2 October 2008

Empat Lawan Satu: Hanya Promosi Bakrie

Tayangan perdana ANTV bertajuk Empat Lawan Satu mendapat tanggapan sinis dari korban Lapindo. Maklum acara yang menampilkan Abu Rizal Bakrie, menkokesra-cum-bos group Bakrie, membicarakan banyak hal soal nasib korban Lapindo.

Imam (30 tahun),korban asal Jatirejo, bahkan hafal apa saja yang dibicarakan Bakrie dalam acara tersebut. Setidaknya ada enam perkataan Bakrie yang dia garisbawahi; (bencana Lapindo) karena fenomena Alam, para korban yang tidak punya surat dikasih rumah, waktu Bakrie datang ke Sidoarjo dicium tangannya, putusan pengadilan menetapkan Lapindo tidak bersalah, ada provokasi pada korban, dan yang dilakukan keluarga Bakrie sesuai dengan Keputusan Presiden.

Satu-persatu pernyataan Bakrie ini ditanggapi oleh Imam. Menurutnya, tidak benar kalau bencana ini adalah fenomena alam, ini karena kesalahan tehnis pengeboran. Lebih lanjut menurut Imam, dari awal Lapindo ingin membeli tanah para korban.

"Pernah ditawar tapi tidak dikasihkan, izinnya buat peternakan," tutur Imam. Lebih jauh, Imam merujuk pada hasil voting ahli-ahli geologi dunia di Cape Town yang memutuskan lumpur Lapindo disebabkan oleh kesalahan tehnis. Alasannya, gempa jogja terlalu jauh untuk menjadi pemicu semburan lumpur.

Soal para korban tak bersurat yang dikasih rumah ditanggapi keras oleh Imam. Menurutnya, Lapindo pernah bilang hanya mau membayar korban yang memiliki surat dan itu juga yang dilaksanakan Lapindo hingga sekarang.

Kedatangan Bakrie di Sidoarjo yang disambut dengan cium tangan, menurut Imam, tidak benar. Dia tidak pernah melihat Bakrie datang ke Sidoarjo. Bahkan kalau misalnya Bakrie datang ke Sidoarjo akan digasak rame-rame karena sudah menyengsarakan banyak orang.

Imam juga tidak sepakat dengan putusan pengadilan yang memutus Lapindo tidak bersalah. Menurutnya pengadilan bukan ahli pengeboran dan tidak mempertimbangkan sisi kemanusiaan dari para korban.

Ada provokasi terhadap korban lumpur juga ditolak oleh Imam. Menurutnya, korban yang menuntut haknya itu memang benar korban yang belum dilunasi haknya.

Tentang langkah Lapindo yang sesuai dengan Kepres itu juga tidak benar karena berkali-kali Lapindo mangkir dan tidak sesuai dengan keputusan presiden.

Misalnya, soal kesepakatan membayar 20-80 % yang akan selesai sebulan sebelum masa kontrak selesai. Hingga kini, hampir tiga tahun, namun pola yang telah diatur dalam keputusan presiden tersebut tidak ditaati Lapindo. Tanggal 3 Desember, Nirwan Bakrie, bos Lapindo, di depan presiden bikin pola baru untuk melunasi 80 % dengan mencicil 30 juta per bulan. Pola baru ini pun tak mulus dalam pelaksanaannya.

Lilik Kamina, korban di pasar baru, juga menanggapi sinis acara Empat Lawan Satu. Dia bilang kalau acara itu hanya mempromosikan Lapindo dan Bakrie. "Lihat saja: tak ada korban yang diberi kesempatan bicara." [mam]

0 comments: