15 May 2008

Cinta Modern

Oleh: Imam Shofwan

Ada pecinta yang luruhkan kediriannya

Penyatuan dengan kekasihnya adalah segalanya

Matanya tak lagi miliknya

Darah hingga nafasnya buat kekasihnya

Demi kekasihnya dia abaikan kedirian

Tak peduli sekitar

Tak butuh apapun selain kekasihnya


Ada pula pecinta yang luar biasa keras kepala

Tak gentar dera siksa

Tak Silau gemerlap surga

Kenikmatan tertinggi baginya adalah kekasihnya

Dalam dirinya hanya ada satu ketakutan

Bukan pada tajamnya pedang

Bukan pula pada lezat markisa

Teror baginya adalah perpisahan dengan kekasihnya


Pecinta dari anak benua punya kisahnya sendiri

Cintanya melampaui batas kecerdasannya

Dia menjadi ‘tolol’

Umum menyebutnya ‘gila’

Bagaimana tidak,

Tiap suara yang keluar dari mulutnya adalah nama kekasihnya

Dia mudah berurai air mata

Hanya karena lalat mendarat di rambut kekasihnya


Izinkan aku mengajukan proposal cintaku

Tak sama dengan cinta mereka

Cintaku cinta modern

Dimana kejujuran dan verifikasi menjadi pilar

Rendah hati fondasi, kesetaraan temboknya,

Payungnya kebersamaan


Kau tahu aku takut mati

Aku ingin menemanimu hingga tua

Aku tahu kamu tahu asalnya


Terinspirasi dari percintaan klasik para sufi. Terima kasih pada Rabi’ah, Al- Hallaj, Nizami, dan Helen.

Jakarta, 20 Mei 2008

0 comments: