15 May 2008

Inspirasiku

Oleh: Imam Shofwan

Api adalah unsur terbesar diriku

Itu kata buku

Aku tak percaya

Namun tanda-tandanya melekat padaku


Aku bisa bersemangat

Bahkan sangat

Tentu aku akrab

Karena sering dapat


Tahun-tahun lalu ketika saat ini tiba

Aku jadi tak tenang

Berhari mata tak bisa pejam

Fikirku tak lepas dari sumbernya

Sering merangsang gesa

Otakku memburu cara

Ingin segera menuntaskannya


Entah karena kawan

Atau rahasia waktu

Aku tak tahu

Curigaku keduanya bersekutu


Kawanku bilang, “tak baik terlalu berapi, mudah padam atau dipadamkan,”

Aku tak percaya

Tapi selalu terganggu

Bajingannya pengalaman membenarkan

Lebih buruk, fakta menggerogoti keyakinanku


Kau tahu betapa sulitnya menguasai diriku?

Sampai saat inipun aku tak yakin mampu

Aku baru bisa mengenali dan mencoba memanfaatkan dayanya


Aku tak menyalahkanmu karena mengobarkannya

Tak jua memintamu memadamkannya

Aku hanya ingin kau mengenalnya

Selebihnya biarkan menjadi daya luar biasa.


Jakarta, 20 Mei 2008

14 May 2008

Dulu Daerah Modal Kini Daerah Model
Oleh: Imam Shofwan
Tenggat waktu pendirian Pengadilan Ham dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh telah terlampaui. Bagaimana masa depan perdamaian di Aceh?more
Yang Sesat dan Yang Ngamuk*
Oleh: A. Mustofa Bisri
Renungan Gus Mus, di GusMus.net, soal Ahmadiah ini cocok untuk menjadi bahan bacaan bagi sebagian Muslim yang mudah marah, gampang memberi cap sesat, serta hobi merusak harta benda milik sesamanya.
Masykur Maskub: Penggerak "Silent Transformation" di NU*
Oleh: Ulil Abshar-Abdalla
Lek Masykur atau Lek Kur, panggilan akrab Masykur Maskub di keluarga saya, adalah orang baik. Terimakasih untuk Ulil Abshar-Abdalla yang mengabadikan Lek Kur, di situs islamlib, dalam tulisan sebagaimana Lek Kur abadi di hati saya.

Saya selalu merindukan orang-orang seperti Lek Kur, baik untuk keluarga kecil saya di Pati ataupun keluarga besar saya di NU.




Kenangan yang Tak Memudar*
Oleh: Liza Desylanhi
Dea, sebutan akrab Liza Desylanhi, menulis soal keluarga para korban kekejaman rezim
, di situs Voice of Human Right, yang selalu rindu dengan anggota keluarganya yang hilang.

Dulu Daerah Modal Kini Daerah Model
Oleh: Imam Shofwan
Tenggat waktu pendirian Pengadilan Ham dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Aceh telah terlampaui. Bagaimana masa depan perdamaian di Aceh?more

Blogger Pluralism and Indonesian State

By Imam Shofwan
One blogger can discourage a politician. How if hundreds of bloggers together?more

Maaf, Ini Tempat Pangeran

Oleh: Imam Shofwan

Kisah Rabu malam di rumah Iwan Fals di Leuwinanggung, Depok.more

"I Want to Live Another Thousand Year" By Agus Suwage

Seribu Kanvas Juragan Tembakau
Oleh: Imam Shofwan
Sebatang rokok terselip di bibir Munir Thalib. Sebelum hidupnya dijegal ajal yang dipaksakan, pejuang hak asasi manusia itu tidak lagi berstatus sebagai perokok berat. Tapi Agus Suwage memilih melukis Munir dengan rokok.more
"Syir'ah cover/Taufiqurrahnman"



Al Hallaj behind Dhani Ahmad

By Mujtaba Hamdi and Imam Shofwan

A string of accusations on religious contempt are now being hurled at Dhani Ahmad and his rock band Dewa.more





Kalau Diungkap, Kami Akan Dihukum Berat
Oleh: Imam Shofwan
Wawancara dengan Fabianus Tibo, terpidana mati kasus kerusuhan Poso 1999, ini pernah di muat di majalah Playboy.more

Write to Forget

By Imam Shofwan
Human right cases in Indonesia are never complete.more

Mencatat untuk Melupakan

Oleh: Imam Shofwan
Penyelesaian kasus-kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Indonesia tak pernah tuntas.more


"Cuba Libres" by Agus Suwage

Brigade Dokter Kuba
Oleh: Imam Shofwan
Dari Kuba mereka mengunjungi korban gempa Jogja, memberikan cinta dan cara bertahan pada kondisi darurat.more

Doctor Brigade
(revision)
By Imam Shofwan
From Cuba they give love and way to survive in emergency situation.more





"Lonely Child" By Ambar



Dua Anak Serdadu

Oleh: Imam Shofwan
Kisah perempuan Timor Leste yang menanggung anak dari tentara Indonesia.more


Past Crime in Aceh

By Imam Shofwan
If the Aceh bill is passed in Jakarta, lieutenant colonel Sudjono and his associates would probably have difficulties sleeping.more

Kejahatan Masa Lalu di Aceh

Oleh: Imam Shofwan
Kalau RUU Aceh lolos di Jakarta, boleh jadi, Letnan Kolonel Sudjono dan kawan-kawan akan tidur kurang nyenyak.more

Tesaurus Moko

Oleh: Imam Shofwan
Untuk pertama kalinya sebuah Tesaurus Bahasa Indonesia dirilis di Jakarta, pembuatnya adalah Eko Hedratmoko.more

Terhormat Tanpa Jilbab

Oleh: Banani Bahrul Hasan dan Imam Shofwan
Pandangan Najwa Shihab soal jilbab, menurutnya hati yang berjilbab lebih baik dari pada jilbab fisik.more

Depan Belakang Oke

Oleh: Imam Shofwan

Fatwa MUI digunakan untuk memberangus kelompok-kelompok Islam yang dianggap "menyimpang"salah satunya JIL (Jaringan Islam Liberal).more

Jalan Mendaki Penyuka Whisky

Oleh: Imam Shofwan
Perjalanan Johnny Guntoro, seorang seniman pemabuk, yang ‘ditobatkan’ Arifin Ilham. Sesederhana itukah?more

Tuan

Oleh: Imam Shofwan

Kami kurus bukan karena kurang makan

Tapi tak ada yang kami makan

Kami bodoh memang tak mampu bayar sekolahan

Kami sakit-sakitan memang rumah sakit mataduitan

Kami tak ada pekerjaan


Mungkin dalam hidup tuan tak pernah merasakan

Pagi

Warung menolak hutang makanan

Di rumah ibu terbaring tanpa pengobatan

Adik-adik merengek ingin disekolahkan


Tuan...

Esok hari

Daun kamipun tak lagi berisi nasi

Ibu kami segera mati

Adik-adik sama bodohnya dengan kami


Kalau sudah begini

Kami pakai baju merah, baju yang selama ini ditakuti ibu kami

Tak ada lagi yang mencegah kami

Yang selama ini hanya bisa dibayangkan akan terjadi

Kami tak ingin bodoh begini

Kami ingin gemuk kembali


Kebayoran Lama, 3 Juni 2008

Terinspirasi dari ”Lidah Tuan”-nya Klara Akustia.

Profesor Doktor Insinyur

Ustad Jumari bergurau dengan Mail dan Soleh, begini ceritanya: Seorang profesor, doktor, insinyur mengadakan penelitian dan tersesat di pedalaman hutan di Amazon.

Gara-garanya dia lari karena ketakutan di kejar srigala. Dia berada di tengah hutan dan di apit dua sungai.

Saat lari, dari arah depannya ada seeokor singa kelaparan. Dia lalu tengak-tengok ke kiri kanan. Yang tampak olehnya hanya rawa-rawa yang penuh dengan buaya.

Profesor tersebut terkepung dan bingung. Pertanyaannya: bagaimana dia bisa meloloskan diri dengan selamat?

Mail: ya terjun ke rawa dan berenang?

Ustadz Jumari: Salah? bisa dihabisi buaya dia. Apa jawabnya, Leh?

Soleh: Nggak tahu.

Ustadz: Dasar kamu memang selalu nggak tahu.

Mail: trus, jawabnya apa?

Ustadz: mana aku tahu. Orang yang profesor doktor aja bingung. Gemana aku yang smp aja nggak lulus.

Serius Banget, Cuma Bercanda Kok

Waktu muda Jumari gemar naik gunung. Dia punya segudang pengalaman soal ini, salah satu yang terburuk adalah;

Suatu ketika dia tersesat dari kawan-kawannya sesama pendaki, sewaktu mendaki gunung Lawu.

Sudah seminggu terpisah dari kelompoknya. Dia tersesat dan kehabisan logistik. Dalam hati dia nggedumel "daripada tersesat dan kelaparan begini mending mati dikeroyok monyet," begitu kira-kira dumelannya.

Selang beberapa detik puluhan rombongan monyet melintas. Kontan dia ketakutan dan berlari. Rombongan monyet memburunya.

Saat terengah-engah dia sempat ngomel lagi: "Uwallah, serius banget, cuma bercanda kok."

13 May 2008

Anak Berbakti

SOLEH, Anas, Amir, dan Yono janjian mengadakan reuni pasca-lebaran di sebuah restoran. Sambil makan, mereka berbincang sembari bernostalgia. Setelah makan, Soleh pamit meninggalkan teman-temannya sebentar untuk nyanyi karaoke, "Minta lagu apa, Coy? Cucak Rowo, ok?"

Sambil mendengarkan Soleh bernyanyi, teman-temannya melanjutkan obrolan mereka.

"Bagaimana anak-anakmu, Nas, habis lebaran kemarin?" tanya Amir.

"oo, baik-baik saja, anakku kan dua. Yang cewek ikut suaminya jadi kapolres di Medan. Sedangkan yang cowok sudah jadi bos, pabriknya dua, pabrik sepatu dan pabrik mi." Cerita Anas, "tapi ya gitu, saya yang jadi bapaknya saja tak pernah dibelikan motor sama sekali, paling baju buat lebaran. Eh, pas kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan BMW 318i gress."

"La kalau anakmu, Mir" Amir pun bercerita, "Anakku tiga, cowok semua, yang dua kerja di Amerika, yang bontot sekarang jadi direktur developer rumah. Tapi agak gendeng juga bontotku ini. Rumah bapaknya sudah doyong dibiarkan aja, tapi waktu kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan rumah baru."

"Kalau kabar anakmu bagaimana Yon?" Sekarang Yono cerita, "Anakku empat, cowok satu, cewek tiga. Sekarang sudah pada mandiri. Yang paling sukses si sulung cewek. Dia sekarang jadi pialang saham. Cuma rese juga. La, aku ini nggak pernah dikasih duit, tapi kemarin waktu pacarnya ulang tahun dikasih deposito 100 juta."

Setelah Yono cerita, Soleh selesai karaoke, "Cerita apa sih kalian?"

"Ini lo, Leh, pada nyeritain anaknya, gimana anakmu Leh?" Yono bertanya.

Setelah menyalakan rokok, Soleh mulai cerita, "Anakku cuma satu, tapi payah. Aku ingin dia jadi ABRI, eh malah jadi bencong. Sudah lima tahun dia buka salon, dari dulu sampai sekarang ya tetep aja nyalon. Tapi meskipun bencong, dia tetap anakku. Apalagi dasar anak baik, pergaulannya luas dan sayang sama bapaknya. Setiap dapat rezeki, aku pasti diberi. Kemarin pas dia ulang tahun, ada temannya yang ngado BMW 318i gress, rumah baru, dan deposito 100 juta. Dia bilang semua buat bapak saja, dia tetep seneng buka salon katanya."

CERITA INI HASIL REKAAN DAN FIKSI BELAKA. MOHON MAKLUM KALAU ADA KESAMAAN YANG DIALAMI SEBAGIAN PEMBACA
DALAM DUNIA NYATA.

Sumber: Selilit Syirah November 2004.

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...