1 May 2008

Orang-orang Pantau

Imam Shofwan

JADI wartawan, saya membayangkan akan berantem dengan presiden, DPR, atau panglima ABRI karena tulisan-tulisanku. Saya kecewa dengan Pantau, sindikasi berita tempatku bekerja, karena menghabiskan waktu dan tenaga berantem dengan kawan. Makian dan cercaan berhamburan. Waktu habis bukan untuk mikir bikin berita bermutu.

Pertikaian ini, awalnya, dipicu rencana peluncuran website Pantau beberapa bulan lalu. Acara ini akan digelar di Aceh. Eva Danayanti, manager Pantau, terbang dari Jakarta ke Aceh untuk mengurusi acara ini.

Pantau tak begitu dikenal di Aceh” begitu tulis Fiona Llyod, evaluator dari Open Society Institute (OSI), yang khusus datang, beberapa bulan sebelumnya, untuk mengevaluasi kerjasama Pantau dan OSI. Fiona mewancarai tokoh media untuk keperluan ini. Statemen di atas disimpulkan berdasarkan wawancara ini.
OSI adalah lembaga donor yang mensuport 75 persen kegiatan Pantau di Aceh sementara kekurangan dananya ditutup oleh lembaga donor lain yakni Cordaid.

Eva Danayanti, di kantor dipanggil Eva dan di rumah dipanggil Anti, menyimpulkan kekurangterkenalan Pantau karena kurangnya promosi. Solusinya dengan lounching website. Setelah di Aceh, Eva bikin pengajuan duit sebesar 31 juta untuk acara ini. Andreas Harsono, direktur-cum-board Pantau, tak setuju karena tidak ada alokasi dana untuk acara ini, baik dari Open Society Institute (OSI) maupun Cordaid. Ini melanggar kontrak.

Pengajuan ini disampaikan lewat email dan ditembuskan ke Budi Setiyono, Artine Utomo, board Pantau dan Linda Christanty, editor sindikasi berita Pantau tinggal di Aceh. Perdebatan pun melebar. Linda membela Eva untuk pencairan dana sementara Buset dan Artine Utomo mendukung Andreas. Suasana memanas.

Perdebatan masih berlangsung. Eva optimis dana bisa dicairkan. Dalam emailnya, Eva menyebut meski tak ada budget untuk acara ini namun dananya bisa diambil dari pos management fee. Eva pun mencari tempat launching dan mulai membandingkan harga serta fasilitas yang disediakan. Akhirnya pilihannya jatuh di hotel Hermes. Tempat diboking dan uang muka pun diserahkan.

“Harga yang mereka berikan relatif sama semua. Hotel Hermes dipilih dengan alasan ruangan pertemuan mereka memenuhi kriteria konsep launching kita,” tulis Eva dalam emailnya yang diberi judul ‘Pengajuan budget untuk Launching dan Journalism Corner’

Linda mengabarkan pembokingan ini ke Andreas. Tujuannya, menekan Andreas supaya mencairkan dana. Andreas bersikukuh tidak mencairkan dana selain karena tidak ada dalam anggaran juga karena takut kena pinalti dari lembaga donor. Keputusannya tetap: pencairan dana tidak disetujui.

Linda dikenal temperamental, mulutnya tajam dan hampir semua orang di Pantau pernah merasakan tajamnya mulut Linda. Dia kecewa dengan keputusan ini dan menolaknya. Via email Linda memaki-maki Andreas, Artine dan Budi Setiyono dalam kapasitas mereka sebagai board Pantau. Menurut Linda, mereka tak mengerti kebutuhan riil Pantau di lapangan dan tidak mau tahu kebutuhan ini.

Linda tak terima dengan keputusan ini. Menurutnya tak semua keputusan board musti ditaati dan tak semua kebijakan program Aceh harus seizin board Pantau. Dia mengumpamakan diri seperti anak kecil yang musti izin orang tuanya kalau mau berak, pipis atau makan.

Yang paling keras Linda menyatakan tak lagi percaya dengan board Pantau. Lounching pun dilaksanakan tanpa persetujuan dari board Pantau.

