7 May 2008

Masykur Maskub: Penggerak "Silent Transformation" di NU*

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Tentu, kesederhanaan hidup seperti ini kontras dengan perubahan pola kehidupan di kalangan NU, terutama setelah era reformasi politik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini, pola hidup tokoh-tokoh NU mulai berubah, mulai lebih kelihatan sedikit "mewah".

Tokoh yang pendiam itu telah meninggal dalam insiden kendaraan bermotor di kawasan Pancoran, pada 30 Desember 2005. Pak Masykur, guru, teman, dan sahabat yang sangat saya hormati dan cintai itu telah meninggalkan kita untuk selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.....

Masykur Maskub, atau Pak Masykur --begitu kawan-kawan muda NU kerap menyapanya-- bukanlah tokoh yang "cemlorot" dan terkenal. Dia nyaris tak pernah muncul di TV, pernyataan-pernyataannya jarang dikutip media, dan kehadirannya mungkin hanyalah dirasakan "bermakna" buat kalangan terbatas yang mengenalnya dari dekat. Dia bukanlah Gus Dur yang kehadirannya nyaris "pervasive" dan ada di mana-mana. Pak Masykur mung tampak hadir hanya buat segelintir orang, tetapi, believe me, kehadirannya yang terbatas itu mempunyai makna yang mendalam, bukan saja buat teman-temannya, tetapi lebih besar lagi buat NU. Dialah orang yang, di mata saya, melakukan "silent transformation" (perubahan diam-diam). Jika tak khawatir menimbulkan efek berbihan, saya hampir saja mengatakan "revolusi diam-diam".

Usahanya, tentu bersama kawan-kawannya yang lain, untuk menegakkan institusi lembaga riset, kajian dan pengembangan sumber daya manusia NU, yakni Lakpesdam-NU, serta membangun sistem yang kredibel dan bermartabat dalam lembaga itu, jarang dikenal oleh banyak orang, bahkan di lingkungan NU sendiri. Tetapi, berkat usahanya itu, Pak Masykur telah menjadikan Lakpesdam-NU sebagai salah satu lembaga NU yang berjalan normal sebagaimana laiknya sebuah institusi modern. Dia bekerja dari balik layar, wajahnya jarang, atau nyaris tak pernah, disorot oleh kamera, dan sosoknya hanya disadari oleh sejumlah orang di NU dalam kesempatan yang terbatas. Tentu dia hadir dalam setiap event besar NU, tetapi jarang orang menyadari bahwa dia telah melakukan hal yang "besar" buat NU. Dan saya kira, figur-figur yang bekerja dengan diam-diam untuk NU semacam ini bertebaran di seluruh daerah, dari mulai PB hingga ke pengurus ranting. Orang jarang mengenal mereka, dan mereka tentu tak risau jika tak banyak orang mengetahui apa yang telah mereka kerjakan untuk institusi yang mereka cintai lahir-batin, Nahdlatul Ulama. Saya kira, umur NU bisa panjang karena "tangan dingin" dan keikhlasan yang nyaris tanpa pamrih dari orang-orang semacam Pak Masykur ini.

Di kalangan anak-anak muda NU, terutama teman-teman yang sering mendefinisikan diri mereka sebagai "NU kultural", Pak Masykur dianggap sebagai pelindung dan pengayom. Meskipun jarang atau tidak banyak bicara, tetapi kehadiran Pak Masykur sangat berarti buat teman-teman itu. Dia, mungkin seperti garam: tidak terlihat di mangkuk waktu Anda menyantap bakso, tetapi jika bahan itu tak ada di sana, Anda merasa ada sesuatu yang hilang. Tak berlebihan, jika saya mengatakan bahwa Pak Masykur adalah semacam "mursyid" untuk teman-teman muda NU yang bergerak di jalur kultural.

Perkenalan saya dengan Pak Masykur berlangsung secara pelan-pelan, dan itu terjadi mula-mula pada 1983 di Madrasah Mathali'ul Falah, Kajen, Pati. Madrasah ini dipimpin oleh KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, atau Kiai Sahal, sebagaimana kami dulu sering menyebut beliau. Saat itu, saya duduk di kelas 3 Tsanawiyah. Pada pandangan pertama, penampilan Pak Masykur sebagai seorang guru tak begitu meyakinkan. Pembawaannya terlalu "lembut" untuk mata pelajaran yang dia pegang saat itu, yakni "Kewarganegaraan Indonesia". Kami dulu menyebutnya "pelajaran civic". Dia mempunyai sifat yang agak unik, yaitu sulit mengatakan sesuatu yang ada dalam pikirannya. Dia kerapkali tampak seperti terengah-engah untuk melontarkan sesuatu yang berkecamuk di benaknya. Saat menerangkan sesuatu di kelas, Pak Masykur kelihatan seperti tergagap-gagap. Tak aneh, jika pada bulan-bulan pertama mengikuti kelas dia, saya tak terlalu terkesan.

Tetapi, pelan-pelan, kesan saya berubah total saat pelajaran sudah berjalan jauh. Meskipun Pak Masykur bukanlah seorang guru yang pandai berbicara, tetapi cara dia membangkitkan rasa ingin tahu di kalangan murid luar biasa. Salah satu momen yang paling tidak saya lupa adalah saat dia menjelaskan secara detil, walaupun dengan terengah-engah, sejarah sekitar kemerdekaan Indonesia. Tentu, keterangan tentang peristiwa di sekitar proklamasi sudah kerap saya dengar di kelas dari guru-guru lain. Tetapi, keterangan Pak Masykur sangat tidak "konvensional". Dia banyak menjelaskan detil-detil peristiwa penculikan Sukarno oleh Sukarni dan anak-anak muda "revolusioner" saat itu ke Rengasdengklok. Tentu, detil-detil itu tidak ada dalam buku teks pelajaran. Dia juga menjelaskan dengan menarik sekali rumitnya perdebatan dalam sidang-sidang persiapan kemerdekaan RI, serta debat di konstituante yang berakhir dengan dead-lock. Sejarah, di tangan dia, menjadi begitu hidup buat saya saat itu. Yang menarik adalah, dia juga menyebutkan sumber-sumber yang dia rujuk. Ketika membahas soal debat di konstituante tentang dasar negara itu, dia menyebut buku karangan Syafii Maarif terbitan LP3ES yang, belakangan saya ketahui, ternyata menjadi bahan pembicaraan luas, yaitu "Islam dan Masalah Kenegaraan". Dia antara lain menyebut jurnal Prisma sebagai salah satu sumber rujukannya. Seperti kita tahu, dekade 80-an awal adalah masa-masa kejayaan jurnal yang diterbitkan oleh LP3ES itu. Di sana, saya tahu ini belakangan, ada rubrik "tokoh" yang selalu memuat biografi sejumlah tokoh terkenal dalam sejarah Indonesia. Pak Masykur, saya kira, satu-satunya guru di madrasah saya yang membaca jurnal itu, bahkan berlangganan. Buat saya sebagai seorang santri dusun saat itu, nama-nama buku dan jurnal yang datang nun jauh dari kota tampak seperti barang "luks" yang nyaris tak terjangkau. Tetapi, believe me or not, Pak Masykur lah yang membuat barang-barang mewah itu bisa saya sentuh.

Belakangan saya kemudian tahu bahwa Pak Masykur rupanya bekerja sebagai seorang "social volunteer" untuk program pengembangan pesantren yang dilakukan oleh LP3ES, dan karena itulah dia mendapat kiriman rutin jurnal Prisma dan buku-buku terbitan LP3ES yang lain. Dari segi bacaan, Pak Masykur saat itu mendahului ratusan langkah dari guru-guru lain di madrasah saya. Karena cara dia mengajar yang hidup inilah saya menjadi tertarik dengan kelas dia. Setiap masuk kelas, selalu ada hal baru yang dia bawa yang tak ada dalam buku teks pelajaran. Dia selalu membawa hal-hal baru yang segar. Dunia saya sebagai seorang murid madrasah kampung yang sempit saat itu seperti diperluas cakrawalanya oleh penjelasan-penjelasan dia yang bersumber dari bahan bacaan yang kaya. Ada salah satu kebiasaan mengajar pada dia yang unik. Dia akan selalu mengakhiri kelas dengan mendaftar sejumlah bahan bacaan yang menjadi bahan rujukan dia. Tentu dia tak menuntut kami untuk membaca buku-buku itu. Sebab, semua bahan bacaan yang dia sebutkan itu tak ada di perpustakaan madrasah saya yang isinya sebagian besar adalah kitab kuning dan sejumlah buku "drop-dropan" (istilah yang dikenal waktu itu) dari pemerintah. Tetapi, ini uniknya, dia selalu mempersilakan murid-muridnya untuk datang ke rumahnya untuk meminjam buku-buku bacaan yang dia anjurkan. Dia hanya ingin memperlakukan kami, murid madarasah Tsanawiyah, seperti seorang mahasiswa.

Udangan ini langsung saya sambut dengan suka cita. Jarak antara rumah saya dan rumah Pak Masykur yang berada di desa Sumerak (sekitar 7 kilo ke arah selatan dari kota Kawedanan Tayu) sekitar 5 kilo. Saya selalu naik sepeda "onthel" (istilah yang lazim dipakai di desa saya) ke rumah dia; sekitar 45 menit. Pertama kali saya berkunjung ke rumahnya, saya terkesima. Untuk pertama kali saya melihat koleksi jurnal Prisma yang dibundel dengan rapi dan bagus. Buku-buku terbitan LP3ES juga ada di sana, dengan beragam topik dan tema: politik, ekonomi, sosial-budaya, agama, dll. Saya tak pernah menyaksikan bahan bacaan seperti itu sebelumnya, bahkan di perpustakaan madrasah pun tidak. Dalam hati, saya berkata, "Pantesan kelas Pak Masykur kaya dengan informasi-informasi baru, abis bacaannya keren kayak gini." Saya masih ingat, buku pertama kali yang saya pinjam dari koleksi pribadi Pak Masykur adalah dua buku bunga rampai tulisan seorang intelektual Indonesia yang paling dihormati saat itu, Soedjatmoko. Dua buku itu adalah: Dimensi Manusia dalam Pembangunan dan Etika Pembebasan. Tidak seluruh tulisan Soedjatmoko yang rumit itu bisa saya cerna. Tetapi, membaca buku-buku itu, saya merasa ada sesuatu yang "lain" di luar pelajaran keagamaan a la pesantren yang saya terima selama ini. Saya juga mulai meminjam beberapa edisi jurnal Prisma. Dari sanalah saya mulai mengenal sejumlah inetelektual Indonesia yang terkenal pada saat itu: Abdurrahman Wahid, Ignas Kleden, Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Fachry Ali, Juwono Sudarsono, Daniel Dhakidae, Aswab Mahasin, Lukman Sutrisno, Prof. Sajogjo (yang ahli pergizian itu), Sediono Tjondronegoro, Rahman Tolleng, Burhan D Magenad, YB Mangunwijaya, Soetjipto Wirosardjono, Nurcholish Madjid, Syafii Maarif, Amien Rais, Jalaluddin Rakhmat, dll. Tentu perkenalan saya dengan tokoh-tokoh ini tidak terjadi sekaligus. Dalam rentang waktu empat tahun, sejak kelas 3 Tsanawiyah hingga 3 Aliyah, saya tak pernah henti-hentinya diajar oleh Pak Masykur, dan tak henti-hentinya pula saya melahap koleksi pribadi dia. Belakangan, setelah terbit majalah Pesantren oleh P3M, lembaga yang sekarang dipimpin oleh Masdar F. Masudi, daftar pinjaman saya tentu mencakup jurnal itu. Majalah lain yang saya pinjam adalah Pesan yang juga diterbitkan oleh LP3ES dan dikhususkan sebagai bacaan untuk para santri ('Pesan' adalah kependekan dari 'Pesantren').

Di samping mengajar di madrasah asuhan Kiai Sahal itu, Pak Masykur juga terlibat dalam sebuah LSM yang berada di bawah naungan Pesantren Maslakul Huda, asuhan Kiai Sahal. Nama LSM itu adalah BPPM, Badan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat. BPPM adalah salah satu mitra kerja LP3ES, dan belangan P3M, dalam program pengembangan pesantren dan masyarakat. Dekade 80-an adalah periode "romantis" LSM di Indonesia. Saat itu, banyak kalangan kritis yang merintis sejumlah LSM di Jakarta percaya bahwa perubahan sosial bisa terjadi lewat jalur yang non-developmentalis, yakni di luar jalur pembangunan yang ditempuh oleh pemerintah dengan ciri utamanya adalah pendekatan "top down": pemerintah memutuskan, rakyat tinggal manut saja. Pendekatan itu dikritik sebagai sumber kegagalan pembangunan saat itu. Oleh karena itu, harus dicari alternatif perubahan sosial yang lain. Timbullah gagasan tentang perubahan yang "bottom-up", dari bawah ke atas, dengan pendekatan yang saat itu dikenal sebagai metode partisipatoris. Karena pesantren dianggap sebagai lembaga pribumi yang berkembang dari bawah, maka banyak kalangan percaya bahwa perubahan sosial alternatif bisa ditempuh lewat peran pesantren. Ramailah orang menoleh ke pesantren, dan disertasi Zamakhsyari Dhofier yang diterbitkan oleh LP3ES saat itu dengan judul "Tradisi Pesantren" menjadi bacaan yang populer. Ada optimisme bahwa pesantren menjadi semacam "jalan ketiga" dalam melaksanakan perubahan sosial. Romantis memang.

Sebagai seorang santri madrasah, saya tak sepenuhnya memahami konsep-konsep yang rumit itu. Saya membacai banyak buletin dan terbitan-terbitan yang dikelola baik oleh LP3ES atau P3M yang dikirim ke BPPM. Semuanya mungkin karena kedekatan saya dengan Pak Masykur. Saat itu, saya bukan santri Maslakul Huda, sebab saya mondok di pesantren yang dikelola oleh ayah saya sendiri, Pesantren Mansajul Ulum di desa Cebolek. Tetapi, kedekatan saya dengan Pak Masykur memungkinkan saya untuk mengakses sumber-sumber bacaan yang dimiliki oleh BPPM yang berafiliasi dengan Pesantren Maslakul Huda itu.

Buat saya, dan saya kira juga buat murid-murid lain yang seangkatan dengan saya di Madrasah Mathali'ul Falah saat itu, Pak Masykur adalah layaknya sebuah "jendela" dari mana kami bisa menjenguk ke dunia luar. Bagi kami, Pak Masykur persis menempati posisi yang pada dekade 80-an dikenal sebagai "cultural broker" -- istilah yang dikenalkan oleh antropolog Amerika, Clifford Geertz, dan sangat populer di kalangan sarjana yang mengamati pesantren saat itu. Pak Masykur adalah "jembatan budaya" yang menghubungkan kami di madrasah dengan dunia luar yang tak kami kenal dengan baik saat itu.

Tahun 1987, kalau tak salah, Pak Masykur pindah ke Jakarta, karena diminta oleh Gus Dur untuk bergabung dengan teman-teman di Lakpesdam NU Pusat di Jakarta. Pertama kali saya bertemu dengan dia adalah pada 1988, di kantor Lakpesdam di Jl. Supomo, Pancoran. Sejak itu, saya makin dekat dengan dia, dan akhirnya, pelan-pelan, terlibat secara tak langsung dalam kegiatan di Lakpesdam yang saat itu di bawah kepemimpinan Pak Said Budairi, salah satu wartawan NU senior yang pernah terlibat di koran Duta Masyarakat milik NU. Sifat Pak Masykur tidak pernah berubah: dia tetap seorang pendiam, murah senyum, dan mengayomi. Tentu, interaksi saya dengan Pak Masykur sekarang berubah sifatnya: saya tak lagi menjadi murid dia, tetapi sebagai sesama teman di sebuah kantor; sebagai kolega. Meskipun, hingga akhir hayatnya, saya selalu menganggap Pak Masykur sebagai guru yang saya hormati. Ada kualitas-kualitas pribadi Pak Masykur yang mulai terkuak setelah saya bergaul dengan dia bukan semata-mata sebagai seorang murid, tetapi juag kolega. Dia adalah tipe orang yang "get-thing-done", yang selalu berusaha berpikir bagaimana segala sesuatu bisa terlaksana. Pak Masykur bukanlah seorang "idealis-pemimpi" yang suka berbicara tentang konsep-konsep besar dan gigantik, tetapi dia adalah orang yang sadar, bahwa bagaimanapun konsep besar harus bisa jalan di bumi. Dia juga orang yang sadar tentang pentingnya organisasi modern bagi NU. Oleh karena itu, sistem dan aturan main adalah faktor penting yang di mata dia sangat menentukan mati-hidupnya sebuah lembaga modern.

Sebagai orang yang tumbuh dalam kultur NU, tentu Pak Masykur sangat menghormati figur kiai. Bahkan, sebagaimana ia kisahkan secara pribadi pada saya, beberapa keputusan penting dalam hidupnya selalu ia ambil setelah berkonsultasi dengan seorang kiai sepuh yang sangat dia hormati, yakni allah yarham KH. Abdullah Salam, Kajen, yang di daerah kami dikenal dengan Mbah Dullah. Pak Masykur menaruh hormat yang dalam dan tulus pada kiai-kiai sepuh di NU. Tetapi, dia juga sadar bahwa NU harus ditegakkan bukan semata-mata atas dasar kharisma kiai sepuh. Sebagai lembaga modern, NU harus membangun sistem dan manajemen organisasi yang baik dan berjalan dengan normal. Dalam hal ini, Pak Masykur mengagumi figur lain dalam NU yang, secara kebetulan, mempunyai sifat-sifat yang sama dengan dia: yakni kesederhanaan serta kesadaran yang tinggi tentang pentingnya sistem dan manajemen. Tokoh itu tak lain adalah almarhum Fahmi Saifuddin, putera dari mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri. Dalam istilah yang dikenal selama ini di kalangan NU, Pak Masykur menghendaki agar NU tidak berhenti sebagai 'jama'ah' atau kumpulan biasa, tetapi juga meningkat sebagai 'jam'iyyah', yakni organisasi yang ditegakkan atas dasar aturan main dan sistem yang kokoh. Dedikasi Pak Masykur yang berlangsung lebih dari 15 tahun di Lakpesdam dikerahkan, antara lain, untuk membangun "jam'iyyah" itu, lewat institusi Lakpesdam. Bersama teman-teman lain seperti Lukman Saifuddin, Mufid A. Busyairi, Helmi Ali, Muntajid Billah, Yahya Ma'shum, Pangcu Driantoro, Masrur Ainun Najih, Lilis N. Husna, dan senior-senior lain sepeti MM Billah dan Said Budairi, Pak Masykur telah menjadi bagian dari arus penting untuk men-jam'iyyahkan NU.

Saya tahu, cinta pertama dan terakhir Pak Masykur adalah NU dan kiai. Oleh karena itu, seluruh orbit kehidupan dia berputar di sekiar pesantren, NU dan kiai. Dia tak pernah lepas dari dunia para kiai itu. Salah satu etos yang begitu menonjol dan dilihat secara mencolok oleh teman-teman NU pada figur Pak Masykur, dan terutama di Lakpesdam, adalah etos kesederhanaan dan kejujuran -- salah satu etos yang diajarkan di pesantren. Pertama kali saya bertemu dengan dia di luar kantor adalah di rumahnya yang sangat sederhana di kawasan Pancoran. Rumah kontrakan itu hanya mempunyai dua kamar yang sempit, dengan keadaan bangunan yang sangat sederhana. Lokasi rumah agak menjorok ke dalam, dinaungi oleh pohon sawo yang rimbun. Selama bertahun-tahun Pak Masykur tinggal di rumah sederhana itu. Baru beberapa tahun belakangan, Pak Masykur memutuskan untuk membeli rumah sendiri --rumah kecil yang terletak tak jauh dari rumah kontrakannya yang lama. Rumah yang ia beli sendiri ini jauh dari kesan mewah, dan letaknya agak jauh dari jalan utama. Untuk mencapai ke sana kita harus melewati gang kelinci yang agak menikang-nikung. Selama hidupnya, Pak Masykur tidak memiliki mobil. Sejak pertama kali saya melihat dia di madrasah Mathali'ul Falah hingga akhir hayatnya, dia hanya memakai sepeda motor. Kami, muridnya saat itu, selalu mengenali dia lewat sepeda motor Yamaha bebek merah keluaran tahun 70-an. Saat di Jakarta, dia mempunyai sepeda motor yang agak sedikit lebih baik, yaitu Honda seri lebih baru (saya sudah lupa). Tetapi, hingga akhir hayatnya, dia selalu "istiqamah" memakai sepeda motor. Bahkan, tragisnya, dia harus meninggal dalam insiden sepeda motor.

Tentu, kesederhanaan hidup seperti ini kontras dengan perubahan pola kehidupan di kalangan NU, terutama setelah era reformasi politik. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini, pola hidup tokoh-tokoh NU mulai berubah, mulai lebih kelihatan sedikit "mewah". Meskipun tak ada sesuatu yang sepenuhnya salah dalam perkembangan seperti ini, tetapi perubahan gaya hidup di kalangan tokoh-tokoh agama semacam itu tentu menimbulkan "gunjingan" di kalangan masyarakat. Pak Masykur tentu ikut risau dengan keadaan semacam ini. Dalam pembicaraan pribadi, dia selalu mengingatkan saya pada kesederhanaan hidup yang diteladankan oleh Mbah Dullah di Kajen. Dalam salah satu momen pembicaraan via telepon yang sangat menyentuh, bahkan dia nyaris menangis menceritakan kembali teladan kehidupan Mbah Dullah kepada saya. Saat dia menjabat sebagai Direktur Lakpesdam selama 10 tahun, dia sempat menikmati fasilitas mobil kantor. Tetapi, dia tak pernah membawa mobil itu ke rumah, karena tentu hal itu tak mungkin. Dia sendiri tak mempunyai areal parkir. Rumahnya berada di kawasan yang "crowded" dan berhimpit dengan rumah-rumah lain. Setelah usai menjadi Direktur Lakpesdam beberapa bulan sebelum dia meninggal, dia kembali "istiqamah" dengan kendaraan lamanya: sepeda motor. Dia tak pernah berubah: hidup dengan sederhana.

Ada satu hal yang selalu dia kisahkan kepada saya dengan penuh kebanggaan dan rasa puas, yaitu pendidikan putera-puteranya. Dia selalu bilang bahwa dia bersyukur pada Allah karena sebagai orang yang berpenghasilan tak terlalu besar, dia berhasil menyekolahkan putera-puteranya ke UGM, UI, dan ITB. Ini karunia besar yang selalu dia syukuri. Dia selalu mengatakan pada saya bahwa ini semua terjadi bukan semata-mata karena usaha keras dia dan isterinya, tetapi juga berkat restu kiai sepuh yang tak lain adalah Mbah Dullah. Dia mengisahkan bahwa keberangkatan dia ke Jakarta bukanlah tanpa suatu dilema. Dia akhirnya bisa memecahkan dilema itu setelah mendapat restu dari Mbah Dullah. Dia berangkat dengan hati yang tenang dan mantap setelah mendapat izin dari kiai yang dia sangat hormati.

Setelah usai menjabat sebagai Direktur Lakpesdam, dia aktif di lembaga baru yang didirikan oleh sejumlah anak-anak muda NU, di bawah asuhan Kiai A Mustofa Bisri, atau lebih dikenal dengan Gus Mus, yaitu "Mata Air" yang kantornya terletal di kawasan Tebet. Lagi-lagi, Pak Masykur tidak bisa bergerak jauh dari dunia kiai. Kantor lembaga itu memang tak terlalu jauh dari rumah dia, kira-kira 15 menit. Dia sering berangkat, pulang-pergi, ke kantor baru itu dengan mengendarai sepeda motor. Dia tampaknya menjadi salah satu tumpuan Gus Mus untuk menjalankan lembaga baru itu. Kesederhanaan dan kejujuran Pak Masykur nyaris seperti "mata air" di NU.

Walau nama dia tak hingar-bingar dikenal oleh kalangan luas, baik di NU atau di luarnya, tetapi Pak Masykur telah menjaid ilham untuk beberapa anak muda di NU, sekurang-kurangnya buat saya dan teman-teman saya sekelas di Mathali'ul Falah dan teman-teman muda lain di Lakpesdam. Dengan caranya sendiri, dan dengan pembawaannya yang sangat halus, dia telah melakukan transformasi diam-diam dalam tubuh pesantren dan NU.

Mari kita bacakan al-Fatihah untuk arwahnya. Semoga segala amalnya diterima oleh Allah dan segala kekhilafannya diampuni olehNya.

*versi aslinya tulisan ini ada di situs Jaringan Islam Liberal

2 May 2008

Kenangan yang Tak Memudar*

Oleh: Liza Desylanhi

Keluarga aktivis yang diculik masih menyimpan barang-barang orang tercinta. Surat, pakaian, dan barang-barang pribadi menjadi kenangan manis sekaligus getir.


"Itu baju kesayangan Mami. Kalau si Ryan pake baju itu, ganteng banget. Jadi, Mami kalau kangen ma dia pake baju itu, sampai lehernya rusak," cerita Tuti Koto, ibunda Yani Afri, sambil menunjuk kemeja hitam yang dipajang di ruang Galeri Cipta 3 TIM Jakarta, akhir Juli lalu.

Yani Afri adalah salah seorang korban yang hilang karena aktivitas politiknya menjelang kejatuhan rezim Orde Baru. Saat kampanye Pemilu 1997, sopir angkutan kota ini memihak PDI pro Megawati. Pada akhir April 1997 lelaki bertubuh gempal ini dijemput paksa sejumlah aparat Komando Distrik Militer Jakarta Utara. Sejak itu Yani hilang dan tak berkabar lagi.

Sepuluh tahun sudah Ryan, begitu sang ibu menyapanya, hilang. Banyak orang mungkin sudah melupakan tragedi ini. Namun tidak bagi Tuti Koto. Kenangan pada putra tumpuan harapan itu masih tertanam kuat di benak. Keceriaan kala bernyanyi diiringi petikan gitar Ryan masih menari-nari di pelupuk mata. "Mami sama dia ini memang satu hobi. Dia gitar, Mami nyanyi. Dia nyanyi pop bisa, Padang bisa. Sering kami nyanyi-nyanyi di rumah," tutur perempuan langsing ini. Butiran bening mengalir dari sudut matanya. Wajahnya terlihat lelah, kerut-kerut di kening kian kentara.

Tuti Koto tak dapat menahan diri ketika melihat kemeja putra tercintanya melekat pada sebuah manekin. Isaknya tak tertahan, mengiris hati. Tangan keriput itu merengkuh manekin dan memeluknya erat. "Ya Allah... Ryan, Ryan...." ratapnya.

Tak banyak barang kenangan Ryan yang disimpan Tuti Koto. Tinggal kemeja hitam, jaket, dan seragam silat berwarna hitam. "Yang lain Mami kasih orang. Bukannya nggak mau nyimpan. Daripada berlumut disimpan lama di lemari, lebih baik diberikan pada orang, biar bermanfaat," ujar perempuan berkaca mata ini. Jaket itu biasa dikenakan Ryan saat naik sepeda motor dan mengantar Mami tercinta. "Waktu SMP dia ikut silat. Untuk jaga diri katanya. Tapi nggak sampai selesai."

Kenangan terakhir sangat membekas bagi Tuti, yang kemudian diartikan sebagai pertanda sebelum Ryan menghilang. "Mami diajak ke rumah istrinya. Di suruh nginap disana. Itu termasuk aneh menurut Mami. Diputerkan lagu-lagu Padang semua kesukaan Mami. Mami udah mau tidur, dibuka lagi gorden, ngeliat Mami. Mami kan belum tidur. Terus ngobrol lagi. Kok bisa begitu. Kok aneh-aneh banget. Itu yang susah Mami lupain," ujarnya.

Kenangan yang tak pernah buyar. Itu pula yang melekat pada DT Utomo Rahardjo, ayah Petrus Bimo Anugerah, aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) dan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Pemuda yang lahir dan besar di Malang ini menghilang pada akhir Maret 1998. Bukan kebiasaan Bimo, selaku penghubung dan pengatur pertemuan pengurus PRD, tidak melakukan kontak lebih dari 24 jam. Bahkan, ketika teman-temannya mencoba menghubungi, penyerantanya tidak aktif.

Di mata Utomo, Bimo anak yang aktif, berani, jujur, berprestasi, dan mudah bergaul. Bimo sangat terbuka kepada keluarga mengenai aktivitas politiknya. Bahkan, dia sering mengajak rekan-rekannya ke rumah, menghabiskan malam berdiskusi bersama ayahnya di ruang belakang rumah. Sebagai ayah, Utomo sadar betul risiko dan bahaya yang mengintai putra keduanya itu.

Makanya ketika pertengahan Juli 1997 Bimo meminta izin untuk membantu teman-temannya berjuang di Jakarta, Utomo sempat mencegah. "Saya mendatangkan pastur untuk memberikan pemahaman supaya nggak berangkat, tapi akhirnya ia tetap memilih berangkat. Dan aku pun merestui. Kalau itu pilihanmu dan kamu anggap baik dan benar, berangkatlah," ujar pensiunan PNS ini. Tentu saja sebagai orang tua tak lupa ia menyelipkan pesan. "Ada sedikit pesan moral dari Bapak. Di mana pun kamu berada, asalkan kamu punya iman yang jernih, Tuhan Yesus pasti menyelamatkan kamu. Saya bilang gitu."

Selama bergulat dengan aktivitas politiknya, Bimo selalu mengabari kedua orang tuanya. Dia rajin berkirim surat. Sering surat-surat itu disertai karikatur keadaannya. Termasuk saat dia mendekam di ruang tahanan Polda Metro Jaya. "Surat itu selalu ada gambarnya. Pada saat mandi, ada piring, ada duri ikan. Selalu digambar," ujar Utomo.

Semua surat itu disimpan rapi dan menjadi pelipur rindu. Di antara semua surat itu ada sebuah surat yang sangat berkesan bagi Utomo. Dalam surat kepada ibunya itu Bimo menulis tentang siklus hidup manusia. Lahir, sekolah, bekerja, menikah, mempunyai keturunan, dan akhirnya mati. "Demikian juga seekor kucing. Kucing dilahirkan, disusui. Setelah kawin, mati. Itu adalah rutinitas kehidupan. Itu sah-sah saja. Tapi Bimo tidak mau hanya hidup seperti itu, seperti kucing. Bimo ingin hidup ini lebih bermakna, dalam arti berbuat sesuatu yang ada plusnya. Makanya dia berbuat sesuatu," cerita Utomo.

Selain surat, kaos seragam olahraga Bimo saat di SMPN 3 Malang juga menjadi benda kenangan yang amat berarti bagi keluarganya. Kaos biru muda itu sudah lusuh. Bagian lengannya sengaja digunting. Dulu kaos itu sering sekali dikenakan Bimo. Utomo sempat menjadikan kaos itu sebagai lap. Maklum kaos itu ditemukan di tumpukan kain yang sudah tak terpakai. "Ketemunya kaos itu ketika Bimo sudah hilang. Di tumpukan kain yang nggak kepake. Aku ambil aja. Karena kaos nggak kepake ya aku jadiin lap motor aja." Namun tanpa sengaja, Utomo menemukan tulisan di balik kaos itu yang ditulis Bimo saat duduk di bangku SMA. "Baru sadar kalau itu tulisan Bimo, setelah jadi lap motor. Waktu dicuci dan mau saya jemur, kok ada tulisan itu."

Tulisan itu lagi-lagi menegaskan sikap Bimo. "Aspirasi nurani. Bapakku bilang, jadilah anak baik. Ibuku bilang, jadilah anak shaleh. Kakakku bilang, lindungilah temanmu. Mungkin aku adalah satu di antara seribu anak negeri yang disusui oleh caci maki, dibesarkan di kandang sapi, diasuh oleh mantri. Karena aku adalah anak zaman. Ya, zaman di mana hati nurani hanyalah robot tanpa gigi."

Kenangan juga merambati keluarga Suyat, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Slamet Riyadi (UNSRI) Solo. Aktivis PRD dan SMID ini tak pernah menceritakan aktvitas politiknya yang berisiko kepada keluarga. Ketika aparat berpakain preman mencari Suyat di rumahnya pada pertengahan Februari 1998, Suyadi, kakak tertua, tidak berpikir macam-macam. "Ya saya biasa saja. Ndak khawatir. Setelah orang-orang itu pergi dari rumah, saya terus tidur lagi," ujar pria jangkung ini. Setelah beberapa hari, barulah Suyadi sadar si bungsu hilang.

Suyat memang pribadi yang tertutup di keluarga. Namun, di lingkungan desanya, pemuda ini terkenal sebagai sosok supel dan diakui kepemimpinannya. Pada tahun-tahun pertama Suyat menghilang, Suyadi mengaku sempat kecewa karena Suyat adalah satu-satunya tumpuan harapan keluarga. "Dia bisa kuliah karena beban keluarga sudah berkurang. Saya sudah kerja, adikku juga. Setidaknya lebih baik kehidupannya dari kakak-kakaknya. Untuk tahun-tahun pertama, kedua, saya ada perasaan kecewa. Kenapa kayak gitu ya? Tapi setelah ada temennya yang datang, akhirnya bangga juga. Dia berbuat gitu atas kemauan sendiri, nggak ada dorongan dari orang tua atau orang lain. Ya kalau dia memang pilihannya itu, mau gimana lagi?"

Tak banyak barang kenangan Suyat yang tertinggal untuk keluarganya. Hanya jaket almamater yang jarang dipakai, beberapa lembar foto, dan buku. Tak ada baju favoritnya. Maklum Suyat memakai baju bergantian dengan kedua kakaknya. Namun ada beberapa kenangan yang berputar di benak Suyadi. Salah satunya adalah perjalanan berdua si adik mendaki Gunung Merapi. "Suyat ndak banyak cerita. Paling tentang keadaan gunung aja. Tapi seluruh perjalanan itu berkesan buat saya, meskipun tak sampai puncak. Aku nggak kuat," kenang Suyadi sambil tersenyum.

Ada lagi kenangan tentang si bungsu yang membuat Suyadi menyunggingkan senyum. "Dia itu sekolah SD kelas I masih nyusu Ibu. Kelas dua mulai nggak. Mungkin mulai malu," tuturnya.

Kasih sayang dan kenangan-kenangan itu membuat Suyadi tak mengenal lelah mencari Suyat hingga kini. Dia dan keluarga yakin si bungsu yang pendiam itu masih hidup. "Entah di mana, tapi firasatku bilang Suyat masih hidup. Nggak pernah lelah aku mencarinya."

Keyakinan yang sama menari di benak Paian Siahaan, ayah Ucok Munandar Siahaan, mahasiswa STIE Perbanas yang hilang sejak pertengahan Mei 1998. Keyakinan itu pula yang membuat keluarga ini bertahan dan terus berjuang mencari Ucok, paling tidak mencari tahu keberadaannya.

Menurut Paian, ada beberapa alasan yang membuat dia dan keluarganya yakin Ucok masih hidup. Telepon gelap yang sering mereka terima setelah hampir setahun Ucok menghilang menjadi salah satu tanda. "Kami menganggap ada sesuatu yang salah yang saat ini masih tetap berlangsung. Katakanlah dia sudah tidak ada, terbunuh misalnya, tentunya nggak ada telepon-telepon itu. Mestinya ada sesuatulah. Itu salah satu mengapa kami menganggap dia masih hidup."

Paian berpendapat, jika Ucok sudah tewas mestinya ada jasadnya. Selain itu, ada telepon gelap pada hari ulang tahunnya 18 Maret 1999 tepat pukul 21.00. Dia sangat yakin yang menelepon Ucok. "Anak itu kan sangat concern sama saya. Setiap saya ulang tahun dia selalu memberikan hadiah." Telepon itu menjadi satu lagi alasan yang menguatkan keyakinan Ucok masih hidup. "Analisa saya, bisa aja kan dia minta tolong, gitu. Tolong sambungin dong ke rumah, karena bapak saya ulang tahun. Karena persis hari ultah saya, jam sembilan malam ada telepon yang nadanya tetap terbuka gitu aja."

Semula orang tua ini tidak tahu putra kedua yang diharapkan menjadi bankir ternyata menjalani aktivitas politik. Pantas saja beberapa hari sebelum kerusuhan dan kejatuhan Soeharto, Ucok mengingatkan ibunya dan meminta untuk membeli bahan kebutuhan pokok dalam jumlah banyak.

Di mata Paian, Ucok anak yang tegas dan memiliki solidaritas tinggi. "Dia mau berantem demi membela temannya." Di balik ketegasannya, Ucok sangat dekat dengan ibunya. Kata Paian, beberapa hari sebelum hilang, Ucok minta gurami goreng kegemarannya. "Maknya bilang ya sudah kalau kau mau, kau bersihkanlah ikannya sendiri. Dan dia pun membersihkannya. Baru kali ini dia membersihkan sendiri. Setelah matang, ia makan satu ekor sendirian," cerita pria berusia 60 tahun ini.

Setelah itu Ucok tidur dengan ibunya, hal yang sudah lama tak dilakukan seiring kesibukannya di kampus. "Minta dikelonin sama mamaknya. Kepalanya di garuk-garuk sama mamaknya, diusap-usap. Dia sering begitu. Tapi waktu itu dia lama nggak pulang. Itu terakhir," tutur Paian.

Kini tak ada lagi petikan gitar kesayangan Ucok. Dia memang suka sekali main gitar. Gitar itu dibeli saat Ucok duduk di bangku SMA dengan uang tabungan sendiri, setelah gitar yang dijanjikan musisi terkenal Pance Pondaag tak kunjung didapatkan. "Pance Pondaag itu kan temen saya. Dia pernah datang. Saya bilang anak saya mau gitar. Terus dia bilang, nanti saya kasih gitar elektrik. Tenyata... nggak taulah, mungkin sibuk."

Selain gitar, surat yang ditulis Ucok saat wisata studi ke Bali ketika SMA kelas III juga menjadi kenangan bagi keluarganya. "Dia mengatakan sadar selama ini kurang baik, suka melawan, dan lain-lain. Nah, dia berniat memperbaikinya. Tapi ada tambahan di akhir surat dia minta tambahan uang jajan. Suratnya di kirim dari Bali." Ada juga makalah Ucok saat penataran P4. Kini semua barang itu tersimpan rapi. Dan sesekali dibuka, ketika rindu mendera. Paian yakin suatu saat Ucok akan melangkah mengetuk pintu rumah. "Tinggal menunggu waktu saja," ujarnya.

Harapan. Itulah yang membuat keluarga para korban penculikan tak lelah mencari orang-orang yang mereka cintai. Seperti Utomo Rahardjo, ayah Bimo. Penyerahan sepenuhnya pada kehendak Tuhan membuat semuanya menjadi lebih ringan. "Kami punya keyakinan dan kepercayaan, selama kita manusia mengadu kepada sesama manusia nggak ada jawaban, yang melegakan. Ada yang lebih dari itu, sang pencipta kehidupan ini. Kami yakin dan berdoa itu yang kami lakukan. Entah kapan dikabulkan Tapi kami menyakini Tuhan maha pengasih, penyayang."

Harapan kepada pengurus negeri ini telah lama menguap, hilang. "Sosok manusia siapa pun di negeri ini, presiden sekalipun, saya tidak berharap lebih. Kalau Tuhan berkenan, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan untuk memberikan jawaban bagi keluarga kami. Saya tidak yakin SBY (Presiden Yudhoyono) mau merespons harapan semua keluarga korban ini," ujar Utomo.

Di tengah ketidakpastian dan ketidakpercayaan iktikad baik pemerintah menjawab segala tanya mereka, Tuti Koto, ibunda Yani Afri, melontarkan pesan. "Hidup atau mati anak Mami itu Tuhan punya kuasa. Sudah takdir. Tapi jangan sekali-sekali anak cucu sampai diginiin lagi. Pemerintah harus adil. Jangan sampai terjadi lagi," katanya tegas.

Satu dasarwarsa sudah anak-anak negeri ini hilang. Namun jejak mereka masih membekas. Dalam. Perih. (E1)

*Naskah asli tulisan ini ada di situs Voice of Human Right

15 April 2008

Tesaurus Moko

Oleh Imam Shofwan


Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Baris pertama puisi Sapardi Djoko Damono digubah pengarangnya sendiri dalam acara peluncuran buku Tesaurus Bahasa Indonesia karya Eko Endarmoko di Teater Utan Kayu pada Rabu malam 17 Januari lalu, hasilnya menjadi:

Awak hendak menggemarimu seraya elementer

Sapardi adalah penyair pertama yang menggunakan tesaurus karya Moko –sapaan akrab Eko Endarmoko di Utan Kayu. Tak pelak, saat Sapardi membacakan gubahan puisi karyanya, para pengunjung pun terpingkal-pingkal.
Ada kegagapan dalam pemakaian tesaurus tersebut.

Malam itu Sapardi menjadi pembicara bersama Jos Daniel Parera. Pemandunya penyair Sitok Srengenge. Sapardi mewakili para penyair yang dianggap sebagai calon pemakai aktif tesaurus tersebut. Sedangkan Parera sehari-hari bekerja di divisi penerbitan PT Balai Pustaka serta dosen bahasa Indonesia di Universitas Negeri Jakarta dan beberapa Universitas lainnya di Jakarta. Karena Tesaurus Moko adalah tesaurus pertama di Indonesia, pejelasan seorang linguis macam Parera dianggap penting. Analisisnya diharapkan memberikan gambaran fungsi dan manfaat tesaurus.

Saya mendatangi acara tersebut bersama Steph Tupeng Witin, seorang pastur lulusan S2 Theologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katholik Ladelero, Flores. “Ladelero berasal dari bahasa Sikka artinya tempat bersandar matahari,” tutur Pater Steph. Sejak lima hari sebelumnya dia bernafsu mengikuti acara tersebut. Alasannya, dia ingin melihat presentasi Jos Daniel Parera, orang yang dia yakini berasal dari Sikka.

Romo Steph berkonsentrasi penuh serta menikmati kata demi kata tuturan Parera. Tiga kata yang dipakai Parera untuk mengomentari penulis tesaurus tersebut: berani, nekat, dan ulet.

Berani karena seorang diri dia memulung kata yang kemudian membukukannya. Umumnya tesaurus disusun sebuah tim yang kuat dan dibiayai lembaga berwibawa dengan dukungan dana yang kuat pula. Namun Moko berani melakukannya sendirian dengan kemampuan cekak pula. Moko juga nekat karena dia bukanlah seorang linguis, apalagi leksikograf. Dia hanya seorang pemerhati bahasa. Ulet karena pengumpulan kata itu dilakukan selama kurang lebih 13 tahun.

“Dengan Tesaurus ini, ia kelak akan dikenal sebagai leksikograf bahasa Indonesia,” tutur Parera.

Setelah berbasa-basi sedikit tibalah saat penghujatan karya. Penghujatan ini dibagi secara sistematis dalam tiga tingkat seurut dengan susunan bab tesaurus tersebut, yakni Mukadimah, Tentang Tesaurus Ini, dan Isi Tesaurus yang disusun alfabetis.

Penyusunan Mukadimah dan Tentang Tesaurus Ini tumpang tindih antara isi, konsep, dan perjalanan kerja penulis. Parera mengusulkan bagian Mukadimah sebaiknya ditulis ucapan terima kasih penulis dan perjalanan kerja penulis. Sedangkan pada bagian Tentang Tesaurus Ini berisikan landasan teori penyusunan dan isi tesaurus, dan diakhiri dengan Panduan Pemakaian. “Panduan penting karena isi Tesaurus ini kurang mampu mencerminkan konsep penyusunan yang kuat,” tutur Parera.

Biasanya, menurut Parera, tesaurus disusun berdasarkan kategori hubungan ide atau disusun tematis. Ini yang membedakan kamus dengan tesaurus. Kamus biasanya disusun alfabetis sedangkan tesaurus tematis.

Namun Tesaurus Moko disusun alfabetis. Penyusunan semacam ini terinspirasi dari Collins dan Webster. Yang beda dari karya Moko adalah judulnya kamus dan tesaurus sekaligus.

“Hal ini perlu disampaikan biar masyarakat tidak menerima dan berpendapat kalau tesaurus model Eko adalah tesaurus yang baku dan berlaku,” tutur Parera.

Karena tesaurus merupakan buku jenis baru, Parera merasa perlu mendefinisikan apa itu tesaurus.
Tujuannya jelas, apakah karya Moko patut disebut tesaurus?

Definisi pertama diambil Parera dari Hartman dalam buku Teaching and Researching Lexicography.
Yakni, (tesaurus adalah) karya referensi yang menyediakan informasi kosa-kata suatu bahasa atau jenis bahasa, fokusnya pada kata-kata bersinonim atau hubungan-hubungan lain antarkata, dan biasanya disusun tematis.

Dalam makalahnya, Parera juga menyuguhkan definisi dari H. Steinhauer yang lebih ketat: Tesaurus bahasa adalah perbendaharaan kata yang dilengkapi dengan keterangan tambahan kata itu, sedapat mungkin terperinci, keterangan ini menyangkut sumber, konteks pemakaian, keterangan gramatikal, ragam kekerapan, makna, sejarah, varian-varian, pemakai dan pemakaiannya (lengkap dengan contoh).

Satu per satu Parera membenturkan karya Moko dengan definisi tersebut. Dimulai dari asal kata. Dalam Tesaurus Moko hanya kata dari Jawa dan Arab yang diberi keterangan dengan kode (Jw) dan (Ar), sedang yang lain tidak. Selain itu Tesaurus Moko tidak dilengkapi contoh penggunaan.

“Apakah ini patut disebut tesaurus?” tanya Parera.

Parera sadar kalau pengguna kamus dan tesaurus berbeda tujuan. Pengguna kamus mencari informasi dan keterangan tentang makna sebuah kata. Pengguna tesaurus sudah memiliki kata tertentu dan mencari padanan kata yang sesuai dengan ide dan konsepnya. Atau untuk menemukan kata lain guna menghindari pengulangan kata. Bisa juga penulis ingin menemukan kata khusus untuk makna tertentu. Tesaurus melayani penulis dan pemakai bahasa yang kreatif dan produktif.

“Apakah Tesaurus karya Eko ini cukup mampu melayani penulis yang kreatif dan produktif?” tutur Parera.

Lalu Parera memblejeti satu per satu bagian isi kamus ini secara acak. Kesimpulan Parera cukup mengejutkan. Dia menyebut Tesaurus Moko sebagai karya yang menyesatkan.

Ada beberapa contoh yang dikemukakan Parera. Pada abjad A misalnya, dia menemukan kata “abstraksi” yang disinonimkan dengan kata “generalisasi”. Kata “abstrak” disinonimkan dengan “hipotesis”, “ideal”, “konseptual”, “teoritis”, “transendental”. “Saya tidak tahu apakah ini memang variasi kata abstrak atau salah konsep,” tandas Parera.

Ada entri “adibintang” namun tidak ada entri “adibusana”. Mengapa dalam entri “adu" tidak ada bentuk “beradu” atau “peraduan”.

Pada abjad P, Parera menemukan kata “persuasi” yang disinonimkan dengan “agitasi”. “Saya kira ini berlawanan arti dan menyesatkan,” tutur Parera.

Pater Steph terlihat khusuk mendengar penuturan Parera dan bertepuk tangan dengan semangat saat Parera mengakhiri presentasinya.

Senada dengan Parera, Sapardi Djoko Damono cenderung mencari kelemahan Tesaurus Moko. Salah satu kritiknya adalah tidak teraturnya tingkatan kata dari makna paling dekat ke makna yang lebih jauh dan makin jauh. Selain itu ketiadaan contoh penggunaan kata dalam kalimat menyulitkan pemakaian tesaurus tersebut.

Sapardi menutup presentasinya dengan menggubah puisinya berjudul “Aku Ingin” menjadi “Awak Hendak” dengan menggunakan padanan kata pada Tesaurus Moko untuk membuktikan kelemahannya.

Pater Steph tampak puas mengikuti diskusi yang jarang atau bahkan tidak mungkin di daerahnya. Namun pemaparan sisi negatif kedua pembicara menyebabkan Pater Steph mengurungkan niat untuk membeli buku tersebut. “Saya beli nanti saja, setelah direvisi,” tutur Pater.


MOKO memulai kerja penyusunan Tesaurus ini sejak masih kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Adalah Anton M. Moeliono, ketika itu menjadi dosen semantiknya, yang kali pertama memberi tugas pada Moko untuk mengumpulkan kata-kata dasar yang bersinonim. Kegiatan yang berlangsung sekitar satu semester itu adalah tonggak awal pembuatan Tesaurus ini.

Saat itu pencarian kata yang dilakukan Moko belumlah sistematis, bahkan bisa dikatakan serabutan. Pembuatan catatan dilakukan kapan saja. Tidak setiap hari. Tidak ada waktu khusus. Tidak pula mengikuti satu sistem tertentu.

Catatan kata-kata bersinonim dalam kertas HVS ukuran A4 yang dibikin Moko ini kian menggunung pada 1993. Moko mulai menelisik dan menapis kata-kata dari berbagai sumber. Mengurutkannya menurut abjad dengan memperhatikan harmoni, polisemi, label-label kelas kata dan ragam bahasa, dan kemudian menyalinnya ke komputer. Kebiasan buruk kembali terulang, bisa berminggu-minggu catatan itu terhantar saja di kolong meja. Karena pengerjaan yang sambil lalu ini, proses berjalan sangat lamban.

Bisa jadi karena kesibukan Moko sebagai wartawan. Setelah lulus dari UI pada 1980 Moko bekerja sebagai wartawan di majalah pembukuan Optimis selama kurang lebih setahun. Dua tahun berikutnya dia menjadi redaktur pelaksana Berita Buku terbitan Ikatan Penerbit Indonesia Pusat.

Moko mulai mengerjakan catatan-catatan ini dengan teratur saat dia bekerja di jurnal kebudayaan Kalam, yang berkantor di Utan Kayu. “Di Utan Kayu saya tidak terikat dengan jam kerja. Dengan demikian memiliki kesempatan yang luas pada bidang kreatif,” tutur Moko. Catatan-catatan ini sudah mulai tampak sebagai draft awal tesaurus.

Di Utan Kayu pula Moko mulai akrab dengan Goenawan Mohamad dan Ayu Utami yang juga redaktur Kalam. Saat melihat kesungguhan Moko menggeluti kata-kata ini, Mas Goen –begitu Goenawan Mohammad biasa disapa– mensponsori Moko untuk tinggal di Leiden pada Mei hingga Agustus 2001. Di sini Moko bergaul dengan Hein Steinhauer, dosen Bahasa Indonesia di Universitas Leiden, dan Susi Moeimam dari KITLV. Kedua orang ini memiliki perhatian yang sama dengan Moko. Mereka sama-sama menekuni kata-kata. Saat itu Steinhauer dan Moeimam sedang menyusun Kamus Indonesia-Belanda. “Saya bertukar pikiran dengan mereka, terutama mengenai penyajian lema,” tutur Moko.

Moko baru tersadar kalau dia sedang menghadapi pekerjaan yang sedemikian luar biasa menantang saat dia pulang dari Leiden.

Muncullah beberapa pikiran baru yang berpengaruh besar pada rancangan Tesaurus ini. Gugusan kata yang menjadi sinonim tiap-tiap lema yang sudah tercatat, demi penyajian yang lebih tertib, dia bongkar dan urutkan kembali menurut abjad.
Moko terinspirasi dengan buku A Dictionary of Synonyms and Antonyms Alan Spooner dan Collins Thesaurus in A-Z Form. Ia ingin membuatnya lain dari kamus-kamus sinonim Indonesia yang pernah diterbikan, seperti karya Harimurti Kridalaksana (1988) dan karya Nur Arifin Chaniago dkk (2000) yang tidak disusun alfabetis.

Penyusunan Tesaurus ini, menurut Moko, menghidangkan sinonim yang dikelompokkan berdasarkan kedekatan makna. Semua lema berikut padanannya disusun menurut abjad, sama sekali tanpa takrif dan penjelasan. Moko mengandaikan pemakainya kelak adalah orang yang tidak sedang mencari penjelasan arti sebuah kata. Sebaliknya, pembaca yang ingin mendapatkan ungkapan yang tepat untuk suatu konsep dan nuansa makna yang paling cocok dalam konteks tertentu, atau sedang mencari bentuk lain sebuah kata.

“Saya membayangkan pengguna TBI adalah mereka yang selesai dengan urusan makna, tetapi terdorong oleh suatu keperluan untuk mencari tahu kata-kata apa sajakah yang bersinonim atau berhubungan dengan kata tertentu,” tutur Moko. TBI adalah akronim Tesaurus Bahasa Indonesia.


SAYA mengetahui diskusi serupa akan digelar di Bentara Budaya Jakarta. Saya dan Pater Steph berencana menghadiri diskusi tersebut. Pater bilang kalau dia ingin mendengar komentar Goenawan Mohamad, yang akan menjadi pembicara bersama Ayu Utami dan Anton M. Moeliono. “Saya kira diskusi itu hendak memuji karya Moko,” tutur Pater beberapa hari sebelum diskusi.

Saya penasaran dengan prediksi Pater Steph dan datang ke Bentara Budaya. Pengunjungnya lebih dari seratus orang. Tampak di sana para karyawan Gramedia dan Kompas serta sejumlah wartawan. Parera juga datang. Namun Pater Steph berhalangan hadir.

Anton M. Moeliono menjadi pembicara pertama. Dia menguraikan sebuah bagan yang cukup rumit soal perkembangan kamus bahasa Indonesia serta kamus-kamus bahasa asing untuk menempatkan posisi Tesaurus Moko. Pada akhir presentasinya dia memuji Moko. “Dia adalah mahasiswa saya yang paling tekun mencatat kata yang bersinonim,” tutur Anton.

Pujian juga datang dari pembicara berikutnya. Goenawan dalam presentasinya menyebutkan bahwa Moko adalah seorang pecinta bahasa dan bukan ahli semantik. Kecintaan terhadap bahasa merupakan dasar semangat kecintaan terhadap bangsa. Dan di sinilah posisi pentingnya Tesaurus Moko. Tapi Goenawan juga mengusulkan agar ada buku petunjuk penggunaan untuk memudahkan pemakaian Tesaurus Moko.

Pada akhir diskusi Ayu Utami –penulis novel Saman dan Larung– menggubah puisi karya Goenawan Mohamad dengan menggunakan Tesaurus Moko. Saya tak ingat persis puisi mana yang dia gubah namun saya mendengar rima yang cukup indah saat Ayu membacakan puisi tersebut.

Usai diskusi saya menemui Eko Endarmoko untuk memintanya menandatangani Tesaurus Bahasa Indonesia milik saya. Di atas parafnya dia menulis: moga-moga bermanfaat!*


Naskah ini pernah dimuat di Situs Pantau dan harian Flores Pos

30 March 2008

Senyum Terakhir
Oleh Daris

Senin pagi selalu dibuka dengan upacara bendera di sekolahku. Namun rutinitas itu tak lagi bisa dilakukan sejak lumpur Lapindo menggenangi halaman sekolahku, sekira Mei 2006.

Aku tak lagi bisa membaca do’a penutup upacara yang selalu jadi tugas rutinku. Sahabatku Zahroh yang biasanya membacakan teks proklamasi dengan suaranya yang lembut namun dibikin tegas juga tak lagi bisa aku dengarkan.

Aku siswi kelas III C Sekolah Menengah Pertama Negeri Porong. Sekolahku terletak di desa Renokenongo. Sekolah di sini sangat menyenangkan pada awalnya hingga musibah lumpur Lapindo merusak semuanya.

Aku masih ingat lumpur itu, awalnya, hanya sebuah bau busuk yang menyengat. Saat itu, Bu Etik, guru bahasa daerahku sedang mengajar di depan kelas.

Bu Etik guru yang penyabar, selembar kain yang selalu menempel di kepalanya selalu mengesankanku. Karena kesabarannya murid-muridnya biasanya berani gaduh saat dia mengajar, seperti pagi itu, sejak Bu Etik masuk kelas kawan-kawan sekelasku gaduh sekali.

“Tenang anak-anak!” tutur Bu Etik mencoba untuk meredam suasana.

Namun kelas makin gaduh. Bu Etik lantas diam, para siswa sudah mafhum kalau Bu Etik diam tandanya marah. Kawan-kawan lantas diam beberapa saat. Ketika Bu Etik akan bicara lagi.

“Eh, kamu kentut ya?” celetuk seorang kawanku pada seorang anak yang berambut keriting dan berbadan gemuk yang tak jauh dari tempat duduknya. Sontak semua tertawa termasuk aku.

“Dasar! Kalau kentut di luar dong! Bau nih,” sambungnya. Pelajaran jadi kacau semua tertawa tak mempedulikan guru.

“Diam. Diam anak-anak,” lerai Bu Etik.

Karena temanku yang dituduh merasa tidak melakukan. Dia pun berusaha membela diri dan berdiri.

Braak. Karena tak sabar, meja harus mau jadi korban kekesalannya.

“Siapa yang kentut? Aku nggak kentut, kamu kali? Nuduh orang sembarangan. Kalau nggak percaya nih cium pantatku.” Teriaknya lantas duduk kembali.

Semua kembali tertawa. Kacau. Sangat kacau. (Semua belum tahu kalau bau itu berasal dari semburan lumpur Lapindo)

Bu Etik keluar, Aku celingak-celinguk di pintu. Banyak anak-anak dari kelas lain sudah pada keluar. Tanpa dikomando kami lantas berhamburan keluar kelas.

Aku tak pernah keluar sendiri. Aku selalu keluar bersama geng-ku. Nama gengku Ijo Lumut singkatan dari Jomblo-jomblo Imut. Anggotanya lima orang dan tempat tongkrong kami di depan kelas di bawah pohon mangga. Kami lantas keluar kelas bersama dan menuju ke tempat tongkrong kami.

Karena sudah penuh kami lantas mencari tempat tongkrong lain di dekat kantin.

Ada apa sih kok semua sudah pada keluar,” tanya Alisa, salah seorang anggota gengku membuka percakapan.

“Emm, tadi waktu berangkat sekolah, aku lihat di jalan raya sebelah barat sudah banyak orang berkerumun,” tutur Regina, seorang anggota gengku dari desa Jatirejo.

Emang ada apa?”

“La, itu yang nggak aku tahu, Vi”

“Pom bensin milik pertamina bocor!” teriak seorang anak, tapi aku tak tahu pasti siapa itu.

“Hah, pom bensin?” Kami saling memandang. Bengong.

Tak lama kemudian bel panjang dibunyikan tandanya pulang sekolah. Kami senang sekali pulang lebih awal tapi kami tak tahu, kenapa?

Kawan-kawan segengku lantas ke kelas mengambil tas dan lantas ke tempat parkir sepeda. Regina membuka pembicaraan.

“Kamu tidak mau lihat pom bensin?” Kata Regina, anak-anak banyak yang mau ke sana!”

“Em, aku tanya teman-teman sedesaku dulu. Kalau mereka mau aku ke sana. Kamu duluan aja deh kalau buru-buru.”

“Ya udah, aku duluan ya,” kata Regina sambil melambaikan tangan.

Aku menunggu teman-temanku di tempat parker sambil memikirkan darimana asal bau busuk ini. Tak lama kemudian mereka datang.

“Mau liat pom pertamina, nggak?” Tanya seorang kawanku.

“Tanya yang lain, mau nggak?” Jawabku.

Semua serempak mengiyakan lantas kami mengayuh sepeda masing-masing. Belum sampai pom bensin, di ujung desa Renokenongo tak jauh dari jalan tol kami melihat banyak orang berkerumun.

Dari situ bau busuk makin kuat dan kami baru tau di situlah asal bau itu dari sebuah semburan lumpur besar. [end]

Awal Maret di Porong.

Bersambung.

Asal Bau Itu
Oleh Zahroh

Geger antara Pak Suryawan dan murid-murid yang terlambat sekolah adalah ritual pembuka sekolahku. Karena hadiah khususnya, macam push up, loncat-jongkok, lari-lari keliling lapangan. Teman-teman sekolahku menamai guru biologi ini sebagai the killer teacher.

Saya selalu datang ke sekolah lebih awal agar tidak berhadapan dengan Pak Surya. Baru melihat Pak Surya saja saya sudah keder apalagi kalau dapat sarapan pagi dari Pak Surya. Amit-amit.

Pagi itu, akhir Mei 2006, di depan sekolah sudah banyak anak-anak ramai dan ada Pak Surya pula. Aku sudah takut karena mengira sudah terlambat sekolah. Segera aku percepat kayuhan sepedaku di pojok parkir sekolah.

Di tempat parkir, aku bertemu Nia, teman sekelasku. Setelah basa-basi sebentar aku tanya dia.

“Kamu telat juga? Banyak ya yang telat ya hari ini?”

Nggak kok, kan belum jam masuk?” Jawab Nia.

Karena aku takut sama Pak Surya aku jadi aku tak sempat melihat jam tangan dan memang benar belum lagi jam masuk sekolahku. Aku lantas mengalihkan pembicaraan, “lho kok ramai sekali anak-anak di depan sekolah. Emang ada apa?” Aku mendekati Nia.

“Kamu belum ta? Ada semburan Lumpur di desa ini,” mukanya meyakinkanku.

”Apa semburan Lumpur?” Aku sempat tak percaya apa yang telah Nia ucapkan padaku.

“Iya, di sebelah barat sekolah kita ada pabrik gas PT Lapindo Brantas Inc,” jelas Nia, “ada yang bilang semburan itu karena kelalaian pabrik dan ada pula yang bilang akibat pergeseran tanah akibat gempa Jogja.” Kami mengobrol sambil berjalan menuju ke kelas. Aku lega karena tak harus berhadapan dengan Pak Surya.

“Emm, gitu ya ceritanya. Wah aku ketinggalan nih ceritanya!”

“Masak kamu nggak mencium bau yang nggak enak kayak gini sich?”

“Ya sih, tapi nggak tahu bau ini berasal dari mana. Emang kenapa?”

“Ih. ya bau ini bau semburan Lumpur itu tau!” Nia jengkel melihatku karena aku dari tadi tanya melulu.

Tapi mungkin memang seluruh keluarga besar sekolahku telah banyak yang mengetahui hal itu. Mungkin aku salah satu orang yang ketinggalan berita itu. Mulai saat itu pelajaran telah ditiadakan siswa-siswi mulai banyak yang keluar masuk kelas. Mereka tampaknya senang sekali.

Seperti burung yang telah lama dikurung dalam sangkar kemudian dilepaskan begitu saja. Bebas dengan senangnya. Layaknya mereka saat itu. Sebab tidak pusing memikirkan pelajaran. Tapi hanya untuk saat itu saja. Mungkin guru-guruku juga tengah membicarakan hal itu, “Semburan Lumpur.“

Aku masih punya banyak pertanyaan soal semburan lumpur. Penjelasan Nia kalau semburan itu di sebelah barat sekolahku belum cukup bagiku. Aku tak tahu kalau ada pabrik gas di tempat itu. Setahuku pabrik gas di tempatku cuma satu di desa Permisan. Aku baru tahu ada pabrik gas di Renokenongo bernama Lapindo Brantas Inc.

Obrolan ini menjadi tema pagi itu di sekolah. Semua orang membicarakannya. Hingga suara. Bel panjang ting, ting, ting. Sekolah dipulangkan lebih awal hari itu. Aku penasaran dan ingin segera melihat lumpur yang dibicarakan semua orang itu.

Bersama kawan-kawan sedesaku aku mengayuh sepeda merahku bersama teman-teman menuju semburan lumpur. Di ujung Renokenongo, Lumpur telah meluber ke jalan raya. Jalan yang menghubungkan Malang-Surabaya itu panas dan berdebu dan makin berdebu lagi karena lalu-lalang truk-truk yang membawa beban berat. Dan tak hanya jalan raya saja yang sudah digenangi lumpur tapi areal persawahan pun juga sudah sebagian ada yang terkena luberan Lumpur.

“Aduh, kok bisa begini ya?” Keluhku pada teman-temanku.

“Wajah orang-orang terlihat resah melihat semburan itu kasihan mereka. Ya, mudah-mudahan saja semburan Lumpur ini bisa cepat dihentikan ya,” jawab kawanku.

“Amin-amin,” seru Rida pada kami.[end]

Bersambung.

Aku Juga Mau Disyuting

Oleh: Hanum

Nafasku tersengal seiring dengan langkah kaki yang kupacu. Pak Sur, guru paling galak di SMP 2 Porong, berdiri di ujung koridor membuat langkahku gentar. Sapaanku yang kupaksakan dibalas dengan anggukan muka masam.

Setelah melewatinya dan hampir sampai di pintu kelas kurapikan jilbabku yang berantakan. Aku terlambat lagi dan aku berusaha tidak mengulanginya tapi percuma aku tetep aku dengan kebiasaan burukku.

Sekolahku di desa Renokenongo. Aku menyukai sekolah ini karena banyak pohon besarnya dan letaknya tak terlalu jauh dari tempat tinggalku di Perumahan Tanggulangin Sejahtera. Karena letaknya di dekat areal persawahan Renokenongo orang sering meledeknya dengan sekolah mewah alias mepet sawah.

Aku juga suka tinggal di perumahan tempatku tinggal karena akrab suasanya, tetangga yang akrab. Namaku Hanum Anggraini Azkawati. Para tetangga, teman sekolah dan keluargaku biasa memanggilku Hanum.

Aku anak pertama dari tiga bersaudara. Sebentar lagi akan jadi empat bersaudara karena sekarang ibuku sedang hamil tua. Di sekolah aku dikenal “jam karet.” Molor terus, tak pernah on time.

“ Hanum, kamu telat lagi ya?” Tanya Risa padaku. Risa adalah sahabatku, kita berdua sebangku. Rumah Risa di Desa Kedungbendo tak jauh dari tempat tinggalku.

“Hehe, iya aku telat. Habis tadi rantai sepedanya lepas. Nih tanganku banyak oli,” aku menunjukkan tanganku.

Selain Risa, ada juga yang bernama Chintya dan Tika. Mereka berdua teman akrabku. Kami selalu bersama. Aku bahagia sekali sekolah di sini. Gurunya unik, teman-temanku juga baik. Meskipun di sekolah aku bukan golongan anak populer. Karena aku pendiam, sangat pendiam. Aku tergolong anak yang biasa-biasa saja. Nggak ada aku, tidak ada pengaruhnya. Tapi aku senang di SMPN 2 Porong. Aku sekelas lagi dengan temanku di Sekolah Dasar (SD) dulu. Iya, apalagi ada Galang. Aku beruntung sekelas lagi dengannya.

“Uffh,” Teriknya mentari membuatku ingin lekas pulang. Apalagi teringat kata-kata Wachidaini tadi pagi. Bahwa tadi ada gas yang bocor tak jauh dari sekolahku. Kata teman-teman baunya menyengat, bahkan banyak yang pingsan. Tapi aku sama sekali tak mencium bau apa-apa.Wah, sepertinya hidungku perlu di periksakan ke dokter spesialis hidung.

Aku tak sabar pulang, terlebih bertemu si cantik Fahma. Adik baruku yang lahir empat hari yang lalu, tepatnya 25 Mei 2006. Inginku ciumi pipinya yang tembem itu.

“Uffh, sampai juga aku di rumah, eh ada Tante,” Aku tersenyum pada tetanggaku yang menjenguk adikku. “Mbak, katanya tadi di dekat sekolah sampeyan ada gas yang bocor ya?” Tanya tetanggaku. “Mm, iya sih, tapi ndak tau apanya yang bikin bocor. Pokonya hari ini sekolah pulang cepet aja tante. Soalnya banyak yang pingsan.”

Esoknya, pelajaran di sekolah benar-benar tidak efektif. Bayangkan saja, guru dan muridnya melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menutup mulut dan hidung dengan masker. Mirip sekali dengan sekolah ninja.

“Sudah anak-anak, kita libur dulu saja, pulang dulu anak-anak,”guruku berteriak panik. Jelas saja, karena jumlah anak pingsan makin banyak saja. Yang muntah malah tidak terhitung. Aku hanya mengikuti saja perintah guru, pulang ya pulang, libur ya libur.

Tak terasa sudah beberapa hari aku dan teman-temanku tidak masuk sekolah. Aduh bingung sekali aku. Aku iri dengan anak tetanggaku yang setiap pagi selalu berangkat sekolah. Akhirnya, aku dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi rumah Pak Sur. Pak Sur terlihat bingung. “Tunggu informasi selanjutnya!” Ujar Beliau, aku dan teman-temankupun kecewa. Sampai akhirnya ada kabar bahwa SMPN 2 Porong dipindah ke SDN 1 dan 2 Renokenongo.

Hmm, jaraknya lumayan dekat dengan SMPN 2 Porong yang terlihat sudah ditanggul.

Teman-temanku banyak yang pindah. Rere, Risky dan banyak lagi. Kenapa kalian pindah meninggalkan kenangan indah kita?

Sebenarnya ada apa ini? Aku bertanya dalam hati. Mengapa hanya karena gas bocor lalu menjadi luapan lupur yang meluber kemana-mana? Rumah Risa di Desa Kedungbendo sudah digenangi lumpur. Lumpur itu panas sekali. Sekolah SD-ku juga hilang ditelan lumpur.

Lingkungan rumahku mulai tak aman. Air di rumahku mulai keruh. Fahma kecilku juga terkena dampaknya. Kulitnya kemerah-merahan. Sempat aku sekeluarga menginap di rumah Bude, agar sakit kulit Fahma hilang. Dan benar, setelah di rumah Budhe, kulit Fahma kembali seperti semula.

Aku semakin bingung, karena keadaan semakin parah. Warga Perum TAS yang tadinya tentram dan damai kini mulai resah.

Waraga Perum TAS mulai berdemo. Termasuk Ayahku. Mereka berpikir realistis, jika Desa Kedungbendo yang jaraknya lumayan jauh dengan Porong saja terkena dampak lumpur. Bagaimana dengan Perum TAS yang jaraknya lumayan dekat dengan Kedungbendo? Meski sudah ditanggul berkali-kali, tetap saja lumpur tetap mengalir.

“Hanum, sampai kapan ya kita begini terus?” Tanya Risa padaku.

“Wah aku sendiri nggak tahu tuh! Gimana kabarmu? Kamu sekarang tinggal di mana?”

“Aku? Aku sekarang di pengungsian.”

“Terus gimana sekarang?”

“Waduh, jangan tanya gitu Num. Di pengungsian itu nggak enak sama sekali. Airnya keruh, baunya kayak kotoran manusia. Mandi juga harus antre!”

“Wah, masak sih? Jangan berlebihan deh!”

“Serius Num! Malahan kalau makan nasi bungkusnya ada yang berulat. Iih, mau nggak kayak gitu?”

“Stop! Stop! Jangan lanjutin, aku nanti mutah di sini.”

“Woi, ayo cepetan masuk. Kita mau masuk! Ada wartawan,” teriak Joko, salah satu temanku.

“Idih, jangan norak deh Jok, kayak nggak pernah lihat wartawan ngeliput aja,” Aku menyindir Joko, Padahal aku sendiri juga belum pernah melihat wartawan meliput secara langsung.

Benar saja, beberapa menit kemudian ada dua wartawan datang, wartawan itu dari SCTV, satu saluran TV swasta di Indonesia .

Beberapa detik, suasana kelas langsung sunyi. Aku menunjukkan raut muka paling manis sedunia. Pak Isa guru matematikaku yang biasanya bergurau, kini terlihat formil.

“Cut, cut,” teriak Pak Isa pada wartawan. Pak Isa ingin diulang lagi. Beliau keluar dari kelas, dan kembali masuk dengan langkahnya yang tegap plus senyuman yang berwibawa. “Huu,” Gumamku dalam hati. Cepetan, aku juga mau disyuting.[end]

Bersambung.

14 February 2008

Aku Ingin Hidup Seribu Tahun Lagi
Oleh Imam Shofwan

Saya kenal Agus Suwage saat karya Pinkswing Park, hasil kolaborasinya dengan fotografer Davy Linggar, diprotes FPI. Saya semakin dekat dengan Suwage dan Keluarganya saat gempa Jogja 2006. Saat itu saya sempat tinggal di studionya 2 bulan untuk membantu posko gempa. Saya lalu mengikuti beberapa pameran Wage dan mencoba parsial dan menuliskan kisahnya.

Tulisan ini saya ajukan ke RollingStone dan Gatra tapi keduanya tak memberikan kepastian akan memuat naskah ini. Maka saya muat naskah ini di blog buat pembaca semua.

Lanjut...

Tina Rumahlatu Melawan Batu Karang

Kisah perempuan aktivis muda Maluku menantang para pembesar demi keadilan rakyat Maluku. “BAPAK di sini yang koordinasi,  to ? Bapak biang k...