu agama di Indonesia yang menyimpang sesuai UU No 1 PNPS 2005 tentang pencegahan penodaan agama.
2. Memberi peringatan dan memerintahkan bagi seluruh penganut, pengurus Jemaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sepanjang menganut agama Islam agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran agama Islam pada umumnya, seperti pengakuan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW.
3. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada anggota atau pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan tersebut dapat dikenai sanksi seusai peraturan perundangan.
4. Memberi peringatan dan memerintahkan semua warga negara menjaga dan memelihara kehidupan umat beragama dan tidak melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut JAI.
5. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dapai dikenai sanksi sesuai perundangan yang berlaku.
6. Memerintahan setiap pemerintah daerah agar melakukan pembinaan terhadap keputusan ini. [end]
9 May 2008
Yang Sesat dan Yang Ngamuk*
Oleh: A. Mustofa Bisri
Karena melihat sepotong, tidak sejak awal, saya mengira massa yang ditayangkan TV itu adalah orang-orang yang sedang kesurupan masal. Soalnya, mereka seperti kalap. Ternyata, menurut istri saya yang menonton tayangan berita sejak awal, mereka itu adalah orang-orang yang ngamuk terhadap kelompok Ahmadiyah yang dinyatakan sesat oleh MUI.
Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.
Konon orang-orang yang ngamuk itu adalah orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya, orang-orang yang berketuhanan Allah Yang Mahaesa dan berkemanusiaan adil dan beradab. Kita lihat imam-imam mereka yang beragitasi dengan garang di layar kaca itu kebanyakan mengenakan busana Kanjeng Nabi Muhammad SAW.
Kalau benar mereka orang-orang Islam pengikut Nabi Muhammad SAW, mengapa mereka tampil begitu sangar, mirip preman? Seolah-olah mereka tidak mengenal pemimpin agung mereka, Rasulullah SAW.
Kalau massa yang hanya makmum, itu masih bisa dimengerti. Mereka hanyalah mengikuti telunjuk imam-imam mereka. Tapi, masak imam-imam -yang mengaku pembela Islam itu- tidak mengerti misi dan ciri Islam yang rahmatan lil ’aalamiin, tidak hanya rahmatan lithaaifah makhshuushah (golongan sendiri). Masak mereka tidak tahu bahwa pemimpin agung Islam, Rasulullah SAW, adalah pemimpin yang akhlaknya paling mulia dan diutus Allah untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Masak mereka tidak pernah membaca, misalnya ayat "Ya ayyuhalladziina aamanuu kuunuu qawwamiina lillah syuhadaa-a bilqisthi…al-aayah" (Q. 5: 8). Artinya, wahai orang-orang yang beriman jadilah kamu penegak-penegak kebenaran karena Allah dan saksi-saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu kepada suatu kaum menyeret kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah; adil itu lebih dekat kepada takwa. Takwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kau kerjakan.
Apakah mereka tidak pernah membaca kelembutan dan kelapangdadaan Nabi Muhammad SAW atau membaca firman Allah kepada beliau, "Fabimaa rahmatin minaLlahi linta lahum walau kunta fazhzhan ghaliizhal qalbi lanfaddhuu min haulika… al-aayah" (Q. 3: 159). Artinya, maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berperangai lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau kasar dan berhati kejam, niscaya mereka akan lari menjauhimu…"
Tak Mengerti
Sungguh saya tidak mengerti jalan pikiran atau apa yang merasuki pikiran mereka sehingga mereka tidak mampu bersikap tawaduk penuh pengayoman seperti dicontoh-ajarkan Rasulullah SAW di saat menang. Atau, sekadar membayangkan bagaimana seandainya mereka yang merupakan pihak minoritas (kalah) dan kelompok yang mereka hujat berlebihan itu mayoritas (menang).
Sebagai kelompok mayoritas, mereka tampak sekali -seperti kata orang Jawa- tidak tepa salira. Apakah mereka mengira bahwa Allah senang dengan orang-orang yang tidak tepo saliro, tidak menenggang rasa? Yang jelas Allah, menurut Rasul-Nya, tidak akan merahmati mereka yang tidak berbelas kasihan kepada orang.
Saya heran mengapa ada -atau malah tidak sedikit- orang yang sudah dianggap atau menganggap diri pemimpin bahkan pembela Islam, tapi berperilaku kasar dan pemarah. Tidak mencontoh kearifan dan kelembutan Sang Rasul, pembawa Islam itu sendiri. Mereka malah mencontoh dan menyugesti kebencian terhadap mereka yang dianggap sesat.
Apakah mereka ingin meniadakan ayat dakwah? Ataukah, mereka memahami dakwah sebagai hanya ajakan kepada mereka yang tidak sesat saja?
Atau? Kelihatannya kok tidak mungkin kalau mereka sengaja berniat membantu menciptakan citra Islam sebagai agama yang kejam dan ganas seperti yang diinginkan orang-orang bodoh di luar sana. Tapi…[end]
*Naskah asli tulisan ini dimuat di situs GusMus.NET
Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang
Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi, to ? Bapak biang k...
-
Oleh: Imam Shofwan Apa Yang Bisa Diharapkan Dari Perusahan Media Ini? Jelang akhir tahun lalu seorang kawan wartawan Tempo TV mengeluh ...
-
Oleh Imam Shofwan Dari Kuba mereka memberi cinta dan cara bertahan hidup dalam suasana darurat LOUIS Chaviano baru tiga hari berada di rumah...
-
Oleh Imam Shofwan BEATRIZ Miranda Guterres berwajah oval, dagunya berbelah, bibir tipis, mata sipit dan rambut hitam berombak. Kulitnya halu...