***
Yayasan Pantau adalah organisasi wartawan, tujuannya memajukan jurnalisme Indonesia. Pendirinya mantan kru Majalah Pantau yang didirikan Institut Studi Arus Informasi. Setelah majalah Pantau tak terbit lagi pada 2003, banyak kru Pantau yang kecewa, termasuk Andreas Harsono, Budi Setiyono, Agus Sopian, dan Indarwati Aminuddin, dengan penutupan ini. Mereka lalu membentuk Yayasan Pantau, terpisah dari ISAI.
Yayasan ini mengelola milis Pantau Kontributor dan Pantau Komunitas. Bentuk organisasinya lebih bersifat komunitas, tak banyak aturan dan wartawan bisa keluar masuk komunitas ini dengan mudah.

Pada awal pembentukannya Pantau lebih banyak kegiatan pelatihan wartawan.

Awal 2006 saya mulai menulis buat Pantau. Saat itu, Pantau baru merintis kantor berita online dan fokus beritanya soal Aceh pasca tsunami. Pantau membuka kantor cabang di Aceh dan meminta Linda Christanty untuk menangani program ini.

Website belum lagi selesai dibangun namun produksi tulisan sudah dimulai. Untuk sementara waktu tulisan-tulisan ini dimuat di blog Andreas Harsono. Di Jakarta, saya dan Samiaji Bintang diminta membantu meliput pembahasan Undang-Undang Pemerintah Aceh di DPR RI.

Saya sadar Pantau masih belum mapan saat itu dan bahkan sampai saat ini. Aturan, pembagian kerja, dan sistem keuangannya belum jelas. Sebagai kontributor tak ada kontrak apapun. Saat itu, yang ada di kepala saya hanya belajar menulis yang baik dari orang-orang yang saya gemari karyanya. Saya menikmati sekali menulis dan diedit oleh Andreas Harsono, Agus Sopian, Budi Setiyono dan Linda Christanty. Saya menikmati ini sebagai kemewahan dan terkadang membesarkan kepala.

Pembagian kerja ini sering menimbulkan percekcokan antara kru Pantau dan sering diselesaikan dengan kompromi dan cara kekeluargaan. Misalnya, Linda orang yang tidaksabaran dan sering marah-marah kalau mengedit tulisan yang dinilainya buruk. Entah karena salah ejaan, sumbernya kurang banyak atau yang lainnya. Kalau sudah begitu dia bisa ngomel-ngomel lama baik di email, sms atau telpon. Katanya dia jadi senewen dengan tulisan macam begituan.

Kalau sudah begitu biasanya Andreas atau Buset, sapaan akrab Budi Setiyono, atau Kang Agus, panggilan Agus Sopian, yang akan menangani tugas Linda membantu mengedit tanpa dibayar. Ini menjadi kebiasaan walau tidak ada aturan tertulis.

Pada bulan-bulan awal produksi berita sangat lambat. Linda kesulitan mendapatkan tema liputan di Aceh dan sering dibawelin Kang Agus bahkan sampai disuplay tema liputan dari Jakarta via email atau saat menelpon.
Linda tak pernah protes walau dia editor Aceh yang khusus dibayar untuk itu.

Sebagai tenaga freelancer tugas saya membikin berita yang bagus, sumbernya lebih dari tiga, tak ada salah ejaan, terus menulis dengan gaya bertutur. Kantor hanya memodali sebuah voice recorder dan buku catatan untuk liputan. Ongkos liputan, baterai untuk voice recorder, transportasi ditanggung penulis sendiri. Kalau tulisan tidak dimuat saya harus mengikhlaskan duit honor tulisan melayang.

Ini berbeda dengan saat Pantau bikin majalah semua liputan diongkosi, ada pengecek fakta dan seterusnya namun kualitas tulisannya tetap dipertahankan.

Saya sering mengalami hal tersebut, dan kalau ada kesalahan Linda akan ngomel-ngomel tidak produktif, malas dan sebagainya, tanpa mau tahu kesulitan para kontributor. Saya tak pernah mau menanggapi tuduhan tersebut dan hanya mengelus dada sembari berharap dia sadar dan bertanya kenapa?

Selain soal tulisan banyak juga persoalan-persoalan yang ditimbulkan Linda pada awal pembukaan kantor Aceh. Dia pernah mengusir Chik Rini dan mamanya dari kantor Pantau. Rini kontributor majalah Pantau dan asli Aceh. saat itu dia menemani Linda dan membantu mencarikan pembantu buat Linda. Rini dan Ibunya bikin café dan hanya beberapa hari diusir Linda. Alasannya, ibu Rini sering menggunakan jasa pembantu kantor Pantau.

Linda tak pernah bisa menahan emosi, temperamental dan jarang mengoreksi diri. Begitulah kesan saya selama mengenalnya. Dia juga tak pernah minta maaf kalau melakukan kesalahan.

Kesalahan Andreas membiarkan Linda menjadi sewenang-wenang semacam ini. Andreas selalu menutupi kekurangan Linda bahkan kalau Linda tak bikin laporan tahunan Andreas akan membikinkan untuknya, terkadang Eva juga. Ini tak hanya sekali dan yang aneh, sudah tak bikin laporan Linda malah mencak-mencak, katanya, dia editor dan bikin laporan bukan tugasnya. Andreas dan Eva, biasanya, yang direpotkan dengan ulahnya ini.

Sampai sejauh itu masih ada saling kepercayaan antara mereka dan saling tambal sulam kesalahan dan kekurangan.

***

Selasa sore, 2 Juni 2008, Eva Danayanti berhenti menjadi manager Pantau Jakarta. Saya lagi ngobrol dengan Basilius Triharyanto, kontributor Pantau, di kantor Pantau saat Andreas Harsono, Budi Setiyono, masuk ruang kelas yang bersebelahan dengan kantor Pantau. Lantas Eva Danayanti menyusul masuk kelas.
Saya tahu hasil rapat itu memberhentikan Eva setelah dirilis di milis Pantau komunitas. Berita ini sangat mengejutkan dan saya lalu minta penjelasan, pada Eva dan Andreas, apa alasannya? Saya kirim sms ke keduanya.

Eva menjawab, dia masih shock dengan kejadian ini, semua terjadi begitu cepat dan dia belum bisa menjelaskan kenapa. “Mungkin ini yang terbaik, menurut Andreas dan Buset buat Pantau,” tulis Eva di pesan pendeknya.

Tak lama Andreas menelpon saya dan bilang ada perjanjian, antara Eva dan Andreas, untuk tidak menyebarkan alasannya ke luar. Karena menyangkut nama baik orang. Andreas lalu cerita sedang melakukan perbaikan di Pantau; ada audit keuangan, katanya.

Saya bilang ke Andreas kalau Eva orang yang pandai dan masih muda bisa jadi kader yang baik. Andreas bilang ini bukan soal tua muda tapi ini menyangkut orang yang bisa diajak memajukan Pantau. Menurutnya, Eva tidak bisa. Saya makin penasaran.

Di penghujung pembicaraan telepon saya bilang pada Andreas bisa saja dia yang salah dalam mengambil keputusan ini dan dia menjawab kalau misalnya dia yang salah dia akan meminta maaf dan siap menanggung resikonya. Telepon putus.

Saya sedang di rumah AS Dharta, penyair-cum-pendiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA), dengan Budi Setiyono. Saya lantas bertanya pada Buset sebenarnya apa yang sedang terjadi di Pantau? Kenapa Eva sampai diberhentikan?

Buset, yang saat itu sedang mengumpulkan esai-esai AS Dharta untuk dibukukan, menjelaskan kalau banyak keputusan Eva yang tidak sepengetahuan direktur Pantau. Dia lantas membeberkan contohnya; menaikkan gaji tiga kali dalam kurun satu setengah tahun, soal asuransi, membedakan gaji staff Pantau. Komentar penutup Buset bernada pesimistik.

“Ini krisis terberat Pantau, mungkin Pantau akan dibubarkan,” tutur Buset.

Kasus ini kemudian menjadi polemik beberapa orang di milis Pantau. Lima penulis Pantau menolak keputusan ini, selebihnya memilih diam. Penolakan terkeras dilakukan oleh Linda Cristanty. Yang menolak; Samiaji Bintang, kontributor Pantau paling produktif tinggal di Aceh, Widiyanto, kontributor Pantau yang bekerja di PSHK, Rusman, kontributor Pantau bekerja di Jurnal Nasional. Andreas Harsono menanggapi penolakan ini seperlunya.

Kang Agus, sapaan Agus Sopian, yang sudah keluar sebagai pengurus Pantau karena berbeda pendapat soal Pers Kebangsaan, melebarkan persoalkan ke hal-hal yang lebih mendasar menjadi persoalan Pantau. Pendeknya, memang mekanisme kerja dan hirarki di Pantau belum jelas. Kami sama-sama tahu.
Belum lagi tuntas pembicaraan tentang Eva terjadi kegegeran lagi di milis Pantau. Beritanya lebih besar, yakni; pembekuan kantor Pantau Aceh dan Ende. Linda mengawali pembicaraan ini dengan email yang berjudul provokatif, ‘Linda Christanty Menolak Keputusan Board Pantau menutup Pantau Aceh,’ dikirim di milis pada 23 Juli 2008.

Linda menanggapi email dari Andreas Harsono yang sebelumnya menginformasikan penutupan kantor Pantau di Aceh. Pantau dibekukan karena ketiadaan dana untuk melanjutkan program Aceh. Saya mengikuti pembicaraan soal ini dari milis Pantau tanpa berminat untuk menanggapinya, karena; saya tak yakin tahu pasti duduk perkaranya, kapok dimarahi Linda dan khawatir menambah ruwet persoalan.

Lebih jauh, Andreas menjelaskan bahwa ini dilakukan untuk memperbaiki Pantau. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan Andreas Harsono saya percaya pada Andreas adalah orang yang bisa mempertanggungjawabkan keputusannya. 

***

Alasan penolakan Pantau adalah ketiadaan duit untuk melanjutkan Pantau Aceh. Polemik kian memanas. Yang bikin panas beberapa orang yang merasa dirugikan dengan penutupan kantor Aceh. Yang paling vokal; Samiaji Bintang, Linda Christanty, Hairul Anwar; ketiganya dari Jakarta. Saya memahami kenapa mereka menuntut demikian. Mereka menuntut transparansi keuangan Pantau dan menolak penutupan ini.

Selama ini, ketiga orang ini, yang diistimewakan di antara kontributor Pantau yang lain. Bintang dan Linda mendapatkan gaji bulanan dan asuransi sedang Arul, sapaan akrab Khairul Anwar, yang didatangkan ke Aceh belakangan baru mendapat Asuransi saja.

Banyak kontibutor Pantau baik yang di Aceh, Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan seterusnya yang tidak mendapat fasilitas istimewa dan tidak seberapa tapi penting ini. Kebanyakan kontributor ini diam saja dan menyimpan dalam hati karena mereka tahu di Pantau memang belum ada mekanisme khusus yang mengatur itu. Kita mengharapkan perbaikan tapi dengan cara yang beradab.

Kalau mau pakai bahasa ekstrim ini ketidakadilan. Hasil dari ketidaktransparanan manajemen yang sama-sama kita tahu. Kenapa saat itu kawan-kawan, yang sekarang menuntut transparansi, tak menuntut hal yang sama? Woi, kemana saja, Bung!

Kita sama-sama tahu jawabannya karena menguntungkan mereka. Mari bersama kita perbaiki ini, sekali lagi, dengan cara yang beradab. Kebanyakan kontributor yang teraniaya ini diam menyimak menyaksikan polemik ini.

Karena kepentingan untuk mempertahankan gaji dan asuransi ini mereka menjadi tertutup diri dari obyektifitas saat mendudukkan persoalan penutupan ini pada tempatnya.

Pada akhir Juli ini, Andreas membuka semua dokumen yang menjadi dasar penutupan ini mulai dari korespondensi, hasil audit, laporan keuangan Pantau dan seterusnya. Andreas juga menelpon para kontributor baik di Jakarta atau di Aceh untuk menjelaskan hal ini. Tapi kontributor di Aceh kebanyakan menolak untuk dijelaskan. Bagaimana mungkin bisa mendapatkan informasi seimbang kalau menutup diri untuk informasi.

Saya membaca sebagian besar dokumen enam bundel setebal 700 halaman bersampul biru itu. Dan ada banyak hal yang saya tahu dari dokumen ini dan sebagian memang menyangkut nama baik sebagian kawan-kawan Pantau sendiri jadi tidak layak untuk dipublikasikan. Kalau kawan-kawan di Aceh kesulitan untuk membaca dokumen itu karena alasan nggak punya duit untuk ke Jakarta. Saya bersedia mengongkosi kalian semua untuk bisa balik ke Jakarta. Nggak ding, aku kan lagi bokek karena sudah sembilan bulan di skors. Tapi pasti ada jalan keluar kalau kalian sungguh-sungguh ingin tahu.

Saya hanya heran kenapa kawan-kawan reaksioner, tidak rendah hati dan berusaha sekuat tenaga untuk menggali informasi sedalam-dalamnya. Mengapa begitu cepat mengambil keputusan menuduh tanpa klarifikasi.
Sebagai akhir aku ingin mengutip ungkapan dari Mbah Lenin dengan mengganti kata communism dengan Pantau, “Nothing is perfect, Pantau is not perfect, but I choose Pantau.” Maaf kalau ada salah ejaan.